Pengusaha Decky Suryata Bisnis Salak Pondoh Jutawan

Profil Pengusaha Decky Suryata

 
bisnissalak.png
 
Inilah pengusaha Decky Suryata memulai bisnis salak pondoh. Sejak bangku sekolah menengah di Yogyakarta, sosoknya memanglah gemar berbisnis bahkan sejak sekolah dasar. Terakhir, ayah dua anak ini dikenal sebagai pengusaha muda sukses berkat aneka olahan berbahan salak pondoh. 
 
Siapa dia, bagaimana cara bisnisnya mencapai kesuksesan seperti sekarang. Menelusuri lebih dalam kamu akan menemukan sosok tahan banting. Meski sudah berbagai bisnis dilalui dan berhenti di tengah, dia tetap melanjutkan setiap ada kesempatan bisnis baru.

Decky Suryata lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 28 Desember 1983, dimana semenjak kelas 3 SD ia telah berbisnis mandiri. Decky yang punya banyak komik menumpuk di rumahnya, memilih untuk menyewakannya.
 

Bisnis Salak Pondok

 
Dia menyewakan komiknya itu dengan harga Rp200,00-Rp300,00. Decky juga pernah berjualan macam- macam aksesoris seperti gantungan kunci. Cukup membawa produk tersebut dari tetangga kemudian dijual ke teman- temannya waktu itu ia masih tinggal di Kalimantan.

Pindah ke Yogyakarta, bisnis Decky masih bekisar di kegiatan pinjam- meminjam buku, tidak hanya komik. Dia memang menyukai kegiatan membaca buku. Dia ingin agar teman-teman sebaya dia di desanya juga suka membaca buku.

"Awalnya saya bisnis jual-beli handphone (HP). Saya jual HP pemberian ayah yang mestinya untuk alat komunikasi. Keuntungannya saya gunakan untuk beli HP yang selanjutnya dijual lagi," kisahnya tentang bisnis lain semasa sekolah menengah.

Dari bisnisnya ia bisa punya counter  telepon sendiri di kawasan Jalan Monjali.  Sebagai seorang remaja, Decky mengaku memang tergolong nakal. Jujur- jujuran, sebagian dagangan miliknya kala itu adalah barang black market alias tak resmi. 
 
Dan,  dari 10 barang yang ia berhasil jual, paling hanya 1 atau 2 yang bagus.  Karena  itulah di tahun 2006 kiosnya ditutup. Ia juga pernah berjualan chip operator seluler bekas. Namun, bisnisnya gagal lagi, karena chip bekas nya hilang.

Oleh karena bisnisnya bangkrut ia butuh berhenti sejenak. Dan Decky memutuskan untuk menikah di waktu itu ketika bisnisnya mandek dan kuliahnya di UGM tersendat. 
 
"Nikah! Ha ha ha... Habis mau bagaimana? Kuliah saya di Fakultas Ekonomi UGM mampet, bisnis bangkrut, jadi nikah sajalah. Siapa tahu justru ada rezeki. Saya menikahi teman SMA saya, namanya Fara. Sekarang anak kami sudah dua," kisahnya yang tak berhenti di kegagalan.

Tiga bulan sejak menikah ia ingin berbisnis lagi. Kala itu Pakdhenya punya usaha sendiri dan Decky pun ingin ikut nimbrung dalam bisnisnya itu. Ia ingin mandiri meski harus dari nol lagi. Apa yang dilakukannya? Ia kala itu berjualan burger keliling. 
 
Melalui bisnis burger dia dikenal, usahanya cukup ambisius karena memang ada cara terbaik mengembangkan bisnisnya. Decky memanfaatkan sistem waralaba kala itu yang memang masih jarang untuk bisnis burger.

Tumbuh pesat dari 40 gerai jadi 60 gerai dalam beberapa tahun. Akhirnya, bisnis yang bernama Burger' Qu itu laris manis tumbuh sampai ratusan gerai di berbagai tempat. Selain burger Burger' Qu juga menawarkan hotdog dan kentang goreng. 
 
Tepat di tahun 2009, Burger' Qu tak lagi menawarkan waralaba karena sudah terlalu banyak. "Saya tidak lagi mengembangkan waralaba yang pernah saya tawarkan sebelumnya," kata Decky yang gerainya telah tersebar di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

Memang harga kemitraan yang ditawarkan bisnis Burger' Qu tergolong murah, dibawah 10 juta. Waktu iu ia menawarkan tiga paket kemitraan Burger'Qu. Yakni, paket medium, eksklusif, dan super eksklusif. 
 
Dimana paket- paket ekonomisnya banyak dilirik. Untuk paket medium, jelasnya mitra harus menyiapkan investasi awal hanya sebesar Rp 4 juta. Dengan modal sebesar itu, mitra akan mendapatkan satu unit gerai, peralatan memasak, pelatihan pegawai.

Selain itu, adapula paket bahan baku awal yang untuk kebutuhan operasional selama dua hari pertama, atau senilai Rp 220.000. Sementara untuk paket eksklusif, mitra akan mengeluarkan uang sebesar Rp 6 juga. Mitra akan mendapatkan fasilitas yang sama dengan paket medium. 
 
Cuma bedanya pada paket ini ada penambahan fasilitas promosi berupa banner atau spanduk. Paket ketiga adalah paket super eksklusif dengan investasi awal Rp 18 juta.

Paket eksklusif ini lebih lengkap karena ada penambahan pada perlengkapan promosi berupa banner dan juga neon box, disertai gerai yang lebih berkelas dan menarik. Kerja sama untuk tiga paket itu berlangsung selama tiga tahun, setelah itu harus diperpanjang lagi. 
 
Pada saat itu, Decky menjanjikan, setiap mitra dapat menjual burger sebanyak 20 porsi sehari dengan harga berkisar Rp 5.000-Rp 7.000 per porsi. Dari situ, mitra akan mendapat omzet Rp 5 juta per bulan.

Sebuah keuntungan dengan hanya menjual makanan cepat saji. Usahanya pun terus berkembang hingga bisa mencapai 350 outlet di seluruh Indonesia. Namun, bisnisnya akhirnya berhenti karena pebisnisnya sudah mulai banyak sejak 2009- 2010. 
 
Barulah kemudian, ia memiliki bisnis lain yaitu salak pondoh yang menjadi kuliner khas Yogyakarta.

Kenal Pengusaha Decky Suryata


Dicky berserta istrinya sama- sama mensurvei pasar. Ia juga menemui para petani salak pondoh. Dan dari apa yang didengarnya kenyataan sungguh sangat menyedihkan. Dia menjelaskan bahwa bila musim panen, harga salak para petani anjlok dan hasil panen dibiarkan busuk. 
 
Jadi tiap kali pa­nen, petani menggali tanah lagi untuk menimbun salak busuk itu sebagai pupuk. Lebih parah lagi bila tiba musim buah musiman seperti durian dan rambutan, harganya semakin jatuh.

Bertolak dari kepedulian itulah dia dan istri mau membeli hasil panen petani lebih tinggi dari para pengepul. Lalu, apa yang dilakukannya, bersama istrinya malah mencari- cari cara mengolahnya. Biar gak terbuang apa yang sudah dibelinya. 
 
Di Yogyakarta sendiri, salah pondoh bakan seolah menjadi limbah karena memang saking banyaknya dan terkadang tak terjual baik. Dikatakan Decky lagi, padahal jika di luar Yogyakarta, salak pondoh sangat diminati masyarakat, bahkan harganya cukup mahal, tapi disini seperti 'sampah'.

"Atas dasar itu, saya memikirkan bagaimana 'sampah' ini bisa jadi 'emas', muncu lah ide dijadikan makanan seperti cake, sirup dan bakpia, apalagi bakpia isi salak belum ada di daerahnya yang terkenal juga dengan makanan khas bakpia-nya," tuturnya.

Tapi masalahnya, kata Decky, dirinya tidak punya keahlian membuat cake, sirup apalagi bakpia. Tak patah arang, dia bersama sang istri cari- cari resep, mulai cari di-internet, resep warisan keluarga. 
 
Dengan berbagai macam percobaan akhirnya ketemu resep andalan dan rahasia brownies dan bakpia dari buah salak pondoh. Sebagai tambahan sang istri tidalah pandai memasak. Semuanya mereka lakukan secara otodidak malah juga secara eksperimental.

"Istri saya, kan, tidak punya basic  memasak. Makanya saya kumpulkan aneka resep kue. Akhirnya ketemu brownies kukus salak pondoh. Saya mempromosikannya lewat media sosial. Begitu kue keluar dari kukusan dan bentuknya sudah kelihatan bagus, saya foto. Langsung saya  upload.  Soal rasa belakangan, hajar saja," celetuknya.

Waktu itu ia menjaslak hanya bermodal sekitar Rp 4 juta- an, itu pun sebagian merupakan hasil pinjaman. Dari modal itu, dia dan istri membeli berbagai perlengkapan seperti membeli mixer, baskom, oven kecil dan bahan baku pendukung. 
 
Dengan berbagai resep dari internet, resep orang tua, buku dan lain- lain di mix begitulah rahasia suksesnya. Hasilnya bagus banyak peminat ingin mencicipi produk buatannya itu. Sambil jalan, ia mulai membenahi kue kukus tersebut agar rasanya lebih baik.

Suatu ketika ada chef yang menghampirinya; bertanya berapa telor dipakainya. Bukannya mengkomplain malah si chef membeberkan jumlah telor seharunya. Lumayan lah bisa belajar gratis pikirnya. Produknya itu pun dibeli pula oleh dia imbuhnya. Ia mengaku:

"Tapi kami tidak mau menyerah, akhirnya dapat adonan dan hasil brownies yang pas, sari salak terasa dilidah dan menarik. Dari resep itu, kami keliling ke tetangga, keluarga dan kerabat. Alhamdulillah responnya bagus dan laku, dengan hasil penjualan tersebut kami putar lagi beli buat beli bahan dan dijual lagi," terangnya.

Meski sudah memiliki kebun salak sendiri hasilnya kurang saking larisnya. Padahal dahulu hasil buahnya itu hanya dijadikan pupuk kompos pada 2008- 2009, sekarang justru dibutuhkan banyak. Produksi dari kebun salak diolah beragam seperti bakpia salak, dodol salak, sirup salak dan lainnya. 
 
Perlu ada trobosan karena ia tak mampu berbisnis sendiri. Lalu ide untuk memiliki petani binaan terpikir agar bisa fokus antara bisnis dan bahan baku.

"Susah kalau saya harus tambah luas kebun salak saya, beli? Bisa juga, tapi saya lebih berpikir lebih baik membina petani salak yang banyak di daerah tempat tinggal saya di Danikerto, Jawa Tengah," kata Decky.

Hingga akhir 2009 dirinya sudah memiliki 5 petani binaan. Namun sukses yang didapat Decky saat itu harus berakhir saat bencana Gunung Merapi pada Oktober 2010 menerjang desanya. Otomatis ia kini kembali menjadi pengangguran lagi,

"Saya jadi pengangguran lagi. Biar irit, tiap hari kami makan di warung  angkringan," celetuknya lagi.

Kebunnya dan kebun petani binaan serta harta lainnya porak poranda diterjang wedus gembel (awan panas) dari gunung Merapi. Habis semua hasil jerih payahnya, namun dia bukan lah pengusaha yang mudah untuk putus asa. 
 
Dengan harta yang tersisa dia dan istrinya mulai menata kembali hidup dan usahanya.

"Tinggal melanjutkan saja yang kemarin, resep andalan sudah ada, pelanggan setia tetap setia, dan kebun kita perbaiki kembali, dan sampai hari ini, semua berjalan seperti semula, usaha brownies salak pondoh terus maju," katanya

Tahun 2011 laba bersih usaha Decky tersebut sudah mencapai sekitar Rp 50 juta. Saat ini dirinya justru semakin berjaya setelah gagal dan bangkru, ia sudah mempunyai 'showroom' brownies setara 3 (tiga) ruko berlantai 2 yang dengan luas lapangan parkir yang dapat menampung 5-7 bus besar. 
 
Brownies salak pondoh dan bakpia andalan Decky tersebut diberi nama Salaka dengan nama toko Terminal Sukses. Produk jadilah Brownies Salaka sendiri dijual Rp 30.000 per kotak dan Bakpia salaka dibandrol Rp 25.000.

Decky pun membuka peluang bagi yang ingin menjalin kerjasama dengannya. Kamu berminat? Ia beralamat di Danikerto, RT 01 RW 07, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Jogjakarta.

Usaha Dendeng Daun Ubi Diekspor Sampai Abu Dhabi

Profil Pengusaha Ernawati

 
dendengdaun.png
 
Serius usaha ini mampu diekspor sampai Abu Dhabi. Usaha dendeng daun ubi tersebut dijalankan emak- emak perkumpulan. Ernawati, 51 tahun, yang mengajak ibu- ibu sekitar bekerja bersama. Ernawati sendiri sebelum menggagas perkumpulan, adalah pembantu rumah tangga.
 
Dia menjadi pembantu sebuah keluarga. Lalu Bu Erna menjajal aneka wirausaha sampai sekarang. Dulu dia pernah berjualan mie ayam dan martabak. Kini Bu Erna berusaha dendeng daun ubi dimana bermula pelajaran.

Tahun 2007, usahanya dirintis berbekal ajaran seorang guru ajar. Kemudian dia lanjut diajari kelurahan lewat Dinas UMKM, mulai dari pengemasan, legalitas, desain produk, pembukuan, dan bertahap. Intinya Erna dilatih bertahap dan tidak enggan mencari pelatihan.

Ia pun menjelaskan kenapa memilih membuat usaha dendeng daun ubi: Dia beranggapan ada keunikan yang ditawarkan. Ernawati menjelaskan sekali produksi bermodal Rp.50 ribu. Memproduksi 100 bungkus dendeng ubi.

Itu buat membeli pekingan. Sementara bahan baku tinggal mengambil di kebun sebelah rumah. Usaha ini melejit semenjak dibawa sampai Abu Dhabi. Kini perminggu memproduksi 300 bungkus dan omzet mencapai Rp.17 juta.

Cerita gimana awalnya mereka mampu menjual sampai Abu Dhabi. Dijelaskan, awalnya dititipkan di sebuah perumahan, dan mereka (orang Abu Dhabi) menelphon nomor yang dipasang. Mereka telephon nomornya di banner buat membeli oleh- oleh.

Mereka membawa produk mereka sampai Abu Dhabi dan Malaysia. Usaha berikut dimulai merebus daun ubi sampai empuk, kemudian ditiriskan sampai kering, lalu dipotong kecil. Bumbu tumbar lalu dihaluskan, bawang putih, bawang merah, merica, dan digiling menjadi satu.

Dimasukan telur agar lengket dengan tepung sebagai pengikat, kemudian daun diiris kecil- kecil lalu dibungkus. Setelah adonan rata kemudian dipadatkan ke loyang diberi minyak, lalu dikukus sampai keras sekitar sejaman.

Dinginkan lalu potong- potong dikeringkan setengah hari, lama kering tergantung cuaca kemudian itu digoreng. Usaha ditengah pandemi tentu tidaklah mudah dilalui. Berkat permodalan KUR dari BRI, Ernawati mampu menaikan pendapatan 2- 3 kali lipat dari pendapatan Rp.10 juta.

Seperti diceritakan Detik.com, Ernawati pun didapuk menjadi pembicara kewirausahaan. Bu Erna telah menjadi role model bagi mahasiswa berbisnis.

Bisnis Waralaba Bubur Ayam Kisah Pengusaha

Profil Pengusaha Muhamad Suci Mardiko

  

usahabuburayam.png
 
Kisah pengusaha Muhamad Suci Mardiko merintis visi usahanya. Dia adalah pemilik bisnis waralaba bubur ayam Buburqu. Asli Kota Pasuruan, yang lantas melesat cepat, dimana gerai usahanya yang satu menjadi 70 gerai di penjuru Indonesia. 
 
Menjadi pengusaha nampaknya sudah  jadi obsesi berat bagi pria satu ini sejak dulu. Demi menggeluti passion bisnis, lelaki kelahiran Gresik, bahkan rela untuk meninggalkan statusnya sebagai manajer di sebuah perusahaan asing yang cukup bonafid di Pasuruan, Jatim. 

"Saya pengin mencoba menggunakan otak kanan saya dengan menjadi entrepreneur," katanya.
 
Usaha MS Mardiko telah dimulai sejak 2006 -an, seperti apa sih kisahnya, seperti apa prospek yang akan ditawarkan oleh Koko, begitu pria ini akrab disapa. Gila, memilih keluar dari perusahaan bonafit hanya untuk jadi wiraswasta, apa hal yang membuatnya begitu nekat. 
 

Karir Pengusaha

 
Tak ada yang khusus hanya mencari pengalaman baru saja. Walau pada awalnya sempat terasa ngos- ngosan dengan modal pas- pasan, toh, keberaniannya untuk melepaskan jabatan telah terbayar. Justru dengan pengalaman selama menjadi manajer membuatnya lebih kreatif dan pandai. 
 
Dia kini dikenal sebagai juragan bubur. Juragan bubur? Ya, julukan baginya dari bisnis bubur, Bubur' Qu. Sebagai catatan Koko merupakan pelopor usaha berfokus pada bubur ini. Selanjutnya muncul- muncul usaha sejenis dari bubur bayi atau pun bubur organik. 
 
Dia adalah pelopor bisnis waralaba bubur ayam. Melalui sistem kemitraan membangun puluhan gerai, ia kini sanggup memberikan lowongan pekerjaan yang luas. 

Ditangan Koko, bubur jadi usaha modern yang cepat tumbuh pesat. Bapak dua anak ini kehidupannya telah berubah drastis. Bukan cuma tentang pendapatan tapi ketenangan hidup. Ia terhindar dari rutinitas monoton yang dirasakan dipekerjaanya sebagai karyawan saja. 
 
Makanan dari bubur ini ternyata layak disandingkan dengan berbagai makanan siap saji. Konsepnya Koko menjual aneka macam bubur, ada empat varian rasa yang akan disajikan Bubur’Qu.

Masing- masing ialah Bubur Jakarta, Bubur Manado, Bubur Sukabumi dan yang khusus, bubur Champion. Untuk menjaga kualitas waralabanya, perlu dicatat, Koko memastikan bahwa tiap gerai dapat bumbu yang sama. 
 
Ada standarisasi pada bumbu untuk memastikan rasa dari gerai di Jakarta akan sama dengan gerai di daerah lain.

"Mereka yang merasakan bubur saya di Kalimantan haruslah merasakan rasa yang sama dengan mereka di Sumatera dan Jakarta," ujar Koko kepada VIVAnews.

Pria lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini tau betul bahwa bubur merupakan jenis kuliner yang cepat basi jika didistribusikan secara langsung. Oleh karena itu, ia mengajarkan kepada pewaralabanya bagaimana cara membuat buburnya sendiri dan bumbunya akan dikirim nanti.

"Jadi, buburnya diproduksi secara lokal. Kami hanya beri bumbu racikan dan bagaimana caranya, mereka yang mempraktikkan," ujarnya.

Pihaknya akan rutin mengirimkan bumbu untuk bubur, topping, dan bumbu kuah kepada pewaralabanya. Hal itu yang membuat standar semua outlet sama. "Mungkin hanya beras yang berbeda, untuk topping, mereka tinggal mengukusnya," ujarnya.

Sejak awal niatnya membuka usaha memang untuk franchise. Konsep waralaba yang membuatnya membara semenjak dia mengikuti program besutan pendiri Primagama. Sudah sangat berkobar- kobar didadanya begitu Koko mengistilahkan dirinya pertama kali. 
 
Ide semenjak mengikuti program Entrepreneur University (EU) besutan Purdi E Chandra, ia telah bertekat. "EU memang banyak mengubah mental saya dalam menjalankan bisnis," imbuhnya. Dengan sistem franchise, gerai Bubur’Qu bisa ditemukan di berbagai kota di Indonesia dan kini terus tumbuh. 
 
Perkembangan gerai Bubur’Qu, bisa dibilang cepat. Sejak kehadirannya di akhir tahun 2006 -an, kini gerainya telah mencapai di atas angka 30 cabang dan yang terakhir mencapai 70 gerai, dimana yang miliknya sendiri hanya ada dua. 
 
"Dalam waktu dekat kami akan segera membuka di Jakarta dan Jawa Barat," ungkapnya. Ia tercatat memiliki 70 outlet Bubur'Qu di seluruh pulau besar di Indonesia, kecuali Papua. 
 
Koko yang kini mantap bermukin di Pasuruan, Jatim ini menyatakan, banyak pemilik modal yang ingin menjalankan bisnis Bubur’Qu, lebih karena minimnya investasi dan kemudahan menjalankan bisnisnya itu. 
 
Jelasnya lagi ada dua cara menjadi mitra yaitu sistem pengelolaan pribadi atau sistem waralaba autopilot. Sistem waralaba dengan pengelolaan pribadi, menurut Koko, berarti kamu akan mengelola sendiri gerainya dan keuntungannya sepenuhnya dimiliki pewaralaba. 
 
Sedangkan sistem waralaba autopilot adalah sistem investasi murni, di mana pewaralaba mempercayakan gerainya kepada manajemen dan tiap bulannya keuntungan akan dibagi dua, selesai. 

"Dengan sistem investasi murni, kami perkirakan akan balik modal pada bulan kedelapan. Paling lama mungkin 12 bulan untuk modalnya kembali," ujarnya.

Untuk memastikan gerainya berjalan dengan baik, Koko mewajibkan pewaralaba mendatangkan trainer yang telah disiapkan. Hal ini dilakukan agar sajian buburnya bisa memiliki standar yang sama. Untuk memulai bisnis ini siapkan dana berkisar 20 jutaan sebut Koko lagi. 
 
Bermodal itu, kamu akan diberikan seperangkat peralatan produksi lengkap, mulai dari gerobak, kompor hingga peralatan saji. Selain itu, sudah termasuk jasa franchise fee selama lima tahun. 

"Jadi selama lima tahun, mereka tidak usah memikirkan royalti kepada kami," kata Koko lagi. Dia juga rajin melakukan inovasi yang tentu akan dibagikan ke para mitranya. Tujuannya agar bisnis ini selalu disukai oleh semua orang. Dia bahkan punya target 100 gerai lagi tahun ini.

Bila dikelola dengan baik, berdasarkan perhitungan yang matang, maka tingkat pengembalian modal dari waralab Bubur’Qu terbilang cepat. Berdasarkan pengalaman yang sudah terjadi, tingkat ROI (Return of investment) hanya pada hitungan bulan, tidak sampai tahunan lah. 
 
Saat ini, rata- rata ada pada angka 6- 8 juta perbulan. Ini sungguh tawaran yang menggiurkan tapi tetap itu ada di diri kita masing- masing, jelasnya lagi "Perhitungan ini, sudah termasuk semua biaya operasional."

Cara berjualannya ada beberapa pilihan pula. Ada model tenda tapi bisa pula dibuka dengan model resto yang bisa dijalankan di mall atau ruko. Semua tergantung kepada mitra saja begitu jelasnya. "

"Dibuka dengan tenda maupun di ruko oke-oke saja," papar Koko lebih lanjut. Selama ini Bubur’Qu memang sengaja menyasar kalangan menengah bawah. Dengan harga kisaran rata-rata Rp 5-6 ribu, pasti akan terjangkau oleh mereka yang memang memiliki kegemaran makan bubur. 
 
Harga ini tentu relatif masih murah meriah. Apalagi untuk ukuran kota besar seperti Surabaya, Jakarta atau Denpasar. Dan ternyata darah wirausahawan ada didalam dirinya. Tak haren pilihan keluar dari perusahaan merupakan satu tanda gejolak darahnya. 
 

Waralaba Bubur

 
Ketika masih kuliah di ITS, pernah bersama rekan- rekannya ia sempat mendirikan lembaga bimbingan belajar. Ia memang memiliki obsesi untuk menyaingi Primagama awalnya, takdir telah menjadi bubur. Untuk mendirikan bimbel itu ia bahkan meminta dimodali orang tuanya. 
 
Meski begitu, gagal, dan berhenti di tengah jalan; Koko tak kapok. Hal itu terjadi, karena beberapa kawan harus mundur tanpa pamit karena meneruskan profesi lain. "Bimbel sebenarnya bagus, tapi karena kawan-kawan tidak serius ya akhirnya layu sebelum berkembang," ujar Koko bergurau.

Yang menarik pertama kali membuka gerai bubur, Koko langsung membuka dua gerai. Pertama, ia sengaja memilih lokasi di kawasan Industri PIER Pasuruan. Ia sengaja menyasar konsumen, para karyawan pabrik di mana dia pernah bekerja dulu. 
 
Hal ini sengaja dia lakukan untuk menguji mentalitasnya. "Ternyata saya tidak merasa malu, dari seorang manajer pindah pekerjaan sebagai penjual bubur," kata pria kelahiran Gresik tigapuluh lima tahun silam ini.

Di luar dugaan buburnya menarik banyak perhatian. Awalnya yang banyak membeli memang kawan- kawan di bekas perusahaannya dulu. Tapi seiring dengan perjalanan waktu, kian banyak konsumen dari perusahaan lain di kawasan industri tersebut. 
 
"Saya menangani langsung, dari proses produksi sampai menjual," katanya. Dan dari sana pula ada orang yang tertarik untuk ikut menjajal bisnis buburnya. Ada orang yang minta ijin untuk ikut membuka gerai Bubur’Qu.

Koko lantas menangkap kesempatan itu, mulai mengembangkan sayapnya melalui cara waralaba. Dan, dalam tempo enam bulan, ia telah memiliki enam gerai di beberapa kota di sekitar Jawa Timur. Setelah itu Bubur' Qu mulai mengikuti beberapa kali pameran, bisnis Bubur’Qu terus berkembang. 
 
Makin banyak orang yang berminat untuk ikut membuka gerai. Rendahnya investasi dan gampangnya mengelola bisnis ini agaknya menjadi daya tarik tersendiri. Koko mengaku untuk resepnya ada perjuangan sendiri. 
 
Ia harus bekeliling Jawa untuk mendapatkan resep di setiap buburnya, "saya mendapatkan resep dari pemiliknya langsung," ungkapnya.

Bisnis Rengginan Wirausaha Ibu Rumah Tangga

Profil Pengusaha Ooy Khadijah

 

bisnisrengginan.png

Wirausaha ibu rumah tangga berikut dapat dikembangkan. Bisnis rengginan bermula keinginan menambah penghasilan. Dia single parent memenuhi segala sendiri. Dari mengurusi rumah tangga, anak- anak, dan bekerja berpenghasilkan pas- pasan.


Wanita bernama lengkap Ooy Khadijah berkisah. Bermula kegundahannya menyiapkan masa pensiun. Dia bekerja namun berpenghasilan pas- pasan. "Kerja tetapi bukan berarti lebih, cukup- cukup saja. Semantara saya punya lima anak dan single parent," jelasnya.


"Saya mikir saya harus punya usaha tambahan," tekat Khadijah. Dimana dia lalu lungkan waktunya berbisnis aneka frozen food. Jatuh bangun dirasakannya ketika merintis usaha.


Banyak Usaha


Usaha bernama Mak Cicih merupakan bentuk mengenang. Namanya diambil dari nama orang tua, dan diharapkan memperbaiki ekonomi keluarga. Di 2012, usahanya dimulai, dari usaha frozen food sampai membuat rengginan.


Bisnis rengginan dan lain- lainnya pernah beromzet ratusan juta. Khadijah menjelaskan semua dimulai ketika melihat anaknya. Dia mengatakan anaknya doyan menyantap makanan ringan. Bisnis rengginan kemudian disulap kekinian lewat aneka rasa.


Pengusaha wanita asal Sumedang, Jawa Barat ini, bermodalkan Rp.1 juta kemudian kembangkan aneka rasa atau topping. Modal usaha segitu dibelikan bahan baku rengginan. Dia membeli bumbu- bumbu sampai beras yang dimasak sampai kering itu.


Produksi pertama diberikan kepada tetangga. Dia ingin melihat respon mereka. Karena bagus, dia akan pasarkan keluar dimana awal masih original. Khadijah membuat rengginan original yang banyak orang pasarkan. Khadijah nekat memasarkan rengginan tersebut ke toko oleh- oleh.


Tepatnya dia menitipkan toko di sekitaran stasiun kereta Depok. Betapa kagetnya ketika mendapatkan respon dari pemilik toko. Mereka mencari maki Khadijah karena jualan mahal. Isinya sama saja seperti produksi biasa tetapi malah mahal.


"Karena rangginan itu banyak yang jual, akhirnya banyaklah cacian, makian, ya seperti itu pengalaman saya," imbuhnya. Proses menitipkan jualan tidak berjalan lancar. Namun ia tetap semangat, walau dicaci dimana- mana, ya tidak boleh berputus asa.


Dia berpikir tidak bisa kalau putus asa begini. Kan usianya sudah menginjak 53 tahun, dan masih punya tanggungan. Khadijah berpikir tidak bisa begini karena harus pensiun. "Saya niat mau keluar kerja, umur saya waktu itu sekitar 53, tapi saya mau usaha sendiri," ujarnya kepada Detik.com


Dan bisnis rengginan berlanjut, kisah wirausaha ibu rumah tangga ini belum selesai. Dia menelan semua cacian makian. "Akhirnya cacian, makian, ejekan orang itu saya jadikan sebagai bahan pemacu saya jangan sampai orang merendahkan makanan bangsa, disebut makanan jadul," imbuh Khadijah.


Pengusaha dicaci, diejek, dimaki merupakan penyemangat. Dia ingin mengembangkan bisnisnya. Maka ia tidak segan mengikuti pelatihan UMKM Pemerintah Depok. Program tersebut memberikan pelatihan pemasaran produk dan marketing.


Rangginan buatannya telah dirancang sedemikian rupa berbeda. Dibuat bulatan kecil hingga kalau nanti dimakan sekali suap. Tidak akan menyisakan potongan kecil rangginan jatuh. Tidaklah cuma bentuk, ia mengambangkan aneka rasa dari manis sampai asin.


Bayangkan rangginan rasa cokelat, blueberry, dan greentea selain pedas manis. Dalam kerja kerasnya selama setahun mampu menaikan omzet. Dia pun mampu memasuki pasar ritel. Ada 10 pasar ritel yang diterima tawaran kontraknya.


Keuntungan kerja sama menjadi dukungan usaha frozen food. Melalui rangginan, ia membuat dan juga mengembangkan aneka makanan beku. Pandemi COVID 19 memberikannya ide membangun bisnis tangguh ini. Usaha frozen food tersebut sekaligus jawaban turunnya omzet rangginan.


Dampak kebijakan pemerintah membuatnya kesulitan memasarkan. Dikarenakan pasar ritel merupakan salah satu terdampak pembatasan sosial. Penurunan permintaan dari 10 ritel harus disiasati agar modal terus berputar.


Caranya dia menambahkan varia produksi melaui frozen food. Ia membuat pisang lumer beku. Pisang yang dibungkus coklat dan kulit lumpia. Memang makanan beku sangat cocok menghadapi virus corona ini. 

 

Bisnisnya yang tetap laku seperti berjualan pisang keju, pisang coklat keju, nangka goreng, nanas goreng, tape keju dan tape coklat. Produknya laris manis, karena masa pandemi orang dilarang keluar bila tidak perlu.


Produk makanan beku membawanya meraup omzet Rp.200 juta perbulan. Waktu penjualan Juli masa pandemi sampai Rp.200 juta. Kaget karena biasanya cuma Rp.4 juta, Rp.6 juta, dan tinggi- tingginya Rp.12 juta.


Walau dia berhasil jualan produk beku bukan berarti pensiun. Dia masih berjualan rengginan. Tetapi dia tidak menyetok dalam jumlah banyak. Dia menceritakan rahasia suksesnya, bahwa dia menemukan distributor lewat sosial media Facebook.


Khadijah memiliki 8 distributor, 10 agen, dan lebih dari 50 reseller. Berkat inilah dia mampu menjual lebih banyak walau margin tergerus. Buat rangginan sendiir memang hasilkan sedikit. Walaupun dia mampu menjual sampai ke Provinsi Aceh.


Produk frozen food lebih banyak dipesan Jabodetabek dan Semarang. Buat menambah kapasitasnya dipekerjakanlah 20 orang tetangga. Mak Cicih memberikan mereka gaji mingguan. Memang sejak awal Khadijah tidak berorientasi uang, melainkan juga harus mampu membahagiakan orang lain.

Kursus Barista Pasar Santa Pengusaha ABCD Coffee

Profil Pengusaha Hendri Kurniawan

 
kursusbarista.png
 
Pengusaha pemilik usaha ABCD Coffee tidak menyangkan. Pilihannya membuka kursus barista di Pasar Santa meramaikan. Tempat belanja masyarakat yang sepi berubah menjadi berkelas. Dimana di sana tidak sekedar belanja, tetapi orang bisa nongkrong sambil minum kopi.
 
Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, selintas tampak lah seperti pasar biasa tapi ada satu fenomena. Dia lah Hendri Kurniawan, seorang pemegang lisensi Q Grader (pencicip kopi) dan juri Kompetisi Barista Internasional. 
 
Bukannya memilih berbisnis di pusat perkentoran, ia malah menyewa kios yang terdiri atas tiga los yang dibuka sejak Agustus 2013.
 

Membuka Cafe Pasar Santa


Desain bangunan tiga lantai itu tak berbeda dari pasar pada umumnya. Yang membedakan pasar dari pasar yang dikelola perusahaan daerah ialah atmosfer bisnisnya. Pasar tersebut memang memiliki tiga lantai, yakni di basement, lantai dasar dan lantai 1. 
 
Nah, di lantai satu lah pengunjung pasar akan disuguhi satu hal yang tidak lazim di pasar tradisional kebanyakan. Ada kios- kios berukuran 2 x 2 meter yang berdekorasi unik. Di lantai itu lah, ada sekitar 350 kios, salah satunya milik Hendri.

Kios A Bunch Bunch of Caffeine Dealer atau yang biasa disingkat ABCD milik Hendri, sukses membuat Pasar Santa menggeliat setelah mati suri sejak dibuka pada tahun 2007. 
 
Awalnya, kios tersebut yang disewa Hendri hanya dimanfaatkan sebagai tempat belajar membuat kopi dan menaruh barang- barang. Ketika itu Hendri memang tengah merintis usaha bukan coffee shop, tapi sekolah barista. 
 
Kenapa Pasar Santa dipilih, ya memang karena harga sewa stannya yang cukup murah, yakni Rp 3 juta per tahun.

"Sewanya murah karena pasar ini dulunya sepi. Bahkan bisa dibilang mati suri sejak diresmikan tujuh tahun silam," ujar Hendri.

Dulu, lantai 1 tempat ABCD ini berdiri kebanyakan dihuni para penjual perhiasan. Mungkin karena promosi yang gagal maka pembeli yang datang di sana jarang. Kios- kios ini pun ditinggalkan penyewanya. 
 
Menurut sejumlah pedagang di pasar, sejak satu tahun lalu, sebelum kios milik Hendiri berdiri, tempat itu sepi kurang ada aktifitas jual- beli. Geliat hanya ada di basement yang merupakan tempat basah untuk berjualan sayur- mayur. 
 
Mereka yang datang hanya ibu- ibu atau asisten rumah tangga yang berbelanja.

"Beberapa bulan setelah sewa di sini, saya janji ke pengelola pasar untuk bisa membantu meramaikan pasar ini," kenangnya. Dari situ, munculah konsep membuka coffee shop yang diberi nama ABCD. Kios itu pun kemudian disulap dengan desain sedemikian rupa.

Menarik ketika ABCD pada momen tertentu tidak memberikan tarif untuk kopi racikannya. Padahal kopi yang dijual disana banyak kopi- kopi premium. Pelanggan datang hanya akan disediakan toples untuk diisi uang seiklasnya. 
 
"Kami tak menetapkan tarif karena biji kopi yang kami miliki juga berasal dari pemberian teman- teman," ujar pria yang akrab disapa Phat Uncle itu.

Pada momen tertentu, ABCD juga menjual kopi yang langka. Salah satunya panama geisha coffee bean. Ada penyajian khusus untuk kopi satu ini. Sebelum meminum, para pembeli diajari menghirup aroma kopi sebelum diseruput. Tujuannya, mengetahui kualitas kopi tersebut. 
 
Kopi yang diimpor dari Panama itu memang premium, di pasaran harganya dibanderol lebih dari Rp 5 juta per kilogram. Sedangkan kalau sudah diseduh, satu cangkir dihargai USD 13, di ABCD, kopi tersebut dibanderol Rp 65 ribu per cup.

Kekuatan media sosial lah yang membuat kopi ini digandrungi. Menyebar secara viral di sosial media. Itu telah sukses membawa banyak pengunjung datang ke Pasar Santa. Apalagi tempat ini menyediakan berbagai even menarik. 
 
Lantaran biji kopi itu katanya berasal "gratisan", maka berbisnis bukanlah sesuatu yang mesti. Meski bukannya tak tentu, keberadaan ABCD menjadi roda baru bagi pasar tradisional.

"Mengetahui harga sewanya murah, banyak orang yang mulai menyewa dan membuka usaha di sini," ujar pengusaha ABCD Coffee.

Saat ini sudah ada seratus orang yang masuk waiting list untuk menyewa kios. Rencananya juga Pasar Santa ini akan diresmikan ulang oleh Plt Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 1 November mendatang.

Di lantai 1 Pasar Santa tak lagi sepi seperti sebelumnya. Banyak pengusaha berkumpul berbisnis disana. Ya, kebanyakan mereka adalah anak muda yang membuka bisnis kreatif seperti kuliner hingga butik. Hendri sendiri ketika ditanya apakah merasa teraingi jawabannya: tidak.

Banyak sekali memang tokoh- tokoh terkenal yang ikut mampir ke kios ABCD. Tim dari Jawa Post pernah berkesempatan bertemu motivator Wiliam Wongso. Dia berkata sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Hendri dan kawan- kawanya.

"Apa yang ada di Pasar Santa ini menunjukkan betapa besar euforia masyarakat Indonesia terhadap kopi premium. Apa yang terjadi, menurut saya, melebihi apa yang terjadi di New York," ujar pria pemilik nama lengkap William Wirjaatmadja Wongso itu.

Sekolah kopi


Selain menjadi playground dan popup coffee bar tiap akhir pekan, ABCD ternyata selama ini menjalankan misi edukasi seperti konsep awalnya. Ditangan Hendri, tiap weekday, stan seluas 2 x 6 meter itu menyulap diri menjadi school of coffee. 
 
Meski tampak sempit para pelajar di sana begitu serius mengerjakan kelas kopi mereka. Jadi setiap weekday, coffee shop ditutup tak ada aktifitas jual beli di sana, Ini dimaksudkan agar para calon barista bisa berkonsentrasi dalam belajar mengolah bubuk kopi.

Menurut Hendri Kurniawan, owner ABCD Coffee Bar, pihaknya telah memiliki kurikulum yang jelas dalam pembelajaran barista.  Kurikulum yang disingkat ABCD. Kurikulum A yang diartikan sebagai Appreciation Class. 
 
Kursus barista Pasar Santa tidak sembarangan. Karena di sini siswa mulai dikenalkan segala tentang kopi, mulai jenis kopi sampai rasa dan proses roasting-nya.

Kurikulum B untuk Brewing Class. Kurikulum itu mengajarkan sisi teknis sebagai seorang barista. Mulai penggunaan alat sampai teknis penyeduhan. Kurikulum C diartikan Cupping Class. Kurikulum tersebut mengajarkan siswa sebagai pencicip kopi. 
 
Soal yang satu ini, Hendri memang ahlinya. Dia penyandang Licensed Q Grader. Kurikulum terakhir adalah DE atau Definitive Espresso Class. Bila sudah melewati pembelajaran itu, siswa sudah layak disebut barista. 
 
Sebab, di kelas tersebut lah Hendri mengajarkan detail cara membuat olahan espresso yang baik dan enak. Untuk ikut semua kelas, Hendri mematok tarif Rp.5 juta.

Menurut Bambang, keadaan pasar sebelum ABCD ada terlihat miris terutama di lantai 1 sepi dari penjual dan pembeli. Pria yang menjadi pengelola pasar sejak 2012 ini menyebut waktu itu ada 312 stan di antara total 1.151 stan.

"Itu pun yang terisi adalah stan pasar basah di lantai basement. Yang lantai satu (tempat ABCD), seluruhnya kosong," ujarnya. Pelan tapi pasti, kini sudah 350 kios di semua lantai disewa orang.

Menurut Bambang, ada sejumlah faktor yang membuat pasar yang didirikan pada 2007 itu mati suri. Yang pertama menurutnya lokasi pasar yang kurang strategis. Pasar Santa memang masuk ke Jalan Cipaku yang tidak termasuk jalan utama. 
 
Jalan yang hanya selebar sekitar 6 meter. Jika ada mobil parkir di tepi jalan tersebut, kendaraan lain akan terhambat. 
 
Selain itu ada serbuan minimarket menjamur di sekitar Jalan Santa sendiri. "Faktor lainnya ketika itu mulai banyaknya PKL di luar. Akibatnya, yang jualan di dalam pasar jadi sepi," jelasnya.

Dari situlah Bambang mulai berpikir bagaimana meramaikan Pasar Santa. Sampai akhirnya, dia bertemu seorang Hendri yang awalnya menyewa stan di Pasar Santa hanya untuk tempat menyimpan barang.

"Mas Hendri ketika itu menyampaikan gagasannya agar kios-kios di lantai dua disewakan pada bisnis yang memiliki pangsa pasar komunitas anak muda," ungkapnya.

Cara Hendri memang kreatif dalam membantu Pasar Santa itu ramai lagi. Berbagai cara kreatif misalnya mengundang sejumlah komunitas pecinta kopi. Salah satunya Maryam Rodja dengan komunitas Baraka Nusantara-nya. 
 
Selama ini, dia mendampingi petani miskin di kaki Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Blog:  abunchofcaffeinedealers.wordpress.com

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba