Gimana Sih Cara Buka Usaha Konveksi Pengusaha Muda

Biografi Pengusaha Fauzi Ishak 



Ide bisnis disekitar kita. Itulah inspirasi sukses seorang Fauzi Ishak. Disinilah kunci sukses si pengusaha muda konveksi. Di Bandung, era 1990 -an, kan banyak siswa suka bikin seragam sendiri. Seragam kelas biar keliatan kompak. Momen inilah yang diambil Fauzi, bagaimana menciptakan kenangan tak terlupakan.

Banyak siswa memesan kaus buat seragam kelas. Nah, darisanalah Fauzi remaja mulai kordinasi, mengajak teman buat bikin kaus kelas. Kebetulan nih keluarga Fauzi memang sudah membuka usaha konveksi kecil. Ia mulai menyasar setiap kali siswa mau membuat seragam kelas.

Fauzi bermodal pesanan ke konveksi kakaknya. Dia mengordinasi kelas, pria kelahiran 7 Maret 1870, dari situ dia dapat uang saku. Lumayan tidak besar sekali. Kadang dapat Rp.50 ribu, atau kalau beruntung bisa dapat Rp.100 ribu. Cukup buat dia jajan dan bersekolah di Bandung lah.

Semangat usaha sendiri


Sejak lulus SMA, semangat Fauzi adalah berwirausaha. Bagaimana berbisnis masih belum berpikir. Hanya saja dia ingin memulai di Kota Jakarta atau Surabaya. Di sana diharapkan menjadi landasan dia berbisnis. Darah muda Fauzi bergelora menaklukan kedua kota besar tersebut.

Pertimbangan kenapa memilih Jakarta. Fauzi punya saudara di sana. Dan disanalah bisnis Fauzi bermula. Ia mengikuti arus bisnis ketika SMA dulu. Ia mengontrak rumah di Mampang Prapatan, Jakart Selatan. Uang Rp.2,8 juta yang diberikan ayah dijadikan modal usaha, Fauzi lantas menyusun strategi bisnis agar sukses.

Uang Rp.800 ribu disisihkan buat kontrak. Agar layak seperti usaha konveksi kecil. Uang tambahan dia rogoh buat biaya renovasi. Sisa uang Rp.1,25 juta buat disimpan. Target besar sudah ditentukan sejak awal. Ayah Fauzi minta tiga bulan harus sudah ada pekerjaan atau pesanan jahitan.

Pria asli Riau ini tidak mau menunggu lama. Tiga pekan pertama sudah ada pesanan. Ada 40 kaus yang ia hargai Rp.40 ribu harus dijahitkan. Pemesan oleh SMA 1 Bekasi. Orderan pertama membuat gairah bisnis dia makin naik. Untuk pembuatan sementara diserahkan ke kakak, di konveksi miliknya di daerah Bandung.

Strategi marketing Fauzi sederhana. Lewat panflet, upaya cukup efektif, usaha milik Fauzi mulai dikenal luas. Pemesanan mulai banyak. Dia mulai bisnis jemput bola. Dia memborong kau dibawa ke Jakarta. Ia mengistilahkan kalau orang Jakarta beli kaus di Bandung, kini, di konveksi miliknya sudah cukup.

Setahun sudah bisnis konveksinya berjalan. Gila dalam setahun bisnis sudah hasilkan mobil. Pertama kali membeli mobil adalah Suzuki Carry -harga cuman Rp.5,8 jutaan saja. Kunci sukses konveksi miliknya? Ia menyebutkan bisnis harus unik. Keunikan Fauzi ialah ketepatan waktu dibanding bisnis sejenis.

Komitmen bahwa pesanan harus selesai tepat waktu. Dari sekedar bikin kaus kelas, usahanya membesar ke arah pemenuhan kebutuhan seragam perusahaan. Keinginan besar memberikan pelayanan cepat tetapi tepat hingga hasilnya memuaskan. Prusahaan besar macam Trakindo, Telkomsel, mau mempercayakan ke dia.

Pria yang pernah menjadi pengurus HIPMI ini. Mengatakan bahkan dia mampu menyelesaikan pesanan seragam dalam sehari. Besok seragam langsung dikirim, jika, pesanan tidak banyak sekali tentunya. Untuk bisnis ini dia sudah memiliki 55 unit mesin jahit. Karyawan sudah ada 70 orang siap tempur buat lembur.

80% pekerjaan Fauzi adalah menggarap pakaian seragam. Memproduksi pebulannya 5 ribu unit, bisa juga sampai 500 ribu unit jika ada event tertentu seperti Pilkada. Omzet mencapai Rp.7- 10 miliar pertahun. Ia mengatakan tempat usahanya sangat ramai.

Sampe nih menjadi tempat tawuran pelajar. Mangkanya dia pernah dipanggil Kapolsek setempat. Sebuah pengalaman menarik: Ketika siswa STM Boedoed dan STM Penerbangan Jakarta sama- sama memesan kaus ke dia. Bentrok tidak bisa dihindari ketika kedua masa bertemu.

Meskipun ke tawuran tetapi tidak sampai rugi benda. Justru dia bersyukur karena nama konveksi miliknya jadi terkenal. Omzet tahunan bisnis BEKaos tidak tetap. Setahun ini bisa mencapai Rp.10 miliar omzet. Tahun depan belum tentu, bisa saja malah turun sampai Rp.4 miliara. "Tergantung orderan," paparnya.

Dibawah naungan bendera bisnis PT. Bandung Prima Kencana, Fauzi sudah punya showroom yang luasnya mencapai 1.000 meter persegi di Condet, Jakart Timur. Brand milinya adalah BEKaos, meski nama bisnis kaos, kenyataanya dia lebih banyak mengerjakan aneka seragam perusahaan.

Memang bisnis konveksi ada naik turun. Dia mengakui hal tersebut. Mangkanya dari 55 mesin, hanya 35 bekerja optimal. Jikapun ada pesanan dadakan ribuan. Dia siap meladeni. Fauzi punya trik khusus jika ada pesanan super- banyak dan minta waktu cepat. Kan dia punya kakak yang juga bisnis konveksi di Bandung.

Tinggal dibagi dua, sebagian dikerjakan dia, dan sebagian lagi dikerjakan sang kakak. Fauzi lantas bercerita pernah menyelesaikan pesanan 50.000 kaus pesanan dari Aceh dalam tempo dua minggu.

Jual Lampu Aroma Terapi Mas Toyo Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Sukses Sutoyo 



Mental bisnis Sutoyo jangan diragukan. Warga Dusun Manayu Lor, Desa Tirtonirmolo, ini sudah pernah berbisnis aneka jenis. Mulai berbisnis daur ulang kertas. Jatuh bangun pun sudah dirasakan Sutoyo agar mencapai namanya kesuksesan. Orang bilang kita harus gagal berulang kali hingga menemukan jalan.

Ia pernah tertipu eksportir. Dua kontainer kerajinan tidak dibayar. Tidak berputus asa, dia lakukan semua agar tetap menghasilkan karya. Meskipun usaha dijalankan Sutoyo bermodal sangat minimalis.

Bisnis daur ulang


Menjadi pewirausaha tidak wajib bersekolah tinggi. Wirausaha dijalankan Sutoyo cuma bermodal ijasah setingkat SMA -ijasah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Jurusan Teknik Mesin. Ayah dua anak yang sejal awal menekuni usaha kreatif. Bermula dari usaha bernama Toy' Production: Flower & Handycraft.

Pada awal dia mendistribusikan aneka kerajinan tangan. Tahun 2005 usahanya bergeser dari sekedar jualan aneka kerajinan. Nama Titoy Production: Terracotta & Handycraft, dia mulai memproduksi aneka ragam kerajinan tangan bikinan sendiri.

Di tahun 2008 dia membuat aneka kerajinan. Sebut saja frame foto berbahan lintingan kertas, frame kaca, wall dekor, aksesoris, dan lainnya. Ia menjelaskan kepada Indotrading News. Awal usaha saja sudah tidak semulus kamu bayangkan.

Ia menjalin kerja sama dengan eksportir. Eh ternyata malah mendapatkan komplain. Tahun 2010, menurut pria yang akrab disapa Mas Toyo, mengatakan mereka menghentikan kerja sama sepihak. Rugi besar tentu diderita pihak Mas Toyo.

Usaha miliknya gulung tikar. Ada 32 orang karyawan dirumahkan. Mereka bahkan tidak dapat pesangon. Ia malu sangat. Harta benda digadaikan, dijual, seperti sebuah gudang, dua unit mobil, dan empat unit motor hilang. Walaupun sudah dijual tetap tidak nutup kerugian menyisakan hutang sampai Rp.100 juta.

Tahun 2011, dia menyadari bahwa sang eksportir hanya ingin memonopoli, ingin menguasai produk karya miliknya. Semena- mena dan akhirnya Toyo tidak lagi membuka kesempatan. Pembayaran juga tidak bisa lancar. Harga ditawarkan ke dia juga jatuhnya terlalu murah.

Terjepit bukan kembali berbisnis sama. Mas Toyo mengadu nasib lewat jualan soto. Empat bulan bisnis tersebut dikerjakan. Kemudian ya berhenti lantaran sepi pembeli. Dia lalu meminjam modal Rp.4 juta buat jualan ayam ke Taman Hias (Pasty), Yogyakarta, hanya 5 bulan karena jualannya kena flu burung.

Ayam mati hingga tidak balik modal. Walau gagal terus. Toyo mengaku tidak capek. Tetap melangkah maju membuka usaha lain. Didukung sang istri, Dwi Astuti, mereka berbisnis mensuplai aneka kebutuhan buat spa. Mereka membuat lotion, lulur, handbody, dan lain- lain.

Lumayan usaha mereka berjalan baik. Cukup membantu meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Agar lebih banyak menghasilkan dia juga jualan jagung bakar. Tapi, yah, usaha jagung bakar itu berakhir gulung tikar kembali.

Bisnis terus


Ide bisnis pembawa berkah. Muncul ketika dia melihat banyaknya limbah berserakan di sebuah toko, di samping rumah kontrakan Toyo. Pada 25 Juni 2012, dia mengadu nasib kembali lewat bisnis kerajinan, yakni menjadi pengrajin kaca bekas. Tangan dingin Toyo memang sempat kaku tetapi kembali dilemaskan.

Dia mulai mencari, memotong, merangkai, hingga terbentuk produk. Produk unik dihasilkan Mas Toyo yakni lampu. Ia cuma bermodal kaca bekas bangunan. Atau sekedar kaca bekas akuarium pecah.

Bisnis ini dijalankan cuma bermodal uang Rp.100 ribu. Uang tersebut dibelikan kaca bekas, batu alam, dan mangkuk. Mangkuk digunakan sebagai landasan atau atasan. Ditempel sedemikian rupa sampai bentuk jadi lebih manis. Batu alam digunakan menjadi penopang kaca. "Jadilah barang unik."

Awalnya cukup dipotong kecil- kecil layaknya puzle. Produk pertama bikinan Mas Toyo adalah pengharum atau lampu aroma therapy. Sang istri, yang lulusan farmasi, mendukung ide bisnis Mas Toyo. Keduanya lamtas bersiap memasarkan. Sasaran pertama dia adalah memamerkan ke guru- guru sebuah SLB.

Memuaskan hampir semua guru memesan 80pcs. Harga jual murah kok, hanya Rp.85 ribu sampai Rp.150 ribu. Justru ketika permintaan itu banyak Mas Toyo pusing. Lantaran tidak disangka peminat akan sebesar itu. Bagaimana produksi sebanyak itu? Mangkanya dia berhasil selesaikan pesanan baru setelah 3minggu.

Enam bulan berlalu usaha Toyo naik daun. Ia lantas mematenkan usaha dalam bentuk perusahaan. Usaha bernama Titoy Jaya Production -Lampu Aroma Therapy & Handicraft. Usaha kecil menengah ini semakin menggeliat saja. Kerajinan lain mulai lampu biasa, vas, lampu tidur. "Saya optimis dengan produk baru ini."

Tidak mau sendirian sukses. Ia mulai merekrut tetangga. Pesanan melipah naik dibanding sebelumnya. Ia mendapatkan pesanan pengusaha- pengusaha, mereka kebanyakan membeli buat dijual kembali ke hotel- hotel. Ia mempekerjakan 15 orang. Jika pesanan melonjak dia mengambil pegawai tambahan tetangga.

Ia bersemangat dengan bisnis barunya. Bahan dibutuhkan murah, dan proses pembuatan yang tidak sulit. Ia mengatakan cukup kaca dipotong, ditata dan ditempel, dibentuk sesuai keinginan. Nilai jualnya jadi tinggi kalau sudah jadi.

Untuk menciptakan perbedaan. Ia berinovasi, lampu bikinan Toyo bisa dijadikan selain pengharum, bisa jadi lampu penerangan, bisa pula dekorasi mewah. Rahasia sukses produk Toyo ada pada minyal aroma esensial, yang mana dicampur air. Panasnya lampu akan menguapkan aroma tersebut ke udara sekitar.

TJP, singkatan usahanya, mampu memproduksi 300- 400 buah. Meskipun sudah sukses, Toyo tidak puas hati, ingin meciptakan aneka inovasi lain. Selain aroma therapy juga aneka lampu, seperi lampu tidur, baca, dan lampu hias. Ada 25 motif lampu siap menyambut kita pembeli, dan 18 varian aroma berbeda.

Meskipun sama aroma therapy tetapi berbeda fungsi: Ada pewangi ruangan saja, penghangat atau massage oil, penghangat lulur, juga ya lampu hias. Aroma macam- macam, dari flamboyan, night queen, kenangan, kamboja, bogenvil, rose, ylang-ylang, edelwis, sandal wood, lily, akasia, dan bali flower.

Sedangkan aroma minyak esensial, yang digunakan sebagai pengharum ruangan, antara lain ada lavender, jasmine, green tea, peppermint, sandalwood, rose, opium, sakura, bali flower, apple, strawberry, vannila, lemon, ylang-ylang, frangipani, lotus, night queen, dan orange.

Pemasaran utama masih disekitaran Kota Yogyakarta. Namun Toyo juga sudah mengikuti aneka pameran, dari Nusa Dua Bali, Plasa Kementrian Industri, Jakarta, dan optimis membuka peluang menjual ke banyak daerah. Optimis pasarnya akan bisa diperluas dari biasa mereka.

"Tiap pameran saya ikuti, produk saya selalu habis," ungkapnya senang.

Omzet mencapai kisaran Rp.10 juta- Rp.25 juta. TJP sendiri masih banyak kendala. Contohnya pengadaan mesin. Maksudnya agar lebih mudah dalam produksi. Termasuk banja bahan, yang semakin sulit lantaran kapasitas produksi meningkat. Tenaga karja juga masih dianggap tidak mencukupi dengan pesanan.

Pengembangan UMKM menurut Mas Toyo udah baik. BUMN juga ikut membantu majunya UMKM. Tapi belum menyentuh merata ke semua UKM, apalagi ke pelosok daerah. Mas Toyo cuma berharap bahwa pemerintah makin memperhatikan UKM kita.

Kaos Om Telolet Om Hasilkan Jutaan Rupiah

Profil Pengusaha Dianto Arif Martadi 


 
Kisah viral om telolet om membawa keberuntung. Kali ini, pengusaha muda bernama Dianto Arif Martadi yang menggarap kaus bertajuk sama. Pengusaha yang sudah lama bergelut dibisni distri ini pun. Akhirnya meneguk untung lumayan lewat ngehits viral om telolet om.

Seorang pengusaha sablon asal Solo. Seperti dilansir Okezone, dengan mengusung brand Brothel, emang hobi mengangkat kata- kata nyeleneh. Misalnya kaus bersablon mboknom atau yang artinya istri muda dalam bahasa Jawa. Tidak mau kehilangan kesempatan om telolet om diubah menjadi kaus sablonan.

Padahal sih kaus bikinan Arif sangat sederhana. Hanya menonjolkan kalimat tersebut lewat sedikit bumbu humor tambahan. Baru lima hari saja dipublikasikan menghasilkan lumayan. Baru lima hari sudah banyak berminat. Alhasil sekarang dia mengumpulkan omzet sampai Rp.13 juta, hanya dari satu desain kaus.

Setelah ditelisik ternyata bukan kali pertama. Arif bersama Brothel memang senang senang akan isu- isu hits. Apalagi kalau berhubungan dengan sosial media. Banyak hal bisa dijadikan bisnis dadakan mereka. Contoh nih, selain om telolet om, ada tajuk 212, Jokowi Payung, kemudian adapula AFF Cup kemaren.

Pokoknya bisnisnya rajin mantengin isu di Twitter ataupun Instagram. Cara terbaik meningkatkan bisnis ia mengangkat ise panas. Kalau sudah mulai anget ya dia harus rajin cari lagi. Itulah kenapa satu tajuk akan cuma dibuat 2 lusin sehari. Sudah selesai isu kaus tidak akan tersisa, tinggal Arif mencari lagi.

Kaus om telolet om dalam tiga hari laku 30 kaus. Penjualan akan berhenti seiring isu memudar. Jadi Arif harus terus mantengin tuh. Kaus bertajuk unik dihargai Rp.65 ribu. Tidak cuma jualan kaus ngehits bisnis Arif juga menerima kaus bikinan kamu sendiri.

Ukuran F4 dihargai Rp.75 ribu, dan A3 dihargai Rp.90 ribu. Untung kaus isu hasilkan Rp.15 ribu. Jika kaus custom lebih banyak yakni Rp.25- 30 ribu. Omzet sampai Rp.1,5 juta- 2 juta perhari. Profitnya kalau sudah dipotong oprasional dan bahan jadi Rp.300 ribu- 500 ribu. Omzet perbulan mencapai Rp.7,8- 13 juta.

Membuat Brownies Sayuran Bebas Mengasuh Anak

Profil Pengusaha Ana Risnawati


 
Terinspirasi kisah- kisah sukses pengusaha. Wanita asal Yogyakarta bernama Ana Risnawati, kini adalah seorang pengusaha. Meskipun masih sekala kecil usahanya lumayan loh. Inspirasi oleh acara televisi yang sempat ngehits Bosan Menjadi Pegawai, dalam satu acara televisi, hingga dia memutuskan resign kerja.

Karis reporter salah satu radio swasta ditinggalkan. Semua demi mengejar membuka usaha sendiri. Dia lantas menggeluti keahliannya. Ana memang jago membuat aneka brownies. Mangkanya dia memilih di bisnis brownies kukus, tetapi dia butuh sekedar brownies.

Kan udah banyak orang bisa membuat brownies. Ide datang. Wanita 25 tahun ini kemudian membuat aneka brownies kukus sayuran. Semua berawal karena pekerjaan dan tugasnya menjadi ibu rumah tangga. Susah buat mengatur waktu karena reporter sering pergi ke luar. Dunia reporter itu tidak mengenal waktu luang.

Membuat brownies kukus sayuran. Lebih sehat buat keluarga Ana. Tidak ada salahnya jika dia mencoba menjual ke umum. "Masa itu saya putuskan berhenti dari dunia jurnalis," Ana tegas. Usaha kemudian dia rencanakan bagaimana menjual brownies kukus sayuran.

Bisnis sehat


Warga Madelan, Desa Sumberagung, Bantul, mengatakan putra pertamanya tuh tidak suka sayuran. Inilah cara dia mengatasi hal tersebut. Anak- anak memang lebih suka kue, nuget, sosis, padahal sayuran sangat baik buat pertumbuhan mereka.

Bisnis Ana cepat mendapatkan tanggapan positif. Cara marketing Ana sederhana kok. Cukup lewat mereka orang terdekat, keluarga, teman, dan menyebar. Ia menjadikan mereka konsumen awal. Lantas ditambah aneka iklan internet mendukung bisnis Ana.

Ana jelaskan perbedaan brownies kukus coklat dan sayuran. Cara pembuatan berbeda: Lapisan adonan dia buat bukannya coklat tetapi sayuran. Banyak varian sayuran dia buat seperti jagung, wortel, selada, brokoli, dan tomat. Perloyang nanti dijual Rp.20 ribu, untung diperoleh perloyang sampai 20% atau Rp.4000.

Dalam satu bulan dia menyebutkan. Sekarang pesanan mencapai sampai 100 loyang. Namun, jika ramai- ramainya nih, bsa mencapai 250 loyang. Melalui internet pemesan juga datang dari luar kota juga. Pesanan terbanyak masih datang dari dalam Yogyakarta. Banyak teman juga mendukung Ana mengembangkan ini.

Pemesanan buat aneka acara diminta teman. Brownies kukus sayuran miliknya lantas diberi nama Kue Brownies Brosaku. Pembuatan mudah cuma butuh ekstra kreatifitas. Karena ya namanya brownies masih orang banyak kenal mengandung banyak coklat. 

Orang banyak tidak menyangka kalau kue mereka makan berbahan sayuran. Ini bukti nyata bahwa Ana telah sukses mengembangkan kemungkinan. Ketika bisnis kue brownies tengah naik daun, banyak pesaing tetapi dia mantap mengambil celah. Pembeli suka karena tidak cuma coklat melainkan adanya lapisan sayuran.

Rasa sayurnya tidak kentara. "Pokoknya enak," tutur dia kapada pewarta Vivanews.

Bisnis brownies sayur miliknya makin menggeliat. Usaha kecil- kecilan tersebut sudah mempekerjakan empat orang. Dia sekarang juga menjual perkotak berat 500gr. Segitu dijual Rp.25 ribu tergantung juga topingnya. Omzet kotor dua juta rupiah perbulan, kalau ramai ya mencapai Rp.6 jutaan.

Pengacara Nyambi Menanam Jagung di Kampung

Profil Pengusaha Roder Nababan 



Siapa sangka pengacara kondang asal Tapanuli Utara, kelahiran 31 Juli 1970, ini selain bekerja juga mau berbecek ria. Dia ternyata punya usaha bidang agro loh. Pengacara bernama Roder Nababan menceritakan kisah dia dan persawahan dia miliki kepada JPNN.com

Suatu waktu dia akan ke Jakarta menangani kasus. Di kampung, Desa Paniaran, Siborong- borong, punya kurang lebih 40 hektar. Tanah warisan sudah ratusan tahun dibiarkan begitu saja. Tidak dikelola menjadi lahan produktif. Kemudian 15 hektar bagiannya ia tanami jagung, sisanya ubi Jepang dan cabe.

Ia pun bercerita bagaimana bisnisnya untung. Lumayan satu hektar lahan dia hasilkan Rp.15 juta. Itu sudah termasuk potongan buat biaya pemeliharaan dan tenaga. Roder hitung kasar saja Rp.15 dikali 15 hektar sudah dapat Rp.225 juta.

Jika dihitung jagung saja, masa panen kan tiap 4 bulan, jika dihitunga perbulang untung bersih Rp.56, 25 juta. Dia juga membentuk komunitas petani jagung. Namanya Perhimpunan Tani Akal Sehat. Kok nama perhimpunannya lucu. Ternyata ada alasan kenapa pakai kata Akal Sehat.

"...karena selama ini para warga di sana tidak menggunakan akal sehat," selorohnya. Pasalnya tanah begitu luas dibiarkan tidak produktif. Lahan bagus dibiarkan begitu saja padahal bisa berguna.

Ia ngoto tidak ada lahan tidur. Kalau ada ya kalian pemilik tanah yang tidur. Kalian tidur karena tidak mau merubah tanah menjadi lahan produktif. Ide awal menjadi petani jagu dari mana sih? Ternyata tidak serta- merta Roder menjadi petani jagung.

Iseng dia tanya kepada temannya, Wakil Ketua DPRD, Dairin Dahlan Sianturi. Iseng sih, sekedar bentuk bercandaan, kan emang tuh gosip bahwa pejabat nyari- nyari proyek dari Bupati. Sang teman kemudian mengajak Roder berkeliling tempat tinggalnya.

Dahlan mantap berkata tidak meminta proyek. Ia sadar akan tugasnya sebagai wakil rakyat. Meminta satu proyek berarti merusak kerajanya sebagai anggota dewan. Sambil jalan menelusuri lahan, dia mengajak Roder datang ke lahan kebun miliknya. Ada 12 hektar lahan sudah ditanami jagung yang siap dipanen.

Inilah "proyek" pribadi milik Dahlan. Dengan bangga sang Wakil Ketua DPRD menunjukan hasil kerja kerasnya. Perbulan bisa menghasilkan Rp.45 juta. "Kemudian saya ingin menirunya," ujar Roder, yang adalah pengacara handal spesialis kasus sengketa Pilkada.

Untung uang bukanlah hal dibesarkan. Dia justru mengambil segi positif lain. Selain bentuk pemanfaatan biar tidak mubazir. Roder juga merasa nyaman ketika berkunjung ke kebun. Energi alam merasuk ke dalam membuat dia hilang penat. Bahkan menyusun gugatan di kebun, dia bisa menghemat waktu setengah hari.

Lebih cepat selesai pekerjaan ketika di luar. Kalau di Jakarta kerjaan bisa seharian baru selesai. Kadang dia malah molor sampai sepekan- dua pekan tinggal di Jakarta.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba