Memanfaatkan Genangan Air Menjadi Lahan Bisnis

Profil Pengusaha Ramidi 


 
Berawal kekesalan karena ketidak pedulian. Bayangkan, masak tujuh hari sudah banjir, tidak surut- surut di kampungnya. Melalui pengeras suara, pria yang juga ketua RT 02 RW 01 ini, tengah membagikan bantuan korban banjir. Begitu selesai dia lantas menceritakan keadaan daerah didiaminya.

Saban musim hujan, daerah didiami Ramidi, kawasan Duri Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Sosoknya selain dikenal sebagai ketua RT nih, juga dikenal sebagai penggerak budidaya lele. Semenjak 2010 silam, dia menjadi pelopor budidaya lele di daerah yang banjir enggan surut tersebut.

Wilayah tempatnya memang lumayan cekung. Dua sungai mencakupi wilayah tersebut. Ada di utara -nya, sungai Gendong, disisi lainnya, ada sungai Gawangan di selatan. Karena cekung lah tempat tersebut jadi langganan banjir permanen.

Banyak tempat pula menjadi genangan. Ide mamanfaatkan genangan tersebut ia pelopori. Bagaimana cara memanfaatkan lahan seperti itu. Ramidi kemudian mengajak warga membuka keramba. Dimana nantinya mereka akan menyebar bibit lele.
Tantangan terbesar bagaimana memberi pakan. Ia kemudian lari ke Pasar Kalideres. Seadanya dia belajar menangani masalah tersebut. Ia menyambangi para penjual ayam potong. Dia mengambil limbah ayam dari mereka. Jeroan dan usus lantas dijadikan pakan lele karena tidak layak jual.

Masalah tersebut Ramidi bisa atasi. Selanjutnya, dia merogoh kocek, modalnya Rp.1 juta buat membeli bibit lele dumbo. Satu keramba diisinya 5000 bibit lele. Hasilnya, sekarang dia sudah punya enam buah keramba, sebulan dia meraup panen 3 kuintal lele.

Sudah ada 100 keramba di Duri Semanan. Lalu, ada 18 kelompok budidaya lele, mereka memasang lebih banyak keramba di Situ Bulak -hanya sebuah genangan air besar, bukan situ sebenarnya. Tiga tahun sudah berlewat, Ramidi semakin dikenal sebagai pengusaha lele bermodal genangan air saja.

Pengepul lele mulai mendatangi warga. Makin banyak datang, dimana harga lele satu kilogram dibandrol Rp.18.000. Palang Merah Indonesia (PMI) lantas memberi Ramidi gelar toko pemanfaatan lahan. Dari sana bergelontoran dana bantuan mendukung bisnis warga.

Bantuan lainnya, yaitu enam karung pakan lele dan 50 botol rojolele atau perangsang pertumbuhan lele. Ia senang karena mampu mengajak banyak orang. Bukan cuma dirinya yang menjadi mandiri, tetapi lebih banyak orang warga Duri Semanan, merasakan berkah dibalik musibah banjir tahunan tersebut.

Tetapi, ada sedikit masalah nih, ketika banjir datang kembali lele mereka bisa menjadi korban juga. Pasca banjir lele dipanen Ramidi cuma tujuh kuintal. Kalau tidak banjir bisa panen sampai satu ton per- bulan. Ia mengatakan sementara banjir, beberapa badan memberikan bantuan termasuk PT. Global Success Chain.

Usaha Menyewakan Tanaman Hias Kantoran

Profil Pengusaha Nana Roesdiono 



Perkantoran besar butuh penyegaran. Ruangan ber- AC butuh hijaunya daun, cerahnya bunga- bunga cantik, nah inilah kesempatan kamu yang hidup di kota besar. Berbisnis lah penyewaan tanaman hias. Apakah itu akan sukses nantinya. Ikuti kisah seorang wanita bernama Nana Roesdiono.

Lulusan Universitas Airlangga, jurusan Psikologi, selepas dia kuliah tahun 1991- 1999, dia kemudian jadi personalian di perusahaan Jepang. Tidak cuma satu perusahaan tetapi dua. Karir yang cemerlang didukung hobi menenangkan. Tanaman hias dijadikan sarana menghilangkan letih, lelas, selama bekerja di kantor.

Saking hobinya sampai begitu banyak. Bagian depan, belakang, bahkan lantai dua dijejali aneka tanaman hias beraneka jenis. Semua ditanam diatas pot cantik hias. "...ditata rapi hingga sedap dipandang," tukasnya di halaman Kompasiana miliknya.

Dia merawat sangat teliti dan telaten. Ujungnya, kepikiran nih, kalau saja tempat kerjanya ditempati aneka tanaman hias cantik. Bunga- bunga tertaburan menambah gairah bekerja. Saking "terobsesinya" Nana juga terkadang bicara sendiri seolah menyuapi anaknya -ke tanaman miliknya ketika memberi air.

Bisnis hobi


Ibu- ibu tetangga Nana undang. Sekedar bersama menikmati indahnya bunga- bunga. Celetukan tentang apa dikerjakan Nana semerbak. Disana muncul ide berbisnis tanaman hias. Ide awal, Nana pikirnya sih, mau jualan tanaman hias aja.

Dia pikir kembali, "sudah terlalu banyak penjual tanaman hias." Nana mulai mencari informasi dari sumber Yellow Pages. Kemudian tanya ke sana- ke mari, hasilnya mengejutkan jasa penyewaan tanaman tidak ada. Yang berarti Nana menjadi pelopor usaha penyewaan tanaman hias.

Dia kembali ke kantor, mulai rajin mengamati sekeliling, dan menyadari tanaman hias di kantor itu tidak ada. Adanya tanaman plastik sekedarnya dipojokan. Nana menyeriusi ide bisnis penyewaan tanaman hias. Dia mulai menulis proposal, mencantumkan harga, ditunjang kegunaan tanaman hias dari aneka sumber.

Disebar puluhan proposal, dari puluhan, hanya satu proposal diterima oleh perusahaan. Yakni oleh sebuah perusahaan asuransi lantai delapan BRI tower Surabaya. Perusahaan menelephon Nana, menunjukan minat buat menyewa tanaman hias Nana.

Permulaan mereka sewa 5 tanaman meja, 2 tanaman sedang, dan 2 tanmana tinggi, dengan masa sewanya 3 bulan. Hari pertama dapat sewaan, Nana rela bolos kerja, membawa tanaman hias sendiri memakai mobil pick- up. Dari klien pertama, datang orderan lainnya, dari sejumlah kantor BII di seluruh Surabaya.

Orderan kemudian semakin banyak datang. Bisnis sewaan tanaman hias memang lebih menarik. Dibanding perusahaan merawat tanaman sendiri. Menyewa tanaman, Nana akan mengganti tanaman setiap sepuluh hari sekali. Kemudian dia sendiri menugasi perawatan, penyiraman, dan membersihkan pot dari daun layu.

Bisnis semakin berkembang, Nana bisa menyewa lahan belakang rumah. Gunanya dijadikan tempat yang khusus melakukan perawatan. Gunanya tanaman habis sewa akan dipaparkan matahari cerah. Selama 10 hari dipaparkan matahari hingga dimasukan ke ruangan lagi.

Nana juga tidak tinggal diam. Dia terus memperbaharui koleksi tanaman hias. Berburu sampai ke penjuru Jawa Timur, kemudian memesan tanaman hias yang tidak ada di Jawa Timur, mulai dari ke arah Bogor dan Bandung.

Semakin bisnis tidak dapat dibendung, disana Nana memutuskan keluar dari pekerjaan. Keseriusan terus ia pupuk ke bisnis sewa tanaman hias. Dia mulai rajin mengirim puluhan proposal kembali, serta aktif ikut menerangkan sendiri bisnisnya ke khalayak sendiri.

Tiga tahun berbisnis dia sudah memiliki 70 klien, 2 mobil pick- up, 8 pegawai pengiriman dan juga bagian perawatan, dan 1 sekertaris merangkap administrasi. Dukungan sang suami, Eddy Roesdiono, dirasa ia sangat rasakan hingga sekarang sukses. Hingga dia bisa menjadi vendor buat gedung Gubernur Jawa Timur.

Bisnis sewa tanaman hias menghasilkan penghasilan. Jika dulunya, cuma bisanya sewa lahan nursery 300 meter persegi, tahun 2005 dia membeli lahan tersebut. Rumah yang mana juga menjadi tempat kursus bahasa Inggris, yang mana cicilan lima tahunnya terlunasi berkat tanaman hias.

Bisnis sewa tanaman juga punya untung ganda. Pada 2008 silam, dia diajak ikut pameran Hortifair oleh  Kedutaan Belanda, ke Amsterdam, mewakili ASPENI (Asosiasi Pedagang dan Petani Tanaman Hias di Indonesia). Di 2010, kembali ke Belanda, mendapatkan pengetahuan manajemen produksi dan perniagaan tanaman hias.

Dua kunjungan ke Belanda, dia mendapatkan pengetahuan tentang nursery, dimana dia berkunjung ke pusat tanaman hias Alsmeer. Dia juga dapat pengalaman tentang bisnis keseluruhan. Mulanya yang sekedar hobi menjadi bisnis sangat serius. Kini, mulai banyak bisnis penyewaan tanaman hias di kota- kota besar.

Jatuh bangun, Nana berbisnis sewa tanaman hias, bersamaan pula melewati gejolak booming tanaman yang bernama anthurium dan gelombang cinta. Dari berbisnis tanaman hias, Nana banyak dikenal orang karena sering

Menyewakan Mainan Berapa Untungnya

Profil Pengusaha Amelia Purnajati 



Tingginya permintaan akan mainan berkualitas. Membuat pangsa pasar mainan sewa dilirik. Banyak orang tua lebih nyaman menyewa mainan. Dibanding harus kesana kemari mencari, dan ujungnya mereka harus rela merogoh kocek buat mainan tidak berkualitas.

Koleksi beragam memberikan kemudahan memutuskan. Pada orang tua bisa memilih mainan terbaik dari koleksi dari yang terbaik. Makin tinggi kesadaran akan mainan sehat. Mendorong mereka tidak asal untuk mengajak anak membeli sembarangan.

Kalau bisa memilih mainan pilihan, kalau bisa lebih berkualitas, kenapa harus capek mencari mainan buat si kecil. Tidak jarang mainan berkualitas tidak ramah kantong. Harga mainan edukatif misal, apalagi buat balita, pastilah mahal karena aman, nyaman dipegang.

Contoh pengusaha rental mainana ialah Amelia Purnajati. Pemilik situs www.duniabermain.com ini, sudah memiliki banyak koleksi mainan sewa. Dari ukuran paling kecil, mainana ramah anak harganya bisa antara Rp.150- Rp.500 ribu. Mainan lebih besar harga taksiran antara Rp.2,5 juta- Rp.4,5 jutaan.

Alasan lain, kenapa orang tua akan memilih sewa mainan, ya karena sifat anak yang mudah bosan dengan mainannya sekarang. Inilah kenapa Amelia bersemangat membangun bisnis. Jangka waktu bosan anak itu memang beragam tetapi pasti. Rentang waktu antara satu sampai tiga bulan, sudah dibaca oleh Amelia.

Bisnis sewa


Mainan berharga mahal berasa mubazir. Umur pemakaian cuma sebentar. Begitu selesai, kita cuma akan menyimpan mainan itu. Apalagi jika mainannya besar memakan ruangan. Ketika itulah, mainan bingung akan digunakan apa, disinilah Amelia dan kawanya, Jessica Natasha Halim, menawarkan bisnis sewa saja.

Bisnis yang bernama Funbox Toy Rental (FTR) ini, melihat celah kebutuhan anak akan mainan berkualitas. Mereka melihat pasar sewa mainan anak besar. Penyewa datang dari berbagai kalangan, mulai orang tua, organisasi tertentu, perusahaan, atau event organizer.

Tidak cuma buat mainan sehari- hari. Orang tua menyewa mainan juga termasuk buat pesta si kecil. Mau mengadakan pesat ulang tahun dengan mainan bisa sewa. Sementara event organizer bisa sewa mainan buat mendukung konsep acara mereka. Jadi keliatan kan prospek bisnis dijalankan Funbox Toy Rental mereka.

Tempat penitipan anak juga menyewa kepada mereka. Banyak pelanggan perusahaan rekanan mereka yang memang targetnya anak kecil. Bisnis mereka bisa merangkul langsung ke konsumen, ataupun lewat sewa ke rekanan mereka. Tidak heran dalam setahun bisnis merek sudah keliatan hasilnya.

Jessica sudah memiliki 160 buah mainan. Dimana mereka menawarkan mainan ke berbagai tempat di Jakarta. Mereka mancangkup pasaran Cibubur. Amelia mengaku dalam sehari ada 40 sampai 60 penyewa mainan setiap bulan. Sekali sewa, biasanya, penyewa tidak cuma meminjam satu mainan saja.

Mainan disewakan kebanyakan mainan edukatif. Kebanyakan mainan edukasi merupakan produksi mainan perusahaan luar negeri. Agar memudahkan orang tua, mereka sudah membagi mainan ke berbagai macam kategori usia. Jadi lebih memudahkan penyawa mencari mainan sesuai kriteria kebutuhan anak mereka.

Sewa mainan mulai harga Rp.50.000 hingga Rp.700.000 perbulan, ini tergantung jenis mainan disewakan ke penyewa. Sewa bulanan bisa, sewa mingguan juga bisa kamu lakukan, temponya seminggu- dua minggu atau harian bila mau.

Penyewa biasanya sewa mingguan, atau harian dulu biar tau apakah anaknya cocok atau tidak dulu. Amelia mengamini hal tersebut. Penyewa awalan akan menyewa sebentar, kalau anaknya tidak suka kan dapat cari mainan lain. Ketika sudah suka tinggal ditambah sewa sampai beberapa bulan.

Deposit sewa


Untuk organisasi atau perusahaan, biasanya menyawa harian untuk membuat acara yang melibatkan anak- anak. Sebagai contoh kalau ada acara ulang tahun. Amelia mengatakan biasanya organisasi atau korporasi menyewa lebih banyak macam mainan.

Seperti rental lainnya, mereka menerapkan sistem deposit dulu, dimana besanya Rp.100 ribu untuk sekali sewa. Uang deposit kembali jika mainan kembali. Selain deposit cara lainnya, agar aman, maka penyewa menunjukan tanda pengenal asli dan menyerahkan fotokopi KTP buat dicatat.

Omzetnya berapa sih, dari bisnis tersebut mereka mengantungi omzet Rp.30- 50 juta. Mereka dapat dari bisnis sewa mainan tersebut, belum termasuk ongkos kirim loh. Untung dikisaran 30 persen sampai 50 persennya. Bisnis sewa mainan itu untungnya lumayan besar. Apalagi biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar.

Sudah dipotong gaji karyawan, biaya operasional, adapula anggaran buat alat pembersih dan antiseptic buat mainannya. Jika mainan dibawa pulang kotor ada tambahan biaya Rp.20 ribu. Mereka biasanya menyewa tempat buat gudang penyimpan, atau menggunakan rumah sendiri buat menyimpan aneka mainan sewaan.

Catatan saja, kamu harus punya anggaran mainan loh, melengkapi koleksi mainan membutuhkan tambahan dana yang harus dianggarkan. Kelebihan bisnis mereka ialah tidak perlu memiliki showroom. Mereka lebih memilih memamerkan mainan lewat situs mereka, termasuk layanan diberikan kepada pelanggan.

Modal awal antara Rp.50- 100 juta, meskipun keliatan mahal tetapi kalau tepat sasaran, bisnis kamu bisa balik modal empat atau lima bulanan. Perlu diingat bisnis sewa mainan, biasanya, ada di kota- kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, atau Yogyakarta yang kesadaran akan mainan sehat tinggi.

Ingat usaha ini membutuhkan pengetahuan tentang mainan. Tau tentang siapa produsennya, kualitas produk mereka, termasuk tentang keamanan mainan dan bahan bakunya. Ingin hemat biaya beli produk dari para distributor di Indonesia. Koleksi beragam menjadi kunci sukses pengusaha sewa mainan anak juga.

Amelia mengaku sudah punya 500 mainan. Kalau kamu menemukan mainan favorit, kamu harus sediakan lebih dari satu jenis. Mainan anak favorit umur 6- 12 bulan ya jumperoo dan exercauser. Untuk anak umur 12 bulan- 6 tahun mainannya slider swing, playhouse, mobil mainan, dan roller coaster.

Jika kamu sudah memiliki mainan banyak. Tinggal dah, kamu membuat situs buat memajang katalog kamu, situs harus menarik memanggil orang lebih banyak. Selain itu pastikan keamanan, kenyamanan, dan juga kebersihan setiap koleksi. Umur mainan biasanya 1- 2 tahun, maka sebaiknya diganti agar tidak bahaya.

Jangan lupa memberikan keterangan detail. Terutama tentang umur pengguna mainan sebaiknya. Utamanya berat dan usia anak. Tentukan pula tentang apakah mainan bisa ditelan atau tidak. Pokoknya bagaimana agar penyewa merasa nyaman menyewa di tempat kamu. Akan mengurangi dari resiko kecelakaan pada anak nantinya.

Di FTR, mereka akan menerangkan dahulu cara pemakaian, tugasnya untuk menjaga keamanan yang berisi baik apa saja yang boleh dan tidak boleh. Seperti tidak boleh dimasukan ke mulut dan sebagainya. Bisnis sewa memang mengendalkan pematangan internal untuk membuat sistem terbaik guna layanan maksimal.

Karena sasaran orang tua, maka iklan di sosial media, bisa menjadi pilihan bisnis kamu ini. Siapkan dana khusus buat beriklan kalau ada. Ide promosi kreatif juga termasuk kerja sama dengan pihak ke ketiga. Contohnya FTR mengajak kerja sama pengelola apartemen, membuka tempat bermain indoor buat para penghuni.

Tidak berhenti, jika dana banyak, kamu bisa mencoba mempromosikan ke media konvensional, seperti di televisi. Atau kalau mau murah, bisa dengan membuat brosur atau bekerja sama dengan pihak terkait, atau bisa membangun iklan ke website gratisan. Tapi paling efektif adalah promosi mulut ke mulut sendiri.

"...mereka puas dengan layanan FTR dan mempromosikan ke teman dan saudaranya," terang Jessica.

Anak Pengusaha Membuka Usaha Sendiri

Profil Pengusaha Bernama Budi


 
Anak pengusaha menjadi pengusaha. Meskipun sudah hidup nyaman, Budi memilih hidup dalam ketidak pastian alias pengusaha. Seperti halnya orang tua Budi, kini, dia dikenal sebagai pengusaha yang usahanya adalah menjual aneka lampu hias. Pengusaha muda satu ini membuka usaha sendiri bermodal Rp.5 juta.

Tahun 2011, ia mencoba peruntungan jualan lampu hias, kemudian utamanya usaha jualan lampu tidur. Dia awalnya melihat kedua orang tua. Kok, jadi pengusaha, malah kelihatan santai dibanding karyawan. Lama- lama Budi ingin merasakan sendiri pengalaman tersebut.

Seketika keluar dari pekerjaan, dia membuka usaha sendiri kepikirannya membuat lampu hias. Proses cari bisnis cocok dilalui Budi pula. Awal dia mencari informasi segala tentang lampu hias. Mencari bagaimana cara membuat lampu sendiri.

Hingga akhirnya, dia bisa membuat lampu sendiri, dan setiap lampu dihargai Rp.25 ribu dan omzetnya dia dapat Rp.10 juta sampai Rp.15 juta. Pemasaran tidak masalah, Budi sudah punya jalan, memilik rekan kerja yang baik.

Untuk Budi lebih memilih fokus bagian produksi saja. Bisnis begitu dinikmati hingga tidak ada beban. Dia mengaku menikmati menjadi pengusaha. Dia mengkreasikan produk sesuai imajinasi. Jenis modelnya dia bikin bermacam- macam. Pemesanan juga disesuaikan konsumen jika diinginkan, kerjakan kan semua.

Keputusan keluar dari pekerjaan sudah tepat. Sekarang Budi begitu menikmati bisnisnya sendiri. Memang karena punya passion jadi lebih menyenangkan mengerjakan. Meskipun bekerja sama kerasnya, menjadi pengusaha dan pegawai ternyata dua hal berbeda.

Tidak Pernah Melamar Pekerjaan Tetapi Sukses Jualan

Profil Pengusaha Aulia Achmad, Satria Kinayungan, dkk



Selepas kuliah biasanya mau berkuliah. Namun, dalam benak dua mahasiswa, Aulia Achmad dan Satria Kinayungan, tidak ada dalam benak mereka bekerja. Tidak juga bekerja berkeinginan di perusahaan asing besar, sekalipun. Dua sahabat tersebut memilih melanjutkan bisnis sandwich sejak kuliah dulu.

Bisnis belakang rumah


Dimulai sejak 2013, masih kuliah, Agam dan Isank mendirikan usaha sandwich. Untuk target pasaranya adalah teman mereka sendiri, sebuah kampus di Tangerang. Bisnis mereka bermodal tidak lebih dari 500 ribu.

Sistem bisnisnya bernama sistem preorder, dimana mereka akan kirim satu per- satu. Mereka saban pagi mengirim pesanan sehari sebelumnya. Mereka bermodal roti tawar. Mereka berbelanja bahan bersama. Mereka bersama membuat resep sendiri. Keduanya dapat untung yang lumayan Rp.5000/potong.

Karena urusan skripsi, keduanya memilih fakum, bisnis sandwich mereka sempat berhenti hingga dilanjut kembali ketika lulus. Selesai kuliah, keduanya menggebu melanjutkan bisnis yang lumayan tersebut. Tidak cuma berdua saja tetapi mengajak personil lagi.

Tahun 2015, ada Yohanes Ladita Patriyoso (Yosho), dan Mandala Putra yang bergabung pada tahun 2016 silam. Ke empat pengusaha muda tersebut mencoba peruntungan. Bisnis sandwich Agam dan Isank lalu dikemas menjadi lebih menarik. Mereka lantas menamai bisnis tersebut menjadi Sandwich Attack.

Harga sandwich Rp.20.000/potong, sehari terjual 50 potong. Mereka juga menawarkan aneka minuman enak. Omzet saban bulan menembus Rp.50 jutaan.

Bisnis iseng berkembang melebisi espektasi. Rahasianya, ya, karena mereka mencintai pekerjaanya dan memilih pandangan luas. Semakin kedepan Agam dan Isank yakni bisnis mereka mampu menghidupi. Dari jualan sandwich mereka bisa makan punya masa depan.

Hidup mereka sekarang mengembangkan bisnis ke depan. Agam mengaku bisnis mereka mengalir. Tidak banyak masalah dialami, ada sih tetapi tidak besa hingga tidak teratasi. Cara pemasaran unik, juga mereka suka melakukan variasi, dari lewat sosmed, bercerita mulut ke mulut, hingga akhirnya punya kafe.

Empat pemuda ini tidak berpikir akan kerja kantoran. Berwirausaha ternyata menghasilkan tidak kalah dari bekerja menjadi karyawan. Bekerja kantoran menurut Agam dan Isank bukan dunia mereka. Karena kamu tau keduanya belum pernah sama sekali melamar pekerjaan.

"Dari experience, menjadi wirausaha, gue juga dapat," ujarnya. Berkat wirausaha dia bisa bertemu banyak link- link baru yang kreatif.

Kelebihan Sanwich Attack ialah aneka konsep ditawarkan. Tidak memakai penyedap rasa tetapi memakai bahan rempah pilihan. Jualanya dengan menggunakan mobil berkeliling. Sementara disisi lain, ada kafe yang siap menemani kamu makan sambil membaca buku, menikmati lantunan musik, pokoknya anak muda.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba