Bermimpi Mewarisi Penginapan Kecil Eksotis

Profil Pengusaha Lei Andre


  
Bermimpi besar itulah Lei Andre Hofman. Tidak banyak diketahui dari sosok cantik belia ini. Hanya saja dia merupakan sosok pengusaha muda. Andre menurut entrepreneur.com.ph, berumur 19 tahun, mewarisi satu usaha penginapan kecil nan- elok di sebuah kota kecil.

Sebuah penginapan sekaligus butik, merupakan sebuah warisana usaha ditempat strategis, sebuah kota yang kecil terkenal akan pusat olah raga surving. Sekitar utara Kota Dingalan, Filipina, "Jika kamu naik kapal, itu akan membutuhkan beberapa jam untuk sampai di Baler (tempatnya)," singkat Andre.

Butuh waktu karena kota itu diputari gunung. Namanya Fil- Dane Inn terkenal bahkan ketika kamu mengetik namanya di Google. Merupakan warisan kedua orang tuanya didirikan sejak 1990-an. Merupakan tempat pemberhentian sehari. Merupakan tempat menginap semalam backpacker, atau bertraveling sekeluarga.

Untuk menjalankan bisnis, Andre bekerja sendiri bersama satu krew ketika hari biasanya. Kalau musimnya liburan maka dia akan sangat kerepotan, dan bahkan akan mengajak keluarganya bekerja.

Bisnis lokal


Andre tau bisnis tempat wisata butuh sentuhan lokal. Bayangkan mempekerjakan orang bukan orang asli di daerah. Apakah mereka mengetahui segala tentang keindahan tempat itu. Inilah kenapa dia selalu memilih untuk mengajak pekerja asli daerah. Semua hasilnya kan kembali ke kota itu sendiri sebuah kegiatan sosial.



Dia menjadikan modal nilai kearifan lokal. Semua didapatkan dari pelatihan internasional dan tinggal bersama di tempat multi- kulturan. Bagi anak muda 19 tahun merupakan pencapaian luar biasa. Cewek cantik yang berdarah campuran Filipinan- Denmark, ini adalah mahasiswa manajemen Enderun Collage.

Dia bekerja dulu menjadi internship di Kota Denmark. Tempat kelahirannya ini menjadi awal baginya sadar bahwa Filipina memiliki nilai. Dulu dia pernah tinggal di Iran, China, Spanyol, bahkan Saudi Arabia, lalu ia tinggal di Filipina menetap ketika umurnya 16 tahun.

Kembali ke Filipina, dia sudah mengantungi pelajaran informal, bagaimana menghadapai beragam etnis dan kulutran. Tetapi kalau berbicara tentang uang masalah lain.

Di Denmark persamaan kedudukan mencolok. "Itu hal tentang Danish. Kami menyebutnya Jante Law," ia menjelaskan. Di Filipina adanya hirarki kedudukan dalam berbisnis. Perusahaan pastilah tidak akan memberi kemudahan buat karyawan biasa ngopi sama General Manager.

"...dan hanya untuk makan malam dengan mereka, dan diduk disana, dan minum bersama?"

Mulailah dia memperlakukan pekerja sebagai keluarga. Dia bahkan menutup penginapan cuma buat makan bersama mereka.

Dia menyebutkan juga orang Filipina butuh batasan. Nilai profesionalisme butuh garis lurus antara berlaku sopan santun dengan terlalu nyaman bersama pendatang. Meski begitu dia tetap melakukan pendekatan sopan santun asli Filipina, dengan beberapa sentuhan.

Praktiknya daerah penginapan miliknya masih perawan. Jadi dia mengajak pengunjung berkeliling sendiri. Ia juga menciptakan perasaan seperti di rumah sendiri. Makanan dapat disiapkan sendiri di dapur. Kalau bicara koneksi Wi- Fi sudah sudah bagus, tetapi prasarana tempat gym baru akan disediakan mendatang.

Untuk aliran listrik berterima kasih dengan panel surya. Beruntung tempatnya benar- benar banyak sinar matahari panas.

Pengusaha muda


Mengambil alih bisnis keluarga tiga tahun lalu adalah sulit. Bagi pengusaha muda satu ini tidak ada kata jadi. Dia bahkan tidak tau marketing bisnisnya. Butuh waktu buat mendapatkan perhatian dunia. Yah sekarang dia waktu itu langsung menstabilkan pendapatan penginapan.

"Satu pengunjung dalam semalam bagus karena permulaan," ujarnya. Maka targetnya lima tahun kedepan adalah 70% sampai 80%.

Mimpi Andre mengubah kota kecilnya menjadi terbaca di peta. Merupakan tempat nyaman buat mereka yang mau melepaskan rutinitas di kota besar. "Tetapi aku tidak mau merubahnya menjadi tempat hiburan malam," tandasnya.

Jangkauan seorang Andre bahkan mencapai sepuluh tahun kedepan. Dia mengajak pengusaha mudah buat mengikuti petanya. Ia mengajak anak muda buat tetap belajar atau mengikuti karir. Berbisnis dibidang ini memang latar belakang keluarganya, dan dia sangat peduli akan hal tersebut.

Dia sejak dulu memang sudah berwirausaha. Dari usaha produk fasion ketika masa sekolah menengah, lalu dia berbisnis produk kecantikan pas kuliah. Tetapi dia kini mengerjakan bisnis keluarga. Yang dia lihat akan memiliki prospek panjang. Dia melihat bisnis tersebut dengan kecintaan akan tempat asalnya.

"Semua pengunjung adalah raja dan ratu... kamu mau melayani mereka untuk kepuasan sendiri dan kepuasan mereka," tutup Andre.

Jadi Penemu Kopi Biji Salak Resign Kerja di Bank

Profil Pengusaha Eko Yulianto 



Anak muda satu ini sudah kenal salak sejak dulu. Pasalnya salak merupakan hasil komditas wilayahnya. Dia akhirnya sukses tetapi bukan karena buah salak. Eko Yulianto sukses justru karena kopi biji salak. Pemuda 27 tahun ini bermula dari sering membaca literatur tentang biji kopi.

Sejak kuliah, Eko sudah gemar menjajakan salak asal daerahnya, yang mana jika dibeli buah saja cuma laku Rp.500 per- kilo. Dia mulai berpikir bagaimana merubah salak menjadi aneka olahan. Eko lantas mengajak empat orang teman, bernama kelompok Cah Bagus. Mulailah mengolah salak menjadi anaka produk kuliner andalan.

Namun seiring berjalan kelompok tersebut bubar. Seiring waktu hasrat Eko akan salak masih kuat. Juga didukung seperti penulis ceritakan diatas "keprihatinan". Prihatin karena petani salak menjual salaknya murah meriah. Butuh inovasi berbeda agar buah salak tidak cuma tergeletak di Wonosobo.

Pemuda kelahiran 15 Juli 1987 ini kemudian membuat kerupuk salak. Iseng sambil membuka- buka aneka literatur tentang kopi, lahirlah kopi biji salak. Ia ingat komoditi 80% desanya adalah salak. Sambil dijadikan kerupuk bijinya juga diolah kembali jadi kopi.

Inovasi unik


Diantara mencari olahan biji salak terbaik. Dia sibuk bekerja menjadi pegawai bank. Sementara teman yang lainnya ada yang jadi pegawai percetakan, berwirausaha sewa tenda, pegawai koperasi. "...ada juga yang masih kuliah," tutur dia.

Tidak mau berhenti ditengah jalan. Ia terus mengembangkan eksperimen berdasarkan pengalaman. Dari jadi kerupuk salak kemudian diolah menjadi biji kopi. "Hasil kreasi limbah biji salak jadi kopi, aneka kerajinan, bolu, stik, kerupuk, bahkan dodol," imbuhnya. Beruntung sejak kuliah Eko ini gemar membaca buku di perpustakaan.

Begitu usahanya terlihat berkembang: Eko memutuskan keluar dari pekerjaanya di Bank. Padahal pekerjaan tersebut sudah berjalan 3,5 tahun. Memang tidak mudah bagi Eko sampai bisa menemukan kopi biji salak. Dia begitu menemukan memilih kembali ke desanya.

Disanalah hasil eksperimennya dijalankan. Disana salak begitu banyak, dia mulai aktif mengajak masyarakat membantu usahanya. Tidak sia- sia masyarakat menyambut kesuksesan Eko. Jadilah Eko menaikan derajat desa melalui aneka olahan salak, termasuk kopi biji salak.

Dimulai di tahun 2012, kopi biji salak dibuat sedemikian rupa, hasilnya bubuk seperti kopi jika diseduh akan larut. Tekstur diolah sedemikian rupa seperti kopi. Bahkan nih baunya tercium aroma khas seolah kopi. Dia memang sudah bosan menjadi pegawai.

"...bosan cuma duduk- duduk doang," jelas Eko tentang menjadi pegawai.

Awal percobaan tentu gagal. Rasa kopi biji salak tidak enak. Namun berkat kesabaran serta percobaan tidak berhenti rasanya lain.

Sejak seruputan pertama kopi sudah kayak Arabika. Rasanya pahit tetapi bercampur asam. Inilah yang kita sebut kopi biji salak, Dibawah bendera bisnis Kie Bae mencoba merambah pasar Indonesia. Dari rasanya enggak mungkin ada yang mau minum, sekarang omzet bisnisnya mencapai Rp.5- 6 juta per- bulan.

Eko berbisnis dari daging sampai biji salak. Tahun pertama mampu meraup omzet Rp.47 juta per- tahun. Di tahun 2014 bersyukur mampu mencapai Rp.82 juta per- tahun. Berbekal jaringan ketika menjadi pegawai bank, ditambah pasar online yang menjanjikan. Eko pun giat memasarkan ke toko oleh- oleh Wonosobo.

Aneka percobaan dilakukan untuk memasak biji. Komentar taster pertama ya kurang sedap di lidah. Satu bulan penuh percobaan dilakukan. Semua diulang dari menjemur, menyangrai, dan menumbuk. Pengaturan waktu menjadi alasan perbedaan mencolok. Ini pula kunci sukses bisnis Eko sampai menjadi sekarang.

Akhirnya dia menemukan berapa jam lamanya dijemur. Berapa lama disangrai sampai akhirnya layak buat kita minum. Dia bahkan sudah memilik mesin giling sendiri, pengering sendiri, dan mesin sangrai sendiri. Total aset pabrik kecil- kecilannya sudah mencapai Rp.60 juta.

Dia memberdayakan 20 ibu- ibu kampungnya. Juga memberdayakan pemudanya lewat gerakan bernama Gardu Beriman. Tujuan dari gerakan tersebut buat memperindah kampung. Usaha dijalankan juga tidak monoton. Dia menemukan cara membuat bros kulit salak, permen salak, dan sudah masuk pasar Bali.

Sebagai pengusaha muda, Eko memberikan wejangan, "Jadi pengusaha itu yang penting yakin dan paling penting harus ada ridho dari orang tua, itu wajib."

Batok Kelapa Dirubah Menjadi Tas Berharga

Profil Pengusaha Emy Erawati



Tempurung kelapa memilik potensi tidak terbayangkan. Seperti kisah wanita asal Belitar berikut. Namanya adalah Emy Erawati. Dulunya hanya lah warga Dusun Seduri, Desa dan Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang kemudian dikenal sebagai pengusaha batok kelapa.

Tidak mudah karena butuh kreatifitas. Untung karena Emy dibantu suami mengembangkan. Usaha dijalankan sejak 1995 -an. Produk primadona ya tas batok kelapa, yang mana bahkan sudah sampai ke pasar ekspor. Dari cuma coba- coba bekerja bersama keduanya berusaha tampil beda.

Memang kerajinan tas lebih primadona dari sekedar pajangan. Emy melihat ini sebagai peluang tersendiri. Dan ia mulai mencari berbagai macam model tas kegemaran sekarang. Kemampuan melihat pasar kemudian didukung pasar memadai yakni Bali.

Bisnis spesifik


Berbisnis kerajinan memang gampang- gampang sukses. Pengalaman orang lain dijadikan Emy contoh. Ya seperti memasarkan ke pasar orang asing. Kecenderungan orang Indonesia yang lebih meminati merek asing. Tidak dipungkir sedikit banyak membuatnya berpikir berhati- hati.

Berawal dari melihat banyak batok kelapa bertumpuk. Ia membuka aneka kerajinan tidak cuma tas, seperti dompet, dan beragam aksesoris.

Banyaknya wisatawan asing di Bali membawa berkah. Hampir pasti wisatawan asing akan membawa oleh- oleh pulang. Dan produk alami seperti buatan Emy menjadi pilihan. Ditambah krisis ekonomi 1998, membawa dollar naik dan makin banyak permintaan ekspor menjadi baik.

Produksi Emy sampai 50% dijual di pasar Bali. Memasarkan sampai Eropa, nama produk Emy lebih lagi terdengar ke permukaan. Produk Emy terkenal unik dan berkualitas tinggi. Alhasil omzet sampai ratusan juta rupiah sudah ditangan, menjual dari Swiss sampai Belanda, juga beberapa negara tetangga kita.

Tingkat kesulitan tinggi dianggapnya nilai jual. Proses pembuatan memang sangat panjang. Oleh karena itu ia rela merogoh kocek untuk memodifikasi peralatan produksi. "Menurut saya masih sedikit yang melirik bisnis ini," imbuhnya. Sudah lagi proses pemasaran yang tidak bisa semalam- dua malam.

Berkat bisnisnya sudah mengangkat derajat banyak orang. Pegawai Emy sudah mencapai angka 200 orang. Proses pembuatan bisa dibawa pulang ke rumah. Harga kerajinan batoknya mulai dari Rp.10.000 sampai Rp.200.000.

Bisnis yang dirintis bermodal uang Rp.1 juta. Kemudian uang tersebut dibelikan dua mesin produksi. Dia terinspirasi ketika bekerja di Bali. Dan berkat usahanya, kembali ke daerah asalnya, Emy mengangkat para warga desanya bekerja bersama mengukir tempurung menjadi aneka produksi.

Nama Pengusaha Tas Berbahan Dasar Daun Pandan

Profil Pengusaha Ucok Adi Setiawan dan Natalia Indri


 
Pengusaha ini bernama Ucok Adi Setiawan. Pemuda ini memilih berbisnis tas berbahan daun pandan. Dia lalu bercerita bagaimana bahan pandan sangat banyak di Jawa Tengah. Kreatifitasnya tergelitik untuk menjadikan daun pandang yang sekedar bahan baku kue.

Dari mencoba membuat dompet, hingga membuat tas daun pandan. Kekreatifan ditambah rasa penasaran ternyata membuahkan hasil. "...nyoba- nyoba bikin tas dan dompet ternyata laku," unggahnya.

Pengalaman menggunakan pandan menghasilkan kesimpulan. Ada dua jenis daun pandan yakni pandan dari gunung dan pandan pantai. Soal bahan terbaik ya pandan gunung ceritanya. Memasuki tahun kedua semakin dia semakin bersemangat memasarkan produknya.

Harga dompet daun pandan dikisaran Rp.20 ribu. Kemudian tas wanita dijual sampai Rp.200 ribu. Memang mahal tetapi cita rasa pandang menggugah selera. Jangan tanyakan omzet, dia mengaku mampu mengantungi Rp.30 jutaan meski naik turun.

Dia sendiri masih kekurangan SDM. Tenaga ahli buat membesarkan bisnisnya kedepan. Dia cuma dibantu tiga orang setiap tempat. Tenaga pembuatan masih dilakukan swadaya saja.

Pengusaha lain


Lain ceritanya Natalia Indri yang juga berbisnis sama. Didukung statusnya sebagai wanita, membuatnya jadi lebih ekspresif berbisnis tas wanita dari anyaman pandan. Alhasil nama brand INSSOO -kepanjangan dari Indonesia Woven Craft- mampu melejit keras.

Pengusaha wanita asal Yogya berawal dari tahun 2010. Ia berawal memikirkan mau buka usaha menambah penghasilan. Berawal dari iseng kemudian mengkreasikan bahan alami ini. Nama tas clutch merupakan usaha anyaman modern berbahan tidak lagi cuma pandan, mulai daun agel, sampai eceng gondok.

Memang banyak tanaman belum dieksplorasi. Hobinya memang membuat kerajinan. Dan melalui hobi lah, dia membuka usaha pertamanya dan langsung melejit. Untung karena dia didukung kedua orang tuanya. Ia bahkan mendapatkan dukungan berupa materi dan tenaga.

Bisnis keluarga kecil tersebut terdiri lima orang. Dia, papa, mama, adik, suami dan Natalia sendiri. Semuanya membantu Natalia. Bisnis ini ternyata cuma bermodal Rp.500 ribuan loh. "Banyak kok yang tidak percaya modal (Rp.500 ribu) saya segitu," ceritanya kepada Money.id

Harga pandan kan Rp.6- 7 ribu perkilonya. Murah, jadi Natalia bisa dapat banyak bahan, dari bahan segitu menjadi 6- 7 buah tas. Hasil penjualan tersebut kemudian diputar kembali. Lambat laun usahanya semakin membesar sejalan modal digunakan. "Ya, sampai sekarang begini deh keterusan, haha," ucapnya senang.

Ia mengungkapkan omzetnya bisa mencapai Rp.100 juta. Bahkan nih sampai Rp.150 juta, tidak percaya memang bahkan dia sendiri masih tidak percaya. Dia sendiri tidak fokus uang. Bagianya keuntungan nomor sekian. Hal terpenting bagaimana kualitas bagus membuat pembeli tidak akan kecewa.

Ada kebanggan ketika orang mau membeli tas daun sampai Rp.150 ribu. Disana ada kebanggaan karena usahanya dihargai. "Intingnya harus gembira," semangatnya. Memang tampaknya seperti usaha anyaman lainnya. Namun kualitas bahan tidak bohong. Ditambah selera fasion pemiliknya sendiri menjadi andalan.

Dua tahun berjalan tetapi bisnisnya menghasilkan ratusan juta. Proses pembuatan juga dibukanya gamblang. Pertama dimulai pemilihan bahan terbaik. Kemudian diwarnai dengan dicelupkan ke warna dasar. Kemudian dia akan memastikan apakah warna merata atau tidak.

Barulah masuk ke tahap penganyaman dan pengeleman. Wanita berkacamata ini lalu melanjutkan prosenya ke desain. Biasanya tahap ini akan butuh banyak orang. Untuk pewarnaan dengan cat akrilik dikerjakan oleh ayah. Teknik decopage dan sulam dikerjakan dia dan ibunya. Ide desain datang begitu saja sesuai dengan mood -nya.

Tidak jarang dia membuat produk berlukis limited edition. Hanya dua tas yang memiliki desain sama. Ini juga tergantung mood -nya, terkadang mendadak. Penggunaan teknik decopage serta anyaman memberikan kreasi berbeda.

Warna menggunakan bahan alami bukan pewarna tekstil. Banyak sih meminta warna gold atau silver, maka dia harus mengecat dua kali nih. Dalam seminggu menghasilkan 300 buah dibantu 20 pengrajin sekarang. Ia menyebut masalah utamanya adalah soal cuaca.

Kalau datang musim hujan maka proses pengeringan lama. Proses produksi bisa diundur sampai dua minggu. Jika pengeringan tidak jadi maka diangin- anginkan. Alhasil produk tidak dipaksakan harus lah tersedia saat itu juga.

Biografi Pemilik Gerobak Lumpia Mas Miun

Profil Pengusaha Rizki Ananda 



Namanya pengusaha memiliki jalannya sendiri. Tidak semua datang dari kesengajaan. Dimana kebanyakan nih datang karena "keterpaksaan". Ada istilah karena kepepet menjadi pengusaha sukses. Inilah kisah dari pemilik usaha lumpia Mas Miun. Alkisah dia kesulita biaya kuliah maka berusaha menjadi solusinya.

Dulu, waktu Ospek mahasiswa baru Universitas Padjajaran, entah kenapa pemuda bernama Rizki ini malah dipanggilnya Miun. Pembawa acara memanggil si miun naik ke panggung. Sejak saat itulah teman- teman kampus terbiasa memanggilnya begitu. Ia pun mengamini nama Mas Miun menjadi ikonik bagi dirinya.

Identitas tersebut lantas menjelma menjadi brand. Sebuah nama produk kuliner menjual lumpia basah. Dia masuk Unpad karena beasiswa mahasiswa kurang mampu, Bidikmisi. Maka kesimpulan orang pastilah dia bukan anak orang mampu. Menjadi sosok mandiri sudah biasa mengurangi beban orang tua adalah tujuan.

Dia langsung nyeplos agar orang tua tidak kirim uang lagi. Alasannya beasiswa sudah termasuk uang kos dan biaya kuliah. Sayangnya diluar prediksi bahkan sampai dia telat bayar kuliah. Tiga bulan uang dari beasiswa malah tidak cair. Pusing Rizki menghadapai masalah didepannya seketika.

Bisnis basah

Kepusingan tersebut membawa dilema besar. Apakah akan memberi tahu, atau tidak masalah yang dihadapi pemuda kelahiran 15 Oktober 1991 ini. Awalnya dia sangat senang karena dapat beasiswa. Tetapi kini, ia malah kepusingan karena tidak berjalan lancar.

Padahal setiap harinya ada saja pengeluaran sebagai mahasiswa. Disisi lain dia sadar bahwa ayahnya hanya seorang buruh dan ibunya cuma ibu rumah tangga biasa asal Sumedang. Ibunya terkadang ikutan kerja keras agar menambah biaya lagi.

Dia berpikir tidak mau membebani. Dia yang kalau di rumah akrab dipanggil Nanda, kemudian mendadak, nekat memilih membuka usaha sendiri. Dia iseng jualan gorengan ibu kos. Nanda menjajakan gorengan ke penjuru kampus. Lumayan lama dia jualan gorengan milik ibu kos.

Ketika jualan gorengan muncul ide tentang lumpia basah. Ide terbersit karena di Jatinangor makanan lumpia basah tengah digemari mahasiswa. Pangsa pasar dipikirnya masih belum sesak, terutama di daerah bernama Jatinangor. Seketika dia belajar bagaimana membuat lumpia basah lewat You Tube dan Google.

Agar beda dibanding lumpai lain: Nanda meracik lumpia basah aneka rasa. Dia membulatkan tekat menjadi pengusaha lumpia basah. Dana dibutuhkan kira- kira Rp.6 jutaan, digunakan guna membeli gerobak, bahan baku, aneka peralatan. Tetapi dia tidak memiliki dana cukup, yah jadinya memakai uang seadanya.

Dia memberanikan diri meminjam uang ke teman Rp.2 jutaan. Ditambah uang tabungan dari berjualan aneka gorengan Rp.2 juta. Kebutuhan kurang modalnya Rp.2 jutaan lagi. Ia nekat menego kepada pemilik gerobak agar dikurangi. Beruntung dia mendapatkan diskon dan mulai lah perjalanan seorang mahasiswa jualan.

Sialnya, ketika awal merintis usaha, eh... malahan dia bangkrut total! Hidup sebagai pengusaha sekaligus jadi mehasiswa susah ya. Telisik ternyata tidak cuma karena waktu luang. Rasa lumpia basah menurut pembeli tidak terlalu enak. Tekanan menghampirinya menguji mentalnya sebagai pengusaha agar sukses kelak.

Dia langsung banting stir menjadi pengusaha pakaian. Ia meminta waktu kepada temannya. Dari berjualan itu dia mendapatkan uang Rp.7 juta. Uang Rp.5 juta dijadikan modal kembali berbisnis. Sementara uang Rp2 juta dikembalikan ke temannya. Kemudian dia mulai mengevaluasi kesalahan dalam lumpia basah miliknya.

Bisnis pantang mundur

Dia mulai meracik bumbu yang cocok di lidah. Eksperimen kembali dilakukan dan akhirnya membuahkan hasil. Lumpia basah miliknya mulai mendapatkan pembeli. Lambat tetapi pasti, usahanya berkembang semua berkat lumpia basah seafood, sosis, spesial, baso,dsb.

Dari sebelumnya hanya memiliki satu gerobak. Dia memiliki 6 gerobak lain tersebar di Jatinangor. Promosi mulut ke mulut menjadi andalan Nanda. Tidak cukup, dia juga merambah dunia sosial media, melalu alat berupa aplikasi chatting merambah sampai ke Bandung. Dia pun mendapatkan tantangan dari lumpia lokal disana.

Namun rasanya berbeda memberikan varian. Justru menjadi kuliner favorit mahasiswa dan masyarakat. Ia membuat nama lumpia Mas Miun bergema di Bandung. Target memasuki kawasan pendidikan terbukti ampuh. Ia belajar dari pengalaman ketika berjualan di Jatinangor.

Salah satu gerobak miliknya terparkir di kawasan Fakultas Pertanian Unpad. Ia mengaku pendapatan dari usahanya per- 7 gerai pribadi mencapai Rp.40- 85 juta per- bulan. Kemudian ketika memutuskan membuka kemitraan, dari berjualan bumbu saja sudah untung Rp.20 jutaan.

"Saya buka pas libur panjang, jalan 3 bulan saya bangkrut karena modal banyak dibuat untuk membayar operator," jelasnya, meski sudah membuka cabang, tetap kegagalan tetap menghantui dan menguji mentalnya sebagai pengusaha.

Memiliki usaha berbasi waralaba bukan sembarangan. Dia terus belajar fokus mengembangkan manajemen sendiri. Yakni usaha berbasis kemitraan binaan. Dia juga bekerja sama dengan petani toge asal Cileles. Dia mendapatkan kiriman toge sampai 25kg setiap hari.

Selain sibuk menjadi pengusaha muda, mahasiswa Teknik dan Manajemen Industri Pertanian, Universitas Padjajaran ini juga sibuk menjadi pembicara, motivator, pelatih wirausaha. Ia juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa berbentuk modal usaha. Program Jika Aku Menjadi Mas Miun sudah memiliki 30 kemitraan usaha.

Dari mereka pengusaha keripik, fashion, atau bisnis online binaanya. Uang Rp.300 ribu sampai Rp.3 jutaan diberikan sebagai modal usaha. Total hingga Rp.20 juta digelontorkan membantu pengusaha lain. Dia juga tidak memberikan sebagai pinjaman. Tetapi modal berputar buat dijadikan kesempatan orang lain berusaha.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba