Dulu Kenek Sekarang Pengusaha Distributor Besar Ayam

Profil Pengusaha Rudi Chandra


distributorayam.png
 
Roda berputar dulu kenek sekarang pengusaha. Dia membalik keadaan, dan kini menjadi distributor besar ayam ke Ibu Kota Jakarta. Lewat kisah Rudi Chandra, mulailah kamu percaya bahwa apapun dapat terjadi, bahkan buat kamu dulu kenek angkotan umum.
 
Profil Rudi Chandra dikenal sebagai pemilik perusahaan bernama Dagang Fiber Jaya. Kisah suksesnya panjang nan- pilu sudah dimulai semenjak ia dilahirkan sebagai anak dari keluarga kekurangan. 
 

Menjadi Distributor Ayam

 
Pria kelahiran 45 tahun silam, selepas masa sekolahnya di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat, tahun 1990 -an silam. Mengaku selepas sekolah langsung ke Jakarta merantau mengadu nasib. 
 
Rudi tak terbersit akan menjadi apa selepas sekolah. Di Jakarta cuma bisa bekerja serabutan. Mulai bekerja menjadi kenek bus kota, menjadi pedagang kaki lima, hingga sampai jadi pengemudi taksi.

"Saya jadi kenek bus karena berpikir kerja apa saja, asal jangan menganggur dan halal," jelasnya kepada pewarta Kompas.com.

Ia sendiri merasakan kejamnya Ibu Kota. Terutama jika sudah bertemu preman, pungli, atau penumpang yang cuma bergelantungan di bus. Rudi sendiri memilih tak mencari masalah. Kalau ada hal seperti itu Rudi memilih mengalah. Tiga bulan berlalu cuma mentok jadi kenek. 
 
Ia mengaku lantaran tak bisa menyopiri maka jadilah dia kenek saja. Hasil dari usahanya cuma Rp.5.000 per- hari. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Rudi juga aktif berjualan jam tangan di Pasar Mester, Jatinegara, Jakarta. Karena gaji menjadi kenek sangat kecil. 
 
Oleh karena itulah ia memilih belajar mengemudi dan menjadi sopir. Hasilnya lumayan gajinya naik jadi Rp.15.000 per- hari. Ia berbeda dari kebanyakan temannya. Jika temannya memakai uangnya untuk bersenang- senang, maka Rudi memilih meningkatkan diri.

Dia tak menghabiskan uangnya. Malah dikumpulkan digunakan buat kursus komputer. Selama delapan bulan ia gunakan fokus belajar mengoprasikan komputer. Hasilnya berkat kursus itulah dirinya diterima bekerja di pabrik pada tahun 1995 -an. Rudi memiliki prinsip menginginkan hidup lebih baik. 
 
Tak ada rasa puas dalam dirinya untuk berhenti menjadi lebih baik. "Maka saya mencari ilmu. Ilmu itu tidak akan habis," jelasnya, hasilnya ialah ia bekerja di sebuah perusahaan keramik.
 
Bekerja di pabrik, mantan kenek itu kini bekerja menjadi pegawai pengontrol mutu. Dia menjadi pegawai di perusahaan terletak di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Untuk ini gajinya bisa dibilang turun yakni cuma Rp.4.600. 
 
Bedanya ialah Rudi bisa tinggal di mes pegawai milik perusahaan. Dia tak perlu memikirkan biaya sewa tempat tinggal lagi. Dalam mes ada salah satu temannya yang beternak ayam kecil- kecilan. Ia tiap hari melihatnya hingga terbersit pikiran.

Dalam 30 hari usaha milik temannya bisa panen. Bisa menambah uang tambahan buat si empunya dari ayam- ayam potong tersebut. "Saya juga tertarik," ujar Rudi lagi. 
 
Ide membangun peternaka ia realisasikan langsung tanpa pikir lama. Rudi lantas mencari lahan buat membangun peternakan. Seorang teman memberi tahunya bahwa di kawasan Serang, Banten, ada tanah buat disewakan. Baru menjadi pegawai beberapa bulan. Rudi memilih menjadi peternak.

Dia ingin beternak ayam. Modalnya cuma Rp.3,5 juta hasil pesangon dan tabungan. Di tahun 1996, didirikan kandang ayam untuk 2.000 ayam modalnya Rp.1,9 juta. Lahan seluas 5.000 meter juga disewanya. 
 
Sewa lahan dihitungnya jumlah ayam diternakan. Yakni besarnya Rp.100 per- ekor, kala itu Rudi masih bekerja sendiri, tak cukup uang buat membayar pegawai terangnya. Panen pertama itu setelah 35 hari. Hasilnya dari panen pertama yaitu Rp1,5 juta.

Mantan Kenek Sopir

 
Tak lantas digunakan macam- macam tapi diputarkan lagi untuk kandang baru. Jadilah usahanya bisa naik lebih besar lagi. Sayangnya, usahanya tertimpa krisis monter tahun 1997. Rudi langsung bangkrut karena kriris moneter. 
 
Masalah krusial dari bisnisnya adalah bahan baku yang impor. Ya, beda dari pengusaha lain, kala itu Rudi disibukan penggunaan bahan pakan impor. Disaat harga dollar naik maka harga bahan pakan dari impor naik dua kali lipat.

Disisi lain, harga jual ayam potong miliknya tak naik. Alhasil Rudi nombok pembayaran buat tengkulaknya. Dia kemudian menerapkan sistem habis jual. Maksudnya pembayaran tengkulak selepas ayam habis terjual. Butuh waktu lama bahkan sampai satu bulan lunas. 
 
Si tengkulak jadi susah- susah gampang ditemui. Rudi harus rajin- rajin mencari mereka. Kalaupun ketemu mereka akan memilih membayar lewat mencicil.

Rudi buat memenuhi kebutuhan sehari- hari. Terpaksa menyewakan kandang- kandang miliknya. Sewanya yaitu Rp.250 per- ayam. Selain menyewakan kandang juga menjadi tukang bongkar muat sangkar ayam dari mobilnya. 
 
Selama enam bulan aneka pekerjaan lain dikerjakan. Salah satunya kembali menjadi sopir lagi. Uang dari tengkulak baru mau membayar ketika ayamnya laku. Ide lain muncul yakni kenapa menjual ayam itu utuh.

"Saya lalu berpikir, lebih baik menjual daging ayam saja," terang Rudi.

Menjadi pedagang daging tentu beda dari beternak. Meski menjual sendiri hasil ternaknya tentu beda. Rudi merasakan betul di hari pertama berjualan. Dia punya stok daging 10 kilogram. Namun, hanya ada sepotong paha laku dijual seharga Rp.15000, tak mudah memang. 
 
Apalagi ia harus bangun pagi- pagi sekali yakni dari pukul 04:30 dimana pasar mulai ramai, sampai pukul 07:00 di Pasar Ciruas, Kabupaten Serang, Banten.

"Waktu itu, relasi saya memang belum banyak," jelas Rudi. Untuk daging dipotong dan dibersihkan olehnya sendiri. Dia mencoba menjaga kepercayaan pelanggan. Dalam dua- tiga hari sudah bisa uang dikumpulkan. Ia kumpulkan juga buat membayar peternak patnernya. 
 
Buat apa uang ditahan berhari- hari, semuanya ia langsung bayarkan, dengan begitu hutangnya langsung lunas.

"Itu hak orang lain," Rudi menambahkan. Hasil kerja kerasnya yaitu minibus sebagai kendaraan opersional. Dia beli seharga Rp.8,5 juta. Pelangganya tak lagi cuma pembeli pasar, tapi tukang sayur, hingga pemilik rumah makan, dan juga penjual pecel lele. Ayamnya ditawarkan melului sistem jemput bola. Dia sendiri yang menawarkan langsung ke penjual.

Mulai dari peternak ayam. Kini, ia beralih menjadi pedagang daging ayam pula. Kisah suksesnya berlanjut lewat marketing jemput bola. Dimana para pembeli tak perlu repot datang ke tempatnya. Akan tetapi ia lah sendiri menghantarkan ayam- ayamnya ke sana. 
 
Kualitas ayam dijaganya agar tetap dipercaya. Berkat inilah ia mampu membuka lapangan kerja bagi 10 orang. Salah satunya sudah ikut sejak usianya masih muda. Dia sampai sudah punya anak. Tidak cuma menawarkan ayam potong. Dia juga menawarkan kembali ayam utuh. 
 
Di tahun 2004, ia telah mampu menjual 1.200 ayam per- hari ditambah penjualan daging ayam di Pasar Ciruas. Ketika dia tak lagi mampu mengatasi pesanan. Diserahkannya usaha penjualan daging ayam kepada pegawai. Sementara dia jadi pemasok daging mentahnya untuk dipotong. 
 
Sebuah kombinasi menarik membangun usaha dari hulu ke hilir. Lewat hutang dari bank dibangun kembali peternakan miliknya. Modal kandang yang disewakan kembali ke tangannya. Digunakan kembali buat membangun bisnis peternakan ayam. 
 
Sukses dari bisnis ayam membuat ia memiliki 17 kandang tersebar di Kabupaten Pandeglang, Serang, Lebak, dan Kota Serang. Kemudian ia membuka namanya Perusaha Dagang (PD) Hiber Jaya tahun 2011. Kemudian usahanya dari ayam potong dan ayam beku.

Hingga ada 30 truk siap hilir- mudik dari tempatnya mengangkut ayam. Setiap truk bisa mengangkut 1000 ayam. Bisnisnya mampu menghasilkan 30.000 ayam didistribusikan dari Banten, Jakarta, Lampung, Sumatra Selatan, Kepulauan Riau, bahkan sudah sampai Kalimantan. 
 
Mitra bisnisnya mencapai 100 peternak dan juga 20 perusahaan. Jumlah karyawannya sudah 20 orang. Mereka lantas tersebar di rumah potong ayam, kandang, dan pasar. Dia mempekerjakan mereka warga sekitar. Total ada tujuh truk dan dua mobil boks milik pribadi. 
 
Semuanya untuk operasional utama usahanya. Bicara omzet pastilah sudah terbaca sampai miliaran rupiah. Akan tetapi yang terpenting bukanlah jumlah omzetnya tapi mampu membuka lapangan kerja. Selain itu ia ingin menjadi bukti hidup tidak ada yang tidak mungkin. 
 
Termasuk dirinya yang cuma mantan kenek. "Yang lebih penting adalah kita bisa membuktikan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha," tegas Rudi.

Pengusaha Muda Jualan Hotdog Riza Mr.Unyu

Profil Pengusaha Riza Hariadi


jualanhotdog.png
  
Pengusaha muda jualan hotdog Riza pemilik Mr. Unyu. Ini dia contoh alumni kampus sukses buat kamu. Kalau kamu kuliah ada baiknya pikir betul jurusan apa. Lantas apa juga bisa membuat kamu menjadi wirausaha. 
 
Kisah berikut adalah kisah pengusaha alumni Akpar Majapahit. Dia tak cuma kuliah tapi mempraktikan kuliahnya. Sejak masuk Majapahit Tourism, cowok 28 tahun ini, memang sudah membidik jurusan pariwisata. Dia membidik jurusan yang mampu menjadikannya seorang pengusaha.
 

Bisnis Jualan Hotdog


Tak mau menjadi pegawai hotel atau restoran, akhirnya Riza Hariadi, memilih membuka usaha sendiri. Usaha bernama Burger Gosong Saus Jodoh yang terkenal di sekitar Pantai Senggigi. Unik didengar membuat orang jadi penasaran. 
 
Apalagi kalau kita mendengar kisahnya. "Pokoknya setelah lulus dari Akpar Majapahit, saya harus punya usaha sendiri," ujar dia kepada pewarta kampus. 

Bukti di 2011, Riza mulai merintis usaha sendiri meski tak segampang itu. Pokoknya dalam benak pemuda berkacamata ini cuma membuka usaha. Dia memutar otak keras bukan bagaimana menjadi pegawai. 
 
Bukan bagaima dirinya diterima di hotel berbintang. Oleh karenanya selama masa kuliah di Akpar Majapahit, ia mulai mencoba- coba usaha sendiri. Memang sejak kuliah mahasiswa diajarkan pelajaran kewirausahaan.

"Selama kuliah memang di latih menjadi entrepreneur," ujar Riza.

Banyak lika- liku dialami selama memulai. Tak semudah membalikan telapa tangan. Kendala awal seperti halnya pengusaha lain ya soal modal usaha. 
 
"Saya ingat betul kata Pak Hedi (dosen kewirausahaan) selalu bilang bahwa Modal utama dalam berwirausaha bukanlah Uang, tapi Modal berani aja sudah cukup," jelasnya. Riza modal nekat menjual barang menjadi uang. Itu dicukup- cukupkan saja -tapi masih berasa tak cukup juga.

Masih kurang maka dicobalah meminjam saudara. Maupun mengais sisa- sisa uang tabungannya di bank. Semuanya digunakan menjadi modal usaha. Soal tempat pun sudah diputuskan yakni di Lombok. Alasan utama karena di Lombok banyak saudara. Selain mencari suasana baru. 
 
Setidaknya bisa meminta bantuan saudara kalau ada kesulitan. Sisa modal didapatkan dari motor barunya yang ditukar motor bekas; cukup menutupi. Soal tempat tinggalnya terselesaikan lewat menumpang di saudara. Riza tak terlalu banyak keluar uang. 
 
Nah, setelah disana, setelah modal cukup, tinggal memikirkan "mau jualan apa ya?. Memang sejak awal gambaran mau bisnis belum ada sejak pindah ke Lombok. Mau usaha apa tak jelas mau jualan apa. Peluangnya baru terlihat justru ketika dalam kegalauan.

Di tempat tinggalnya yang baru, di dekat pantai Senggigi Lombok, ide bisnis itu baru muncul. "Saya lihat kok enggak ada yang jualan hotdog, padahal banyak bule," celetuknya. Sejak saat itu, ia memutuskan berjualan hotdog saja. 
 
Karena saingan tak ada jualan hotdog plus burger menjanjikan. Dibuka lah satu gerai bernama Surfing Duo Burger and Hotdog. Nama yang diambil mengingat gerainya ada didekat tempat bule berstirahat selepas surfing.

Bisnis Pengusaha Muda



Pengorbanan terbayar lewat gerai yang tak perlu menyewa mahal. Cukup menambahi biaya air dan listrik. Terus berkembang membuat Riza bisa membuka cabangnya hingga Mataram. Ia dibantu oleh saudara disana yang juga mau membuka usaha sendiri. 
 
Dalam perjalanan bisnisnya sudah tak terhitung sudah berapa kali berganti nama. Faktanya brand menjadi masalah krusial pengusaha muda yang satu ini. Brand itu berubah sejalan bertambah aneka varian rasa.

Sudah beberapa kali berganti nama tak membuat sepi peminat. Untung, karena sambil berganti nama, Riza tetap aktif memperbarui varia menu. Hasil kuliah di Jurusan Food and Beverage mulai dipraktikan langsung. S
 
erangkaian varian produk hotdognya sekarang begitu digemari. Tak mau setengah- setengah ia mulai rajin membaca marketing. Akhirnya diputuskan namanya menjadi Mr.Unyu, dan terbukti mampu menarik lebih banyak pembeli.

Tepatnya, lebih panjang Mr.Unyu: Burger Gosong Saus Jodoh. Memang sengaja dibuat sedemikian rupa agar menarik perhatian pembeli. Sukses Mr.Unyu masih berkelanjutan loh. Sukses diraihnya bukan sekedar lewat berkorban tetapi juga kerja keras. 
 
Sejak awal ia memang hobi memasak dan bereksperimen, ditambah membaca buku marketing. Kesimpulan bahwa usaha sendiri lebih baik dari jadi pegawai, telah dibuktikan lewat pengalaman pribadi.

Memilih kuliah mempengaruhi kamu akan jadi apa kelak. Riza mensarankan buat adik kelasnya agar berpikir matang. Harus selalu belajar menekuni apa yang kamu pelajari di kampus. Memilih kampus baik menentukan pelajaran yang kita terima. 
 
Apa mendukung juga menjadi pengusaha atau tidak. Ketika ia berkuliah Kuliah Kerja Nyata, disanalah pembuktian ia tak salah memilih. Ketika Riza bersama kawan praktik berjualan Sushi Rendang. Ada pengalaman menarik tak terlupakan. 
 
Kisah kerja nyata bersama kawan, berjualan memakai mobil kampus dan berpakain chef, tampak menyolok salah kostum. Berjualan di kampung seperti orang kaya, tak ayal tukang becak nyeletuk nyinyir. 
 
"Mas kalau sudah kaya dirumah aja, ngapain jualan disini, bikin warungnya nggak laku." ucapnya.

Ini menjadi sebuah tamparan tentang makna menjadi pengusaha. Riza sadar perlu ada pemahaman soal cara terbaik memulai usaha disuatu lokasi.

"Lucunya lagi Bapak itu ngomongnya makek bahasa jawa medhok, sambil nunjuk warung temannya," Riza menirukan.

Itulah mengapa Riza meyakini bahwa pengusaha harus bisa bersosialisasi. Agar tidak ada resistensi dari masyarakat sekitar. Itu sebabnya ketika memulai bisnis dia begitu memperhatikan lingkungan. Hingga soal gambaran tempat usaha terlihat sangat sederhana. 
 
Coba bayangkan apa yang mungkin terjadi bila ada resistensi. Bisa saja kisah Riza Mr. Unyu tak akan semulus kita bayangkan kini.

Jualan Cireng Kecil- Kecilan Usaha Jutaan

Kisah Sukses Yusuf Setiady


usahajutaan.png
 
Ia cuma berjualan cireng kecil- kecilan. Usaha jutaan maka pengusaha cireng dimana- mana. Beberapa pengusaha sukses bahkan beromzet puluhan juta. Terbuat dari tepung singkong dibulat- bulat terus digoreng. Warnanya putih dan terlihat gurih tapi ternyata kenyal didalam. 
 
Ketika sudah dingin maka akan terasa alot. Jangan diremehkan loh sudah terdaftar banyak pengusaha sukses berkatnya. Sebut saja Riener Bonifasius Rahardja pemilik Cireng Isi Kodjo.
 

Usaha Jutaan


Ataupun, sosok Fadly Alfiansyah sukses bersama cireng kamsia, dan masih banyak lagi. Cobalah mencari di blog ini lewat search diatas (kata kunci: cireng). Kembali ke sosok fokus di artikel ini. Ialah Yusuf Setiady. 
 
Siapa kah dia hanyalah pemilik bisnis cireng. Pengusaha cireng ini bisnisnya memang cemerlang. Saban bulan bisa menghasilkan omzet Rp.120 juta.

"Laba saya mencapai 20 persen," ujarnya.

Kunci sukses jualan cireng alanya adalah keberanian inovasi. Ia punya cireng aneka rasa. Pengusaha satu ini punya cireng isi keju, oncom, sosis, daging sapi, ayam, kacang hijau dan aneka sosis. Satu terobosan lain menurutnya ialah menjualnya matang- matang. 
 
Meski sudah banyak cireng di pasar, lagi- lagi dirinya berani tekankan bahwa cirengnya khas. Dimana cirengnya renyah tidak terlalu kenyal isinya.

"Itu, karena saya memakai aci mendoan," ujarnya. Yusuf dibantu lima orang kawannaya dari Jakarta dan Bandung berinisiatif membuka usaha ini. Pengusaha 39 tahun ini cuma bermodal Rp.100.000 saja. 
 
Padahal belum juga punya merek. Cuma sebutannya Cireng Aneka Rasa.Yusuf menjajakan cireng berdiameter 7 cm memakai kemasan plastik. Sebungkus isinya 10 buah memiliki lima rasa, dalam satu kemasan ada dua cireng berasa sama. 
 
Harganya cuma seharga Rp.5000- Rp.6000. Pusat produksinya di Cibuntu, Bandung, dimana itu juga tempatnya memproduksi tahu. Produknya sendiri sudah tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, hingga ke Bekasi. 
 
Kapasitas produksinya mencapai 50 boks berisi 50 bungkus cireng. Daftar pengirimannya setiap Selasa, Kamis, dan juga Sabtu. Di Jakarta Yusuf akan menyebarkan ratusan bungkus kepada 30 agen penjualan. 
 
Para agen tersebut lantas menyebarkannya ke pelanggan dan ke perumahan- perumahan. Optimis bisnisnya akan lebih maju lagi, ia pun senang, hingga berancang- ancang membesarkan bisnisnya. Antara lain dengan memasang merek sendiri hingga melegalkan status produknya ke Depkes. 
 
Kemudian ia berencana menjualnya melalui sistem gerobak. Nantinya perusahaanya juga membuka kemitraan.

"Saya akan mencoba bikin master (kemitraan) dulu," tutupnya.

Wirausaha Taman Kelinci UR2farm Cisarua

Profil Pengusaha Nuning Nurhayati


usahataman.png
 
Bayangkan wirausaha taman kelinci UR2Farm. Kisah dibalik pengusaha pemilik usaha kreatif ini. Ia tak masalah walau bisnisnya beda 180 derajat. Sosoknya sangat mengidolaan Menteri Susi, atau Susi Pudjiastuti, pengusaha wanita yang merintis usaha dari nol.
 
Sosok inspiratif bagi wanita pemilik taman kelinci UR2Farm Cisrua. Dialah Nuning Nurhayati telah tak terbantahkan sebagai sosok inspiratif lain. Terinspirasi Menteri Susi, eh, kini Nuning menjadi sosok menginspirasi kita semua. Bisnisnya unik lain- daripada yang lain. 
 

Memulai Wirausaha Taman Kelinci

 
 
Sebelumnya tak terpikirkan akan adanya model bisnis semacam taman kelinci. Pemilik Taman Kelinci UR2farm kemudian bercerita kisahnya kepada awak media Liputan6. Ia mengaku terinspirasi kisah Susi Pudjiastuti. Meski bisnisnya beda seratus delapan puluh derajat; tak jadi masalah. 
 
Apa yang menjadi inspirasinya karena sosok Susi terlihat cuek. Mungkin dia perokok terkasannya acuh. Akan tetapi dibelakang kisah hidupnya sebagai bakul ikan menggugah hati. Itu menggugah hati seorang Nuning, mantan pegawai Bank. 
 
Dia yang kala itu barulah pensiun melihat sosoknya muncul di layar televisi. "Saya pernah lihat dia diwawancarai di televisi," ujarnya. 
 
Kemudian tepikirlah kalau dia bisa kenapa dirinya tidak. Menjadi pengusaha berarti bisa buat siapa saja. Kebetulah dia adalah pecinta kelinci. Dimana ia sudah memelihara banyak sekali dan mulai kerepotan.

Kenapa tidak dibisniskan saja pikirnya. Awalnya cuma dua kelinci lantas berkembang biak menjadi banyak. Itu lah jalan usahanya selepas pensiun. Sudah ditunjukan oleh Allah sendiri didepan matanya, yang dulunya itu cuma dipelihara kini bisa jadi bisnis menjanjikan. 
 
Melebarkan sayapnya ke model bisnis ternyata baginya tak terlalu sulit. Dia bahkan sudah punya 900 ekor. Termasuk dari peternakan lain ditambah bisnis petshop. Ia menjelaskan kelinci hias bisa dipelihara. Kelinci pedaging kemudian diginya bisa diolah menjadi aneka sajian. 
 
Masih Kurang maka urin dan dan bulu kelinci bisa dijadikan tas, baju dan lain- lain. Inilah potensi apa yang dilihatnya ketika memandang kelinci- kelincinya. Potenis bisnisnya sangat menjanjikan bahkan sudah bisa menghasilkan 10 juta per- bulan. 
 
Ini bahkan jauh dari modal awalnya yang cuma Rp.500 ribu. Cuma saja semuanya ini terjadi tidak lah sebentar. Beternak sejak 2008 usaha kelinci benar- benar ditekuninya. Ia sudah paham betul tidak ada yang terbuang. 
 
Dari kulit, daging, bahkan urinnya sudah bisa dimanfaatkan. Urin atau kotorannya sekarang bisa digunakan menyuburkan tanah. Kemudian Nuning gunakan kembali tanahnya untuk menanam sayuran organik. Setelah tumbuh bisa dijualnya ke supermarket.

Usaha dari Hobi


Awalnya tak menyangka, karena memang, ini cuma hobinya saja memilihara dan menternakan kelinci. Dari cuma dua ekor berubah jadi 900 -an. Pada 2008, ia mantap memindahkan kelincinya ke Cisarua hingga kini lahirlah obyek wisata beranama Taman Kelinci Cisarua. 
 
"Karena dari kecil itu suka kelinci terus sampai saya bekerja dan akhirnya pensiun dini dan saya akhirnya coba pelihara itu," jelas Nuning. Dia cumalah bermodal uang 500 ribu.

Uang tersebut digunakan buat kandang. "Kandangnya bisa pakai bambu saja pun bisa atau pakai bambu dan besi juga bisa. Kayaknya dengan 500 ribu pun bisa," jelasnya.

Bukan serampangan karena ia benar- benar mempelajari bisnisnya. Dimulai dari sebuah pesanan kelinci dari seseorang sampai 100 ekor. Gayung bersambut akhirnya bisa jadi pembuka bisnisnya. Ia pun tak segan buat terus mempelajari seluk- beluknya. 
 
 
Meski kelihatan mudah ada saja masalah mungkin terjadi. Oleh karena itu ia mulai memproduksi makanan sendiri. Makanan berbentuk pelet itu sudah bisa diproduksi oleh usaha miliknya UR2farm. Beda kebanyakan orang memilih sayuran utuh, justru Nuning lebih memilih menggunakan makanan pelet. 
 
Kemudian lagi untuk menjaga kesehatan kelinci rajin- rajinlah membersihkan kandang. Lalu jangalah kita menaruh kelinci langsung kena matahari atau hujan. Alasan lain kenapa memilih pelet karena alasan bahwa jika memakai sayuran akan menimbulkan penyakit. 
 
Bayangkan sayur- sayur itu diinjak- injak, mungkin tak dimakan semua, kemudian dijadikan alas tidur.

"Kalau kita kasih sayuran mentah nanti juga akan dia injek-injek dan dijadikan temoat tidur, jadi akhirnya timbul penyakit bagi kelinci," jelasnya lagi.

Bahan peletnya cukup limbah ampas tahu organik. Modalnya cuma ambil dari masyarakat sekitar. Nuning juga memanfaatkan konsep petani plasma. Dirinya mempercayakan beberapa keluarga agar mau memelihara kelinci. Jumlah kelinci diberikan 15 ekor per- keluarga. 
 
Ada 13 jenis kelinci sukses diternakan Nuning. Hasil produksinya mulai dari daging mentah, nuget, bakso, sosis. Daging mentah diambil dari kelinci berumur 2- 6 bulan. Namun, hanya kelinci yang sudah lepas menyusu dari ibunya saja, yang digunakan buat peliharaan. 
 
Harga dari dagingnya mencapai Rp.20 ribu sampai Rp1,5 juta. Tergantung yang ingin diambil mengacu pada jenis hias atau pedaging. UR2farm tak cuma menjual daging, kotorannya, bisa digunakan pupuk dan digunakan buat semprotan sayuran organik. 
 
Kulit kelincinya kemudian digunakan sebagai sarung bantal dan juga jaket. Bisnisnya sudah menyebar ke penjuru Jabodetabek. Ia mengharapkan tidak ada yang terbuang. Semuanya ia harapkan bisa membantu kehidupan masyarakat. Mengelola bisnisnya dia cuma dibantu 15 orang karyawan. 
 
Selain itu Nuning punya 20 petani plasma. Kendala utama ialah pemahaman masyarakat bahwa kelinci bukan buat dimakan. Padahal kan beda antara kelinci hias dan kelinci pedaging. Oleh karena itulah Nuning masih rajin mengeduksi masyarakat. 
 
Padahal kalau dihitung protein kelinci lebih tinggi. Selain itu juga rendahnya kolesterol bisa jadi pertimbangan. Nuning dengan senang hati memberikan pelajaran bagaimana berkebun dan beternak kelinci. 
 
Inilah alasan juga dibalik lahiranya tempat Taman Kelinci. Tugasnya agar orang bisa teredukasi tentang kelinci.

Jualan Sampo Pengusaha Cewek Aprie Angeline

Biografi Pengusaha Aprie Angeline


jualansampo.png
 
Pengusaha cewek ini jualan sampo dan sukses. Aprie Angeline sempat salah jurusan kuliah. Ya, kisah itu pasti jamak terdengar, seperti halnya kisah wanita cantik satu ini. Namun, bukan sembarangan salah jurusan loh, karena jurusannya di Fakutltas Kedokteran yang notabennya menjanjikan. 
 
Loh kok bisa salah? Menurut berbagai sumber kami dapatkan ini karena cita- cita lainnya. Ketika itu, ketika dirinya sudah menginjak kaki di Yogyakarta, ada perasaan asing dalam dirinya. Mulai kuliah di Universitas Gajah Mada, Fakultas Kedokteran Gigi, Aprie sudah merasa tak nyaman.
 

Menjadi Pengusaha


Padahal waktu itu baru berjalan beberapa semester. Sempat terlintas di benaknya mau berhenti saja dan jadi artis terkenal. Merasa salah jurusan membuatnya memilih asik mengerjakan hal lain. Disela- sela kuliahnya dibuka- bukannya koneksi internet. 
 
Ketemulah sebuah bisnis online menarik hatinya. Ia lantas berjualan baju dan juga sepatu online.

"Bisnis menjadi pelampiasan saya merasa tidak kuat di jurusan itu,"ujar Aprie kepada Kompas. Sempat mau berhenti tapi takut kepada orang tuanya.

Perjalanan wanita 23 tahun ini memang menginspirasi. Alasan lain kenapa merasa salah jurusan usut- punya usut karena ia pelupa. Dia juga ceriwis orangnya. Ketika berkuliah terpaksa Aprie harus mengeremnya. 
 
Itulah juga alasan kenapa memilih menjadi artis saja. Aprie pun mulai mencoba- coba mengerjakan bisnis online shop. Gadis kelahiran Sorong, 5 April 1991, ini juga mengerjakan beberapa syuting sinetron dan modeling.

"Saya malah ingin jadi artis dan terkenal," ujarnya.

Baik online dan offline dipenuhi oleh aneka kegiatan. Kesemuanya tidak ada hubungannya dengan kuliah yang tengah dijalani. Berjalan waktu malah rasa asyiknya terpenuhi dari bisnis online. Seolah melupakan cita- cita utamanya menjadi artis terkenal. 
 
Tahun 2012 menjadi tonggak sejarah, nekat mengajukan cuti kuliah, cuma buat menekuni bisnis onlinenya. Dia mulai belajar bagaimana memasok barang sendiri. Aprie juga belajar dari pemasok barang dagangannya. 
 
Kesemuanya proses dagang dipelajarinya otodidak. Ia sendiri mengaku tak begitu paham memproses bisnis online awalnya. Otodidak saja bermodal Black Berry Messenger. Dari berjualan pakaian dan sepat ternyata tak cocok baginya. 
 
Memang beberapa orang nyaman tapi tidak buat sosoknya yang haus kesuksesan. Dia berdalih jualan produk fashion mengecewakan. Berbisnis pakain online untungnya tipis. Terkadang dia harus menombokinya sendiri. 
 
Selain itu karena ambil dari orang lain, terkadang, kualitasnya jauh dari apa yang digambarkan. Untuk sepatu masalahnya selain hal itu adalah ia mencobanya sendiri. Aprie harus mencobanya sendiri. Karena ia tak tau pasti ukuran sepatu dari konsumennya. 
 
Kami mencoba menerawang itu semua karena model bisnisnya reseller. Dan, Aprie itu terlalu perfeksionis untuk membeli produknya dulu. Kan tak semua pengusaha suka mengira- ngira kualitas produknya. Juga tak semua orang memiliki rasa soal bisnis fashion.

Jualan Sampo


Tak mau berhenti karena memang sudah cinta. Beralihlah sasaran bisnsnya dari produk fashion ke kosmetik. Ketika itu ia mendapatkan tawaran langsung dari produsennya. Produk skin care buatan luar negeri dicoba dijualnya. 
 
Namun, sebelum berani menjual, Aprie mencobanya dulu ke dirinya sendiri. Alhasil ternyata cocok hingga diputuskan untuk dijualkan. Respon pelanggan pun positif membuatnya semakin bersemangat. Respon positif datang dari pelanggan setianya.

"Karena saya selalu memberikan pelayanan yang baik, pelanggan percaya terhadap produk yang saya jual," tambah Aprie.

Bisnis Billion Online Shop (nama online shop -nya) meningkat pesat. Bahkan omzetnya bisa mencapai angka Rp.3 juta tiap bulannya. Dia makin yakin akan pilihan niche -nya. Dalam beberapa bulan uang puluhan juta sudah dikantungnya. 
 
Apa kunci sukses online shop Billion Online Shop? Gampang kok, Aprie menjelaskan harus bisa menahan diri. Tak boleh marah dan selalu mencoba mendekatkan mereka. Ketika nanti membalas pesanan pun tak asal jawab.

Tersusun sebuah komunikasi dua arah yang ramah. Itu ternyata efektif membangun kedekatan antara ia dan juga konsumen. "Itu membuat konsumen makin dekat dan percaya pada kami," terangnya.

Kembali merasa tak puas akan bisnisnya. Terbersit sebuah ide untuk buat membuat produknya sendiri. Putri dari pasangan Jistor Situmorang dan Lukeria Rajaguguk ini, memutuskan akan membuat produknya sendiri. Tapi produk seperti apa yang akan dibuatnya. 
 
Hingga Aprie menghadapi masalah dengan rambutnya. Lantas ia mencoba membuat produk samponya sendiri. Cewek yang pernah mengikuti olimpiade IPA saat SMA ini mencari- cari informasinya. Lantas bagaimana cara membuat sampo sendiri. 
 
Dia kemudian aktif berkonsultasi dengan orang- orang paham akan hal tersebut. "Kebetulan, sejak SMA saya juga hobi meracik- racik, jadi sedikit banyak tahu," terangnya lagi. 
 
Pada awal 2013 -an, diperkenalkan lah produknya sendiri, sebuah sampo Angeline Hair Treatment (AHT), menggunakan bahan herbal berkualitas. Oleh karena itulah harganya jadi relatif mahal. Meski begitu eh diluar dugaan malah jadi booming di pasaran.

Harga mahal tak masalah karena dirinya sudah punya costumer based. Sampo yang fokus bagaimana cara agar bisa cepat menumbuhkan rambut. Itulah masalah utama rambut miliknya juga. Ini telah menjadi produk andalan bisnisnya sampai sekarang. 
 
Modal Rp.10 juta dibuatlah 200 botol sampo. Penjualan terus meningkat saja. Saban bulan sudah bisa menjual seribu pake sampo AHT. Omzetnya sudah bisa tembus angka Rp.230 juta saja.

Adapula paket perawata rambut conditioner dan hair tonic. Harga paketnya dibandrol sampai Rp.200.000. Produk lainnya ialah gula nira dimana kadar glukosanya rendah. Aprie memang mengaku tertarik produk- produk herbal. Untuk usaha samponya sudah ada 20 orang karyawan. 
 
Produk gulanya diberi nama Java Sweet Sugar dipasarkan secara online. Dimana sudah melibatkan 25 petani kelapa. Sukses menjual ratusan toples dalam sebulan.

"Gula ini lagi naik daun," kata dia. Produk gulanya sudah merambah tidak cuma Yogyakarta, tapi seantero Indonesia. Aprie pun masih belum lah puas. Selanjutnya ada produk frescare yaitu masker wajah herbal. 
 
Dalam waktu dekat, seperti dikutip dari Kontan melalui Kompas, tahun 2015 nanti akan diluncurkan lotion pelembab herbal. Sukses di usia muda ternyata mempunya sisi kelam dibelakan. Tak disangka ia pernah sempat merasa mau bunuh diri. 
 
Alasannya karena merasa tak punya pengalaman berarti dalam hidupnya. Dia pernah depresi saat harus menjalankan studi tak sesuai hatinya. Sempat terlintas mau bunuh diri saja, "Saya depresi banget". 
 
Dia sendiri tak berani ngomong sama orang tua. Itu lantaran orang tua sudah dianggapnya berkorban banyak. Ia tau betul tak sedikit biaya dikeluarkan.

"Mau ngomong sama ortu enggak berani karena sudah mengeluarkan biaya dan banyak orang yang tahu," jelasnya lagi.

Menjadi dokter memang karena permintaan orang tua. Karena belum ada dokter di dalam keluarganya. Dia pun mendapatkan hikmah tersendiri. Dimana bukan memilih cita- citanya tapi juga tak terbebani gelar dokter miliknya. Ia malah menemukan kenikmatan dalam berbisnis. 
 
Aprie gigih meyakinkan kedua orang tuanya. Caranya ialah melalui kesuksesan berupa penghasilan. Ini menghasilkan loh, jelasnya kepada kedua orang tua, hingga akhirnya ikhlas. Orang tua ikhlas melepaskan untuk tak jadi dokter. Gadis cantik 23 tahun tak takut menghadapi dunia. 
 
Kini, ia telah memantapkan dirinya menjadi pengusaha muda. Tak lagi depresi ketika menghadapi masalah. Salah satu masalah ketika mendapatkan komentar negatif tentang usahanya. Mereka di sosial media berkomentar negatif kerena berjualan sampo. 
 
Adapula datang dari sesama pebisnis online. "Ada orang yang tidak suka, lalu menjatuhkan saya," kenang dia.

Dia percaya prinsipnya tentang kualitas produknya. Sudah lah teruji bahkan menggunakan dirinya sendiri. Hasilnya ialah omzet penjualannya tak turun. Justru semakin naik, "konsumen mengirim foto rambut mereka, kualitas yang berbicara." Ia yakin Tuhan bersama orang- orang baik. 
 
Karena bisnisnya bukan soal untung semata. Ini untuk membantu orang lain jadi produknya harus berkualitas. Ia kemudian berpesan buat kamu yang mau jadi pengusaha.

"Berbisnis harus berlandaskan niat baik," tutupnya, pebisnis harus lah punya mimpi besar agar ada tujuan bisa dicapai dan jangan lupa bangunlah jaringan luas.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba