Usaha Kue Kacang Kediri Modal Lima Ribu Rupiah

Profil Pengusaha Teguh Poerwono Edi


 
Teguh jualan kacang baru ketika tahun 1989 -an. Dia bersama keluarga baru saja pindah ke Kediri dan ingin buka usaha sendiri. Hingga berjalan waktu, Teguh Poerwono Edi, menjadi pengusaha sukses kue kacang di daerah tersebut. Kisah ini dimulai 26 tahun silam, yang mana ia sekarang kantongi omzet sampai ratusan juta rupiah. Kebetulan dia dan sang istri punya hobi sama, yakni membuat aneka kue.

"Awalnya, istri saya suka membuat kue, terus resepnya saya ubah- ubah," beber Teguh. Hobi itu pula yang melahirkan resep kue kacang bermerek Tidar. Selepas matang kue kacang cukup ditawar- tawarkan ke para tetangga dan teman- teman.

Hasilnya ternyata enak sampai banyak orang berminat. Ia serius akan hasilnya dan mulai meproduksi lebih banyak lagi. Keberuntungan dipihak Teguh karena sekitar rumahnya dekat kawasan pabrik. Mereka pekerja di pabrik ketika sore hari bisa mampir membeli ke toko miliknya. Awal usahanya masih menghasilkan 300 buah kue per- hari.

Modal awal cuma Rp.5000,- ditambah peralatan seadanya. Uang segitu dibelikan terigu 3kg serta gula dan aneka bahan lain. Saat itu, Teguh mengingat harga terigu per- kilo masih Rp.750, dimana bisa diubah menjadi ratusan kue kacang. Untuk peralatan cetak cukup memakai tutup botol minuman anaknya. Roti kacang yang sekarang menjadi khas Kediri ini dijualnya Rp25 per- buah.

Berkat usahanya tanpa menyerah, Teguh mendapatkan penghargaan Bogasari SME Award 2012 lalu.

Resep rahasia


Dia dibantu anak dan seorang pembantu mengerjakan pesanan. Meski keterbatasan, Teguh masih optimis usaha kue kacangnya akan berkembang. Banyak tantangan memang dilaluinya setiap waktu. Hingga selama bertahun- tahun usaha kue kacangnya semakin dikenal luas. Kini, ia memperkerjakan 45 orang karyawan, yang mana sudah punya tempat produksi sendiri.

Dalam sehari, rumah produksi menghasilkan 67.200 kue kacang. Ukuran kue kacangnya sebesar kue bakpia atau donat mini berbentuk bulat. Kue tersebut lantas dikemas dalam toples. Satu toples kue kacang sekarang dijual seharga Rp.240 per- butir. Bahan baku dibutuhkan mancapai 20 sak sampai 22 sak per- hari. Omzet kue kacangnya telah mencapai angka Rp.300 juta per- bulan.

Selain Kediri, kue kacang milik Taguh bisa melalang buana ke penjuru Indonesia, semua berkat internet yang membangun resellernya di berbagai daerah.

Modal memang terbatas tetapi Taguh tidak memilih pinjaman bank. Sebenarnya ada keinginan meminjam ke Bank tetapi dirinya sadar. "Akses terhadap pinjaman modal bank itu tidak mudah," jelasnya. Modal satu- satunya bisa ia tawarkan cuma berhutang ke warung. Lewat cara inilah ia bisa mendapatkan bahan baku tanpa bayar dulu.

Karena salalu bayar tepat waktu dan tidak pernah meleset, Teguh bisa dipercaya oleh pihak pemasok bahan baku. Bahkan sang pemasok menawarkan bahan baku lebih banyak lagi. Jujur, Teguh nyeletuk tidak punya uang buat bahan baku lebih banyak. Pemasok bahan baku pun meyakinkan Teguh dengan kemudahan. Ia boleh mengambil tepung terigu dan bayar kalau sudah akhir pekan.

"...mereka membolehkan saya berhutang," papar Teguh. Semenjak itu, dia mulai mengambil bahan baku buat enam hari ke depan. Dimana biasanya dia memakai tepung terigu sebanyak tiga sampai lima kilogram per- hari. Kini, ia bisa membuat lebih banyak berkali- kali dan laku semua dijual. Karena dipercaya pula usahanya bisa mendapatkan kemudahan lain.

Ia juga dipercaya sama pedagang peralatan kue. Beberapa kali dirinya mengambi peralatan kue seperti oven, plastik, serta barang lain, dan soal pembayaran akan dilakukan belakangan. "Hampir seluruh bahan saya hutang dari pedagangan," ujar Teguh. Berkat bahan baku lebih banyak serta peralatan lebih baik, tentunya ia bisa lebih banyak berekspansi lebih cepat.

Hasil keuntungan beberapa ditabung setiap hari. Di akhir pekan, ia akan membayar semua hutang- hutang yang dimilikinya. Ia tidak mau menyia- nyiakan kepercayaan mereka. Teguh sadar jika kita pandai merawat kepercayaan maka bisnisnya berkembang. Kue kacang bermereka Tidar semakin bersinar. Sekarang, ketika butuh terigu, pemasok tepung akan mudahnya menyuruh Teguh ambil.

"Berapa pun saya ambil pasti dibolehkan pemilik toko," celetuk Teguh lagi, disambut tawa. Ketika sekala dari usahanya membesar baru bank datang menghampiri. Ia memperoleh pinjaman sampai Rp.220 juta dari sebuah bank untuk membesarkan usaha. Uang tersebut digunakan untuk membeli kedaraan buat distribusi kue kacang Tidar.


Ambisi terbesar seorang Teguh adalah memasarkan Tidar ke seluruh Jawa. Jangkauan kue kacang miliknya sejauh ini masih di kawasan Jawa Timur. Bukan dipasarkan dia sendiri tetapi dibawa lewat internet. Reseller lah yang membesarkan usaha kue kacang miliknya. Karena sudah ada reseller, dia optimis bisa menjangkau lebih luas ke seluruh Pulau Jawa. Untuk itupula kapasitas produksi digenjot maksimal olehnya.

"Saya ingin punya mesin cetak kue yang sudah canggih," terang Teguh.

Untuk sekarang pembuatan kue kacang masih buatan tangan. Jika diganti mesin tentu produksi bisa naik sampai seratus persen. Teguh ingin dari 67.200 per- hari menjadi 270.000 kue per- hari. Karena memang itu jumlah pesanan terbanyak yang diminta pasar terutama ketika Lebaran. Ia juga berencana merubah kemasan kue agar tahan lebih lama.

Untung sedikit menjadi prinsip seorang Teguh. Yang terpenting untung sedikit asal bisa berproduksi kembali. Ia sendiri sadar resellernya menjual lebih mahal. Tetapi dia tidak ambil pusing akan hal tersebut,"Tidak apa- apa pedagang lain yang bisa menikmati keuntungan lebih, yang penting saya jalan terus," tuturnya. Hitunganya semakin banyak reseller semakin banyak permintaan dan untung pasti semakin besar.

Budidaya Burung Merak Sendiri Pertama di Indonesia

Profil Pengusaha Surat Wiyoto 



Di Indonesia cuma terdapat satu pusat penangkaran merak terbukti sukses. Itu pun bukan milik pemerintah bukan pula kebun binatang manapun. Pria itu bernama Surat Wiyoto, yang berhasil menurunkan sampai ke keturunan ketiga. Loh bukannya merak itu binatang langka dilindungi? Yah, tetapi pengecualian buat sosok pria satu ini, pasalnya tidak ada lain sosok mengalahkan dia.

Hanya lah seorang petani biasa berasal Dusun Suko, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun. Ia menjadi sosok fenomenal seketika. Bayangkan di literatur manapun tidak pernah tercatat seperti kisahnya. Bukan isapan jempol, karena pemerintah sendiri menyaksikan bagaimana mereka "nyata". Dia juga bisa membuktikan lewat silsilah biologis.

Jika biasanya merak cuma berada di kandang kebun raya atau taman wisata. Kini, kamu bisa mengunjungi langsung dan menatap langsung ke Dusun Suko. Letaknya memang jauh berada di dataran tinggi di kawasan hutan jati, jauh dari kebisingan. Mereka yang ditangkar sendiri adalah jenis merak hijau atau pavo muticus. Dari Kota Madiun, dibutuhkan sekiranya 1,5 jam memakai motor, hingga kita mencapai wilayah perbukitan itu.

Rumah Surat sederhana tidak tampak seperti sosok hebat. Pria 55 tahun ini mengaku kepada pewarta dari Republika tidak direncanakan. Ia sama sekali tidak khusus menangkar merak. Alkisah, ketika dirinya tengah mencari rumput di alas (hutan) kawasan Sampung, bertemulah sekelompok warga berkumpul. Ia melihat ada merak liar bersama mereka. Memang kawasan itu ramai cerita tentang merak liar penghuni hutan sekitar.

Sebagai hewan liar mereka sukar sekali dideteksi. Jikalau ditemukan warga, merak akan menjauh dan masuk ke hutan. Sampai di tahun 1999, ketika kembali mencari rumput, ia menemukan empat telur merak di hutan tempatnya mencari makan. Merasa tidak ada pemilik dibawalah pulang telur tersebut. Surat membawa telur sebesar telur angsa itu ke rumahnya.

Tidak untuk dimasak itulah pemikiran Surat. Sebuah firasat terbersit dalam dirinya agar tidak dimasak. Ia merasa akan ada hal baik soal keberadaan telur tersebut. Dibawalah pulang empat telur merak, lantas Surat tempatkan mereka di kandang ayam agar dierami.

Telur merak


Surat memanfaatkan ayam buat mengerami empat telur merak tersebut. Selang 15 hari, terlur itu menetas loh, siapa sangka ide sederhana itu berhasil menghasilkan. Empat merak kecil lahir jenis merak masing- masing itu dua jantan dan dua betini (F-0). Ia memisahkan mereka dari induk ayam. Proses tersebut terus dilakukanya memanfaatkan induk ayam.

Fakta dijelaskan oleh Surat bahwa merak dewasa enggan mengerami terlurnya. Ia pernah memaksakan induk merak buat mengerami telur; hasilnya nihil. Cara menangkar ya ketika sudah bertelur, Surat langsung bawa telurnya ke kandang ayam. Dierami lah telur- telur tersebut sampai menetas jadi merak kecil. Anehnya itu si indukan ayam selalu sukses menetaskan telur merak hingga menetas.

Cara merawat merak memang tidak tertulis. Ia hanya menyamakan mereka seperti layaknya ayam. Dia pakai cara tradisional merawat ayam ke anakan merak. Karena dianggap seperti ayam, maka makanan mereka pun jadi berupa jagung, pelet, sayuran. Pemberian makan tidak setiap hari, karena kita tau sendiri Surat itu bukanlah peternak sukses. Dia hidup sederhana dan makan seadanya begitu pula ternaknya.

Uang sebesar Rp.450 ribu untuk pelet tidak setiap hari. Terkadang ia bahkan bisa memberi makan mahal berupa beras merah. Karena tidak mendapatkan bantuan pemerintah setempat, usaha yang dilakukan pria ini cuma seadanya asal merak bisa tumbuh sehat. Memang beras merah dikenal memiliki manfaat memberikan stamina binatang unggas.

Apakah tidak dilarang mungkin pertanyaan menyeruak lagi. Yah, cobaan datang awal 2011, ketiga petugas Badang Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) melakukan operasi binatang langka. Maka Surat ketangkap tangan memiliki ungga langka dilindungi. Merak hijau memang masuk binatang langka daftar yang dilindungi. Ia tidak kehabisan akan agar merak- meraknya tidak disita oleh petugas.

Ia meminta bantuan dokter hewan yang sering ke kampungnya. Berkat bantuan mereka, petugas diyakinkan ini bukan sembarang merak. Kemungkinan karena merak tersebut merupakan keturunan kedua (F-1) dari indukan utama (F-0). Inilah mengapa pihak pemerintah rela menyerahkan nasib tumbuh kembang mereka ke Surat. Sesekali secara rutin mereka cuma mengontrol kesehatan mereka milik Surat.

Surat memegang surat ijin konserfasi merak. Kebahagiaan masih ditangan hingga malah kembali lagi datang seketika. Masa itu musim penyakit flu burung (H5N1) yang akhirnya membunuh merak miliknya. Total enam merak keturunan kedua atau hasil konservasi Surat mati. Mereka mati bersamaan terkana penyakit panas flu tersebut. Karena takut menular ke merak lain, maka Surat segera mengubur binatang langka tersebut jauh.

"Saya sampai menangis saat mengetahui merak peliharaan saya mati," kenang Surat.

Melahirkan banyak


Beruntunga karena merak tersebut sudah beranak pinak. Tahun lalu sudah melahirkan sembilan ekor merak generasi kedua (F- 2) yang berusia enam sampai sembilan bulan. Jika biasanya mereka bertelur sekali, tapi entah tahun itu bisa bertelur dua kali, Surat terkejut akan hal tersebut. Mungkin kasih sayangnya membuat si merak merasa nyaman seperti rumah sendiri.

"Ini baru pertama terjadi selama saya memelihara merak," akunya. Ini ditambah lima merak generasi pertama yang selamat dari flu burung total 14 ekor merak hijau.

Kemudian merak menjadi 14 ekor, yang dibaginya ke dalam enam sangkar di dua tempat berbeda. Kandang sederhana seluas 5x4 meter disekat tiga bagian. Yang paling banyak memakan tempat di kandang tengah, satu kandang berisi satu jantan dan dua betina generasi kedua. Satu tempat lagi berisi sepasang disiapkan untuk musim kawin bulan September hingga November.

Enam merak usia sembilan bulan dikandangkan bersama. Tiga lain ditaruh di kandang berbeda terbuat dari kayu, dan ditaruh di halaman rumah. Sepasang merak dikandangkan bersama di satu kandang. Lantas satu merak berusia enam bulan yang jinak dipisahkan. Pasalnya, Surat memang menyukai merak satu ini, dimana paling penurut dengannya.

Empat belas tahun bergelut menangkarkan merak. Suka duka menghadang karena merak- meraknya kadang tidak bertahan. Menurut pakar karena disebabkan perjodohan satu garis keturunan. Surat juga tahu benar bahwa merak- meraknya punya kelakuan istimewa. Pada bulan Februari sampai November, kecuali saat masih bertelur, mereka ini hobi nangkring di atas daripada berjalan di tanah. Mereka mau turun ketika makan saja.

Cuma memiliki satu merak dewasa jadilah cuma satu berbulu indah. Merak satu- satunya jantan dewasa yang bulunya mekar warna- warni. Nah, dimusim kawin, bulu merak akan rontok berganti bulu baru. Sekali rontok sampai 200 lembar bulu merak. Karena bulunya indah dan mewah, maka jadilah bulu saja ditaksir Rp.1000 per- bulu. Bulu tersebut akan digunakan sebagai bahan membuat hiasan ruma atau reog Ponorogo.

Pernah karena terdesak kebutuhan uang dijualah sepasang merak. Karena merupakan keturunan ketiga oleh karenanya pihak BKSDA membolehkan. Sebenarnya ia merasa sayang karena niat sejak awal memang mau dipelihara saja. Ia sendiri butuh uang karena sudah musim panen. Ini termasuk agar bisa mencukupi uang buat memberi makan meraknya sendiri. Orang iseng pun tertarik mengambil merak- merak tersebut tanpa ijin.

Ia sendiri tidak masalah kalau orang tertarik dan ikut menikmati keindahan. Pernah sepasang merak dijualnya ke Bupati Ponorogo seharga Rp.4 juta dan Rp.5 juta per- ekor. Kasus flu burung sebelumnya membuat dia lebih waspada lagi. Dia sekarang menyiapkan berbagai macam obat serta vitamin. Pengobatan sederhana yang disarankan mantri lembu katanya.

Merak ini punya ikatan emosi dengan Surat. Jadi tidak sembarangan orang bisa memiliki mereka. Ketika ada orang tidak baik datang berniat tidak baik, merak- meraknya tau, mereka seolah memberi taunya agar tidak mengiyakan kata orang itu. Ketika mereka berniat membeli merak, Surat akan langsung menolak. "Merek- merak ini memberi tau saya," jelas Surat.

Sukses Berkat Mertua Juragan Mi Basah Malang

Profil Pengusaha Mikno Ade dan Keluarga 



Ketika masih bujangan sudah bergelut di bisnis mi. Sayang nasib berkata dia harus gagal. Kegagalan tidak pernah membuatnya berhenti berusaha loh. Lepas berjualan mi, Mikno Ade memilih jualan permen gulali dan kembali berjualan mi lagi saja. Siapa Mikno? Bagi masyarakat Malang, Jawa Timur, dirinya dikenal sebagai juragan mi basah Mi Gloria.

Jangan berhenti berbisnis sedini mungkin. Berusahalah siapa tau nasib mendatang berakata lain. Seperti hal Mikno yang memulai jualan mi pangsit sejak lulus SMA. Unik dia membuat sendiri bahan- bahan termasuk soal mi mentah. Dia pernah gagal dan sepi sekali jualannya. Karena tidak ada biaya sekolah, selepas lulus sekolah menangah atas, dia memilih melanjutkan berjualan mi kembali pada 1963.

Ia melanjutkan lagi warung milik orang tua. Dia berjualan mi lagi di Sawahan Malang, Jawa Timur. Jangan bayangkan dia cuma mewarisi usaha keluarga. Karena faktanya: Kedua orang tua Mikno sebenarnya adalah pedagang kelontong. Entah mendapat ide dari mana dan bagaimana caranya Mikno membuat mi sendiri. Ia sendiri mengaku malu bertanya ketika memulai membuat mi pangsit.

"Yang penting, bahannya ada tepung, bumbu, telur, air, dan garam," tuturnya.

Sebagai awal usaha Mikno cuma menghasilkan dua kilogram. Dalam perjalanan setahun berusaha sendiri, ia menemukan aneka kesukaran, hingga tepat satu tahun menutup usahanya. Ia sendiri baru sadar kalau adanya pembeli datang ke tempatnya juga karena kasihan. Mereka adalah mantan guru dan teman- teman Mikno sendiri.

Usaha mertua


Ia pernah menjadi supir taksi, pedagang lotre, berjualan bakpao, hingga permen gulali. Nasib Mikno sendiri memang tidak kunjung membaik. Dia seolah pasrah tetapi tetap berjuang. Tahun 1970 -an, Mikno bertemu pujaan hati, Paula Chandrawati, anak penjual cui mi. Mikno lantas terjun membantu warung milik mertua di daerah Sawahan.

Mikno juga membantu mertua memindahkan warung ke dekat kontrakan Jalan Kawi, Malang. Pindahkanya warung sang mertua karena kasus rasial. Usaha ditutup oleh pemerintah di tahun 1966 karena sang mertua adalah keturunan TiongHoa. Padahal warung tersebut telah menjadi penopang hidup keluarga besarnya. Dia sendiri mengenang harus kembali bekerja serabutan.

Selepas warung dipindah usahanya terlihat membaik. Dia berjualan cui mi buatan sendiri. Dibantu sang istri, usaha ini nampak lebih baik dan banyak pembeli datang membeli. Berbeda dengan ketika jualan mi pangsit ini lebih menjanjikan. Melihat permintaan membesar, Mikno memutuskan membuka usaha pembuatan aneka mi basah. Ia lantas menyerahkan pengelolaan warung ke istri.

Karena usaha tersebut sudah berjalan cukup lama. Berbeda dengan sebelumnya, Mikno sudah punya modal usaha sendiri. Meski tidak banyak tetapi cukup buat membeli mesin. Ia tinggal memutar tangan dan mi akan keluar berbentuk memanjang. Berjalan waktu seorang kenalan tertarik akan usaha dijalankan Mikno. Teman itu berkata mi buatan Mikno memang lebih enak.

Sejak itu, secara berkala sang teman memasan, itupula yang mendorong Mikno lebih bersemangat. Alhasil, ia bisa berproduksi 10kg sampai 25kg memenuhi pesanan. Untuk hari raya pesanan mi bisa meningkat tajam dibanding hari biasa sampai 50kg.

Pesanan meningkat membuat semangat bekerja. Dia lantas membeli aneka mesin lengkap. Inilah cika bakal dari usaha basah Mi Gloria. Pabrik mi kecil bernama Gloria yang terinspirasi lagu gereja. Lagu berlirik kata- kata Gloria serta nama bengkel tempatnya mangkat. Mungkin takdir ya, nama tersebut sama halnya bengkel dulu ia mangkal berjualan es.

"Saya bermimpi untuk menjadi orang sukses seperti pelanggan bengkel mobil itu," kenang Mikno. Didukung kemampuan mekanik masalah seperti mesin rusak juga teratasi. Lengkap sudah bekal seorang Mikno buat menjadi pengusaha sukses -kerja keras, ketrampilan, dan cita- cita.

Ia memodifikasi mesin mi sendiri. Tujuannya agar menghasilkan tekstur lebih lembut dan kelenturan bagus. Selepas sepuluh tahun mengerjakan usaha mi basah terbayar sudah. Ayah tiga anak ini sudah bisa bersantai menikmati wisata bersama keluarga ke Bali. Ini menjadi pengalamn pertama berlibur ke tempat wisata bagi dia dan keluarga.

Puluhan tahun mengerjakan aneka mi basa membuatnya ahli. Dengan percaya diri, Mikno siap melayani tiap permintaan konsumen. Ukuran berapa saja, bahan apa saja, berapa banyak, dia yakin bisa membuatnya buat kita semua. Mi Gloria sendiri fokus membuat mi basah tanpa telur atau vegetarian. Juga mereka ahli soal membuat mi berbahan telur bebek.

Usaha keluarga


Mikno memang prinsip tidak memakai pengawet berlebihan. Itulah kenapa mi buatan Gloria tidak awet jika disimpan di suhu ruangan. Selain itu,dia menjelaskan mi Gloria memakai kemasan food grade loh. Pabrik pun buka dua kali sehari menjual mi seharga Rp.10.000 sampai Rp.25.000. Pabrik kecilnya telah memproduksi puluhan ton mi per- tahun.

Sekarang, puluhan tahun berjualan, Mi Gloria menjelma menjadi pabrik mi terbesar di Malang, yang mana segmen pembeli menengah atas. Usaha ini pun dilanjutkan oleh sang anak, Wiyono Gunawan, membuka banyak outlet mi dan depot cui mi di Malang. Permintaan naik setiap tahun didorong naiknya tingkat wisata di Malang.

Peningkatan harga BBM sendiri tidak begitu berpengaruh. Untung karena harga bahan baku stabil membuat Wiyono optimis. Dia menyebut cara mengatasi bukan menaikan harga. Mi Gloria lebih memilih mengurangi di ketebalan dan bobot mi. Usaha yang mendukung aneka penjualn grobak, depot, restoran, dan katering di penjuru Malang ini memang hebat.

Setiap tahun penjualan pun tetap meningkat meski BBM naik. "Malah semakin banyak turis yang semangat berkuliner di Malang, jadi penjualan aman," cetus Miyono. Kenaikan biaya produksi tidak sampai 5% dari kenaikan bahan baku telur, bahan baku terigu, ongkos angkut,dll. Kenaikan terjadi ketika upah karyawan dan biaya listrik saja.

Wiyono sendiri masih optimis membuka pabrik baru. Ia berlandaskan masyarakat Indonesia adalah pemakan mi no.3 di dunia. Membuka depot juga masuk opsi dipilihnya mengatasi kelesuan. Terutama jika pembelian dari pedagang lain menurun. Ia mengibaratkan perjalanan sang ayah, Mikno Ade, memulai berjualan lewat depot bakmi.

Lewat sana, selain tempat jualan ketika orderan menurun, juga sebagai sarana marketing. Nah, ketika orang datang makan mi juga sadar bahwa mereka juga jualan mi mentah. Siapa tau, pembeli akan memilih membeli mi mentah dan dimasak sendiri, atau mereka juga bisa berjualan sendiri dibantu Mi Gloria. Wiyon lanjut ini memang cukup sulit dijalankan.

Menjual mi basah dan mi matang membutuhkan nama besar. Kebanyakan pengusaha mi basah malang lebih memilih berjualan mentahan. Kalau juga membuka depot mi sendiri, hanya pemain besar, tentu salah satunya ya Mi Gloria yang dijalankan oleh Wiyono ini. Sementara itu pengusaha pemula akan memilih membanting harga saja.

"Kalau harga tepung naik, harga mi tak bisa langsung dinaikkan jadi harus pintar-pintar menjual produk," jelasnya lebih lanjut.

Pengusaha Makanan Ringan Lidi Nanutz Mania

Biografi Pengusaha Riza Rizki Adhiyaksa 


 
Pengusaha satu ini bisa dibilang "mengekor" kesuksesan Maicih. Tetapi jangan salah, keduanya punya nasib berberbeda, meski keduanya sama- sama sukses menjadi cemilan mahal. Ditangan pengusaha Riza Rizki Adhiyaksa mampu mengubah uang senilai Rp.300 ribu menjadi ratusan juta. Bahkan omzet tertinggi pernah dihasilkan olehnya mencapai Rp.750 juta.

Pria kelahiran 4 November 1982, mencoba mengajak bernostalgia melalui aneka jajanan lokal. Dia sendiri mengakui tidak sengaja menghasilkan produk. Nanutz Mania menjelma menjadi brand usaha makanan ringan yang mahal. Dirintis sejak Mei 2011, ayah dua anak ini mengatakan dirinya terinspirasi lagu boyband yang berjudul Cinta Cenat Cenut.

Produk awal sebenarnya ialah nachos. Tetapi bingung memberikan nama biar eksis di pasaran. Katanya nih, ketika Riza tengah menggoreng jajanan, terdengar grup Smash tengah menyanyikan lagu Cinta Cenat Cenut. "Lalu saya satukan, Nachos Canat Cenut menjadi Nanutz," paparnya.

Dari reseller


Perjalanan seorang Riza tidak serta- merta sukses. Ia mengaku sempat menjadi reseller jajanan booming asal Bandung itu. Dia menjadi sekian dari ratusan penjaja Maicih. Riza lantas terdorong membuat jajanan khas miliknya sendiri, yaitu nachos. Melalui produk bertajuk Nanutz berusaha menguasai pasar makanan ringan yang tentu tak mudah. Aneka produk baru lantas dikeluarkan agar tetap eksis.

Dia mulai membuat nachos atau pangsit goreng. Lantas dijajakannya ke warung- warung terdekat di sekitar tempatnya tinggal, dan hasilnya mendapat respon positif. Nanutz juga ditawarkan kepada rekan kerja kakak dan adiknya. Tetangga Riza pun ketagihan atas cita rasa produk Nanutz. Permintaan akan nachos mulai naik sedikit- demi sedikit. Mereka empat bersaudara sepakat bekerja bersama membangun brand Nanutz.

Suatu hari, Riza seketika terinspirasi oleh keponakan- keponakannya yang suka membawa pulang mie nyere. Itu loh mie yang berbentuk lidi yang dijual di depan sekolahan.

"Disini kan kebetulan kawasan padat penduduk, ada sekolahan juga. Nah, keponakan saya kalau pulang sekolah bawa mih lidi. Dari situ kepikiran, bagaimana kalau kita kemas," paparnya.

Ia menjelaskan singkat mungkin penyuka makanan lidi ini sudah jadi pejabat. Namanya pejabat pastilah tak mau lagi turun ke jalan membeli lidi. Nah, tugas Riza ialah bagaimana mengemas jajanan lawa ini menjadi satu berbeda. "Mungkin dulu yang pernah makan mih nyere ini sekarang sudah jadi orang, atau jadi pejabat, dan segan untuk jajan langsung ke pasar," tutur Ikhie.

Pria yang akrab dipanggil Ikhie ini kemudian melanjutkan usaha. Ia mulai membuat sendiri mie nyere -nya tersebut, dibuat di dua rumah sederhana di Jalan Babakan Cipray No. 247. Dia dibantu delapan pegawai serta didukung keluarganya, mulai membangun pabrik mie lidi kecil- kecilan. Produk mie lidi ini bukan seperti mie jalananan karena kualitas bahannya beda.

Ia menyebut meski jajan jalanan. Ikhie menegaskan kualitas bahan dipakai benar diperhitungkan. Jadi jangan samakan mie nyere serupa yang di pasaran. Mie Nyere ala Nanutz tidak mengandung bahan pengawet atau MSG. Mie terbuat dari terigu protein tinggi dicampur tepung maizena melalui perhitungan khusus. Agar rasa itu berasa ditambahkan garam sebelum diuleni.

Adonan jadi siap dicetak dengan panjang 15cm dan tebalnya 0,3mm. Mie mentah tersebut lantas digoreng di wajan besar panas. Sepuluh kilogram nantinya menghabiskan enam liter minyak goreng. Selepas itu mie baru dikeringkan sampai tidak berminyak. Nah, setelah mie matang tinggal diberi aneka bumbu rasa hingga siap disajikan.

"Poses penggorengannya kurang lebih selama lima menit hingga mi bewarna kecoklatan," jelas Ikhie lagi. Dia juga menggunakna ebi agar gurihnya enak.

Untuk rasa mie nyere buatan Nanutz ada 12 varian rasa: original, pedas, keju, dan rasa manis. Kemudian ia menambahkan varian pedas seperti super pedas, sedang pedas, lada hitam. Rasa orginal rasanya ya asin tapi mempunyai aroma daun jeruk. Kalau mie lidi manis maka punya rasa strawberry, melon, anggur, dan rasa buah lain.

Aneka produk


Produk Nanutz Mania memang beragam bentuk, mulai dari nachos, mie lidi, keripik sosis, keripik kulit ayam, kemudian ada keripik bayem atau Mariyu Bayem dan belasan produk lain. Untuk varian rasa total memiliki 18 varian rasa. "Kami berusaha agar brand ini tetap fun dan aman," jelas Ikhie. Ketika orang ditawari aneka kripik singkong justru Nanutz asik menjual mie lidi.

Makanan khas Sunda dimodernisasi sedemikian rupa olehnya dari kemasan hingga cita rasa. "Kami pelopor mie nyere modern di Indonesia," tuturnya bangga. Penjualan sendiri memanfaatkan keagenan dan online. Dari berbisnis jajanan ini lantas dibukalah swalayan sendiri di Jalan Babakan Ciparay 243 pada Maert 2013 yang mana merupakan pusat penjualan offline.

Di daerah Mekarwangi juga sudah hadir gerai lain. Yang mana merupakan ide dari Ikhie lewat kerja sama kemitraan dengan 75 agensi di 28 provinsi, hingga juga di luar negeri, meliputi Jepang, Australia, dan juga Belanda Nanutz offline sendiri barulah sekarang, dulunya, penjualan aneka produk si Nanutz difokuskan di online.

"Saya sampai korbankan akun Facebook saya yang sudah ada 5.000 teman. Facebook saya diganti fotonya tiba-tiba dengan foto Nanutz, sampai orang pada kaget," kenang Ikhie.

Ini strategi marketing murah diawal- awal memulai. Kala itu, ia bahkan belum punya komputer sendiri hingga harus membuka lewat warnet modal Rp.2.500. Dia dibantu oleh 28 karyawan memasak mencapai 1.400- 2.000 produk. Ini disertai tahap kontrol kualitas tinggi. Pernah menggunakan masin agar produksinya lebih banyak tetapi hasil justru tidak seenak buatan tangan.

Ia kemudian mengandalkan dapur saja. Sampai sekarang Ikhie sendiri masih berkutat di dapur sendiri setiap pagi. Dia tidak mau seperti pengusaha lain ketika sukses meninggalkan dapur. Dua tahun perjalanan pertama bisnis Nanutz dirasa sulit. Awal dia berjualan di pinggir jalan merasakan hujan dan panas. Pernah pula Ikhie diusir Satpol PP. Tidak mau kehabisan akal, dijualnya di acara car free day dan pasar malam.

Hingga ia menemukan taktik jitu,"Teknik saya, saat MaIcih lagi ikut pameran, saya ikutan. Ma Icih di dalam booth, saya di luar tenda di tempat parkir. Nggak ikut bayar booth,"

Pengusaha Sabut Kelapa Kaya Asal Kebumen Hasim

Profil Pengusaha Mahasim 



Memulai usaha sabut kelapa memang menggiurkan hasilnya. Seperti kisah Mahasim, pengusaha sabut kelapa asal Kebumen, Jawa Tengah, menghasilkan puluhan juta dari sabut kelapa. Alasan harga sabut kelapa yang murah ditambah ide seketika. Ia membayangkan menciptakan seni kriya dari sana. Inilah kisah pria bermodal Rp.100 ribu jaya, yang awalnya pembuat karpet aneka ukuran.

Harga satu butir kelapa Rp.180/butir saat itu, dan ketika musim hujan harganya cuma Rp.100/butir. Butiran kelapa lantas dimasukan Mahasim dalam mesin serat atau fiber sabut. Modal sepuluh butir bisa menghasilkan 1kg serat sabut. Nah, kalau sudah menjadi serat sabut, harganya naik menjadi Rp.2.600/kg. Cukup menjual serat saja sudah terlihat untung cukup besar.

Aneka produk


Apalagi kalau serat itu dijadikan aneka kerajinan kriya. Tentu pundi- pundi rupiah dihasilkan melonjak tajam. Mahasim membaca hal tersebut sejak 1997. Produk awal dihasilkan serabut adalah keset berbagai ukuran. Ia seiring waktu mulai membuat aneka produk, seperti tas, topi, sandal, pot, coconet, sampai bantal, guling, dan kasur serabut kelapa.

Agar lebih menjual, dikombinasi batok kelapa, kayu kelapa atau gelugnya, ia menghasilkan menghasilkan tas dan kursi. Kerangkan dibuat modal kayu kelapa sementara jok kursi dibuat dari sabut kelapa. Lalu, dia juga membuat aneka pot biasa atau gantung dari sabut kelapa. Ini namanya cocopot bisa menahan air menghemat proses penyiraman.

Selain itu, kalau menggunakan cocopot ada keunggulan lain, yaitu memindahkan bibit ke lahan tinggal kamu tanam tanpa lepas cocopot. Kalau dibandingkan polybag atau plastik, tentu cocopot lebih ramah lingkungan. Ia juga mengerkana cocopeat. Apa itu? Merupakan hasil olahan berupa serat fiber dan selanjutnya Mahasim olah menjadi pupuk organik. Untuk jumlahnya, Mahasim selama sehari menggiling 3.000 sampai 4.000 butir.

Jumlah sepuluh butir sabut menghasilkan 1 cocopeat. Kalau sudah diolah menjadi pupu organik, maka ia bisa menjual seharga Rp.450/kg di luar ongkos kiri.

"Pupuk organik itu dijual ke Kalimatan Timur, 10- 20 ton sebulan. Waktu mau lebaran mereka pesan 60 ton per bulan," tutur Mahasim.

Memang banyak tetapi Mahasim masih menyanggupi. Ia pernah diminta sampai 400 ton per- bulan loh. "...kami enggak sanggup," kenangnya. Warga Rantewringin, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, Jateng, ini termasuk memproduksi sabutret atau sabut berkaret.

Sabutret adalah sabut berkaret yang biasa digunakan menjadi isi bantal, kasur, guling, maupun jok kursi. Dia menyebut pengolahannya berbeda dengan kaset atau coconet, yang merupakan anyaman dari sabut fiber. Ini merupakan serabut fiber diolah lebih lanjut. Sabut digiling dan dianyam menjadi tali. Lantas tali- tali tersebut diolah melalui oven.

Tali lantas diurai agar tidak keriting, lalu ditata di cetakan. Nah, Coconet ini lantas dijadikan isi bantal, guling, kasur, atau jok. Kasur setebal 5cm dijualnya menjadi Rp.600.000. Kasur akan dijualnya jadi Rp.1,5 juta setebal 15cm. Dan, untuk bantal dan guling dijual seharga Rp.50.000 per- buah. Ia bercerita pernah melayani permintaan kasur berisi sabutret dari Amerika. Tidak tanggung, Amerika memintanya mengirim 1 kontainer.

Tetapi, sayangnya, Hasim memilih mundur karena usaha miliknya masih kecil. Padahal kalau dilihat waktu itu, bisa dibilang usaha Hasim sudah cukup besar dimata awam.

Omzet ratusan juta


Usaha Hasim mempekerjakan 15 orang karyawan tetap. Ia juga mempunyai beberapa mitra tersebar di lima kecamatan di Kebumen. Mereka biasa membuat barang setengah jadi ataupun jadi yang dijual ke AKAS (Aneka Kerajinan Anyaman Sabut). Padahal, ketika memulai ia cuma memiliki dua karyawan saja. Lantas Hasim membangun Kelompok Usaha Bersama (KUB) bernama AKAS ini.

Setiap bulan Hasim mengirim ke Timika, Balikpapan, dan Medan. Coconet tali kecil akan dijual Rp.8000/m, sementara coconet besar dijual Rp.13.000/m. Untuk masing- masing daerah dikirim satu trongton atau berisi 200 rol. "Satu rol panjangnya 50m," papar Hasim. Omzet coconet ini total Rp.240 juta (Rp.8000 x 200 rol x 3kontainer). Itu pun masih dihitung pemasukan satu produk.

Pemasukan aneka produk kecil seperti keset kecil 5000 lembar, keset besar 2000 lembar. Masing harganya Rp.5.000 dan Rp.35.000. Melayani pengiriman ke Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Pontianak, dan Medan. Ia juga menyebut pengiriman pot gantung ke Australia sebanyak 200- 300 buah, seharga Rp.30.000/pot. Untuk Jepang permintaan tali sabut sebanyak 2500 ikat. Ikat panjang 10m dan setiap meter dijual Rp.5000.

Mahasim mengaku mengandalkan bahan baku asal Kebumen saja. Dia mempunyai 4 pemasok tetap setiap minggu mengirim 1-2 truk. Setiap truk berisi berisi 4.000 butir sabut kelapa. Hasim juga aktif memanfaatkan jaringan pedaganga kelapa mengirimi ratusan butir sabut tiap hari.

Satu kendala terbesar dirinya adalah tenaga kerja. Karena sebagian besar warga desa merupakan petani. Jadi kalau pas waktu bertani tiba, mereka akan fokus mengurusi sawah. Mahasim jadi cuma mengandalkan sedikit pekerja. Kendala lain ya musim hujan karena pengeringan. Ia menyebut coconet butuh lapangan luas. Kalau hujan ya pekerjaan akan berhenti sejenak.

Dia akhirnya meminta kelonggaran waktu. "Yang tadinya 10 hari, saya minta kelonggaran jadi 20 hari," tutur Mahasim.

Relasi kuat membuat usahanya berjalan sampai sekarang. Hubungan dengan pemasok, pelanggan, kendala akan bisnis tidak berpengaruh besar. Karena apa, karena pohon kelapa banyak ditemui di negara kepulauan Indonesia. Ini bisa diterapkan siapapun oleh orang Indonesia. Banyak lembaga pemerintah mulai memberi pelatihan membuat aneka kerajinan sabut kelapa.

Pengusaha satu ini pernah mendapatkan aneka penghargaan. Dia juga menjadi pembicara diberbagai waktu kesempatan. Ia pernah meraih Juara III Green Productivity tahun 2010. Ia sering diminta intansi pemerintah seperti dari Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba