Pengusaha Mainan Edukasi Ari Bayat Hobi Berdagang

Profil Pengusaha Ari Bayat


pengusahamainan.png
 
 
Pengusaha mainan edukasi Ari Bayat memang hobi berdagang.  Dia tak pernah berhenti bermimpi walau gagal. Apakah impiannya, dalam satu postingan blog pribadinya, ia menulis "membuat produk sendiri yang  membanggakan di negeri sendiri". 
 
Kenapa produk kita miliki berasal dari luar negeri. Dimana para ahli mesin kita, dimana uang pengusaha kita, jangan mau kita dijadikan antek- antek asing, tegasnya. Ari yang mencintai anak- anak ingin menciptakan mainan sendiri. 
 
Mainan yang edukatif akan membangun manusia indonesia. Lalu berdirilah toko mainan anak bernama Arba Makmur, berdiri berkat jeri payah pemuda tersebut. Usaha yang terletak di Jalan Raya Pondok Gede, Bekasi, tak jauh dari Monumen Pancasila Sakti. 
 

Hobi Berdagang

 
 
Aneka mainan edukatif yang berbahan kayu dipajang. Dimana kamu bisa beli secara eceran. Fokus usahanya saat ini adalah produk untuk pesanan sekolah dan proyek pengadaan pemerintah. Kegigihan bisnis seorang Ari tak terlepas dari gemblengan orang tua. 
 
Jiwa entrepreneurship yang tak terasa terpati dalam jiwanya. Dimulai dari kelas sepuluh, ia sudah berjualan es lilin sendiri di musim sadranan. Dia berjualan disekitar rumahnya. Persaan bangga itulah dalam dirinya selalu. 
 
Tak ada rasa malu sama sekali. Dia itu sosok yang senang berdagang saja. Ada perasaan bangga saat jualannya habis katanya.


Ketika anak lain bermain di sela libur sekolah panjang. Apakah yang dilakukan Ari? Dia, yang masih SMP, sudah bekerja mencetak batu bata. Begitu pagi tiba tubuhnya sudah bergulat dengan tanah merah. Dia mulai mengaduk- aduk bahannya, diaduk hingga jadi adonan. 
 
Lalu, adonan itu dicetak lantas dimasukan ke bara api. Batu batanya dibakar sampai jadi. Jika hasilnya bagus maka bisa laris dijualnya. Hasil uangnya kemudian digunakan untuk membeli sepatu.

Itulah Ari Bayat, sosok entrepreneur sejati. Disaat liburan pas masa SMA, pengusaha muda tersebu tak malu berjualan es krim berkeliling dari gang ke gang. Berjualan jauh dari kampung ke kampung, dari daerah Makam Haji hingga Jongke di Kota Solo. 
 
Untuk berjualan es krim saja ia sudah bangun sangat pagi di pagi buta. Dia merebus air, memarut kelapa, dan memprosesnya jadi es krim. Ari berjualan hingga jam sembilan malam. Sungguh pengalaman panjang menjadikan sosoknya yang sekarang.

 "Padahal saat itu saya tidak disuruh orangtua. Semua itu saya lakukan karena niat saya yang kuat untuk bisa mandiri," ujar Ari mengenang. Hobinya memang berdagang. Hingga menjadi pengusaha mainan edukasi sukses.

Hobi berdagang juga terbawa hingga ke masa kuliah. Dimulai dari menjual contoh soal -soal ujian masuk ke perguruan tinggi. Ia juga mengkordinasai fotokopi buat satu kelas. Usaha lain juga menjual minyak wangi dan sebagainya. Kegiatan tersebut sangat menyenangkan katanya. 
 
Dengan kegiatan berjualan itu justru ia bisa menambah banyak teman. Jelasnya lagi, melalui usaha tersebut, ia mendapatkan uang untuk memenuhi segala kebutuhan pribadi.

Sayangnya, ia mengaku tak menyeriusi semua bisnisnya hingga lulus kuliah. Dia masih memikirkan bagaimana agar lulus kuliah. Berhubung dirinya kuliah di jurusan perbankan, sehabis kuliah, ia hanya berpikir: selepas ia kuliah ya jadi pegawai bank. 
 
Akhirnya di tahun 1997, Ari resmi lulus kuliah dengan bersusah payah. Saat itu suasana ekonomi tak mendukung. Meski susah, ia terus mengirim surat lamaran ke banyak bank, baik yang ada di kota Solo, Yogya, dan Semarang. 
 
Semuanya ia lakoni tanpa berpikir sekalipun tentang bagaimana jadi entrepreneur. Selama menunggu jawaban ia bekerja dulu di proyek perumahaan di Yogya. Penantian akan lamaran kerja itu ternyata tak menghasilkan. Selama enam bulan jerih payahnya tak terjawab. 
 
Sempat, sesaat ia berpikir untuk menjadi agen koran di suatu daerah. Dia yang tak punya modal akhirnya mengurungkan niat itu. Dia juga masih ragu akan kemampuanya sebagai wirausahawan.

Bekerja di Bank


Alhasil, ia justru nekat merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Kala itu ekonomi keluarga masih lah bagus. Jadilah ia berani merantau ke Jakarta tanpa kenalan. Dia mulai memasukan lamaran satu per- satu ke perusahaan. Dia berani bergeriliya dari pintu ke pintu. 
 
Akhirnya ia bekerja di sebuah bank swasta setelah ia lolos berbagai tes wawancara pada November 1998. Namun, siapa sangka hobinya berjualan malah muncul disela- selanya. Ari bekerja dibagian pusat data kredit. Pertengahan 2000 dia dipindahkan ke daerah Podomoro. 
 
Hobinya berdagang muncul kembali. Usaha barunya didukung oleh kondisi kantor yang strategis. Letak kantornya ada di dekat pabrik yang punya ribuan karyawan. Dia mulai berjualan aneka makanan. Dari keripik belut, ada batik Solo, jagung turbo, dan sebagainya. 
 
Apa saja yang bisa dijualnya. Namun, lagi- lagi, ia tak mau menyeriusi hal itu. Dari berusaha sendiri ia menghasilkan motor melalui kredit. Pada akhirnya ia malah keluar dari kantornya, itu karena proses marger yang terjadi. Dan kini, ia bersyukur menemukan bisnis barunya sekarang. 
 
Semua itu karena kerja kerasnya. Dimulai dari menjual mainan edukatif di hari Sabtu, ketika masih bekerja sebagai seorang pegawai bank. Setiap hari Sabtu, ia mulai berkeliling dari playgroup dan Taman Kanak- Kanak yang berada di sekitar kosannya.

Kegigihan Klaten, Jawa Tengah, ini memang patut diacungi jempol. Dia langsung ambil inisiatif melakukan pendataan nama kepala sekolah, alamat, serta contact person -nya. Begitu datanya dikumpulkan ia langsung menghubungi mereka. 
 
Mulailah ia menawarkan produk mainan edukatifnya ke orang- orang. Ternyata tak disangka- sangka, respon masyarakat terhadap mainan edukatif cukup tinggi. Ari bahkan kwalahan mendapatkan orderan dari pembeli. Semua karena jarak pembuat mainan edukatif itu sangat jauh.

Kondisi inilah yang membuatnya berpikir memproduksi mainan sendiri. Dia pun rajin menabung agar hal ini menjadi kenyataan. Selepas menikah Ari memilih pindah ke daerah Taman Mini, Jakarta Timur. Faktor utamanya karena udara yang masih sejuk, selain itu dia karena dekat keramaian. 
 
Disana ada Asrama Haji Pondok Gede yang menyelenggarakan berbagai acara. Salah satunya adanya acara manasik haji yang selalu ramai. Mereka itu Taman Kanak- Kanak dari berbagai sekolah.

Prospeknya ialah pasar yang masih luas. Mainan edukatif pasti akan bisa berkembang pesat. Lalu target pasarnya itu cukup besar. Dia mulai berjualan di daerah Taman Mini. Pelanggan sedikit demi sedikit teruslah bertambah. Produk mainan edukasinya semakin dikenal. 
 
Tahun 2004, ia memberanikan diri mengajukan satu pinjaman ke Bank untuk membuat workshop. Ia gunakan uang itu untuk membeli mesin- mesin. Sampai saat ini, produknya masih menggunakan bahan triplek dan kayu.

Semuanya diproduksi dari mesin- mesin yang ia modifikasi sendiri. Yang terpenting produksinya itu punya standar kualitas, semuanya berjalan baik. Sambil ia berjalan, sambil pula dirinya memperbaiki mesin- mesin yang sudah ada. 
 
Produksinya ditujukan untuk kalangan anak mulai umur dua tahun sampai sembilan bula. Dia pun mulai memproduksi mainan untuk playgroup, TK, dan keperluan anak autis. Usaha yang diberinya nama Arba Makmur juga berbisnis di dunia maya.

Prinsipnya juga termasuk ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Jika bicara prospek, bisnisnya akan semakin bergairah jika bulan Mei hingga Agustus. Disele- sela lesunya usaha maka ia mengerjakan produk lain. Dia menjelaskan selain memproduksi mainan edukasi. 
 
Dia juga memproduksi kerajinan kayu seperti tatakan piring, gantungan baju, box bayi, kursi dan meja anak serta produk kayu lainnya. Dengan strategi itulah, ia bersama Arba Makmur tetap eksis dan berproduksi.

Bagaimana Menjadi Pengusaha Boneka Sendiri

Profil Pengusaha Sukses Tuti 

 
menjadipengusaha.png
 
Bagiamana menjadi pengusaha bonek sendiri. Entah apa yang membuat Tuti begitu nekat. Tuti nekat untuk membuka usaha sendiri. Tapi yang pasti semua ia lakukan untuk ekonomi keluarganya. Meski tak pernah merasakan hidup berwirausaha. 
 
Meski begitu ia tak mau menyerah. Usaha apa yang bisa anda lakukan. Tuti Nurhayati memilih menjadi pengusaha boneka. Meski kecil tapi ini lebih baik dari ketika ia menjadi buruh. Usaha ini telah ia jalani sejak tahun 2001.
 

Menjadi Pengusaha Boneka


Kisahnya seorang buruh pabrik boneka yang membuat boneka sendiri. Sebuah pabrik boneka asal Korea. Ia mengambil usaha yang masih bisa dilakoni. Tahun 2001, Tuti memulai usahanya hanya bermodalkan apa adanya. Modal awal usahnya tak sampai satu juta rupiah. 
 
Tuti mencoba membuat boneka sendiri. Lalu ia memasarkan produknya ke toko- toko di sekitaran Jakarta. Dari toko ke toko dijalaninya tanpa mengeluh. Satu hal yang pasti pengalaman di pabrik boneka menempa kemampuannya.

Pada saat itu, kebanyakan toko boneka yang ada sudah memiliki suplier tetap dari pabrikan besar. Tidak mudah menembusnya. Ternyata menjalankan usaha sendiri tak semudah dibayangkan Tuti. Di tahun 2006, ia mengalami hampir bangkrut karena modal usaha. 
 
Ditambah pemasaran yang sulit ia tangani. Hingg suatu hari ia mulai rajin mengikuti pameran dan hasilnya lumayan. Nah, setelah lama berjuang, akhirnya sebuah BUMN memberikan bantuan modal untuknya.

Berlajar dari perjalanan bisnisnya. Ia kini memegang prinsip bahwa perlu adanya trobosan. Perlu ada beda di dalam model- model bonekannya yang lebih inovatif. Semua berkat berbagai media seperti televisi, majalah, internet, dan lain sebagainya. 
 
Dengan 25 orang karyawan, Tuti sudah mampu menghasilkan ribuan boneka tiap bulan. Bahkan ketika mengikuti pameran dia bisa mendapatkan 2.000 pesanan. Harga jual boneknya itu beragam dari 10.000 untuk yang termurah sampai 350.000 untu termahal.

Ia mulai mengembangkan model boneka secara periodik. Semua untuk memenuhi keinginan konsumen akan produk berkualitas dan update. Meski begitu ia masih menggarap pasar primadona seperti model beruang atau binatang lain yang lucu dan menggemaskan. 
 
Untuk boneka karakter ia mengaku jarang memproduksi. Karena memang persaingan yang ketat serta hanya musiman. Kini, toko- toko di Mangga Dua sudah mau memajang bahkan menacari- cari produknya.

Wanita asal Sukabumi ini kini bersyukur jerih payahnya terbayar. Ia yang selalu belajar membuat usahanya itu semakin bagus. Meski demikian ia sadar pasarnya penuh persaingan. Usaha yang telah berjalan lebih dari 10 tahun ini menghasilkan margin hingga 10%- 20%. 
 
Usaha dibidang ini memang dinamis, dimana pengusaha harus siap bersaing dengan pabrikan besar atau bersaing dengan produk luar sekalipun. Tuti beruntung menemukan cara menjadi pengusaha.

Sejarah Es Cendol Elizabeth Pengusaha H. Rohman

Profil Pengusaha H. Rohman

  
escendol.png
 
Mungkin kamu tidak mengenal nama H. Rohman. Tetapi sejarah es cendol Elizabeth berkaitan dengan namanya. Minuman satu ini menjadi salahsatu kegemaran jika berkunjung ke Bandung. Es Cendol Elizabeth menawarkan minuman cendol biasa. 
 
Bahan cendolnya berupa cendol hijau sedikit tua, irisan nangka, santan kental, serutan es, dan tentunya gula merah. Terasa segar di tenggorokan apalagi ketika musim panas. Meski telah banyak pedagang berjualan ternyata si empunya tak merasa mewaralabakan. 

Pemilik Cendol Elizabeth

 
 
Siapa pemilik aslinya? Apakah es cendol ini dimiliki seorang wanita bernama Elizabeth atau bukan. Usut punya usut, ternyata usaha tersebut dimulai dari H. Rohman. Dia mengaku bahwa es cendol yang punya nama sama di pinggiran jalan hanya mendompleng. Itu bukanlah es cendol buatannya. 
 
Mereka itu hanyalah ikut- ikutan menempelkan nama Es Cendol Elizabeth di gerobaknya. Mereka tak mengambil cendol dari si empunya. Dan, Rahman juga tak mengakui itu buatannya.

Jika ada masalah tanggung sendiri akibatnya. Es cendol buatannya yanga asli adalah yang ada di Jalan Otista, Bandung, di depan Toko Elizabeth. Jika bulan Ramadhan jualannya akan tutup. Jadi bagi anda yang biasanya minum di bulan Ramadhan itu bukanlah miliknya. 
 
Disini di es cendol asli Elizabeth merupakan olahan milik H. Rohman. Anda bisa mendatangi tempatnya di Jl. Inhoftank No.64 Bandung. Lokasinya tidak begitu jauh dari Jalan Otista, tepatnya ada di ujung Jalan Otista.

Selain itu, ada cabangnya, yang asli ada dikawasan Otista, Cihampelas, Merdeka, Buah Batu, Setrasari, Pahlawan, Kopo, Majalaya, serta di luar Bandung berada di Tasikmalaya. Seperti bagiamana larisnya orang menggunakan nama usahany, es cendol asli memang punya kelebihan. 
 
Berbeda dengan usaha es cendol biasa dimana terletak pada bahannya. Pengusaha H. Rohman tak mau tanggung- tanggung memanjakan lidah pelanggan.

Es cendol ini memiliki perbedaan pada kadar gula merah dan santan yang lebih kental. Kemudian ditambah dari bahan berkualitas yang alami. Cendol Elizabeth terbuat dari sagu. Warna hijaunya terbuat dari daun suji. Sementara itu wanginya berasal dari daun pandan. 
 
Jadi produknya memang asli dari bahan alami. Rahman lantas menambahkan jika tak menemukan pewarna alami, dia lebih baik membiarkannya saja. Dia lantas akan membiarkan warnanya putih seperti sagu.

Meski tak lulus SD, Rohman sadar kualitas menjadi nomor satu. Bahan- bahan didapatkan dicarinya sendiri dari pabriknya sendiri. Untuk sagu didapatnya dari Kepulauan Riau dan gulanya dari Cilacap, Jawa Tengah. 
 
Semenara itu untuk daun suji dan pandan berasal dari kebunnya sendiri dari Ciparay dan Majalaya, Kab. Bandung. Adapun untuk kegiatan membeli bahannya dilakukan setiap dua bulan. Dia akan membeli 4 ton gula merah dan sagu sebanyak 5 ton.

Karena bahan utamanya berkualitas jadilah harganya lebih mahal. Harganya melonjak lebih mahal dari es cendol berbahan zat kimia. Pembeli harus merogoh kocek Rp.2.500 untuk segelas es cendol. Kalau anda mau yang paket jumbo, per- bungkus seberat 1,5 kg, akan dijualnya Rp.8000. 
 
Karena keunggulan itulah maka salah satu grup waralaba asal Jogja mengajaknya bekerja sama. Mereka menggandeng Es Cendol Elizabeth untuk setiap cabangnya di Yogyakarta.

Sejarah Es Cendol Elizabeth


Perjalanan bisnisnya tidak mudah loh. Perjalanan H. Rohman sebagai penjual es cendol panjang dan berliku. Dia telah mandiri semenjak ayahnya meninggal. Ketika itu dia masih duduk dibangku sekolah dasar kelas 2 di Cilacap. 
 
Rohman kecil haruslah putus sekolah dan mulai mencari nafkah sendiri. Menginjak remaja pada tahun 1972, ia nekat pergi ke Bandung, berjualan es cendol mengikuti jejak pamannya. Melalui bimbingan sang pamanlah es cendol Elizabeth lahir.

Dibawah bimbingan pamannya berjualan es cendol dengan gerobak. Dia berkeliling sejak tahun 1972 sampai tahun 1980.

"Saya keliling sejak tahun 1972 sampai tahun 1980, mulai dari Astanaanyar sampai Dago. Lama-kelamaan sampai di jalan Otista es cendol sudah habis sama pelanggan, jadi tidak ke Dago lagi. Akhirnya saya mangkal di Otista," kata Rohman melanjutkan.

Tiga tahunan dia belajar berbisnis es cendol dari pamannya. Ia akhirnya memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Ketika itulah ia mulai berkreasi mencari- cari resepnya sendiri. 
 
Saat itu modalnya hanya terdiri dari satu kompor, satu tempat wadah cendol, satu gerobak, 2 kilo gula, 1 kilo sagu, dan 5 butir kelapa. Semua hanya 200 ribu untuk modal bisnis cendol. Dan karena uletnya, dua bulan kemudian modal tersebut bisa balik.

Rohman bercerita selama berjualan grobaknya kerap diamankan oleh satuan pamong praja. Tercatat sudah tiga kali gerobaknya diamankan. Kadang gerobak dan pemiliknya yang diamankan akan diturunkan jauh dari daerah perkotaan. 
 
Jika bertanya dari mana asal nama Elizabeth. Rohman melanjutkan bahwa dulu ketika ia mangkal di Jalan Otista. Dia mangkal di depan rumah milik orang China bernama Eli. Ibu Eli sendiri berbisnis tas yang bernama Elizabeth.

Rohman lah yang sering membantu membawakan barang- barang hingga ke dalam rumah. Pada 1978, ibu Eli berinisiatif untuk berjualan di depan rumah. Bu Eli berjualan didepan rumah denga menggunakan meja disamping gerobak cendolnya. 
 
Saat itu Ibu Eli menyuruh Rohman menawarkan tasnya kepada pembeli es cendolnya. Dan, suatu hari ada yang membeli tas, namun memaksa mendapatkan cendol gratis.

"Saya bilang ga boleh. Kalau cendolnya punya saya, tasnya punya ibu. Dia tetap maksa dan akhirnya saya nurut setelah saya melapor ke Ibu Eli dan beliau bersedia membayar cendolnya" kata H. Rahman.

Kejadian seperti berulang kembali. Bahkan menyebar sebagai rumor membeli tas Elizabeth dapat segelas es cendol Elizabeth gratis. Maka seiring kesuksesan Elizabeth, terkenal pula lah es cendol Elizabeth. 
 
Akhirnya Ibu Eli menyuruh Rohman membuat kartu nama es cendol dengan nama es cendol Elizabeth. Selanjutnya menuruti permintaan dari konsumen terus meningkat, maka pada tahun 1996, ia mendirikan restoran yang khusus menjual dan melayani pembelian es cendol.

Restoran Es Cendol Elizabeth didirikan di Ll. Inhoftank no.64 Bandung. Produk buatannya juga ditambah tidak hanya es cendol, ada es goyobond, batagor, bakso tahu dan mie bakso. Kini, jika sedang libur atau setiap hari di bulan Ramadhan omzetnya bisa mencapai 10 juta hingga 15 juta. 
 
Meski omzetnya lumayan dia mengaku tidak berhenti berkreasi. Usahanya yang didirikan dengan penuh semangat kerja keras, kini, pria yang tak tamat SD ini menjadi sosok yang patut kita tiru.

Usaha Keripik Melinjo Pengusaha Muda Pernah Ditipu

Profil Pengusaha Supriyadi

 

usahaemping.png
 

Pengusaha muda berikut pernah ditipu. Hingga membuka usaha keripik melinjo melambungkan namanya. Dialah Supriyadi seperti anak muda lain menyukai fashion. Maka dia membuka usaha distro pakaian di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.


Dia merinti usaha bersama sahabatnya Aniz Anshri. Keduanya berkomitmen menjalakan bersama tanpa saling berkuasa. Tidak boleh menjadi matahari bagi satu sama lain. Kedua sahabat ini bertanggung jawab atas kemanjuan bersama.


Usaha Keripik Melinjo

 

Bisnis distronya berjalan cukup lama sampai 3 tahun. Dari awal 2014 sampai 2017, mereka mampu buat menjalankan usaha sampai kemudian ditipu. Bisnis mereka gulung tikar tetapi tetap bersahabat. Mereka meyakini akan mampu bangkit berbisnis kembali.


Dia sangat percaya akan doa, semangat, dan kesabaran. "Kami ditipu waktu itu, namun saya tetap sabar. Percaya bahwa hal itu adalah kebangkitan," terangnya kepada Pijarnews.com. Supriyadi pun kemudian membuka bisnis lain kemudian.


Supriyadi membuka usaha keripik melinjo MpingChips, dirintis Februari 2017. Modalnya Rp.2,5 juta dimana dijual melalui sistem pesan- antar. Adapula penjualan ke warung- warung, kios, dan warkop. Ia katanya memiliki alasan khusus kenapa berbisnis.


Menjadi pengusaha karena mau membuka lapangan pekerjaan. "Kenapa saya memilih bisnis, karena mau menciptakan lapangan pekerjaan," jelas pengusaha ini.


Selain Supriyadi mendapat keuntungan sekalian memperkenalkan. Ia memperkenalkan produk kreatif khas daerah. Maka tak heran, dikemasannya diberikan landmark daerah, khusus kemasannya terdapat gambar monumen Cinta Ainun- Habibie asli Kota Parepare.


Dia berharap usaha keripik melinjo milinya dapat bersaing. Tekad dan keberanian yang membawa MpingChips terkenal. Produksi meningkat sejalan pemasaran juga meningkat diluar Sulawesi Selatan. Produknya sampai ke Kendari Sultar, Sangata Sulbar, dan Palembang Sumsel.


Khusus Sulawesi Selatan produknya sampai ke Toraja, Palopo, Makassar, Sengkang, Barru, dan juga Pinrang. Ia berharap keripik melinjo khas Parepare menasional. Dia mengatakan omzet perbulannya antara Rp.3- 4 juta perbulan.


Dia pun berhasil membeli dua mesin produksi. Bertahap dia akan menaikan produksi. Supriyadi juga merupakan Calon Legislatif 2019, melalui Partai Berkarya, dan mewakili anak muda yang memiliki keinginan mereka.

Kerja Serabutan Menjadi Pengusaha Sukses

Profil Pengusaha Ichdal Husaini

 
keripikgabus.png
 
Kerja serabutan menjadi pengusaha sukses. Ichdal Husaini tak pernah menyangkan hidupnya berubah. Itu berkat tekat dan ketekunan. Dulu Ichdal bekerja apapun, pekerjaan benerin barang, pekerjaan tukang atau seadanya dikerjakan.

"Dulu ini saja kerja serabutan, semua saya kerjakan, bekerja untuk orang lain," terangnya kepada pewarta Detik.com. Sampai dia merasa menginginkan usaha sendiri.
 

Usaha Unik


Maka Ichdal mulai membuat keripik. Bahan bakunya berasal di sekitaran wilayah Kalimantan Selatan. Tapi ia bukan membuat keripik sembarangan. Dia malah bikin keripik ikan gabus. Nyeleneh tetapi bahan baku sangat banyak tersedia.

Selain ikan gabus ia juga membuat keripik bebek. Bahan bakunya berasal dari wilayah Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Ichdal melihat banyak orang jualan keripik. Dia merasa sudah banyak saingan jualan keripik pisang atau singkong.

Di daerahnya sudah biasa orang bikin keripik ubi atau singkong. Ichdal ingin berbeda. Kalau kerupuk ikan banyak tetapi kalau keripik belum. "...di sini kan banyak saingan kerupuk- kerupuk jadi kita coba khas lain," jelasnya. Kan orang taunya ikan gabus atau bebek dibikin kerupuk, beda keripik.

"Jadi kita cari rasanya beda," lanjut Ichdal. Dia mengatakan bisnisnya bermodalkan Rp.100 ribu. Buat menjadi pengusaha sukses ternyata murah. Dia kini tidak perlu kerja serabutan kembali. Usaha keripik ikan dan bebek hasilkan omzet Rp.2 juta perbulan.

Harga keripik ikan gabus dan bebek dijual Rp.10 ribu ukuran 150 gram. Usaha pribadi tanpa modal diluar kantong sendiri. Dia dulu jualan ditawarkan ke tetangga- tetangga. Omzetnya sampai Rp.1 juta- 2 juta perbulan, mempekerjakan 4 pegawai, mampu membungkus 100 bungkus perbulan.

Penjualan ke depan dikembangkan lewat jalur digital. Promosi lewat platform WhatsApp digencarkan belum platfrom digital lain. Penjualan masih terbatas 100 bungkus dan masih terus dikembangkan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba