Ibu Pecinta Burung Berbisnis Mudah

Profil Pengusaha Ibu- Ibu Muda

 
pecintaburung.png
 
Kisah ibu pecinta burung membuktikan berbisnis mudah. Para ibu muda tak monoton berjualan itu- itu saja. Biasanya mereka berjualan baju atau makanan. Nah, kali ini para ibu pecinta burung, tak cuma berjualan mereka juga mampu menternakan.
 
Mereka sukses dari hobi, hingga menghasilkan banyak keuntungan. Berikut daftar perempuan- perempuan luar biasa berbisnis burung yang notabennya passion -nya laki.

1. Kisah Ny. Alex asal Depok


Ibu muda satu ini sukses menangkar burung cucakrowo. Bermodal cuma halaman rumah lamanya di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, terlihat kandang- kandang kecil berejer berisi Cucakrowo. Ny. Alex menyebut ini bukan hasil seberapa karena rumahnya ini sudah tak cukup. 
 
Saking banyaknya permintaan dan hasil dari tangkarannya ciamik. Pemilik CBS Bird Farm ini haruslah memindahkan bisnisnya ke tempat lain.

Dipindah lah bisnisnya ke rumah barunya semuanya ya berkat bisnis ini. Sukses menangkar cucakrowo ini mampu membuatnya bisa membeli rumah baru, di kawasan Jalan Sawang Permai Baya, Kampung Kupu RT. 02/RW. 08, di depan GKLH An- Nur, Bedahan Pasir Putih, Depok. 
 
Suksesnya menangkar Cucakrowo menghasilkam 28 kandang indukan produktif. Setiap bulan kadangnya mengasilkan anakan laris manis terjual.

Cucakrowo milik CBS Bird Farm memang eksotis. Beda dari biasanya dijual dipasaran. Ny. Alex tepatlah memilih cucakrowo kepala hitam. Dimana dikepalanya ada bercak bulu berwarna hitam. Warna itu menurun ke anak- anaknya dan ternyata mengundang perhatian pecinta burung. Anak menetas dalam perawatannya, akan ia biarkan diasuh induknya 1 minggu. Barulah diangkat dan dipanen, maksudnya dipindahkan ke ruang inkubator.

Sebuah ruangan hangat beralas rerumputan atau alang- alang. Siap dipasarkan setelah umur 1,5 bulanan dimana sudah bisa makan sendiri. Nah, sukses menangkar burung cucakrowo, kamu bisa mengikuti jejak Ny. Alex dalam budidaya jangkrik. 
 
Ini bisa menambah pundi- pundi uang keluarga loh. Sukses mengangkar cucakrowo apalagi burung idaman ibu muda satu ini; burung murai batu. Bahkan dalam jangka waktu dekat Ny.Alex akan mendatangkannya dari Sumatra.

2. Kisah Ibu Andri Bogor


Kalau ibu berhijab satu ini sudah lebih jago soal menangkar burung. Juga punya burung cucakrowo yang ia tangkar di lahan terbatas, tak jauh dari rumahnya yakni di komplek Mutiara Bogor Raya Blog E9/No 1, di daerah Kutalampa, Bogor. 
 
Pertama kali punya burung buat ditangkar. Ia mengaku cuma punya tiga pasang indukan cucakrowo, dan dua pasang indukan jalak bali. Berkat usahanya kini sudah ada 17 kandang permanen. Untuk jenis burungnya juga sudah bertambah, yakni burung jenis lovebird. 
 
Jenisnya juga beragam antara lain lution, albino, blorok, dan lain- lain. Yang mana dari setiapnya menghasilkan burung- burung nan- eksotis. Usaha bernama MBR Farm memberikan perawatan 10 hari buat induknya. Kemudian dimasukan inkubator dan dirawat sendiri selepas umur 1,5 bulan.

Dua minggu setelah dilepas dari induknya; sang induk bertelor kembali.

Diakuinya dirinya cuma penangkar pemula. Dari perawatan dan lain- lain dikerjakannya sendiri. Mulai proses penjodohan, memanen anakan, hingga perawatan sebelum penjualan. Sukses menangkar membuatnya siap untuk memperbesar folume kandangnya.

3. Ibu Sadimin dari Cibinong


Beda wanita diatas, ibu yang satu ini bertekat menjadi breeder, justru karena ingin membantu bisnis sang suami. Enam tahun lalu, Sadimin, memulai usahanya menjadi penangkar sendiri. Usaha bernama Dwi Jaya Bird Farm Cibinong ini khususkan menangkar burung cucakrowo. 
 
Mereka lantas bersama membangun ini dari nol. Modal usaha pun didapat dari menjual sepeda motor. Uang tak seberapa dibelikannya dua pasang induk cucakrowo. Hasilnya dari indukan produktif ini jadilah satu pengorbanan manis. Bayangkan dari satu pasang terus berkembang biak. 
 
Kesemuanya seolah tanpa ada hambatan. Memang jika tak berkorban mana ada kesuksesan. "Alhamdulillah, semuanya lancar. Baru sehari masuk kandang, induk langsung bertelur," kenang Ibu Sadimin.

Mau tau kunci sukses Ibu Sadimin breeder cucakrowo?

Pertama adalah kamu harus penyuka burung. Penangkar dari hobi atau hati biasanya akan lebih sukses. Ini jika dibandingkan mereka yang punya uang banyak tapi tak suka burung. Kalau hobi pasti sayang ketika nanti diharuskan merawat burung. 
 
Kedua, kamu tak boleh malu ketika harus belajar dari awal bagaimana cara merawat burung. Caranya ya kamu harus belajar -berteman dengan para penangkar burung yang lebih profesional. Bertanya lah dari mereka dan belajar lah dari mereka. 
 
Nah, terakhir atau ketiga, maka perlu kamu ketahui bahwa ini adalah mahluk hidup. Butuh tempat penangkaran yang baik bukan alakadarnya. Meski dari nol haruslah kamu paham resiko burung mati, sakit, terlepas, atau dicuri oleh orang, dan juga gagal beternak.

"Misalnya, induk sudah jodoh dan bertelur. Tetapi saat mengeram tidak menetas. Bisa juga sudah menetas, tiba- tiba anakan dibuang oleh induknya," ujarnya. 
 
Perlu sebuah kesabaran buat kamu menjalani prosesnya. Diperlukan kesabaran, dievaluasi kembali apa yang salah, jikalau gagal maka itu pengalaman yang nyata, yang bisa kamu ingat ketika menjalankan kembali.

4. Kisah Ibu Marni asal Samarinda


Kalau Bu Marni sama juga mau membantu sang suami. Wawan, nama suaminya memang hobi soal burung, tapi biasanya soal perlombaan jadi beda kalau mau menangkar burung. Karena merasa tidak kunjung merasa beruntung maka beralihlah menjadi penangkar kenari dan lovebird. 
 
Tiga tahun lalu, keduanya membangun satu kandang di kawasan Suryanata Air Putih, Samarinda. Usahnya tak disangka maju pesat. Dan, Wawan kwalahan untuk mengerjakanya sendiri. Dari sinilah sang istri datang ikut membantu nyemplung di bisnis penangkaran burung. 
 
Telaten sang suami mengajar Ibu Marni dari memberi minum, makan, kemudian membersihkan kandang. Memulai dari kenari dan lovebird, kedua breeder semua istri ini juga melirik cucakrowo.

Sayangnya, memiliki dua pasangan indukan cucakrowo, belum menghasilkan piyikan jadi tapi ini tak lantas menjadikan mereka menyerah. Mereka bersama tetap berusaha hingga mendapatkan piyikan cucakrowo.

Mantan Buruh Korea Berbisnis Sendiri

Profil Pengusaha Saipunawa Raepani


mantanburuh.png

Mantan buruh Korea korban krisis moneter. Dia berbisnis sendiri hingga menjadi pengusaha sukses. Ia menyebut pristiwa moneter 98 hikmah. Namanya Saipunawas Raepani. Modalnya mesin jahit lima buah dan juga pinjaman uang Rp.12 juta. 
 
Kini, dia dikenal jadi pengusaha boneka. Bahkan namanya tercatat diberbagai media masa termasuk Kontan. Seperti apakah kisahnya?
 

Berbisnis Sendiri


Hanyalah pria biasa kelahiran Bumiayu, Brebes, sekitar 45 tahun silaman dimana terlahir dari keluarga yang berkurangan. Ayahnya seorang petani dan ibunya cumalah penjahit. Makanya Saipun bisa menjadi sosok pekerja keras. 
 
Ketika kecil dirinya terbiasa hidup kekurangan. Ketika musim paceklik maka Saipun tak akan bisa membayar sekolah. Karena paceklik membuat ayahnya tak menghasilkan apa- apa.

"Kalau diomelin guru gara-gara belum bayar, saya sih ndableg saja," kenangnya.

Berbeda dengan anak- anak jaman sekarang. Sosok Saipun kecil justru malah suka namanya sekolah. Kalau dimarahi guru karena belum membayar sekolah; ia cuek. Bahkan terus berangkat ke sekolah menuntut ilmu. 
 
Ia baru berhenti ketika akan memasuki jenjang perguruan tinggi. Karena tidak bisa melanjutkan sekolah tinggi apa yang dilakukannya. Pria yang akrab dipanggil Nawas ini kemudian menceritakan lebih lanjut. Dia memilih merantau saja ke kota Surabaya. 
 
Mengadu nasib di Kota Pahlawan aneka usaha sudah dilakoninya. Yang penting halal, dari jualan mie ayam, bubur ayam, pokoknya apa- apa saja yang halal dan bisa dimakan katanya. Di tahun 1986, ia putuskan memilih pindah ke Bekas bersama kakaknya. 
 
Mulailah ia jualan ayam potong ikuti jejak kakaknya sejak 1990. Berjualan ayam potong dilakukannya saban hari di Pasar Bantargeban, Bekasi. Sayang, bisnis ayam potong sukses dijalaninya selama lima tahun itu bangkrut. 
 
Akhirnya Nawas menjadi pengangguran dan apalagi yang ia bisa lakukan. "Tapi saya di rumah enggak bisa diam," ujar Nawas. Bisnis apa saja, apa saja bisa dijualnya ya dijualnya. Semisal jualan boneka, alat elektronik, dan juga mesin jahit bekas.

"Nah, dari situlah saya mulai kenal dengan para perajin boneka. Barulah ada feeling ke sana (boneka)," tutur Nawas.

Di tahun 2000, akhirnya, dia diterima menjadi karyawan pabrik boneka di Korea. Mendapatkan ilmu disana dirasanya cukup barulah berani mandiri. Dia langsung membuka usaha sendiri. 
 
Bisnis dibawah bendera PD Dwi Putra Mandiri Toys, sayangnya, usaha patungan tersebut malah harus kandas ditengah jalan. Mungkin saja karena kekurangan modal dan masalah pribadi. Masalah tengah menguji ketekunan Nawas. 
 
Apakah ia akan berbisnis lain lagi atau memilih melanjutkan. Akhirnya ia memilih melanjutkan usaha PD Dwi Putra Mandiri Toys sendiri. Tak punya modal, beruntung, ada seorang kawan mau membantunya. Kawanya memodali Nawas Rp.12 juta ditambah lima mesin jahit ditangannya. 
 
Dari modal tersebut menghasilkan produksi 100 boneka per- hari. Dia tak sendirian bekerja, dimana dibantu lima orang mitra bersama. Usahanya tumbuh, dimana pesanannya dari 100 boneka menjadi 3000 boneka/bulan.

Rumahnya sekaligus tempat produksinya di Bantargebang Barat sudah kwalahan. Tahun 2006, ia membuka ruangan tambahan, tepat dibelakang rumahnya jadi tempat pembuatan boneka tambahan. 
 
Luas bangunannya 550 meter persegi, mempekerjakan 55 orang karyawan, dimana mulai bekerja dari 08:00- 16:00 WIB. Tempat tersebut untuk proses produksi, meliputi pemotongan kain, penjahitan pola, memasukan dakron dan finishing.

"Dengan menggunakan 18 mesin jahit, dalam sehari kami bisa memproduksi sampai 500 boneka," sebutnya.

Semangat Pengusaha


Bertambahnya permintaan akan boneka karyanya. Membuat Nawas berpikir bagaimana mendapatkan mesin jahit baru. Untuk hal tersebut diselesaikannya lewat mesin- mesin jahit bekas pabrik. Kalau ada yang jual mesin jahit masih bagus kualitasnya; ia beli. 
 
Begitu dibeli akan diserahkan langsung kepada para warga di sekitar rumahnya. Mereka adalah mitra Nawas dalam hal produksi. Mereka ikut membantu perusahaan kecil miliknya berproduksi.

"Satu orang mitra bisa sampai lima mesin dan mereka boleh mengerjakan di rumah masing-masing. Hasilnya, produksi boneka kami pada 2004 secara kumulatif bisa mencapai 2.000 buah karena yang kerja banyak," bebernnya.

Dengan hormat, Nawas selalu menyebut mereka sebagai mitra kerja bukan karyawannya. Hasilnya, berkat bantuan mitra kerjanya, perusahaan PD Dwi Putra mampu menghasilkan 8.000 boneka per- bulan. Usaha miliknya masih terus berkembang. 
 
Berkat kepandaiannya bernegosiasi penjualan produknya menyebar. Tak cuma terbatas di Bekasi, tapi sampai ke Jakarta, Samarinda, dimana omzet bisnisnya telah mencapai angka Rp.600 juta.

Cukup memanfaatkan jaringan ketika berjualan ayam dulu. Kegagal berubah menjadi kesuksesan. Kemudian kakaknya yang berdagang ayam banting stir jadi pedagang boneka. Sukses Nawas membawa kebanggan bagi keluarganya. 
 
Sambil bercanda ia menyeletuk, "Jadi, kalau dulu kami keluarga ayam, sekarang keluarga boneka." Untuk model bonekanya perusahaan ini menghasilkan 500 model. Kisaran harga perbuah cuma Rp.7000- Rp.125.000.

Jika ditanya model paling laris, maka ada pilihan boneka lumba- lumba, panda, bebek, bentuk pisang, juga bonek Spongebob. Kalau bicara paling laris maka haruslah yang mengikuti pasaran. 
 
Ia menjelaskan produk miliknya selalu mengikuti kebutuhan pasar. Mengawasi tren karakter- karakter booming seperti halnya model tokoh kartun Shoun the Sheep.

Roti Bakar Bandung Madtari Kisah Wirausaha

Biografi Pengusaha David Maidy


rotibakar.png

Roti bakar Bandung Madtari memang melegenda. Kisah wirausaha bersejarah seperti Cendol Elizabeth dan Rumah Makan Sederhana. Usahanya didirikan oleh pria bernama David Maidy. Pengusaha yang membuat kafe bernama Kafe Madtari asli Bandung.

Merupakan sebuah kafe di kawasan Dago. Mempunyai cita rasa mak nyus berkat kejunya yang banyak. Ini sudah dirintis sejak 1997 oleh Om David. Awal usahanya bermula dari bisnis kaki lima bukan mewah. Dan ketika itu ia sadar telah menemukan peluang emas. 
 

Usaha Roti Bakar

 
Pria asli Garut melihat pisang begitu bejubel di kampungnya. Pisang- pisang itu tak punya nilai jual tinggi. Dalam benaknya ada ide gila bagaimana mengolahnya menjadi sebuah bisnis. Itulah awal mula bisnis pisang bakar Madtari.

Pergi lah Om David ke Bandung bermodal Rp.6 juta ditangan. Mulailah berjualan kaki lima bernama Pisang Bakar Madtari. Kala itu, ia masih berumur 36 tahun, dari cuma berbisnis pisang bakar saja berkembang jadi kuliner lain. 
 
Seperti menyediakan aneka mie goreng, kemudian terpopuler juga yaitu roti bakarnya. Menurut Om David nama Madtari berasal dari nama orang tuanya. Agar selalu mengingat kedua orang tuanya ketika berbisnis.

Adapula kepercayaan bahwa ini akan membawa hoki. Meski terlihat sederhana pada jaman itu ceruk pasarnya mungkin masihlah luas. Om David sukses membuka usaha di kawasan Dago Plaza tahun 1997. Ketika ada penggusuran untuk pembuatan taman; Madtari juga ikut pindah ke BPRS. 
 
Kafe tempat favorit nongkrong anak muda itu lantas mengalami beberapa kali pindah tempat, dari Bank Bumi Putra, Dipatikur hingga sampai Ranggagading Dago. Masa tersulit bisnisnya menurutnya ada di empat tahun pertama sejak 1997- 2001. 
 
Empat tahun pertama ia akui menjadi hal tersulit dalam hidupnya."Empat tahun pertama itu jangan bicara soal keuntungan dulu, yang penting cukup aja buat makan dan hidup," ungkap Om David. Ia menyebut apa yang didapatnya merupakan buah kesulitannya dulu. 
 
Bicara soal rahasia sukses kafe Madtari tentu orang bisa sudah membaca. David pun mengamini hal tersebut. Harganya yang murah disebutnya menjadi faktor utama. Tapi bukan itu faktor satu- satunya menurut kami. 
 
Disisi lain soal pelayanan, tempat, dan kualitas disebutnya tak sebanding kafe lain. Meski begitu jikalau tidak punya cita rasa harga murah seberapapun percuma. Soal harga, Om David rela memangkas untungnya meski berada di tempat bersewa tinggi. 
 
Lebih murah dibanding pesaingnya di Kota Bandung. Siasatnya mengakali sewa tinggi cukup menjalankan bisnis buka 24 jam! Soal keju banyak khas Madtari, ternyata, Om David sudah mengerjakan kerja sama dengan Craft. 
 
Produsen keju tersebut istilahnya mengendors usaha miliknya. Kerja sama sejak 2007 ketika jumlah penjualan dari kafe ini sangat tinggi. Meski didukung Craft dan harganya jadi super miring, bukan berarti Craft kena imbas dari segi penjualan. 
 
Keuntungan Craft memang jadi menurun jelasannya, cuma beberapa persen saja. Hasil bagi Craft adalah brand- awareness oleh pelanggan Madtari. Meski tak memakai keju murah, meski tak diendors oleh Craft, Om David mengaku masih bisa mengambil untung. 
 
Tak lain adalah dari penjualan aneka minuman. Keuntunganya cukup besar loh menurutnya. Dalam hal pengelolaan keuangan tak menggunakan pembukuan. Oleh sebab itu dirinya tak tau pasti soal berapa ia dapat tiap harinya.
 

Kisah Wirausaha

 
Sambil bercanda Om David lalu menyebut satu bulannya bisa buat membeli Alphard. Sayang sekali memang dan dirinya sadar akan hal itu. Ia menyarankan buat kamu pengusaha baru aturlah pembukuan mu. Jangan dicontoh karena dia termasuk yang cuma beruntung. 
 
Modalnya kepercayaan dibayar kepercayaan kepada karyawannya. Dia yakin bahwa selama kita menghargai tiap keringat mereka; mereka tak akan berani macam- macam. Hal ini bisa dilihat ketika karyawannya sakit. 
 
Tak segan dirinya ikut sibuk memanggilkan dokter. Untuk marketing Madtari tak punya cara nyeleneh. Tidak ada namanya brosur atau iklan besar- besar. Modalnya adalah mulut- ke mulut, antara satu orang ke orang lainnya. 
 
Pria penghobi bikers ini juga menjelaskan buka tipikal ambisius. Dalam perjalanan baru ada tiga cabang dibuka Madtari. Dan, ketiganya tepat berada di tanah hak miliknya, ia memang memilih mencoba bermain aman yakni membeli asetnya total. 
 
Ketika itu sebenarnya tempat pertama miliknya sendiri adalah hasil sewa. Yah, mungkin belajar dari kafe utamanya yang sewanya semakin mahal. Dirinya memilih meinvestasikan apa miliknya dalam bentuk tanah. Jadi istilahnya membangun candi- candi kecil disekitar candi utamanya. 
 
Jikalau nanti canti utamanya ditengah runtuh; candi kecil dipinggiran akan menahan.

"Jadi Madtari pusat adalah candi besarnya dan ketiga cabang adalah candi kecilnya. Jika Candi besar runtuh, setidaknya masih ada candi-candi yang kecil," ungkap Om David.

Untuk kedepannya dirinya tak menutup cabang baru. Jika ditanya apakah akan diwaralabakan. Sepertinya hal itu jauh dipikirannya.

Sajak 1999 berdiri wujud Mandtari menjadi sosok usaha tak lekang oleh jaman. Kafe roti bakar sederhana ini katanya menghasilkan ratusan juta. Kalau tanya Bandung dan roti bakarnya, maka inilah pilihan utama bisa kamu kunjungi langsung. 
 
Rasa kejunya menutupi rotinya (menggunung). Menurut sang Manajer sekaligus pemilik, David Maidy, menjelaskan konsepnya masih sama tak berubah. Ia meyakini model warung kopi dimana pengunjung dinyamankan.

Namanya sebagai roti bakar rakyat belum lekang. Harganya dari Rp.5000 untuk roti biasa sampai termahal Rp.13.000 -an buat spesial. Bosan makan roti maka jawabannya ada pisang bakar. Masih tak puas bisa juga coba mie instan dan kopinya. 
 
Kalau badang meriang maka minumnya jahe kencod. Bisa menghangatkan tubuh dan mengusir penat. Ini terhitung murah kok cuma Rp.5000 sampai Rp.11.000. Fokus bisnisnya itu memang ada di pasar pelajar.

Bisnis Lampu Bambu Pengusaha Sederhana

Profil Pengusaha Roni Dwi Wijayanto


bisnislampu.png
 
Bisnis lampu bambu terinspirasi kejadian sepele. Kisah pengusaha sederhana ini kreatif dan punya rasa seni.  Inspirasi bisnis memang bisa datang dari mana saja. Kapan saja dan tentu buat siapa saja yang punya daya kreatifitas tinggi. 
 
Pria asal Desa Pehkulon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, yang mengaku bisnisnya terinspirasi seketika. Memulai usaha sejak dua tahun silam, idenya bersumber dari dapur rumahnya. Usaha tersebut tak pernah terpikirkan sebelumnya.
 

Bisnis Sederhana


Suami wanita bernama Sunarti ini, sedang makan di dapur rumahnya yang sederhana di kampunya. Ketika ia tengah menunggu makan ditemani tungku berbahan bakar kayu. Disana lah, di rumah sederhana miliknya, yang dapurnya masih memakai bahan bakar kayu; ide muncul. 
 
Disaat  mengambil satu potong bambu untuk dimasukan ke tungku. Ada kegelisahan seketika ketika melihat si bambu tersebut. Sayang sekali kalau bambunya dibakar jadi abu pikir Roni Dwi Wijayanto. Terus bagaimana ya caranya agar bisa bermanfaat. 
 
Ia ingat betul bambu begitu melimpah di Desa Pehkulon. "Akhirnya saya mencoba membuat lampus hias," ujar Dwi.

Ditambah kreatifitas tinggi diubahnya sepotong bambu jadi lampu. Bambu yang berlimpah tapi sangat rendah nilai ekonomisnya itu; disulapnya kaya. Hasil kerajinan tangan Dwi ternyata berhasil menarik perhatian. Tak sedikit warga sekitar mau memesannya. 
 
Singkat cerita dibuatlah masal aneka lampu dari bambu. Berjalannya waktu bentuk dan ragam produk Dwi bertambah. Hasil kerajinannya ini ternyata begitu populer. Modal mengikuti aneka pameran UKM membuka satu jalan kesuksesan. 
 
"Salah satu pemasaran ya lewat pameran- pameran," imbuh pria yang cuma lulusan STM ini.

Sukses itu buat siapa saja. Seseorang apapun latar pendidikannya bisa menjadi pengusaha sukses. Dijualnya aneka lampu bambu seharga Rp.25.000 sampai Rp.250.000. Total sudah ada 10 macam model lampu yang bisa dibuat Dwi. 
 
Dalam sebulan bisnis lampu mampu mengantongi Rp.5 juta. Ayah dari Mita (5 tahun) dan Afika (10 tahun) ini tak lagi perlu kerepotan memenuhi kebutuhan sehari- hari.

Akunya, dulu, dia tak punya pekerjaan tetap hingga sering di rumah. Dia cuma nguli angkut pasir itupun kalau ada permintaan. Mimpi besar seorang Dwi sebagai pengusaha, adalah bagaimana membesarkan bisnisnya. 
 
Di desa yang bambu bahan baku utama begitu melimpah. Soal tenaga kerja tingal mempekerjakan pemuda sekitar rumah.

"Saya berharap nantinya bisa ekspor kerajinan dari bambu ini," jelasnya singkat kepada Kompas.

Untuk kendala utama ialah kurangnya peralatan. "Sedangkan kendala saat ini adalah terbatasnya peralatan," jelas pengusaha berkacamata ini.

Pengusaha Cendol Dawet Kraton Inspirasi Usaha

Profil Pengusaha Lai Moi


pengusahacendol.png

Inspirasi usaha datang ketika mencari resep kuliner. Dia pengusaha cendol dawet Kraton, berawal cari- cari minuman tradisional, resep kuno. Nanti tinggal kita praktikan atau memberikan sentohan inovasi. Ia memang tak gampang menjadi pengusaha.
 
 
Ini kisah Lai Moi, seorang wanita paruh baya, umur 54 baru memulai usahanya terinspirasi sang suami yang suka cendol. Ia tengah aktif mencoba menaikan derajat minuman ini. Ternyata orang bisa kaya berkat kuliner masa lalu. Memang Indonesia menyuguhkan aneka resep turun- temurun dari orang tua. 
 
Tinggal bagaimana kita anak muda mengemasnya. Contoh sukses pengusaha muda ya itulah Randol kepanjangan dari Raja Cendol. Kisah sukses pengusaha muda bermodal tipis. Modalnya itu cuma 13 juta -an tapi bisa sukses. 
 

Inspirasi Usaha

 
Lain halnya dengan Lai Moi karena menurut sumber Kompas, dia bukan wanita sembarangan. Sudah makan garamnya menjadi karyawan itulah dirinya. Dia, sekitar 7 tahun silam, adalah karyawan biasa di sebuah indutri garmen. Dia sama sekali belum pernah menyentuh bisnis kuliner sebelumnya. 
 
Bisnis pertama ialah bisnis garmen itu sendiri. Tepatnya dia pernah bekerja di sebuah garmen milik perusahaan asal Taiwan di Bogor. Lantas setelah jenuh memulai usaha garmennya sendiri. Usaha yang dirintis di tahun 1996, ia dan juga suaminya memutuskan membangun usaha.

Mereka bekerja di sebuah perusahaan yang sama. Akhirnya memutuskan membuka usaha garmen sendiri bersama seorang teman asal Taiwan. Empat tahun berselang selepas bisnisnya berjalan; Lai Moi memutuskan hengkang. Dia hengkang dari usahanya sendiri karena perselisihan usaha. 
 
Sukses membangun bisnis garmen membuat keduanya punya cukup uang. Mulailah sang suami, Agung Wiyono (52 tahun), berusaha sendiri yakni lewat bisnis kristal. Sayangnya, permintaan akan kristal itu tak menentu, akibatnya mereka tak mendapatkan penghasilan tetap di tiap bulannya. 
 
Padahal keduanya sudah membuka gerai di kawasan Sukasari, Bogor Timur. Permintaanya itu terbatas orang- orang tertentu yang gemar kristal. Sudah lima tahun berlalu bisnisnya masih dipertahankan. 
 
Hingga suatu ketika Lai Moi diajak sang suami menyantap es cendol. Kenapa gak membuka usaha cendol saja.

"Suami saya mendukung karena sense bisnisnya juga bilang bidang ini bakal bagus. Ini bisa jadi uang," jelas Lai Moi

Nah, kebetulan ada seorang teman memberinya resep cendol. Bukan perkara mudah ternyata mengerjakan bisnis ini. Meski terlihat sepele ternyata ada masalah juga. Dia berulang kali gagal membuat cendol. 
 
Ia cuma bermodal resep karena tidak pernah membuatnya sebelumnya. Idealisnya juga menuntunya untuk membuat bisnis sehat. Membuat cendol bebas pewarna buatan. Sukses Lai Moi selepas menggunakan daun suji jadi bahan pewarna hijaunya.
 
Cuma bermodal resep kuliner bisakah sukses. Akhirnya Lai Moi sudah bisa membuat cendolnya sendiri. Ia bermodal daun suji yang dia dapat dari pagar tetangganya. Kemudian disewanya sebuah lahan seluas 1.000 meter di Ciherang, Kabupaten Bogor, cuma buat ditanami daun suji. 
 
Awal- awalnya minuman cendolnya tak menarik pelanggan. Bahkan banya tersisa bahkan harus diminum sendiri. Atau, jika tidak ia akan membagi- bagikannya ke orang- orang gratis. Beda orang sukses dan orang gagal adalah berani menjalani prosesnya. 
 
Itulah sosok Lai Moi kembali buat usaha lagi. Orang sukses sadar harus ada harga dari sekolahnya. "Sekolah pengusaha" membawanya jauh ke apa yang belum digapainya. Usaha cendol bernama cendol Kraton tersebut tak surut. 
 
Dia punya cara sendiri buat memasarkan produknya. Ia memilih buat mengunjungi Institut Pertanian Bagor. Dicarinya informasi tentang kandungan kolesterol pada santan. Eh, ternyata kandungan kolesterol jahat tidak ada, selama santannya tak dipanaskan. 
 

Pengusaha Cendol Dawet

 
Selama santan tak memasuki proses pemanasan maka akan baik- baik saja. Untuk itulah ia memilih tak memasak santannya. Oleh karena tidak dipanaskan, sebagai hasilnya, ia memilih mencuci kelapanya dengan air panas. Selepas itu dicuci bersih barulah diperas santannya. Ia tak kunjung menyerah.

Dibantu oleh seorang karyawan mencoba menjual cendolnya lagi. Kali ini, dijualnya cendol di tempatnya berjualan kristal. Hasilnya ternyata tak membaik cuma laku 20 gelas cendol saja. Sisanya lagi- lagi diminum sendiir atau dibagikan ke tetangga. 
 
Karena hasilnya tak kunjung membaik. Sang karyawan satu- satunya memutuskan buat berhenti bekerja.

"Dia bilang, kasihan kalau usahanya enggak jalan, tetapi saya tetap harus membayar gaji bulanannya," ujar Lai Moi.

Usahanya terus dikerjakan terus- menerus. Hingga akhirnya membaik dalam perjalanannya. Cendol bernama de Kraton itu mulai mendapatkan pelanggan. Ia kemudian menawarkan cendonya ke pusat perbelanjaan di Kota Bogor. Hasilnya ternyata memuaskan. 
 
Memasuki tahun ketiga mulailah merubah konsep bisnisnya. Dia tak segan membuka konsep waralaba. Dengan modal investasi cendol Rp.6 juta sudah bisa mendapatak satu set perlengkapan dan 50 sajian pertama. 
 
Cendolnya terdiri dari rasa orisinal, nangka, durian, float, yang terbaru adalah cendol rasa jahe. Dulu cuma punya satu karyawan, kini, di rumah produksinya sudah ada 40 orang karyawan. Terdiri dari karyawan di bagian produksi, dari pembuatan sendol dan santan, kemudian masuk ke gelas kemasan.

Ia juga mewajibkan mereka mengenakan masker. Fungsinya agar mereka yang besentuhan langsung dengan si cendol menjaga higienitas. Penjualan cendol naik sampai 1000 gelas untuk wilayah Jabodetabek dan juga di Bandung. 
 
Kalau pada akhir minggu penjualan akan naik sedikit seperti dilansir oleh Surabaya Post. Soal masalah -selalu ada masalah tapi tak membuatnya jatuh. Lai Moi memang sosok pekerja keras sejak mulai bekerja di garmen.

Dia pernah bekerja berhari- hari. Bahkan sampai tak meninggalkan kantor karena mengejar target ekspor. Lain menjadi karyawan, hatinya jauh lebih gembira ketika melihat anak- anak mengantri cendolnya. 
 
Artinya hasil kerja kerasnya terbayar. Dan, membuktikan bahwa minuman tradisional masih diminati oleh anak- anak jaman sekarang. Minuman tanpa bahan kimia ini benar- benar masih disukai.

"Kan banyak anak yang suka minuman instan berbahan kimia. Saya senang bisa memberikan pilihan yang sehat untuk mereka," tuturnya.

Ia kemudian cepat menimpali, "saya juga senang bisa menyebarluaskan minuman tradisional Indonesia ini."

Kunci sukses cendol Kraton menurutnya ada di kegigihan, inovasi, serta pengendalian mutu. Karena itulah ia bahkan sudah menyiapkan diri go international. Dia sudah mempersiapkan satu gerai di luar negeri. Sudah ada seorang patner mau menawarkan cendolnya. 
 
Lai Moi salah satu sosok yang menaikan pamor kuliner ini. Kuliner tradisional ternyata bisa diolah sedemikian rupa. Melalui manajemen modern apapun produknya pasti bisa dipasarkan.

Website: www.cendoldekraton.com

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba