Fotografer Remaja Terpopuler Indonesia

Profil Pengusaha Casko Wibowo 



Pemuda berprestasi ini layak kamu contoh. Berkat sentuhan kreatifnya dia mampu menghasilkan jutaan loh. Pemuda 19 tahun asal Bali, bermodal kamera video menghasilkan ratusan juta rupiah. Hasil karyanya juga jadi perbincangan karena ketekunan.

Casko Wibowo menghasilkan ratusan juta rupiah sebagai kameramen profesional. Padahal umurnya barulah belasan tahun. Total 400 juta rupiah per- bulan dikantungi berkat ketekunan. Tidak secara instan tetapi dia lakukan penuh usaha.

Umur 14 tahun masih duduk di bangku SMP. Berkat memotret mendapatkan voucher hadiah. Dua voucher menginap ke hotel. Tidak dibayar uang. Tetapi dia dibayar menginap dua malam. Bukanlah sia- sia berkat itu dia memiliki ide brilian.

Casko pernah mendapatkan pengargaan Musium Rekor Indonesia (MURI). Memecahkan rekor menjadi fotografer tunggal memotret maraton 1.000 jam, memotret 112 brand hotel ternama di Bali tahun 2011. Salah satunya menghasilkan foto berkelas dunia.

Tidak cuma teori tetapi dari pengalaman. Selain pelajaran teori didapat dia langsung memfoto. Berkat tekun dia mendapatkan banyak proyek. Dari video klip, fotografi pribadi, dan sebagainya. Usianya 19 tahun sudah bisa menghasilkan ratusan juta.

Ketekunan menghantarkan dia menjadi fotografer khusus hotel bintang 4 dan 5. Ditangan remaja ini sudah melahirkan banyak karya; salas satunya memproduseri film pendek. Film yang dipakai sebagai teaser sebuah novel berjudul Romantika Sang Jendral.

Casko juga masuk ke dunia presenter. Dua acara di telivisi swasta nasional ANTV, yaitu Mata Lensa yang dipresenteri bersama Darwis Triadi, Jerry Aurum.

Padahal normalnya pencapaian tersebut biasanya disandang orang berumur 40 -an. Tetapi anak muda Bali ini mampu mengukir prestasi.

Meyakinkan Orang Tua Tidak Mau Jadi Pegawai

Profil Pengusaha Bandi Simarmata 



Bandi bukan pengusaha pertama yang menolak keinginan orang tua. Sama halnya orang tua biasa, mereka cuma mau yang terbaik dirasa bagi anaknya. Itulah kenapa mereka berharap Bandi Simarmata akan jadi pegawai kantoran.

Mereka ingin Bandi menjadi pegawai ataupun PNS. Namun, ketika itu, matanya sudah tertuju di bidang lain yaitu otomotif. Ia mengingat kenapa gandrung terutama kepada motor. "Sejak kecil saya senang dibonceng di motor keliling desa oleh Bapak," kenang Bandi.

Suatu hari saja tidak diajak naik motor. Bandi kecil akan merengek minta naik. "Saya ingin diajak jalan- jalan," tuturnya.

Pria kelahiran Desa Batu Marta, Ogen Komering Ilir, Sumatera Utara, yang mana masuk SMA semakin dia menjadi berhobi motor. Diam- diam dia menabung mengumpulkan uang. Lantas dia belikan motor skuter biar masuk klub vespa Kota Palembang, King Blues Scooter (KBS).

Dia senang kumpul bareng teman. Mereka akan touring keliling beberapa kota. Pria kelahiran April 1980 ini mengaku gembira.

Bisnis pertama

Masuk kuliah hasratnya akan motor tak pupus. Lulusan SMA, dia langsung berangkat ke Palembang, masuk Universitas Muhammadiyah mengambil Jurusan Hukum. Sibuk kuliah tidak membuatnya lupa menikmati tiap hari bersama skuter.

Sampai lantas mulai bepikir bagaimana jika dijadikan bisnis saja. Waktu itu ia berpikir enak kalau membuka usaha bengkel di kampung. Bandi yakin karena kampungnya banyak anak muda suka motor tetapi sedikit bengkel perawatan. Tahun 2004, dia resmi lulus kuliah, dan memantapkan diri mengejar bisnis pertamanya.

Inilah inspirasi Bandi memulai usaha modifikasi, variasi, dan jualan aneka aksesoris. Ia bahkan merambah hal lain yang masih dalam lingkup bisnis otomotif. Pemuda berdarah Batak itu lantas menemui batu sandungan pertamanya, yaitu orang tua.

"Sampai lima kali saya memohon- mohon supaya bapak dan ibu mau merestui keinginan saya membuka usaha sendiri," utasnya.

Tidak sia- sia mereka setuju Bandi jadi pengusaha. Bahkan mereka memberi uang saku agar dia mampu jadi mandiri. Mereka memberikan suntikan modal Rp.13 juta. Uang tersebut tidak disia- siakan Bandi, langsung dia tancap gas.

Bandi lantas berangkat ke Jakarta. Dia membeli aneka kunci, aksesoris, segala keperluan bengkel kecilnya di kampung. Sebagai orang masih hijau, mata Bandi terpana melihat lautan barang- barang otomotif di depan mata. Mulai benda yang tidak tau kegunannya, sampai benda yang sama sekali belum lihat.

Ia mulai menyadari ilmu bekal dari teman klub tidak cukup. Tidak patah semangat, ia mulai dari nol belajar akan hal baru. Bandi menyambangi penjual di Jakarta. Mulai belajar tentang barang- barang yang dijual oleh mereka.

Singkatnya perjalanan di Jakarta membawa tidak cuma barang. Tetapi dia dapat ilmu hingga barang bawaan dia lebih variatif. Pertama kali buka orang bingung menebak jasa apa ditawarkan Bandi.

Bisnis bengkel hot


Nama bisnis Hot Variasi memberikan bukan sekedar memperbaiki sepeda motor. Dia menjadi pionir dalam hal variasi dan modifikasi. Ada pepatah kuno, "tak kenal maka tak sayang". Orang kampung menatap aneh apa dilakukan Bandi; mereka akhirnya mencemooh dia.

Butuh waktu sampai orang mampir ke bengkel kecilnya. Di daerah bernama Batu Marta, begitu jauh butuh waktu lama kalau mau ke Palembang. Pantas mereka tidak paham akan hal baru dipamerkan Bandi. Cukup menguras kesabaran memulai usaha bengkel di tempat kecil.

Tidak disangka ketika bengkel itu mulai berjalan. Justru bengkel dilalap api terbakar habis. Hancurlah pikir Bandi sesaat. Untunga dia segera bertidak menyelamatkan barang di dalam bengkel. Meski terselamatkan tapi tempatnya berbisnis ludes terbakar.

"...waktu dan kesuksesan tidak akan menunggu saya," batin Bandi. Dia lantas bangkit tidak mau terpuruk lama. Kesuksesan masih belum direngkuh dari bengkel Hot Variasi ini.

Kesuksesan Bandi menjadi pionir segera diikuti orang lain. Mulailah persaingan ketat antar bengkel variasi menawarkan layanan. Bahkan tidak sedikit bermain curang, mereka membajak pegawai Bandi dengan diberi iming- iming gaji besar.

"Buat saya, itu adalah momen paling buruk dalam usaha saya," ujarnya prihatin. Perang harga pun tidak dapat dihindarkan di kota kecil tersebut.

Tepatnya tahun 2008, dua tahun selepas usahanya berjalan, persaingan sengit membuat Bandi menelan pil pahit. Dari lima orang karyawan empat diantaranya mengundurkan diri. Mereka dibajak oleh pesaing Bandi. Maka praktis usaha Hot Variasi dikerjakan cuma dua orang.

Ia hanya yakin pada akhirnya konsumen yang menentukan. Siapa terbaik diantara bengkel variasi yang telah ada disana.

Bukan bisnis biasa


Semenjak kebakaran kios Bandi mulai bangkit. Dia lalu menyewa kios seluas 3 x 5 m dijadikan bengkel baru di tempat baru. Memutar otak dia mempekenalkan bengkel variasi lewat ajang kompetisi. Ajang bertajuk modifikasi sepeda motor itu ternyata berhasil.

Lambat laun usahanya dikenal dikalangan anak muda. Bandi juga aktif mengikuti ajang roadrace. Mencoba membuktikan eksistensi Hot Variasi. Lewat ajang balap motor terjalinlah koneksi diantara pecinta motor. Ia tidak segan bertanya -membaur dengan sesama pecinta sepeda motor.

Melalui mereka pulalah usahanya menghadapi pesaing. Berkat koneksi ke pecinta motor, Bandi menghimpun kekuatan mengajak mereka bekerja bersama. Bengkel Hot Variasi menampilkan cita rasa penuh passion tidak sekedar bisnis.

Nilai lebih dalam hal selera akan modifikasi memberi angin segar. Usahanya mampu bertahan meski banyak pesaing bermunculan. Kualitas perusahaan siapa paling baik mulai terlihat. Dalam tempo beberapa tahun kemudian usaha pesaingnya kelihatan kesukaran.

Tempat dimana empat mantan karyawannya mulai sibuk mencari pelanggan. Sementara HOT Variasi malah makin berkibar, pamor perusahaan Bandi menjalar tanpa marketing keras. Ini menjadi jalan pembuktian akhir dimana ia meyakinkan orang tua bahwa jalan hobi itu benar.

Membuktikan bahwa tidak salah dia memilih hobi menjadi bisnis. Menjadi pengusaha itu merupakan jalan lain selain pegawai. Kini usaha Hot Variasi telah menempati ruko dua lantai. Dimana Bandi mempekerjakan 16 orang karyawan. Hot Variasi -jika dalam bahasa Batak berarti "akan selalu"- tidak cuma memberikan modifikasi.

Mereka menawarkan tune- up, bubut, korter, dan lainnya. Omzet mencapai Rp.15- 20 juta per- hari. Bandi juga merekrut anak putus sekolah. Ia mendorong agar mereka mampu membuka usaha sendiri. Mereka jadi mitra binaan. Mereka tinggal mencari tempat. Selepas itu Bandi akan memberikan bantuan modal lengkap.

Obsesi Bandi ialah Hot Variasi jadi one stop modification. Bagaimana memberikan pelayanan terlengkap dan terpercaya semua jasa dibawah satu atap. Ia mengatakan orang nantinya tidak lagi mencari tempat berbeda buat berbagai perawatan motor.

Alasan Memilih Wirausaha Sendiri Conie P. Putri

Profil Pengusaha Conie Pania Putri



Menjadi pegawai tidak bahagia. Itulah kiranya penulis katakan ketika membaca kisah Conie. Wanita yang bernama lengkap Conie Pania Putri, 36 tahun, ternyata pernah mendapatkan gaji Rp.20 juta. Bahkan dia sudah punya mobil mewah dan rumah bernaung.

Kenapa masih berwirausaha dan berhenti bekerja. Conie mengaku tidak lekas puas. Bagianya ada satu hal yang kosong ketika dia bekerja untuk orang lain. Dia pernah bekerja sebagai penjual, admin, sampai naik pangkat manajer, perusahaan asal Palembang pada 2004 hingga 2012.

Memilih menjadi pengusaha karena tidak puas akan empat tahun. Meski naik pangkat sampai jadi Direktur Utama membawahi beberapa provinsi; dia tetap tidak puas.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang, yang mendapatkan banya fasilitas dari perusahaan ini resah. Fasilitas mewah tidak memuaskan Conie. Alasan bewisausaha Conie: Setinggi apapun jabatan yang anda miliki. Anda tetaplah pegawai. Sekecil apapun usaha anda, maka anda lah bosnya.

"Sekecil apapun usaha yang anda punya, anda lah bosnya," Conie bertutur. Keresahan bukan soal apa. Tapi dia sudah terbiasa difasilitasi orang lain. Kini, dia mau jadi pengusaha, berwirausaha berarti dia harus siap memulai dari nol.

Gaji besar menjadi direktur, tidak susah cari duit, tetapi Conie bosan. Jenuh tetap jadi karyawan mengikuti tiap kebijakan perusahaan. "...tidak bisa ambil kebijakan, itu perusahaan orang," gusarnya. Berkat relasi kuat serta pengalaman jadi presiden, Conie mantap keluar dan memilih membuka perusahaan sendiri.

Awal- awal diakuinya sukar banyak masa sulit membangun usaha. Uang modal boleh pinjam sana- sini, dia tidak turun semangat. "Pokoknya saya buka usaha sendiri," serius Conie. Ia sepakat melakukan kongsi usaha dalam bentu perusahaan PT. Srikandi Tiga Putri -usahanya memenuhi kebutuhan alat kesehatan.

Dengan sabar lambat laun usahanya punya jalan setelah tiga tahun. Dalam kurun waktu tiga tahun sejak tahun 2012, usahanya menghasilkan omzet Rp.1 miliar. Kerjanya pun tidak ngoyo karena keputusan ada ditangan. Ia menyebut dia lebih fleksibel soal waktu. Kalau dulu berangkat jam 7 pagi pulang malam karena lembur.

Sebagai wanita muslimah dia tidak lupa akan hak pegawai. Hak karyawan menjadi tonggak kejayaan dari perusahaan tersebut. Bahkan dia mengajak mereka bewisata sampai Singapura. Bekerja menurutnya sesuai hati nurani. Usaha itu juga menambah amalan seperti diajarkan oleh Rasulallah Nabi Muhammad.

Dia berharap kita juga mengikuti jejaknya berwirausaha. Memang butuh ektra sabar tuturnya, tetapi bukan berarti kita tidak bisa loh. Begitulah kisah pengusaha berjilbab -yang suka warna pink itu- yang juga aktif dalam kegiatan komunitas sedekah Jum'at.

Anak SMP Sukses Berbisnis Perlengkapan Olahraga

Profil Pengusaha Rizki Adventus 


 
Umur 18 tahun sudah sukses berbisnis sendiri. Cerita klasik tetapi langka karena sedikit pengusaha muda di Indonesia. Kisah kali ini, Rafael Rizki Adventus, pemuda kelahiran Jakarta, 4 September 1994, yang sudah berbisnis sejak kelas 2 SMP. Waktu itu dijelaskannya memulai dari berbisnis network marketing.

Hingga kelas 3 SMP kesempatan mendatangi Rizki. Bisnis sebenarnya itu datang ketika sekolahnya butuh kostum basket dan futsal. Kebetulah ia salah satu pemain utama dalam tim olah raga sekolah. Suntikan aneka motivasi entrepreneurship memberika keberanian melangkah.

Mantap, dia menawarkan diri agar menjadi suplier perlengkapan olah raga. Fokus bisnis waktu itu memenuhi aneka kebutuhan akan pakaian olahraga, macam jersey, jaket, kaos basket ataupun futsal. Modal uang dia tidak pikirkan langsung tancap gas.

Rizki sendiri terlahir dari keluarga kurang mampu. Dia hobi bermain basket, futsal, ataupun olah raga pada umumnya. Dibanding teman sekolah, bisa dibilang mereka lebih berkemampuan secara finansial. Sukses bagi dia menyenangkan orang tua melihat Rizki sukses.

"...saya harus sukses," jelas Rizki kepada Merdeka.

Merek Motion dijadikan sandaran berbisnis modal pas- pasan. Niat dijadikan langkah pertama Rizki. Maka soal modal uang pun dapat diakali dia.

Kerja sama


Rizki bersekolah di SMPK Sang Timur Tomang. Disekitarnya hidup anak sebaya yang lebih berkecukupan. Ia sendiri sosok mandiri sejak kecil. Keberadaan lingkungan berbeda mendorong Rizki kreatif. Alasannya ia ingin "mengikuti" gaya mereka. Meski begitu faktanya secara ekonomi sama sekali tidak mendukung.

Agar mampu, maka dia berpikir keras mencari kesempatan lain. Rizki mulai mencoba berbisnis aksesoris ponsel. Ia lantas menjual produk kesehatan milik MLM. Bekerja keras dia mampu mencapai Top Seller di penjualan gelang kesehatan.

Bayangkan dia mampu menjual 49 gelang kurang dari satu bulan. Omzet Rp.7.350.000 dihasilkan anak bau kencur yang bahkan belum 17 tahun. Untung dia dapat bersih yaitu Rp.2.2.70.000, mendapat uang banyak mendorong Rizki ingin menjadi pengusaha sukses. Rekor penjualannya kembali ketika ia menjual pembalut wanita.

Tempo cepat ia mampu menjual 3 boks pembalut wanita cukup 45 menit setelah pembelian pertama. Lebih jelasnya produk dikeluarkan sore di malam hari sudah terjual 3 boks dalam 45 menit. Alhasil dia mendapat nama diantara pelaku usaha network marketing tersebut.

Sukses MLM justru memberikan efek negatif. Terutama bagi orang disekitar lingkungannya. Ia dilihat seperti menjual produk tidak bermutu. Rasa putus asa kala itu sama sekali tidak berasa. Rizki malah terus terobsesi memiliki usaha lebih.

Berbisnis MLM tidak lagi memuaskan hasrat. Bagianya pola pikir pemilik usaha menjadi obsesi. Dia ingin mempunya usaha sendiri. Mengendalikan perusahaan sendiri langsung tanpa perantara. Bersangkutan hobi Rizki ialah olah raga maka bisnisnya tidak jauh.

Ia mencari jalan bagaimana menjadi pengusaha muda. Ide membuat kostum futsal tidak mudah. Awal sekali ia merasakan betul sukar masuk ke bidang garmen. Tidak memiliki pengalaman, Rizki sempat putus asa buat mendekati pemilik garmen usaha. Sempat berpikir berhenti menggeluti usaha yang tengah diincar tersebut.

"Itu hal biasa, yang penting kita komitmen, fokus dan konsisten," jelasnya. Komitmen bermimpi menjadi satu pemilik usaha. Fokus kepada masa depan termasuk menentukan langkah apa. Penuh percaya diri datanglah Rizki ke salah satu tempat produksi.

Dengan penuh percaya diri diajukan proposal kerja sama. Memulai bisnis bernama Motion Sport seorang diri tanpa bantuan. Pemasaran memanfaatkan teknologi meliputi Facebook, Twitter, dan Kaskus. Cara lain ialah menjadi bagian dari aneka kegiatan olah raga.

Motion masuk ke kompetisi olahraga, mulai dari level terendah SD, SMP, SMA/SMK, hingga Universitas. Ia akhirnya berhasil mencetak angka Rp.100 juta pada September 2012. Anak kedua dari tiga bersaudara ini tidak mau sukses sendiri. Ia mengajak tiga temannya masuk menjadi bagian Motion Sport.

 www.motionsportindonesia.com

Mobil Jualan Pindang Ma Ecot Bandung Kisahnya

Profil Pengusaha Asep Fahmi 


 
Hidupnya tidak bisa berjauhan dengan pindang. Fakta hidup mahasiswa Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, bernama Asep Fahmi. Dia merupakan generasi ke- empat usaha yang dikenal seantero Bandung, yaitu Pindang Ma Ecot. Sejak kecil dia sudah diarahkan orang berwirausaha saja.

Jangan jadi pegawai begitu kiranya pesan orang tua. Tetapi mereka sama sekali tidak mengarahkan putranya meneruskan jejak keluarga. Alhasil pria 37 tahun ini sempat menanggur selama empat tahun. Dia sibuk tak jelas hingga menikah dengan seorang wanita bernama Noneng, 33 tahun.

Sempat menganggur maka usaha pertama dilakoni Asep adalah suplier ayam. Dia menjadi suplier ayam ke supermarket besar di Bandung. Lumayan hasil usahanya sampai dia bisa mengkredit mobil sendiri.

Takdir Tuhan


Enam sudah menjadi suplier ayam. Asep nampak tak betah bekerja begitu. Mulai lah dia berpikir bagaimana usaha sendiri. Tanpa tergantung orang lain seperti saran orang tua. Akhirnya Asep menganggur kembali dan ini membuat istrinya berkomentar. Kenapa sih tidak berbisnis pindang seperti orang tuanya.

Apalagi Asep masih harus membayar cicilan mobil. Berpikir ulang, dia akhirnya berniat melanjutkan bisnis pindang khas Nagreg. Padalah dia maunya menjual produk milik orang lain. "Dari istri dapat ide ngapain jual baru produk orang lain sementara produk orang tua sendiri sudah terkenal."

Ia pun setuju melanjutkan usaha jualan pindang pusaka warisan buyut. Meski warisan keluarga faktanya dia harus memulai usaha dari nol.

Dia berencana membuka usaha di Jalan Riau Martadinata. Modal tambahan selain resep ialah mobil pribadi yang belum lunas cicilan tersebut. Namun dia merasa khawatir karena disana merupakan daerah bebas PKL. "Saya takut digembok," imbuhnya.

Ia lantas berkeliling Bandung mencari tempat. Kebetulan Asep melewati Jalan Karapitan. Disana lah mulailah dia berjualan disana. "...disini sampai sekarang," tuturnya. Tepatnya dia berjualan belakang Horizon sejak di 2012. Lulusan marketing membuatnya tidak takut menjajakan produk.

Resep pindang pusaka tersebut dijual lewat mobil. Prinsip berjualan seperti layaknya PKL saja. Setiap hari dia tidak jenuh berjualan pidang.

Respon awal di tahun pertama menurutnya harus siap mental. Namanya berjualan kadang ramai, kadang juga sepi, dirasakan dia butuh mental sekuat mungkin. Tahun kedua pelanggan mulai terbentuk bahkan selalu saja ramai. Bahkan Sabtu- Minggu banyak pesanan datang terutama dari ibu rumah tangga.

Sehari dia menjual satu panci pindang berisi 150 pindang ikan mas ukuran Rp.15.000 sampai Rp.20.000.

Usaha warisan dari nol

Kalau ramai dia mampu menjual semua 150 pindang habis. Omzet Asep mencapai Rp.2 juta per- bulan dari jualan pindang saja. Asep mulai berjualan pukul 09.00 WIB hingga sore. Pukul 19.00 dia sudah kembali ke rumah di Nagreg.

Pulang ke rumah langsung tidur, karena besoknya dia dan istri harus bersiap membuat pindang. Pindang itu dibuat pas malamnya dijual di paginya.

"Capek sih, saya harus bangun pagi, berangkat ke Bandung jualan, kemudian balik lagi ke Negreg," kenang Asep.

Kelamaan terbiasa meski paling sulit diawal bangun tidur. Kalau sudah terbiasa bangun pagi ya dia mampu bangun pagi buta. Ia bekerja keras bersama sang istri. Rahasia kerja mereka ialah, istri mulai dari menyiapkan ikan mas, memproses matang sampai setengah matang. Ketika suami pulang, Asep mengolah itu jadi pindang.

Berjualan pindang selama empat tahun memberinya satu rumah makan di Nagreg. Dia mampu melanjutkan cicilan mobil bahkan mencicil rumah. Cicilan mobil yang diberinya nama Divisi Penjualan Pindang Pusaka Ma Ecot 2, Cabang Negreg, itu sudah lama terlunasi bahkan bisa beli lagi.

Sukses maka dia berencana membuka satu rumah maka lagi di Cianjur. Untuk Divisi Ma Ecot 2 masih dia pertahankan sebagai bentuk kedekatan ke masyarakat.

Sukses Asep membuat banyak orang mengikuti jejaknya. Beberapa bahkan malah mengaku- ngaku sebagai pindang Ma Ecot asli. Agar mengatasi hal tersebut, dia memperkuat rumah makan di Nagreg serta tanpa dia berhenti meyakinkan.

Awalnya orang tidak percaya orang yang berjualan di mobil itu asli. Apalagi nama Ma Ecot lebih dikenal oleh masyarakat asli Nagreg. Padahal Asep awalnya justru berjualan pindang lewat mobil keliling. "Tapi setelah mencoba, mereka tahu dari rasa," ujar bapak dua anak ini.

Bisnis Asep tidak berhenti di masakan Pindang. Ia juga menjual masakan khas Sunda, seperti pepes ikan mas, pepes ayam, telor ikan mas, rendang jengkol, abon ikan peda, kacang merah manis pedas, dan juga ada sambal goreng tempe.

Selain di Nagreg, Karawitan, kamu bisa menemukan olahan tersebut di tempat lain, tepatnya di Mekarwangi, Bandung. Tempat itu dikelolah oleh sang kakak, Ahmad.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba