Usaha Kerupuk Kulit dan Rempeyek Sederhana

Profil Pengusaha Elvi Marlina dan Dedi Irawan

 

usaharempeyek.png
 

Pengusaha sukses berikut mengajarkan jangan malu. Usaha kerupuk kulit dan rempeyek sederhana, tetapi nikmat dijalani. Dia mampu mensekolahkan anak. Punya rumah, menguliahkan anak, beli rumah, mobil dan juga beberapa kendaraan lain.


Awal pasangan Dedi Irawan dan Elvi Marlina, warga Lorong Cendana, Kelurahan Solok Sipin, dimana usahanya masih berupa aneka kerupuk. Terutama mereka membuat kerupuk kulit kerbau dan sapi. Lalu bertahap mereka membuat aneka rempeyek.


Usaha jajanan bernama Moza Snack menghasilkan. Dedi memproduksi kerupuk gurih, rempeyek udang dan teri, peyek tempe dan makanan lain. Elvi dan suami menjalankan usahanya rumahan. Berkat modal pinjaman dari Telkom Jambi, senilai Rp. 32 juta buat membeli bahan dan mesin pembuat.


Naiknya, ketika keduanya tertarik membuat kerupuk kulit beraneka rasa, ini yang sangat diminati masyarakat Jambi. Tidak memiliki guru khusus maupun bakat usaha. Mereka melakukan sendirian dan pertama kali mereka membikin kerupuk.


Berkat browsing internet mereka menghasilkan banyak produk baru. Kerupuk kulit aneka rasa sangat diminati masyarakat. Pasangan pengusaha sukses ini memiliki tujuh karyawan, dan memproduksi empat ribu bungkus kerupuk kulit rasa.


Satu bungkusnya dijual Rp. 9000 tinggal dikalikan 4000 sehari. Mereka juga memproduksi rempeyek dan habiskan 20 kg tepung. Rempeyek Moza memiliki ramuan khusus hingga enak dan gurih. Yakni udang dilumat diadon tepung, dan dimasukan aneka bumbu rempah dan ditaburi ikan teri diatasnya.


Rempeyek istimewa tersebut menjadi andalan mereka lain. Moza Snack memiliki prospek. Dan produk Moza Snack sudah dikirim keluar Sumatra Selatan. Dijajakan di Jambi, Moza Snack sudah masuk ke supermarket dan minimarket. Mereka berencana mengirim sampai ke Pekanbaru dan Lampung.


Ternyata usaha kerupik kulit dan rempeyek sederhana menguntungkan. Walau mereka enggan buat menyebutkan angka. Bila harga Rp. 9000 dikali 4000 perhari, maka mereka menghasilkan setidaknya satu miliar rupiah perbulan kotor.

Kerajinan Kulit Kerbau Pengusaha Wanita Parni Margono

Profil Pengusaha Parni Margono

 
usahakulit.png
 
Pengusaha wanita Parni Margono bercerita usahanya. Dia menjual kerajinan kulit karbau asli. Tidak disangka- sangka, ternyata pilihan Parni mewarisi usaha keluarga tak sia- sia. Dia, Parni Margono, apa yang dilakukannya hanyalah memanfaatkan kulit hewan Rajakaya. 
 
Jika kamu tak tau apa itu Rajakaya, ialah mereka- mereka hewan- hewan berkaki empat seperi kerbau. Dari kulitnya binatang kerbau bisa dikaryakan sebagai berbagai aksesoris, seperti wayang kulit, kipas, lampu, gantungan kunci, bahkan pensil. 
 

Prospek Bisnis

 
Selain itu, ada juga produk pembatas buku, kap lilin/lampu, dan souvenir pernikahan. Parni sendiri tak ingat persis berapa dia keluarkan untuk modal. 
 
"Sebab, saat membuat sebuah model dan laku dijual, saya langsung mengembangkan model yang lain. Jadi, tidak bisa dipatok Rp10 juta untuk modal," kata wanita lulusan STM jurusan teknik bangunan tersebut.

Memang di wilayah (Karangasem) tempat tinggal Parni tekenal sebagai sentra wayang kulit. Kedua orang tua Parni juga menekuni usaha ini. Karena sudah sentralnya, ia tinggal melanjutkan apa yang orang tua ajarkan. 
 
Baru di tahun 1997, ia mulai fokus membuat berbagai pernak- pernik seperti  kipas, lampu, gantungan kunci, dan pensil. Selain itu, ada pembatas buku, kap lilin/lampu, dan souvenir pernikahan. Selain itu ia juga masih mengerjakan berbagai macam wayang kulit.

Nyatanya, usaha yang dijalani berkembang menjadi bisnis berprospek bagus. Berbagai kersjinan yang dibuatnya memang bagus dan lebih variatif, membuatnya mudah masuk ke pasar. Berapa besar yang didapat Parni. Jika dihitung harganya mulai dari Rp5 ribu sampai Rp1,5 juta per- itemnya. 
 
Yang Rp5 ribu itu seperti souvenir perkawinan, pembatas buku, dan gantungan kunci. Berbagai souvenir ini biasa digunakan untuk kepentingan kenang- kenangan pernikahan.dsb. 
 
Dan, yang Rp1,5 juta itu seperti wayang yang berukuran besar, misalnya Bima (tokoh wayang) dan gunungan jelas Parni.

Sebuah workshop dibukanya pada 1998 memproduksi berbagai aneka produk berbahan kulit. Kondisi saat ini, usaha Parni Margono lebih banyak memproduksi souvenir dibandingkan kerajinan Wayang untuk standar pedalangan. 
 
Produk kerajinan ini modelnya selain desain yang ada, desainnya juga bisa saja menyesuaikan keinginan konsumen. Pemesanan souvenir minimal 100 pieces sedangkan wayang satu buah pun tetap dilayani.

Bahan bakunya sudah ada disekitar tempat tinggalnya. Bahan kulitnya ternyata tidak hanya berhenti di kulit kerbau, adapula kulit sapi, kambing. Sebagai tambahan ia juga menggunakan tanduk baik kerbau ataupun tanduk kambing untuk tambahan.

Ada dua cara yang digunakan untuk membersihkan kulit hewan- hewan tersebut terang Parni. Pertama adalah cara tradisional dengan mengerok bulu kulit hingga halus manual. Ada pula cara modern yaitu dengan memakai bahan kimia. 
 
Kulit hewan ditebalkan dulu, lalu direndam dengan bahan kimia. Setelah itu, dipotong dengan mesin.Menurutnya, cara modern ini lebih murah.

"Kalau yang tradisional, saya dapat satu kulit potong dari satu lembar kulit. Kalau yang modern, saya dapat tiga potong kulit dari satu lembar kulit," kata dia kepada wartawan VIVAnews.

Setelah proses pengkulitan selesai barulah pola dibuat. Pola kemudian ditempatkan pada bahan kulit. Lalu kulit pun dipotong. Bentuk akan tergantung ketebalan serta warna kulit yang diinginkan.

"Setelah dipahat, tergantung konsumen, apakah ini mau dicat atau warnanya polos. Lalu, kalau bentuknya wayang, kami beri gagang. Langkah terakhir adalah produk ini tinggal dikemas," kata Parni.

Ibu dari dua anak itu tidak sendirian mengerjakan semua. Dirinya dibantu tiga karyawan tetap dan 15 tenaga lepas. Karyawan tetapnya adalah karyawan laki-laki, sedangkan tenaga lepasnya adalah ibu-ibu yang ada di lingkungan sekitar rumah Parni. 
 
Mereka diperbantukan ketika order kerajinan tangannya sedang banyak.

"Kalau sekarang, susah cari tenaga kerja. Kebanyakan anak muda lebih memilih bekerja di pabrik," kata dia.

Proses pembuatan kerajinan tangan itu pun dilakukan di rumahnya."Kalau ada borongan, mereka (tenaga lepas) membawa pekerjaan itu ke rumahnya masing-masing. Kalau sudah selesai, ya, kembalikan lagi kepada saya," kata Parni.

Kerajinan Kulit


Pengusaha wanita Parni Margono menggunakan berbagai jenis kulit. Jenisnya yang berbeda tergantung pada produk yang akan dibuat. Untuk wayang, menggunakan kulit kerbau sedangkan untuk souvenir menggunakan kulit domba dari pabrik. 
 
Parni memilih menggunakan kulit dengan harga terjangkau untuk menekan biaya produksi namun pengolahannya diperhatikan sehingga produk yang dihasilkan tetap berkualitas.

Kebutuhan bahan baku untuk saat ini 100 hingga 1000 lembar kulit. harga perlembar kulit ini mulai Rp. 9000 hingga 40.000 tergantung ukuran kulit. Parni dalam memproduksi souvenir ini dibantu tiga tenaga kerja tetap, 15 tenaga borongan dan 10 perajin yang menjadi suppliernya.

Selain memproduksi aneka kerajinan kulit, Parni Margono menerima jasa cetak hot print untuk kerajinan kulit. Harga cetak kulit ini Rp.125 perlembar dimana minimal pesanan untuk 100 buah. 
 
Pemesan cetak kulit bisa menggunakan desain buatan sendiri atau memesan desain sesuai keinginnanya. Untuk desain, pemesan membayar jasa desain mulai Rp. 70 ribu hingga Rp. 200 ribu tergantung ukuran dan kerumitan desain.

Ia mengaku produknya baru dijual di wilayah Yogyakarta saja. Akan tetapi, Parni menyebut produknya juga pernah dilirik turis asing. 
 
"Ada yang dari Jepang, India, Jerman, dan Australia. Orang Australia kebanyakan membeli wayang karena mereka memang senang wayang, sedangkan orang Jepang suka membeli pembatas buku yang kecil-kecil." ungkapnya kepada Bantulbiz.com

Info lebih lanjut hubungi :

Parni Margono
Pucung, Karangasem, Rt.01 Wukirsari, Imogiri Bantul
HP. 0813 2879 0707, 087 887 110 119, 0813 2834 8080, 0878 3905 1348
margono_parni@yahoo.com

Pengusaha Pekalongan Merintis Usaha Cendol Gading

Profil Pengusaha Nurul Huda

 

cendolgading.png

Simak kisah pemuda ini merintis usaha Cendol Gading. Pengusaha Pekalongan tersebut bernama Nurul Huda. Dia memiliki pengalaman panjang berwirausaha. Dimana dia merupakan penjual cendol keliling di kawasan Tegalaga, Bandung.


Huda memang datang dari keluarga penjual cendol. Dia hijrah ke Bandung dan berjualan sejak 1990 -an. Dia mengaku telah mempelajari aneka teknik dan ramuan cendol. Itu didapat dari ayahnya, yang lebih dahulu berjualan cendol.


Bisnis Cendol Keluarga


Huda mengatakan punya resep cendol sendiri. "Saya hanya lulusan SD saja. Jadi modal ilmu saya datang dari keluarga saya yang juga berdagang cendol di Tegalaga, Bandung," ucapnya. Pengusaha muda ini bercerita bekerja serabutan buat modal usaha.


Hadi cuma mampu mengumpulkan Rp. 350 ribu. Uang tersebut dipakai berjualan cendol di kawasan sama. Namun, Hadi ingin merubah nasib, maka dia memilih hijrah ke Jakarta buat berjualan cendol. Ia mencari jalan- jalan ramai di Jakarta.


Dia menemukan kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, dan Glodok, Jakarta Barat. Hadi cukup lama berjualan keliling. Sampai dia memutuskan berhenti dan akan membuka lapak. Uang diinvestasikan kemudian dibukalah lapak.


Keputusan Hadi ternyata sangat tepat membuka lapak. Dagangan cendolnya laku keras ketika jualan cendol di daerah Glodok. Hadi mampu meraup omzet sampai Rp.1 juta perhari. Itu sangat hebat karena tahun tersebut belum ada seramai miliknya.


"Saat itu belum banyak pedagang cendol yang selaris itu. Jadi geger dunia percendolan," kenangnya sembari tertawa lepas.


Menyadari racikan cendolnya memiliki keistimewaan. Huda ingin mengembangkan usahanya. Ia sadar, bahwa kalau cuma mengadalkan pengalaman, kesuksesan akan jauh diharapkan. Dia memang sudah lama dalam dunia pemasaran. Namun Hadi telah memiliki patokan sendiri mengenai makna sukses.


Hadi melihat pengusaha kuliner lain. Inilah mengapa dia tidak segan meminta bantuan. Lewat mentor yang notabennya pengusaha sukses, Hadi berharap usahanya akan tersebar keseluruh Indonesia. Lewat sistem kemitraan berharap usaha tersebut menyebar.


Tahun 2003 sampai 2005, dia dimentori Pak Wahyu Saidi, bos Bakmi Tebet, memberikan arah mana Hadi tempuh. Dia pun mengikuti aneka seminar pengembangan diri. Dia mengikuti aneka pameran produk UMKM. 


Hadi memutuskan mewaralabakan sejak 2005 silam. Awal perkenalan, brand Cendol Gading memang mendapatkan apresiasi masyarakat. Huda menawarkan paket kecil buat menjalankan brandnya. Cuma modal Rp. 3 juta sudah bisa membuka Cendol Gading.


"Waktu itu karena gak ada pemaian yang kecil, dan baru hanya saya saja, jadi ramainya luar biasa," ia menceritakan. Produknya 'booming' bukan main banyak penawaran. Banyak orang tertarik menjadi mitra Cendol Gading.


Sistemnya mudah, praktis, dan gampang dijalankan. Siapapun boleh menjalankan kemitraan Cendol Gading. Hadi pun menaikan brandnya lewat kemitraan Rp. 5 juta dalam kota, dan Rp. 7,5 juta untuk kemitraan diluar kota.


Brand Cendol Gading diharapkan akan berkembang menjadi kafe. Dimana dia akan menyuguhkan banyak makanan dan minuman, selain cendol. Dia mengembangkan banyak jenis cendol. Mulai dari cendol beras merah, cendol nangka, dan duren. 

 

"Saya ingin agar kami tidak hanya menjual cendol," tuturnya. Baginya kewirausahaan adalah mengenai etos kerja. Pengusaha harus menjaga mimpi- mimpi kedepan. Kalau kamu punya niat, menurutnya maka kamu akan menguasahakan segala daya upaya.


"Jadi kalau dari awal nita kita sudah yakin kita bisa, saya yakin jalan keluar akan dimudahkan," tutup Huda.

Biografi Pisang Goreng Madu Bu Nanik Pengusaha

Profil Pengusaha Nanik Soelistiowati 


bu nanik pisang goreng madu
  
Biografi pisang goreng madu Bu Nanik. Pengusaha yang mengawali lewat masalah kesehatan.  Hingga menjadi ide bisnis menguntunkan. Inilah kisah Nanik Soelistiowati dan bisnisnya yaitu pisang goreng madu Bu Nanik. 
 
Kini bisnis Nanik sudah dilirik pihak Istana Negara. Bermula dari satu pengalaman pribadi, penyakit diabetes membuatnya harus pilah- pilih makanan yang akan dikonsumsi.

Dia menemukan cara tetap bisa makan makanan manis. Tetap berasa manis tetapi nanti tidak akan mengganggu gula darah. Dia juga menambahkan bahwa keluarganya suka manis. Nah, jadilah dia coba berbisnis pisang goreng manis, dan keluarga dekatnya suka pisang goreng buatannya.
 

Pengusaha Pisang madu


Penyakit diabetes membuatnya sangat hati- hati. Bahkan makanan yang terlihat sehat belum tentu cocok. Contohnya pisang goreng biasa, bisa menaikan gula darah Nanik tinggi juga. Lalu keinginan untuk makan pisang goreng terutama pisang goreng madu muncul.

Dia membuat pisang goreng madu khusus. Madunya bukan sembarangan tetapi sudah disesuaikan. Bentuk pisang goreng madunya seperti gosong. Tetapi sebenernya merupakan karamelisasi dari madu itu. Dari cuma dikosumsi sendiri, dicoba tetangga, kini dipesan banyak orang buat dinikmati.

Sejak 2007, bisnisnya bermula dari gerai kecil sederhana, dimana dia menjajakan pisang gorengnya. Dia memanfaatkan aneka bazar makanan. Resep ditemukan ketika 20 tahun sebelumnya dia fokus berbisnis katering untuk hotel.

Ia menjual menggunakan namanya sendiri. Pisang Goreng Madu Bu Nanik atau Pisang Goreng Bu Nanik, dan orang ternyata gampang menghafalnya. Bu Nanik sendiri merupakan pelopor pisang goreng madu yang ada di Jakarta.

Sukses dia mampu memproduksi 70 peti pisang setiap hari. Hingga terkadang dia kesulitan menemukan bahan baku saking banyak permintaan. Khususnya waktu musim kemarau maka jumlah bahan baku akan menurun drastis. 
 
Bertahap bisnisnya tidak cuma terbatas pada produk pisang goreng madu saja. Nanik menjual juga ubi madu, cempedak madu, nanas goreng madu, dan nangka goreng madu. Lalu ada risoles, tahu, tempe, yang asin- asin.

Sukses berbisnis pisang goreng bukanlah akhir. Pengusaha ini ingin lebih maju lagi dengan bisnis lebih berkembang. Nanik bercita- cita mendirikan toko pusat oleh- oleh Jakarta. Maka pendapatan dia dapatkan tidak bisa ia langsung habiskan. 
 
Meski banyak untung, semisal Rp.10 ribu, tidak bisa begitu saja dipakai tetapi investasi ulang. Biografi pisang goreng madu Bu Nanik.

"Anak saya digaji dan saya juga mengambil gaji, sisanya saya investasikan," paparnya.

Keuletan merupakan kunci sukses berbisnis apapun. Kemudian, janganlah kamu melihat masa lalu, lihat ke masa depan, jalankan usaha kamu tanpa takut kegagalan. Ia juga mengatakan anda harus mengerjakan bisnis anda sendiri. 
 
Kuasai pasar anda, harus dimulai dari skala kecil terus promosikan bisnis anda ke khalayak. "Jika ada project atau acara yang lain bawa kaos, sepatu, saya bawa pisang dan kartu," Nanik menambahkan.

Ia membawa kartu nama usahanya. Sementara pisang akan dibeli atau dibagikan sebagai upaya promosi. Dari semula berbisnis katering, ternyata berbisnis pisang goreng lebih menguntungkan. Memang bisnis makanan bisa masuk ke mana saja, ke perorangan, perusahaan, maupun perhotelan.

Bisnis Penyewaan Mobil di Luar Negeri Diaspora

Profil Pengusaha Johnny Harjantho

 
diasporaindo.png
 
Kisah diaspora Indonesia seorang perantau di negeri orang. Pengusaha bisnis penyewaan mobil di luar negeri. Mereka yang berjuang dari nol terseok- seok. Mereka tidak mendapatkan dukungan pemerintah sendiri. 
 
Inilah hidup Johnny Harjantho, pengusaha sukses justru ketika tinggal di Negeri Singa. Ya, Johnny terbilang sebagai pengusaha sukses di perantauan, pemilik sekaligus Managing Director dari Smart Group. Bisnisnya itu bergerak dibiang transportasi seperti taksi. 
 
Sebetulnya jauh sebelum kesuksesan Smart Group, ia dikenal sebagai seorang importir Singapura- Indonesia.
 

Berbisnis di Negeri Orang


"Saya mulai bisnis tahun 80an. Beli barang Singapura dan jual di Indonesia," ujarnya mengenang kembali bagaimana ia membangun usaha di Singapura.

Sudah 10 tahun sudah dirinya berbisnis dagang dan itu memberikan kuntungan luar biasa. Dari Singapura pula lah, Johnny akhirnya menemukan cinta wanita yang kini dinikahinya. Setelah menikah keduanya sepakat menetap di negara bekas jajahan Inggris. 
 
Akhirnya bisnis dagang tersebut kemudian ditinggalkan. Lalu apalagi bisnisnya? Berkat pengalaman bolak- balik Singapura- Indonesia, ia punya pandangan sendiri tentang berbisnis di Singapura.

Melihat kesempatan ada ia mantap membuka bisnis penyewaan mobil. Dengan modal sendiri ia membeli tiga unit mobil kemudian mengajukan pinjaman ke bank. Tiga unit mobil itulah cikal bakal sukses Smart Group di Singapura.

"Waktu dulu itu, mobil sangat mahal. Tapi saya sangat percaya diri. Dengan uang seadanya dan saya pinjam dana ke bank, mereka pun menyambut positif," kata Johnny.

Jangan berharap bisnisnya bisa mulus. Ketika awal memulai saja, ia sudah dihadapkang sulitnya mengajukan  pinjaman ke bank. 
 
"….mereka (bank) tidak mau lagi memberikan saya pinjaman. Alasannya saya tidak punya referensi dan bank tentunya takut memberikan pinjaman, saya kaget waktu itu," ucapnya. Masalah tidak membuatnya surut, justru semakin bersemangat berjuang meski dengan modal seadanya.

Susah memang menambah jumlah armada dengan pendanaan bank. Ia harus bergantung pada modal sendiri seadanya. Akhirnya, suatu saat, Johnny mendapatkan ide untuk menyewa mobil sewaan lagi. Ya, idenya gampang yaitu menggunakan mobil sewaan untuk disewakan lagi. 
 
Cara tersebut ternyata efektif. Johnny bisa meningkatkan jumlah armada seketika. "Setiap mobil saya tempel stiker Smart jadi orang berpikir usaha saya sudah besar dan akhirnya pinjam uang ke bank jadi lebih gampang," ungkap Johnny.

Dalam hitungan tahun bisnisnya sukses membesar. Johnny berhasil membawa SMART Automobile Pte Ltd menjadi perusahaan transportasi yang diperhitungkan. Kini, bukan hanya bisnis rental atau sewa mobil yang dirambahnya, ia pun merambah bisnis taksi. 
 
Smart Cab, perusahaan taksi  didirikan pada tahun 1991 hanya dengan 3 kendaraan, lalu tumbuh menjadi lebih dari 2.441 taksi taksi SMART di jalan raya.

Johnny Harjanthos sang Managing Director Smart Cab, memulai dengan kendaraan bermesin diesel untuk perusahaan taksnya. Dia sosok percaya diri bahwa ketika ekonomi terus tumbuh akan ada lebih banyak kendaraan di jalan serta bertambahnya pencemaran lingkungan. 
 
Dengan demikian, Johnny memutuskan untuk menjadi pelopor untuk CNG dan mengambil tantangan kendaraan hijau untuk mendukung lingkungan dan menciptakan kota yang bersih untuk hidup sehat.

Cinta Indonesia

 
Meski sudah puluhan tahun menetap di Singapura, Johnny mengaku masih cinta Indonesia. "Dada saya masih merah putih, saya masih Warga Negara Indonesia, makanya saya ikut kongres diaspora," ucapnya penuh semangat. 
 
Ia menjelaskan, komunitas diaspora Indonesia yang ada di Singapura jumlahnya berkisar 180 ribu hingga 200 ribu orang. Ini merupakan komunitas diaspora Indonesia yang paling besar dibandingkan yang ada di negara-negara lain.

Menurutnya sekitar 100 orang lebih warga Indonesia yang tingga di Singapura. Mereka bekerja baik sebagai tenaga profesional ataupun jadi pengusaha.  Sebagian lainnya adalah mahasiswa dan pekerja terlatih yang hanya tinggal sementara untuk sekolah dan bekerja. 
 
Jumlah perusahaan di Singapura yang dimiliki oleh orang Indonesia pun cukup banyak, baik itu yang skala kecil, menengah, maupun besar.

Tapi pada umumnya, kata Johnny, perusahaan- perusahaan besar Indonesia di sana adalah cabang dari perusahaan induk di Indonesia, misalnya Salim Group dan sebagainya.

"Cukup banyak pengusaha Indonesia di Singapura yang memulai usahanya dari nol. Mereka adalah yang saya sebut sebagai generation zero, dimana pada umumnya mereka memulai usahanya dengan visa kunjungan dan selanjutnya menetap dengan membuka usaha," kata Johnny. 
 
Rasa kebangsaan dari generasi zero ini cukup tinggi loh. Mereka yang menetap, memulai bisnisnya dari nol di negeri rantau. Mereka, jelas Johnny, seperti dirinya tau benar bahwa mengelola usaha di Singapura tidaklah semudah yang dibayangkan. 
 
"Tingkat kompetisinya cukup tinggi dan harus selalu berupaya untuk lebih cepat dari orang lain," kata Johnny.

Karena itulah, mereka yang tergolong generation zero ini memiliki ikatan persaudaraan yang kuat satu sama lain."Saya sendiri sudah 32 tahun tinggal dan membuka usaha di Singapura, sehingga culture masyarakat Singapura sudah cukup mendalam bagi saya. 
 
Namun demikian kami tetap menjaga culture sebagai masyarakat Indonesia. Kami menyelenggarakan pameran kebudayaan Indonesia secara rutin," ujarnya. Nah inilah pengusaha Singapura asli Indonesia, yang mempunya bisnis penyewaan mobil.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba