Pengusaha Kripik Tempe Bertoples Aneka Rasa

Profil Pengusaha Fransiska Sarwono 


pengusaha.png

Pengusaha kripik tempe menjual bertoples- tople. Aneka rasa ia ciptakan dan diterima masyarakat. Ia memulai bisnisnya melanjutkan usaha. Nama pengusaha wanita tersebut Fransiska Sarwono. Usaha yang melanjutkan dulu bersama ibunya.
 
 
Usaha kripik tempe ini pernah ikut membantu biaya kuliah. Kala itu, Siska -panggilan akrab Fransiska Sarwon- masih ingat bagaimana sulitnya mencari uang. Tahun 1997 dimasa dimana ekonomi Indonesia tengah memburuk. Siska harus berpikir keras bagaimana bisa menghasilkan usaha sampingan.

Kripik Tempe Beroples

 
Tempe memang sudah naik kelas. Sumbangsih Siska berupa kripik tempe bernama Kripik Suka. Alkisah, semua berawal dari krisis ekonomi. Membawa hidup susah semakin susah. Apalagi dia tengah menjalankan pendidikan kuliah di Yogyakarta. 
 
Ketika kembali ke Magelang, kota asalnya, bersama sang ibu merintis satu usaha sampingan. Modal seadanya dan peralatan dapur di rumah menjadi pilihan.

Berpikir keras usaha sampingan apa yang membantu studinya. Hingga nasib menuntun Siska membuat kripik tempe Suka. Pertama berproduksi masih sederhana dan sekala rumahan. Sewaktu itu di tahun 1997- 1998 dia bersama sang ibu berjualan kripik tempe di Magelang. 
 
Mereka berkeliling dari rumah- ke rumah naik mobil bak terbuka. "Susah sekali," ujarnya dalah satu sesi wawancara Ciputraentrepreneurship. Sambil berkuliah di Yogyakarta, Siska ketika pulang ke Magelang akan membawa setumpuk kripik tempe. 
 
Dia mulai menawarkan itu kepada teman- teman kuliah. Istilahnya "menodong" mereka agar mau membeli kripik buatannya. Tidak berhenti disitu, dia juga mulai menitipkan itu ke salon- salon atau warung terdekat disekitaran kampus. Hasilnya ternyata cukup memuaskan. 
 
Meski begitu ada saja masalah menerpa bisnisnya. Berusaha makin keras bukan berarti terhindar dari kegagalan. Suatu ketika kemasan kripik tempenya rusak semua dimakan tikus. Itu karena kemasan kripik masih sangat sederhana. 
 
Kantong plastik itu robek dimakan tikus tanpa sepengetahuan pemilik warung. Alhasil Siska rugi besar karena tidak terjual. Apalagi si pemilik warung tidak mau tahu dan meminta pengganti. Siska waktu itu menyanggupi ganti rugi dengan ikhlas.

Baginya warung itu masih punya prospek bagus. Bukan tidak laku malahan laku keras, hanya saja Siska sedang terkena apesnya.

"Ini saya jadikan pelajaran. Setelah kejadian itu kami masih terus titip barang ke sana karena kami lihat prospeknya bagus," ujarnya.

Dua pilihan tengah dihadapi oleh Siska sebagai pengusaha. Apakah memilih mundur atau tetap maju. Dan ia memilih untuk tetap maju apapun halangannya. Cara terbaik yaitu lewat mempelajari apa masalah utamanya. Keinginan kuat menjalankan konsep entrepreneur ada dalam benaknya. 
 
Memang, sejak dulu kala, Siska ingin menjadi pengusaha sukses dan itu lewat Kripik Tempe Suka. Dia berpikir kegagalan adalah pembelajaran. Pelajaran pertama ialah bagaimana memperbaiki kemasan dari produk tersebut. Siska juga belajar untuk tidak terlalu banyak menstok barang.
 

Pengusaha Kripik Tempe

 
Selepas lulus kuliah ada ide bisnis baru yaitu pelatihan bahasa asing. Kedua bisnis itu dijalani olehnya tanpa beban. Namun, ketika sudah menikah lain soal, ibu dua anak ini harus rela harus ikut sang suami dan berhenti berbisnis.

Sekembali dari perjalanan luar kota saatnya berbisnis kembali. Siska fokus melanjutkan bisnis kripik tempe yang berkonsep beda. Lebih modern, variatif rasa, dan bagus kemasannya. Ia melakukan variasi rasa terdiri dari enam varian rasa, yaitu original, daun jeruk, kencur, pedas, super pedas, dan keju. 
 
Soal kemasan ada toples dan plastik. Untuk kemasan plastik seharga relatif murah Rp.7.500, kemudian ada kemasan toples Rp.19.000.

Melalui pembaharuan tersebut berharap pasar lebih tinggi. Dia mencoba memasarkan produknya ke gerai- gerai makanan di sekitar Jakarta. Siska juga mulai bekerja sama dengan pihak lain. Seperti menjual khusus di sebuah supermarket buah dan sayur. 
 
Kripik Tempe Suka juga mencoba masuk lebih dalam ke pasaran luar kota. Agar tidak monoton orang Jakarta saja, tapi juga bisa dinikmati semua warga Pulau Jawa.

"Kemarin dari Sulawesi sudah ada yang Tanya, mudah-mudahan bisa kita taruh di sana. Di medan juga kita sudah mau masuk," ungkap salah satu anggota komunitas TDA ini.

Dia berharap masuk bahkan ke supermarket besar. Merealisasik mimpi butuh perjuangan panuh. Pernah satu kali dia ditolak -dipandang sebelah mata salah satu supermarket besar. Ketika Siska menawarkan sampel ke mereka malah disuruh ditaruh di resepsionis. 
 
"Beberapa hari kemudian saya telepon orang purchasingnya, eh ternyata belum dilihat," ceritanya.

Tidak berhenti disitu, mimpi lainnya menjadikan Tempe Kripik Suka ke luar negeri. Dia berharap bisa menjadi eksportir tempe kripik. Dirinya tertantang membawa makanan khas Indonesia ini sampai ke seluruh dunia. 
 
Produk luar negeri bisa laku kenapa dalam negeri tidak. Untuk hal ini benar- benar dicoba Fransiska Sarwono kedepannya.

Pengusaha Minuman Bubble Untung Miliaran

Biografi Pengusaha Muhammad Syakir


pengusahaminuman.png
 
Pengusaha minuman bubble, Muhammad Syakir, hasrat terbesarnya adalah menjadi wirausahawan di masa depan. Pria asli Makassar, 14 Desember 1974 ini, memulai hasratnya semenjak bangku sekolah. Hal pertama yang dilakukannya ialah membantu sang kakak berbisnis studio foto. 
 
Sambil berkuliah diambilnya kursus fotografi. Tetapi tidak lekas membuanya jadi puas hingga membuka sendiri. Sejak masuk kuliah, dibukalah sebuah toko klontong sederhan depan rumah.
 

Pengusaha Miliaran


Dia adalah sosok apa itu bekerja keras. Tidak pernah berhenti bersemangat berbisnis. Ia setidaknya sudah pernah menjajal empat bisnis berbeda. Ketika harus kuliah sampai ke Jakarta, menyusul kakaknya disana, Syakir membuka toko klontong depan rumah di Tanjung Priok tahun 2000 -an. 
 
Semangat untuk berdagang pertama kali mebawanya berlebihan. Dia membeli aneka barang tanpa melihat apa kebutuhan pasar. Hasilnya, toko klontongnya hanya bertahan 3 bulanan. Merasa tidak berkembang layaklah bisnis tersebut dia tutup. 
 
Uniknya selain tidak bisa membaca apa kebutuhan masyarakat. Syakir juga tidak sadar akan adanya konsep tanggal kadaluwarsa.

"Saya tidak menyadari di antara barang-barang itu, ada yang memiliki masa kedaluwarsa," kenang Syakir.

Gagal, pekerjaan Syakir cuma bisa membantu- bantu bisnis kakaknya. Selepas berkuliah di Universitas Ibnu Choldun, pria asli Bugi ini tak lantas melanjutkan berdagang, ingin mencari satu pengalaman lewat bekerja. Mendaftar menjadi wartawan foto di Harian Republika di tahun 2002. 
 
Delapan tahun bekerja menjadi wartawan tak membuat hasrat itu hilang. Masih membuka bisnis kecil- kecilan sambil ia bekerja.Ayah dua anak ini mengendus paluang baru. Lewat bengkel motor dicobanya bekerja sambil berbisnis (lagi). 
 
Ini hanya pekerjaan sampingan. Bengkel didirikan tahun 2006 ini, dijalankan selepas meliput kejadian di luar. Sepulang bekerja disempatkannya membali barang kebutuhan di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta. "Jadi, kalau pulang, banyak tentengan di motor," ujar Syakir. 
 
Sayang, bisnis sampingan kembali gagal karena satu faktor sepele. Lagi- lagi Syakir tidak bisa membaca kebutuhan masyarakat. Ketika ia membeli barang- barang bengkel yang kualitas original. Masyarakat justru mencari barang kualitas dua. 
 
"Saya memasok suku cadang orisinal, sementara konsumen banyak mencari barang kualitas nomor dua alias kw," jelasnya. Bulan ke enam usaha itu ditutup tanpa kejelasan.
 
Untung karena dia bisa melunasi hutang bank, uang modal bengel itu dilunasi lewat gajinya. Menjadi pegawai sebenarnya menghasilkan. Cuma menurut pengusaha minuman bubble ini, menjadi pegawai menguras waktunya bersama keluarga. Menjadi pengusaha seolah menjadi solusi akhir. 
 
Kondisi ini memaksa otak berputar bisnis apalagi ya. Tahun 2010, ia akhirnya, berhenti menjadi pegawai memilih pengusaha. Modal uang pesangon diputarkan di bisnis sangon. Bertanam kayu sangon di kawasan Purwakarta bersama seorang patner. 
 
Tapi ujung- ujungnya malah ditipu. Kesimpulan dicapainya berbisnis tidak boleh jauh dari rumah. Dia harus bisa mengatur bisnis itu sendiri. Uang pesangon masih bersisa. Itu dijadikannya usaha lain yaitu usaha warung makan. 
 
Bisnis warteg atau warung tegal dimulainya penuh semangat. Kali ini dia punya strategi khusus. Dimulai merencanakan target pasarnya. Kemudian dimasakan aneka masakan enak. Selepas itu, Syakir membagi- bagikan selebaran brosur di jalanan. 
 
Sayang, ternyata salah sasaran, pembeli malah kebanyakan dari kuli bangunan. Ini dirasanya tidak mencukupi jaringannya. Apalagi modal usaha telah menipis, akhirnya dia memutuskan tutup. Tidak ada kata berputus asa soal berbisnis. Ini hasratnya dibawa sampai sampai bisa sukses.

Melihat sang suami lesu, istrinya, Wahyuni mengajukan ide bagaimana jika berbisnis waralaba. Menjadi mitra bisnis dari bisnis sukses. Dia mengajak Syakir berbisnis minuman bubble. Bersemangat kembali, dijualnya motor satu- satunya buat modal. 
 
Terkumpul uang Rp.6 juta hasil berjualan motor Rp.4 juta dan ditambah menjual barang lain. Dibukanya minuman bubble itu di rumahnya, di kawasan Pondok Cabe, Depok. Beruntung karena saat itu di wilayahnya masih jarang orang berjualan bubble. 
 
Penjualan es bubble -nya digilai pelanggan bahkan sampai bisa mengantri- antri. Sebuah gerai depan Alfamart menjadi saksi bangkitnya pengusaha ini. Berjalan waktu, Syakir belajar cepat bahwa sirup dan krim memakan labanya. Dia mencoba mencari alternatif agar bisa lebih untung.

Untung Minuman Bubble

 
Melalui pencarian internet ditemukan produsen bubble. Dia langsung menawari kerja sama. Kali ini selain berjualan bubble juga berjualan bubuknya. Semenjak punya suplier resmi maka resmi waralabanya tidak lagi terikat. 
 
Memang sejak awal sudah ada perasaan bahwa bisnis ini terlalu tergantung pusat. "Lama- lama saya berpikir, kalau usaha ini harus ketergantungan bahan baku dari pusat," jelas singkat. Itulah kenapa dia begitu ngotot.

Resmi Syakir menjadi pengecer bubuk minuman ini. Menelisik besarnya kesempatan, dia berharap bisa menjadi produsen. Namun, pertama- tama yang dilakukannya adalah mencari teman bekerja sama. Sosok yang bisa meracik bubuk minuman. 
 
Syakir menawari kerja sama berbentuk makloon. Dia menemukan orang itu lewat internet lagi. "Saya cari orang yang bisa buat produk ini," kenang dia. Inilah cikal bakal bisnisnya yang utama. Konsep makloon berarti patner membuat bubuk minumannya. 
 
Sementara dirinya menjadi distributor tunggal produknya. Yang mana, berarti patner tidak bisa menjual ke orang lain selain kepadanya. Perjalanan bisnis ini meningkat sampai berdirilah CV. Jakarta Powder Drink. 
 
Dibawanya bisnis ini sampai ke Kota Makassar. Ia cukup puas atas jalan bisnisnya, sampai, pada tahun kedua ada masalah antara dia dan patnernya tersebut. Singkatnya sang patner menjual produknya juga ke orang lain. 
 
Merasa ditipu olehnya, berhentilah bekerja sama keduanya dan menyisakan bubuk- bubuk minuman bertumpuk. Karena tak mau merugi dan berharap bisa balik modal. Dibawalah bisnis tersebut kembali ke bisnisnya di Jakarta. Jadilah cuma ada satu bisnis yang dijalani oleh Syakir di Jakarta. 
 

Menjadi Pengusaha Minuman

 
Harapan terbesar dia hanyalah kapan bisa berproduksi sendiri. Belajar pengalaman buruknya mulailah dia belajar sendiri. Syakir menemukan cara tepat berproduksi sendiri. Lagi- lagi dicarilah orang yang bisa membuat bubuk minuman. 
 
Bedanya kali ini, ia hanya memilih buat belajar kepada orang itu, selama kurang lebih enam bulanan. Sambil belajar diajukan pinjaman ke Bank tak kurang Rp.400 juta. Uang tersebut dibelikan mesin percik bahan minuman, bahan baku, dan kebutuhan lain di tahun 2012.

Awal 2013, dia baru bisa berproduksi sendiri, hasilnya beda dari produk yang pernah dijualnya. Ini minuman bisa dibuat dingin atau panas. Rasa bubuknya juga diklaim lebih enak karena kualitas terjamin. Menekuni ini memang bukan perkara mudah kalau bukan passion. 
 
Waktu berjalan malah membawa M. Syakir semakin berjaya berbisnis sendiri. Masalah tidak kunjung berhenti menempa hidupnya. Dari remaja, bujang, hingga akhirnya menikah dikarunai dua orang putri. Syakir yang sudah berumur 40 tahun tinggal mereguk kerja kerasnya. 
 
Kata- kata bijak pun ia ramu, "Saya tak mau sekadar menjadi pedagang, tapi ingin menjadi pengusaha," ujarnya. Jika pedagang akan berhenti walau sekejap. Tidak buat penguasaha yang selalu akan berusaha.

"Pedagang biasanya hanya cari keuntungan, tapi tidak membuka peluang bagi orang lain untuk mendapatkan untung," kata dia.

Pedagang akan memilih berhenti jika menemukan resiko kedepan. Pengusaha akan terus melangkah meski dibantu oleh hutang atau apapun.

Total CV. Jakarta Powder Drink telah memiliki 40 varian rasa. Ada yang rasa vanila, capucino, mokacino, tiramisu, teh hijau, kopi, kopi hazelnut, dll. Soal kendala adalah mengawali peralihan antara dia dan produk lamanya. 
 
Tentu pelanggan bisa tau perbedaan mencolok diantara keduanya. Syakir sudah siap akan hal tersebut. Lewat mempertajam rasanya menjadi lebih pulen. Jadilah tidak ada hambatan berarti ketika ia mulai ganti.

Jikalau produk powder drink lain hanya cocok dingin. Miliknya bisa disajikan panas atau dingin. Meski nanti dituang panas tetap rasanya tak kalah kalau dingin. Pabrik pun didirikan di Perumahan Wisma Mas, Pondok Cabe, Tangerang. 
 
Jika produk lain seharga Rp.100.000, maka, Syakir percaya diri membandrol Rp.65.000 sampai Rp.75.000 lebih murah. Rata- rata pelanggan produknya ada kafe, hotel, pengusaha minuman bubble. Pabrik itu bisa berproduksi sampai 6 ton bubuk minuman. 
 
Melalui 9 distributor dijualnya ke seluruh penjuru Indonesia. Sistem penjualan beli putus minimal 500kg, distributor tersebar hingga ke Medan, Palembang, Pekanbaru, Tegal, Semarang, Yogyakarta, dan Makassar. 
 
Profil penjualan memang tidak ambil besar dari distributor. Cuma saja karena bermain jumlah membuatnya tetap bisa untung besar.

"Saya belajar dari para CEO perusahaan besar yang pernah saya temui ketika jadi wartawan," ucap dia.

Pria asli Bugis ini tak lantas berpuas hati meski bisnisnya miliaran. Hanya saja pandangannya berbeda yakni ke luar negeri. Ada hasrat mendirikan kafe sekelas Stabucks. Prinsipnya kenapa orang luas bisa, kenapa kita dalam negeri tidak bisa? 
 
Dari segi variasi sebenarnya Jakarta Powder Drink siap bukan kafe. Namun, dia dan istrinya masih menggodok konsepnya. Masih menentukan makanan apa bisa ditaruh di etalase kafenya.

Marketing Jualan Kambing Lewat Salon Gobing

 Pengusaha Sukses Margo Santoso


jualankambing.png
 
Marketing jualan kambing lewat salon. Ini ide bisnis yang berhubungan dengan hari raya Idul Adha. Kalau jualan kambing atau sapi sudah biasa. Tetapi pengusaha ini menciptakan marketing jualan kambing jenius. Ide bisnis yang layak kamu ikuti ketika masuk Idul Adha nanti.

Bagaimana cara memanjakan si hewan kurban sebelum pergi ke surga nanti. Kanapa kita tak sedikit memanjakan mereka toh pahalannya buat kita sendiri. Dibanding cuma beli beberapa hari sebelum berkurban, disembelih, kemudian dipotong- potong. 
 

Marketing Jualan

 
Atau kita bisa biarkan mereka untuk beberapa hari menikmati layanan premium. Di saat Hari Raya Kurban, maka para penjual akan menawarkan layanan terbaik. Di Semarang ada seorang pengusaha bernama Margo Santoso menawarkan layanan berbeda. 
 
 
Salon hewan kurban bernama Gobing, yang mana fokus merawat si kambing. Dari perawatan bulunya dibersihkan layaknya rambut manusia, lalu dimandikan layaknya spa, hingga disisir rapi hingga tampak elok ketika dikurbankan.

Pria 36 tahun ini membuka salonnya di Jalan Arjuna Raya No. 61 RT 5/2, Pandrikan Kidul, Semarang Jawa Tengah, dimana sudah 14 tahun menggeluti bisnis ini. Gobing sendiri merupakan satu singkatan dari Margo Kambing. 
 
"Kalau tidak untuk Idul Adha, biasanya untuk Aqiqah," kata Pak Margo. Disana ada satu tempat mandi besar buat memandikan kambing- kambing. Dengan senang hati dirinya mengajak pewarta dari Metro melihat ke dalam.

Sejak 2009, bisnisnya terbilang cukup sukses, mampu melayani 25 ekor kambing di salonnya. Meski begitu tak mudah memandikan kambing loh. Ketika diliput Margo tengah mengambil satu kambing dari kandang yang terbuka. Meski melawan ketika sudah diguyur air. 
 
Kambing itu jadi tenang dan tak berontak lagi. Ia pun lantas mengambil sabun dan sampo.

"Sabun dan samponya biasa. Memang agak susah kalo kambingnya berontak," ujar Margo.

Unik karena salon Gobing tak memungut biaya. Alias gratis, tentunya buat kamu yang membeli kambing dari Margo. Air sampai samponya merupakan cara uniknya memasarkan bisnisnya. 
 
Tidak cuma ada salon juga ada layanan pemeriksaan kesehatan langkap, pemeriksaan mata, kontrol keberisahan telinga, dan kuku. Dan kuku jika tak dibersihkan akan menimbulkan kutu. Nah, si kutu itu menjalar ke telinga membuat bawah telinga gatal. 
 
Jikalau cuaca panas dan tidak disalonkan itu bisa membuat menyebar sampai ke tubuh. Alhasil kambing jadi penyakitan dan tak mudah gemuk. Hasil akhirnya apalagi kalau bukan tak layak dikurbankan. 
 
Hal lain dilakukan oleh Margo adalah pemberian nutrisi lengkap, berupa sentrat, tetes tebu, garam, vitamin, dan obat cacing. Lagi- lagi ia menkankan tidak ada biaya tambahan! Ia akan tetap menjual kambing serhaga Rp.2 juta- Rp.4 juta. 
 
Bahkan pihaknya mau menjamin gratis ongkos buat mengirim kambingnya. Untuk memasarkan konsep bisnisnya ternyata tak butuh biaya mahal. Cukup lewat konsep mulut- ke mulut. Daya tarik bisnisnya ada pada salonnya. 
 
Hasilnya ialah penjualan mampu capai 250- 300 ekor kambing di Musim Haji. Pembelian juga berfariasi dari perusahaan atau perorangan.

Pengusaha Mancit Bisa Bikin Duit

Profil Pengusaha Ismanto


pengusahamancit.png

Pengusaha mancit atau "pengusaha tikus" begitu Kompas memberitakan. Memang bagi kebanyakan orang tikus itu menjijikan. Tak jarang binatang pengerat ini menjadi sasaran sandal. Apalagi para petani pasti benci sekali namanya tikus yang perusak tanaman. 
 
Beda orang, beda kisah Ismanto, pria 38 tahun yang sengaja menternakan tikus. Ia buka sekedar mengembangkan tikus biasa. Tapi ini tikus putih atau mancit (Mus Musculus), yang termasuk dalam keluarga rondentia.
 
Mungkin buat kamu sedikit membingungkan. Begitu juga penulis tak begitu paham arti istilah- istilah biologi tersebut. Hanya saja warga Jalan Merbabu, Kampung Jambon Tempel Asri, Kelurahan Cacahan, Kota Magelang ini, tau betul bahwa tikus putih menghasilkan duit. 
 

Penjual Tikus

 
 
Masih keluarga dekat hamster, gerbil, tupai dan hewan pengerat lainnya, jika diperhatikan baik- baik tikus putih tak terlalu buruk.

Semula usahanya cuma hobi belaka. Tanpa ada embel- embel niatan menjual tikus- tikus putihnya. Karena dari keseharian Ismanto sudah tercukupi dari bisnis keluarganya. Sebuah bisnis bakmi warisan orang tua dia rasa cukup. Dari sisa makanan yang bisa jadi mubazir. 
 
Dibelikanlah beberapa ekor tikus, diberinya makan dari sisa jualannya. Tepatnya di tahun 2002, Ismanto membeli beberapa ekor tikus putih dan hitam seharga Rp.10.000.

"Sayang sekali sisa makanan itu kalau dibuang begitu saja. Biasanya memang untuk pakan ayam, tetapi masih sisa," ujar Ismanto.

Entah datang dari mana ide tentang tikus putih tersebut. Hanya berpikir bagaimana kalau itu dijadikan pakan tikus saja. Tikus tersebut dimanfaatkan buat menghabiskan makanan sisa. Selain buat tikus, ternyata selepas tikus itu kenyang, mereka dimakankan ke ular- ular peliharaannya. 
 
Eh ternyata bukan cuma tikus, Ismanto juga memelihara kucing, ayam, burung, serta aneka reptil. Setahun beternak tikus sendiri buat sendiri. Ternyata kebutuhan akan mancit oleh sesama pecinta reptil ikut datang. Mereka menghampiri Ismanto memintanya menjual. 
 
Selain dari mereka ada pula permintaan dari para mahasiswa, yang katanya buat media penelitian. Sejak saat itulah dirinya mulai berpikir menyeriusi ini sebagai bisnis baru. Beternak tikus menjadi alternatif bisnis lainnya. Dalam perjalanan ia mulai berani kawin silangkan tikus.

Hasil kawin silang beberapa tikus berbeda ternyata menganggumkan. Ini menakjubkan baginya karena lahir berbagai tikus yang berwarna unik. "Ada warna emas, perak, belang-belang, bentuknya lebih lucu dan menggemaskan," jelasnya. Ayah dari tiga orang anak ini merasa beruntung karena istrinya, Sri Lestari (37), beserta anaknya ternyata tak takut tikus.

Mereka malah mendukung bisnis baru ayahnya. Pria gondrong yang ternyata alumnus STM Penerbangan ini. Memang melenceng jauhnya dari apa yang ia jalani. Dari penjual bakmi menjadi pengusaha mancit. Berkat kejeliannya mampu membaca peluang. Bisnis ini juga tak terlalu mahal loh. 
 
Tikus mancit itu suka biji- bijian dan pelet makanan ayam. Untuk kandangnya ia perhatikan sangat dibersihkan sekali seminggu. Alasnya cukup memanfaatkan sekam padi. Pelanggan datang baik dari pecinta reptil, mahasiswa, hingga masyarakat umum. 
 
Soal cara marketingnya, Ismanto tak spesifik caranya cuma lewat sosial media, ada website, Facebook, dan lain- lain. Ketua dari Komunitas Reptil Magelang ini menyebut untungnya lumayan. Dia bahkan mampu mengirim ke daerah lain di Pulau Jawa. 
 
Tiap bulannya ada saja pesanana. Padahal awalnya cuma sebagai pemenuh hasrat hobinya. Kini, tikus mancit jualannya itu bisa dihargai per- ekornya Rp.3000, untuk warna unik hasil kawin silang bisa Rp.25.000- Rp.100.000.

Biografi Ucok Durian Medan Cara Sukses Jualan

Profil Pengusaha Zainal Abidin


biografiucok.png

 
Cara sukses jualan durian diperagakan pria berkacamata ini. Biografi Ucok Durian Medan, nama aslinya Zainal Abidin Chaniago. Atau, biasanya orang memanggilnya Ucok Durian. Apa halnya panggilannya jadi begitu. Karena dia adalah putra asli Medan, putra Batak. 
 
Berkat dia pula buah durian lokal tak sekedar menjadi hiasan. Dia sukses menjual aneka durian utuh. Itulah sebab adanya embel- embel nama durian di belakang namanya. Sebelum setenar sekarang perlu kamu tau perjalanan hidupnya tak mudah.

Menurut Kontan.co.id, sejak usia 14 tahun, terlahir dikeluarga yang kekurangan. Membuat Ucok terbiasa mencari uang sendiri. Memulai usaha dari nol sejak belasan tahun. Lantaran orang tua miskin membuatnya tak punya uang membayar sekolah. 
 

Biografi Ucok Durian

 
 
Pendidikan terakhir Ucok mentok dikelas 2 SMP. Ayah hanyalah tukang becak. Dan ibu membantu ekonomi keluarga menjadi buruh cuci. Itu masih tak cukup membiayai Ucok dan lima adiknya. Ia memutuskan usaha sendiri. 
 
Memutuskan mandiri mencari uang sendiri, mencoba ikut membantu ekonomi keluarga. Di masa awal, Ucok bekerja menjadi karyawan di gerai penjualan buah durian di Kota Medan. Tak sekedar bekerja juga aktif belajar tentak seluk- beluknya. 
 
Bertahun- tahun bekerja di tempat orang, hasrat membuka usaha sendiri akhirnya tersalurkan. Modal Rp1,75 juta ditambah pengalaman dan pengetahuan soal durian. Ucok memberanikan diri membuka bisnis sendiri. Uang tersebut digunakan membeli durian sebanyak setengah mobil bak. 
 
Lantas dijajakan di pinggiran jalan. Umur 24 tahun sudah punya usaha sendiri. Sebuah warung tenda sederhana di pinggir jalan. Jikalau durian sisa dan tak habis maka langsung dijualkan ke pasar. Untung jualan pertama cukup lumayan omzetnya Rp.300.000.

Omzet tiga ratus ribu per- hari dibaginya menjadi tiga. Pertama dibagikan ke teman sekaligus mitra bisnisnya. Lalu uang Rp.50.000 diberikan kepada keluarga. Sembari berbisnis, tidak lupa belajar mengenai si buah durian ini. 
 
Cara sukses jualan durian lewat menyambangi petani di berbagai tempat. Bahkan sampai ke Aceh cuma buat durian. Dedikasinya akan durian membawanya ke pusat durian Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, seluruh Pulau Sumatra.

"Tiap kampung bisa memiliki musim durian yang berbeda- beda," ujar Ucok.
 

Rahasia Bisnis Durian


Lambat laun kegiatannya itu membuahkan jaringan bisnis. Koneksinya ke para petani durian semakin kental dan kuat saja. Modal saling percaya digunakan oleh pria yang sekarang sudah berumur 45 tahun ini. Modal PD -nya atau percaya dirinya berani membeli durian lebih mahal. 
 
Dia menawarkan harga lebih mahal dari pedagang lain. Selain itu ketika ada petani membutuhkan uang karena kebutuhan mendesak; Ucok selalu ada disana.
 
Ia bahkan rela meminjam uang untuk membantu petani. Hasilnya ketika mereka panen, hasil durian mereka akan menjadi milik Ucok. "Sebagai gantinya ketika sudah panen, durian-durian milik petani itu menjadi milik saya," kata dia. 
 
Berkat pendekatan itulah maka lapaknya selalu kebanjiran stok terus. Tidak ada matinya, ia bahkan mampu menjual durian 24 jam non- stop. Startegi "memanjakan" diterapkan kembali ke konsumen pula.

Baginya kepuasan merupakan kunci suksesnya. Pengusaha yang sudah 20 tahun melalang buana ini. Sudah tau betul persaingan semakin ketat. Itulah baginya pelanggan merupakan "mahal" seolah seperti pelanggan adalah raja. 
 
Memanjakan mereka, maka lapak Ucok menghadirkan durian dengan variasi jenis terbanyak. Berkat pemahaman akan durian Ucok membuat penjualan lebih efektif. Sejak itupula lapaknya disulap lebih nyaman. Agar pelanggan bisa makan langsung di tempatnya. 
 
Guna memenuhi kebutuhan durian, setiap hari, ada enam mobil hingga tujuh mobil berisi durian berasal dari Aceh, Sumatra Barat atau Sumatra Utara. Menjalin hubungan baik dengan para petani masih dilakukannya. Seolah mereka sudah menjadi bagian keluarga. Berkat inilah sepanjang tahun Ucok bisa mendapatkan stok durian lengkap.

Bulan Juni, Juli, Agustus, dan September, menjadi bulan melimpah durian. Lalu Oktober dan juga November jumlah durian akan menyusut. Pada bulan Desember, maka durian akan mulai melimpah kembali. 
 
Karena sudah terbaca maka di bulan- bulan panen ramailah tempat itu. Berkat dedikasinya yang tinggi telah mampu membuat usahanya jadi legenda. Menjadi suatu keharusan kalau ke Medan harus mampir ke tempat Ucok Durian.

Ini sudah menjadi ajang pariwisata. Dari turis lokal dan asing pasti menyempatkan diri mampir. Sukses dalam membangun brand -nya maka tak ayal. Pada suatu hari, seorang President, yakni Pak SBY rela mampir ke tempatnya buat mencicipi.

"Saya merasa sangat terhormat toko ini pernah didatangi pak SBY. Momen itu sungguh tidak akan terlupakan sepanjang hidup," kenangnya.

Untuk seharinya Ucok Durian mampu menjual 7.000 buah durian per- hari. Soal harga berfariasi dari Rp.20.000- Rp.25.000 per- buah untuk ukuran kecil. Ukuran lebih besar, cukup murah kok yakni cuma Rp.30.000 saja. 
 
Dalam sehari ia mengaku mampu mengantongi omzet Rp.45 juta sehari. Kalau masuk di akhir pekan bisa mencapai omzet Rp.55 juta per- hari. Bisa dibayangkan dalam sebulan berapakah omzet dari Ucok Durian.

Dibantu 30 orang karyawan bekerja 24 jam non- stop berjualan. Ucok sendiri tak menyadari harapan bisnis durianya telah menjadi ikon pariwisata. Berkat usahanya durian juga, pria yang cumalah lulusan SD ini, telah mampu memberangkatkan kedua orang tuanya berhaji. 
 
Dia juga bisa menyekolahkan adik- adiknya menjadi sarjana. Soal rencana membuka kebun durian. Ucok mengaku tak terpikirkan soal itu. Ia maunya fokus di penjualan durian saja. Soal stok diserahkan sepenuhnya kepada petani mitra. 
 
Kalau bicara ekspansi maka impiannya adalah memiliki pusat oleh- oleh sendiri. Ia ingin membuka lapak aneka produk yang khas dari Medan. Lapaknya nanti akan menjual ikan teri, ikan asin, sirup markisa, lapis legit, kemudian bika ambon,dll.

"Sekarang sedang mencari tempatnya, juga sedang diseleksi barang apa saja yang bisa di jual di toko tersebut," tutup Ucok Durian.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba