Pengusaha Handuk Terry Palmer Anak Muda

Profil Pengusaha Wilson Pesik


pengusahahanduk.png

Anak muda berbisnis lain dibanding kebanyakan. Pengusaha handuk Terry Palmer merupakan penerus bisnis keluarga. Namun dia mampu melambungkan nama Terry Palmer. Namanya menjadi ikonik dari produk handuk premium berkelas.
 
 
Apa menariknya sebuah handuk dimata kita. Itulah sepenggal pernyataan memulai kisah pengusaha berikut. Bukanlah sekedar handuk biasa. Tetapi handuk memang sering identik sebagai produk impor oleh masyarkat. 
 
Faktanya ini bukanlah produk impor. Terry Palmer justru sukses diekspor ke manca negara, dan dikira produk asing. Inilah kisah handuk premium- lembut bernama Terry Palmer.
 

Handuk Terry Palmer


Produknya sudah biasa berada di hotel- hotel Indonesia. Handuk bernama kebarat- baratan, yang ternyata sudah ada sejak 1962, diproduksi perusahaan bernama PT. Indah Jaya. Yang kini dipegang oleh sosok muda berbakat bernama Wilson Pesik. 
 
Merupakan generasi ketiga dari suksesi perusahaan tersebut. Wilson hanyalah anak muda penuh gairah seperti halnya kita. Bedanya sejak usia dini sudahlah dibebani tanggung jawab besar memimpin perusahaan.

"Jauh sebelumnya, ketika masih sekolah saya sudah sering terlibat," jelasnya ke awak media.

Sejak tahun 2007- 2008 dirinya sudah diperkenalkan kepada lingkungan bisnis. Hingga ketika harus diberi tanggung jawab mengambil tongkat kepemimpinan; dia sudah merasa di rumah. 
 
PT. Indah Jaya kini dipegang oleh sosok lulusan Marketing dan Entrepreneurship salah satu univesitas Amerika. Merupakan genarsi ketiga yang mencoba mematahkan kutukan.

Kutukan tersebut adalah kutukan tentang perusahaan keluarga. Dimana generasi pertama adalah sosok dari fondasi bisnisnya. Kemudian dilanjutkan oleh generasi kedua yang menyempurnakan suksesnya. Sementara itu tidak lain sosok generasi ketiga menjadi "penghabisan". 
 
Wiliam sendiri mungkin sadar akan hal tersebut. Ia membuktikan diri bahwa dirinya layak. Hasilnya adalah cara marketing modern yang tidak biasa. Tidak biasa dari pendahulunya dalam soal urusan handuk.

Mengendalikan pabrik seluas 40 hektar berkaryawan sekitar 5.000 orang di Tangerang; tak membuatnya jadi gentar. Pengetahuan selama di Negeri Paman Sam nampaknya sangat berguna. Ia bahkan membawa gariah baru dalam marketing dan bisnis Terry Palmer. 
 
Sebagai sosok nahkoda, sosoknya masih unyu- unyu kata anak muda jaman sekarang, namun punya latar belakang pendidikan luar biasa.

Jikalau dilihat dari wajahnya bukanlah tipikal anak manja. Terlihat dari sorot matanya saja merupakan sosok  muda penuh visi.

"Sewaktu saya ditugaskan untuk memimpin perusahaan ini sudah sangat nyaman, dan saya sudah sangat memahami brand ini," jelasnya kepada majalah Marketing (www.marketing.co.id).
 

Pengusaha Handuk


Sebelumnya diakuinya perusahaan dijalankan dengan cara tradisional. Hingga ilmunya masuk merubah peta bisnis Terry Palmer dari sekedar handuk. Sekali masuk sudah percaya diri dan membuat aneka trobosan dalam hal marketing; tanpa keraguan dan trial- error. 
 
Langsung tancap gas istilahnya buat mengembangkan brand miliknya. Jangan salah, Wiliam paham betul soal proses produksi, dan baginya merupakan satu kepastian buat tau apa itu pemilihan bahan baku (raw material) dan barang jadi. 
 
Hal- hal mendasar itu sudahlah diajarkan bahkan sejak masih kecil. Dia sudah sering diajak ke eksibisi, pameran Home Textile di Jerman, pameran terbesar yang diselenggarakan di awal tahun. Produk Terry Palmer sudah pasti mengikuti ajang tahunan tersebut. Ia belajar banya disana.

Belajar tentang produk- produk handuk diluar sana. Wiliam bahkan sudah menganggap mereka menjadi satu pesaing. "Saya belajar dari segi desain dan taste," imbuhnya. Dari sang ayah dipelajarinya bagaimana cara agar membedakan handuk berkualitas dan mana jelek. 
 
Dia sendiri merasa tidak terbebani. Ketika pulang ke Indonesia dari studi di Amerika sama sekali tidak ada paksaan. Bahkan sang ayah santainya mengirim SMS ketika pesawatnya mendarat.

"Welcome home, mari kita jalani bersama- sama, meraih kesuksesan bersama- sama," kenang Wilson.

Itu hal paling diingatnya ketika kembali ke Indonesia. Ayahnya meyakinkannya bahwa dia percaya. Padahal dia baru saja pulang, belum mengerti, belum punya pengalaman di perusahaan. Tetapi ayahnya memberinya satu kepercayaan besar. 
 
Merasa terbebani? Ternyata tidak, karena sejak awal mau berkuliah, dirinya sudah diwanti- wanti akan tanggung jawabnya.

Suatu hari pasti akan memimpin perusahaan selanjutnya. Dari segi mental sudahlah sangat siap bahkan jauh sebelum memilih jurusan kuliah. Soal marketing menurut Wiliam, produk Terry Palmer terlalu bermain safe cuma berkutat di itu- itu saja. 
 
Marketing menurutnya adalah out side the box, dimana menurutnya diluar sana banyak sekali contohnya. Bahkan tidak terpikirkan sebelumnya pernah ada oleh masyarakat awam. Ia menyebut marketing tidak monoton.

"Saya baru tahun ini menjalani krativitas di Terry Palmer, di mana saya bisa melakukan out side the box," ujar Wilson

Melalui event Miss World 2013, nama Terry Palmer mencuat bahkan penulis sempat mengira ini produk apa ya. Penulisa sempat berpikir apakah Terry Palmer adalah produk impor. Melalui acara tersebut perusahaan ditangannya melalukan aneka branding. 
 
Tidak sama dengan ketika perusahaan dikontrol 100% oleh ayahnya. Terry Palmer begitu berani melakukan strategi marketing besar- besaran di televisi. "Padahal kami merasa bukan seperti produk elektronik atau makanan," jelasnya.

"Mana ada handuk di dunia yang mau muncul di TVC. Tapi, saya berani mengambil langkah itu," jelasnya penuh kebanggaan.

Bukan cuma mensponsori karena kalau sponsor sudah banyak. Lebih jauh lagi bahkan menjadi bagian dari tiap kegiatannya. Melakukan aktifitas promosi paralel jalannya acara tersebut. Tidak cuma berhenti di acara Miss World.
 

Perjuangan Anak Muda

 
Wilson meyakinkan kita bahwa Terry Palmer merupakan produk bernyali. Mereka sudah siap cara marketing lain di internalnya. Pokoknya akan menjadi surpraise jelasnya kembali. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk brand awareness.

Menarik perhatian masyarakat sekarang tak cuma kelas menengah- atas. Bahkan seluruh Indonesia sudahlah bertanya- tanya apa sih Terry Palmer. Fakta bahwa sosoknya masihlah sangat muda tak diambil pusing. Ia meyakinkan jangan menganggap remeh dirinya. 
 
Semuanya berjalan seperti biasanya. Wilson merasa dirinya telah mendapatkan respect dari orang sekitarnya. Ada target yang harus dipenuhinya yakni memperkenalkan Terry Palmer. Tidak cuma bermain dipasar lokal tapi harus berani mencapai pasar global. 
 
Ia melihat bahwa kualitas produknya tak kalah dari pemain bisnis handuk asal Eropa. Bahkan menurutnya sebagian lini- produknya lebih baik. Wilson masih sangat melihat ada peluang buat pasar global.

Tahun- tahun ini sudah masuk ke pasar Singapura, Malaysia, Australia, bahkan siap masuk pasar China. Jika ibaratnya handuk China masuk Indonesia, kini, giliran Terry Palmer asal Indonesia memasuki pasaran China. Ia terlihat percaya dirinya menjelaskan targetnya. 
 
Hasilnya cukup baik memang karena standar produknya itu sudah world class. Meski bicara soal teknik, Wilson meyakinkan kamu, bahwa teknik, mesin, dan bahan baku miliknya sudah terbaik. Ambil contohnya bahan utamanya menggunakan egyptian cotton atau kapas mesir terbaik. 
 
Dari halnya segi teknologi pun sudah bisa bersaing dengan produk dunia. Komposisi lokal- ekspor memang baru mencapai angka 70:30 sebelumnya 50:50. Eith... Jangan salah sangka menurut penjelasannya kenapa buat lokal jadi naik, ternyata ada startegi marketing khusus. 
 
Memang buat lokal naik karena memang ini khusus pasaran dari Terry Palmer sendiri. Untuk pasaran luar negeri sudah ada produknya sendiri bukan Terry Palmer. Wilson meyakinkan kita bahwa nanti akan sampai 80%:20%. Dimana dua puluh persen sisanya akan diperuntukan produk lain. 
 
Dimana dari 80% akan dibagi lagi dimana fokusnya ada di IKEA. Ia menyasar 40% pasar lokal IKEA dan 40% nya ada pasar internasional bersama merek Terry Palmer sendiri. Jadilah totalnya ada dua brand dibawanya hingga ke manca negara.

Pasar ekspornya masih difokuskan di pasaran Asia. Berapa banyak perusahaannya menjual makan jawaban darinya 1.000 ton per- bulan. "Kami memproduksi sesuai apa yang kami jual. Produksi kami masih kami maksimalkan hingga 1.300 ton per bulan," terangnya kembali. 
 
Tentang inovasi, Wilson masih terus mau untuk mengeksplor, tentu bermodal jiwa mudanya. Menurutnya orang masih menganggap handuk cuma bagian dari kebutuhan sehari- hari. Belumlah berbicara tentang mode (fashion) atau lifestyle. 
 
Nah, inilah tengah dicoba olehnya, bahwa handuk itu juga mempercantik kamar mandi. Jadi bahkan tanpa mengganti warna tembok kamar mandi terlalu sering sudah teratasi. Handuk berwarna akan membuat suasana kamar mandi berasa berbeda. 
 
Salah satu inovasi yang tengah dipikirkannya adalah handuk berkristal swarovski. Ini akan membuat handuk jadi berkesan lebih luxury.

"Inovasi pentinga agar makin sulit ditiru pesaing," jelasnya, dimana Terry Palmer sendiri sudah bisa menguasai 30% pasaran Indonesia. Di Indonesia sendiri masih sedikit pamain diproduksi kain handuk. Cuma 1 sampai 2 perusahaan besar mendominasi dan ini bisa jadi kesempatan bagi kita.

Arti karyawan baginya adalah memberikan kesempatan belajar dan membimbing mereka. Seperti halnya dulu ayahnya yang mensekolahkan dirinya sampai Jerman. Kesempatan itupula lah yang diberikan olehnya kepada karyawannya. 
 
Dia menciptakan suasana bersaing tapi menyenangkan. Tidak ada namanya generation gap antara dia dan karyawannya.

"Sebenarnya secara profesional hanya ada mutual respect. Tentu saya juga melihat ada beberapa karyawan yang ketika kakek saya memimpin, mereka sudah bekerja di sini," jelasnya kembali.

Memang ketika Wilson masih kecil sudah dibiasakan, umur 4 tahun, dia sudah diajak berkeliling- keliling ke kantor milik ayahnya. Dia melihat sendiri ada karyawan ayahnya yang masih bertahan. Justru dari merekalah dirinya belajar banyak. 
 
Disisi lain, ia mencoba menempatkan dirinya sebagai anak, meyakinkan mereka para karyawan tuanya agar mau mengikuti langkahnya. Dia meyakinkan mereka melalui cara hormat, penuh rasa menolong.

Dua Mahasiswi Cantik Pengusaha Tortilla Bayam

Profil Pengusaha Emilia Putri


pengusahatortila.png

Pengusaha tortilla bayam ini didirikan oleh dua mahasiswa cantik. Namanya pengusaha manfaatin apa saja menjadi keuntungan.  Berikut kisah singkat dua sahabat berbisnis unik. Yang mana kalau dilihat- lihat kok bisa ya jadi duit. 
 
Mereka, Emilia Putri dan Mutiara Baiti, sosok dibalik bisnis model roti tortilla berbahan bayam. Mahasiswi- mahasiswi cantik yang masih berumur 22 tahun ini memang tak menyangka akan seperti sekarang. Bisnisnya sederhana kok bahkan beberapa orang meragukan keuntungannya.

Pengusaha Tortilla

 
Coba saja bayangkan masak bisa untung Rp.128 juta/ bulan. Mahasiswi cantik asal kampus Universitas Prasetya Mulya, yang baru- baru saja meluncurkan konsep waralabanya. Mereka meramu makanan cepat saji tapi sehat. Kemudian diberinya nama It's Wrap. 
 
Ide awal bisnis dari keduanya ialah karena kemacetan lalu lintas di Jakarta. Agar jadi praktis ketika bermacet- macet ria, Emilia dan Mutiara, serta beberapa temannya membuat jajanan sendiri. Dimana terbuat dari dasara tortilla bayam yang lebih sehat serta rendah kalori. 
 
Kemacetan telah dianggapnya biang makanan fastfood makin menggila di jalan. Bahkan tak segan melahap apa saja ketika memenuhi perut lapar. Ini kebiasaan buruk perlu dihilangkan, ya, caranya lewat bisnis mereka ini. 
 
"Kita enggak sadar kalau kalori yang masuk ke tubuh kita melebihi batas tertentu," terangnya. Takutnya bisa menyebabkan penyakit jantung atau diabetes.

Kemudian keduanya sebagai leader memperkenalkan It's Wrap. Ketika ditemui pewarta detikFinance Emilia meyakinkan kita lagi bahwa ini sehat kok. It's Wrap rendah kalori aman dikonsumsi. Diakui olehnya bisnis ini memang diadopsi dari pengusaha Singapura. 
 
Pada dasarnya juga punya kesamaan dengan kebab. Hanya saja tidak menggunakan bahan pengawet. Dari segi rasa pun lebih ringan dibanding kebab.

"Kita bukan menggunakan daging kebab dan kita bukan kebab," imbuhnya.

Untuk gerainya ada di Pasar Santa, Jakarta Selatan, dimana ada tiga menu bisa kamu nikmati: Yaitu ada It's Warp ayam seharga Rp.30.000/pcs, ikan seharga Rp.30.000/pcs, daging sapi Rp.30.000/pcs. Di sinilah, di kafenya, para pengunjung bisa melihat proses pembuatannya. 
 
"Kita juga berikan sharing happiness," terang Emilia. Bahkan mereka siap memberikan informasi kalori serta pendampingan topping; kamu bisa aktif buat mengomentari topping -nya.

Konsep Open Kitchen membuat pengunjungnya "terhibur" akan proses memasaknya. Sejak Desember 2011, dia bersama empat kawannya, mengumpulkan modal awal Rp.80 juta. Bisnis ini dikatakannya akan punya pasar berkembang kedepannya. 
 
Omzetnya pun besar sekali yakni bisa mencapai Rp.128 juta/bulan. Ia sendiri tak menampik jika investor siap ikut masuk. Pasarnya? Adalah mereka yang mulai sadar akan apa makanan sehat itu.

"Pasar makanan sehat di Jakarta kita teliti potensinya ada 2,149 juta," terang Emilia lagi. Melalui konsep kemitraan, target pasarnya tak mau tanggung- tanggu yakni mencapai 537.000 dan barulah 7.025 konsumen potensial terbidik. "Jadi cukup besar pasar yang kita garap," tutup Emilia.

Cerita Mahasiswa Jadi Petani Bisnis Bareng

 Profil Pengusaha Ramadhan Nur Iman


mahasiswapetani.png
 
Cerita mahasiswa jadi petani penuh tantangan. Dulu mereka berkuliah bersama sekarang bisnis bareng. Tapi mereka harus panas- panasan di luar. Bermula kesadaran akan pentingnya makan tanaman organik menguat. Seiring waktu pula sukses kesempatan usahanya bisa tercium wangi. 
 
Untung karena gaya hidup sehat membuat beberapa orang untung. Kisah berikut kisah wirausaha muda yang bahkan belum lulus kuliah. Mereka belum lah dibingungkan berkeliling mencari kerja. Mereka justru mulai membukan peluang kerja.
 

Petani Mahasiswa


Meski masih beromzet kecil yakni 4 juta per- bulan. Nampaknya, bisnis ini bisa saja menjadi lebih besar lagi, apalagi mereka merupakan mahasiswa berprestasi di kampusnya. Ramadhan Nur Iman dan Febri Khafidzin merupakan pemilik Empat Serangkai Farm. 
 
Fokus bertani organik bermodal tanah seluas seperempat hektar tanah, dari menanam selada, caisin, dan kangkung organik, untungnya cuma 4 juta per- bulan. Merupakan petani- pengusaha baru dibawah bimbingan Agribusiness Development Station (ADS).

Ramadhan beserta kawan tercatat masih mahasiswa di IPB. Mereka menjadi bagian dari ADS, fokusnya ialah membangun aneka peluang usaha dibidang agraria mahasiswanya. Pertama kali memanen, kelompok mahasiswa yang bernama Empat Sekawan Farm, menghasilkan 80 kilogram per- minggu. Dimana mereka sudah bisa memanen dua kali seminggu.

"Alhamdulillah kangkung dan selada dari Empat Serangkai Farm mampu menjadi peringkat teratas sayuran organik terbaik di ADS," kata Ramadhan.

Usaha dimulai sejak setahun belakang ini menemui banyak hambatan. Ramadhan bercerita bahwa sayurnya pernah gagal panen satu bulan. Semua karena serangan hama datang mendadak. Ditambah adanya anggota yang memilih mengundurkan diri. Menanam sayur organik tidak lah mudah terangnya.

Para mahasiswa mencoba menjadi pengusaha ini tak menyerah. Memang ada perbedaan besar antara apa teoir mereka pelajari di kampus dan faktanya. Sempat tak panen satu bulan tidak membuat mereka lemah. Ia menyebut kelemahan ada pada mematok diri ke teori. 
 
Terlalu bermain di teori ternyata tak meyakinkan buat kamu sukses berbisnis. Untuk mendukung usaha mereka, para mahasiswa ini tak segan mendatangkan dua pekerja yang merupakan petani asli. Mereka, para petani sayur membantu sangat dalam hal praktiknya. 
 
Empat Serangkai Farm tidak memakai bahan kimia. Karena petani organik andalan mereka adalah pupuk- pupuk alami. Pupuk mereka dijelaskan berasal dari limbah- limbah organik. Ini membuat sayuran jadi sehat jika dikonsumsi oleh kita.

Empat Sekawan Farm memanfaatkan limbah kotoran ayam dan kambing. Selain juga memanfaatkan jamu sebagai pendukung. Ada limbah daun mimba, sereh, kluwek, dan batang brotowali buat pestisidanya. Ia senang karena pihak kampus mendukungnya melalui ADS. 
 
Ramadhan dan kawan mencoba konsisten dan terus berjuang meningkatkan kualitas sayur organiknya. "Untuk menjadi petani binaan ADS menuntutnya untuk menjadi kualitas hasil pertanian," terangnya.

Semua karena ADS sendiri sudah punya pasar di luaran sana. Mereka cukup memberikan kesempatan bagi petani baru seperti mereka. Pemilahannya ketat hingga benar- benar sayur organik berkualitas bisa dilepas ke pasaran. 
 
Meski orang- orang baru dibidang pertanian. Cerita mahasiswa jadi petani ternyata menguntungkan. Fakta bahwa ini punya prospek bisa menjadi prospek bisnis bareng.

Bisnis Buket Boneka Gabungkan Dua Usaha

Profil Pengusaha Mardiah

 

bisnisbuket.png

 

 

Gabungkan dua usaha Mardiah tekun promosikan. Mendengar nama bisnis buket boneka memang tak lazim. Bayangkan bunga dan boneka dijadikan satu. Namun Diah, begitu wanita tersebut akrab disapa bisa menjual untung. Memang memanfaatkan penjualan online menguntungkan.


Ia mampu menjangkau penjualan luas. Bisnisnya meraup keuntungan walau diluar kebiasaan. Diah gigih menjajakan dagangan. Ia meyakini bahwa berbisnis digital akan berkembang. Usaha buket boneka telah dia rintis selama dua tahun.

 

Bisnis Buket Boneka


Sebelumya dia pernah berjualan dompet, jam tangan, dan tas milik orang. Dia cukup lama membanding usaha- usaha tersebut. Ia lantas memutuskan berjualan boneka. Banyak orang yang senang mengoleksi boneka. Orang rela membeli baru demi menambah koleksi.


Suatu ketika, datang pesanan aneh pada Februari, dan Diah menyanggupi keinginan pembeli tersebut dan berlanjut. Pembeli meminta Diah merangkai boneka menjadi buket. Diah menyanggupi. Sisanya dia belajar melalui YouTube. Dan ia kemudian membuka usaha keduanya buket boneka.


Ide bisnis unik tersebut dijalankan. Rata- rata pembeli buket bonek buat wisuda, ulang tahun, ucapan cinta kepada kekasih. Usahanya laris dari Jabodetabek, sampai pemesanan ke Papua. Pelanggan nanti tinggal memilih tema warna yang diinginkan untuk sampul buket.


Lewat sosial media ia berhasil menjaring pembeli diseluruh Indonesia. Kisaran harga buket bonekanya Rp.150 ribu sampai Rp.650 ribu. Saat ini, Diah melakukan penjualan melalui sosial media. Fokus ia menjual di Instagram dan Tokopedia.


Kemudian dia memiliki reseller di Bukalapak, Kaskus, dan Tokopedia. Pemesanan boneka dapat kamu lakukan melalui akun @bonekaimportsabina atau istanabuket. Berkat terus berpromosi kini usahanya memiliki 24 ribu pengikut. Diah berharap usahanya akan berkembang pesat kelak.


Boneka sudah ready stok. Termasuk boneka wisudanya. "kalau mau pesan, bisa dicari boneka sesuai keinginan, misalnya babi, monyet, atau sapi," ujarnya. Diah mengatakan buket boneka miliknya punya variasi beragam. Mulai dari warna, boneka, hingga aksesoris pendukung tinggal ikuti kreatifitas.

Pengusaha Abon Bayi My Baby Inspirasi Usaha

Profil Pengusaha Oktavia Hasim


pengusahaabon.png

Inspirasi usaha datang karena kehilangan sang putra. Pengusaha abon bayi My Baby berubah sebab suatu pristiwa. Dia tidak mau menyerah berjuang hidup. Ada asa bagi kehidupan lain yang perlu dia dihidupi. 
 
Dia lantas bangkit melimpahkan semua berbentuk usaha bisnis. Siapa menyangka, sang putra, yang meninggal 8 Maret 2011, itu membawa berkah tersendiri bagi keluarganya yang masih hidup. Dia seolah membawa kesuksesan bagi Oktavia Hasim.
 

Inspirasi Usaha

 
Yang sejak putranya meninggal, dia telah bertekat merubah nasibnya lebih baik. Kemenangan dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri 2013, di kelompok pasca- sarjana dan alumni kategori Boga, menjadi bukti bahwa dirinya wanita telah berubah; dia wanita super- tangguh. 
 
Tak tenggelam dalam kesedihan justru membantu banyak ibu- ibu Indonesia. Pasalnya, berkat usaha abon My Baby, bayi bisa makan sehat berlauk ikan lele yang jadi lebih mudah dicerna.

"Usaha ini saya perpaksa, karena, satu, anak saya kebetulan meninggal, pada 8 Maret 2011, karena saya enggak ingin larut dalam kesedihan," ujar wanita 33 tahun ini.

Dia tak bisa memasak. Cuma saja merasa prihatin banyaknya usaha budidaya lele. Tapi masih sebatas buat dimasak biasa. Harga lele pun murah padahal nilai gizinya banyak. 
 
"Saya bereksperimen untuk menghasilkan satu produk," lanjutnya. Meski mengaku tidak jago memasak; Oktavia tetap berusaha. Segala percobaan ia lakukan berulang- ulang. Banyak kegagalan ditemui olehnya sepanjang jalan.

Memang daerah asalnya di Purbolingga, Jawa Tengah, memang cukup terkenal akan budidaya lelenya. Dan, hasil seperti yang dijelaskan diatas harganya jadi murah. Mudah didapatkan pula. Karena membuatnya dari bahan- bahan asli berkualitas. 
 
Jadinya abon lele buatannya justru jadi lembut. Sampai tetangganya nyeletuk abonya mirip makanan bayi. Yah, itulah awal mulanya abon bayi My Baby, abon yang bertekstur lembut cocok buat balita diatas 8 bulan. Ia menjelaskan ini menjadi satu- satunya di Indonesia loh. 
 
Untuk meyakinkan olahannya tak sembarangan saja membuatnya. Selepas menemukan ide bisnis abon bayi. Oktavia langsung mencari- cari berbagai resep abon. Hingga sukses menemukan resep yang cocok pencernaan bayi. Kemudian bahan- bahan tak cocok buat bayi dihilangkan.

Pengusaha Abon Bayi

 
Tidak ada cabe atau merica dalam olahannya. "Saya hanya pakai ikan, bawang, garam dan gula," terangnya. Seiring waktu usahanya maju apalagi dibantu oleh marketing online.

Keberadaan abon membantu bayi 8-10 bulan memenuhi gizinya. Siapa sangka sosoknya bisa menjadi satu pengusaha sukses. Bahkan, ia mendirikan perusahaan sendiri, dibawah bendera Pradipta Jaya Food pada 8 Maret 2011 itu. 
 
Awalnya cuma menjual abonnya ke tetangga- tetangga sekitar. Wanita lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Malang ini, semakin mantap menjajaki jalannya sebagai pengusaha. Seiring waktu itu kualitas abonnya semakin mantap.

Jumlah penjualannya semakin banyak saja. Diminati oleh ibu- ibu muda buat anak- anak bayinya. Permintaan akan varian abon baru juga muncul; ada abon ayam, sapi, ikan patin, bahkan terakhir ada yang meminta abon ikan salmon.
 
Jujur saja konsumen lah yang "memaksa" dirinya semakin maju. Mereka tak segan minta produk olahan baru. Ukurannya pun dibikin macam- macam sekaligus harganya bervariasi. Semua agar ia tetap bisa menawarkan abonnya terjangkau masyarakat umum.

Misalnya abon ikan lele, ikan patin, dan abon ayam, ditawarkan Rp.22.000 saja. Sedangkan paling mahal itu abon ikan salmon yakni Rp.50.000.

"Cara menggunakan abon bayi ini hanya tinggal campurkan adonan ini ke nasi atau bubur banyaknya tergantung selera ibu, atau juga bisa dicampur sayur lain," terang Oktavia.

Seiring waktu usahanya maju, pelanggan menyarankannya agar tak cuma membuat abon lele. Dalam sebulan dia bisa memakai 750 kilogram bahan baku. Usahanya juga sudah punya brand dan kemasan sendiri, yang mana semakin menunjukan profesionalisme. 
 
Ia menjelaskan abonnya tanpa bahan pengawet. Bisa bertahan 1,5 tahun berkat tingkat keringnya tinggi. Satu kemasan biasanya sudah habis dalam satu minggu.

Dia memanfaatkan jaringan reseller bermodal koneksi internet. Jumlah reseller -nya kemudian tersebar di penjuru Indonesia total sudah ada 75 orang. Dari Sumatra sampai ke Papua terangnya. 
 
Pada September 2011, produknya sudah tersedia di pusat retail, yaitu sudah masuk ke Carefour dan Ranch Market. Tumbuh pesat puluhan juta, total Oktavia dibantu 15 orang karyawan dan 150 reseller, dimana resellernya tersebar luas utamanya di Pulau Jawa.
 
Modal awal usahanya cuma Rp.5 2juta. Namun, sejalan berkembangnya usaha, usahanya abon My Baby sudah bisa meraup omzet sampai Rp.75- 80 juta per- bulan. Modal awalnya digunakan untuk membeli satu set peralatan dan bahan baku. 
 
Selama tiga bulan mencari- cari resep abon bermodal Internet. Resep abon lele biasa diutak- atiknya agar sesuai dengan pencernaan bayi. Setelah tiga bulan barulah mantap menemukan resep tepat. Eit... jangan sembarangan kalau menilai abonnya asal- asalan. 
 
Faktanya setelah sukses langsung loh, Oktavia mengujinya ke Laboratorium Universitas Brawijaya Malang. Melalui pengujian itulah diketahui kandungan protein abon My Baby cukup tinggi. My Baby mengandung 48,9% karbonhidrat, lemak 20%, dan sisanya tentu protein itu sendiri. 
 
Agar awet makan My Baby kadar airnya harus dibawah 2%. Itulah sebabnya bisa awet sampai 1,5 tahun. Awalnya ia hanya menjual produknya ke tetangga saja. Hingga responnya tenyata bagus. Maka mulailah ia masuk menjajakan ke toko- toko di Purbolinggo. 
 
Permintaan akan My Baby ternyata terus meningkat. Itu telah merembet ke Malang sampai ke Surabaya. Ia sendiri sempat ragu akan kemasan My Baby. Saat itu, produknya cuma dibungkus pakai kemasan plastik. Oktavia lantas berpikir ulang apakah bisa masuk ke pasar disana.

Butuh perubahan mendasar untuk usahanya. Dia lantas berkonsultasi dengan Dinas Perikanan Probolinggo. Karena memang perusahaanya Pradipta Jaya Food memang binaan mereka. Kemudian kemasan abonnya diganti alumunium foil agar tahan lama. 
 
Sementara itu kemasan luarnya dibuat dari kardus seperti kardus susu bayi. "Kami kemas secara higienis dengan alumunium foil," terangnya. Kemudian ia juga memanfaatkan situs online www.abonmybaby.com

Tenaga kerjanya cuma mengambil ibu- ibu lulusan SD tetangganya. Mereka diberi pembekalan dulu. Mudah saja cukup: ikan datang, masuk proses pencucian, perebusan, pengovenan, hasil akhirnya ikan akan jadi lebih lembut. Ada sepuluh orang produksi dan lima SPG. 
 
Soal BPOM, karena memang usahanya masih kecil, maka prosesnya disana tidak cepat. Tapi berbekal surat laboratorium saja, menurut kami merupakan cara baik memulainya.

Dari lima varian abon, yang paling banyak justru abon sapinya, bukanlah abon lele andalan dari Oktavia sebelumnya. Kalau abon lele sendiri menjadi favorit justru dari luar Jawa. Tak lekas puas, Oktavia membidik Carrefour, dan hasilnya ada tiga bulan masa percobaan. 
 
Hasilnya produk abon My Baby bisa betahan terjual laris disana. Karena itulah hingga sekarang produknya bisa ditemui di pusat retail besar ini. Kemudian mulai dijual di Rach Market buat pasar Jabodetabeknya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba