Kisah Korban Tsunami Bangkit Wirausaha Roti

Profil Pengusaha Nelly Nurila

 
korbantsunami.png
 
Kisah korban tsunami ini bangkit wirausaha roti. Nelly memang pengusaha kecil tangguh. Kisahnya menghadapi terjangan Tsunami Aceh patut diapresiasi. Dia tak punya modal apapun. Pengusaha butuh modal besar katanya. 
 
Tapi, Nelly Nurila mampu bangkit hanya bermodal satu mixer. Dia dan mixer itu punya kisah. Kisah pengusaha kecil asal Aceh yang sukses melalui bantuan LSM.

Sepuluh tahun silam, Nelly nyaris menjual satu- satunya mixer besi miliknya selepas tsunami menerjang. Mixer berharga itu menjadi teman, keluarga, dan penolong sekaligus. Namun, dia membataklan niatnya untuk menjual mixer itu. 
 

Korban Tsunami Sukses

 
Sang suami meyakinkan Nelly mixer kecil itu bisa berarti kelak. Mixer itu akan digunakan sebagai bukti untuk mendapatkan bantuan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Ucapan sang suamia terbukti benar. 
 
Waktu itu ada tim dari Bogasari, yang kemudian membantu usaha roti dan kuenya bangkit. Nelly menunjukan mixer itu dan jadilah ia salah satu yang menerima program bantuan.
 
Kisah pun berlanjut, dia mendapatkan bantua dari sejumlah LSM lain pasca tsunami, seperti dari Terres Des Hommes dan CARE. Melalui mereka Nelly mengumpulkan modal membeli alat lain, yaitu oven dan loyang.

Tahun 2007, akhirnya, Nelly berhasil mengumpulkan uang untuk membeli tanah 400 meter. Dan, dibangunlah satu pabrik kecil disana. Awalnya cuma 6 karyawan kala itu kenangnya. Enam pegawai kemudian berubah jadi 70 orang dan menghasilkan 60.000 roti per- hari. 
 
Usaha yang kemudian dikenal dengan nama pabrik roti Nusa Indah. Memiliki pabrik 1.000 meter- persegi setelah sepuluh tahun tsunami. Wirausaha roti bernama Roti Nusa Indah, adalah sebuah pabrik roti yang berproduksi di wilayah Gampong Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Aceh. 
 
Dan, pemiliknya pengusaha bernama Nelly Nurila, perempuan kelahiran 39 tahun silam suka bangkit pasca tsunami memporak-porandakan Aceh, 26 Desember 2004 silam. Dia berkisah, sejak tahun 2001, ia dan suaminya memang memang sudah membuka usaha roti. 
 
Hingga tahun 2003, total ada empat orang karyawan dan berkembang walau keterbatasan. Rotinya kemudian pasarkan di sekitar kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh.
 
 
Namun nasib berkata lain. Kala itu, ketika terjadi tsunami, semua hartanya hilang cuma ada satu mixer itu. Untunglah dia, sang suami dan anaknya selamat, dan mere ereka pun harus tinggal di tenda untuk waktu yang cukup lama. 
 
Setelah lima bulan tsunami dia dan suaminya, Muchlis Ismail (43), mencoba bangkit dengan berjualan nasi Lhoknga Aceh. Ia menjual nasi untuk dijadikan modal membuka usaha roti.

Uang bantuan dari LSM ditambah uang berjualan nasi dikumpulkan. Pada Oktober 2005, Nelly sudah mulai membuat roti sendiri. Saat itu, ia berkisah hanya membuat 2 kilogram tepung. Segalanya serba terbatas tak terbatas pada perlatan tapi juga bahan. 
 
Adanya Bogasari membantunya dengan kebutuhan akan bahan baku roti. Nelly sendiri mengaku tak begitu handal membuat kue, meski bisa.

Dia berkisah di 2001, belajar dari program memasak TVRI. Semuanya dilakukan secara otodidak. Awal- awal tentu ia membuat rotinya tak berbentuk tapi akhirnya bisa. Dan pristiwa tsunami itu datang ketika ia tengah berusaha mandiri. 
 
Awalnya dibagikan gratis ke tetangga, ketika respon positif, ia barulah menjual roti miliknya. Meski baru belajar membuat roti barat, dia sudah dikenal pandai membuat roti basah sekitar 14 tahun. Tapi kisah indah tersebut tak berlaku pada pengusaha lain.

Sebut saja kisah Bakhtiar, seorang penjahit, tidak mendapatkan bantuan apapun! Dia dulu dikenal pernah membuka usaha jahit dimana pendapatannya 70.000 per- hari. Bantuan rehabilitasi yang berupa uang tunai diyakini tidak begitu membantu. 
 
Khususnya untuk Bakhtiar dan beberapa orang lain. Dalam jangka pendek mungkin baik, namun tak akan membantu untuk jangka panjang. Menjadi pengusaha itu berarti akan selalu  fokus pada usahanya dengan segala kreatifitas.

Membuka Usaha Laundry Kiloan di Kampung

Profil Pengusaha Ismail Satriyanto

 
usahalaundry.png
 
Bayangkan membuka usaha laundry kiloann di kampung. Kinibisnis laundry tak hanya menyentuh kota- kota besar. Itulah kenapa kamu perlu berpikir untuk memulai sati usaha ini. Tidak hanya ada di Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau Surabaya, kota kecil seperti Garut, Jawa Barat ada bisnis laundry. 
 
Sebut saja usaha laundry bernama Qu Cuci, yang berbisnis di kota kecil, yang letaknya sekitar 64 km dari Kota Bandung. Jasa laundry kiloan Qu Cuci menjadi pionir Kota Dodol tersebut. Pengusaha itu namanya Ismail Satriyanto, berkisah bahwa Qu Cuci saat itu sangatlah susah.
 

Merintis Usaha Laundry

 
Memulai semuanya dari nol Ismail bersusah payah untuk meyakinkan investor. Dia lantas berkata, menirukan gaya bicara si investor itu, "Mohon maaf Pak Ismail, Garut belum baik untuk berinvestasi, karena usaha- usaha di Garut belum baik." 
 
Tapi nampaknya itu justru menjadi satu motivasi tersendiri bagi Ismail. Kebetulan dia bertemu sosok Ir. Rahman, salah satu pengusaha laundry asal Bandung. Dia akhirnya bisa membangun usaha sendiri. Bisnis yang kemudian diberi nama Qu Cuci. 
 
Kisahnya berlanjut, bisnis yang telah didirikan pada 18 Juli 2006 ini, cuma bermodal mesin cuci rumah seadanya. Adapula motor bekas yang baru lunas, ditambah tiga orang karyawan, semuanya dari nol. Dan, begitu bisnis Qu Cuci dibuka, hasilnya?

Usahanya tak laku. Alias sepi pas hari pertama dibuka. Tak patas semangat, Ismail percaya semua pasti ada jalan keluarnya. Sedikit informasi Qu Cuci berasal dari dua kata "Quality" dan "Utama". Yang artinya bahwa ia sebagai pengusaha laundry harus mengedepankan kualitas.

Pionir usaha laundry asal Garut ini begitu beratnya untuk mempromosikan bisnisnya. Sang pemilik selalu terus mencari cara untuk bisa mempromosikan brand -nya. Semua guna menarik perhatian masyarakat agar ikut mencoba mencucui ditempatnya. 
 
Salah satu yang unik ketika Ismail menggunakan isu politik ke dalam kampanye bisnis. Saat ramai pemilihan bupati, ia ikut menyebarkan foto dirinya tengah bergaya sebagai calon bupati.

Foto- foto tersebut disebarnya, ditempel disetiap penjuru kota dan kecamatan. Dalam fotonya ada tagline yang mengocok perut, "Pendukung Politik Bersih". Namun, jika kamu perhatikan lebih dalam, maka semua foto tersebut adalah iklan bisnis miliknya yaitu Qu Cuci. 
 
Modalnya cuma kertas fotokopian yang lantas diberi tulisan berbau politik. Tidak hanya menjual brand -nya.  Ismail menambahkan sindiran- sindiran intelektual serta mencoba memberikan solusi dengan caranya sendiri. 
 
Tentu ia telah mempertimbakan cara apa bisnisnya bisa dimajukan. Jelas pertama apa yang tengah ia jadikan target merupakan kaum intelek dan orang- orang sukses. Berang tentu mereka yang jadi targetnya. Kalau bukan mereka, siapa mau repot- repot mencuci di laundry begitu kiranya. 
 
Dia menyebut pasarnya kala itu tengah membutuhkan hiburan kritis. Menurutnya lagi cara tersebut disebutnya merupakan cara terunik. Pas momentumnya serta memang sebagai pionir perlu agar diperhatikan banyak orang. 
 
Dan hasilnya, Qu Cuci memiliki branding yang kuat dari segala usahanya diatas. Sampai- samapai ketika Ismail dipanggil untuk menghadiri suatu acara, ada saja orang yang meneriaki taglinenya. "Hidup pendukung politik bersih," begiut kiranya teriakan itu berkumandang.

Jadilah jika masyarakat Garut mengenal politik bersih maka itulah Qu Cuci. Ismail sambil bercanda lantas berka, "Beberapa orang baik di perkotaan atau di kecamatan- kecamatan berdatangan meminta saya mencalonkan diri menjadi Bupati Garut."
 

Strategi Bisnis

 
Loh, bagaimana dengan bisnis Qu Cuci? Apakah membuka usaha laundry kiloan di kampung untung?

Cara branding

Melalui cara tersebut lambat laun usaha miliknya muali dikenal. Dia lantas membuat rencana agar usahanya itu semakin mapan. Saat itu, ia menjelaskan ada 4 strategi yaitu:

1. Memperkuat finansial.

Dia menyebut keuangan lah leadernya, dimana jalannya perusahaan bukan oleh dia sebagai pemilik. Dia menjalaskan semua tentang keuangan lah yang menjadi penentu. Keputusan akan itu ia berani serahkan kepada karyawannya. Tentu dengan pengawasannya. 
 
Ukuran kinerja ia letakan pada bagian bagaimana mempercepat pendapatan bruto atau kotor. Ini cara agar mempercepat pendapatan dengan memaksimalkan aset- aset miliknya.

2. Perkuat pelanggan

Ismail menyebut pelanggan sebagai ujung tombak. Pada bagian ini, karyawan penjualan harus bisa merubah satu jadi dua, dua jadi tiga dan seterusnya. Mereka harus melayani secara memuaskan. Bagian penjualan ini ia pastikan harus membangun opini melalui berbagai cara. 
 
Mereka harus menempelkan leflet hingga 8.000 per- bulan di dinding- dinding. Begitu pula di mobil- mobil. Melalui leflet tersebut Qu Cuci menaruh tagline miliknya "Pendukung Politik Bersih". Adapula kendaraan dengan leflet yang akan berkeliling di Kota Garut.

3. Perkuat produksi

Pada bagian ini kecepatan dan kebersihan cucian harus memuaskan pelanggan. Paket yang ditawarkan tidak berbeda dengan laundry kiloan lain, yaitu: pencucian ekspres dan biasa, adapula Qu Cuci yang menawarkan program pengantaran barang. 
 
Perkilonya setiap cucian dikenakan biaya 7000 plus jasa setrika. Adapula ia menawarkan jasa membersihkan karpet berbiaya 5000 per- meter. Serta adapula untuk jasa bed cover atau selimut seharga 8000 per- satuan.

4. Peketat standarisasi karyawan

Ismail akan melakukan seleksi dan pelatihan salama 3 bulan. Pelatihan itu dilakukan satu kali dalam seminggu yang berupa rapat kordinasi. Setiap rabu akan ada rapat kordinasi setiap staf pimpinan. Setiap jum'at nanti ada kordinasi rapat staf bagian produksi dan admin. Lalu setiap seminggu sekali ada rapat untuk staf bagian pemasaran dan anggotanya untuk program promosi.

Ismail tak segan mengajak mereka berekreasi jika omzetnya bertambah.

Setelah bersabar dan menggunakan cara seunik mungkin untuk berpromosi, akhirnya, Ismail mereguk kata sukses itu sendiri. 
 
Dia lah pengusaha sukses bisnis laundry, menghasilkan 10 cabang yang telah tersebar di Kabupaten Garut, antaranya ada yang di  Ciledug, Kerkop, Pasawahan, Leles, Kadungora, Karangpawitan, Cibatu, Banyuresmi, Bayongbong dan di Cikajang. 
 
Dari kesemua cabangnya plus pusatnya yang ada di Jalan Purnawarman No.37, Ismail mengantongi omzet 40- 50 juta.

Pengusaha Ina Cookies Biografi Ina Wiyandini

Biografi Pengusaha Ina Wiyandini

 

inacookies.png
 
Pengusaha Ina Cookies bukan usaha musiman.  Biografi Ina Wiyandini, wanita berhijab asal Bojong Koneng Atas, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini, memang dikenal akan sifatnya yang ramah. Senang berbagi kisah suksesnya kepada orang banyak. 
 
Ditemui di rumahnya, Hj. Rr. Ina Wiyandini, bersemangat ketika menemui rombongan asal Malaysia di tempat usahanya. Segala pengalaman dia beberkan tanpa ditutupi.

Mulai begaimana wanita ini memulai bisnis dari angka nol. Sempai pada kiat menghadapi persoalan bisnis. Dia adalah pemilik kue kering Ina Cookies. Sebuah perusahaan kue keringa terkenal. Pengusaha wanita kelahiran Jakarta, 24 Juli 1963, sudahlah mendapatkan banyak penghargaan.
 

Bisnis Musiman

 
Pada tahun 1992, Ina sudahlah memulai kerajaan bisnisnya dengan Ina Cookies. Pengalaman jatuh bangun bisnis telah dilaluinya, dari usaha berjualan jahe gajah, usaha perkebunan vanili, hingga jual beli rumah.

Namun, pada bisnis kulinerlah, usahanya kini berkembang dan bercabang tidak hanya di bisnis kue kering. Ia memang memiliki banyak energi tak terbatas untuk berbisnis. Layaknya pengusaha lain, ia selalu berinovasi dengan bisnis miliknya. 
 
Ina mampu menciptakan produk dari tahu, tempe, rosella, green tea, jamur, tepung ubi, singkong, tapung ganyong, dan tepung pisang. Kesemuanya dapat diolahnya jadi aneka kue kering. Menakjubkan.

Ina mampu mengkreasikan olahan murah meriah jadi kaya rasa. Semuanya Ina lakukan guna membantu para petani. Usahanya berbasis bahan pertanian lokal. Dia menyebut bahwasanya bangsa Indonesia itu punya masalah. 
 
Masalahnya ialah pada bahan pangan, dimana para petani selalu mengeluh. Suatu hari Ina ketika jadi pembicara di sebuah seminar, ada seorang ibu petani datang. Ia lantas mengeluh kepada Ina tentang harga tepung ubi singkong. Ia lantas membantunya membuat produk kue enak.

Eh, ternyata kue itu laris- manis hingga banyak ibu tani berdatangan. Dari pristiwa diatas produk kue Ina menjadi semacam problem solving. Tak hanya mengambil untung, Ina tetap foku bagaimana agar produk lokal berjaya. Khususnya apa yang dihasilkan para petani. 
 
Oleh karena Kepedulian itulah ia mendapatkan penghargaan dari Menteri Perdagangan RI saat itu. Ibu Menteri Mari Elka Pangestu lantas memberinya penghargaan Pangan Award 2010. Ina dianggap mengembalikan kejayaan para petani melalui aneka kue kering buatannya.

Tangan Ina yang mampu mengolah anek kue kering. Dari usahanya tersebut mampu memberikan optimis para petani. Produk olahan yang berkualitas miliknya menghasilkan nilai ekonomis tinggi. 
 
Selain itu, ia juga tercatat mendapatkan penghargaan Best Women Entrepreneur 2008 dari Ikatan Pembauran dan Pengusaha Indonesia (IPPI) yang diberikan langsung oleh istri Wakil Presiden Indonesia saat itu, Hj. Mufidah Jusuf Kalla, dihadapan ribuan pengusaha lain.

Penghargaan diatas ditujukan bagi pengusaha yang sudah berbisnis lebih dari 10 tahun. Usahanya itu haruslah dimulai dari nol, memiliki lebih dari 100 karyawan, kreatif dan berinovasi tinggi, memiliki kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat baik. 
 
Serta barulah sering menjadi pembicara di berbagai seminar. Itu semuanya ada pada sosok Ina Wiyandini. "Wah saya waktu itu tidak percaya. Perasaan saya kan biasa-biasa saja," Ina benar- benar tak percaya.

Penghargaan lainnya pun menyusul pengusaha wanita ini. Seperti salah satunya penghargaan dari MarkPluc. Inc, Herman Kartajaya, dengan Marketers Women 2010. Tiga penghargaan itu pun ternyata masih tidaklah cukup. 
 
Ada penghargaan lain seperti penghargaan Pretty Women dari ASTRA Internasional, Dewi Sartika Muda 2009, Pengusaha Kreatif IWAPI 2009, Perempuan Pengusaha Berprestasi IWAPI 2009, IWAPI Wanita Pemgusaha Kreatif 2010 dan lain- lain.

Dia pernah bangkrut saat mengelola perkebunan jahe gajah. Ina juga pernah bangkrut usaha manisan jahe yang sempat diekspor hingga Jepang. Pengusaha wanita ini menyebut usaha kue kering bukanlah jadi cita- citanya. Bahkan menjadi pengusaha bukanlah cita- citanya, apapun bisnisnya. 
 
Dia memilih menjadi dokter sebagaimana ayahnya sebagai cita- citanya. Tapi, ternyata takdir berkata lain, dia memilih jadi pegawai lalu menjadi pengusaha.

Pengusaha Ina Cookies


Lulus dari Jurusan Bahasa Jepang di Akademi Bahasa Asing, Ina muda diterima menjadi sekertaris bagian penjualan Astra di Bandung. Disinilah mungkin pemahaman akan marketing itu tumbuh. Bertahan cuma dua tahun, Ina meninggalkan Astra untuk menikah. 
 
Dia menikah dengan Rakhmat Basuki, pria yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum dan ditugaskan ke Aceh Tenggara. Suatu ketika, di tahun 1989, suaminya pensiun dini dari Dinas PU dan memboyongnya ke Cirebon. 
 
Mereka lalu bersama membuka bisnis perkebunan jahe gajah.Idenya datang dari kakak ipar Ina sendiri. Awalnya, ia sukses ekspor hingga Jepang, dan memiliki 500 orang pegawai. Sayangnya, batu sandungan besar menghadang langkah bisnis jahenya. 
 
Yaitu ketika adanya pristiwa panen raya di Thailand dimana harga jahenya jatuh murah. Putri dari pasangan Wiyono Kartodirekso (almarhum) dan Toeti Ferliani akhirnya bangkrut.

Seperti sudah diduga, pembeli asal Jepang itu lebih memilih impor jahe dari Negeri Gajah Putih tersebut. Padahal, ia lantas menjelaskan lagi, perkebunannya sudah menanamkan modal 14 hektar kebun jahe di kawasan Plumbon. Dia memang belum lama berbisnis ekspor. 
 
Semua modal telah dipertaruhkan di bisnis perkebunan jahe, yang kemudian tak laku. Ironisnya disaat yang sama Ina harus melahirkan anak kedua. Bahkan untuk persalinan saja tidak ada uang lagi.

Pertolongan Tuhan datang ketika suaminya diterima kerja di IPTN. Sementara itu Ina belajar membuat lima kue kering yang laku di pasaran. Yaitu kue putri salju, nastar, sagu, cokelat mede, dan corn flake. Sembari mempelajarinya, ia mencoba memasarkan kuenya dari pintu ke pintu. 
 
Dia mulai menjualnya ke para tetangga, teman arisan dan pengajian. Waktu itu ia masih menjualkan kue- kue milik kakaknya karena dia belum bisa membuat kue sendiri. Kue buatan kakaknya yang seharga Rp.25.000 dijualnya Rp.35.000/toples. 
 
Hasilnya lumayan dimana setiap hari setidaknya laku enam toples. Kala itu Ina belum membuat kue sendiri. Meski sering mendapat cemooh seorang eksportir jahe sekarang berjualan kue kering, Ina tetap berlalu. 
 
Baginya, usaha dari keringatnya sendiri itu sangatlah menyenangkan meski untungnya kecil. Dia pun disarankan sang kakak ipar mulai memproduksi kue sendiri. Semuanya agar margin untungnya lebih besar. Benar saja, dengan menjual produk sendiri, hasil keuntungan Ina bisa separuh harga jual.

Bisnis rumahan


Ina yang menuruti saran kakanya mulai membuat aneka kue kering. Dimulai dari membuat enam toples kue per- harinya. Respon pasar ternyata baik, Ina bahkan bisa merekrut lima orang karyawan. Perkembangan usahanya terus lah meningkat. 
 
Hingga, Ina memiliki total 50 orang pegawai dimana pasarnya kelas menengah atas. Bisnis kue kering yang sudah dimulai sejak 1992 mampu menjual kue biasa seharga Rp.15.000 jadi Rp.25.000.

Semua berkat branding dan kualitas kue kering yang terjaga. Sistem pembelian menggunakan sistem beli- putus. Maksudnya agar pembeli setelah membeli selesai tak ada kue kembali. Ia beralasan karena untungnya pun sedikit. 
 
Tapi dari sini, karena kue buatannya enak, kue itu jutru diburu ulang untuk dinikmati. Bahkan mulai menyebar dari mulut ke mulut. Kuenya terjuang hingga ke luar Cirebon, seperti Tasikmalaya.

Wanita yang sudah hobi memasak sejak SD ini semakin dicari oleh para penikmat kue. Semuanya cuma melalui promosi dari mulut ke mulut. Setelah pindah ke Bandung, Ina semakin bertekat agar bisnisnya semakin besar. 
 
Tahun 1994, bisnis kuenya dilanjutkan dengan memboyong tiga karyawan inti dari Cirebon. Sang suami lantas memilih keluar dari IPTN dimana pesangonnya digunakan untuk modal Ina. Semuanya sudah dipikirkan matang- matang oleh anak kedua dari lima bersaudara ini.

Hasilnya, ternyata diluar dugaan, bisnis rumahannya berkembang sangat pesat bahkan menambah 100 orang karyawan. Tahun 1994, total karyawannya mencapai 500 orang dimana 150 karyawan inti. 
 
Maksudnya dari 150 orang, sisanya diperuntukan jika ada order yang tak bisa ditangani sendiri. Kebanyakan karyawan didatangkan dari kampunya dimana sisanya dari warga sekitar. Pesanan kue terbanyak jika menyambut momen tertentu.

Tapi jangan salah sangka, dihari biasa juga banyak permintaan. Khusus dihari Lebaran, Natal, Tahun Baru, Imlek dan Valentine’s Day, produksi kue keringnya bisa mencapai 21 ribu lusin per hari. Padahal menurutnya di hari biasa cuma kurang lebih lima lusin (sekitar 20 resep). 
 
Sebagai wujud syukurnya maka Ina pun memberangkatkan umroh karyawan terbaiknya. Ada empat faktor yang menjadikan kue keringnya laku keras disegala musim.

Ina menjelaskan empat faktor itu: pertama, kehalalan produknya. Kedua, adanya kualitas bahan dengan standarisasi. Ketiga, bagaimana penyimpanan. Kue dipastikan tetap terjaga kualitasnya saat penyimpanan. 
 
Keempat, harus jeli pada apa yang ada di sekitar kita. Nah, yang keempat inilah yang jadi faktor utama. Ina Cookies selalu punya inovasi dalam resep kuenya. Dia bercerita jika di satu daerah ada produk terkenal bisa dibuatkan kue keringnya.

Misalnya, ada daerah yang dikenal dengan  peuyeum (tape singkong), akhirnya dia pun membuat kue dari peuyeum. Dengan cara begini, Ina Cookies bisa mengumpulkan 114 macam kue. Ini sesuai dengan slogan perusahaan kecilnya "The Most Creative Cookies". 
 
Bagaimana bisa sebanyak itu resep Ina Cookies. Kami menyadari ialah sang pemilik selalu belajar dan berkreasi. Ia pernah bercerita mendapatkan kesempatan menimba ilmu gratis ke berbagai negara. Pengalaman itu digunakannya untuk belajar bikin kue.

Sebuah brand keju langganan lah yang mendorongnya. Dia bisa studi gratis dari Taiwan, Filipina, Cina, Singapura, Malaysia dan Jepang. Dalam segi kemasan, Ina Cookies juga mengandalkan keunika. Selain rasa sudah ditanggung sedap, bisnis rumahan ini menggunakan aneka kemasan tidak umum. 
 
Ada kemasan daur ulang yang terbuat dari kemasan daur ulang mie instan, bungkus kopi dirajut, atau plastik bekas coklat. Sejak 2007, limbah plastik dari Ina Cookies dimanfaatkan sebagai aneka kerjinan tangan.

Selain dijadikan wadah roti, ada yang dijadikan tas cantik, tempat pensil, sajadah, celemek dan sandal. Bahkan ada produk aneka topi unik dari jerami, yang kemudian mencuri perhatian pembeli asal Belanda dan Jerman. Dari sekedar cuma daur ulang, Ina Cookies bisa membuat bisnis lain. 
 
Banyak agen berminat memasarkan Ina Cookies. Alasanya karena diatas: produk berkualitas dari bahan- bahan unggulan, aneka kue unik, dan kemampuan Ina Cookies membuat aneka kerajinan.

Total sudah ada ratusan agen dimana jumlahnya berfariasi tiap kota. Di Jakarta sendiri, ada 150 agen dimana menjadikan Ina Cookies pamain besar bisnis kue kering Jakarta. Tamy Bambang, salah satu agen dari Bintaro, mengaku berhasil menjual sekitar 5.000 lusin saat Lebaran.
 
Menurutnya kue yang laris kue biasa seperti putri salju, nastar, sagu keju serta cheese kress.

"Tahun pertama saya jadi agen di Kemang Pratama Bekasi menjual 500 lusin dan tahun kedua saat pindah ke Bintaro bisa memasarkan 1.500 lusin," ucap Tamy yang menjadi agen sejak 1998.

Ribuan Agen Reseller


Mula- mula Ina menjelaskan agennya di Bandung ada 20 titik. Suatu hari di tahun 2009, ketika ia sedang menjadi pembicara tentang kisah sukses Ina Cookies dihadapan 1.000 ibu- ibu pengajian. Tak disangka dari sana, para ibu- ibu meminta menjadi agen kesuksesan Ina Cookies. 
 
Semua dilakukannya tanpa memaksa atau tanpa iming- iming untung. Untuk agen, Ina memilih fleksibel, terlihat dari ada dua cara pembayaran yaitu beli- putus atau beli dapat barang, down payment untuk pembelian besar, dimana bayar 50% dulu. 
 
Walaupun sukses ternyata bisnis Ina Cookies juga punya masalah loh. Diawal sudah ada kendala modal awal. Seperti dikisahkan diatas Ina sampai menggunakan uang suaminya. Itupun masih kurang, dimana butuh modal hingga 200 juta untuk pengembangan.

Tepatnya itu di tahun 1995, dimana Ina Cookies mendapatkan banyak order hingga butuh ratusan juta. Alhasil, ia meminta pinjaman ke bank, dimana cuma 75 juta disanggupi. Sisanya, ya, ia harus cari dari sanak famili. Semua karena bank belum percaya. 
 
Pas Bank mulai percaya akan bisnisnya, malah giliran masalah dari pemasok bahan baku kontinu. Umpamanya ada permintaan kue banyak, para petani justru tak menyanggupi untuk memasok. Tapi semuanya itu dilalui dengan penuh usaha tanpa kenal menyerah.

Di Kota Kembang Bandung, tercatat lokasi agennya tersebar di gerai D’Risole, Bandung Supermall, Branded Factory Outlet, Kayoe Manis, Rumah Brownies Kukus, Kedaung Showroom, Maskumambang, Citarum 31 serta Rumah Baju Anak. 
 
Sukses berbisnis kue, kini, Ina Wiyandini juga merambah usaha lain yang masih dibidang kuliner. Salah satu usaha lainnya yaitu Cafe De Tuik, berlokasi di kampung Haur Manggung, dimana jaraknya tidak jauh dari Ina Cookies.

Kafe yang baru dirikan tahun 2004, dimana merupakan restoran keluarga khas Sunda. Selain itu, disana, juga ada berbagai sarana rekreasi seperti camping ground dan super kids camp. Tak berhenti di tahun 2007, ada bisnis daur ulang limbah plastik dan Ran Toy’s dari limbah kayu. 
 
Untuk usaha daur ulang ini, bisnis Ina menghasilkan aneka barang seperti tas, dompet, tempat HP, baju boneka, tempat pensil, sajadah, celemek, sandal dan aneka kemasan kue. 
 
Sedangkan bisnis Ran Toy’s akan menghasilkan beragam kerajinan tangan seperti aneka mobil- mobilan, motor, perahu, dan lain-lain yang bisa dicopot dan dibentuk ulang. Setahun kemudain Ina masuk ke bisnis kue pastry dengan nama Inara Pastry and Bakery. 
 
Bisnisnya kali ini fokus pada snack box baik untuk pernikahan, seminar dan lain- lain. Ada pula pusat pelatihan motivasi dinamai Merhid (Menggapai Ridho Ilahi), bisnis bandeng keju, dan kursus menghias kue.

Belum lama ini, ia telah membuka kafe kue yang diberi nama Mr. Komot kafe coklat dan keju.

"Kita harus menjadi manusia yang bisa berbagi kepada lingkungan sekitar sebelum kepada yang jauh. Percuma kita maju tapi lingkungan kita masih terpuruk," jelasnya.

Untuk regenerasi bisnis nampaknya tak terlalu dipikirkan Ina. Ketiga anaknya memang sudah memiliki kecendrungan membantu bisnis keluarga. Putra sulungnya, Afiandini Nur Sadrina, telah mulai membantu mengurus bisnis kue. 
 
Afiandini ikut aktif membantu membuat resep- resep baru. Anak keduanya, Voula Nur Rakhmaniar, baru saja tamat sekolah dan ikut mengelola kafe miliknya. Sedangkan anak ketiga, Fakhri Saefullah Nur Rahman, masihlah bersekolah.

Bisnis Direktur PT Maicih Fajar Guntara Affandi

Profil Pengusaha Fajar Guntara Affandi 

 

bisnisdirektur.png
 
 
Yuk ngebahas bisnis Direktur PT. Maicih Fajar Guntara Affandi. Maicih di sekitar 2010 -an, buat kamu yang berasal dari Bandung, pastilah sudah mulai mendengar bisnis keripik pedas "booming" ini. Kisah keripik Maicih memang pedas sepedas rasanya sudah pernah kita bahas.
 
Suksesnya begitu meledak sehingga kita bisa memetik ceritanya. Untuk dikenal, menginspirasi, dan mengilhami, banyak pengusaha muda untuk berbisnis sendiri. Berbagai penghargaan diterima oleh pendirinya, Reza "Axl" Nurilham, melalui PT. Maicih Inti Sinergi yang kemudian sukses berekpansi. 
 

Jalan Pengusaha


Tak hanya berbisnis makanan riangan, tercatat ada usaha dibidang properti Maicih Property, kemudian ada pula AXLent Academy, ada pula kisah Icihers Magazine. Tapi ada sosok lain disamping Reza. 
 
Dialah Fajar Guntara Affandi, sebagai Direktur Utama PT. Maicih Inti Sinergi. Diberbagai kisah mungkin kamu belum tau siapakah dia. Tak banyak yang kami dapat ketehui tentang dirinya. Dia ternyata salah satu orang yang membangu usaha keripik pedas ini. 

Ia bercerita pernah sempat berjualan bersama Reza. Dia juga pernah menjadi konsumen atau Icihers juga loh.

"Saya juga sempet menjadi konsumennya Pak Pres Axl loh, begitu ditanya keripik apa'an? Pak Pres menjawabnya itu keripik hasil bikinan saya yang saya berinama "Maicih"," kisah Fajar. 
 
"Setelah lama saya menjadi konsumennya Pak Pres Axl, saya tertarik untuk ikut berjualan keripik Maicih dan Axl pun mengangkat saya menjadi Direktur Utama Maicih,"lanjut pengusaha muda ini.

Kehidupan pribadinya sih biasa saja begitu jelasnya dalam sebuah wawancara. Dia lahir dari keluarga biasa saja. Selain kuliah, dia pernah berbisnis kecil- kecilan, yaitu membuat buklet angkatan untuk anak SMA di Bandung. 
 
Fajar pernah jadi fotografer, sayang, dia cuma bertahan sampai pertengahan 2010 begitulah jelasnya. "Mungkin gw sudah bosan sama bisnis yang gw teladani itu, hehehe," pungkasnya ringan.

Selepas dia masuk ke Maicih lah, dia mendapatkan pengalaman, mental, untuk menjadi entrepreneur. Selain berbisnis dengan Maicih, dia tercatat punya bisnis lain. 
 
Di malam hari, cobalah berkendara ke kawasan yang bernama Cihampelas bawah. Kamu akan menemukan tenda putih sederhana yang mengusung nama Master Kalkun. Yap, warunga tenda yang baru ada di 2012, yang menjanjikan aneka olahan unggas.

Yang menarik, enak, ya produk olahan kalkun berbasis rumah makan tenda. Kebetulah dia beniat mencari macam usaha yang belum ada. Kebetulan ada teman yang bisa mengolah kalkun. Jenis kalkun yang dipakai fajar adalah jenis kalkun impor dari US. 
 
Ia lebih memilih kalkun impor karena dagingnya lebih bedar.

"Kita beli kalkun minimal yang beratnya 7,5 kilogram, idealnya 8 kilogram. Kalau yang lokal itu kecil-kecil."

Tubuh kalkun besar jadilah hampir semua bagian kalkun bisa diolah menjadi sajian makanan yang berbeda. Di Master Kalkun, kita bisa mencoba aneka masakan kalkun mulai dari steak kalkun, kalkun barbaque, kalkun goreng tepung dan lainnya 
 
"Semua daging bisa dipakai kecuali kepala. Untuk steak kita pakai dada, barbeque paha bawah dan paha atas. Kalau goreng tepung kita pakai paha atas," terangnya.

Warung tenda Master Kalkun di Cihampelas bawah. Atau follow akun twitter @masterkalkunBDG, atau juga kunjungi masterkalkun.blogspot.com.

Mantan Pegawai Restoran Jadi Pengusaha Emperan

Profil Pengusaha Trias Agung Wibowo

 

mantanpegawai.png
 

Jadi pengusaha emperan dia mengantongi omzet ratusan juta. Mantan pegawai restoran bernama lengkap Trias Agung Wibowo. Sempat dia menjadi pegawai restoran di sebuah restoran di DKI Jakarta. Dia yang bertekat menaklukan Jakarta memilih wirausaha.


Benar siapa sangka usahanya hasilkan ratusan juta. Padahal jadi pengusaha emperan tetapi tidak malu. Ia sempat jualan online. Pernah berjualan aneka pasta, cake dan lain- lain. Usahanya tidak berjalan lancar sampai berpikir mau lebih serius.

 

Pizza Emperan


Kepikiran buat sesuatu belum pernah ada di Kota Yogyakarta. Kan Yogya dikenal akan makanan emperan khas angkringan. Trias ingin bikin angkiran. Konsepnya Tunqu Angkiran, namun jualannya bukan nasi kucing melainkan pizza.


"Saya cari- cari konsepnya, lama itu kita cari konsepnya, akhirnya nemu itu Italian Pizza dengan konsep emperan," terangnya kepada Detik.com


Begitu ketemu konsep dijalankan tidak langsung berhasil. Usaha pertamanya menggunakan lahan kecil kurang efektif. Padahal Trias mengkonsep jualan memakai tungku pizza. Kebayang bukan besarnya tungku pembuat pizza, tidak sekecil itu.


Trias berniat menonjolkan proses pembuatan pizza tradisional. Namun dia cuma mendapatkan sedikit ruang tempat. Memang mencari ruko dengan halaman luas kesusahan. Terutama di Yogyakarta susah menemukan tempat buat berjualan begitu.


Konsepnya dirasa susah diaplikasikan. "Sekitar setengah tahunan kita merintisnya itu sangat berat, susah awal- awal itu, karena itu tadi, kita kan konsepnya emperan," lanjutnya. Tunqu Angkringan baru dapat tempat setelah ditawari pelanggan.


"...jadi kita pindah sekitar 2019 akhir ke tempat sekarang ini," lanjut Trias. Begitu pindah berjalanlah konsepnya baik. Bahkan modal besar dulu, bahkan yang sempat rugi modal, terbayar sudah setelah pindah ke tempatnya sekarang ini.


Omzetnya ratusan juta rupiah perbulan begitu menggiurkan. "Iya sempat rugi. Saat itu modal awal- awal sekitar Rp.200 jutaan, itu kerane beli tungkunya," Trias melanjutkan. Bayangannya dulu sempat berubah mau memakai mobil VW bukan gerobak.


Ia udah membeli mobil VW. "...dah sempat pesan dan bayar, minta dimodif sesuai kebutuhan, tetapi orangnya kabur itu, sampai sekarang enggak bisa dihubungi," tambah Trias.


Trias ingin menonjolkan tungku sebagai ikon. Pengusaha emperan ini ingin memperlihatkan proses pembuatannya. Bahwa mereka menyajikan aneka pizza Italia fresh from the oven. Dia pernah ditipu orang tetapi tetap lanjut.


Dia menerangkan bahwa bisnis tidak cuma unik. Produk harus berkualitas bukan setengah- setengah jadi. Ia membelikan keju berkualitas. Dulu Trias sempat memakai keju biasa namun gagal. "Kita sudah coba pakai keju biasa aja, dia enggak bisa," tuturnya.


Mereka bakar pakai oven sungguhan sepanas 500 derajat. Kalau mereka sembarangan memakai oven, maka akan pecah. "...kalau yang (keju) biasa akan pecah, berminyak gitu. Jadi kita pakai keju khas impor dari Prancis," tutur Trias.


Tidak cuma makanan utama bahkan pendamping juga berkualitas. Dia menyediakan teh berkualitas, buat menyenangkan pembeli boleh refil teh ulang. Tunqu Nangkring kerap membagikan diskon dan giveaway. Mantan pegawai restoran tersebut memasarkan melalui media Instagram.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba