Pebisnis Restoran 9 Buah Beromzet Ratusan Juta

Profil Pengusaha Yenn Wong

 

pebisnisrestoran.png
 

Memiliki restoran 9 buah beromzet ratusan juta begini ceritanya. Adalah pebisnis wanita asal Singapura yang bernama Yenn Wong. Wanita yang sukses membuka restoran di Hong Kong. Dikisahkan Yenn ini pernah hampir keluar kuliah.


Pasalnya dia "terobsesi" membangun bisnis sendiri. Usaha hospitality atau perhotelan itu bernama JLA Group. Pengusaha wanita yang didukung ayah sepenuhnya. Ayah Yenn juga seorang pengusaha loh. Dia asal Singapura dan tidak masalah Yenn drop out.


"Menjalankan sebuah bisnis restoran, seperti menjalankan usaha pertunjukan," ujar pebisnis restoran 9 buah. Ya dia kini mengerjakan "pertunjukan" melalui restoran tersebut. Maka prinsip inilah yang bisa membuat restorannya menonjol.


9 restoran berarti mengerjakan sembilan pertunjukan. Pengusaha wanita ini masih sempat menjalankan hotelnya. Dari berbisnis perhotelan baru kemudian muncul ide bisnis restoran. Bicara mengenai sukses restoran Yenn begitu dikenal.


Pelanggannya dari kalangan ternama Hollywood, sebut saja nama Olsen's Twin, Michael Jordan, Thom Browm, dan One Direction. 9 restoran tersebut mampu melayani sampai 900.000 pelanggan di 2014 saja. Dia meraup omzet $ 20 juta atau Rp.240 miliar.


Hong Kong telah ditunjuk menjadi kiblat kulinari Asia. Pelanggannya yang datang merupakan kelas dunia. Bahkan Chef Dunia Gordon Ramsay dan Jamie Oliver punya restoran disini. Banyak koki kelas dunia berdatangan ingin membuka restoran di Hong Kong.


Negara ini memang memiliki iklim berbisnis tinggi. "Pasar yang kompetitif," lanjut pengusaha wanita berusia 23 tahun ini. Industri kuliner memang bersaing ketat. Yenn memiliki bar dan restoran Italia. Dia menciptakan tema sesuai landmark Hong Kong, pusat seni kontemporer dunia.


"Hong Kong adalah kota dengan tingkat stres yang tinggi, orang selalu bekerja," jelasnya. Buat mereka dibutuhkan tempat santai. Nongkrong berjam- jam diluar jam kerja menghilangkan stres. Total Hong Kong punya 1.400 restoran. Pebisnis restoran 9 buah saja sudah beromzet ratusan juta.

Adi Kusuma Pemilik Biznet Pengusaha Anti Lemot

Profil Pengusaha Adi Kusuma


adikusuma.png
 
Adi Kusuma pemilik Biznet berani bertaruh akan masa depan. Pengusaha anti lemot mempertaruhkan nasibnya kepada Indonesia. Mempertaruhkan masa depan jaringan internet kita.  Maka Biznet menjadi veteran koneksi internet. 
 
Tujuannya menyambungkan dunia nyata ke dunia maya ke pelanggan. Dijamannya belum internet secepat sekarang, itulah kenapa dia begitu gereget membuat perubahan. Adi Kusma, adalah CEO Biznet berhasil memberikan layanan prima untuk pengguna sekala perusahaan. 
 
Dia menjelaskan sebelum operator, Biznet berhasil membuat sambungan di tiap warnet. Pelanggannya pada umumnya tertarik koneksi internet cepat bukan murahan. Adi memang sudah akrab dengan komputer semenjak muda hingga disebut kuper. 
 

Rahasia Pemilik Biznet

 
 
Dia menjadi penyedia broadband handal. Jauh sebelum operator selular menggunakan layanan 3G, Biznet telah mengudara dengan koneksi broadband nya. Perusahaan yang didirikan oleh kecintaannya akan dunia komputer. Biznet menyediakan koneksi internet berkualitas kecepatan tinggi. 
 
Perusahaan membidik perusahaan yang lebih loyal. Jika sambungan internet mati, mereka akan mencari Biznet atau merugi. Mereka lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas.

Ini berbeda dari operator selular. Mereka cenderung membidik pengguna baru; dengan segala tawaran menarik. Hasilnya, mereka tidak sanggup melayani pelanggan bahkan pengguna baru.


Lulus SMA, dia pernah sekali meninggalkan komputer demi bersekolah  diTeknik Industri di Oregon State University. Tetapi tidak bertahan lama, dan Adi kembali menggeluti dunia komputer tanpa mengindahkan keinginan orang tua meneruskan perusahaan baja. 
 
Tetapi juga, dari sini, dia mendapat pencerahan bahwa bisnis koneksi juga akan  menguntungkan. Dia membutuhkan sedikit keberanian serta mental untuk memutar otak; mengakali kecepatan internet.

Adi sebelumnya bekerja di perusahaan affiliasi MID Plaza membuka bisnis sambungan dengan US$5 juta. Alasannya adalah faktor prospek, salain itu dia meyakini perusahaan akan menerima idenya; bahwa koneksi cepat merupakan terbaik. 
 
Dia menempatkan dirinya menantang penguasa koneksi PT. Telkom yang konon kala itu masih sangat buruk koneksinya. Ia membangun perusahaannya sendiri Supra Primata Nuzantara dengan merek dagang Biznet. Perusahaan yang fokus membangun jaringan wireless kuat. 
 
Palanggannya kebanyakan merupakan mereka kantor- kantor setempat, seperti disekitaran MID Plaza. "Waktu itu kecepatannya kurang lebih 10 Mbps," ujarnya lebih lanjut Ini tidak terlalu besar dengan paket HSPA+ sebesar 21 Mbps.

Supra Primata akhirnya menjawab kesulitan akan kecepatan itu dengan menggunakan server luar. "Menyewa Bandwitch dari luar sangat mahal, karena kabel laut yang masuk Indonesia masih sediki," ujarnya menjelaskan Atau, perusahaan harus memilih membangun jaringannya sendiri.

"Sekarang palanggan Biznet merupakan korporat mencapai 80% " ujar pria berumur 33 tahun ini. Pelanggan Biznet membayar tarif beragam dari Rp.500.000 hingga Rp. 10 juta per- bulan untuk korporasi dan tentunya bukan untuk satu dua komputer. 
 
Dia juga yakin prospek bisnis koneksi internet masih akan terus diminati terutama untuk individu. Dan  ketika membangun Biznet, Adi pernah mengalami tantangan terberat sepanjang usaha. Dia bahkan pernah merasakan yang namanya ditolak. 
 
Tetapi, di tahun 1998, kenyataan berbalik Biznet kemudian menjadi incaran perusahaan yang beralih dari yang murah. Mereka mengalami krisis keuangan hingga memilih menahan pengeluaran sewa gedung. Mau tidak mau koneksi internet menjadi pilihan utama. 
 
Adi sudah bersiap Biznet memiliki kecepatan maksimal, dan mampu meyakinkan pelayanan menyamai provider lain. Biznet fokus membangun jaringan kabel optik hingga kecepatan meningkat. Adi enggan menyebut angkanya. 
 
Namun, pada saat itu kabel optik biznet telah berjalan dari 10 kilometer dari jalan Sudirman di tahun 2005. Akses internet terus meningkat sehingga membuat Biznet memiliki pelanggan baru walau kala itu harganya cukup mahal.

Akses cepat mendongkrak nilai penjualan Biznet lebih tinggi. Pelanggan juga mulai sadar memilih kecepatan dibanding harga yang ditawarkan. Mereka tidak leai memilih harga, apalagi dengan ekonomi yang mulai membaik. 
 
Percuma jika harganya murah tetapi harus menunggu lama untuk bertransaksi. Biznet tak ragu mematok harga premium kala itu. Hari ini, Biznet telah memiliki kabel optik sepanjang 1.100 Km dari Serang sampai pulau Bali. 
 
Sebagai veteran sekarang karyawan Biznet meningkat dari  empat orang manjadi 1000 orang. Adi juga berpikir untuk mentarget koneksi individual seperti operator seluler. Untuk sekarang, Biznet tetap fokus untuk memberikan layanan internet ke korporasi.

Sejarah Aqua Pengusaha Tirto Utomo Dianggap Gila

Biografi Pengusaha Tirto Utomo

 

tirtoutomo.png
 

Dulu pengusaha Tirto Utomo dianggap gila. Sekarang, dalam sejarah Aqua, menjadi yang pertama dalam bisnis air minum dalam kemasan ( AMDK). Kalau orang mau membeli minuman kemasan, maka nama pertama kali muncul adalah Aqua, apapun mereknya orang bahkan menyebut nama Aqua.


Tirto merupakan warga Wonosobo, pernah menjadi pegawai di perusahaan plat merah. Dia dulu bekerja di Pertamina. Awal tahun 1970 -an, Tirto diberikan tugas menyuguh tamu delegasi dari perusahaan besar asal Amerika Serikat.


Delegasi perusahaan asing yang membawa lengkap istrinya. Mereka dijamu makanan, juga minuman termasuk minum air putih rebusan. Ternyata istri delegasi malah menderita diare setelah kunjungan karena bakteri. Usut- punya usut orang asing tidak terbiasan minum air rebusan.


Air Minum Kemasan

 

Mereka sudah terbiasa minum air sterilisasi. Jamannya memang minuman steril belum diadaptasi di Indonesia. Ia kemudian menemukan ide bisnis AMDK. Dia lantas mengajak saudara- saudaranya bergabung. Tirto memulai langkah lewat mengirim saudaranya sampai Thailand.


Di Thailand, terdapat perusahaan minuman kemasan yang berdiri sejak 16 tahun. Adiknya, Slamet Utomo diminta bekerja di Polaris. Bisa dibilang Aqua "meniru" produk asing bernama Polaris asal Thailand tersebut. 

 

Dari kemasan bening, kemasan berbahan kaca, sampai desain warna menyerupai. Tidak cuma segi desain tetapi pengolahan air, sterilisasi air, kesemuanya "meniru" Polaris. Tujuan adiknya masuk ialah mempalajari semua proses produksi sampai pengemasan.


Dari sebuah ruang tamu sederhana yang memiliki tiga lemari kayu. Di sana terdapat berbagai macam produk awal Aqua. Terdapat meja bundar kecil untuk rapat, dan meja kerja sederhana, yang merupakan tempat pengusaha Tirto Utomo memimpin lahirnya Aqua pada 1973.


"Meja ini merupakan meja yang digunakan pendiri," terang Willy Sidharta, Direktur Utama PT. Aqua Golden Missisippi Tbk.

 

Tirto menemukan cara kerja pembuatan air minum kemasan. Selepasnya dia membangun pabrik di kawasan Pondok Ungu, Bekasi, dan menamainya Golden Missisippi. Pabrik sebesar enam juta liter per- tahun. Target pasarnya ialah dia menjual ke ekspatriat alias orang asing yang disini.


Bagi orang Indonesia namanya Golden Missisippi terdengar asing. Konsultan bisnisnya, Eulindra Lim, yang manamai nama Aqua buat produk minuman ini. Namanya dianggap sesuai atas image minuman tengah dibangun. Nama enak dilafal dibanding nama sebelumnya Puriritas milik Tirto.


Mengapa pengusaha Tirto Utomo dianggap gila. Lantaran sejarahnya Aqua pertama kali dijual seharga Rp.75. Dan harganya dua kali lipat harga bensi dijaman tersebut Rp.25. Gila masyarakat disuruh buat membeli air putih botolan ukuran 950 ml segitu, dibandingkan 1000 ml bensin.


Air minum kemasan dimasa Tirto belum ada. Hingga ia meyakini minumannya akan mudah laku. Dia nekat keluar dari pekerjaanya di Pertamina, pada 1982. Di tahun sama, Tirto merubah sumber airnya dari mata air bor ke air pegunungan yang mengalir sendiri (self- flowing spring).


Tirto menyadari bahwa air pegunungan mengandung nutrisi seperti kalsium, magensiun, potasium, zat besi, dan sodhium. Dia dibantu orang hebat bernama Willy Sidharta, teknisi yang menciptakan mesin pabrik pertama Aqua, sembari memperbaiki sistem distribusi.


Tirto nekat membangun bisnis air minum kemasan. Idenya dianggap gila menjual air putih lebih mahal dari bensin. Pada Oktober 1977, dia mengumpulkan seluruh pegawai Golden Missisippi, sejak pertama kali jualan air di 1 Oktober 1974, usahanya tidak kunjung untung.


Dia mengajak mereka ke Restoran Oasis miliknya, di kawasan Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Saat itu karyawan pertamanya, Willy Sidharta, menceritakan bagaimana keputusan sulit buat melanjutkan usaha. Willy mengatakan bahwa Tirto sudah banyak "menalangi" usaha ini.


"Sekitar Rp.5- 6 juta tiap bulan," Willy menyebut angka Tirto keluarga. Uang tersebut digunakan buat produksi sampai gaji. Sembari Tirto menjelaskan keadaan keuangan Aqua. Ia juga mengajak karyawan lebih giat menjual Aqua.


Bagi Willy pabrik Aqua sudah menjadi rumah sendiri. Dia memboyong anak- istri buat tinggal di sekitaran pabrik Aqua. Willy juga bekerja siang- malam ingin berjuang. Bahkan disaat itu, mesin- mesin Aqua menganggur, sudah banyak air diproduksi namun belum menghasilkan penjualan.


Maka Willy turun ikut membantu Tirto berjualan air. Menyitiri sendiri mobil Mitsubishi milik Aqua, ia dan Tirto Utomo menawarkan air dari kampung ke kampung. Semula Willy tak percaya kalau orang Jakarta tak mau membeli.


Bahkan buat membuktikan dia memberikan gratis. "Kami berikan contoh gratis untuk orang mencoba pun orang- orang tetap tak mau," terangnya kepada Detik.com.


Menurut Salim, pegawai produksi yang sekarang Supervisor water treatment, merasakan betul tak ada orang membeli Aqua. Pembeli adalah orang asing, bahkan masyarakat kelas menengah juga tak mau membeli air putih dikemas ini.


Salim yang bekerja di produksi sampai merangkap penjualan. Tak ada warga Jakarta terbiasa dan mau membeli "air putih". "Waktu itu kan air dari sumur masih bagus," terang Salim. Ia yang mebawa 75 krat cuma laku 5 krat seharian.

 

Pembeli masih dilingkungan orang asing dan orang kaya Jakarta. "Orang- orang belum percaya pada Aqua," kenang Salim. Walau pegawai Aqua gagal, mereka tidak mampu memenuhi keinginan sang pendiri; mereka belum menyerah.


Tirto memang bukan tipikal pengusaha. Dia turun sendiri menjual Aqua. Maka ketika gagal, ia lebih memilih mendiskusikan kembali mau bagaimana. Tirto kemudian mematik cerutunya. Asapnya lalu mengepul memenuhi ruangan mereka berdiskusi.


Prinsipnya adalah kalau jualan terlalu murah malah curiga. Pembeli malah mencurigai kualitas isi air kemasan. Kalau dibanding produk sejenis diluar negeri harganya jauh lebih mahal. Air botolan 950 ml dijual Rp.350 dibanding Aqua Rp.75.


Keputusan menaikan harga menyentuh harga pasarannya malah bagus. Kepercayaan masyarakat malah meningkat. Aneh memang. Keputusan Desember 1977, menaikan harga tiga kali lipat, malah membuat pendapatan meningkat bahkan grafiknya makin naik.


Pasarnya menyebar sampai ekspatriat Jepang. Pada 1970- an, Aqua dibeli orang lokal, dan pada tahun 1980 -an, Aqua telah membukukan untung bahkan penjualan diatas ekspatriat. Ini sejalan dengan mulai memburuknya kualitas air Ibu Kota.


Era 1975, kebutuhan air minum rumah tangga meningkat, maka Aqua menyuguhkan konsep air galon pertama kalinya. Belum punya galon tetapi memakai tabung mirip es putar. Air pun dikirimkan lewat truk air langsung ke pelanggan buat isi ulang.


Tabung air dingin tersebut sempat mengalami kendala. Yakni salah satunya tabung yang dipasang di Citibank dikrumuni semut. Maka Aqua berinisiatif mengganti bukan plastik tapi kaca. Dulu belum ada tabung plastik, tetapi ada tabung kaca bekas cuka yang tutupnya cari sendiri.

 

Willy mengingat mereka membersihkan tabung kaca sendiri. Manual mereka pakai air panas buat mengocok tabung sampai bersih. Mereka membeli tabung cuka bekas di pasar loak. Willy dan kawan berkeliling sampai ke pasar Glodok Lama.

 

Ternyata mengerjakan galon gelas sangat sulit dicuci. Willy mengenang dirinya pernah mengantar 200 galon kaca ke Cilegon, sekarang Provinsi Banten. Dan ternyata, air sebanyak itu malah akan digunakan buat mengisi kolam renang. 

 

Di tahun 1980, Aqua beralih galon plastik walau merelakan impor dari luar negeri. Hingga di tahun 1984, perusahaan memilih memproduksi galon plastik sendiri di Bekasi, dan merupakan satu- satunya perusahaan galon air. Persaiangan pertama datang ketika PT. Santa Rosa Indonesia pada 1984. 

 

Walau sekarang sudah banyak merek pesaing Aqua berjaya. Pada tahun 2014, Aqua memproduksi 11 miliar liter air yang merupakan merek terbesar diantara milik Danone, dimana perusahaan Prancis tersebut menguasai mayoritas saham sejak 2011.

 

 

Aqua menjadi satu- satunya produsen memenuhi kebutuhan pasar. Mereka ditunjuk menjadi penyedia air minum kelas menengah atas, baik dari rumah tangga, perkantoran dan restoran. Pada 1981, Aqua telah memiliki kemasan plastik sendiri aneka bentuk dan ukuran.


Tetapi mereka masih memakai bahan tidak ramah lingkungan PVC. Sejalannya waktu memakai bahan plastik PET. Aneka kemasan plastik dan ukuran membuat rantai distribusi lebih mudah. Plastik juga membantu Aqua menyesuaikan harga lebih baik.


Pabrik Aqua menjadi satu- satunya penyedia produksi in line. Dari pemrosesan air sampai kemasan dilakukan bersama di Mekarsari. Begitu pula mengembangkan proses isi ulang, pembersihan botol dilakukan sendiri, dan ujungnya produksi menjadi higenis.


"Dulu bukan main sulitnya. Dikasih saja orang tidak mau. Untuk apa minum air mentah," ucap Willy, menceritakan kenapa pengusaha Tirto Utomo dianggap gila.


Orang masih kepikiran prosesnya layaknya memasukan air keran. Aqua menurut mereka tinggal stel air keran ke dalam botol. Padahal banyak tantangan mulai dari menciptakan air terbaik. Memastikan kemasan terbaik dan menyampaikannya ke konsumen.


Sejarah Aqua


Dibesarkan orang tua yang pengusaha susu sapi, pedagang, dan peternak, Tirto merupakan anak biasa kelahiran Wonosobo, 8 Maret 1930, Jawa Tengah. Dalam biografi Tirto Utomo, ketika masih anak harus berangkat sekolah jauh ke Magelang atau 60 km, karena di Wonosobo tak ada SMP.


Perjalanan sekolah ditempuhnya memakai sepeda. Ketika SMA, Tirto masuk ke HBS atau setingkat SMA di jaman Hindia Belanda di Semarang kemudian Malang. Masa remajanya dihabiskan di Malang dan betemu Lisa atau Kienke (Kwee Gwat Kien), yang kelak jadi istrinya.


Tirto habiskan waktu kuliah dengan menjadi wartawan Jawa Pos. Ia dikhusukan memberitakan berita dari peradilan. Kemudian Tirto pindah ke Jakarta, dirinya bekerja buat Majalah Sin Podan dan Majalah Pantja Warna.


Tahun 1995, dia yang sudah menikah diperhentikan redaksi Mahalah Sin Po. Dia kehilangan sumber pendapatan. Maka istrinya Lisa membantu kebutuhan keluarga lewat bekerja. Lisa menjadi pengajar dan membuka katering.


Tirto lantas ikut membantu istrinya bukan bekerja. Kedaan tersebut berlangsung sampai Tirto lulus dari Universitas Indonesia. Tirto merupakan Sarjana Hukum UI. Hingga Oktober 1960, berbekal ijasah hukumnya, Tirto Utomo mendapat pekerjaan di Pertamina itu.


Kemampuan Tirto diakui sampai menjadi Deputy Head Legal and Foreign Marketing. Alhasil dia banyak bekerja keluar negeri. Berkat keluar negeri pandangnya sangat luas. Puncaknya, ketika dia memilih berhenti bekerja dan menjadi pengusaha.


Usut- punya usut bahwa Aqua bukanlah usaha tunggal. Tirto juga merupakan pemilik PT. Baja Putih dan Restoran Oasis. Namun ia nampaknya lebih bersemangat membangun Aqua. Tirto merupakan sosok murah senyum, ramah, cerdas, dan berpenampilan sederhana.


Aqua yang sukses membangun kemasan makin moncer. Mereka sampai melayani pengiriman keluar negeri. Aqua sudah ekspor sampai Singapura, Malaysia, Australia, Maldives, Fuji, Timur Tengah, dan Afrika.


Pada tahun 1998, usahanya ketat dan muncul persaingan- persaingan baru. Lisa Tirto, merupakan putri Almarhum Tirto Utomo, pemilik Aqua Golden Missisipi memilih melepaskan saham. Lisa menjual saham mayoritasnya kepada Danone pada 4 September 1998.


Ini dianggap keputusan tepat olah pengamat buat pengembangan. Mereka anggap Aqua tidak akan selamat menghadapi pesaing baru. Berkat Danone maka kualitas Aqua menjadi meningkat. Mereka sudah memiliki pengalaman menangani perusahaan AMDK.


Tahun 2000, ketika pergantian milenia, mereka mengeluarkan produk Danone- Aqua. Dan sampai sekarang perusahaan Aqua menjadi terbesar se- Indonesia. Mereka merupakan produsen air minum tertua sekaligus terbesar.


Nama Tirto Utomo mendapat penghargaan Hall of Fame Pencetus Air Minum Kemasan. Menurut survei Zenith International, bahwa Aqua menjadi produsen air minum terbesar se- Asia Pasific, dan menjadi nomor dua sedunia.

Franchise Toko Elektronik Pengusaha Tan Eliezar

Profil Pengusaha Tan Eliezer

 
 
Pernah mendengar franchise toko elektroni. Inilah kisah pengusaha Tan Eliezer menemukan kunci. Ia menemukan bahwa bisnis properti tak ada matinya. Meski kedaan ekonomi tengah tak menentu, ya properti masih akan terus diminati. 
 
Pertumbuhan properti sejalan dengan penggunaan alat- alat elektronik. Itulah apa yang tengah dibidik seorang Tan Eliezar, pengusaha sukses dibidang elektrik, anek produk elektronik. Melalui bendera usaha PT. Cakrasemesta Abadi Sejahtera, menawarkan konsep bisnis baru bisnis waralaba elektrik.
 

Rahasia Pengusaha


Dia menawarkan waralaba atau franchise aneka produk elektrik. Konsepnya sih one stop shoping, dimana ada Toserba Elektrik yang kita jalankan. Nanti franchisor, kita akan disuplai aneka kebutuhan elektrik dari pusatnya. Bedanya PT. Cakrasemesta merupakan suplier besar. 
 
Jadilah jika kita jadi bagian didalamnya kita bisa mengakomodir permintaan besar sekalipun. Praktis tinggal kita menyiapkan diri bagiamana kita untuk mempromosikan. Ternyata mengembangkan bisnis franchise toko elektronik memungkinkan.


Tan juga menjelaskan fokusnya tidak hanya meretail pada pewaralaba. Ia juga fokus memperkenalkan pada para kontraktor besar dan memberikan fasilitas suplier- kontraktor. Seperti dikutip dari profilnya di halaman ciputraentrepreneurship.com, dengan kekuatan jaringan perusahaan miliknya. 
 
Maka tidak hanya promosi ke pelanggan tapi juga menjemput bola ke para kontraktor. Fakta bahwa kebutuhan aneka produk elektrik memang tinggi. Pemenuhan kebutuhan bisa saja kita semua lakukan tanpa ribet mencari suplier. Kira- kira begitu konsep Toserba Elektrik sebenarnya. 
 
Perlu diketahui jika franchise unik satu ini tidak hanya menjual lampu loh. Adanya produk elektronik lengkap setidaknya bisa mendukung kualitas para franchisor. Sebut saja adanya produk listrik umum, lightning, perlengkapan, pompa, stabilizer USP, ganset bahkan CCTV!

Tan memang menyebutnya toko serba ada dan memang itulah adanya. Toko kelontong elektronik yang terus mendapatkan suport, menjadikan usaha kita lengkap. Dia kemudian menjelaskan tak hanya produk lokal tapi juga produk impor. 
 
Toserba Elektrik menjual perangkat dari China, Jerman, Italia, Amerika. Bahkan, kata Tan, pembeli ditempat kita bisa memesan khusus produk dari mana. Toserba Elektrik akan menawarkan apa saja termasuk instalasi litrik dan perakitan panel listrik.

Kisah awalnya bisnis ini dikelalo Tan pada 1995. Sebuah perusahaan dagang, dimana dijalannya ia sadar ada satu usaha yang berumur panjang, yaitu bisnis elektrik. Tentu dibanding dengan bisnis kuliner dimana banyak kuliner baru bermunculan. 
 
Dan beruntungnya Tan punya berbackground karyawan perusahaan suplier elektronik. Dia mepunyai banyak relasi kontraktor maupun penyalur elektronik lain. Ia pun tak segan berbagai bagaimana sukses bisnisnya. 
 
Dia menyebut hal pertama yang dilakukannya ialah membangun kepercayaan dan brand image. Semuanya, Tan melanjutkan, tidak hanya kepada para kontraktor tapi juga mitranya. Dia juga harus membangun kepercayaan diri dan brand itu dalam dirinya sendiri. 
 
Dia juga memberikan beragam kemudahan, tentu itu semua agar mereka percaya kepadanya.

"Mulai dari soal kemudahan pembayaran, hingga soal kwalitas barang elektronik yang saya suplai bagi mitra atau konsumen saya," ungkapnya.

Program franchise dimulai tepat di 1 Februari 2011. Tan mengaku optimis tentang usaha franchise unik ini. Ia yakin Toserba Elektrik akan dilirik orang. Adanya tiga paket investasi yang perlu diketahui menurutnya. Yaitu pertama, dia menawarkan paket silver investasinya Rp 200 juta. 
 
Kedua, paket Gold total investasi Rp 250 juta; dan ketiga, yang terakhir paket Diamond investasinya Rp 350 juta. Selain ketiga paket tersebut, Toserba Elektronik juga coba menawarkan bentuk investasi yang terbaru yaitu bernilai Rp 23 juta.

Toserba Elektronik merangkul calon- calon pebisnis baru yang tertarik. Dan hebatnya, dengan berani ia dan Toserba Elektronik miliknya menjanjikan mitra bisa balik modal selama dua bulan. Nah, disinilah ada kelebihan, dimana Toserba Elektrik akan memperkenalkan mitra dengan pihak kotrakator. 
 
Itunganya, misalnya, ada 25 kotraktor mekanikal, dan juga ada 25 kotraktor sipil. Ia menjelaskan satu kotraktor bisa saja belanja 5 juta perbulan, itu belum ditambah penjualan retailnya. 
 
"Jika setiap bulan satu kontraktor belanja Rp 5 juta saja, itu ditambah dengan penjualan retail, kami bisa perkirakan keuntungan yang bisa didapat Rp 280 juta. 
 
"Itupun jika kita pakai perkiraan pembelian kontraktor tidak besar, karena biasanya satu kontraktor saja bisa belanja hingga puluhan juta rupiah," ujar Tan Eliezar lagi.

Sukses franchise unik Toserba Elektrik sukses dari Jakarta, Riau, hingga ke Papua. Targetnya menjadikan bisnisnya sukses merangkul 100 orang mitra. Sebagai seorang entrepreneur, Tan Eliezar sadar, bisnisnya ini tergolong baru di Indonesia. 
 
Namun jika dilihat punya nilai dimana uniknya itu bisa dijadikan franchise. Tan sangat optimis bisa membantu banyak pebisnis. Dia berharap usahanya kian berkembang dan bisa dijadikan pilihan bisnis jangka panjang.

Kisah Korban Tsunami Bangkit Wirausaha Roti

Profil Pengusaha Nelly Nurila

 
korbantsunami.png
 
Kisah korban tsunami ini bangkit wirausaha roti. Nelly memang pengusaha kecil tangguh. Kisahnya menghadapi terjangan Tsunami Aceh patut diapresiasi. Dia tak punya modal apapun. Pengusaha butuh modal besar katanya. 
 
Tapi, Nelly Nurila mampu bangkit hanya bermodal satu mixer. Dia dan mixer itu punya kisah. Kisah pengusaha kecil asal Aceh yang sukses melalui bantuan LSM.

Sepuluh tahun silam, Nelly nyaris menjual satu- satunya mixer besi miliknya selepas tsunami menerjang. Mixer berharga itu menjadi teman, keluarga, dan penolong sekaligus. Namun, dia membataklan niatnya untuk menjual mixer itu. 
 

Korban Tsunami Sukses

 
Sang suami meyakinkan Nelly mixer kecil itu bisa berarti kelak. Mixer itu akan digunakan sebagai bukti untuk mendapatkan bantuan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Ucapan sang suamia terbukti benar. 
 
Waktu itu ada tim dari Bogasari, yang kemudian membantu usaha roti dan kuenya bangkit. Nelly menunjukan mixer itu dan jadilah ia salah satu yang menerima program bantuan.
 
Kisah pun berlanjut, dia mendapatkan bantua dari sejumlah LSM lain pasca tsunami, seperti dari Terres Des Hommes dan CARE. Melalui mereka Nelly mengumpulkan modal membeli alat lain, yaitu oven dan loyang.

Tahun 2007, akhirnya, Nelly berhasil mengumpulkan uang untuk membeli tanah 400 meter. Dan, dibangunlah satu pabrik kecil disana. Awalnya cuma 6 karyawan kala itu kenangnya. Enam pegawai kemudian berubah jadi 70 orang dan menghasilkan 60.000 roti per- hari. 
 
Usaha yang kemudian dikenal dengan nama pabrik roti Nusa Indah. Memiliki pabrik 1.000 meter- persegi setelah sepuluh tahun tsunami. Wirausaha roti bernama Roti Nusa Indah, adalah sebuah pabrik roti yang berproduksi di wilayah Gampong Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Aceh. 
 
Dan, pemiliknya pengusaha bernama Nelly Nurila, perempuan kelahiran 39 tahun silam suka bangkit pasca tsunami memporak-porandakan Aceh, 26 Desember 2004 silam. Dia berkisah, sejak tahun 2001, ia dan suaminya memang memang sudah membuka usaha roti. 
 
Hingga tahun 2003, total ada empat orang karyawan dan berkembang walau keterbatasan. Rotinya kemudian pasarkan di sekitar kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh.
 
 
Namun nasib berkata lain. Kala itu, ketika terjadi tsunami, semua hartanya hilang cuma ada satu mixer itu. Untunglah dia, sang suami dan anaknya selamat, dan mere ereka pun harus tinggal di tenda untuk waktu yang cukup lama. 
 
Setelah lima bulan tsunami dia dan suaminya, Muchlis Ismail (43), mencoba bangkit dengan berjualan nasi Lhoknga Aceh. Ia menjual nasi untuk dijadikan modal membuka usaha roti.

Uang bantuan dari LSM ditambah uang berjualan nasi dikumpulkan. Pada Oktober 2005, Nelly sudah mulai membuat roti sendiri. Saat itu, ia berkisah hanya membuat 2 kilogram tepung. Segalanya serba terbatas tak terbatas pada perlatan tapi juga bahan. 
 
Adanya Bogasari membantunya dengan kebutuhan akan bahan baku roti. Nelly sendiri mengaku tak begitu handal membuat kue, meski bisa.

Dia berkisah di 2001, belajar dari program memasak TVRI. Semuanya dilakukan secara otodidak. Awal- awal tentu ia membuat rotinya tak berbentuk tapi akhirnya bisa. Dan pristiwa tsunami itu datang ketika ia tengah berusaha mandiri. 
 
Awalnya dibagikan gratis ke tetangga, ketika respon positif, ia barulah menjual roti miliknya. Meski baru belajar membuat roti barat, dia sudah dikenal pandai membuat roti basah sekitar 14 tahun. Tapi kisah indah tersebut tak berlaku pada pengusaha lain.

Sebut saja kisah Bakhtiar, seorang penjahit, tidak mendapatkan bantuan apapun! Dia dulu dikenal pernah membuka usaha jahit dimana pendapatannya 70.000 per- hari. Bantuan rehabilitasi yang berupa uang tunai diyakini tidak begitu membantu. 
 
Khususnya untuk Bakhtiar dan beberapa orang lain. Dalam jangka pendek mungkin baik, namun tak akan membantu untuk jangka panjang. Menjadi pengusaha itu berarti akan selalu  fokus pada usahanya dengan segala kreatifitas.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba