Cuma Lulusan SMA Tetap Semangat Jadi Pengusaha

Profil Pengusaha Sukses Herdian 



Bisnis kreatif memang soal bagaimana menciptakan. Kita adalah seniman dalam berbisnis. Tidak ada pula batasan pendidikan berbisnis kreatif. Inilah Herdian, pria 30 tahun yang merambah bisnis miniatur, yang mana omzetnya mencapai Rp.15 juta per- bulan.

Tidak murah Herdian mengawali. Modal Rp.50 juta digelontorkan buat bisnis. Dibantu 12 orang karyawan dirinya mantap berbisnis miniatur. Pengusaha satu ini memang sudah dikenal. Dia menghasilkan uang dari menjual figura, dan kini, berjualan miniatur gitar difigura.

Pengusaha asal Lembang, Bandung Barat, ini hanyalah lulusan SMA. Sejak lulus sudah banyak usaha telah ia jalankan. Tidak ada minat bekerja menjadi pegawai. Hasil usaha disisihkan buat menjalankan usaha lain. "Karena ingin menciptakan lapangan kerja," Herdian menuturkan.

Sajak 2005 dia sudah berbisnis sendiri. Ia kritis kenapa banyak orang menganggur di kampungnya. Kenapa mereka tidak membuka usaha jika tidak diterima kerja. Alhasil banyak pengangguran bahkan usia tua juga ada.

Usaha Herdian membuahkan hasil. Biaya produksi juga mengandalkan daur ulang. Tujuannya agar bisa memproses bahan tidak terpakai di kampungnya. Limbah kayu mahoni menjadi bahan pembuatan miniatur. Sebulan sudah bisa memproduksi ulang 1- 2 ton limbah kayu mahoni.

Ia memproduksi sampai 300- 500 pcs figura gitar dan 2.000 miniaturnya. "Banyak dikampung saya," ia menjelaskan. Limbah tidak terpakai banyak, dan masih memiliki nilai ekonomis jika dipasangkan dengan ide kreatif. Dibantu 12 orang memproduksi di sebuah galeri kawasan Taman Wisata Gunung Tangkuban Perahu.

Jualannya diminati kebanyak dari orang luar negeri. Utama pesanan datang dari Malaysia dan Singapura. Ia tidak takut karena kompetitor lumayan. Harga jual dipatok Rp.50 ribu sampai Rp.1,5 juta buat figur gitar. Dan buat miniatur agak lebih mahal yakni Rp.100 ribu sampai Rp.1,5 juta.

Pengerjaan antara tiga hari sampai dua minggu. Herdian menetapkan minimum pemesanan Rp.5 juta. Ia dibantung pemerintahan Jawa Barat makin maju. Ia pun berpesan bahwa anak muda jangan cepat menyerah menjadi pengusaha. Dia sendiri merintis dari nol besar tanpa ijasah sarjana.

"Usaha apapun harus dijalani asal tekun," tutupnya.

Buka Usaha Tali Temali Untung Kalau Digali

Profil Pengusaha Bernama Joko 



Iseng main simpul Pramuka jadi usaha. Inilah kisah Joko, pengusaha sekaligus seniman tali makrame dan kur. Ini karejinan memang lebih dikenal kerajinan tali Pramuka. Tetapi sejarahnya ternyata jauh. Seni ini dikembangkan oleh sosok Alm. Bambang Sumitro. 

Joko sendiri hanyalah seorang pegawai SPBU. Sementara Bapak Sumitro merupakan seniman sejati. Dia yang belajar dari tempatnya bekerja dulu. Sumitro lantas mengajarkan ke semua orang, mulai dari ibu- ibu sampai anak putus sekolah. Sedangkan Joko mengambil ilmunya sebagai dasar membuka usaha.

Kerajinan anak SD ini memang sudah dikenal langka. Jarang sudah peminatnya jaman sekarang. Justru ide muncul dibenak mantan pegawai SPBU ini, yang juga pernah menjadi karyawan hotel. Joko memang orang biasa tetapi dibalik usahanya sekarang terselip harapan lain.

Bisnis lestari


Ia ingin melestarikan seni makrame. Memang simpul- menyimpul membutuhkan waktu lama. Mungkin juga inilah alasan banyak orang "malas" melanjutkan. Joko berusaha menjalankan misinya, membuat aneka kerajinan, dari meja gantung, akuarium gantung, gantungan pot, tirai, sampai tempat tidur gantung.

Jiwa seni Joko memang kuat meski bukan seniman. Dia tau akan cantik jadinya jika seni talinya dipadu padankan dengan desain interior. Contoh lampu gantung eksotis buatan Joko. Atau coba beli akuarium gantung miliknya. Yang mana dipadukan lampu, menjadi penerang manis dan unik dikala malam hari.

Atau tirai tali buatan Joko yang berukuran 1x2 meter. Yang mana menghabiskan waktu 8 hari pengerjaan. Disini letak keindahan dan nilai usaha dijalankan Joko. Jika Bapak Sumitro membuat tas tali buat satu perusahaan. Maka Joko memilih membangun mimpi perusahaan sendiri.

Ia sangat menyangkan tidak ada penerus. "Semenjak tokohnya meninggal, daripada seninya mati disini, saya mencoba hidupkan kembali," pungkasnya. Harga produk mulai termurah Rp.5000 sampai yang paling mahal Rp.2,5 juta untuk meja gantung. Semakin mahal maka pengerjaan dan detail semakin sulit.

Pelanggan tetap dari luar negeri, adalah negara- negara pecinta produk handmade, seperti Swiss, Jepang, Belanda, Jerman.

Membuat Album Foto Menjadi Usaha Menjanjikan

Profil Pengusaha Freddy Sinatra  dan Lio Andrian


 
Usaha berawal dari iseng sudah banyak. Berawal keinginan menambah uang jajan. Alkisah ada seorang mahasiswa bernama Freddy Sinatra menjajaki wirausaha. Usaha foto album kecil- kecilan berubah jadi satu perusahaan besar. Lumayan lama dari berjualan keliling hingga menembus pasar internasional.

Jiwa seninya memang menjadi andalan. Ditambah keuletan ingin mencari penghasilan sendiri. Usaha yang dirintis sejak 1964 kemudian berkembang. Freddy sempat loh berjualan keliling. Menenteng album foto ditangan, menjualnya dari pintu ke pintu. Tangan dinginnya lalu memasukan karya ke toko- toko sekitaran Semarang.

Tidak disangka usaha album foto ternyata menjanjikan. Usaha bernama Susan Photo Album mulai tampak untung didepan mata. Produk foto album miliknya bahkan masuk ke pasar Australia.

"Saya tidak menyangka bila bisnis ini bisa berkembang pesat," kenangnya. "Saya memulai usaha album foto ini hanya iseng."

Usaha yang awalnya cuma menghasilkan uang jajan. Kemudian merambah uang tabungan buat kuliah. Inilah hidup kini Freddy telah berbalik 180 derajat. Pria kelahiran Blitar 1946 ini memang sudah berniat untuk membuka usaha sendiri. Ide membuat usaha apa berbekal kreatifitas tangan sendiri.

Bisnis tidak disangka


Dia mencari bahan, membuat, dan memasarkan sendiri. Awalnya dia berjalan berkeliling menawarkan satu per- satu. Suami Lanny Riana Dewi ini, memang sudah menyukai dunia seni. Dibantu dua orang karyawan agar bisnis Renddy tetap berjalan. 

Tugas utama Freddy adalah memotong dan pengepakan. Dalam sebulan menghasilan 20 buah album foto. Ia menyebutkan kualitas utama merupakan kunci. Tidak cuma sekedar desain bagus saja. Pelayanan baik mampu membawa perusahaan, kini, memiliki 200 orang karyawan tersebar.

Soal menjalankan bisnis tidak perlu neko. Usaha kecil- kecilan dikerjakan mengikuti arus. Namun dia ingat bahwa bisnis berubah mengikuti jaman. Dia tidak bisa menjaga loyalitas pelanggan terus. Jika ada perubahan sedikit saja usahanya akan hangus. Inilah Freddy fokus mengembangkan inovasi produk lebih baik.

Ia rajin menungunjungi pameran. Aktif menjual tidak cuma offline, juga online melalui sosial media atau website perusahaan sendiri. Barapa pun permintaan pasar diusahakan dipenuhi. Dulu mungkin Freddy akan keteteran tetapi sekarang tidak.

Ayah dua anak, Lio Andrian dan Olivia Susanti, hanya ingin melayani saja. Kualitas produk sekali lagi, lalu inovasi, ditambah melayani pembeli. Tidak salah usahanya lambat laun berkembang makin pesat. Pesanan album foto meningkat cepat. Pria bermoto "maju terus" merasakan Susan Album Photo sudah terkenal.

Tahun 2016 saja, Susan Album Photo memiliki 200 orang karyawan, sudah termasuk tenaga produksi dan staf. Niatnya sungguh- sungguh membuka usaha. Membantu lebih banyak lewat jiwa seninya. Dia bekerja keras tanpa dipengaruhi omongan orang sekitar. Tidak terpengaruh dan fokus mengembangkan usahanya.

Nama Susan sendiri ternyata bukan nama orang terkenal. Bukan pula nama istri Freddy sendiri. Pemilihan brand Susan hanya nyeletuk saja. Alasan utama karena mudah diingat dan diucapkan. Orang luar negeri juga mudah mengucapkan Susan.

Bisnis Freddy tidak berhenti di penjualan langsung. Dunia digital eCommerce sudah dijajaki pria paruh baya tersebut. Namun demikian pendekatan personal lebih kental. Sukses Freddy kini diambil alih oleh sang putra. Lio Andrian memiliki masalahnya sendiri dimana orang menyebut album foto sudah kuno.

Bisnis tak lekang


Meski banyak orang bilang jualan album foto sudah ketinggalan jaman. Lio masih meyakini bahwa ini hanya soal peralihan. Oleh karena itulah, ia bertekat merubah konsep album foto agar dapat mengikuti laju perubahan jaman. Lio sendiri tampak siap menghadapai tantangan global bisnis album foto.

Tidak cuma menjual album foto. Perusahaan mereka mantap memberikan jasa konsultasi. Bagaimana agar membantu rekanan bersama memajukan bisnis mereka. Lio menyasar konsep album art work, corporate package, hingga mengambangkan bisnis lain di dalam maupun luar negeri.

Freddy sendiri sudah membekali Lio. Selain ekspansi bisnis lain, seperti bisnis bridal, salon kecantikan, dan spa. Itu semua diberi nama Susan.

Devirsifikasi bisnis memang giat dilakukan Freddy. Bisnis selain album foto dikerjakan sang istri dan juga putrinya. Dua wanita Freddy memang menyukai bisnis kecantikan. Freddy mengaku bisnis dijalankan tidak ada perencanaan khusus. Freddy sendiri sejak awal sudah dibantu permodalan oleh Bank BCA.

Lio sendiri menjalankan bisnis senang hati. Memang berwirausaha sudah menjadi passion -nya. Selain itu, dirinya mewarisi bakat seni sang ayah. Dia tertarik karena melihat ayah bekerja sejak kecil. Freddy bilang Lio tidak melihat uang dibalik bisnis ayahnya. Cuma dia melihat bagaimana bisnis mempengaruhi industri fotografi.

Inilah kenapa Lio lebih mencintai berwirausaha. Dibanding sibuk memikirkan berapa uang didapat. Freddy sendiri membebaskan Lio berekspresi. Lio sendiri mengerjakan business development. Bagaimana agar membuat brand awareness tentang produk- produk milik Susan.

"Banyak orang menyebut pasar album foto sudah "senja"," ujar Lio. Penulis melihat bisnis mereka bukan cuma soal album foto tetapi brand Susan itu sendiri.

Obat Tradisional Kalimantan Akar Kayu Berkah

Profil Pengusaha Heni Wijiastuti 



Pengetahuan akan ramuan kuno membawa berkah. Inilah kisah pengusaha Heni Wijiastuti. Semenjak sang suami kecelakaan tidak bekerja. Otomatis dia menggantikan tugas mencari nafkah. Bukan perkara mudah, karena membuka usaha pun butuh uang.

Sejak sembilan tahun silam, Heni mulai mengikuti cara kuno masyarakat Pulau Kalimantan, yang dikenal memiliki satu kekayaan alam hutan. Dia mulai meramu apa yang bernama akar kayu. Obat tradisional yang mana kemudian menjadi fondasi perusahaan miliknya, Berkat Uhat Kayu, diberi nama sesuai bisnisnya.

"Sesuai nama usahanya, uhat berarti kayu," Heni menjelaskan.

Sejak kecelakaan sang suami berhenti bekerja. Otomatis semua bergantung kepada tangan Heni. Otodidak ia mulai meramu ramuan akar kayu. Total 25 ramuan telah ia kembangkan berbekal akar kayu. Bahan juga mudah didapatkan gratis mencari di hutan.

Namun masalah pengembangan daerah sawit menjadi masalah. Itu sejalan dengan pengalihan fungsi hutan. Jadilah susah mendapatkan bahan baku utama akar kayu.

Dia lantas membudidaya sendiri kayu. Ramuan akar kayu Hani bisa menyembuhkan sakit pinggan hingga obat diabeter. Heni dibantu 4 orang karyawan. Usahanya memproduksi 2.000 bungkus per- bulan, yang ia kirim ke berbagai tempat termasuk Bandung, Bali, Pangkalan Bun, sampai Batam.

Ramuan dijual antara Rp.22.000 sampai Rp.75.000, disesuaikan jenis penyakitnya. Hitungan kasarnya ia memperoleh omzet sampai Rp.60 juta. Heni sendiri enggan menyebut angka pasti. Namun dia mampu menghidupi 7 orang anaknya. "Sekolah semua, dua kuliah," ungkapnya kepada Detik.com

Ia meyakinkan produknya sudah mendapatkan ijin Kementrian Kesehatan RI.

Pengusaha Eksportir Teh Hijau Kakak Beradik

Profil Pengusaha Ifah Syarifah 



Semua berawal dari keprihatinan akan teh kita. Dia adalah Ifah Syarifah, wanita 49 tahun, yang mulai aktif di kegiatan sosial. Berawal aktifitas sosial diantara petani kebun teh, dia menyulap aneka teh hijau jadi aneka makanan. Terutama nih opak teh hijau yang dibaluri coklat enak nikmat.

Dalam setahun usahanya sudah mengantungi Rp5 miliar. Usaha Ifah dikenal sebagai eksportir teh hijau ke luar negeri. Aneka produk teh hijau terbilang inovatif dan variatif. Ada opak teh hijau, pelembab teh hijau, sabun teh hijau, dan masker wajah teh hijau. "Kami membuat pewarna lukisan dari teh."

Harga jualnya sih cuma Rp.10 ribu sampai Rp.125 ribu. Ibu Ifah cuma berpikir bagaimana agar teh disukai semua orang. Bagaimana nih agar remaja menyukai makanan tradisional seperti opak. Tidak cuma teh hasil lokal tetapi teh Jepang yang hijaunya lebih pekat.

Aneka usaha


Ifah berdomisili di Jakarta aktif kegiatan sosial. Fokus sosialnya membangun sekolah anak jalanan. Sejak muda dia memang lebih ke sosial. Dari 1995 sudah menyukai kegiatan sosial, di sekitaran kebun teh di daerah Bandung, Jawa Barat.

Dia membantu petani bersama teman- teman. Mereka membangun sanitas juga jalan. Sela- sela perjalanan dia belajar memetik teh. Ia mampu memilah teh berkualitas. Gurunya Ifah ya petani serta pemetik teh. Dia memahami seluk beluk proses pembuatan teh. Gaya pemetikan lewat ketajaman indra penciuman kita.

Di tahun 2014, dia kembali ke Bandung, kali ini dia kembali memberikan pelatihan buat petani teh. Bagi lulusan S- 1 Psikologi, Universitas Padjajaran, ini bukanlah hal tidak biasa. Dia mulai mengingat sembilan tahun lalu sebuah keinginan. Potensi bisnis teh hijau dalam benaknya menggeliat kembali.

Dia lantas mengajak adiknya, Evi Amalia, wanita 46 tahun tersebut bersama Ifah mulai melakukan riset kecil- kecilan. Maksudnya menemukan produk andalan yang tidak monoton. Untuk bahan baku daun teh dipasok kawasan Ciwidey, Sukabumi, Cianjur, Bandung Barat dan Garut.

Mereka dibantu enam karyawan mengolah. Mereka merupakan anak- anak petani teh. Tidak mudah tetapi karena dibalik usaha mereka adalah berbagi; tidak terasa rasa lelah. Setelah menemukan aneka produk dan pasar menerima usaha Arafa Teh. Keduanya sepakat memberikan donasi 25% kepada keluarga petani teh.

Bubuk teh hijau dijadikan coklat teh hijau, opak, kemudian minuman instan. Coklat teh hijau bukanlah coklat sembarangan. Memiliki level kepekatan teh hijau terasa dimulut. Kemudian ia menaburkan teh hijau Jepang keatas opak. Inilah perusahaan pertama inovatif yang fokus ke usaha aneka teh hijau.

Bisnis besar


Orisinalitas usaha mereka tidak perlu ditanyakan. Cita rasanya terjamin. Begitupula dengan higenitas yang mereka tawarkan. Perusahaan mereka juga menghasilkan pewarna batik dari teh loh. Arafa Teh menggaet pengrajin batik Solo, Pekalongan, dan Yogyakarta menjadi patner.

Mereka juga membuat sabun berbahan teh hijau. Merekomendasikan sabun tersebut melalui kerja sama dengan perusahaan farmasi. Mereka juga memproduksi teh putih yang mencapai 3 ton/bulan.

Agar bisnis mereka makin moncer: Arafa Tea membangun jaringan reseller. Antara lain Batam, Padang, Medan, Balikpapan, Lombok, Menado, dan Makassar. Mereka nanti menjadi jalan masuk ke kafe- kafe. Ia menyebut reseller mereka ada di 11 titik. Omzet dari mereka saja sudah mencapai Rp5 milair per- tahun.

Olahan teh mereka dilirik negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Qatar, Srilanka, dan Korea Selatan. Ia menyebut volumen ekspor sampai satu kontainer ke masing- masing. Inovasi selalu dilakukan Ifah agar usaha mereka mengglobal lewat jaringan yang sudah ada.

Sambutan positif masyarakat direspon lewat aneka produk baru. Kakak- beradik asal Bandung ini memang tidak ada bandingnya. Bahkan produk opak mereka sudah pernah dipesan Bapak President Susilo Bambang Yudhoyono sampai 2.500 opak. Produk mereka dibandrol harga Rp.10.000 sampai Rp.125.000 -an.

Mereka juga mendukung riset dan penelitian teh hijau. Mereka menggandeng Fakultas Teknologi Pangan, Universitas Padjajaran, menciptakan aneka pangan inovatif berbahan teh. Seiring peningkatan permintaan PT. Arafa Hangarita Asia memproduksi 120kg coklat, 5.000 opak, dan 60kg daun teh kering seduh tiap minggunya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba