Jadi Petani Jahe Merah Setelah Lulus SMA

Profil Pengusaha Wahyu Widodo 



Umur masih muda tapi mau jadi petani. Tentu orang tua akan berpikir dua kali keputusan Wahyu. Pria yang bernama lengkap Wahyu Widodo memilih bertani. Alkisah semua bermudal dari perpustarakan yang digagas oleh CSR Coca- Cola Foundation. 

Keinginan wirausaha


"Bapak ibu saya seorang petani. Tahun lalu selepas SMA saya tidak bisa melanjutkan kuliah," kisah Wahyu tentang kehidupan keluarganya. Tetapi satu hal tidak pernah dia tidak lanjutkan yaitu kebiasaan membaca.

Dia memang petani sejak kecil. Membantu keluarga bertani memang sudah kebiasaan. Namun mana ada orang tua mau anaknya menjadi petani jaman sekarang. Mereka lebih suka melihat dia bekerja di pabrik. Apalagi ketika gagal panen susah hidup mereka terasa. Namun dibenak hati Wahyu ada keinginan membuka usaha.

Waktu itu dia belum terpikir menjadi pengusaha agro. Bayangan pemuda 19 tahun tersebut itu mengambang antara keinginan merubah nasib tetapi tidak tau caranya. Bak pungguk merindukan bulan niat Wahyu menjadi pengusaha ditanggapi kedua orang tuanya seolah tidak mungkin.

Pola pikir mengenai berwirausaha butuh modal melekat. Anak petani gurem ini cuma sampai bermimpi pikir orang tuanya. Hingga sebuah acara pelatihan kewirausahaan diadakan dalam bentuk perpustakaan. Mereka mengajarkan bagaiman menjadi wirausaha lewat buku.

Seorang pengelola perpustakaan desa (perpusdes) lantas mengajak dia ikutan. Bayangan pertama dia mana bisa berhasil. Perpustakaan kan tempat membosankan. Awal dia menolak karena bayangan tempat berdebu, kumuh, gelap dan membosankan menghantui. Tetapi ayah ibu Wahyu mendorong dia agar mau ikutan saja.

Mereka paham keinginan sang anak mau berwirausahaan. Meski mereka pesimis mereka tetap memahami. Akhirnya Wahyu ikutan mendaftar dan dia mendapatkan kejutan disana.

Orang tua cuma bilang mungkin disana merupakan jalan Wahyu. Omongan orang tua ternyata benar adanya. Ia mendapatkan pelatihan internet dan cara memakai internet. Bayangan tentang perpustakaan jadul tidaklah terlihat sama sekali. Wahyu juga mendapatkan cekokan banyak video motivasi menjadi wirausaha sukses.

Video berisi orang- orang sukses berwirausaha. Perpustakaan desa membuat Wahyu tidak cuma ingin. Dia mulai membangun mentalnya, bisnis apa yang akan dijalankan, dan semakin ingin lagi. Tidak cuma Wahyu belajar sendirian. Ada kawan sesama pelatihan dapat berbagi obrolan termasuk usaha apa menarik.

Dari obrolan dia tertarik dengan usaha temannya yaitu budidaya jahe merah. Meneliti lebih dalam Wahyu tak cuma membukan buku juga membuka internet.

Bisnis jahe


Disela pelatihan dia mulai mengumpulkan informasi tentang jahe merah. Pemuda ini memang sudah ingin jadi pengusaha sejak lulus SMA pada 2014 silam. Pulang pelatihan kakak meminjamkan uang Rp.200.000 buat usaha. Kemudian mengumpulkan uang jajan sampai Rp.400 ribu dibuat membeli bibit jahe dari internet.

Sayangnya, bertani tidak semudah dibayangkan, apalagi tanaman tengah dibudidaya adalah komoditas yang mahal dan susah. Awal memulai semua bibit ditanam dia mati. Dia tidak pantang menyerah. Dia kemudian kembali Sragen membrowsing dan mencari buku literatur. 

Ia membaca bagaimana cara membuat bibit jahe merah sendiri. "Ketika ingin menanam jahe lagi tetangga saya tertawa karena kegagalan sebelumnya," kenang Wahyu. Justru ketika dia mencoba kembali malah hasil bibit jahe Wahyu lebih bagus dibanding bibit beli.

Sudah sukses mau diapakan pikir Wahyu. Dia ingat memiliki akun Facebook. Ia lalu memfoto bibit dia miliki dan memposting ke sosial media, meminjam komputer dari Perpusdes. Pagi bangun tidur dia sudah bangun memfoto bibit jahenya. Dia masih memakai kamera jadul hp kemudian dimasukan komputer lalu diupload.

Dua jam saja seseorang dari Purwodadi menelepon. Kemudian disusul orang asal Solo dan Purwerojo. Dia menghantar sendiri ke pesanan ke kota tersebut. Dua bulan kemudian datang dari Jawa Barat serta Sumatra. Lima bulan kemudian lebih banyak pesanan, bahkan mencapai Rp.4- 10 juta lebih dari cukup membiaya kuliah.

Lalu, dia memutuskan melanutkan kuliah, menjadi mahasiswa jurusan Agrobisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Semua dia syukuri beruntung dia mengikuti saran orang tua. Dia mencari ilmu dari perpustakaan  Dari membaca kemudian memanfaatkan koneksi internet dan komputer. 

"...akhirnya saya bisa membuka usaha sendiri dengan berjualan online dari perpustakaan," tutur dia.

Dia kemudian ingin menjadi eksportir jahe merah. Tidak berhenti disana, dia membuka usaha lain seperti hal bisnis penjualan karung, tetes tebu, kemudian dia akan menyasar jahe gajah. "Omset saya sampai Rp.10 juta per- bulan," imbuhnya.

Pabrik Hanger Pakaian Rajawali Raup Ratusan Juta

Profil Pengusaha Joko Ibrahim 


 
Menjadi pengusaha tidak disangka- sangka. Siapa sangka niat hati menyenangkan calon mertua, eh ternyata, malah menjadi bisnis berbuah ratusan juta. Inilah kisah Joko Ibrahim seorang pengusaha alat rumah tangga. Ia menceritakan awal kisah dia sama sekali tidak berniat menjadi pengusaha muda.

Dia awalnya berkunjung ke rumah kekasih di Dusun Ngunut, Tulungagung. Ternyata calon mertua Joko itu pengusaha alat rumah tangga. Dan kebanyakan warga dusun memang pengrajin peralatan rumah tangga. Satu kecamatan tersebut menjadi sentra alat rumah tangga. 

Kan kalau dia bisa membuktikan diri, siapa tau makin mudah. Jadi mudah buat Joko melamar sang kekasih. Lalu dia menawarkan diri untuk menjualkan hanger buatan calon mertua. Pria lulusan IAIN Wali Songo ini lantas menawarkan tetangga, kebetulah dia tengah melanjutkan sekolah Universitas Paramadina Jakarta.

Tawaran tersebut diterima senang hati. Jadilah Joko pengusaha alat rumah tangga dadakan. Ditawarkan itu ke tetangga tempat dia bertempat. Tidak cuma berhenti disitu saja, ia lantas membidik pasar internet melalui situs gratisan.

Bisnis siapa sangka


Joko sendiri bukan orang susah. Lahir dari keluarga berkecukupan membuat dia bisa bersekolah tinggi. Dia pun mengingat masa kecil menyenangkan. Ayah Joko sendiri adalah seorang kepala sekolah. Mereka sudah memiliki sepetak sawah. Kemudian ibu Joko merupakan penjual tanaman palawija.

Tumbuh menjadi pemuda biasa sampai berkuliah. Waktu kuliah di Semarang, ia juga aktif mengikuti aneka kegiatan kemahasiswaan. Berkat itu dia memiliki kemampuan komunikasi baik. Dalam hal membangun relasi juga mudah.

Itulah kenapa, ketika lulus 2003, pekerjaan bagus dapat digenggam Joko yakni menjadi manajer sebuah yayasan pendidikan di Solo. Namun karir dijalani Joko sangat lambat. Lima tahun berlalu kemudian ditawari beasiswa S-2, tanpa berpikir panjang Joko mengiyakan berkulih kembali ke Jakarta.

Sambil kuliah sambil bekerja. Joko bekerja di sebuah kantor pengacara. Disaat bersamaan juga menemukan wanita kekasihnya, yang sekarang istrinya, Prisa Ani Yulia.

Prisa sendiri merupakan warga Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur. Ketika berkunjung ia melihat orang tua kekasihnya mengerjakan hanger kawat. Sebuah usaha yang kelihatannya maju karena banyak pekerjaan tiap hari. Dia mencoba mengambil hati mertua. Joko sampai rela berhenti dari kantor pengacara.

"Sebab, bisa jualan sambil pacaran lebih menyengangkan,"cletuknya.

Ketika di Jakarta dia menjual melalui internet. Ternyata hanya berbekal situs penjualhanger.multiply.com bisa menghasilkan banyak pesanan. Transaksi online dijalankan Joko sudah seperti sekarang. Selepas membayar transfer barang akan langsung dikirim. Untuk penjualan dengan syarat tertentu tidak dipungut biaya mengirim.

Dia baru tau dahsyatnya berjualan hanger. Apalagi penjualan alat rumah tangga melalui internet kan masih sangat jarang. "Hasilnya lumayan," imbuh Joko. Produk dijual Joko masih produk hanger kawat biasa tidak ada spesial.

Penjualan melalui internet berbeda dari langsung. Ketika menjual rumah ke rumah, bayangkan Joko hanya mampu menjual 2- 3 calon pembeli. Dan ketika ia pindah berjualan dari multiply. Bayangkan dia melayani pembeli sampai belasan. Jika pembeli langsung membeli sedikit, pembeli internet akan membeli jauh lebih banyak.

Makin banyak dibeli


Suatu hari dia kedatangan seorang pembeli asal Korea. Ternyata dia merupakan pemilik laundry asal Korea. Ia pun menawarkan kerja sama bisnis menarik. Dia menginginkan hanger dibuat khusus. Kemudian datanglah seorang kawan menawarkan contoh hanger khusus. Hanger sesuai dengan keinginan pengusaha Korea itu.

Sang pengusaha laundry menginginkan hanger khusus. Bukan hanger kawat bekas, namun hanger dengan ukiran di gagang. Joko lantas membuat sampel. Kemudian beberapa contoh tersebut diberikan kepada si pengusaha Korea tersebut. Akan tetapi pemesan tersebut tidak kunjung memesan. Ia merasa dikecewakan sekali.

Namun, apa sudah berlalu tinggal pelajaran, banting stir Joko menawarkan hanger sama ke orang lain. Sabar dia menawarkan ke beberapa laundry. Hasilnya satu pesanan datang dari laundry di Nusa Tenggara Barat pada Mei 2009 silam. Tidak tanggung mereka memesan sampai 250 unit hanger.

"Saya senang sekali, tetapi juga bingung," ia berlanjut. Pasalnya Joko belum berproduksi sebanyak itu. Pria kelahiran 19 Maret 1980 ini lantas memberitau kesusahan ke pacar. Sang calon mertua ternyata merespon masalah ini mengejutkan.

Calon mertua menawarkan modal Rp.2,5 juta kepada Joko. Maksudnya agar dia dapat membelikan mesin cetak buat hanger. Untuk menambah modal usaha, ia menarik uang tabungan Rp.5 juta, lantas dibeli gulungan kawat dan bahan kimia buat mewarnai hanger. Sukses besar Joko memenuhi pesanan tersebut tepat waktu.

Kisah berlanjut dia membuat kembali hanger berdesain sama. Dia bekerja bersama empat orang karyawan yang dipinjamkan mertua. Kisah berlanjut tetapi tidak sesuai harapan dia. Pesanan malah kembali sepi tidak ada pesanan banyak.

Bertahan sabar


Ia sempat menawarka ke eksportir. Namun ditolak karena waktu itu belum punya mesin. Ia sempat bersedih cuma dia tetap semangat. Dia merasa bertanggung jawab bahwa dia sanggup. Keinginan memajukan usaha mertua membuat dirinya lebih bersemangat. Alhasil pesanan hanger baru membuka peluang bisnis pembuatan sendiri.

Hanya saja, bagaimana jika ternyata pesanan kembali sepi ya? Padahal dia barulah menikah. Juga masih ada stok 30.000 hanger. Mereka pasangan suami istri baru terpaksa berhemat. Mereka memenuhi kebutuhan hidup dari pesanan hanger yang sepi.

Tidak mau lama- lama berdiam diri. Apalagi sampai gila karena pesanan tidak kunjung datang. Joko memiliki ide brilian. Dibukannya buku YellowPage, mencari- cari internet, bagaimana dia bisa menemukan pasar lain potensial.

Akhirnya Joko membuat surat penawaran, ditawarkan hangernya kepada 7 laundry dari Bali dan Makassar. Startegi seperti ini ternyata tidak sia- sia. Pesanan mulai berdatangan. Namun, ketika sudah bersemangat, ia menemukan tidak se- "wah" dibayangkan. Dimana tidak setiap saat mereka akan butuh hanger tergantung musim.

Tujuh bulan berlalu, hingga Joko mampu menguasai pasar hendak dicapai. Joko akhirnya mampu memetakan calon pelanggan.

Masuk Idul Fitri 2009, pesanan mulai menaik, dan pesanan datang salah satunya Simply Fresh. Ya laundry besar tersebut memesan hanger ke Joko. Selain Simply Fresh, ada nama Martinizing Dry Cleaning memesan hanger juga. Dua bulan stok hanger produksinya habis tanpa sisa di gudang.

Simply Fresh Yogya pun secara teratur memesan hanger dari Joko. Kemudian sejak itu lahirlah nama produk Rajawali Hanger. Secara rutin mereka memasok hanger 8.000 buah ke Simpy Fresh setiap bulan. Kemudian dari Marinizing Dry Cleaning memesan sampai 2.000 unit setiap bulan.

Visioner bisnis


Rajawali Laundry masuk pasar ritel berbekal semangat. Bayangkan mereka memproduksi sampai 360.000 hanger setiap bulan. Juga termasuk masuk ke pasar grosir. Ternyata banyak orang membeli peralatan rumah tangga disana. Tidak berhenti di hanger, banyak orang meminta dipasok sapu, keset, dan kemoceng.

Melihat potensi itulah dia mulai mencari produk lagi. Dia menampung produk karya warga Desa Ngunut. Ia melalui perusahaan Rajawali Hanger berekspansi. Dari menjual aneka peralatan kebersihan, Joko lantas masuk ke bisnis pembuatan peralatan dapur sampai 100 jenis.

Ia menjalin kemitraan dengan pengrajin sekitar. Dia bertindak sebagai distributor. Kemitraan memasok alat- alat dapur. Dari empat orang karyawan pinjaman mertua, Joko merekrut empat lagi karyawan lepas buat membantu dia. Omzet jangan ditanya, Joko mampu meraup omzet sampai Rp.250 juta per- bulan.

Semua karena tidak cuma lokal. Joko bahkan mendapatkan tawaran ekspor. Joko mengekspor sampai ke Kanada lewat PT. Seven Continent, dimana mereka merupakan pemasok display buat produk ke Amerika seperti Lea Jeans. Tidak berhenti dia mendapatkan tawaran ekspor lain dari dua perusahaan asing.

Tetapi dia cuma mau jika bisa dikerjakan disela- selag kesibukan. Joko sendiri lebih nyaman berhubungan langsung dengan pelanggan, baik website, Twitter, ataupun Facebook. Meskipun begitu dia tetap merekrut orang buat menjalankan marketing. Karena itu merupakan kunci sukses sebuah perusahaan berbisnis.

Meski efek internet membantu, nyatanya, penjualan tidak 50% datang dari internet. Semua justru kerena ia memiliki kedekatan langsung ke konsumen. Cuma bedanya sekarang dia telah membangun citranya. Sudah memiliki brand awareness berkat internet. Kini, dia sibuk mengunjungi mereka bahkan ke seluruh Indonesia.

"Mungkin banyak yang bilang itu buang- buang duit tapi yang penting bisa menjaga hubungan baik," imbuh dia.

Menjalin hubungan dengan pengrajin rumahan sulit. Ia mengakui mereka cenderung sensitif. Ketika dia mulai menyusun data untuk keperluan jaringan distribusi. Mereka melihat Joko penuh curiga. Apalagi ketika mulai dia beralasan mengambil gambar dan banyak bertanya.

"Mereka tidak mau kalau sekedar kita tanya- tanya dan ambil gambar tanpa membeli," Joko menjelaskan lagi.

Oleh karena itulah setiap survei, maka Joko akan membeli barang dari mereka. Tujuh bulan lamanya sampai dia benar- benar menyusun data base. Dia akhirnya mampu memetakan produk apa saja. Dia juga mulai menyusun rencana pendekatan. Lantaran kebanyakan mereka sudah memiliki pengepul sendiri jadi susah.

Dia akhirnya mendekati pengepul juga. Mereka adalah pemberi orderan kepada perajin. Pendekatan dalam hal bagaimana meningkatkan penjualan. Serta memberikan sedikit pelatihan pengembangan produk. Karena mereka kebanyakan memproduksi satu jenis produk sesuai pesanan.

Mereka memang terbiasa memproduksi apa adanya tanpa inovasi. "Saya ajarkan bagaimana pengemasan, ukuran, atau pengembangan model baru," ia menjelaskan lebih lanjut. Joko sendiri ingat betul bagaimana ia berawal. Sebagai pembuat hanger pemula berbekal kawat bekas dibentu seadanya.

Dia berharap mitra juga merasakan pengalaman. Bagi Joko, kesuksesan milik siapa saja, bukan mereka yang terlahir kaya ataupun keturunan tertentu. Siapapun mau bekerja keras pasi bisa. Memulai usaha adalah soal keberanian. Keberanian mengambil keputusan penting dan fokus akan apa pekerjaan kita.

Pengusaha Sekaligus Trainer Gelas Lukis Alia Kraft

Profil Pengusaha Laksmiwati Etty  



Seorang ibu rumah tangga telah sukses membuka peluang bisnis. Berkat kemampu seni menghantarkan ibu rumah tangga satu ini sukses berkat Alia Kraft Glass Painting. Melalui media kaca meraup jutaan rupiah dari bisnis gelas lukis. Dari hobi membuat souvenir kemudian melukis gelas kaca meraup sukses.

Warga Sidoarjo, Jawa Timur, baru mendalami sebagai bisnis pada 2009. Melalui bisnis sederahan tersebut, Laksmiwati Etty sudah mampu mengantongi omzet Rp.20 juta. Dimana perlu kamu tau prospek margin untung telah mencapai 50% nya.

Namun tentu hal tersulit dalam hal ini menyangkut cita rasa. Sisi lain adalah bagaiman kita memasarkan ke masyarakat. Aneka media kaca bisa digunakan. Jika Laksmi menggunakan media gelas minum. Kamu bisa mencoba dari botol minuman ataupun gelas lain.

Masalah lain ialah menyangkut penjiplakan desain. Untuk pemasaran, melalui sosial media, memang lebih bisa mengena di hati masyarakat kita. Bahan digunakan tergolong barang bekas. Cuma dibutuhkan jiwa seni yang memang tidak semua orang memiliki. Inovasi aneka media gelas dilakukan agar pasarnya tidak bosan.

Sukses unik


Laksmi memiliki empat orang karyawan membuat lukisan diatas kaca. Tidak cuma gelas tetapi vas bunga, guci, toples kaca, lampu, tempat permen, piring kaligrafi, serta benda lain yang kaca. Tetapi memang paling laris menurutnya ialah gelas kaca. Gelas bukan buat minum, tetapi buat dipajang. 

"Kecuali toples kaca buat tempat kue," tuturnya. Untuk gelas yang panjang Laksmi mampu menghasilkan 50 buah per- hari. Kalau vas bunga atau kuci besar baru mampu menghasilkan satu buah per- hari.

Soal harga bervariasi dari tingkat kesulitan serta ukuran. Kalau buat souvenir pernikahan Laksmi menjual antara Rp.15 ribu sampai Rp.25 ribu per- buah. Kalau yang besar- besar seperti lampu, guci, dan lainnya dijual Rp.100 ribu sampai sejuta.

Soal bahan baku, Laksmi sudah memiliki sumber sendiri yakni diambil di kawasan Kedawung, Jawa Barat. Kalau produknya kelas premium maka tidak segan dia mencari sendiri. Dia rela berkeliling suatu tempat hanaya buat mendapatkan gelas unik. Laksmi ketika berkunjung ke suatu kota, maka tidaklah lupa mencari gelas.

Biasanya khusus untuk gelas panjang, vas bunga, ataupun guci juga dicari khusus. Sedangkan untuk gelas- gelas kecil cukup dipesan saja ke pengepul.

Laksmiwati sendiri adalah seorang trainer. Selain berbisnis sendiri aktif mengajarkan aneka kerajinan tangan. Dia juga seorang penulis loh. Contoh buku pernah ditulis olehnya, antara lain Kreasi Bunga dari Biji, Glass Painting, Modern Patchwork, Kriya Kertas Semen, Art Painting, dan Gift BoBox.

Trainer kerajinan


Laksmi disibukan hari- harinya dengan mengajar. Selain berbisnis gelas lukis dia sibuk mengajarkan kepada siapapun yang tertarik akan kerajinan tangan. Sudah puluhan buku diterbitkan oleh wanita asli Surabaya ini. Ia pernah melatih ke Malaysia. Ibu 58 tahun ini memang lihai menggerakan jari- jarinya horizontal- vertikal.

Ia sibuk mengajari para calon wirausaha. Terutama mereka yang tertarik akan kesenian melukis gelas. Ia memastikan setiap selesai pasti akan ada wirausaha baru. "Setelah ini (pelatihan) selesai, saya pastikan dari mereka ada yang benar- benar menggeluti usaha ini," tuturnya.

Dua pekan pelatihan buat 30 orang. Laksmi memilih 10 orang terbaik dari pemantauan dan pendampingan proses seminar. Ia memang dikenal suka berkeliling mengajarkan ilmunya. Semua permintaan dari berbagai kota dipenuhi. Sambil mengajar dia mulai menulis buku kembali. Buku ke 11 yang masih tentang kerajinan tangan.

Tahap pelatihan sudah diperhitungkan. Mulai proses paling bawah sederhana dulu. Kalau urutan sebenarnya sih apa diajarkan Laksmi tidak berurutan. Ia mencoba menghitung kemampuan peserta saja. Tidak adanya kesulitan berarti menunjukan keahlian Laksmi.

Memang dibutuhkan pengulangan terus menerus. Tujuannya agar semakin cekatan nempel bagaimana cara melukis garis. Tiga tahun sudah ia mengajari banyak orang melukis gelas terutama di Jawa Timur.

Tidak cuma gelas lukis loh, ia juga memiliki keahlian kerajinan tangan lain, ahli lukis kain, kemasan kraton, daur ulang barang bekas, hantaran pernikahan, dan membuat bros. Pasar gelas lukis dianggap Laksmi masih luas. "Gelas lukis masih jarang," imbuhnya. Kalau dilihat cantik, apalagi kalau kena cahaya bisa memancar.

"Orang beli kebanyakan untuk hiasan atau souvenir," imbuh Laksmi. Bisa dibilang untuk seniman gelas lukis masih jarang di Indonesia. Ia menyebut empat orang terkenal. Sisanya merupakan produk impor dari Italia, Republik Ceko, dan Turki.

Dia menyebut kalau mau memulai mulailah yang mudah. Jangan langsung melukis gelas dengan motif batik. Memang motif batik akan susah apalagi medianya gelas. Buat mempertegas warna disarankan gunakanlah warga emas. Dilanjutkan dengan teknik menggunakan warna biasa. Warna gunakan sesuai selera kemudian keringkan.

Keringkan dibawah sinar matahari. Lama pengerjaan antara enam jam dapat 10 gelas. Kalau media gelasnya besar bisa sampai seminggu.

Kisah Tukang Cupang Kaya Berkat Botol Bekas

Profil Pengusaha Sukses Yono


 
Yono bukanlah pemulung botol. Cuma dia hobi mengumpulkan puluhan botol bekas. Buat apalagi ya kalau bukan buat dibisniskan. Bisnis pria empat puluh lima tahun ini terbilang unik. Dia tidak menjual. Tidak pula dijadikan kerajinan. Dia menyulap botol seperti aquarium buat budidaya ikan.

Pengusaha kecil ini berbisnis botol bekas dijadikan tempat budidaya. Usaha kecil yang diam- diam mampu menghasilkan puluhan juta. Jika kamu berkunjung ke rumah Yono, kamu akan melihat puluhan botol tersusun rapih berjajar berisi ikan hias cantik warna- warni.

Tidak cuma puluhan bahkan Yono kini punya ratusan. Bisnis yang ditekuninya sejak 5 tahun terakhir. Yaitu apalagi kalau bukan budidaya ikan cupang atau Betta Splendens. Budidaya cupang memang sudah dikenal luas tidak membutuhkan ruang luas. Dapat dilakukan memanfaatkan botol bekas orang.

Ia menceritakan kalau indukan betina dan jantan siap. Mereka akan dimasukan ke media lebih luas. Ingatlah mereka harus berumur 4 bulanan. Siap menikah kedua ikan tersebut akan jadi sendiri. Selesai, dalam kurang dari 2 bulan sudah menghasilkan telur. Pakan pakai ulat sutra pagi dan sora hari, gampang kan?

Hasil membudidaya ikan cupa Yono tersebar. Kebanyakan dijual di daerah Banjarnegara. Tetapi tidak juga sampai disana, Yono sudah mengirim sampai ke Sumatra, Surabaya, dan Jakarta. Sekali panen dia mampu menghasilkan 1.000 ekor. Ikan cupang dijualnya persatuan seharga Rp.5.000 sampai Rp.70 ribu.

Berkat ekspansi luas memasarkan ikan. Yono dikenal mampu menghasilkan omzet mencapai puluhan juta rupiah. Ini tentu sangat menginspirasi kita bukan. Dari cuma ikan cupang bermodal botol bekas mampu hasil jutaan rupiah. Sementara orang bekerja siang dan malam belum tentu berhasil.

Guna ikan cupang selain buat ikan hias, dapat membasmi jentik- jentik nyamuk, apakah kamu tertarik buat membudidaya ikan cupang?

Menjual Bandeng Cabut Duri Untung Muslim Semarang

Profil Pengusaha Sukses Muslim 



Tidak mudah bagi Muslim memulai usaha. Namun tekat menjadi pengusaha menghantarkan sosoknya seperti sekarang. Dia dikenal sebagai pengusaha bandeng cabut duri. Bukan perkara mudah sekali lagi, dia pernah bekerja menjadi kuli panggul, cleaning service, menjajal jualan bakso, kemudian bisnis pengiriman paket.

Semua dilakoni Muslim guna memenuhi kebutuhan keluarga. Selain, memenuhi hasratnya menjadi pengusaha sukses, siapa sangka setelah tiga tahun barulah berasa sukses. Muslim mau bekerja apapun. Hingga dia mulai menggeluti bisnis bandeng. Inspirasi bisnis berkat ketrampilan yang ditularkan teman asal Rusun Kalegawe.

"Karena saya ingin belajar, saya sampai ikut juga mengantarkan pesanan (bandeng)," imbuhnya. Mulai lah dia belajar seluk beluk bandeng cabut duri. Selepas paham betul dia lantas mengajak beberapa teman membuka usaha ini.

Sayang tidak kecocokan membuat mereka bubar. Muslim memilih berbisnis bandeng cabut duri sendiri. Ia cuma berpikir usaha tersebut belum banyak di Semarang. Bermodal uang tiga jutaan ditambah tekat kuat jadi tenaga tambahan Muslim.

Bisnis nekat


Dia cuma berbekal peralatan seadanya buat cabut duri. Uang Rp.3 juta dibelikan 10 kilogram ikan bandeng. Lalu dia mencabut durinya lewat teknik khusus. Selesai ia lantas memasarkan produknya lewat acara arisan atau pertemuan warga. Lambat laun usaha dijalankan Muslim dikenal masyarakat.

Pembeli tidak cuma orang Semarang, hingga luar kota. Usaha tersebut memang masih baru lantaran berdiri pada 2013 silam. Meski begitu usaha ini jangan dipandang sebelah mata. Jika awal hanya mengolah 10kg sekarang dia mengolah 65kg bandeng cabut duri. Bandeng tersebut lantas dipasarkan ke Pasar Kaligawe, Semarang.

Muslim tidak memakai jasa pemasok. Kalau kamu mau menjadi penjual baiknya datang langsung. Jadi bisa memilih langsung bandeng berkualitas dan barapa banyak dibutuhkan. Proses produksi masih memanfaatkan rumah sendiri. Dia sendiri memilik target membuka pabrik bandeng cabut duri sendiri.

Ia membuka tempat lagi tepatnya di sebelah timur rumahnya. Dia dibantu empat orang karyawan. Tugas mereka berbeda- beda mulai membersihkan ikan, menyembelih ikan dan membersihkan kotoran, mencabut duri, sampai ke pengemasan di freezer.

Tips memilih bandeng ialah masih segar, tidak terlalu kenyal ataupun gembur, lalu mata ikan juga tidak merah. Jika dulu sendirian bekerja dari pagi menjelang sampai larut malam. Kini, dibantu karyawan, usahanya baru dimulai pukul 9 pagi, istrihat pukul dua belas, lalu dilanjutkan kembali pukul setengah satu sampai setengah lima.

Bagi Muslim apa dikerjannya dimasa lalu adalah kewajiban. Bagi kamu mau jadi pengusaha sukses harulah bekerja keras. Tidak mengenal kata libur. Adalah kewajiban memastikan permintaan pelanggan. Rajinlah berpromosi meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang produk kita.

Usaha ini menang tender mengirim ke RSUP Dr. Karyadi, juga sudah masuk dua restoran di Semarang, dan masuk pasar tradisional. Ekspansi bisnis Mulsim termasuk nuget bandeng yang dipesan RSUP Dr. Karyadi baru- baru ini. Produk nuget karyanya mencapai 30- 35kg.

Meski sudah sukses masalah juga ada. Termasuk bagaimana mensinergi usaha, termasuk dengan pemerintah, kemudian startegi bisnis mendatang, bagaimana menata keuangan dan lainnya. Dia mengaku butuh seorang konsultas bisnis. Bandeng cabut duri diharapkan dia menjadi oleh- oleh khas selain bandeng presto.


Usaha dilakoni Muslim bukan tanpa hambatan. Namun dukungan istri terutama, Bu Fikri, membuat ayah dua anak ini tetap maju. Ketika ditemui mahasiswa magang sang istri tengah membantu. Waktu itu dia tengah jadi pengganti pegawai yang sedang pulang kampung. Pengusaha 32 tahun ini merupakan warga Tambakaji, Ngaliyan.

Muslim mengaku keluarga merupakan faktor utama. Awal usahanya untuk menghidupi keluarga. Mulai dari menyekolahkan anak dan hidup tenang. Dengan dukungan keluarga usahanya tumbuh stabil. Meskipun telah sukses dia tetap sederhana.

Omzet Muslim mencapai Rp.50 juta per- bulan. Faktor sukses seorang Muslim adalah konsisten, terutama soal kualitas produk, termasuk bertanggung jawab jika terjadi masalah dipengiriman. Bahkan Muslim berani mengganti jika ada masalah. Merajakan pelanggan ialah cara Muslim memenangkan hati pelanggan.

Kendala lain yaitu dimana pada bulan sembilan dan delapan susah dapat ikan. Harga ikan juga naik di bulan tersebut.

"Teruslah belajar dan mencoba serata jangan takut gagal. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya" saran dari Muslim.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba