Juragan Keong Mas Berbisnis Keripik Gurih

Profil Pengusaha Sulthan Alfathir 


 
Entrepreneur muda berarti mampu melihat peluang. Sempitnya peluang mampu diterobos. Menciptakan hal tidak mungkin menjadi mungkin. Inilah kisah Sultan Alfathir, yang sudah memulai usahanya sejak bangku SMA. Berawal dari sebuah penelitian sekolah Sultan mampu membawa bisnisnya sampai sekarang.

Lulusan SMA 2 Lamongan, Jawa Timur, dan Universitas Brawijaya, Teknologi Hasil Pertanian angkatan 2003, Fakultas Teknologi Pangan, yang mampu membuat keong emas jadi panganan. Bukan perjalanan yang cepat tetapi memang ditekuni Sultan.

Keong emas yang dikenal sebagai hama petani. Dia olah menjadi panganan nikmat gurih. Polita Chrispy yang dibuat dari keong emas sawah. Inilah inovasi usaha sebenarnya entrepreneur muda. Jika biasanya orang akan jualan sate keong, itu diolah dijadikan keripik gurih khas kaya akan mineral.

Ada protein tinggi dan asam lemak tidak jenuh. Dengan asam lemak tak jenuh bisa digunakan menurunkan kolesterol. Sekedar uji coba makanan sederhana ternyata menghasilkan uang. Berawal dari keprihatinan akan serangan hama keong emas di kawasan Lamongan, sangat meresahkan karena padi akan rusak dalam 1- 7 hari.

Petani dilihatnya cuma pasrah kalau urusan keong mas. Paling penanganan ya dikumpulkan buat dibuang atau mungkin dijadikan sate. Ia sempat berpikir ekabegitu. Sempat berpikir mau dibikin produk sate tetapi dia melihat sudah banyak. Dia lalu memparkan hal tersebut ke kedua teman masa SMA -nya untuk penelitian.

Dia dibantu guru pembimbing. Kebetulan ada kelas entrepreneurship, dia lantas membuat business plan kemudian diajukan ke sekolah. Anak SMA 2 Lamongan memang didorong membuat rencana bisnis untuk dijalankan sendiri.

Bisnis keterusan


Mereka lantas menjualnya. Keripik dikemas semodern mungkin. Ukuran 100gram dalam kemasan plastik dan toples. Harga jualnya Rp.7 ribu dijual dulu ke warung- warung sekitar sekolah. Responnya ternyata baik loh. "Akhirnya kami semangat untuk terus mengolahnya," ujarnya.

Mereka kemudian ikutan aneka lomba bidang pertanian. Seperti ada lomba Inovasi Pengolahan Produk Perikanan 2012 di Yogyakarta. Nama produknya Polita Crispy dan mampu sampai menasional. Berbekal dua rasa yaitu keju barbeque dan pedas rasa soto tahu campur, dimana rasanya memang khas Lamongan.

Proses pengolahan sederhana, dari daging diiris- iris, dicampur bumbu dan tepung beras baru digoreng. Tapi jangan lupa dicuci dulu ya. Mencuci butuh 3- 4 kali sampai lumpur sawah hilang. Buat 100gram dia butuhkan 1kg daging keong.

Daging direbus dulu, gunanya untuk mengetahui apakah ada racunnya. Bagian beracun adalah bagian kepala yang menonjol. Bagian itu harus dipotong dibuang. Lendir juga harus dibuang agar benar- benar bersih. Itu disusul pencucian lagi. Setelah benar- benar bersih baru dipotong kecil untuk masuk tahap berikutnya.

Dia membuat adonan krispi sendiri. Balurkan bumbu yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Daging yang sudah dibaluri bumbu kemudian masuk adonan. Tinggal kamu goreng hingga matang dan krispi.

Untuk memenuhi kebutuhan keong, Sulthan juga membudidaya keong sendiri di dalam kolam. Kalau sudah masuk musim hujan jadi punya stok keong. Makanan  keong emas tingga dikasih kangkung kira- kira 2- 4 minggu kemudian siap panen. Kalau ada limbah bisa digunakan buat makanan ternak untuk usaha jenis lain.

Awal mereka membuat kemasan plastik. Berjalan waktu mereka menyadari harus siap berkembang. Maka ia mengajak teman- teman membuat kemasan modern berbentuk rumah gadang. Bermodal uang Rp.100 ribu saja mereka berempat menang lomba wirausaha 15 juta pada tahun 2013 dan dijadikan modal lagi.

Masalah dihadapi entrepreneur muda pemula: Jumlah produksi yang masih kecil. Dan ekspetasi penjualan melebihi alhasil permintaan tidak tercukupi. Kedua mereka masih sekolah jadi waktu mereka terbatas. Tapi masalah status masih sekolah tidak masalah. Mereka malahan membeli mesin pengolahan sendiri loh teman.

Berbekal uang hasil lomba dijadikan mesin pengering. Mereka juga melancarkan promosi lewat sosial media seperti Twitter dan Facebook. Mereka kemudian memberdayakan petani. Harga perkilo hama itu dibeli mereka Rp.7000 per- kg. Harga jualnya kalau sudah jadi Rp.7000- Rp.8000, omzetnya Rp.6 jutaan.

Laba 30% dari produk mereka jual. Dimana mereka sudah punya konsinyasi 25 outlet dan 10 reseller yang tersebar di Lamongan, Gresik, Malang, Kediri, dan Surabaya. Dengan rasa soto, ia mencoba menarik pemerintah daerah Lamongan menjadikan keripik Ponita menjadi daya tarik kuliner khas Lamongan.

Semua usahanya sudah didukung sertifikasi halal, dan kualitas kesehatan oleh pihak berkait. Cita- citanya yang lebih besar sebagai entrepreneur muda adalah menembus pasar ekspor.

Jualan Kopi Gayo Jadi Usaha Sampingan Mengejutkan

Profil Pengusaha Wiarwan dan Istri 


 
Ketika kopi blue mountain asal Jamaikan populer. Wiarwan seolah ingin membuktikan sesuatu. Hasratnya ialah ingin menjadikan kopi asli Indonesia, layaknya kopi Jamaika. Pengalaman bekerja dengan kopi telah memberikan ide mengenai bisnis ke depan tetapi tidak seketika.

Lulus SMA, pada 1988, ia tidak langsung bersentuhan dengan kopi. Remaja Wiarwan memilih mengejar pendidikan sampai ke Taiwan. Berbekal keberanian dia membiayai kuliah sendiri. Barulah menyentuh kopi ketika dia bekerja sampingan menjadi pegawai pabrik kopi.

Dia sukses membiayai kuliah. Begitu lulus dia kembali ke Indonesia, bukan bekerja dengan kopi tetapi ia malah bekerja untuk perusahaan pulp and paper. Sukses Wiarwan mampu menempati jenjang pekerjaan yang tinggi. Gaji mapan dan segala fasilitas tidak membuat Wiarwan terpuaskan akan hidup.

Berbisnis sendiri


Pekerjaan bergengsi memang membuat zona nyaman. Tetapi dia tidak mau. Pilihan adalah membuat usaha sampingan. Dia ingin berbisnis tetapi apa. Pikiran Wiarwan adalah bisnis tidak lekang. Jualan komoditas yang akan selalu dibutuhkan masyarakat.

Suami Warniaty, kemudian menemukan kelebih dari daerah tempatnya, Aceh dikenal memiliki kekayaan yang bahkan membuat Belanda tergoda. Kopi dari masa penjajahan Belanda sampai sekarang nih masih digemari masyarakat. Dan kita tau pamor kopi yang meningkat menjalar ke seluruh Indonesia tidak cuma Aceh.

Dia ingin menjadi pengusaha kopi gayo. Bermodal uang seadanya yakni Rp.25 juta, ia nekat melepaskan jabatan di perusahaan pulp and paper. Demi menjadi pengusaha mengunjungi petani untuk didekati. Lewat kemampuan persuasifnya mengajak petani kopi lokal dibawah pembinaan Wiarwan.

Tercatat nih sekarang 27 keluarga petani dan areal tanam 15 hektar- 20 hektar dibawah bimbingan dia. Ia mencoba menciptakan sistem sendiri. Sistem saling menguntungkan merombak cara tradisional petani kopi asal Aceh. Dia ajarkan mereka cara memilih bibit, mengelola, dan membantu pasca panen.

Sukses dia mampu mengangkat kualitas biji kopi petani. Tidak puas, Wiarwan ingin juga berbisnis sampai ke pengolahan. Dibeli satu mesin roaster asal Taiwan. Dia mengatakan sudah terbukti lewat pengalaman bekerja dulu. Dia mengolah kopi arabica dan berharap mampu sejajar dengan kopi blue mountain itu.

Kelebihan kopi dia olah menjadi arabica dan luwak. Dua kopi premium coba disuguhkan Wiarwan kepada masyarakat lokal. Nama kopi miliknya Optimum Prime, menawarkan kopi gayo premium untuk pecinta kopi sejati. Pembeli sudah sampai ke luar negeri seperti Korea, Taiwan, Australia, dan China.

Ia baru mengirim dalam jumlah kecil. Maklum usaha Wiarwan masih tergolong kecil. Untuk satu pemesan dia menjual maksimal 18kg. Produksi kopi gayo arabica dia menghasilkan 400kg sedangkan untuk kopi luwaknya 45kg. Harga Rp.1,5 juta per- kg untuk kopi luwak dan kopi premium arabica dihargai Rp.250 per- kg.

Perjalanan bisnis Wiarwan tidak semudah dibayangkan. Kopi miliknya belum mendapatkan rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Namun, uniknya, dia malah mendapatkan penilaian baik dari badan asing Kamar Dagang dan Industri Malaysia.

Bisnis maju terus


Kopi Indonesia sebenarnya bagus- bagus. Agar semakin dikenal oleh masyarakat, ia kemudian mengikuti aneka pameran. Dia memberi contoh gratis. Lewat acara pameran nasional maupun internasional. Disaat orang mencoba langsung nyeletuk kalau kopi luwat Wiarwan enak.

"Saya bilang itu arabica premium, bukan luwak. Kopi luwak kami lebih enak lagi," ujarnya.

Wiarwan juga mengambil kredit di Bank Rakyat Indonesia. Tahap awal, lewat suntikan modal, dia mulai mengembangkan bisnisnya. Lewat bank milik negara tersebut juga mendapatkan kesempatan. Sekali dia ikutan pameran kopi di Belanda mewakili BRI.

Istri Wiarwan, Nini, mengeluh memang susahnya mendapatkan perhatian pemerintah setempat. Padahal ia sudah mewakili kopi gayo dari Aceh ke acara internasional. Masalah kenapa mereka tidak mendapatkan sertifikat BP POM, kata Nini bangunan pabrik dilarang memiliki sudut- sudut karena berpengaruh ke kebersihan.

Padahal kalau soal kebersihan dalam pembuatan, ia menjamin perusahaanya sudah sesuai standar, itupun kalau dibandingkan home industry lainnya; Perusahaan dijalankan mereka lebih baik. Anehnya justru lah mereka yang kesulitan mendapatkan sertifikat. Bahkan Nini ingin berkunjung ke pabrikan teh botol Sosro nanti,

Tujuannya guna membuktikan apakah aturan tersebut adil. Apakah pabrikan besar juga mendapatkan syarat sama. Karena BP POM belum keluar alhasil, Nini kesulitan mendapatkan label Halal MUI, mungkin sulit tetapi Nini tidak patah semangat terus membangun bisnis mereka.

Obsesi Nini seperti halnya Wiarwan, yakni memperkenalkan kopi gayo sebagai identitas Aceh. Bagaimana agar kekhasan kopi lokal tersebut tidak hilang. Ia prihatin ketika kopi gayo dijadikan bahan campuran dari daerah lain. Contoh lah ada kopi Sidikalang, padahal bahan bakunya ya kopi gayo dari dataran tinggi gayo.

"...kemudian berubah menjadi kopi Sidangkalang, karena diproduksi di Sumatra Utara, jadilah dia kopi Sidangkalang," runut Nini.

Nama kopi Optimus Prime sudah tercatat di HAKI. Dipatenkan atas nama CV. Mutiara Gayo, dimana dia menggunakan kemasan standar internasional impor dari Taiwan. Usaha dilakukan lainnya adalah bagaimana caranya mendapatkan SNI.

Kalung Berbahan Kain Batik Cranberries

Profil Pengusaha Ari Dwi Astuti 



Limbah konveksi terkadang bingung mau diapakan. Inilah kesempatan buat pengusaha masuk mencari- cari celah dibalik ketatnya bisnis fashion. Justru dengan memanfaatkan limbah fashion, merubahnya menjadi produk fashion sendiri membawa kesukses bagi Ari Dwi Astuti.

Pengusaha satu ini berminat kepada limbah perca batik. Kain perca yang ukurannya kecil- kecil karena sisa produksi ataupun dari kain batik lama. Lewat tangan Ari itu tidak lagi bertumpuk- tumpuk layaknya tumpukan sampah plastik di tempat sampah.

Inilah harta karun Ari setelah sekian lama. Berawal dari sekedar hobi membuat akesoris. Lewat aksesoris berbahan kain biasa sampai perca batik. Hemat biaya produksi tinggal ambil punya sisa jahit. Kebetulan didekat rumah kan ada penjahit. Ari dapat bahan cuma- cuma, "bisa dibilang saya bisnis tanpa modal."

Kenapa perca batik karena hasilnya unik. Kesannya etnik gitu, bahan baku ekslusip apalagi kalau bahannya dari perca kain batik tulis. Dari beberapa kain perca potong- potongan itu bisa menjadi banyak aksesoris loh.

Perca batik kemudian diubah menjadi kalung, bros, gelang, bando, juga jepit rambut. Ide bisnis semakin ia rasakan mantap ketika melihat pasar. Kebanyakan akesoris berbahan logam, kayu, atau plastik. Memakai batik nampak lebih menarik karena motifnya unik. Produk paling laku adalah produk kain berbahan perca batik.

Agar lebih menarik apa cara Ari membuat akseoris. Dia menggabungkan dengan bahan perca lain, taruhlah jean, renda, mutiara, sampai manik- manik kayu. Bekal kreativitas, serta kemampuan menjahit, lalu dia lem dibentuk menjadi eksesoris. Harga perhiasan dia bandrol dari Rp.5000- Rp.200.000 per- satuannya.

Harga dia tentukan lewat tingkat kerumitan desainnya. Untung bisnis dijalankan ternyata lumayan besar ya karena bahan bakunya mudah murah. Margin untungnya sampai 70% dia menceritakan kepada pewarta.

Ia awal mendapatkan pasokan perca dari usaha konveksi dekat rumah, tetapi karena makin banyak harus diakali. Untuk itulah dia niat sekali mencari sampai ke luar kota. Bahkan untuk kain perca kuno bisa dia datangi sendiri. Rutin dia mengunjungi berbagai konveksi di Solo, Yogyakarta, Depok, dan Garut.

Ketika pesanan membludak, dia akan meminta bantuan teman. Pesanan bisa membludak sampai 200- 300 buah pesanan. Dalam sebulan bahkan suatu waktu dia bisa mendapat pesanan sampai 500 buah. Cara dia berpromosi lewat blog dan sosial media, terbukti ampuh mampu menarik bahkan pembeli asal Malaysia.

Mantan Karyawan Bank Jualan Kue Bolu Juga

Profil Pengusaha Rita Riyani- Rabaiyah



Sempat bangkrut berwirausaha, ide bisnis Rabaiyah ternyata belum mati. Kecanduan membuat bisnis baru membawa wanita 42 tahun ini kembali. Bangkrut di 2008, berhenti selama dua tahun, ia mendadak dapat ide membuka usaha bolu. Cuma karena melihat sang anak mau sekolah di SMK Jurusan Tata Boga.

Anak Rabaiyah nyeletuk tentang membuat usaha bolu. Seketika dia langsung tekuni bermodal tidak besar. Dia mampu menghasilkan omzet 1- 2 kilogram atau 60 buah per- hari. Usaha rumahan dijalankan malah sekarang memproduksi 3.500 per- hari.

Pada 2011 pihak PT. Permodalan Nasional Madani menawarkan modal. Pinjaman senilai Rp.30 juta dia cicil selama 4 bulan. Lalu ada kredit dari PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional. Dia waktu itu tergiur ajakan teman dan mengambil banyak yakni Rp.103 juta.

Bisnis bernama Raditia Bolu Kukus ini berjalan mulus. Dia dibantu delapan orang pekerja. Dimana makin naik daun karena mengikuti aneka pelatihan. Disuport oleh pemerintah daerah, semisal ketika ada ajang pemilihan Walikota Makassar, Rabaiyah mampu berproduksi sampai 40.000 buah per- hari.

Cerita pengusaha lainnya


Lain cerita Rita Riyani, seorang karyawan menjadi pengusaha, dan titik jenuh merupakan alasan dibalik ia memilih berwirausaha. Awalnya dia menyalurkan perasaan jenuh ke memasak. Dari memasak membuat aneka kue hingga bolu kukus. Profesinya adalah karyawan Bank, mendadak dia memilih resign di rumah.

Alhasil dia menjadi pengangguran membuat roti. Karena tidak biasa seharian di rumah, Rita malahan sakit hingga vakum beberapa bulan. Sempat berpikir buat bekerja kembali. Eh, kebetulan ide jualan kue datang, dan akhirnya dia jualan sampai sekarang.

Spesialisasi Rita adalah bolu kukus. Namun, dalam perjalanan dia menyadari tidak mau cuma berjualan itu. Ingin rasanya memberikan cita rasa lain kepada pelanggan. Dia jualan aneka kue sekarang. Hobi bikin kue tidak. Minat berbisnis kue juga tidak ada tuh. Cuma ingin menyalurkan saja titik jenuh lewat berjualan kue.

Ketika terbersit tentang bisnis kue. Rita langsung mencari referensi kue di buku masakan. Mencoba buat sendiri tanpa pengalaman sama sekali. Rita tidak pernah tanya soal kue kepada siapapun. Tidak kepada keluarga ataupun tetangga. Pikirannya tidak ada keluarga yang memiliki latar belakang usaha kue juga.

Wanita kelahiran 12 Juli 1965 ini, lantas mencoba menitipkan kue- kuenya ke berbagai warung. Dari ke warung kemudian dia menjual ke toko- toko kue. "Alhamdulillah, mereka suka kue buatan saya," ia senang sekali. Semangat berbisnis kue semenjak itu semakin tinggi hingga sukses seperti sekarang.

Tidak cuma ke toko sekarang orang datang ke tempat Rita. Orang memesan kue buat dibagikan di acara hajatan, arisan, dan berbagai kesempatan. SekarangRita malah sering kwalahan memenuhi orderan yang datang. Apalagi kalau Lebaran maka dia harus siap- siap lembur dua hari dua malam membuat kue.

Rita juga membuka kios di bursa kue Buahbatu setiap hari. Ibu tiga anak ini mampu membuat 5.000 buah kue dan 100 bolu kukus pelangi sehari. Harga antara Rp.600, Rp.700, dan Rp.800. Kue pelangi dihargai seloyang Rp.25.000. Yang paling ditonjolkan Rita memang aneka bolu khususnya bolu kukus dan pelangi.

Kalau mau pesan lainnya juga melayani seperti aneka pie, pisang aroma.dll. Dimana mayoritas kalau yang datang pesanan perorangan ya aneka snack kardusan. Mempekerjakan 10 pegawai berapa omzet didapat Rita ternyata sampai Rp.3 juta- Rp. 4 juta/hari.

Uniknya meskipun mantai pegawai bank, ternyata dia sama sekali tidak pernah menyentuh kredit bank. Ia memanfaatkan uang seadanya untuk sekarang. Mungkin kelak dia akan meminjam ke bank, tetapi Rita yakin tidak buat sekarang masih dapat dijalankan.

Bisnis Sulam Hijab Rejeki Pantang Menyerah

Profil Pengusaha Leony Agus Setiawati 


 
Banyak kegagalan tidak membuat Leony Agus Setiawati jengah. Justru dia semakin memperdalam teknik pembuatan produknya. Dia adalah pemilik Azka Collection. Hijab yang memiliki ciri khas dibandingkan bisnis sejenis. Menggunakan teknik sulam -memiliki banyak agent- kini bisnisnya moncer sampai ke luar negeri.

Kegagalan tidak sedikit dirasakan. Ia pernah bangkrut, titik terendah pernah ditemuinya ketika berbisnis dan tidak mau menyerah. Berawal dari jualan biasa pakaian muslim. Alumni Institut Pertanian Bogor ini lantas menjelma menjadi pengusaha. Produksi dikembangkan sedikit- demi sedikit sejak 2001 silam.

Dari sekedar berjualan, Leony bisa membangun butik sendiri pada 2008 -nya. Setahun kemudian dia mulai membuat lebih banyak atau istilahnya konveksian. Kurangnya jiwa entrepreneurship atau kepemimpinan dirasakan menjadi satu titik lemah ketika menjalani bisnis.

Bisnis nekat


Leony  layaknya menuasi biasa yang butuh kerja. Untuk mencukupi hidup, ibu satu ini mencoba melamar- melamar pekerjaan. Sudah melamar pekerjaan dimana- mana tetapi tidak diterima. Tahun 2001 kan busana muslim tengah digandrungi masyarakat. Darisana Leony membuka usaha berjualan aneka busana muslim sendiri.

Dibantu sang suami usaha jualan aneka hijab berjalan lumayan. Selain mau mandiri dalam keuangan. Satu hasrat besar lainnya Leony ingin jadi pengusaha. Ingin membuat sesuatu yang berbeda. Kebetulan Leony ini memang tertarik akan dunia fasion.

Meskipun begitu lain dibanding jualan jadi. Menjadi pengusaha memaksa dia harus menjahit. Padahal dia tidak bisa menjahit pakaian. Akhirnya dia mulai mempekerjakan penjahit untuk menjahitkan. Bisnis yang semula bernama Azkasyah, pada 2002, sempat pindah ke tempat lebih strategis lewat pinjaman orang tua.

Tahun 2004 Azkasyah terlilit hutang pinjaman dan gagal bayar. Ujungnya Leony menjual semu aset juga termasuk mesin jahit. Semua untuk menutup hutang hingga tersisa Rp.1 juta saja. Tahun 2008 berbekal uang sejuta dijadikan usaha kembali. Uang 800 ribu buat membeli mesin jahit bekas sisanya buat beli kain kiloan.

Ide bisnis inovatif ketika dia menemukan teknik sulam. Bagaimana caranya menggabungkan hijab dan juga sulam. Empat tahun sudah dia berbisnis di Tajur, Bogor. Akhirnya bangkrut, dan cuma menyisakan uang Rp.1 juta. Lalu bagaimana nasib Leony ternyata belum selesai tetapi justru menemukan inspirasi dibalik itu.

Ia awal tidak berpikir manajeria. Pikiramnya gampang yang penting laku. "Saya tidak memanjemeni bisnis itu dengan baik, karena saya berpikir, yang penting laku saja," tuturnya. Uangs sejuta tersebut kemudian ia coba sulap menjadi bisnis.

Bisnis pakaian muslim Leony terinspirasi sulam tangan. Maklum belum banyak pengusaha memanfaatkan tekni tersebut. Tidak ingin kehilangan kesempatan dia langsung menggenjot mesin jahitnya. Dibantu oleh 4 orang pegawai, dia memasarkan bisnisnya lewat sistem konsinyasi, dititip ke beberapa toko pakaian.

Bisnis bernama Azka kemudian mulai bangkit. Pesanan sudah mulai datang sendiri. Keunikan teknik sulam tangan memanggil masyarakat membeli. Leony mulai mempekerjakan ibu- ibu rumah tangga yang ingin punya penghasilan.

Inspirasinya adalah ibu- ibu rumah tangga di desa yang masih terampil tetapi jenjang pendidikan rendah. Ia melihat kelebihan mereka dibanding ibu- ibu lainnya. Kelompok masyarakat yang dianggap rendah, dan tidak bisa diserap oleh kebutuhan industri besar. Ibu tiga anak ini telah memberdayakan 700 orang tenaga sulam.

Bisnis sulam


Terinspirasi saudara yang pandai menyulam, Leony terus bersemangat membesarkan bisnis hijab miliknya sendiri. Dia menemukan inspirasi dibalik kegagalan. Berbekal pengalaman berjualan hijab maka dia tau betul selera pasar. Awal dia mempekerjakan dua penjahit dan mulai bekerja meggarap berbagai model.

Lantas seorang pelanggan menyarankan dia untuk ikutan pembinaan Kementrian Koperasi dan UKM. Dia diikutkan aneka pameran hingga mendirikan CV. Azka Syahrini. Rajin ikutan pameran maka merek Azka Collection mulai dikenal masyarakat luas. Akhirnya Leony memakai penjualan sistem agent biar lebih cepat.

Kecepatan produksi dipikirkan betul. Dia giat mengajak orang menjadi agent. Margin laba bahkan 40% agar agent bersemangat. Dia mulai menambah tenaga kerja untuk mengimbangi ratusan agent. Mengajak kerja sama ibu- ibu desa ternyata tidak mudah. Beberapa orang berpikir Leony punya niat buruk kepada mereka.

Ini terwujud dari mobil yang dibaret ketika Leony berkunjung. Di sebuah desa, di kawasan Bogor, Leony memberdayakan ibu- ibu rumah tangga menghasilkan uang. Agar bisa meraih hati masyarakat, dia langsung mendekati orang- orang yang dituakan, serta mengikuti majelis taklim untuk memperkenalkan dirinya.

Untuk mengurangi kesalahan, maka Leony menetapkan SPK atau Standar Prosedur Kesalahan. Yang mana salah satu bunyi pasalnya adalah mengganti Rp.400 ribu jika ada baju rusak. Tentu ini memberatkan hingga beberapa yang sudah ikut pelatihan memilih mundur, mereka keberatan dengan beberapa isi SPK.

Namun, lambat laun, Leony mampu meyakinkan mereka bahwa ini penting. Juga sebagai pemberi sebuah semangat buat pegawai agar teliti dan disiplin. Dia mengangkat satu kordinator di setiap kelompok kerja. Jadi penilaian akan dilihat beredasarkan kelompok kerja.

Azka Collection mempekerjakan 700 tenaga kerja dengan 600 agen, tersebar seluruh penjuru Indonesia. Dia juga mampu masuk ke pasar Malaysian dan Singapura. CV. Azka Syahrani memproduksi 2000 potong dengan omzet perbulannya ratusan juta. Semua berkat manajeman berkualitas yang telah dia terapkan ke depan.

Tahun 2007 dia memakai ISO 9001:2000. Sebelum produk dijual, disetor dulu ke kordinator, kemudian diperika lagi quality control. Jika tidak sesuai standar dipulangkan diperbaiki dulu. Tenaga sulam akan dibayar sesuai jumlah produktifitas pegawai. Bisa dibawa pulang ke rumah masing- masing kalau nanti diperlukan.

Kedepan dia akan meningkatkan produksi sampai 30.000 potong. Berkat kerja keras ini dia mendapatkan banyak penghargaan seperti juara 1 Young Entrepreneur Award dari Bisnis Indonesia 2009, terakhir dapat penghargaan dari UKM Mandiri dari Yayasan Bakti Dharma Bakti Astra.

Meskipun sudah layak disebut sebagai pengusaha sukses. Leony ternyata masih aktif mengikuti aneka pelatihan loh. Pelatihan kewirausahaan, pelatihan manajemen, pelatihan keungan, apapun dia kejar untuk meningkatkan kemampuan. Disisi lain Leony bisa membangun jaringan dengan pengusaha sukses lainnya.

Kata- kata inspirasi buat pengusaha muda nih, "mimpi menarik kita dan kita menarik mimpi." Dia selalu bermimpi lebih tinggi dan berupaya menggapainya. Produknya Azka Syah, Qany, Amany dan AzkaSyah Eksklusif.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba