Usaha Lobster Air Tawar Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Gema Paku Bumi

 
usahalobster.png
 
Perkenalkan Gema Paku Bumi seorang pengusaha muda lobster. Selain kembangkan usaha lobster air tawar juga budidaya ikan lain. Dia budidaya lelel. Dijalankan sejak awal 2010, Gema juga budidaya ikan gurame, nila dan bahkan ayam ternak, namun dia masih mencari komoditas mumpuni.

Adalah mahasiswa Semester 3 Universitas Sebelas Maret (UNS). Ia melakukan aneka riset kembangkan usaha agro begini. Gema menemukan peluang besar di lobster air tawar. Dia menemukan lobster air tawar asal Australia.

Tawarkan Mitra Bisnis

 
Ia menemukan lobster air tawar disini berasal dari Australia. Kebetulan ada program pemerintah khusus dari Ditjen Dikti, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bernama Program Kreatifitas Mahasiswa. Ia mendaftar. Kemudian dia mendapatkan modal guna melakukan pengembangan.

Penelitian dilakukannya demi memberikan kemanfaatan masyarakat luas. Riset milik Gema diterima. Isi risetnya mengenai budidaya lobster air tawar di Indonesia. Dia mendapatkan modal usaha Rp.100 juta. Ia menggunakan uang tersebut buat riset ke Australia.

Ia mempelajari pengembangan sampai pakan. Kemudian penelitian tersebut akan diturunkan ke adik tingkatnya. Berbekal uang segitu Gema melakukan penelitian dalam lab kampus. Sebagiannya dia bawa ke kos- kosan.

Tidak memiliki kolam Gema harus bereksperimen. "Jadi ada ruang kosong kita pakai ember, pakai bak, bahkan pakai lemari baju plastik yang selorokan itu kita jadikan kolam ikan," Gema menjelaskan kepada Detik.com.

Gema sejak awal melakukan riset demi menjadi pengusaha. Segala upaya dilakukannya demi dapat menghasilkan uang. Ingin usaha lobster air tawar menjadi tumpuan hidup. Gema sama sekali tak punya pemikiran melamar kerja.

Gema bercita- cita menjadi pengusaha muda semenjak dulu. Dia berkata kedua orang tuanya adalah inspirasi. Mereka kedua orang tua merupakan pedagang pasar. "Ya anaknya tak ingin jadi pedagang tapi pengusaha," lanjutnya.

Tahun pertama, hasil budidaya lobsternya dijual ke toko- toko ikan hias atau penghobi. Kenapa karena disaat itu jamannya lobster air tawar masih jarang. Hingga orang membeli buat dijadikan ikan hias bukan konsumsi.

Dulu lobster air tawar masih dijadikan hiasan aquarium. Seiring berjalan waktu, budidaya lobster air tawar digemari, akhirnya mulailah menjadi konsumsi. Harganya bervariasi dari Rp.140 ribu per- kg, Rp.170 ribu per- kg, dan Rp.500 ribu per- kg.

Mitra bisnisnya bisa menjual Rp.500 ribu per- kg di wilayah Bali. Ini merupakan subsitusi lobster laut yang belum bisa dibudidaya. 
 
Perbedaan antara lobster laut dan air tawar pada rasanya. Lobster laut rasanya manis gurih dan amis, dan lobster air tawar manis. Bila ukuran lobster laut memang lebih besar.

Bisnis Gema diberi nama Gemma Farm. Ia membuka peluang kemitraan. Skema bisnisnya mensuplai indukan ke mitra. Mereka mitra akan membudidaya kemudian dijual ke Gemma Farm. Kemudian pihak Gamma Farm jual ke restoran atau hotel mitra.

Tidak sedikit total mitranya mencapai 2.100 orang. Gema mematok harga kisaran Rp.250 ribu sampai Rp.950 ribu, tergantung ukuran. Untuk paket indukan berisi 4 pasang lobster dan biasanya dapat bonus satu pasang.

Indukan sudah disortir jadi tidak akan sedarah. Lobster air tawar ini tidak boleh dikawinkan sedarah, atau hasilnya gak bagus. Gema perbulan menjual 10 ribu induk lobster. Omzet dicapainya sampai Rp.100 juta bahkan lebih.

Pasalnya Gemma Farm juga menyediakan olahan lobster. Kemudian juga memberikan pelatihan senilai Rp.477 ribu. Indukan produktifitasnya tergantung ukuran. Dimana indukan Rp.250 ribu itu hasilkan 50 telur minimal, ukuran sedang sampai 100 telur maksimal, sedang 200 telur, dan besar 300 telur.

Modal dibutuhkan mitra cuma Rp.600 ribu. Satu mitranya hasilkan 50 kg perminggu, bila dihargai Rp.140 ribu saja, maka mitra menghasilkan omzet Rp.7 juta perminggu atau sebulan Rp.28 juta.

Pengusaha Bubur Kertas Bisnis Menghasilkan

Profil Pengusaha Sumarsono 


buburkertas.png
 
Sumarsono adalah pengusaha bubur kertas. Dia tak  menyangka akan menjadi bisnis menghasilkan. Dulu ia sempat bekerja menjadi buruh. Menjadi buruh takut kalau diphk. Namun, karena diphk, justru Sumarsono menjadi pengusaha. 
 
Pasalnya dia tidak mudah putus asa. Ketika tempat kerjanya kolaps dan bubar karena krisi moneter. Justru Sumarsono mengajar ambisi pribadi. Menjadi pengusaha berbekal kemampuannya di bidang desain grafis.

Tepatnya tahun 1989, ia pertama kali datang ke Jakarta, dia bekerja menjadi advertising outdoor. Untuk ini dia bekerja menjadi produksi dan grafis.
 

Berbisnis Seni

 
Dia punya dasar pemahaman tentang gambar. Hingga, masuk di tahun 98', bisnis perusahaan tempat Sumarsono bekerja kolaps. Dua tahun dia hidup bermodal pesangon. Di tahun 2000, kemudian Sumarsono berusaha serabutan menjual aneka benda seni seperti patung atau lukisan. 
 
"Ada dua tahun menganggur," kenangnya. Dia beruntung tak cuma memiliki keahlian tetapi bakat alam.

Keluarga Sumarsono kebanyakan seniman. Khususnya dia tinggal diantara para seniman patung. Kemudian dia mengingat kerajinan masa sekolah. Bubur kertas. Dia berpikir kenapa tidak dibikin sesuatu. 
 
Dipadu padankan selera seni Sumarsono. Dia yakin bahwa kertas koran dapat dijadikan kesenian bernilai tinggi. Tidak mudah seperti dibayangkan Sumarsono. Ketika mencoba malah takaran air tidak seimbang. Sia- sia sudah tumpukan koran tersebut. 
 
Ia belum paham caranya menyampur. Sumarsono terus berusaha dan semuanya otodidak. Kegagalan demi kegagalan dilalui. Akhirnya 2007 Sumarsono berhasil membuat bubur kertas. Kemudian dia mengolahnya menjadi ornamen dinding. 
 
Dia bercerita ketika memulai bermodal minim. Dia nekatlah menjual sepeda motor. Dia kemudian menambah melalui pinjaman orang. Modal dikumpukkan dia sampai Rp.60 juta. Uang digunakan buat peralatan daur ulang. 
 
Buat membeli cat minyak, kertas koran, dan biaya oprasional. Itulah modal pertama digunakan Sumarsono. Hasilnya jadi 11 unit panel ornamen siap jual. Ia menamainya LaxsVin Art, dipasarkan ke pasaran Cibinong, Jawa Barat.

Sebelum memulai membuat bubur kertas. Ia pernah mencoba pakai panel kayu. Bahan bekas sengaja dia pilih karena murah dan go green. Tidak cuma papan, ada pelepah pisang, kemudian terakhir bubur kertas, menjadi pilihan utamanya. 
 
Bubur kertas memiliki karakter khas ketika diberi sentuhan lukisan olehnya. Awal dia membuat cuma dua dimensi. Meskipun aneka warna, hasilnya tidak begitu bagus, nah sejak itu ia juga mulai bereksperimen lewat tiga dimensi. 
 
Tahun 2006 akhirnya menghasilkan sesuatu sesuai harapan. Tidak punya literatur khusus menjadi panduan. Ia cuma meraba menciptakan produk belum orang lain buat. Lukisan panel berukuran 80x120 tersebut laris manis. Dalam tempo dua jam tinggal dua buah. 
 
Sehari dia bisa mengantungi untung Rp.4 juta. Memasuki tahun 2007, dia mulai diajak pemerintah setempat aktif mengikuti berbagai pameran kewirausahaan. Melalui pameran dia membangun brand mengajak orang beli.

Melalui pameran dia mendapatkan masukan baru. Katanya jualan Sumarsono kemahalan. Dan ukurannya terlalu besar. Sulit buat dibawa orang perjalanan jauh. Khususnya buat panel lukisan yang dibandrol harga Rp.1,5 juta. 
 
Pembeli asing mengeluhkan produknya berat sulit dibungkus dibawa pulang. Berbekal masukan tersebut dia merubah gaya. Lantas dia membuat panel seberat lima kilogram. Ukuran tersebut cocok dengan batas bagasi 20kg di pesawat.
 

Kerja Keras

 
Bisnis panelnya dijalankan Sumarsono mengajak 3 orang pegawai bekerja. Kertas koran didapatkan lewat pengepul. Seharinya memakai 300- 400 kilogram koran bekas.

Agar pengepul tetap menjual ke dia. Dirinya ikhlas menaikan nilai beli sampai Rp.2000 per- 1kg. Maka para pengepul mendapatkan untung Rp.1000. Biaya produksi untungnya rendah. Menekan harga jual tetap dia bisa lakukan. 
 
Ukuran 45x45 dibandrol Rp.75.000- Rp.100.000, produksinya sampai ribuan panel. Ia mengatakan kenapa makin laris. Panel bikinanya murah. Bahkan ada diskon Rp.75.000 sebuah bila mau membeli enam. Kan orang biasanya beli satu kali satu panel. 
 
Hal lain agar jualannya makin mantab ialah ia membuat lukisan berserial. Jadi orang akan berpikir buat menambah koleksi membeli lebih banyak. Uang muka 30% buat pemesanan sudah cukup. Ukuran segitu sudah menutupi biaya produksi. 
 
Dia juga jadi eksportir menjual sampai ke luar negeri. Dia mengandalkan pameran menggait eksportir. Baik dari Brazil ataupun Malaysia. Omzetnya naik dari Rp.20 juta menjadi Rp.30 juta per- bulan.

Uang segitu 20% nya dipakai produksi. Total Sumarsono tidak mengandalkan pinjaman bank sama sekali. Ia menjamin panel buatanya akan selalu berbeda. Akan ada desain baru setiap kali ada kesempatan. Juga ia akan aktif mengikuti aneka pameran.

Warna era 80 -an dihidupkan kembali lewat dominasi oranye. Meskipun beda desain ataupun ukuran, dia tetap menyasar rumah konsep minimalis. Warna dasarnya berusaha memakai hitam. Tujuannya agar dapat dengan mudah ngeblend dengan warna cat rumah apapun.

Tidak cuma jualan saja. Ia menularkan konsep daur ulang juga. Dia memberikan pelatihan umum. Menjadi pembicara berbagai kegiatan bertama daur ulang. Dari NTB, Serang, dan Jakarta dia telusuri menjadi ahli di bidangnya.

Dari menjadi pembicara dan pelatihan, eh ternyata, ia bisa menghasilkan uang juga. Terutama jika dia beri pelatihan khusus. Bisa mencapai Rp.2,5 juta buat pelatihan. Dia sendiri tidak khawatir banyak pesaing. Ia beralasan setiap orang punya gaya lukis sendiri. 
 
Ditambah jam terbang dia lebih banyak soal aspek bisnis. Mereka akan mengangkat budaya mereka sendiri. Gaya lukisan mereka sendiri juga. Dibantu tiga orang karyawannya. Untung didapat bisa mencapai 50% nya. Atau dia bisa mengantungi uang Rp.30 juta. 
 
"Saya akan mangajarkan mereka yang mau belajar," tutur pengusaha bubur kertas ini.

Pengusaha Iseng Berbisnis Lada Putih Untung Miliaran

Profil Pengusaha Sukses Poniman

 

pengusahaiseng.png
 

Pengusaha iseng berbisnis lada putih. Siapa sangka Poniman mampu hasilkan untung miliaran. Dijelaskan bahwa lada merupakan komoditas Bangka Belitung. Kualitasnya tidak diragukan lagi sampai Detik.com rela datang. Mereka mengunjungi pusat rempat tersebut.


Pohon lada tumbuh empat meter ditopang tanaman atau tiang. Poniman dikunjungi Detik di penyimpanan miliknya di Air Raya, Tanjung Pinang, Kabupaten Belitung. "Iseng aja ada tanah ditanami," ucapnya. Dia juga mengumpulkan lada petani lain sampai ratusan kilo.


Dibelakang gudang terdapat kebun lada seluas 500 meter persegi. Setahun dia mampu memanen beberapa kali. Bermula dia memulai 15 tahun lalu sekedar iseng. Panen perdana laba putih sampai 3 tahun. Tetapi dapat dipanen beberapa kali sampai 5 atau 6 kali.


Kemudian kebun dapat dipanen kembali lima tahun mendatang. Satu hektar lahan mampu hasilkan tak kurang 2000 kg. Buat harga jualannya mencapai Rp.150.000 perkilogram. Pengusaha iseng berbisnis lada putih mengatakan sepohon banyak.


Satu pohon lada mampu hasilkan 2 kilogram, satu hektar mencapai 2000 kilogram. Harga lada putih pun tergolong naik terus. Dari memanen sendiri juga membeli petani dan pedagang besar. Poniman lantas akan mengirim ke Bangka atau ekspor ke Eropa.


Ia bahkan berani membeli tonan. Buat harganya di Bangka mengikuti nilai tukar dollar. Dijelaskannya bahwa 70% lada putih Belitung pasti diekspor ke Eropa dan sebagian Asia. "Enggak tentu, lada itu per- jam (harga berubah) berdasarkan nilai dollar karena diekspor," Poniman menjelaskan.


Berbeda komoditas lain, lada justru akan semakin bagus ketika disimpan di gudang. Maka nilai dari ekonomisnya tak berkurang. Permintaan akan lada putih juga tidak berkurang. Total pengusaha Poniman mampu menyimpan 40- 50 ton, dan selama musimnya Juli- Oktober hasilkan 6 miliar.

Konglomerat Aburizal Bakrie dan Pengusaha Muda Afrika

Artikel Bisnis Kerjasama Tidak Memandang Usia

 
aburizalbakrie.png
 
Karir Aburizal Bakrie di bidang politik memang sangat moncer. Tetapi bagaimana kisah suksesnya di bidang bisnisnya.  Nyatanya, sudah dua tahun berturut, bahkan nih empat tahun berturut, Ical begitu sapaan akrabnya keluar dari daftar orang- orang terkaya Indonesia. 
 
Padahal dalam catatan tersebut pada tahun 2009, namanya sukses masuk ke urutan nomor 4, dimana total kekayaanya mencapai 2,5 miliar dollar. Sukses tersebut bertahan hingga 2010 dengan total kekayaan menurun empat digit yaitu 2,1 miliar dollar AS. 
 
Di tahun 2011, namanya jatuh ke urutan nomor 30, dimana total kekayaanya mencapai 890 juta saja. Sejak 2012 sudah resmi terlempar dari urutan 50 besar. Saham- saham miliknya pun rontok di pasar saham. 
 
Yang paling merebut perhatian tentulah kisah BUMI. Saham PT. Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah lah turun sampai diperdagangkan Rp.77- 79 per- lembar.
 

Bisnis Pengusaha Muda Afrika


Bahkan menurut lembaga pemeringkat International and Poor's menurunkan peringkat hutang jangka panjang perusahaan ini menjadi default atau gagal bayar.
Dibandingkan harga sebelumnya harga saham anjlok sampai 75 persen. Bagaimana dengan saham lainnya, juga dijualnya dikisaran angka 50 di Indonesia. 
 
Saham- saham tersebut antara lain yaitu perusahaan Bakrie Sumatra Plantation (UNSP), Darma Henwa (DEWA), Bakrieland Development (ELTY), dan juga Bakrie Brothers (BNBR). Menurut pakar melihat kondisi ini dimungkinkan karena kegiatan Ical sendiri di bidang politik.
 
Pada umur 28 tahun sosok Ladi Delano bisa duduk sejajar dengan Ical. Hanya dalam tempo beberapa tahun saja namanya tercatat sebagai orang terkaya. Pengusaha aneka bisnis ini memulai karirnya dari nol. Jauh sebelum sekarang ketika umurnya 31 tahun. 
 
Delano adalah CEO perusahaan kerja sama dengan Group Bakrie. Ia sang pendiri sekaligus CEO Bakrie Delano Africa (BDA). Sebuah bisnis join venture senilai $1 miliar dengan nilai market $15 miliar.

Di umur 22 tahun, ia menjelalajah jauh ke negeri China. Disinilah ia memulai bisnis sukses pertamanya yaitu sebuah bisnis minuman vodka. Sayang, dalam dunia pendidikan, Delano bukanlah orang yang tepat mungkin gelarnya tak sebanding dengan Ical. 
 
Kenapa? Karena faktanya, ia menderita disleksia dan satu telinganya itu tuli. Dalam sebuah artikel diakuinya masa pendidikan merupakan yang tersulit. Tapi ada satu hal yang jadi passionnya yaitu entrepreneurship. Kisah lain, dirinya adalah sosok yang kompetitif.

Meski akhirnya ia memutuskan drop- out. Delano sempat menjadi 50 terbaik di kampusnya. Semua berkat rasa kompetisinya. Ketika entrepreneurship itu memanggil diputuskanlah untuk keluar dari kampus. Soal pekerjaan pertama ia pernah bekerja menjadi salesman.

"Itu semakin terlihat nyata saya tidak punya passion atas pendidikan saya. Saya berpikir itualah yang membuat mudah pacah kosentrasi dan itu, akhirnya, puncaknya dalam diri berpikir daripada bekerja keras seperti kuda hampir mati, itu akan lebih masuk akal untuk melakukan sesuatu yang saya lebih nyaman lakukan," ucap Ladi Delano.

Bekerja sama dengan Bakrie Group. Mereka tengah mengolah sumber daya Afrika. Sebagai anak muda asli Nigeria kembanggan yang membayawanya kembali. Padahal, Delano sudahlah sukses membangun usahanya di China, tapi melihat sumber daya Afrika yang kaya. 
 
Ditambah rasa ingin membangun kampunya membawa pengusaha 31 tahun ini kembali. Bakrie Delano Africa merupakan peluang lain yang digarap oleh Bakrie Group. Peluang yang diambil sang konglomerat Indonesia di masa depan. 
 
Sebuah investasi di Nigeria yang fokus pada mengidentifikasi adanya kekayaan tambang, agrikultur, minyak dan gas, dan pada akhirnya mengeksekusinya. Apakah Bakrie Group sudah selesai, penulis merasa, masih panjang jalan bagi Bakrie Group. 

Mantan Anak Jalanan Andika Ramadhan Berbisnis Skincare

Biografi Pengusaha Andika Ramadhan


mantananakjalanan.png

 

Kisah Andika Ramadhan berbisnis scincare. Mantan anak jalanan yang berbisnis scincare unik bukan. Dia menjalankan usaha perawatan wajah khusus pria. Bersama teman kuliahnya mereka mendirikan scincare Clorismen buat pria pada 2016.


Dulu Andika berjualan risol dan roti di kampus. Jujur dia mendirikan Clorismen tanpa pengalaman. Dia bersama dan teman- temannya mulai dari produksi sampai pengemasan. "Dari situ saya mulai paham soal penjualan dan bagaimana membaca market," jelasnya kepada Detik.com.


Ia mendalami Clorismen selepas menjual. Clorismen didirikan 2016 bersama teman menyasar perawatan kulit. Emang sebagian besar pria enggan memakai skincare. Mereka malu membeli skincare yang memang biasanya buat wanita.


Bisnis Skincare

 

Tetapi adapula mereka tertarik membeli skincare loh. Nah, Andika menyasar pasar ini, walau dianggap kecil mereka tak bergeming. Mereka menyara pria peduli akan penampilan dan kesehatan kulit. "Kita hadirkan produk skincare agar pria lebih percaya diri," Andika menjelaskan.


Awal mereka menjual melalui teman- teman dekat. Andika bersama 4 orang patungan sampai Rp.50 juta. Dimana omzet mereka berbisnis skincare Rp.1,5- 2 miliar. Pria yang gemar membaca ini telah mampu menggaet reseller dari Aceh sampai Papua.


Taukah bahwa Andika mantan anak jalanan. Dia terbiasa berjualan keliling. Waktu SMA ia pernah jualan keripik bayam. Taukah bahwa dia merupakan lulusan SMA Master alias Majid Terminal. Itu sekolah yang dikelola Yayasan Bina Mandiri.


Dia sekolah tahun 2009. Andika sempat keluar sekolah. Orang tuanya tidak memiliki biaya buat ia sekolah kembali. Maka Andika sekolah di tempat tersebut karena dibantu. Dia pernah tidak sekolah selama berbulan- bulan di 2008.

 

"Di tahun itu saya bukanlah anak yang berprestasi secara akademis," ia menjelaskan.


Lalu dia dikeluarkan kemudian mengamen atau berjualan. Di jalanan, Andika sudah biasa kemudian menemukan SMA Master. Dia diberikan sekolah gratis. Andika terjun di jalanan sampai setahun. Dan dia sekolah kembali gratis buat orang tuanya.

 

Orang tua Andika khawatir karena anaknya putus sekolah. Mereka senang karena Andika kembali ke  sekolah. Mereka sekarang memiliki harapan anaknya sukses. Sekolah Master berbeda karena sangat membentuk pandangannya.

 

Mindset diterapkan di sana merupakan pandangan dunia. "Saya diajarkan keikhalasan, perjuangan, dan kerja keras" kenangnya. Sembari sekolah masih melakukan kegiatan bekerja. Dia bekerja menjadi tukang plastik tiap pagi di Pasar Kemiri, Kota Depok.

 

Di siang harinya, ia berjualan roti dan kue basah ke sekolah. Andika pun tak melupakan belajar dan berogranisasi.  Pencapaian terbaiknya ketika SMA diangkat menjadi Ketua OSIS pertama di Sekolah Master. Andika lantas masuk Universitas Negeri Jakarta di 2012.


Sempat dia akan gagal masuk ketika tahap pendaftaran. Pasalnya dia tidak memiliki uang Rp.4 juta buat biaya masuk. "Waktu itu saya saya benar-benar hidup di jalanan dan orangtua saya pun tidak memiliki kemampuan untuk membayarnya," cerita Andika kepada Kompas.com


Uang Rp.4 juta merupakan perkara tidak mudah. Untung Andika disorot Kompas, melalui sebuah wawancara, Andika mencurahkan harapannya buat masuk PTN. Beruntung donasi berdatangang hingga ia bisa masuk.


Sudah masuk tetapi masalah keuangan belum selesai. Karena dia harus membiayai keseharian sendiri. Dia tidak memiliki uang buat keperluan tugas. Dia terus berjuang berjualan risol, roti, dan menjadi guru les. Tiap semester menghantuinya karena takut tak mampu bayar hingga dikeluarkan.


Persoalan kuliah ketika dia mendapatkan program Bidik Misi 2015. Sebelum ia mendirikan usaha Clorismen pada 2016. Diceritakan ia sempat menjadi karyawan packing produk. Diceritakan Andika dahulu merupakan karyawan Clorismen.

 

Status usaha tersebut tengah dirintis kawan- kawannya. Andika yang bersemangat ingin membantu produk ini. Pertumbuhan Clorismen sangat bagus sampai membuka peluang. Mereka memberikan peluang reseller atau distributor.


Andika kemudian diangkat menjadi Business Development. Tahun 2019, usaha Clorismen memiliki 1000 lebih seller. Kemudian dia diangkat menjadi CEO Clorismen, bisnis bernilai miliaran rupiah. "Tidak ada yang tidak mungkin jika kita harus konsisten," dia memberi semangat.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba