Kerajinan Limbah Kaca Ide Bisnis Menjanjikan

Profil Pengusaha Suyanto

 
 
usahalimbah.png
 
Ide bisnis menjanjikan tidak harus kuliner. Kerajinan limbah kaca ternyata menghasilkan. Pengusha ini mengolah kaca limbah menjadi produk. Pria asal Yogyakarta, Suyanto, mengaku memang tertarik usaha pengolahan limbah non- organik ataupun organi.
 
Pilihannya jatuh kepada mendaur ulang limbah kaca. Bakat seninya sangat membantu usaha tersebut. Ia sudah 3 tahun menjalankan. Akhirnya dia menghasilkan jutaan rupiah berkat limbah kaca. Satu buah hiasan bervariasi sampai Rp.1 juta.

"Saya mengolah limbah anorganik dan organik berupa furniture (bekas), limbah rumah tangga, dan toko," ujar Suyanto.
 

Ide Bisnis Menjanjikan


Sebelumnya ia bekerja di satu perusahaan ekspor impor dan aksesoris. Setelah merasa cukup lama pengalaman bekerja selama 17 tahun; ia memutuskan berwiraswasta.

"Saya lebih tertarik untuk berwirausaha untuk mengembangkan bakat saya," kata pria lulusan UPN Veteran Yogyakarta ini.

Modal bisnis Rp15 juta cuma cukup digunakan untuk membeli mesin pemotong kaca, mesin ampelas, dan juga mesin pemotong kayu, ia kemudian membuat kerajinan hiasan mozaik dari kaca, cangkang, telur dan tempurung kelapa. Suyanto dibantu oleh dua orang karyawan saat itu.

Dia mencoba membuat vas bunga, nampan, lalu membuat kaligrafi, alas gelas, dan tempat tisu. Fokus usaha kecilnya ialah hiasan fungsional yang biasa digunakan di rumah. 
 
Sarjana geologi ini mengatakan lebih lanjut, bahwa tantangan yang dirinya hadapi dalam berbisnis ini bahwa kerajinan tak bisa diproduksi massal. Setiap produknya merupakan buatan tangan (hand made) dan membutuhkan cita rasa untuk menghasilkannya. Itu juga berarti harga jualnya tinggi.

"Ini adalah produk ini hand made, ada feeling dalam pembuatannya. Tidak seperti produk pabrik, ini tidak bisa dipesan banyak," kata Suyanto.

Pembuatannya juga cukup rumit, memulai dengan memotong kaca sesuai pola yang diinginkan. Selanjutnya kaca itu dihaluskan bagian sisinya agar tidak terlalu tajam. Kemudian Suyanto menempelkan kaca itu pada media kayu dengan lem. 
 
Tahap penempelan pecahan kaca inilah yang memakan waktu lebih, setelah kering barulah kaca itu diberi pewarna kaca.

"Penempelan kaca tidak bisa sehari kering," kata dia

Dia mengaku mampu menghasilkan hiasan yang menarik, dimana harganya sangat bervariasi. Ia menjelaskan satu produk bisa saja terjual Rp15 ribu hingga Rp1 juta. "Kalau yang Rp15 ribu itu seperti tatakan gelas. Kalau yang Rp1 juta seperti guci," kata Suyanto.

Soal omzet? Ia tak mau mengungkapkannya.

Menurutnya ia tidak berorientas ekspor meski produknya diminati oleh konsumen asing. Suyanto memang lebih tertarik membuat produknya mengakar di pasar di dalam negeri, namun bisa dibeli oleh peminat dari manca negara juga. 
 
Dia tak membatasi hal itu tapi tetap fokusnya tidak mencari pembeli dari luar negeri. "Ada yang pesan orang Jerman, Spanyol, Meksiko, dan Nikaragua," kata dia.

Suyanto pun mempersilakan bagi peminat kreasinya untuk mengunjungi bengkel dan outlet-nya di Sanggar Kerajinan Kaca Surya Kencana Mozzaic yang berlokasi di Semoyan, Singosaren, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Apabila tidak sempat berkunjung, untuk komunikasi mengenai produk dan pemesanan dia bisa diemail melalui zakaseluler@yahoo.com.

Kisah Startup Berbisnis di Masa Pandemi Corona

Profil Pengusaha Agus Suhendar

 

startupmypin.png
 

Berbisnis di masa pandemi Corona tidak mudah. Namun, sesuai kisah startup berikut, bisa menjadi suatu awalan yang baik ketika menjajal akan sesuatu. Masa- masa awal usaha memang diawali keringat dan darah. Kita berkorban dan di masa pandemi Corona akan dicepatkan.


Artinya kamu akan melewati masa sulit tersebut lebih awal. Bahkan mungkin kamu malah akan mendapat keuntungan. Seperti Agus Suhendar yang malah mendapatkan banyak pesanan. Kisah startup hantarannya mampu menerbas sulitnya masa pandemi.


Bisnis Menolong

 

Berawal dia adalah karyawan tidak digaji dan dirumahkan. Pada awal Juni 2020, Agus harus berhentik kerja dari perusahaan retail Bali, ya karena pemasukan perusahaan menurun drastis. Begitu keluar ia lalu menjajal usaha hantar- menghantar barang belanjaan.


Berbekal ongkos kirim murah dia mengendarai motornya. Pengusaha asal Bogor tersebut mendirikan aplikasi MyPin. Dimana orang akan memesan makanan atau barang lewat online. Ini sangat membantu pengusaha UMKM mitra.


Ia memantu tidak kurang 300 mitra UMKM se- Bali, meliputi wilayah Badung, Jimbaran, Nusa Dua, Denpasar, Tabanan, dan Gianyar. Ongkos kirim diambil Agus murah cuma Rp.1.250. Ongkos kirim murah juga akan membantu UMKM mitar berkembang dan tumbuh.

 

Agus melihat peluang memanfaatkan masa sulit pandemi. "Saya melihat ini sebagai peluang untuk membangun jasa kirim dengan ongkos kirim yang ekonomis," ujarnya. Agus berharap akan ikut buat membantu pelaku usaha kecil.

 

Agus tidak fokus buat meraup keuntungan semata. Di masa pandemi Covid 19, usaha UMKM banyak sekali merumahkan karyawanya di Bali. Bahkan mereka yang bekerja di hotel, restoran, travel agent, dan tempat wisata, macam dirinya harus rela berhenti tanpa dibayar.


"Perubahan pola konsumsi masyarakat untuk menjaga stok makanan di rumah, dan akan berkorelasi dengan kebutuhan makanan olahan (pre- cook) seperti makanan siap saji, dan makanan beku," jelasnya lagi.


Jujur pengusaha berikut menyadari akan aspek ongkos kirim. Makin murah ongkos kirim akan ikut membantu pengusaha mitra. Dia menyadari ongkos kirimnya akan membantu UMKM Bali. Agus lalu berharap akan banyak orang merintis usaha dikalan pandemi.


Pengusaha harus mampu melihat celah peluang dalam masalah. Ia memiliki 10 mitra driver berstatus karyawan MYPIN. Mereka juga merupakan korban pandemi dan unpaid leave. Agus berharap bahwa wisata akan kembali normal. Pariwisata akan dibuka dan akan banyak pengusaha UMKM muncul.

Kerajinan Batok Kelapa Solusi Wirausaha Sosial

Profil Pengusaha Mahasiswi UNY

 
kerajinanbatok.png
 
Kerajinan batok kelapa bisa menjadi solusi limbah. Lewat wirausaha sosial mampu memberikan suatu dampak nyata. Berkat kreatifitas mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, kita mampu melihat apa fungsi batok diluar menjadi sampah.
 
Suatu kelompok yang menasional menjadi tajuk artikel di berbagai media online. Mereka adalah Lely Suci Rahmawati, Hesti Sulistyani, serta Maryanto, mahasiwa dan mahasiswi dari jurusan pendidikan sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNY. 
 
Mereka menghadirkan inovasi pemanfaatan bahan- bahan limbah. Produknya memanfaatkan serabut, kopeng, dan batok kelapa.
 

Bisnis Kerajinan


Ini mungkin bisa jadi solusi daur ulang yang menghasilkan. Mereka meciptakan nilai jual dari sampah industri semacam batok dan serabut. Lebih lanjut, apakah yang mereka buat, produk kreatif berupa bunga dari bahan batok. Hasilnya sangat unik dan memiliki nilai seni. 
 
Menurut Lely, produk kreatif berupa bunga kering dari serabut, kopeng, dan batok kelapa tersebut dapat dijadikan alternatif hiasan yang cantik dan menarik untuk ruangan.

"Selain itu, produk ini dapat mengangkat potensi sumber daya alam yang belum optimal dimanfaatkan dan menjadi unit usaha berkelanjutan sebagai modal dasar dalam berwirausaha," sambungnya, Kamis 15 Agustus 2013, melalui situs vivanews.co.id.

Hesti menjelaskan bahwa serabut, kopeng, dan batok itu mudah ditemukan. Di tempatnya sendiri cenderung melimpah tidak dimanfaatkan masyarakat. 
 
Dan, modalnya memang tidak terlalu besar, dapat diusahakan menjadi usaha sampingan maupun ditekuni sebagai mata pencaharian pokok menghasilkan.  Cara membuatnya juga sederhana.

Pertama- tama kita membuat pola seperti pola mahkota bunga untuk batok kelapanya menggunakan pensil,  penghapus, dan kertas karton. Kemudian, batok kelapa dipotong batok kelapa akan sesuai dengan pola menggunakan gergaji besi lalu dihaluskan menggunakan amplas. 
 
"Lubangi pada bagian ujung batok kelapa menggunakan solder, lalu batok-batok kelapa dikaitkan menggunakan benang dan lem menjadi mahkota bunga dan dipernis," jelasnya.

Lanjutnya, Hesti menjelaskan, pisahkan serabut kelapa beserta kulitnya. Caranya cukup dipukul- pukul menggunakan martil dan dipisahkan menggunakan pisau, kemudian baru dibentuk menjadi kelopak- kelopak bunga.
 
Setelah jadi kaitkan menggunakan kawat dan disatukan menjadi mahkota bunga. Setelah itu buat kawat menjadi batangnya, caranya balut kawat dengan pelepah pisang kering. Lekatkan kawat yang sudah dibalut dengan kopeng dan mahkota bunga yang sudah dibuat sebelumnya. 
 
Gunakan lem untuk melekatkan masing- masing bagian. Putik bunga dibuat dari biji salak yang dibalut dengan lem dan ditaburi pasir putih, namun putik bunga juga dapat dibuat dari bunga pinus sebagai variasi jenis bunganya. 
 
"Tahap terakhir, menyatukan putik dengan kawat yang dibalut pelepah pisang yang sudah dibuat, dan bunga kering siap dipasarkan," tutup pengusaha muda. Kerajinan batok kelapa solusi limbah sekaligus menjalankan wirausaha sosial.

Berbisnis Karangan Bunga Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Hidayat Maulana


jualbunga.png
 
Dia tidak menyangkan pilihan berbisnis karangan bunga berhasil. Pengusaha muda tersebut bernama Hidayat Maulana. Yang tidak memiliki bakat ataupun keturunan seorang florist. Dia tak pernah punya pengalaman pengusaha.
 
Pekerjaan nyamannya di kantor, bekerja sebagai pegawai bagian pemasaran internet, dan merasa tidak berpuas hati. Menjadi pengusaha muda justru membuatnya senang, Selain dia kini menghasilkan lebih banyak pundi- pundi uang.
 
Hidayat mengaku kepada vivanews.com, dia sama sekali buta akan bunga, baik pengetahuan mendasar, baik ragam maupun cara penjualan.

Modal Nekat

 
Hanya bermodal nekat, ia minta diajari oleh orang yang sudah lama berbisnis bunga. "Saat itu, saya menerima order, lalu memberikannya kepada perajin. Saya dapat komisi," ujar Hidayat di kediamannya, Rawabelong, Jakarta.

Ia mengaku tidak berpikir untuk mendalami bisnis ini. Setelah mencicipi bunganya barulah ia mencoba lebih dalam lagi. Manisnya bunga mempunyai prospek yang menggiurkan jelasnya. Akhirnya pria asli kelahiran Bukittinggi ini berani membuka satu toko bunga pada 2011. 
 
Toko Bunga Cantik, dikelola oleh Hidayat membutuhkan Rp5 juta untuk modal awalnya.

"Waktu itu, saya dapat 29 pesanan bunga sekitar Desember 2010 hingga Januari 2011," kata dia.

Bisnis bunga menggiurkan alasnya karena bunga selalu "hidup". Maksudnya bisnisnya akan selalu ada pesanan dari sana- sini. Setiap upacara terkait fase kehidupan manusia selalu dilambangkan dengan bunga aneka jenis, mulai dari kelahiran hingga kematian.

"Waktu ada bayi lahir, ada bunga sebagai ucapan selamat kelahiran. Ada bunga selamat ulang tahun. Bunga saat wisuda. Bunga saat pernikahan. Bahkan, saat meninggal pun diberi bunga," kata dia.

Toko Bunga Cantik mempekerjakan 19 orang karyawan antara lain kurir, tukang bunga, karyawan administrasi, customer service, dan marketing. Usahanya cukup mendapatkan pasokan dari berbagai tempat. 
 
Biasanya dia mendapatkan pasokan dari Cipanas, Lembang, Bandung, dan Malang. Bahkan, untuk bunga tulip, pasokannya didatangkan dari Belanda sendiri.

Bisnisnya meliputi karangan bunga, hand bouquet, dan bunga meja. Bunganya pun bervariasi. Mulai dari bunga lokal seperti mawar, matahari, gerbera, hingga bunga impor seperti  lili dan mawar hitam. Soal harga, ia membandrol angka Rp.5 juta. 
 
Untuk serangkaian bunga meja harganya paling murah Rp250 ribu, dan terdiri atas 10-20 batang. Namun, jika rangkaian bunga impor, harganya bisa mencapai Rp1-3 juta.

"Bunga yang paling banyak diminati itu bunga krisan, lili, gerbera, tulip, matahari, dan mawar," kata dia.

Sayang, pria lulusan D-3 akuntasi pajak ini tak mau menyebut angkanya berapa omzet bisnis ini. Menurutnya cukup untuk jalan- jalan keluar negeri dan membesarkan 3 anak. Benar- benar bisnis berprospek bagus. 
 
Ia menambahkan pesanan bunga ini bisa variasi,  seperti karangan bunga untuk ucapan pelantikan pejabat dan peresmian kantor baru. Sementara itu, bunga meja untuk keperluan pernikahan, ucapan selamat ulang tahun, atau perkawinan.

"Karena saya bukan ahlinya, saya kurang paham. Tapi, prosesnya lumayan lama sekitar 2-3 jam untuk membuat karangan bunga. Kami menempelkan bambu dengan styrofoam, lalu diberi lapisan kain foam, selanjutnya diberi bunga," kata Hidayat.

Hidayat bercerita tentang pengalamannya menghadapi pasanan bunga mawar hitam. Ya, bunga mawar hitam ini memang langka, sangat jarang di pasaran dan termasuk bunga impor. Jumlahnya terbatas, sekali impor, dia hanya mendapat sepuluh tangkai. 
 
Karena langka, ia pun sempat- sempatnya menjelaskan hal ini kepada para pembeli. Harganya mahal ujar Hidayat.

Harganya cukup fantastis dikisaran harga Rp.1 juta hanya untuk sepuluh tangkai. "Biasanya pembeli kaget. Dikiranya harganya sama saja dengan mawar biasa," kata dia. Tantangan bisnis bunga menurut Hidayat ialah  harus selalu berpacu dengan waktu ketika pesanan datang.

"Harus cepat. Kalau tidak, pembeli bisa pindah ke tempat lain," kata lulusan Universitas Trisakti ini.

Meskipun menggiurkan, Hidayat mengatakan bahwa bisnisnya pun tidak luput dari pasang surut. Pria kelahiran 1980 ini mencermati bahwa bisnis ini kurang laku ketika bulan puasa. Justru penjualannya lebih laris pada akhir tahun dan Lebaran Haji.

Hidayat menyebut bunganya sudah banyak dipesan dari dalam maupun luar negeri, seperti Amerika, Inggris, Eropa, Singapura, dan India. 
 
Karena bunga tidak tahan lama  -misalnya bunga mawar yang hanya tahan 2-3 hari, Hidayat menjalin hubungan kerja dengan penjual toko bunga di berbagai tempat, misalnya Yogyakarta, Papua, dan Padang.

"Kalau di Jabodetabek, kami yang bermain. Kalau di Papua, ada di Jayapura. Tapi, kalau di Biak, ya, tidak ada. Susah," ujarnya kepada VIVA News.

Ia membuka situs www.tokobungacantik.com sebagai sarana pemasaran online. "Semua orang butuh cepat. Jadi, kalau sedang sibuk dan ingin memesan bunga, tidak harus membuka-buka katalog bunga," kata dia. 
 
Sementara itu Toko Bunga Cantik sendiri berlokasi di Jalan Berdikari Nomor 37, Rawabelong, Jakarta Barat. Pemesanan bisa melalui telepon (021) 91579440 atau via email di order@tokobungacantik.com. Dan ternyata berbisnis karangan bunga tidak seram loh.

Toko Serba Pedas Ide Bisnis Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Willyhono

 
toserba.png
 
Ide bisnis pengusaha muda berikut baik ditiru. Toko serba pedas ini adalah konsep one stop service menarik.  Bila kamu berkunjung ke Bandung maka banyak kuliner. Di setiap tempat menyajikan aneka kuliner unik, termasuk yang pedas- pedas.

Mereka memanjakan lidah. Kamu harus bersiap- siap menentukan apa yang akan kamu makan hari ini. Salah satu kuliner "ngejren" yang patut anda coba ialah Toserda alias Toko Serba Lada. Usaha yang memfokuskan aneka olahan. 
 
Pemiliknya, Willyhono, kemudian berbagi cerita kepada Vivanews.com, bahwa bisnis Toserda ialah bisnis aneka makanan serba pedas.
 

Kembangkan Ide Bisnis


Kemudian Willy, sapaan Willyhono, bercerita bahwa bisnisnya merupakan berkelanjutan bisnis sebelumnya. Waktu itu ia menjajakan produk olahan pedas namun hanya satu jenis. 
 
"Dulu, saya menjual satu produk saja, yaitu bawang pedas. Namanya, Bawang Pedas Balalada buatan teman saya," kata dia. Lama- lama karena melihat respon pasar bagus, jadilah pria kelahiran 1983 ini, mencetuskan ide gila yakni berjualan makanan serba pedas.

"Kalau saya lihat, respons konsumen bagus. Rata-rata orang Indonesia suka makanan pedas," kata dia.

Dia memutuskan untuk mengembangkan usaha itu lebih. Idenya memperbanyak jenis dagangannya. Sukses dia menanjak setelah menggunakan sistem online. 
 
Pertama- tama, Willy membangun toko di Jalan Padjajaran No. 4, Bandung, modal awalnya total sebesar Rp10- 15 juta. Untuk nama toko seluas 25 meter persegi itu, dia sengaja memilih akronim dan ada unsur bahasa Sunda. Biar mudah diterima warga Bandung mungkin.

"Orang-orang tahunya Toserba, toko serba ada. Tapi, saya pilih Toserda, toko serba lada. Kata 'lada' dalam bahasa Sunda, kan, artinya pedas," kata dia. Jadi nama lada disini bukanlah dikususkan untuk makanan yang serba lada, ini juga makanan berbahan pedas lainnya.

Kemudian dia mulai memperbanyak jenis dagangannya, mulai dari makanan bawang goreng pedas, keripik, kerupuk, abon, sambal, rendang, bahkan cokelat. Produk dagangannya memiliki tingkat kepedasan, mulai level satu untuk pedas hingga level enam untuk sangat pedas. 
 
Penganan di Toserda pun beraneka macam ukurannya, mulai dari 100 gram, 300 gram, dan 400 gram. Harganya juga bervariasi, mulai dari seharga Rp5.000 -an hingga Rp59.000.

"Yang Rp5.000 itu keripik, beratnya 100 gram dan Rp59.000 adalah rendang kering," kata pria lulusan Universitas Parahyangan, Bandung itu.

Dari mana barang itu berasal? Barang dagangannya berasal dari home industry di Bandung dan sekitarnya. 
 
"Tapi, kalau untuk abon, saya juga mendapatkannya dari Cirebon, Medan, Jakarta, dan Surabaya. Untuk cokelat, saya mengambil produk Chocodot dari Garut dan Monggo dari Jawa (Yogyakarta) dan harganya berkisar Rp10-15 ribu per kemasan," kata dia.

Ada dua cara diterapkan oleh Willy untuk menjadi pemasok tokonya. Pertama, melalui sistem beli putus, artinya dia membeli produk itu sendiri berdasarkan berat tertentu dan selesai. Dia lalu menjual kembali produknya. 
 
Cara titip barang jadi yang paling banyak digunakan para supplier di Toserda. Mungkin karena lebih praktis soal jumlah saja. "Saya hanya mengambil marjin keuntungan 20 persen dari dagangan mereka," kata dia.

Memang tidak semua penganan pedas akan masuk ke daftar jualannya tanpa seleksi. Willy akan aktif ikut mensurvei dahulu calon dagangannya tersebut. 
 
"Saya lihat-lihat dulu dagangannya, mana yang paling laris. Sambal biasanya habis 10 kemasan per minggu, sedangkan basreng (bakso goreng) habis 100-200 bungkus per minggu," ujarnya lagi.

Jangan pikir bisnisnya tanpa hambatan selalu berbuah manis. Willy mengaku mengawali bisnisnya dengan pasang surut. Ketika keripik pedas booming jadilah Toserda mampu meraup omzet sampai Rp.60- 70 juta. 
 
Tapi, dengan bertambahnya saingan, produk- produk keripik pedas lain memotong omzetnya bisa sampai cuma Rp.30 juta per- bulan. Sarjana matematika ini cuma mempekerjakan dua pegawai offline juga satu pekerja online dan satu programer.

Toserda online


Makanan yang dijajakan antara lain keripik, abon, bawang goreng pedas, kerupuk, sambal, rendang, hingga coklat pedas. Memang sangatlah unik, bahkan produknya dikategorikan berdasarkan tingkatan level juga, dari level satu untuk pedas sampai level enam untuk rasa super pedas. 
 
Kemudian selain melalui tokonya yang berada di Bandung, Toserda juga membukan satu toko online melalui toserda.com, yang ikonnya berupa gambar cabai rawit super pedas. 
 
Toko online yang didirikan pada 11 Juni 2011, biaya yang dia keluarkan untuk membuat website ini sama dengan biaya yang dia keluarkan untuk toko offline, yaitu Rp10-15 juta. 
 
Willy menyewa satu domain dengan kapasitas 200-an MB dan ada satu karyawan khusus yang menangani toko online itu, mulai desain hingga pemeliharaan. Tak mau setengah- setengah, barangnya itu dipastikan mampu menembus pasar nasional dan internasional.

Barang dagangannya itu sudah pernah dibeli konsumen Jakarta, Bandung, dan Tasikmalaya untuk pasar lokal. Kalau online, barangnya sudah pernah dibeli orang Indonesia, bahkan hingga konsumen dari Malaysia, Singapura, Amerika, Swedia, Inggris, dan Australia. 
 
Willy menjelaskan tidak mau membatasi jumlah minimal penganan kepada pelanggannya, baik di toko offline maupun online.

"Saya sih tidak membatasi. Kalau pembeli mau beli satu bungkus, ya, kami tetap melayani. Itu kan nanti dikenai biaya pengiriman kalau online," ujarnya. 
 
Bahkan ada pelanggan yang membeli satu bungkus, tetap ia layani, "Pernah ada konsumen dari Nusa Tenggara yang hanya membeli satu bungkus basreng," kata dia.

Ia menambahkan Toserda belum memiliki cabang, tapi sudah memilik reseller dan agen. Memang ada berbagai persyaratan bagi siapa pun yang berminat untuk menjadi reseller dan agennya. Menurut dia, reseller itu ada dua, yaitu yang dropship dan stock. 
 
"Reseller dropship itu gratis, tapi dia tidak punya stok barang. Jadi, dia membeli dari saya. Harga jual ke konsumen, sih, tergantung dia," katanya. Jika pemesan menjadi reseller tinggal menghubungi dia langsung untuk pemesanan baik dropship atau tidak.

Kemudian reseller mentransfer sejumlah uang sesuai barang yang dipesan. "Setelah mendapat konfirmasi, kami mengirimkan barang itu kepada reseller dan dia yang menjualnya ke pembeli itu," tuturnya. 
 
Beda antara reseller stock dan agen. Ada minimal pembelian yang harus dipenuhi keduanya. Untuk reseller, dia wajib membeli minimal sebesar Rp.500 ribu, sedangkan agen, dia wajib membeli minimal Rp.3 juta. 
 
"Terserah barang apa yang dia pesan, dan jumlahnya itu tergantung harga barangnya," kata dia.

Saat ini, para reseller Toserda berasal dari wilayah Bogor, Medan, Jakarta, Samarinda, bahkan Belanda dan Swedia. "Mereka itu orang Indonesia dan memasarkan produknya ke perkumpulan orang-orang Indonesia di Eropa. Di sana susah mencari makanan Indonesia," ujarnya. 
 
Ada sedikit pengalaman menarik yang ia rasakan ketika berjualan penganan pedas, dan itu terjadi dua tahun yang lalu. Katika itu harga cabai sedang melambung, akhirnya banyak orang justru banyak membeli cabe olahan daripada cabe asli.

"Dulu, waktu harga cabai sempat naik hingga Rp80 ribu, orang-orang lebih suka membeli sambal seharga Rp20 ribuan per kemasan daripada cabai Rp80 ribu per kilogram," ungap Willy ke vivanews.com. 
 
Apabila anda tertarik menjajal berbagai produk makanan pedas ini, bisa saja langsung berkunjung ke Toserda, yang terletak di Jl. Padjajaran No. 4, Bandung. Tapi, apabila kamu tidak sempat berkunjung ke sana, kamu bisa juga mengakses toko online-nya di www.toserda.com.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba