Pengusaha Boneka Bulu Domba Pegawai Negeri

Profil Pengusaha Sukses Sri Wahyuni


pengusahaboneka.png

Menjadi pegawai negeri sambilan pengusaha boneka bulu domba.  Menjadi PNS tak membuat wanita berjilbab ini berhenti berkarya terus. Suatu hari, Sri Wahyuni tanpa keraguan, akhirnya memutuskan untuk keluar saja dan berwirausaha. Hasratnya menjadi pengusaha membawanya jauh. 
 
Bisnisnya dibilang unik yakni merubah kain wol atau bulu domba menjadi aneka kerajinan. Tak perlu jauh- jauh ke negara di kawasan Eropa, karena di Ciomas Bogor, ditempatnya telah berdiri sebuah pusat pemprosesan bulu- bulu domba.
 

Karir Bisnis

 
Jikalau di luar negeri sudah terserap sebagai sumber daya. Di Indonesia, prospek bulu domba masih saja dibawah harapan. Bahkan beberapa tempat melihat bulu domba itu limbah. Belum menjadi tren sendiri, dimana paling banter diubah menjadi bantal, ungkap Sri. 
 
Atau, bisa saja itu cuma jadi onggokan limbah yang tak laku dijual. Sebenarnya kalau saja diolah bisa menjadi aneka souvenir cantik. Untuk pembuatan sendiri dia lakukan sendiri atau hand made.

Ibu tiga anak tersebut mendirikan perusahaan bernama PT Swen Inovasi Transfer. Dengan tangan- tangan terampil dari pegawai di perusahaanya, maka jadilah aneka souvenir seharga Rp.10.000 - Rp.500.000. 
 
Soal omzetnya dijelaskan oleh marketing -nya ketika ditemui pewarta. Bisa mencapai angka Rp.10 juta loh.

Bertempat di kawasan Ciomas Bogor, Jawa Barat, workshopny menyatu dengan usaha lainnya di bidang pertanian. Secara umum usaha milik Sri dibawah bendera PT. Swen Inovasi Transfer, yaitu meliputi bidang produksi dan pemasaran peralatan peternakan. 
 
Dengan usaha barunya yakni membuat aneka kerajinan dari bulu domba. Sebuah usaha kecil- menengah tengah mengembangkan sayap usahanya. Jika kamu berkunjung disini; sejumlah karyawan akan tengah asik bekerja.

Mereka membuat barang seperti kemoceng, taplak, hiasan dinding, dan yang terbanyak adalah produksi aneka boneka termasuk bonek hewan ternak. Sayangnya, meski sukses, ada beberapa kendala termasuk yaitu kurangnya beberapa peralatan.

"Memang ada peralatan yang masih harus diimpor seperti jarum khusus untuk membuat boneka yang kami impor dari Jepang," ujarnya kepada Tabloidsinartani.com.

Awal usaha, Sri Wahyuni sudah membawa aneka peralatan impor dari Slandia Baru, tempatnya aneka hasil karya wol. Memang harus membeli peralatan tersebut. Namun, dia bertekat agar bisa memproduksi sendiri peralatannya agar bisa menghemat biaya produksi.

Untuk cara membuatnya Sri menjelaskan ada beberapa tahapan perlu dilalui. Pertama- tama, bulu hasil dari pencukuran dicucinya bersih. Jika diperlukan menggunakan pemutih. Kemudian bulu domba disisirnya, lalu digulung, dimana untuk itu bisa langsung dijadikan boneka. 
 
Atau, kamu juga bisa memintalnya dulu dijadikan benang untuk kemudin diolah lagi. Ia sendiri tak mau sukses sendiri. Dalam perjalanannya, ia juga membuka kursus buat kita belajar. Secara rutin usahanya termasuk pusat pelatihan yaitu Pelatihan Pengolahan Bulu Domba. 
 
Dimana disediakan fasilitas ruang pelatihan bagi kita yang berminat. Soal biayanya dipatok Rp.4,5 juta per- orang, dengan tambahan yaitu jika sepuluh orang, waktunya bisa disesuaikan. Materi juga sudah termasuk bagaiman cara membudidaya wol buat komersil. 
 
Dimulai dari merawat domba, proses pencukuran, dan proses pembuatan bulu- bulu domba. Prospek bisnisnya ada, adapula buat kamu yang cuma mencari hobi baru. Membuat boneka bisa jadi satu aktifitas mengisi waktu- waktu luang di rumah saja. Soal peralatan, tenang, perusahaan miliknya juga menyediakan aneka peralatan untuk kita beli.

Usaha Biogas


Usut- punya usut seperti yang sudah dikutip dari laman Mongabay.co.id. Usahanya tengah mengembangkan traktor biogas. Di depan gerbang tempat workshopnya akan ditemukan "Pertanian Terintegrasi Ramah Lingkungan Menuju Mandiri Pangan dan Energi" dan ada kebun percontohan. 
 
Kamu akan menemukan kebun tertata rapih di sebuah ruang terbuka, dimana ada pohon jambu biji, mangga, kedondong, dan lengkeng. Bukan cuma kebun, tapi, ditempatnya itu ada pula tempat kandang sapi dan domba. Ada empat ekor domba sehat disana tengah makan rumput. 
 
Disana, ada pula sapi tegap, yang mana cuma ditugasi untuk makan rumput, tidur, dan buang kotoran. Nah, kotoran inilah yang tengah penulis bicarakan, dari usaha bulu domba, selain itu ada pula usaha pengumpulan kotoran baik sapi dan dombanya. 
 
Selain itu sebagai tambahan tempat itu juga punya 30 ekor ayam; tugasnya bertelur dan buang kotoran juga. Baginya inilah konsep pertania ramah lingkungan. Jangan salah dari segi kebersihan tempat itu sangatlah bersih seperti ada di dalam foto- foto unggahan Mongabay.com
 
Lantas Sri menunjukan tabung gas biru atau istilahnya tabung digister. Itu adalah tangkir reaktor biogas yang terbuat dari fiberglass. Dalam digister itulah kotoran diubah jadi biogas. Kotoran ternak diubah jadi gas biru tidak berbau. Sri juga menyebutkan kamu tak perlu khawatir; biogas tak meledak.

Semua hal di tempatnya adalah pengolahan bersinergi. Tak ada yang terbuang dari tanaman, binatang, dan juga limbahnya. Ya, dengan energi biogas tak cuma menghidupi Sri dan pekerjanya sendiri, tapi juga berarti bisa menghidupi orang- orang lain, terutamanya di daerah terpencil dan perbatasan. 
 
Konsep tengah dibangunnya adalah konsep ketahanan pangan. Sudah pasti sehat lah, karena semuanya tidak ada zat kimia. Dari ayamnya, baik daging dan telurnya bisa dimakan, bahkan apa yang dikeluarkan bisa dijadikan pupuk.

"Bahkan, seekor sapi yang saya beli tahun lalu seharga 13 juta rupiah, harganya kini dua kali lipat saat dijual saat lebaran kurban mendatang. Ini semua manfaat biogas," ujar wanita 42 tahun ini. Tak hanya memberi pelajaran tentang ketahanan pangan kepada masyarakat dan pemerintah setempat. 
 
Sri mengambangkan aneka lini bisnis agri dan energi untuk mempermudah.. Pengusaha boneka bulu domba ini menciptakan kompor biogas, lampu, penanank nasi, hingga traktor berenergi biogas. 
 
Produksinya tak cuma dari energi kotoran binatang, bisa juga dari limbah sawit, ampas tahu, bungkil daun jarak. Tidak ada rasa mencampur ketika digunakan memasak, tak ada bau, dan rasa khawatir akan meledak.

Bebas Hutang Arli Kurnia Rahasia Pengusaha

Biografi Pengusaha Arli Kurnia

 

bebashutang.png
 

Bebas hutang Arli Kurni membagikan rahasia pengusaha. Pria bernama lengkap Arlianto Kurniawan, kelahiran Jakarta, 2 Juni 1981, adalah pengusaha sukses yang membantu banyak orang. Terutama dia membantu pengusaha pemula agar terbebas hutang.

 

Dia dikenal sebagai mentor, motivator, memberikan tips- tips sukses. Dia membagikan kisah bisnisnya dan cara bebas hutang. Jargonnya Membebaskan Diri dari Hutang, sangat mengena terutama bagi yang mau merintis usaha. Ia mengajurkan anak muda agar mejauhi hutang bank.

 

Rahasia Pengusaha

 

Tips- trik diajarkannya merupakan cara teruji ampuh. Dia mengajarkan cara membangun bisnis tanpa modal. Arli sendiri merupakan Diretkur PT. Sukses Niaga Solusindo. Ia yang terkenal menjual carian penghemat BBM bernama Cleanoz. 

 

Bisnis Arli Kurnia

 

Cairan ajaib tersebut khususnya digemari pengendara sepeda motor di Indonesia. Sebelum berbisnis ini, Arli terkena hutang menumpuk, berbisnis memakai hutang merupakan kebiasaan Arli dulu. Dari membeli mesin, hutang, mau produksi pakai hutang, yang merembet ke kebutuhan sehari- hari.


"Dulu saya bisnis pakai utang, beli mesin saja pakai utang, jadi nggak ada uang akhirnya saya apa-apa pakai angsuran. Waktu itu 1 bulan saya ada 6 angsuran," ia menambahkan.


Jadi dia memiliki angsuran modal dan keperluan pribadi. Arli mengangsur rumah, mesin cuci, dan mobil punya tiga cicilan. Dalam program D'Mentor, Arli menceritakan kembali pengalamannya bisnis dan berhutang.


Ujung- ujunga Arif keteteran mengurusi semua cicilan. Total utang bisnis dan pribadi sampai 400 juta. Ia merasa lelah. Maka dia menjual aset- asetnya. Dan dia menutup bisnis dirintisnya, masih kecil- kecilan tetapi sudah dijual menutupi hutang.


"Semua saya jual habis, jual rugi. Saya itu ada usaha kuliner, laundry, ada beberapa usaha," lanjutnya kepada Detik.com


Bisnis banyak tetapi hutang menggunung. Tapi, tahun 2012, semuanya ditutup karena enggak kuat buat membayar hutang. Hasil usahanya ternyata tidak mampu menutup hutang. Dalam waktu 30 hari, dia mencicil hutang sembari menjuali aset dari November sampai Desember.


Selama 30 hari dia membayar hutang walau ternyata tidak 100% terbayar. Dari 400 juta, Arif masih menyisakan 40 juta. Saat itu dia sudah tidak memiliki aset maupun bisnis. Arli membutuhkan uang. Maka dia mulai menjual barang apa bisa dijual.


Dia berjualan apapun. Uang dikantong masih ratusan ribu, dia belikan barang lalu dijual, uangnya lalu diputar kembali demi uang.  "...itulah yang saya pakai buat beli barang, saya jual, dapat untung, saya putar lagi. Saya coba jual penguat sinyal, kartu perdana," ia menceritakan.


Dia jual penguat sinyak di Facebook. Ditawarkan ke teman- teman, ketemu orang, ditawarkan ke orang secara konvensional. Bermula penguat sinyal dia kemudian menemukan penghemat BBM. Penguat sinyal ini merupakan produk impor. Pas dia mau stok ulang malahan hilang dari pasaran importirnya.


"Saya bingung mau jualan apalagi," kenangnya. Dia menemukan penghemat BBM. Awal dia maunya jualan punya orang tetapi duit kurang. Arli memutuskan membuat sendiri. Modalnya Rp.900 ribuan, dan kalau dia membeli tidak mungkin segitu.


Dulu minimal ordernya Rp.4,5 juta, dan Arli terpaksa membeli cuma sebotol, beli eceran lantaran ia tak punya uang. Dari sebotol dibukanya ia terkejut menemukan fakta ini. " beli 1 botol, saya lihat itu apa isinya, ternyata minyak atsiri. Lalu saya belajar apa itu minyak atsiri dari warnet," papar dia.


Dasar Arli tidak mengetahui mengenai minyak atsiri. Ia lalu lari ke warnet membuka internet. Arli lalu mencari apa itu atsiri. Ternyata di Indonesia ada. Dia sendiri tidak bisa buat itu. Arli pun memilih opsi paling aman. Dia mencari orang dan menyerahkan berkas- berkasnya.


Disana dipelajari, Arli serahkan uang Rp.900.000, sampai orang tersebut berhasil membuat 1 jerigen. Ia lalu masukan ke botol- botol kecil. Dia sendirian mengemas begitu selesai malah tak laku. Orang- orang tidak percaya akan kasiat cairan ajaib ini.


Pelan- pelan dia menjual ditawarkan ke teman- teman. Akhirnya orang mau membeli bukan karena percaya tapi kasihan. Bertahap cairan penghemat BBM tersebut diterima masyarakat. Arli menamai produknya Cleanoz, tetapi itu setelah.


Pertama kali dia menamai produknya Dexon. Arli menjual ke seorang teman kemudian ditetes ke motor teman lain. Tanggapannya motor menjadi enteng, ditetesi cairan tadinya macet, kini mudah buat distarter terikannya enteng. Teman tersebut kemudian mendapatkan telephon testimoni memuaskan.


Tetapi tidak mudah meyakinkan orang biasa. Arli berprinsip harus laku terjual. Pantang pulang kalau belum habis. Dalam kurun waktu 1,5 tahun, ia mampu mengantongi Rp.4 miliaran berkat berjualan cairan ajaib. Itu sebab Arli telah mendapatkan banyak testimoni memuaskan.


Biografi Arli Kurnia


Sukses menghasilkan bisnis menjajikan membuatnya bebas hutang. Arli kemudian memperdalam hal marketing dan pemasaran. Namanya dikenal sebagai profit maker, yang mana dia membagikan rahasia pengusahanya kepada khalayak ramai. Intinya tingkatkan profit agar usaha kamu tidak berhutang.


Di wawancara ekslusif bersama Christine Lie 101Red dijelaskan lebih detail. Tepatnya dalam sebuah video Youtube berjudul "Modal Rp.900 ribu Jadi 1,4 miliar dalam 3 bulan tanpa hutang. Arlie cerita tentang awal dirinya menjadi spekulan.


Awal kenapa dia menjadi gemar berhutang dan berbisnis pakai hutang. Awal dia pernah berbisnis di MLM. Jabatannya tinggi berbekal kemampuan dia mengajak member. Ini menjadi faktor utama Arli tumbuh perasaan arogan. Gengsinya makin tinggi mengikuti gaya hidup lebih mahal.


Banyak orang menganggap Arli di titik terendah. Mengasihani Arli karena kehilangan semua. Tapi ia justru barulah memulai kesuksesan. Dia bangkit. Bermodalkan uang sisa, Arli membangun kembali mental pengusaha melalui berbisnis kembali.


Dia mampu mengembalikan 90% hutang dalam 30 hari. Dalam tiga bulan lunas semua berkat jualan cairan ajaib. Maka Arli menuliskan kisahnya dalam bentuk buku berjudul "30 Hari Bebas Hutang". Ini sekaligus menjadi cikalnya menjadi mentor dan motivator bisnis.


Inti buku tersebut mengenai penyebab kenapa hutang tersebut ada. Dia menjelaskan semuanya, juga termasuk pengalaman dia menjadi pebisnis MLM. Gaya hidupnya dijual semua karena sumber hutang menyesatkan. Arli memulai bisnis semua dari awal tanpa hutang.


Selama dia memiliki barang kredit hidup tidak tenang. Ia cepat tersinggung meskipun ke istri. Maka ia melepaskan semuanya memulai tanpa hutang. Ia merasa mengejar yang tak penting. November 2012 ia telah melepaskan semuanya, pada Desember 2012, dia browsing internet mencari barang buat dijual.


Ia menemukan cairan ajaib penghemat BBM. Dari sederijen dibungkus kecil- kecil layaknya obat tetes mata. Tidak disangka akan sesukses sekarang. Ia awal cuma mau mencari makan. Tiap hari ia pergi ke luar naik motor berkeliling menjajakan cairan tersebut.


"Saya pulang harus bawa duit, pulang itu laku 50 ribu, 100 ribu untuk beli beras," ia mengenang. Dia mengenang Januari 2013, dari modal Rp.900 ribu dapat satu dirijen disulap menjadi Rp.60 juta, dan pada Maret 2013 total pendapatannya mencapai Rp.1,4 miliar.


Walau profinya mencapai Rp.1,4 miliar tidak bermewah- mewah. Dia meninggalkan gaya hidupnya dulu. Arli memakai profinya buat membeli properti di Salatiga. Sementara dirinya masih hidup di kontrakan dan masih pakai montor lama.


Dua tahun keadaan tersebut berjalan Arli terus berjualan. Sembari dia menulis bukunya tersebut diatas, dia lantas diundang seminar ke berbagai tempat. Arli mengaku dia menawarkan seminar gratis, tapi tujuannya agar bukunya laku.


Lalu, pada 2016, Arli memulai bisnis properti berbekal tanah kavling. Ia menjelman menjadi mentor atau business coach tanpa hutang. Arli membuka jasa konsultasi gratis tiap kamis di bumi. Prinsipnya kini segala sesuatu di bumi milik Tuhan, akan kembali ke milik Tuhan.


Tahun 2019 kemarin, dia membuka usaha bernama Waroeng Rakjat yang berupa minimarket serupa Alfamart dan Indomart. Bisnis Waroeng Rakjat menawarkan harga dibawah kedua minimarket. Dan ia menawarkan teknologi lebih baik, pembayar melalui sistem QRcode.


Salah satu penyebab kesusahnya adalah merasa lebih hebat. Yang penting ikhlas hanya berharap hidup tenang. Dalam melunasi hutang adalah menemukan akarnya, apakah gengsi, atau spekulasi. 

 

Dalam berbisnis ada tiga hal, yakni komoditi, trend, kebutuhan spesifik Dijelaskan kebutuhan spesifik memberikan keuntungan tinggi. Sementara komoditi akan memberikan untung 5- 20 persen.

Batik Godog Sekar Ayu Pengusaha Melawan Bom

Profil Pengusaha Uswatun Hasanah


batikgodog.png

Batik godog Sekar Ayu telah melampaui masa. Pengusaha ini melawan bom hingga bertahan sampai sekarang. Bisnis yang datang dari tradisi masa lalu. Kemudian meresap dan diaplikasikan ke jaman sekarang. Seperti hal pola- pola batik kuno, yang kini, menjelma menjadi aneka pakaian modern. 
 
Kisah berikut adalah kisah pengusaha wanita asal Tuban. Pengusaha asal Tuban pemilik Batik Gedog asli Tuban, Jawa Timur, yang jika dirunut akar tradisinya begitu dalam. Pada jamannya, sebelum dipopulerkan pengusaha ini, awalnya Batik ini digunakan sebagai syarat pernikahan.
 

Pengusaha Melawan Bom


Seorang pria diharuskan membawa 100 kain batik tersebut. Kesemuanya harus punya cora  berbeda agar bisa melamar seorang gadis. Masih terngiang diingatakn Uswatun Hasanah, yang sekarang sudah berumur 41 tahun, disaat masih kecil mengingat betul bagaimana ibunya tengah membatik. 
 
Batik Gedog dimana berasal dari tradisi kini sudah tak ada lagi sejak tahun 1970 -an. Tradisi tersebut hilang ditelan perubahan jaman. Tapi coraknya masih terngiang dalam benak Uswatun kecil.

Dari 100 kain batik Godog punya arti sendiri- sendiri. Pada tahun 1990 -an, ia melihat batik itu kembali, dan ingatannya kembali ketika masih kecil. Batik Gedog peninggalan nenek sekarang masih tersimpan rapi. Dia pun lantas belajar membatik. 
 
Ingin mengembalikan tradisi yang telah lama hilang. Dan, tentunya itu dengan cara sendiri, yakni dengan cara menjadi pengusaha batik.

"Awalnya di sini orang- orang hanya bisa menenun. Semua saya mulai dari nol. Saya mulai mengumpulkan 20 anak- anak putus sekolah," ujarnya.

Sayang, eh, apa- apa yang dimulainya tak semudah diharapkan. Mengajari mereka membatik justru hasilnya yaitu kain- kain rusak. Dia tak mau menyerah. Uswatun bahkan rela menjual rumah warisan ibunya.

Usahanya membangun bisnis Batik Sekar Ayu tak sia- sia. Akhirnya pada tahun 2000 -an, Uswatun lantas mendapatkan suntikan modal dari PT. Semen Gresik. Usahanya itu menjalar bahkan sampai ke pulau Bali sebagai basis besar bisnisnya. Usaha tersebut memang sukses. 
 
Hingga, pada bulan 1 Oktober 2005, sebuah pristiwa mengguncang laju bisnisnya. Ada apa? Pada saat itu ada pristiwa Bom Bali II, efeknya bagi bisnis Sekar Ayu adalah seretnya permintaan dari Bali.

Batik Godog Sekar Ayu


Kejadi Bom Bali II merusak sektor bisnis pariwisata di Pulau Dewata. Alhasil, Uswatun yang basis bisnisnya disana, juga kena imbasnya. Bahkan ia menjelaskan dari sanalah 40% produksinya tersedot dipasarkan. Dia mengaku sempat tertatih- tatih menghadapinya. 
 
Ia akhirnya limbung di tahun 2007 -an. "Saya angak tangan. Pembayaran macet semua," tambahnya. Ini adalah kebangkrutan pertama dilalui seorang pengusaha asal Jawa Timur tersebut.

Ada cicilan yang belum lunas kepada PT. Semen Gresik Tbk. Dimana dirinya mendapatkan bantuan modal kemitraan. Padahal perlu kamu tau dirinya tak pernah telat membayar cicilan. Dia, akhirnya, mulai melakukan yang terburuk yaitu merumahkan pegawainya. 
 
"Akhirnya saya beranikan menghubungi pihak Semen Gresik, saya menjelaskan apa adanya," jelasnya kepada Kabarbisnis.com. Alhamdulillah... bisnisnya justru dapat perhatian, bahkan, pihak Semen Gresik menyemangatinya.

Mereka bahkan mengeluarkan bantuan modal. Total 150 juta digelontorkan oleh Semen Gresik kepadanya sebagai modal usaha kembali. Uswatun tertantang kembali bangkit. Bahkan ia kembali aktif mempekerjakan tetangga sekitar. Luar biasa memang kekuatan wanita yang satu ini. 
 
Bisnis Batik Sekar Ayu perlahan tapi pasti mulai bangkit kembali. Bisnis yang awalnya dimulai dari usaha rumahan sang nenek di 1984, dulu, cuma mempekerjakan sepuluh orang.

Kini, usahanya menghasilkan omzet minimal Rp.200 juta per- bulan, dengan karyawan mencapai 400 orang sekarang. Tak mau berputus usaha bagi pengusaha ini merupakan kunci sukses.

Pada 2000, ia memberanikan diri mengajukan pinjaman kembali, setelah lunas sebelumnya tentunya. Yakni modal Rp.25 juta. Pemasaran batiknya juga tak lagi berfokus pada Bali. Dia menyebut ada di Surabaya, Bali, Yogyakarta, Jakarta hingga Batam. 
 
Sudah ada 200 motif batik dikembangkan olehnya. Dimana motif uniknya bertema buah dan tanaman lokal, seperti kates gantung atau pepaya gantung, dangkel sungsang atau bunga cempaka.

Unik, Uswatun juga memberikan kesempatan anak- anak sekitar. Dia mengajak ibu- ibunya, dan juga anak- anaknya untuk membatik. Meski hasilnya belum berhasil dirinya tetap memberikan upah. 
 
Setelah lama sejak kebangkitan bisnisnya, ia mendapat banyak penghargaan, seperti Upakarti 2010 yaitu kategori pelestarian. "Alhamdulillah sudah bertemu Presiden SBY, pameran di beberapa negara di Swedia, Thailand, Belanda, dan pernah berangkat sendiri ke Kamboja," ujarnya.

Dalam sebulan omzet Uswatun adalah antara 100 juta hingga Rp. 250 juta. Bahkan yang tertinggi, jelasnya ke awak media, bisa mencapai 450 juta. Yakni batik kuno yang perlembarnya ditaksir Rp.100 juta oleh seorang kolektor, dimana ia menyimpan 400 lembar. 
 
Tapi dia menolak hal itu karena kelak dia berharap beralasan anakanya ingin membangun sebuah meseum batik sendiri. "Anak saya yang SMA punya cita- cita ingin membuatkan museum batik," jelasnya.

Pengusaha Pernah Ditipu


Awal belajar membatik bukanlah tentang bisnis semata. Sejak awal, keluarga Uswatun, pada dasarnya tak spesifik berbisnis. Diturunkan dari satu generasi ke generasi lain demi tradisi. Tak ada arahan untuk dijual, ya, semuanya cuma untuk koleksi pribadi. 
 
"Saya lihat koleksi batik nenek saya sampai ratusan. Dari situ saya tertarik untuk membuat sendiri," kata Uswatun, yang telah belajar membatik dan menenun sejak masih kecil. Ada filosofinya ditiap canting ditangannya ketika membatik.

Dimulai dari mengajar anak- anak belajar membatik di tahun 1993. Pada tahun yang sama itu pula, seperti dilansir dari laman Kontan, ia mulai berani menjual batik hasil karyanya. Saat itu menjual batik dalam bentuk kain bahan bukanlah kewajaran atau familiar bagi masyarakat. 
 
Oleh karena itulah ia mulai fokus pada batik jadi yakni membuat batik diatas kaus atau kaos. Batik kaos nyatanya, saat itu, kurang diminati masyarakat juga.

Modal cuma Rp.300.000 telah mengempis. Pasar menolak batik kaosnya, dan akhirnya, uang itu hilang dan dirinya praktis juga merugi. Hasil karya tersebut dijualnya murah.

Model bisnis batik Sekar Ayu yaitu melalui penjualan dari pintu ke pintu. Dia belum lah punya mitra untuk menampung batik buatannya. Meski terus merugi tak membuatnya berputus asa. Dibantu oleh ibu- ibu dan anak- anak tetangga terus berkarya sampai sekarang. 
 
Pada awalnya, ia pernah meminjam modal 15 juta, tapi sayangnya; ia kena tipu. Hingga jatuh tempo utangnya tak terbayar. Uang tersebut justru dibawa lari oleh patnernya di Bali. Bisnisnya pun berubah jadi titip tanpa uang muka. Yakni yang dititipi tak perlu membayar hingga jualannya laku terjual. 
 
Nah, pada ada Bom Bali, dia mengaku semua titipannya ditolak bayar. Alias mereka para penjual yang dititipi tak mau membayar. Alasanya karena batiknya kena bom. Semua orang yang dititipi juga berkata seperti itu, entah, itu cuma alasan saja atau benar; Uswatun memilih legowo. 
 
Total kerugiannya mencapai 25 juta. Sebagai kompensasi gagal bayar. Uswatun pun haru mengajar membatik. Dia diminta sang empunya kredit untuk mengajar sebagai kompensasi maaf. Di Tuban, ia tak cuma mengajar, tapi juga aktif mencari- cari cara baiknya berbisnis. 
 
Dari belajar marketing, manajerial, pengemasan, dan lain- lain. Aneka pelatihan ia jalani di sela- sela mengajar sementara Batik Sekar Ayu tutup sementara. Dia bahkan tak sungkan pergi ke daerah lain, seperti Pekalongan untuk memperdalam ilmunya.

Dengan konsisten fokus usahanya ada pada batik tulis. Berjalannya waktu workshop dibangunnya kembali, dan sukses besar, semua berkat konsisten dan selalu belajar selain pantang menyerah.

Jadi Pengusaha Nasi Jeroan Dampak Pandemi

Profil Pengusaha Arus Harhara

 

jadipengusaha.png
 

Jadi pengusaha nasi jeroan dampak pandemi Covid 19. Bukan rahasia banyak orang kehilangan pekerjaan sebab pandemi ini. Salah satunya pria bernama Arus Harhara, yang awalnya bekerja di biro perjalanan, yang sudah pasti terdampak pandemi karena pembatasan pergerakan.

 

Ia mengatakan 100 persen biro perjalanan tutup. Bertumbangan membuat pegawainya menganggur. Dia salah satunya setelah sekian lama bekerja. Arus bahkan sudah menganggur sejak awal pandemi. 

 

Pengusaha Nasi Jeroan

 

"Jadi mau tak mau kita harus banting stir untuk menjalani penyambung hidup. Jadi terpikirkan membuka warung," ia lanjut.

 

Pengusaha warungan asal Kudus, Jawa Tengah, beralih profesi menjadi penjual sego kinco. Atau kita menyebutnya nasi jeroan bandeng. Profesi sebelumnya ia bekerja di biro perjalanan wisata. Dampak pandemi membuatnya memutar otak.

 

Ia membuka warung sederhana diluar rumah. Arus melayani sendiri pembeli. Dia tampak cekatan meramu sego kinco. Tampak jeroan bandeng atau weleran sudah disiapkan di atas wangkok. Ia lalu menyiapkan bahan bawang buat dibuat sambal.

 

Campuran sambal terdiri dari bawang merah, putih, dan cabai digoreng. Selanjutnya jeroan bandeng dimasukan wajan kemudian dimasukan sambalnya. Dia terus menggoreng sambal dicampur jeroang. Ia lalu menaruh jeroan sambal tersebut di atas piring bersama nasi.

 

Nasi kinco dihidangkan ke pembeli. Arus ternyata hobi memasak. Dan dia melihat bahwa nasi kinco jarang ditemui di daerah lain.

 

"Buka warung karena saya hobi masak, kenapa saya memilih sega kinco ini karena merupakan salah satu makanan yang otentik. Dalam artian tidak semua daerah ada," jelas Arus.


Nasi kinco dikatakan memiliki manfaat kesehatan. Ikan bandeng kan memiliki omega tiga. Baik buat kesehatan tubuh mencegah penyempitan pembulu darah. Waleran bandeng kaya omega tiga baik buat pembulu darah dan kolesterol.


Ia mengatakan sego kinconya relatif murah dibanding tempat lain. Harganya Rp.13 ribu Satu piringnya takaran nasi sudah cukup mengenyangkan. "...biasanya tambah lagi," terangnya ke pewarta Detik.com. 

 

Puluhan piring habis disuguhkan kepada pembeli perhari, bahkan pembeli datang dari luar Kudus. Stok 20- 30 porsi pasti habis perhari tidak bersisa. Ada mereka yang makan di tempat, atau dibawa ke rumah. Pelanggan dari luar Kudus, meliputi Semarang dan Pati. 

 

Menunya selain sego kinco termasuk sego kepel. Walau memakai jeroan ikan ternyata rasanya tidak pahit, masaknya beda, nikmat sekali.

Awal Pura Group Biografi Jacobus Busono

Biografi Pengusaha Jacobus Busono


jacobusbusono.png

Awal Pura Group tidaklah sementereng gedungnya sekarang.  Biografi Jacobus Busono, usahanya unik dibanding pengusaha lain semua bermula toko percetakan kertas. Perusahaan asli Kudus, Semarang, yang kini megah disejajarkan perusahaan nasional lain.
 
Perusahaan ini tercatat pemenang Anugrah Siddhakretya. Untuk perusahaan atau individu dipandang sebagai sosok invator penemu. Pasalnya, kamu tau perusahaan ini sukses menspesialisasikan diri. Perusahaan ini sebelumnya cuma tiga toko percetakan kecil, kini, telah memiliki teknologinya sendiri.
 

Merintis Bisnis

 
Utamanya yaitu teknologi percetakan anti- pemalsuan. Perusahaan ini juga mampu mencetak surat berharga bahkan uang untuk Bank. Sukses dari Pura Group tak jauh dari sang CEO sekarang, Jacobus Busono.

Melalui bendera PT. Pura Barutama, perusahaan berkantor pusat di Kudus, Jawa Tengah, sukses menjadi pemimpin dibidang percetakan. Pura Barutama dikenal sebagai perusahaan percetakan atau printing, proses lanjut kertas atau converting, kemasan atau packaging, rekayasa atau engineering. 
 
Juga seperti yang dijelas diatas perusahaan punya sistem anti- pemalsuan terpadu. Mereka mampu membuatkan surat berharga atau pun mencetak uang.

Untuk Pura sendiri, penghargaan tersebut bukanlah pertama, prinsip Jacobus bahwa perusahaan harus selau punya inovasi. Bukan sekedar perusahaan trading atau cuma mengurusi jual beli. Presiden 
 
Direktur sekaligus pemilik perusahaan tersebut menjelaskan dirinya lebih senang mengembangkan. "Industrialis itu cenderung care about the game. Sedangkan, trader itu care about money," jelasnya dalam biografi Jacobus Busnono, oleh karena itu segala usahanya bukan sekedar jual- beli.
 
Selain penghargaan diatas yang diberikan langsung oleh Presiden Megawati Sukarnoputri. Di tahun 2013, ia bersama Pura Group menyabet gelar anugrah teknologi bidang Agroindustri dari Menteri Riset dan Teknologi tahun 2001 silam. 
 
Penghargaan tersebut untuk suksesnya menciptakan mesin pengering padi. Ya, perusahaan ini memang perusahaan holding, jadi jangan salah sangka cuma mengurusi percetakan saja loh. Dalam penjelasan sukses Para Group adalah sosok Jacobus sendiri.

Bisnis keluarga


Sukses Para Group adalah Jacobus Busono. Kenapa pernyataan ini ditekankan oleh artikel ini. Memang jika dirunut dari tangan dinginnya lah; perusahaan ini menggurita. Kisahnya dimulai dari sang kakek yang memulai bisnis percetakan terlebih dahulu. 
 
Didirikan oleh pendiri Ong Djing Tjong bernama awal Electriche Drukkery. Didirikan hampir satu abad lalu. Tahun  1908, saat itu, perusahaan ini merupakan satu dari tiga percetakan kecil yang ada di Kudus; selain Hoo Kongso dan Tjung Hwa.

Ketika genap dirinya berumur 16 tahun, Jacobus kecil sudah punya mimpinya sendiri. Remaja penuh warna yang memilih melanjutkan sekolah sampai jenjang tertinggi. Dia melanjutkan sekolah ke Concordance HBS atau Hoogere Burger School setingkat SMU. 
 
Sekolah dikhususkan untuk mereka yang mau melanjutkan ke luar negeri. Bersekolah di HBS dirinya fokus belajar Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis. Usai pendidikan di HBS pergilah ia ke Belanda. Mimpinya ternyata tak jauh di dunia perbisnisan keluarga. 
 
Ia memilih melanjutkan pendidikan di Akademi Percetakan ternama di Belanda. Kemudian meneruskan ke Fach Hochschule (FH) dibidang percetakan dan kertas Jerman. Disela ia mendalami fotografis, litografi, seperasi warna, dan bidang lain. 
 
Passion -nya dan mimpinya memang tentang percetakan. Di Eropa dirinya benar- benar mengikuti nasihat ayahnya. Dia belajar serius dengan penuh semangat ria selalu. Tahun 1970, Jacobus telah kembali ke Indonesia, namun akhirnya sadar akan satu hal: 
 
Ilmu yang dipelajari cuma lah seonggok teori. Tidak berarti apa tanpa ia praktikan langsung. Dia harus memulai dari awal. Mulai dari beradaptasi kembali dengan situasi kerja, cara kerja, sistem, budaya bahkan soal penggajian. 
 
Baginya realitas di lapangan merupakan sejatinya pengetahuan. Inilah yang membangun visi seorang Jacobus lebih jadi tajam. Visi untuk membangun Pura Group sebagai bisnis terdepan. Menjadikan perusahaan ayahnya yang bernama PT. Pura Barutama menjadi percetakan kualitas terbaik. 
 
Dia membangun tradisi perusahaanya sendiri. Yang dalam penjelasannya ada pada nilai inovasi selalu. Dalam perjalanannya, ia tak cuma mau agar Pura Group jadi lebih besar, hasratnya mulai mencangkup cakupan luas. 
 
Dia ingin menyelipkan pesan- pesan kepada dunia bahwa orang Indonesia sejatinya tidak bodoh.

"Bangsa ini memiliki etos yang kondusif bagi pengembangan teknologi, yaitu sikap sepi  ing pamrih rame ing gawe," ungkapnya.

Didukung sikap tepo seliro, santun, dan taat, menjadikan etos kerja jadi lebih efekti. Namun, Jacobus lantas mengingatkan itu tergantung pemimpinnya. Kita membutuhkan pemimpin kuat tegasnya juga. Pura Barutama lantas berkembang dari cuma 35 karyawan jadi 8.500 karyawan. 
 
Dikenal atas kemampuannya dalam proses lanjut kertas, kemasan, rekayasa mesin, dan sistem anti- pemalsuan. Buktinya produk- produknya telah digunakan oleh perusahaan besar seperi Tempo, Sanbe Farma, Sampoerna, Djarum dan lain- lain.

Bisnis Awal Pura Group


Sukses Pura Group punya startegi sendiri. Minimnya publisitas membuat perusahaan terlihat "wah". Padahal sebagai generasi ketigi dirinya sama saja membangun dari nol. Usaha yang dibangun sejak jaman kakeknya tak akan seperti ini tanpa waktu. 
 
Dia sendiri sengaja menutup publisitas diri. Termasuk kinerja perusahaan hingga terkuak lah kesuksesannya (yang besar). Ketertutupan itu sengaja, pasalnya, ia mengikuti sang tokoh panutan di dunia percetakan, Hubert Steinberg serta filosofi diri. Dalam diam mereka menjadi hidden champion. 
 
Akan tetapi, semenjak, perusahaan miliknya sukses menang tender kertas uang untuk BI; beda pula akhirnya. Perusahaan besar tersembunyi ini, dan dirinya yang selalu menghindari publisitas, terkuak karena sukses menyisihkan pabrik kertas dunia di tahun 1999. 
 
Dia lantas jadi incara media masa. Agaknya ketersembunyian tersebut juga punya faktor X  yakni mitor generai ketiga. Di sebutkan bahwa generasi ketiga jadi kehancuran. Ada sejarah perusahaan di negara- negara berkembang. 
 
Bahwa perusahaan kaluarga di negar berkembang, generasi pertama adalah pembangun. Generasi kedua adalah penikmat sementara ketiga, apalagi kalau lah bukan generasi penghancur. Ini tidak berlaku bagi kisah Pura Group. 
 
Sukses Pura Group dihantarkan oleh nya berpegang pada filosofi dan visi- misi kuat. Suksesnya bahkan mampu menjadi percetakan kelas dunia terbesar di Asia Tenggara. Jika visi- misinya menyangkut mengembangkan bisnis keluarga. 
 
Maka falsafahnya adalah agar menjaga diri untuk tidak sombong. Jika tidak sombong maka orang akan menghargai kita. Itulah apa yang tercermin di kehidupan dan cara bisnisnya.

"Sombong itu merugikan diri sendiri dan orang lain. Pinta itu relatif. Pemimpin yang baik itu tidak mungkin sombong, pemimpin tidak boleh sombong dengan bawahannya," jelas Jacobus Busono.

Menjadi sombong berari sulit menerima ucapan orang lain. Padahal mendengar merupakan salah satu cara menentukan keputusan. "Filosofi ini berasal dari proses belajar saya, saya juga pernah sombong, dulu memimpin 200 orang (karyawan) saja setengah mati," ungkapnya lagi. 
 
Filosofi ini dibawanya meski ia lantas dipilih menjadi salah satu anggota resmi Word Entrepreneurship Forum. Jumlah anggota forum pengusaha ini cuma maksimal 70 orang. Bersamanya ada orang lain dari Asia yaitu total 7 orang dari kawasan Asia. 
 
Yaitu dua dari Jepang, satu dari Hong Kong, China, India dan Filipina. Ia menjadi satu- satunya wakil Indonesia kala itu. Ini adalah kebanggaan untuk Indonesia. Pasalnya sistem seleksi keanggotaannya sangatlah ketat dan tidak diperjual belikan. 
 
Semuanya berkat kesukaan atau bahasa jaman sekarang passion. Pengusaha hologram yang pernah merugi 10 tahun ini, menunjukan bentuk nyatanya, dalam kehidupan hari- harinya dilalui dengan mengendarai mobil tua. 
 
"Yang celaka orang tidak punya, tapi sombong," ungkapnya kepada Detik.com. Dia punya mobil Kijang. Baginya yang terpenting nyaman karena ada AC -nya. Dia lantas berseloroh memilih Kijang ber- AC daripada Mercy tanpa AC. Entah apakah ini sebuah bahasa kiasan atau benar.

Menjadi pemegang tampu kepemipinan. Apakah yang pernah dilakukannya disana. Ia sukses mengepakan sayap ke luar negeri. Berbagai ekspor telah dilakukan lebih dari 40 negara di kawasan Asia, Australia, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika. 
 
Dia bersama Pura Barutama mendapatkan gelar eksportir terbaik di bidang non- migas Primaniyarta dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan tahun 2011. Bisnisnya bergeliat menghasilkan omzet Rp.3,5 sampai 4 triliun di tahun 2008 saja.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba