Kampung Kue Buruh Pabrik dan Pengusaha

Biografi Pengusaha Choirul Mahpuduah


buruhpabrik.png
 
Menjadi buruh pabrik dan pengusaha. Kampung kue merupakan perwujudan pemberdayaan. Ia pernah dipecat perusahaan. Itu tak membuat Choirul Mahpuduah atau Bu Irul  terpuruk. Ia pun menjadi sosok penggagas kampung kue yang terkenal itu.

Dia pernah diliput media asing loh. Ternyata usut punya usut, bukan cuma soal itu, ternyata sosok Irul merupakan satu aktifis buruh. Apa yang dilakoninya sekarang tidak jauh dari buruh dan kaki lima. Terus gimana sih ceritanya? Berikut kisahnya:
 

Buruh Pabrik Jadi Pengusaha


Jauh sebelum dia pernah bekerja menjadi buruh pabrik. Apes karena harus menerima PHK sepihak. Irul bercerita kenapa perusahaan memecat dia. Tahun 1990, dia bekerja menjadi buruh aneka macam di wilayah Rungkut, Surabaya. 
 
Namun tahun 1993 akhir, diberhentikan oleh perusahaan sepihak dan semua karena dia terlalu vokal. Yah, seperti penulis jelaskan dia adalah seorang aktifis. Dia sering menyerukan hak- hak buruh wanita.

Dia menyerukan soal cuit haid dan sebagainya. Irul juga dikenal "profokator" teman- teman buat berdemo. Irul memang getol mengajak buruh bersuara atas hak mereka. Perasaan kecewa berat ketika ia sadar bahwa dirinya dipecat. 
 
Dia merasa yang dituntut telah sesuai peraturan pemerintah. Awal tahun 1994, ia bersama tiga orang kawan mengajukan tuntutan pengadilan. Karena tidak punya uang Irul dan kawan sempat bingung.

Irul lantas mengajukan biaya pengadilan dibebankan ke negara. Hakim sempat menolak hal tersebut. Tetapi berkat kegigihan Irul dan kawan, dibantu pihak wartawan, masyarakat luas dan lembaga swadaya; mereka akhirnya menang.

Irul dan kawan bisa bersuara di peradilan secara gratis. Meski biaya keadilan ditanggu negara tidak semudah itu. Mereka buta akan hukum perburuhan. Untuk itulah, ia aktif belajar sendiri tentang UU buruh dan lain hal soal peradilan. 
 
Dia banyak dibantu para aktifis, LBH, atau wartawan. Kala itu dia sendiri apalagi "musuhnya" punya 6 orang pengacara. Beryukur karena padah akhirnya gugatan tersebut bisa dimenangkan oleh hakim.

Memenangkan tuntutan berarti pemecatan Irul tidak sah. Meski perusahaan menuntut ulang atau banding, sampai Mahkamah Agung butuh waktu sepuluh tahun. Berkat tuntutan dipenuhi oleh Hakim maka Irul bisa bekerja kembali. 
 
Selain itu perusahaan diwajibkan membayar ganti rugi Rp.3 juta. Sayang, kenyataanya, dia tidak bisa bekerja kembali karena berbagai dalih. Uang ganti rugi tiga juta itu juga keluar beberapa tahun kemudian.

Dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Menurutnya ini contoh bagi sesama buruh agar tetap berjuang. Ia juga berharap mereka tidak takut maju ke pengadilan. Untung berkat jaringan aktifis buruh miliknya. Dia tak perlu menganggur berlama- lama. Irul bisa bekerja kembali. 
 
Bukan bekerja menjadi buruh, tapi ikut aktif di seminar buruh, advokasi, membantu buruh lain. Dari sanalah ada uang transport, uang saku, dan sebagainya. Hidup di dunia pergerakan buruh, Irul masih seorang wanita biasa, hidup bersosial dengan ibu- ibu lain di lingkungan sekitar. 
 
Ia tinggal di kawasan sederhana di kawasan Rungkut Lor Gang 2, Surabaya. Di kampung itu kebanyakan berisi pekerja kasar atau kelas menengah bawah. Suatu hari, ia melihat 5orang ibu tengah menjajakan kue. 
 
Mereka berjualan kue cukup lama yakni lima tahun. Sayang tidak kunjung berhasil menjual banyak. Iseng, Irul lantas memanggil mereka diajak berdiskusi. Dibukalah topik tentang usaha apa yang mereka bisa kembangkan di kampung. 
 
Menurut pribadi di kampung yang mayoritas pendatang ini, tersimpan satu potensi tersembunyi. Dalam diskusi tersebut mengerucut tiga hal bisa dilakukan: Membuat aneka kue buat dijual, membuka usaha jahitan, dan membuat sabun cair. Bersama 9 orang ibu dibukalah jahitan khusu jahit celana pendek.

Sayang, setelah berjalan beberapa waktu, usaha jahitan tidak berjalan seperti diharapkan. Setelah memikir ulang apa masalahnya. Dia memutuskan melanjutkan ke bisnis keduanya. Dan mereka mulai membuat aneka kue buat dijajakan. 
 
Cuma berbekal pengetahuan pas- pasan langsung beraksi. Irul mengumpulkan ibu- ibu lewat pos kamling. Seolah aktifis buruh ini tengah mengajak berdemo. Padahal dia cuma mau membahasa masalah ini.
 
Dia memang tengah berdemo di pos kamling. Padahal mengajak berdemo memasak. Pertama kali sekali, Irul cuma membuat jajanan sederhana, yakni jajanan tahu crispy. Ternyata warga kampung antusias apalagi ini hal baru. Tahu crispy terlihat sederhana namun menghasilkan. 
 
Modal dikeluarkannya pun tidak terlalu besar. Ia mulai merayu warga terutama ibu- ibunya. Mereka menanggapi ide Irul antusias. Ini membuat Irul jadi lebih semangat lagi. Pemahanam penting bagi bisnis kue miliknya. Dia sadar bahwa jajanan sederhan penting. 
 
Terutama bagi para warga pendatang Ibu Kota. Kalau tak sempat sarapan, tentu kue ringan bisa menjadi solusi melewati jalanan Jakarta. Kue bisa dijadikan pengganjal perut sebalum bekerja. Para ibu mulai rajin menjual kue buatan sendiri di depan rumah. 
 
Irul juga tidak mau kalah. Jualan kaki lima dilakoninya sebagai bentuk penyemangat. Diawali dari berjualan di depan pagar sekolah. Tepatnya sekolah di sekitar Kelurahan Rungkut Surabaya. Kue buatanya cukup laku disana. 
 
Sayang, ketika Ibu Tri Rismaharini menjadi Kepala Dinas Kebersihan, dia harus menatap kecewa. Pasalnya kebijakan membersihkan trotoar berimbas di bisnis kecil Irul. Program lahan hijau Risma mengganggu karir yang baru dirintis.

"Kesal juga rasanya, pelanggan sudah banyak, kemudian dirobak," luap Irul.

Tetapi ia mengambil hikmah saja peristiwa tersebut. Tidak bisa berjualan tidak membuat menyerah. Apalagi dia menjadi contoh bagi ibu- ibu sekampung. Karena sudah pelanggan bahkan sampai rumah dicari. Mereka mencari Irul sampai ke rumah. 
 
Karena pesanan membludak, tidak segan Irul mengajak ibu- ibu tetangga buat membantu menyetok kue.Semua dilakoni baik pesanan lama atau dadakan. Pagi buta sudah memasak kue, Irul sudah dibantu ibu- ibu kampung mengerjakan kue- kue tersebut. 
 
Mulai dari jam 02:30 sampai 06:00 WIB dimana pelanggan tetap para penjual kue. Dari pedagang kue kaki lima kini menjadi juragan kue. 
 
Hidup Irul berubah 180 derajat dari sebelumnya. Mereka pedagang kue keliling menyebarkan kue buatan Irul sampai pelosok.

"Lumayan, sekarang keuntungan per- hari mencapai Rp.20 juta," ujar Irul.

Ada pula yang cuma dititipkan di Pasar Soponyono, Rungkut. Ditambah pesanan dari acara besar seperti hal pernikahan. Memang bisnis aneka kue ini menggiurkan apalagi dikerjakan gotong royong.

Menjadi Pengusaha

 
Namun, kamu jangan membayangkan akan semudah diatas. Awal sekali, Irul kesusahan membangun jiwa wirausaha dihati mereka. Apalagi ditambah uang modal tidak mencukupi. Sebagian besar warga kampung itu pegawai kelas menengah kebawah. 
 
Ibu- ibu mengeluh kesulitan mencari modal. Irul lantas mengajak mereka patungan Rp.50.000 setiap orang. Uang tersebut digunakan untuk siapa saja yang butuh modal. Beberapa saat akan ada ibu yang meminjam uang tersebut. Ibu itu meminjam Rp.100.000 buat membeli wajan katanya. 
 
Selepas wajan terbeli hingga berproduksi. Selepas uang terkumpul dikembalikan lagi dan lagi dipinjam ibu lain. Begitu seterusnya modal berputar- putar ditengah. Pada akhirnya, usaha tersebut malah jadi satu koperasi bersama. Irul sempat bersedih ketika pinjaman bank ditolak. 
 
Karena kebanyakan bukan warga asli.

"Tidak punya KTP Surabaya, dan disebut tidak punya agunan," kenang Irul. Cara lain dilakukan olehnya ialah lewat PT. HM Sampoerna Tbk, berupa pelatihan pengembangan usaha Sampoerna. Atau mendapat satu sponsor dari PT. Bogasari; Irul agaknya bisa bernafas lega.

Berkat bantuan sana- sini, mereka berhasil sedikit demi sedikit mengangkat nama Kampung Kue. Sudah berbentuk koperasi modal pun lancar masuk. Sampai mereka sudah punya modal uanng Rp.20 juta. 
 
Uang tersebut diberdayakan termasuk lewat berdirinya sebuah perpustakaan. Ia bercerita semua berawal di tahun 2004. Dia pernah diperkenalkan kepada pengurus perpustakan keliling milik perusahaan tertentu.

Melalui pembicara serius ternyata si pengurus berminat. Ia berencana membantu warga kampung. Caranya ialah lewat meminjamkan aneka buku bacaan. Kesempatan itu tidak diabaikan seorang Irul. Bahkan selain buku anak- anak, adapula buku ibu- ibu. 
 
Idenya ialah membangun kamus resep mereka. Hasilnya mereka semakin variatif soal jenis kue. Perpustakan keliling tersebut selalu dibanjiri ibu- ibu ketika datang waktunya. Mereka dibiarkan bereksperimen sendiri. Aneka kue dibuat menurut keinginan masing- masing. 
 
Mereka juga saling mengevaluasi hasil eksperimen. Semua penuh optimisme, warga kampung semakin bergairah berjualan. Irul bersama 60 orang anggota semakin mantap menatap. 
 
 
Apalagi semenjak ada bantuan Taman Bacaan Masyarakat dari sosok Walikota Surabaya sendiri. Yah, Tri Rismaharini kembali "berbenturan" dengan sosok Irul. Warga kampung mendapatkan harapan baru menambah penghasilan. 
 
Disisi lain, lewat adanya TBM juga ikut mencerdaskan anak- anak perkampungan ini. Satu pos kampling telah disulap oleh Pemkot dijadikan taman bacaan. Disana juga dipasangi akses internet membuat lebih mudah. 
 
Kalau sebelumnya para ibu akan datang sesekali (ketika mobil perpustakaan datang). Kini, mereka sudah bisa datang kapan saja bebas membaca buku resep. Mereka juga bisa membaca resep lewat browsing di internet. 
 
Alhasil Kampung Kue semakin bersemangat untuk membuat aneka resep baru. Kampung mereka mulai dikenal luas oleh masyarakat luas. Banyak warga kampung lain datang memesan kue. Warga Kampung Kue pun tidak perlu berjualan di luar kampung lagi. 
 
Justru penjual kue keliling yang datang ke kampung mereka. Sejak dini hari sudah terlihat aktifitas produksi kue.

Sejak pukul 04:00, para penjual kue keliling sudah berjubel menunggu. Mereka menunggu kue mereka siap diedarkan. Untuk nama Kampung Kue, sejak 2010, resmi diresmikan sendiri oleh sang penggagas Choirul Mahpuduah. Semenjak itupula nama kampung pendatang itu berubah nama. Pemberian nama itu memang sengaja dilakukan sebagai bentuk brand awareness. Lewat kesepekatan warga, nama Kampung Kue makin diresmikan.

Jumlah produsen kue total 65 orang. Cakupan produsen tidak lagi menyebar di satu gang. Sudah mengular merembet ke gang- gang sekitarnya. Perputaran uang di tempat ini mencapai Rp.25 juta. Varian kue sudah mencapai 70 jenis, seperti onde- onde, lemper, terang bulan, tiwul, ketan, lapis, putri ayu, roti kukus, dan bermacam kue kering. Adapula nasi kuning kotakan seharga Rp.1000- Rp.3000. Pembelian juga termasuk untuk hajatan.

Ibu- ibu Kampung Kue juga sering dipanggil menjadi pembicara. Mereka mengajari cara pembuatan aneka kue enak. Honor dari kegiatan tersebut akan dimasukan ke kas kampung. Menurut suami Irul, Riyadi, yang menikahinya sejak 2001, yang dulunya juga buruh pabrik menyebut usaha mereka lebih menjanjikan. Lebih dari sekedar menjadi buruh pabrik perusahaan. Ia rela keluar perusahaan agar bisa membantu Irul membuat kue.

Sementara itu Irul sendiri masih aktif menjadi aktifis. Meski sibuk mengurusi Kampung Kue, dia tidak lupa akan vokalnya, bahkan diangkat menjadi ketua serikat pekerja rumahan. Sosok tepat untuk digambarkan sebagai pengusaha sosial. Menurutnya, makna dari Serikat Pekerja Rumahan, menyangkut dua karir yang digelutinya: Pertama, mengurusi pekerja rumahan seperti pembuat kue ini. Kedua ya pekerja buruh diluaran sana.

Usaha Keripik Sayur Sederhana Omzet 9 Juta

Profil Pengusaha Sunarsih Hariwati 


usahakeripik.png

Usaha keripik sayur sederhana memberikan harapan. Buat ibu- ibu kalau sudah bosan keripik aneka buah. Pengen mendapatkan penghasilan tambahan, maka jualan keripik sayur merupakan pilihan. Dari jualan keripik wortel, sayur kubis, kacang panjang atau wortel bisa,
 
Dikutip dari Koranjitu, seorang pengusaha asal Jaten, Karanganyar, sudah sejak 1997 -an, Ibu Sunarsih Hariwati memulai usaha aneka keripik sayuran. Dibawah label Chrisna Snack, Sunarsih awalnya cuma memproduksi keripik daun bawang. Bisnis pertama yang masih level rumahan.

Jualan Keripik Sayur

 
 
Ibu Sunarsih memulai dari jajanan bernama luncang. Atau, bisa juga disebut jajan cumi- cumi atau kalau kamu bingung. Itu adalah keripik daun bawang khas, yang sayang tidak cukup memuaskan. Para pelanggan inginkan hal berbeda dari Sunarsih. 
 
Jawaban atas itu ada di potensi daerah yang penghasil sayur. Ia menciptakan inovasi dibidang keripik. Kalau di Malang terkenal keripik buah, maka ini keripik sayur khas Karanganyar.

Daerah tersebut memang penghasil sayur mayur. Sayang, banyak miris karena dia banyak melihat banyak orang dewasa tidak suka sayur. Kalau yang tua saja tidak suka sayur. Tidak dibayangkan Sunarsih apa yang terjadi kepada generasi muda. 
 
"...jadi saya bikin bentuk keripik," pungkasnya. Disela- sela kegiatan produksi keripik dia bercerita.

Memang masih tergolong usaha rumahan atau home industry. Pekerjaan produksi juga masih dikerjakan oleh keluarga sendiri. Jumlah ada empat orang karyawan (masih keluarga) selain dirinya. 
 
Kendala terbesar keripik ini menurutnya cuma masalah mesin saja. Oleh karena itupula dirinya enggan mengangkat karyawan lain. Dia masih betah dengan usaha nan sederhana. Wanita kelahiran 17 Desember 1962 ini belum punya mesin besar buat berproduksi.

Sekitar 6- 7 tahun lalu, ada kegiatan jalan sehat yang dihadiri Bupati Rini Iriani, melihat sukses Sunarsih yang mampu mengangkat potensi daerah. Tanpa segan pemerintah daerah menawarkan pembinaan. 
 
Ini disambut baik olehnya melalui ikut serta pembinaan. Dampak dari pembinaan ialah terjalin kerja sama antara produk Sunarsih dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kab. Karanganyar. Rina sendir tertarik akan usaha ini.

Usaha Sederhana


Sunarsih memilih sayuran terbaik di daerah Karanganyar. Dipilih terlebih dahulu barulah dibuat keripik sayur. Untuk keripik daun kenikir pilihan harus berdaun hijau tua. Ini mengandung anti- oksidan tinggi bila dikonsumsi. 
 
Adapula wortel berawarna cerah diambil dari daerah bernama Cepogo. Dipilih yang berwarna orange cerah. Kemudian keripik kacang panjang yang hijau cerah. Ia mengaku tidak mengalami kesulitan bahan baku.

Cukup dibeli di pasar terdekat semua tersedia. Setelah terkumpul, sayur kenikir, wortel, dan kacang panjang langsung diblender halus. Adonan dihaluskan diberi bumbu biar terasa gurih dan dicampur tepung. Selepas itu kamu bisa campur hingga kalis. 
 
Adonan siap dipotong- potong berbentu sesuai keinginan. Adonan keripik tinggal digoreng saja hingga kering. Selepas itu, Sunarsih biasanya akan segera mempacking agar tidak cepat rusak.

Sebelum dipacking jangan lupa ditimbang dulu ya. Chrisna Snack menghabiskan 10kg sayuran untuk empat jenis keripik. Packing kemasan terdiri dari ukuran 175gram, 1,5kg, dan 3kg. Untuk ukuran 175gram seharga Rp.9000. 
 
Kemasan 1/2kg seharga Rp.17.000 dan kemasan 3kg seharga Rp.105 ribu. Buat kamu yang mau jadi reseller ada kesempatan besar. Tentu Sunarsih sudah menyiapkan harga grosir atau potongan. Soal pemasaran sementara sekitar Surakarta, lewat toko roti, toko oleh- oleh, dan reseller perorangan. 
 
Kalau ada tamu dari luar kota datang di Karesidenan Karanganya, maka Sunarsih siap menyetok kebutuhan makanan khas. Dari situ sudah mengantongi omzet Rp.9 juta per- bulan. Tambahan pemasukan meningkat jika sudah masuk di musim lebaran.

Kendala maka ada dua: kendala permodala yang masih mengganggu. Istri dari Kristianto Wicaksono ini, yang kerap merasakan namanya di PHP soal modal usaha. "Waktu pelatihan katanya ada bantuan tapi sampai sekarang belum ada kejelasan," jelas Sunarsih. 
 
Karena minim modal kalau ada yang minta sistem titip. Sunarsih harus berpikir dua kali kalau tidak laku. Bayangkan kalau tidak laku mau modal apa produksi lagi.

"Padahal saya butuh uang untuk perputaran modal," keluhnya. Ibu Sunarsih memang selama ini turun tangan langsung.

Jika tidak maka rugi apalagi tidak punya karyawan. Hitunganya rugi juga kalau memakai sistem titip. Padahal mimpi Sunarsih termasuk memberdayakan petani. Sistem titip maka uang datang ketika barang laku terjual. 
 
Dia juga berharap bantuan berupa mesin. Saat ini cuma mesin kecil berproduksi terbatas. Bila saja mesin besar tentu bisa berproduksi sampai luar Surakarta. Dan, itu akan membuka lapangan pekerjaan baru di sekitar.

Alamat: Chrisna Snack Perum. Josroyo 19 RT 7 RW 20, Jaten, Karanganyar
Telepon : 085647229748

Pengusaha Sendal Kelom Geulis Merambah Eropa

Profil Pengusaha Junjun Arif Nugraha 


pengusahakelom.png
 
Menjadi pengusaha sendal kelom menjanjikan. Kini Kelom Geulis merambah Eropa, berkat kegigihan dan kecerdasan memanfaatkan dunia digital.  Arif termasuk generasi kedua usaha keluarga. Sejak lulus dari kampusnya, mata Junjun Arif Nugraha sudah tertuju kepada sendal kelom. 
 
Usaha pembuatan sandal tradisional khas Jawa Barat. Maklum saja, usaha ini sudah digeluti kedua orang tuanya sejak 1980 -an. Oleh karenanya Arif merasa terpanggil meningkatkan nilai sandal kelom dimata masyarakat. Lewat internet marketing usahanya tersebut ternyata tidak sia- sia.
 

Jadi Pengusaha Sandal Kelom


Usaha sandal geulis dirintis kedua orang tuanya dari toko eceran di kawasan Pasar Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka awalnya pedagang yang mengambil dagangan. Mengambil aneka kerajinan dari para perajin sekitar wilayah Tasikmalaya untuk dijual kembali. 
 
Ayah Arif bahkan bisa memasok sampai ke Bogor hingga Jakarta. Kios kecil milik mereka terus tumbuh. Sebagai pedangan kedua orang tuanya termasuk jeli dalam mengambil pasar.

Terbukti, dari perjalanan permintaan pelanggan akan sandal geulis semakin banyak saja. Di wilayah Bogor khususnya sudah beberapa tempat dipasoknya, seperti di Pasar Cisarua dan Cipanas. Untuk wilayah Jakarta sendiri sudah masuk sampai ke Pasar Jatinegara. 
 
"Saat itu, saya sering bantu- bantu orang tua jaga kios," imbuh Arif. Karena jumlah permintaan semakin meningkat, kedua orang tua Arif memilih membuka bengkel sendiri.

Tepatnya di tahun 1995, orang tuanya membuka bengkel pembuatan sendal khas Tasikmalaya tersebut. Selain memproduksi selom geulis juga memproduksi sendal kulit. Kemudian dibawah bendera PD Zunzun semakin berjayalah usaha mereka. 
 
Berjalannya waktu modal kedua orang tua Arif semakin kuat. Sampai berdiri satu bengkel lagi memperkuat kapasitas produksi mereka. Sumber daya manusia pun naik menjadi 40 perajin berpengalaman. 

"Usaha orang tua saya menunjukkan kemajuan pesat saat krisis 1998, saat itu banyak pesanan yang masuk," kenangnya.

Arif menjelaskan kebanyakan pesanan datang untuk pasar ekspor. Sedangkan pemasaran dalam negeri terbatas Jawa Barat dan Jakarta. Kisah ini semakin berjalan apik ketika Arif mengambil alih bisnis. Jika cerita pengusaha banyak unsur kesedihan dan kegagalan. 
 
Justru kedua orang tua Arif semakin sukses berbisnis. Hingga, di tahun 2006, karena faktor usia mereka mewariskan ini ke tangan seorang Junjun Arif Nugraha.

Merambah Eropa


Usaha Arif terbilang makin memoncerkan PD Zunzun. Itu juga termasuk berkat pengetahuan selama kuliah di kampus Universitas Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Sosok Arif dianggap sebagai generasi kedua yang perlu kamu contoh. 
 
Di tangannya produk mampu merambah daerah- daerah lain. Bahkan sudah sampai ke tanah Eropa berkat internet. Tahun 2007 fokusnya adalah membangun internet marketing. Upayanya itu tidak sia- sia.

Tahun itu permintaan akan produk Kelom Geulis naik. Ia kebanjiran pesanan dari berbagai daerah di penjuru Indonesia. Pesanan bahkan naik sampai 200 persen. Semua orderan masuk melalui website buatannya. Arif bahkan mengaku kwalahan. 
 
Alhasil pemenuhan pesanan terkadang terkendala dan terpaksa harus dia tolak halus. Untuk saat ini, PD Zunzun hanya mampu memenuhi permintaan Kelom Geulis untuk 2000 pasang per- bulan.

Harga jual Kelom Geulis diantara Rp.15.000- Rp.25.000 per- pasang. Omzet penjualan mencapai Rp.160 juta- Rp.200 juta per- bulan. Soal laba bersih Arif blak- blakan menyebut 10 persennya. Pelanggan darinya sendiri adalah para pedagang grosir asal daerah masing- masing. 
 
Biasanya, ia menjelaskan mereka akan jual menjadi Rp.50.000 per- pasang. Untuk eceran jumlah permintaannya jauh lebih besar. Arif bahkan tidak sanggup lagi. Terobosan dalam marketing menggunakan online menjadi kunci. 
 
Namun ingat memperbaiki manajemen dan kualitas harus berjalan beriringan. Itulah kunci sukses Arif lewat pembelian 40 unit mesin jahit baru berbagai jenis dan ukuran. Adapula mesin pendukung lain yang lebih modern. 
 
Seperti mesin cangklong, mesin press otomatis, mesin penipis kulit, ruang oven, mesin oven elektrik, gergaji besar, penyedot debu, dan peralatan lain. Bahan dasar pembuatan sandal Kelom Geulis sendiri dari kulit sintetis atau kayu. Seluruh produksi sudah ada standarisasi satu atap. 
 
"Sehingga lebih gampang mengawasi quality control dari produk kami," ujar Arif lagi. Jadi tidak salah kalau namanya menjadi salah satu pengusaha muda rujukan. PD Zunzun meski kecil tetapi sudah memiliki berbagai inovasi dalam produksi. 
 
Tahun 2007, PD Zunzun mendapat pengakuan Dji Sam Soe Award.

Secara pribadi, Arif juga pernah mendapatkan penghargaan bernama Lelaki Sejati Pengobar Inspirasi 2010 dari Bentoel.

Sejak mengambil alih dari kedua orang tua, sejak 2006, fokus Junjun Arif Nugraha ialah memperbaiki brand miliknya. Lewat penjualan interaktif berbekal media sosial digalang. Terobosan tersebut memang tidak sia- sia. Dia sukses membangun image kembali Kelom Geulis. 
 
Pesanan bahkan naik 200% dan semua orderan masuk lewat website toko online milik perusahaan. Trobosan lain adalah memperbaiki variasi desain dan bentuk kelom. Modal dan bentuknya Kelom Geulis menjadi lebih bervariasi. Bahkan motif mega mendung khas Cirebon sudah dimasukan. 
 
Selain itu, adanya ukiran cantik dari bahan kayu semakin menarik kaum hawa. Jadi tidak monoton berbahan kulit sintetis saja.

"Harga sandal ini menjadi mahal," tutur Arif.

Sandal khas Tasikmalaya ini makin moncer. Tidak cuma dikenal di dalam negeri tetapi hingga Eropa sampai ke Spanyol. Kalau dulu paling mentok sampai pasar Jakarta. 
 
Ditangan Arif, Kelom Geulis sudah merambah ke seluruh Pulau Jawa, sampai pula ke Indonesia Timur, seperti Sulawesi Tenggara, Manado, Gorontalo, Bali dan ke Pulau Sumatra. "Saya juga memasarkan kelom geulis hingga ke Sumatra," tutupnya.

Mahasiswa Lulusan Terbaik Universitas Malah Jualan

Profil Pengusaha Fendra Agoprilla Putra 


pengusahamie.png
 
Ia memilih menjadi pengusaha tanpa kerja. Mahasiswa lulusan terbaik universitas malah jualan. Dia yakin menjadi wirausahawan. Padahal katanya nih, dia termasuk mahasiswa berprestasi di kampusnya. Fendra Agoprilla Putra, lulusan Ekonomi Manajemen pernah ditawari bekerja di sebuah bank. 
 
Juga pernah dia belajar berbisnis saham. Meski tampak hebat mimpi tentang jualan mie lebih utama. Ya Ago begitu panggilannya adalah pemilik Mie Nyonyor khas Banyuwangi itu.
 

Menjadi Pengusaha


Dimulai sejak masih berkuliah berkat kegemaran makan bakso. Ketika ada bazar di kampus maka keluarlah kegemarannya itu. Hasilnya bakso buatan sendiri yang menjuari bazar tersebut. Ago memilih mengikuti alur passion -nya. 
 
Bahkan soal berbisnis memilih berjualan apa yang dia suka. Bakso tersebut lantas diberinya nama bakso cinta. Bakso yang berbumbu aneka sayuran sehat. Ada sayur tomat dan beberapa sayur lain warna- warni.

Namun, setelah diamati, menurutnya bisnis bakso tidak bertahan lama. Dia berpikir ulang bisnis lain yang masih sejenis. Maka mulailah otak- atik selama dua minggu. Ago mulai mencari tau aneka resep mie enak. Hingga lahirlah resep sendiri yakni resep Mie Nyonyor. 
 
Untuk menarik perhatian pembeli ditambah konsep level pedas 1-5. Soal mienya cukup memakai mie kering biasa ditambah bumbu istimewa tersebut.

"Rahasianya ada dari saos yang saya buat sendiri," jelasnya.

Sukses membuat resep tinggal bergeriliya mencari pembeli. Awal berjualan ditawarkan kepada teman- teman satu kampus. Pria lulusan Untag Banyuwangi ini pun mendapat respon positif. Modal 1,5 juta digelontorkan untuk berjualan di depan rumah. 
 
Warung mie sangat sederhana berdiri bermodal teras rumah dan dua meja kecil bekas kosan. Uang tersebut merupakan uang pribadi juga dari mantan pacar.

"... uang mantan pacar yang sekarang menjadi istri saya. Uang itu juga termasuk uang "jaga- jaga" kalau gagal," pungkasnya.

Ia tngat betul pertama kali Mie Nyonyor diluncurkan. Pelanggan pertama mienya 20 orang yang sebagian besar teman satu kampus. Ketika pesanan datang Ago akan bergegas lari ke belakang. Letak dapur yang jauh dibelakang membuat keluar ekstra tenaga. 
 
Selepas itu barulah dibongkarnya garasi rumah dijadikan dapur. "... memanfaatkan garasi rumah yang dulu pernah jadi kamar saya untuk di jadikan dapur," kenang Ago. 
 
Memang kenangan pertama kali itu begitu membekas. Dia ya menjadi kasir, menjadi tukang masak, menjadi tukang bersih- bersih yang dibantu ibu. "Istri yang saat itu masih menjadi pacar," jelasnya lagi. Dalam tempo singkat Mie Nyonyor sudah memiliki 20 orang pegawai. 
 
Startegi marketing pertama Mie Nyonyor ialah lewat teman satu kampus. Kemudian marketing itu ditambah penggunaan aneka media sosial memakai nama sendiri. Untuk meramaikan medsos diadakan aneka lomba. Yakni aneka lomba ekspresi kepedasan ketika memakan Mie Nyonyor. 
 
Ternyata cara ini terbilang cukup ampuh menarik perhatian pelanggan. Hadiahnya berupa makan gratis atau bisa aneka diskon. Respon dari marketing tersebut cukup baik. Bahkan banyak pelanggan yang datang membawa teman dan seterusnya. 
 
Dari mulut ke mulut nama Mie Nyonyor mulai dikenal oleh masyarakat. Sukses Mie Nyonyor membuatnya percaya diri menolak pekerjaan. Lowongan pegawai bank atau broker saham ditolak. Semua demi fokus di bisnis mie buatan sendiri. 
 
Hasil kerja keras Ago terlihat dari berdirinya cabang di beberapa daerah. Ada cabang Sukowidi, Ganteng, kemudian di wilayah Banyuwangi. Di luar kota ada di Surabaya (dua cabang), Jember, dan Sidoarjo. Dia dibantu keluarga lewat bagi hasil 3-4 persen omzet.

Soal pengiriman bumbu utama serta ayam tabur khas memanfaatkan jasa travel. Pesatnya pertumbuhan Mie Nyonyor menarik tawaran membuka cabang lain jauh, seperti di Palembang, Batam, Sulawesi, dan Jakarta. Namun kesempatan ini ditolak karena masalah jarak tidak memungkinkan.
 

Lulusan Terbaik Jadi Pengusaha

 
Ago tau pesawat pasti menolak paketnya. Mereka menolak pengiriman paket berupa barang cair seperti pasta. Ago tidak berkecil hati soal ini.  Tidak mau berhenti cuma di mie pedas aneka level. Ago naik pangkat bermodal resep kreasi lain, seperti Mie Nyonyor Saus Bolognese, Ramen Nyonyor, Club Sandwich Panggang dan aneka buah salad. 
 
Adapula layanan tawaran tambah toping atau porsi. Ditanya soal apa resep Mie Nyontor, Ago menjelaskan sedikit rahasianya yaitu tanpa MSG dan cabe tanpa biji. Dimaksudkan agar lebih sehat dan tidak menyerang usus buntu.

Cabai diblender kemudian direbus hingga menjadi pasta. Lalu dicampurkan diatas mie kering siap masak. Ini ternyata menghasilkan kombinasi menarik. Kemudian tidak ada minuman soda karena selepas makan pedas tidak boleh minum soda. 
 
"Itu sudah saya coba sendiri," jelas Ago. Meski cuma berjualan mie, Ago mengaku tidak malu, meski dia menjadi lulusan terbaik dari kampusnya.

Berawal dari konsep mie sendiri yaitu Mie Nyonyor, Ago mulai melirik resep masakan lain seperti mie raman khas. Kebetulan sekali karena di Banyuwangi belum ada mie ramen. 
 
Ternyata hasil karyanya banyak disukai tidak cuma anak muda, tetapi segala usia. Ini bisa dilihat dari banyaknya sepeda motor berjejer. Mereka rela datang jauh ke rumahnya yang disulap menjadi warung. Total sudah ada 6 cabang yang bersebar di daerah Jawa Timur.

Satu porsi mie ramen Nyonyor ada ayam, wortel, sayur hijau, kembang tahu, sosis dan jamur. Tidak cuma itu ada pula potongan sayap ayam dicampurkan. Untuk minuman ada khas juga yakni Es Temulawak Ndut yang segar bergelas super besar. Ini disebutnya kombinasi makanan Jepang dan tradisional Indonesia, tutur Ago lagi.

"Rekomendasi buat mereka yang suka mie dan suka pedas. Apalagi ramennya lengkap toppingnya mulai sayur sampai telur dan jamur," ujar Herpein salah satu pelanggan tetap.

Tidak Punya Pekerjaan Sukses Memelihara Lele

Profil Pengusaha Agus Efendi


pengusahalele.png
 
Tidak punya pekerjaan sukses memelihara lele. Pengusaha lele ini juga sibuk menjadi ketua organisasi kepemudaan GP Ansor Kecamatan Gudo. Ini yang dikerjakan Agus Efendi di kampungnya, adalah berbisnis sendiri. Usaha dijalankan kolam budidaya lele. 
 
Hasilnya lumayan loh, ia pun bercerita bagaimana bisnis kecilnya menguntungkan.

"Siapa bekerja dengan sungguh- sungguh, pasti akan berhasil," Agus membuka.
 

Sukses Memelihara Lele


Pemuda Desa Sukopinggir, Kec. Budo, Kabupaten Jombang ini, awalnya bermodal dari usaha kolam ikan satu kolam. Lumayan usaha kecil Agus menghasilkan 2 juta bibit per- bulan sekarang. Sudah dijalankan lebih dari 12 tahun bukan tidak ada halangan ataupun kerugian.

Ini ternyata usaha keluarga. Ia sendiri tidak begitu berminat meneruskan. Tetapi susah mencari pekerjaan lah mendorong Agus berpikir cepat. Anjuran orang tua didengarkan berkah hasilnya. Bermula dari satu kolam di pekarangan rumah lambat laun diperbanyak.

Dia sekarang jutawan. "Alhamdulillah hasilnya bisa dilihat sekarang," ujar pria 35 tahun ini. Seorang alumni Universitas Brawijaya sudah menekuni usaha sejak 2005. Kalau awal cuma satu kolam kini banyak kolam yang sudah menempati tanah seluas 2 hektar.

Usaha Agus menghasilkan jutaan. Padahal usaha lele dijalankan ayah sebagai sambilan. Ayah Agus seorang petani biasa. Cuma sebuah kolam ikan kecil di belakang rumah. Agus mengamati sang ayah serius beternak lele. 

Tamat SMU, dia tidak berminat meneruskan usaha ayah. Ayah Agus meninggal dunia ketika dia hendak dewasa. Dia memilih melanjutkan kuliah. Membiayai sendiri, dan akhirnya Agus lulus dan bekerja di sebuah Bank Swasta di Kediri.

Sebagai karyawan dia tidak tahan. Uang gaji dianggap pas- pasan. Dorongan menjadi wirausaha bergejolak sampai dia memilih keluar. Uniknya pertama terpintas dalam benak Agus hanyalah jadi petani. Ternyata dari sana hasilnya malah semakin tidak seberapa.

Mata Agus lantas melirik ke tanah galian ayahnya. Kolam ikan tersebut menggelitik Agus melanjutkan usaha budidaya ikan lele. Dia ingin beternak lele. Berbeda dengan sang ayah, Agus tidak mau menjadikan usaha budidaya lele sebagai pekerjaan sambilan. Dia kesana- kemari memasarkan hasil budidaya tanpa kenal lelah.

Ia menembus pasar. Kemudian mendapatkan kepercayaan menjadi penyedia bibit lele. Singkat cerita bahkan dia mampu mengirim sampai ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Bali, dan Kota besar lain. Pasaran diambil Agus meluas begitu pula tanah kolam lele miliknya. Menjadi dua hektar usaha lele Agus makin berjaya saja.

Omzet diraup Agus berlipat ganda sampai ratusan juta. Angka fantastis buat pengusaha asal desa yang tidak dia nikmati sendiri. Dia lalu membuka lapangan pekerjaan puluhan pemuda kampung. Omzet 2 juta bibit ikan lele dan omzet mencapai Rp.200 juta per- bulan.

Semakin bersemangat Agus mulia menyasar ikan Gurame dan Patin. Banyaknya permintaan, ia mulai aktif mengajak kawannya membantu usaha Agus. Ada 30 orang pegawai membantu Agus setiap harinya untuk membudidaya ikan. Ia percaya bahwa usaha apapun jangan dipandang sebelah mata.

Usahanya memang besar tetapi bukan tidak pernah rugi. Ia bercerita pernah bibit lele ratusan ekor miliknya mati. Agus lalu mencari solusi disetiap kegagalan pernah dia rasakan. Dia membuktikan, tidak punya pekerjaan sukses memelihara lele.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba