Aplikasi Pembantu Rumah Anda Alfred

Profil Pengusaha Marcela Sapone dan Jessica Beck 


 
Mereka berdua baru saja lulus kuliah Harvard University. Arti kelulusan berarti membawa mereka ke dunia finansial sebenarnya. Tetapi Marcela Sapone dan Jessica Beck memilih melanjutkan pekerjaan mereka. Yah mereka sudah memulai itu semenjak bangku kuliah. Bukan tentang keungan tetapi tentang teknologi. Mereka merupakan pendiri startup Hello Alfred.

"Saya bekerja berjam- jam lamanya dan datang kembali ke apartemen yang itu sangat berantakan," Sapone bercerita kepada Business Insider.

Beck dan Sapone sadar tentang berantakannya bekerja keras. Dan, apakah mereka mempunya solusi untuk itu semua. "Jess seorang super, orang yang super berantakan, dan tidak akan pernah mengundang saya ke apartemennya," jelas Sapone. Hingga akhirnya dia bisa berkunjung ke rumah kawan karibnya tersebut.

Dalam delapan bulan sejak berkunjung, ia menemukan tumpukan cucian kotor dan itu seluas meja di dapur apartemen. Dia merasa ini sangat gila. Ini akan sulit hidup dengan cara begini tanpa bantuan orang. Akhirnya mereka menyewa jasa melalui iklan Craigslist. Orang itu akan datang ke rumah mengerjakan cucian dan juga membeli belanjaan mingguan.

Wanita yang disewa mereka, Jenny, datang ke apartemen melakukan permintaan mereka. Inilah awal kisah sukses startup Alfred.

Ini sebuah insiden yang membawa berkah. Mereka menciptakan layanan untuk mereka sendiri. Lantas mulai banyak orang menanyakan hal tersebut. "Hey, apa saya bisa mendapatkannya?" tutur Sapone.

Bisnis online


Alfred resmi diluncurkan di Boston Mei 2013. Di September 2014, mereka meninggalkan kuliah Harvard dan Boston untuk mengikuti ajang TechCrunch Disrupt's Startup. Awal usaha kecil yang dimulai dari langkah menciptakan banyak brosur menawarkan berbagai harga berbeda, dan layanan berbeda. Mereka menaruh mereka dibawah pintu mereka tetangga mereka di Boston.

"Kami sebenarnya berpikir bahwa ini adalah bisnis kecil- kecilan," ucapnya. Mereka mendapatkan pelanggan pertama mereka 10 orang. Melalui langkah tersebut Alfred sekarang bukan lah sekedar layanan normal. Mereka memiliki aplikasi sendiri seperti Uber atau Airbnb.

Mereka pun mulai mempekerjakan banyak orang. Mereka adalah Alfred Client Manager atau cukup Alfreds -menjalankan perintah untuk membeli belanjaan, memilah surat, mengantarkan paket, atau mungkin mencuci pakaian. Alfred memilik perbedaan dibanding layanan lain: rute! Melalui sistem tersebut maka setiap hal itu direncanakan.

Seperti halnya tukang susu yang mengantarkan layanan. Mereka selalu menjalankan rute khusus masing- masing tidak berubah. Seperti halnya mereka mengetuk pintu, mengambil botol kosong, kemudian tinggal taruh susunya. Sapone dan Beck masih kuliah bisnis ketika Alfred jalan; itu tidak mudah. Mereka sempat berpikir berhenti di bisnis ini loh.

Dan, ketika mereka menyatakan hal tersebut ke pelanggan, mereka ketakutan dan "memaksa" keduanya agar bekerja kembali ke layanan mereka. "Seluruh dunia akan menggapai mu ketika kamu menang," inilah dasar berbisnis sebenarnya. Ketika kamu memenangka hati pelanggan dengan layanan terbaik.

Orang membayar $99 per- bulan untuk layanan, dan tambahan untuk uang belanja. Tetapi ketika mendengar mereka akan bubar dan fokus di sekolah; mereka rela membayar $25- 90 per- minggu. Bahkan orang mau membayar $400 untuk layanan awal di Boston. Di November 2014, mereka mendapat uang $2 juta dari perusahaan CrunchFund, SV Angel, Spark Capital, selepas Alfred di New York.

Mereka sebenarnya akan meluncurkan di San Fransisco. Hingga mereka menemukan Kota New York lebih banyak pelanggan. "New York memiliki kepadatan penduduk tinggi dan ketersediaan tinggi dan aksesibilitas dari jenis vendor yang kita ingin gunakan," kata Sapone menambahkan.

Semenjak tuntutan akan "pegawai teta" digulirkan layanan seperti Uber, Lyft, dan Postamate mengalami satu perubahan -bisa dibilang tidak menguntungkan. Modal bisnis tidak terikat akan pegawainya ini memang mulai dipertanyakan oleh lembaga hukum. Tetapi beda dengan Alfred yang menyambut positif hal tersebut. Karena mereka menerapkan konsep berbasis pelanggan dan menyediakan layanan sebenarnya.

Alfred percaya akan pelanggan -gantinya adalah pelatihan, identitas jelas, instruksi, kepada setiap pegawai di Alfred. Total ada 86 Alfred yang mana mereka adalah anak rumahan. Menurut Sapone 70% tinggal bersama ibu dan mereka bukan orang biasa. Beberapa dari mereka adalah artis, penulis, aktor, atau mereka yang juga bekerja di kantor.

Sukses Alfred mampu membawa mereka bahkan diatas pesaing. Mereka bahkan akhirnya mengakuisisi si pesaing di New York, WunWun. Mereka memiliki konsep layanan berdasarkan permintaan pertama. Itu juga termasuk data base pelanggan mereka. WunWun juga memiliki teknologi menarik, pada dasarnya sistem yang hampir sama dengan Alfred.

"Sementara mereka menjalankan permintaan, mereka mengelompokan permintaan dulu dan mengoptimalkan rute, yang mana juga dilakukan kami. Kami hanya tidak melakukan hal- hal pada permintaan saja -kita membuat standar rute," papar Sapone. WunWun sendiri mampu mengatasi permintaan komplek dan panjang dari pelanggan.

Hari ini, Alfred memiliki 19 pegawai pusat dan terus tumbuh, dan mereka juga punya visi membuka di San Fransisco, Los Angles, dan berikutnya Washington DC. Sementara Alfred akan fokus di New York dan mulai menggaet pelanggan lebih. Untuk pendapatan it mencapai, di tahun 2014, kasarannya $350 per- member atau $4.500 per- tahun, dan terus tumbuh.

Fakta Pepatah Belajar Sampai ke Negeri China

Profil Pengusaha James Tan


 
Salah satu paling mudah memulai bisnis adalah mengamati budaya lokal. Itulah kiranya yang telah dilakukan oleh seorang James Tan. Pengusaha asal Singapura ini melawati harinya sebagai mahasiswa di Negeri Tirai Bambu. Hingga, ia sukses mendirikan perusahaan sendiri, pendiri dari 55tuan.com ini mencoba menceritakan sedikit kisahnya.

Ia menjelaskan dalam dua atau tiga tahun mulailah menyesuaikan diri. Temukan mereka teman- teman baru di tempat yang kamu tuju. Kemudian kamu akan menemukan orang- orang yang bisa dipercaya. Mereka lah yang mungkin menjadi mitra bisnis kamu kelak. Inilah seklumit penjelasan kenapa Tan getol belajar sampai ke negeri China.

Tan mengaku ingin menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi China. Meski dirinya sudah bekerja mapan di Industri Teknologi Singapura selama sembilan tahun; tidak membuat puas. Dia malah pergi ke China buat berkuliah lagi di China lewat beasiswa IE Singapore. Untuk satu ini beasiswa diberikan bagi mereka yang sudah berpengalaman kerja.

Kemudian, ia pun mengikuti program Master Administrasi selama dua tahun sejak 2008.

Kloningan Groupon


Perkuliahan S-2 berjalan ketika Tan bertemu pendiri lain situs 55tuan.com. Waktu itu Groupon masi segar didirikan di tahun 2008. Mereka memulai situs 55tuan.com ketika tahun 2010 tiba. Tidak terlambat karena ia menyasar pasar China yang tengah tumbuh. Dia sama sekali tidak memperhatikan kritisnya situs daily deal. Ia melihat tidak ada Groupon di China (belum ada.red).

Pertumbuhan perusahaan sejalan perkembangan ekonomi China. Dimana mereka mampu menghasilkan uang delapan digit dollar. Situs tersebut tidak terbatas di makanan, tetapi juga produk kecantikan, traveling, dan pakaian. Tumbuh perusahaan ini bisa mempekerjakan 3.9000 orang pekerja dan meluas sampai ke 150 kota di China.

Masalahnya ketika mereka berkembang 5.000 situs sama muncul. Tetapi Tan masih optimis usaha miliknya tetap bertahan. Ia bertahan karena kecintaanya akan dot com. Itu terlahir ketika dirinya memulai kuliah di Universitas Nasional Singapura. Ketika terjadi ledakan dot com langkah pertamanya adalah bekerja paruh waktu di Asia Images sebuah stok foto Asia.

Kala itu, tahun 1999, menjadi jalan Tan memahami seluk beluk internet keseluruhan. Pekerjaan barunya itu sangat menyita waktunya hingga tidak lulus. Dia lantas melompat bekerja di Singapore Computer Systems dan Nets, sebelum ia memutuskan pindah ke China. Dalam program MBA -nya Tan mendapat kesempatan berkunjung ke Silicon Valley.

"Saya bertemu dengan rekan- rekan saya yang sedang belajar ilmu komputer dan merupakan karyawan Google, Apple, dan Facebook," kenang Tan.

Dirinya semakin bersemangat menjalani hidupnya. Di China sendiri belum banyak BUMN yang bergerak dibidang internet. Kue yang dibagi masih milik pencari kesempatan seperti dia. Kebanyakn bisnis internet di China sendiri "meniru" di Amerika. Tetapi tidak semua ide bisa dikembangkan di China seperti halnya kisah Twitter (made in China). Ia berkisah butuh pemahaman dan relefansi akan kebutuhan pasar.

Dia cuma butuh dua minggu agar lisensi web hosting 55tuan.com disetujui. Sisanya adalah kebranian dirinya untuk bisa bernegosiasi dengan hukum, tentu itu dalam tataran legal ya. Ia cuma punya rencana bisnis terus menjalankannya sebaik mungkin.

Menjalankan 55tuan.com bukan perakara mudah. Situs ini sekarang salah satu situs jual- beli terbesar di China. Banyak kloning Groupon bermunculan tetapi tidak mampu bertahan. Mereka tidak bisa bertahan dari pesatnya pertumbuhan Internet di China. Tan pun sudah mengambil ancang- ancang mendirikan perusahaan baru berupa VC atau Venture Capital.

Dia bersama kawan lantas mendirikan QuestVC, sebuah perusahaan pendanaan asal China. 55tuan miliknya menarik banyak pendiri startup. Mereka pemilik eCommerce tentu tidak akan melewatkan satu sesi mentoring. Tan lantas menjelaskan fokus QuestVC adalah investasi angel. Bukti kerja kerasnya ada 6 perusahaan yang berumur 1,5 tahun dan dua perusahaan teknologi asal Singapura, Carousell dan Burpple.

Membuka Kursus Online Lewat Video iPhone

Profil Pengusaha Nick Walter 



Entrepreneur muda di era globalisasi sekarang ini. Bagaimana kisah pemuda 25 tahun asal Provo, Utah, mampu menghasilkan pendapatan miliaran rupiah. Suatu hari, Nick Walter tidak sengaja mendengar Udemy dari teman. Ini merupakan platform dan pasar pembelajaran online. Dimana, disini, siapa pun boleh menjual keahlian mereka menjadi kursus. Tetapi tidak mewajib meminta biaya kursus disini.

Walter sendiri merupakan seorang developer iOS. Dalam sekejab pikirannya menarawang jauh, "kanapa ia tidak menawarkan ini." Kisah pun berlanjut, dimana ia mengecek situs Udemy, menyadari bahwa apa yang ia harapkan tidak mudah. Banyak persaingan dimana mereka menawarkan pendidikan "mematikan". Mereka disana menawarkan pendidikan lengkap.

Dia tidak menyerah. Karena ia sendiri yakin akan kemampuannya tersebut. Ia sendiri baru saja diterima jadi internship di perusahaan konsultan teknologi asal Seattle Dalas, Periveda Solutions. Meski ia menikmati hal pekerjaanya disana. Dia tetap merasa jenuh bersama rekan dan temannya.

"Saya benci karena saya harus selalu di kantor untuk X waktu yang tidak lain apa yang mereka katakan saya harus lakukan," ujarnya. Dia juga tidak suka mengenakan pakaian polo dan celana kain. Hatinya lebih suka kebebasan seperti kaus oblong dan celana jean.

Bisnis sendiri


Meski dibayar setiap bulan -perasaan tak tenang terus datang. Ia lantas memutuskan tidak terlalu mengambil pusing. Dia kemudian bekerja part- time bersama di BYU untuk dua tahun kemudian. Walter memutuskan berhenti bekerja. Ia mulai mengerjakan aneka aplikasi iPhone. Total tuju aplikasi dikerjakan bersama teman salah satunya Weight Lifting Videos, menghasilkan pendapatan bulanan $1.2000 per- bulan.

Inspirasi entrepreneur baru ini: "Saya tengah membaca buku Tim Ferris, The Four- Hour Work Week," tutur Walter kepada Forbes.com. "Ferris bercerita bagaimana bisnis terbaik yang bisa kamu lakukan ada di bisnis pendidikan," paparnya. Walter sendiri sudah tidak lagi masuk kuliah sejak bulan Mei ketika usaha aplikasi How-to- nya berjalan baik.

Hingga, ia mendengar berita tentang bahasa pemrograma baru Swift. Dimana ini tengah digencar- gencarkan oleh pihak Apple dan disanalah ide muncul. Dia mulai belajar Swift, merekam itu dalam format video, lantas menjualnya sebagai kurus online. "Untuk empat hari selanjutnya apa yang saya lakukan masuk ke dalam situ bahasa pemrograman," jelas Walter.

"Itu adalah bangun tidur, makan, belajar, mengajar, makan, belajar, mengajar, makan, belajar... saya bahkan mematikan telephon saya dan pergi ke "gua" saya," jelasnya lagi. Ia cuma berpakaian piyama, mereka suara sendiri, dan melalukan pengambilan gambar, membuat 50 video dalam 4 hari saja.

Kemudian ia mengupload ke Udemy. Appla meluncurkan kelas belajar 2 Juni, dan Walter meluncurkan soal pelajarannya 5 Juni dan selama 24 jam GRATIS. Pertama ada 1.600 orang mendaftar. "Itu mengejutkan ku," katanya. Hari berikutnya naik harga jadi $199 dan omzetnya $20.000. Dalam tempo 30 hari, ia mengantungi $40.000. "Itu lebih banyak dari yang saya buat tahun lalu," jelas Walter penuh semangat.

Tanpa disangka Udemy malah mengirim email ke 60.000 orang yang kiranya tertarik oleh pelajaran Walter, dan website tersebut memberikan diskon $29. Kerja sama tidak terduga itu mampu menghasilkan angka $3.000 sampai $5.000 per- bulan. Orang yang belajar di kelas Walter mulai menguhubunginya apa bisa ia mengajarkan cara membuat app iOS. Ia kebetulan tengah mengerjakan "How to Make a Freakin' iPhone App".

Dia menyasar dua pasar Udemy dan KickStarter. Untuk KickStarter sendiri, ia menghasilkan $66.000 lewat pre- selling $199 di Udemy, cuma untuk $29. Angka $66.000 itu didapatkan cuma dalam satu bulan sejak peluncuran. Lantas untuk diapakan uang- uang tersebut? Menurut beritanya, Walter mampu membayar sewa rumah $350 dan makan selalu di restoran enak setiap hari. Dia bisa membeli $9.000 Toyota Corolla dan ditabung.

Aplikasi Caviar Bermodal Seratus Ribuan

Profil Pengusaha Jason Wang

 

Jason Wang salah satu lulusan terbaik Y Combinator. Sedikit tentang Y Combinator, adalah sebuah sekolah bagi entrepreneur mengembangkan startup. Salah satu alumninya, ya, si Jason Wang ini bermodal startup bernama Caviar. Kisahnya bukan sembarangan karena diakun banknya, Jason cuma memiliki $10 dan punya tunggakan sewa selama dua minggu. Ajaibnya dia tetap survive menghasilkan startup baru dan masuk Forbes 30 Under 30.

Ia mendirikan Caviar karena kelaparan. Bukan kelaparan akan makanan enak seperti tema startup miliknya. Dia kelaparan akan kesuksesan. Jason termasuk sosok aktif menghasilkan rangkaian startup. Bicara yang pertama, dia pernah membuat website tentang Cardcaptor Sakura. Lewat website tersebut ditumpahkan lah segala sesuatu yang ia ketahui. Hasilnya? Website ini menghasilkan 30.000 visitor unik setiap bulan dan $30 dari iklan.

"Beberapa bulan kemudian pencipta Cardcaptors mengemail saya dan menahan nama domain saya, itulah jadi akhir bisnis pertama saya," ungkap Jason kepada awak media Hyperlush.com

Hal selanjutnya dilakukan adalah membuat aplikasi sendiri. Kali ini, Jason menciptakan alat yang mampu menarik data dari Craiglist -salah satu situs promosi terbesar di dunia. Itu sangat menghasilkan tetapi lagi- lagi tindakannya dilawan balik. Pihak Craighlist memaksanya berhenti dan tidak melanjutkan.

"Itulah awal saya memutuskan mencoba bisnis besar," tuturnya. Seperti halnya para entrepreneur muda lain di bidang internet, Jason juga melihat "booming". Salah satunya ketika tengah naik daun situs daily deals maka jadilah dia ikutan nimbrung. Hasilnya sangat memuaskan karena memang dia benar memilih. Dia mengamati langsung dari sang juara Groupon.

Situs juara


Jadi kami memutuskan membuat situs tentang 100% makanan. Itulah awal mula MunchOnMe. "Kami mulai meluncurkan itu di UC Barkley karena mahasiswa suka deal. Peluncurkan MunchOnMe sendiri bertepatan dengan datangnya Paul Graham penggagas Y Combinator. Ini kesempatan bagi mereka merubah posisi di startup mereka. Hasilnya tidak lah buruk, dalam acara tersebut mereka mendapatkan 3.000 pengunjung pertama.

"Setelah peluncuran, kami segara mendapatkan 3.000 mahasiswa untuk deal kami, yang tidak lain adalah free taco," kenang Jason.

Kala itu usaha Jason mendapatkan suntikan dana $18.000. Selepas acara tersebut, mereka mendapatkan satu kesempatan memerkan usaha mereke ke investor. Pitching pertama mereka selam tiga menit dan dilihat banyak investor.

Sayangnya, setelah beberapa tahun berlalu, Jason sadar akan satu hal: Bisnis daily deal bukan bisnis yang bertahan lama. Jugalah tidak menguntungkan menurutnya kala itu. Rangkaian pencarian restoran untuk jadi patner sudah tidak berarti. Faktanya pemilik restoran sudah merasa mereka sudah punya "jalur marketing" -nya sendiri.

Disaat itu, mereka tengah menghadapi kesulitan keuangan. Tidak menghasilkan apapun cuma bertahan dari uang pemodal untuk bertahan. Tetapi tidak, mereka tidak bisa bertahan, dan memutuskan untuk tidak tinggal lama di MunchOnMe. Mereka juga butuh waktu hingga menemukan ide bisnis baru. Butuh waktu sekita satu tahun setengah hingga Caviar ditemukan.

"Pada satu titik waktu, kami hanya memiliki $10 di rekening bank bisnis kami. Biaya sewa sudah menunggak 3 minggu. Dan kita harus membayar $ 600," kenangnya kembali.

Menyimpan. Menjual barang- barang. Meminjam uang. Dan hidup dengan amat sangat sederhana.

Itu adalah masa paling galau penuh keputus asaan. Bayangkan jika tidak dalam tiga minggu membayar $600, mereka akan menutup perusahaan. Jason dan kawan belajar bagaimana caranya bertahan selama tiga minggu tersebut. Hingga Jason Wang menemukan ide bisnis tiba- tiba:

"Suatu hari kami benar- benar ingin makan sandwich yang kami cintai. Tetapi kami tidak ingin pergi ke sana restoran, yang mana butuh berjam- jam karena kemacetan, lalu menunggu dalam antrean untuk satu jam lagi, dan kemudian mengambil satu jam di lalu lintas untuk kembali ke tempat. Kami menelepon dan meminta mereka untuk pengiriman, tapi tentu saja, mereka tidak memberikan," jelasnya mengenai apa itu Caviar.

"Jadi kami mau makanan, tetapi kami tidak mau kehilangan 3 jam untuk mendapatkannya," paparnya lagi. Ini menjadi konsep matang dalam waktu beberapa jam. Jason menyebut konsep layanan pengiriman makanan. Dan menyasar restoran yang enak tetapi tidak memberikan layanan tersebut. Itulah ketika mereka menyadari suatu kesempatan.

Titik balik

Ketika memulai jasa pengiriman makanan, awal sekali, Jason dan kawan- kawan lah yang menjadi tukang kirim barang. Hingga mereka cukup modal mempekerjakn orang lewat Craigslist. Restoran pertama yang ia ajak kerja sama yaitu HRD. Jason menjualkan kimchi burtio mereka.

"Kami hanya memiliki satu item yang Anda bisa membeli di situs pada waktu dan kami hanya beroperasi selama 2 jam," kenangnya kembali.

Mereka memutuskan menjadi perantara mereka. Banyak restoran enak yang tidak mempunyai waktu dalam hal pengiriman. "Saat itu kami hanya bermodal $10," tutur CEO Caviar ini. Mereka menggabungka nilai di dunia maya ke dunia nyata. Hal yang mereka pelajari dari usaha sebulmnya di MunchOnMe. Mereka sadar bahwa situs daily deal mereka berguna, tetapi tidak menggenjot pemasukan perusahaan.

Fakta lain, situs daily deal tidak bukan 24 jam, padahal Jason sudah bekerja 24 jam penuh dari pagi sampai ke malam. Ada kendala logistik yang lantas mereka temukan. Kenapa harus bekerja pagi sampia malam jika masalahnya di logistik. Biaya logistik mahal dan rumit dimanfaatkan perusahaan mereka. Inilah nilai tambah yang coba dikerjakan olehnya. Jason membangun Caviar menjadi jaringan pengiriman lebih baik.

Restoran kemudian sadar bahwa ini bukan soal daily- deal lagi. Mereka menyadari maksud Jason, "kami pun membuka layanan di sejumlah titik di San Fransisco dan terus memperluasnya."

Mereka aktif lagi sendiri sebelum membangun staf. Ada empat orang dalam tim Jason, mereka mengerjakan seperti website, desainer, pengiriman makanan dan dukungan konsumen. Namun, ia masih kekurangan orang berpengalaman. Karena kekurangan orang, meski tidak punya pengalaman soal logistik, Jason turun tangan menjadi bagian pengiriman pesanan.

Ia bahkan mencantumkan nomor pribadinya. Jason ingin menjadi yang pertama tau jikalau kesulitan mungkin terjadi. Dia fokus dikendala mitra restoran dan konsumen. Hal terbaru adalah menambahkan fitur lebih baik soal costumer service ini. Mendirikan aplikasi Caviar berarti mengajak lebih banyak restoran. Awal sekali, mereka baru mendapatkan 2 restoran sudah bahagia setengah mati. Kini, mereka ingin lebih agresif merekrut mitra.

Caviar juga getol merekrut staf dan pekerja. Mereka juga mencoba melihat aspek lain. Tidak mau monoton di bisnis yang sama. Caviar merupakan aplikasi berbasis website. Kemudian tumbuh dijadikan oleh mereka menjadi aplikasi berbasis Android dan iOS. Mereka mencoba memperkenalkan layanan logistik lebih cepat. Alhasil Caviar sendiri tumbuh di 15 kota berbeda di Amerika.

"Meski kami mencapai hal banyak dalam waktu singkat. Kami terus berkomitmen pada mitra- mitra restoran kami dan pelanggan dengan prinsip yang sama yang kami miliki sebelumnya saat memulai bisnis ini," papar Jason. "Kami terus memberikan makan lebih banyak orang," tambahnya. Caviar masih terus memberikan kemudahan menyantap makanan.

"Dan saya bahkan kadang masih menerima pertanyaan konsumen," tutup Jason.

Alamat Twitter @jwang815

Biografi Wang Jianlin Orang Terkaya China Bisnis Properti

Pengusaha Properti Terbesar China



Sama halnya dengan sosok Li- Ka Shing, sosoknya bukanlah terlahir dari keluarga orang super kaya. Tetapi mentalnya lah yang membangun kekayaan tersebut. Wang Jianlin, presiden direktur Wanda Group, adalah putra seorang tentara. Seperti hal ayahnya, Wang juga pernah menjadi tentara diumur masih 15 tahun. Ini sangatlah berat. 

"Sebuah pelatihan musim dingin diadakah oleh Chairman Mao saat itu dan dimana anak muda harus melatih daya tahan lewat berbaris panjang dan berkemah untuk membentuk tubuh," kenangnya. "Itu sangatlah sulit karena saya masuk ketika ada the yeying- lalian military movement."

"Dalam dua bulan kami berjalan 1.200 kilometers!" jelasnya.

Tahun 1978, dia dipromosikan menjadi pimpinan platon, dan direkomendasikan mendapatkan pendidikan khusus kemiliteran. Meski memiliki mental tangguh, faktanya sosok Wang muda bukanlah seorang atletik, tidak pernah sama sekali baik dalam merayap, melewati rintangan, ataupun menyerang. Dia cuma memiliki apa yang disebut mental. Bahwasanya dia percaya akan kemajuan China dibawah komunsisme.

Ia seorang revolusiner. Dia merasa melalui komunisme bisa membebaskan seluruh China. Sementara itu di luaran sana China mulai berubah menjadi raksasa ekonomi dunia. Deng Xiaoping memimpin dan merubah tatanan ekonomi lebih marketif. Tetapi Wang tertinggal dan tidak aktif hingga memasuki tahun 1986. Sosok Wang memang bukanlah pengusaha sejak awalnya hingga tahun itu.

Setahun sebelumnya ebijakan militer ditegaskan. Dimana pemerintah mengurangi kebutuhan pasukan sampai satu juta orang. Inilah yang membawa Wang ke arah dunia bisnis. Ia merubah arah karirnya menjadi seorang administratif untuk pemerintahan. Dua tahun kemudian, di 1988, dia mengambil alih satu perusahaan terafiliasi pemerintah Xigang Housing Development. Bukan tanpa beban karena perusahaan itu telah memiliki banyak hutang.

"Inovasi berarti konsisten merubah pola lama," ucap orang terkaya China 2015 ini. Tetapi bukan cuma itulah kunci sukses Wang, tidak cuma inovasi tetapi kemampuan memprediksi dalam keberanian.

Raja real estate


Kekayaan pertama Wang datang dari perusahaan hampir bangkrut. Xigang Housing Development akhirnya mendapatkan hutang dari seorang kawan Wang. Orang yang bekerja di Bank tersebut memberinya modal untuk bergerak. Sukses Wang terbilang cepat sukses merubah kota kumuh menjadi ladang real estate. Lalu usaha Xigang Housing berubah menjadi perusahaan real estate model join stock terbatas.

Hal baik tidak selamanya bertahan. Itulah yang dirasakan seorang Wang ketika pemerintah melihat bisnis real estate bahaya. Terlalu banyak spekulasi dan tumbuh terlalu cepat, pemerintah China memutuskan meredam hal tersebut; pemerintah berhenti mengucurkan dana.

Tahun 1992, Wang mulai mencari hutang sana- sini, bahkan mengunjungi 50 bank berbeda. Dia sudah berdiri didepan kantor direktur sampai sepuluh kali dan yang terpanjang adalah sepanjang hari. Hanya saja hasilnya tidak sama sekali. Itu merupakan sebuah ingatan buruh bagi Wang. Sebuah penghinaan baginya yang punya jiwa tentara.

"Jadi saya berkata kepada diri saya sendiri saya harus kuat, membuat brand, dan memberishkan nama saya suatu hari," kenang Wang kembali.

Dia mengingat 17 tahun masa pelatihan militer. Itu membuatnya tetap kuat dan terus berusaha maju. Hingga sekarang, mentalnya masih terlatih di kehidupan sehari- hari, dimana ia tidur jam 11 malam dan tidak seperti pengusaha China lain; dia tidak minum atau merokok. Hal lain, dia suka menyanyi lagu Tibet atau Mongolian ketika meeting kantor sambil bergaya militer. Wang punya beberapa hobi tetapi tidak spesifik di olah raga.

Anehnya ketika ia sukses membalas rasa malu tersebut. Banyak permintaan dari pemerintah kota untuk Wanda Group agar membantu pembangunan. Wang pun mempunyai prinsip sendiri, yakni "Melayani mereka (pemerintahaan) yang menginginkan kota lebih baik." Dia juga meminta perusahaan jujur dan fokus ke tujuan. "Kami tidak menyuap pejabat dan, meski dekat dengan pemerintah, kita tinggal jauh dari politik," katanya.

Tidak masalah dari mana latar pendidikan kamu tetap keberanian yang utama. "Apakah anda sukses masuk Tsinghua dan Universitas Peking, atau Harvard dan Yale, nyali yang yang terpenting dan yang membuat orang kuat, " kata Wang kepada sekelompok mahasiswa Universitas Harvard beberapa tahun lalu.

Ia menyebut titik balik Wanda Group ketika menemui masalah. Ketika itu mereka menghadapi kegagalan di proyek komersial pertama tahun 2003. Tahun 2006, mereka memulai proyek perjalanan wisata kota, dan menunjukan perubahaan.

Wang meminjam uang $80.000 untuk Dalian Wanda Group membangun. Dia adalah pimpinan dari Wanda Group yang mana sekarang merupakan developer terbesar di China, sejak 1988. Wanda Hotels dan Wanda Resorts Co Ltd telah membuka 71 bintang lima dan sangat mewah disepanjang China. Dia juga berinvestasi miliaran dollar di Sydney, London, Chicago, dan Los Angles.

Wand Group juga mulai agresif masuk ke bisnis entertainment. Seperti membeli 150 teater di China, dan juga memiliki 380 teater di US, Kanada, dan negara lain. Wang membeli AMC Entertainment sebuah perusahaan frenchise untuk aneka bisnis hiburan. Wanda Group juga membangun usahanya sendiri lewat Superstar, satu tempat karoke berjumlah 90 buah dipenjuru China. Awal tahun 2015, Wang membeli saham 20% Atlitico Madrid.

Wang memiliki satu putra bernama Wang Sicong -media China memanggilnya National's Husband. Mungkin karena obsesinya akan uang, wanita dan kekerasan. Fakta dia memang dididik kebaratan telah memberikan kesan negatif. Tetapi Wang Sicon merupakan salah satu eksekutif penting Wanda Group bukan anak manja. Pria 27 tahun yang pernah membuat geger dunia maya lewat foto anjingnya mengenakan dua Apple Watch.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba