Donat Bakar Inovasi Pengusaha Muda Oily

Profil Pengusaha Oily Purnama Sari

 

donatubi.png
 

Pengusaha muda Oily Purnama Sari memiliki niatan berwirausaha. Awal Oily hanya sarjana elektro tanpa pandangan mau usaha apa. Lantas dia ikutan seminar Ciputra Entrepreneurship di kampusnya Universitas Gajah Mada. Tiga bulan ditatar membuat keinginannya menguat walau tidak tau.


Oily masih kebingungan mau membuka usaha apa. Selepas lulus tahun 2007, Oily malah menjadi pegawai di perusahaan roti Yogyakarta. Kenapa tidak langsung membuka usaha. Ternyata hati Oly masih belum percaya diri. 

 

Pelatihan Ciputra Entrepreneurship pasca sarjana makin membuka pandangannya. Dia mendapatkan bimbingan materi dan pelatihan konsep bisnis. Oily lalu mendapatkan pelatihan program Crown I. Program tersebut "memaksa" Oily memutar otak. 

 

Dia pernah jualan souvenir atribut di kawasan UGM. Uang Rp.500.000 keuntungannya dijadikan modal mengikuti program tersebut.


Tahan Crown II diberikan modal Rp.1.000.000 buat dikelola. Oily kali ini diharuskan menciptakan ide bisnis orisinil. Maka dia memilih berjualan donat tetapi umum dilakukan. Dari pelatihan, Oily belajar mengenai memberikan nilai tambah produk.


Dia tidak bisa cuma jualan donat. Terlalu umum. Ucapan Pak Ciputra bahwa berbisnis membutuhkan inovasi. Dia teringat. Termasuk bisnis donatnya yang awal- awal terlalu umum. Maka ia merubah sedikit resep dari terigu menjadi tepung ubi jalar.


Kemudian dia menusuk donat- donat tersebut layaknya sate. Donat tersebut kemudian diberi nama Donatello atau tello dalam bahasa Jawa berarti ubi. Oily lalu menjajakan itu ke bazar kampus UGM minggu pagi.


Ternyata dia mampu menggaet banyak pelanggan. Rasanya lebih empuk dibandingkan donat umum. Belum puas menemukan satu penemuan. Oily kemudian bekreasi kembali lewat donat bola. Donat sate tersebut dinamakan Dboom. Di dalamnya nanti memiliki isian pilihan rasa mengejukan.


Peminat donat bakar merata anak- anak sampai dewasa. Dia mampu menaikan pamor donatnya lewat berjualan kaki lima. Dari kampus merambah ke pusat perbelanjaan lewat kemitraan. Oily sempat ragu ketika memulai usaha.


Sebab orang tuanya ingin Oily bekerja di pemerintahan atau perusahaan. Ia yakin menekuni usahanya dengan gigih. Dia ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya. 

 

"...membagi pengalaman menjadi entrepreneur kepada keluarga dan teman. Bahwa entrepreneurs bukan faktor keturunan" ujar sang pengusaha muda Oily.


Dia pun tidak tinggal diam melainkan membagikan pengetahuan. Dia aktif menghadiri seminar jadi pembicara. Dalam entrepreneurship, Oily menegaskan bahwa penting membangun sistem penjualan, seperti mendapat pesanan dari kantoran atau instansi pemerintah.


Mereka kantor atau instansi pemerintah akan memberikan pemasukan stabil. Jangan lupa menghitung keuntungan cermat. Kamu juga bisa membangun bisnis katering untuk kantor dan pemerintah. Diluar strategi dijalankannya melalui menjajakan waralaba.

Pendiri Hotel Sahid Biografi Sukamdani Sahid

Biografi Pengusaha Sukamdani Sahid

 
sukamdanisahid.png
 
Biografi Sukamdani Sahid Gitosardjono mungkin terdengar asing. Kalau bertemu pendiri Hotel Sahid ini, mungkin kamu tak akan memberikan gambaran mewah. Dibanding, bila kita berbicara mengenai megahnya Hotel Sahid; barulah kamu akan tersadar hebatnya ia. 
 
Ya, dialah pemilik Sahid Group sekaligus pemilik jaringan Hotel Sahid. Ini pengusaha asli Indonesia bukan keturunan, dan sukses membangun jaringan hotel salah satu yang terbesar di Indonesia. Dia juga bukan dari keluarga berada membuatnya memulai bisnis dari nol.

Kelahiran Solo, Jawa Tengah, 14 Maret 1928, dia adalah putra dari pasangan R.Sahid Djogosentono dan R Ngt Hj Sadinah. Waktu kecil Sahid (panggilan akrab Sukamdani Sahid Gitosardjono) banyak dihabiskan di Sukoharjo-Solo, Jawa Tengah.
 

Jiwa Wirausahawan

 
Ayah Sahid hanyalah seorang wirausahawan kecil. Ayahnya cuma membuka usaha jahitan, sedangkan sang bunda, dia membuka sebuah toko kecil- kecilan. Maka sejak kecil Sahid mengenal wirausaha, ini membuat Sahid kreatif, selalu mencari tau bagaimana menghasilkan uang. 

Karena selalu membantu orang tua jadilah ia tau seluk beluk jual- beli. Dia selalu mendapatkan tugas untuk "kulakan" atau mengisi stok barang yang kosong. Sahid ditugaskan membeli barang dagangan untuk warung ibunya, seperti kelapa, sabun, teh, rokok, dan pisang. 
 
Jika barang dagangan tersebut laku dijual barulah Sahid mendapatkan persen keuntungan dari sang ibu. Mudah saja. Dia memang anak yang cerdas, ketika uang itu ditangan tidak langsung digunakan tapi ditabung.

Uang tabungan itu bukannya dihabiskan seketika dan akhirnya menjadi modal bisnisnya nanti. Dari uang yang ditabung dibelikan ayam lalu diternakan. Setelah ayamnya jadi banyak serta gemuk- gemuk barulah ayam- ayam itu dijualnya. 
 
Bukan dibelikan ayam lagi, ia justru membeli seekor kambing untuk diternakan kembali. Kambing terkumpul banyak, dibelikan kerbau dan diternakan lagi begitu seterusnya. Melalu metode inilah Sahid belajar tentang investasi. Tak puas berbisnis ternak, ia pun menjual jasanya untuk memanen padi.

Di umur 17 tahun kala itu perang kemerdekaan tahun 1945, daerah Sahid kekurangan bahan pangan. Disini ia berfikir bagaimana cara mencukupi bahan pangan untuk para tentara perang. Kala itu walau banyak juga penduduk yang memberi bantuan pangan kepada para tentara namun tentap saja kurang. 
 
Dia pun mendapat akal, ia mengumpulkan kain batik dari penduduk yang kemudian ditukar dengan beras. Beras itulah yang kemudian ia berikan kepada tentara- tentara tersebut.

Selepas kemerdekaan, tepatnya di tahun 1952, Sahid telah mendirikan bisnis baru yaitu mensuplai bahan pangan kepada tentara. Dia cukup mengumpulkan gaplek dari Wonogiri lalu dibawanya ke Solo, disana gaplek bisa ditukar beras. 
 
Dan, beras- beras itu pun yang menjadi modalnya untuk mensuplai para tentara. Ketika perang selesai, ia juga melanjutkan pendidikannya. Pada tahun 1952, Sahid remaja hijrah ke Jakarta dengan bermodal kopor dan sepeda angin.

Dia diterima bekerja di Kementrian Dalam Negeri selepas melanjutkan pendidikan. Namun rasa gairah untuk berbisnis menggelora membuat dirinya tak betah menjadi pegawai walau hasilnya saat itu cukup menjanjikan dan dipandang terhormat. 
 
Sahid lantas memilih untuk keluar dan meneruskan bisnisnya yang telah dirintisnya sembari bekerja. Di Jakarta lah ia menemukan jodohnya, seorang gadis bernama Juliah anak dari Mangkunegara. Keduanya saling jatuh cinta dan menikah pada 27 Mei 1953. 
 
Juliah adalah anak dari orang terpandang dan kaya-raya namun begitu dia bukanlah seorang anak manja. Terbukti ketika Sahid memutuskan untuk keluar dari pekerjaanya dulu. Dia keluar sebagai PNS dan memilih merintis usaha sendiri. 
 
Istrinya lah yang menjadi pendukung dengan merestui apapun yang diputuskan sang suami. Bahkan Juliah secara aktif ikut membantu bisnis suaminya itu di awal. Pasangan baru ini kemudian menyewa tempat di JL. Jendral Sudirman Jakarta. 
 
Bisnis pertama yang mereka lakukan bersama adalah sebuah bisnis percetakan. Sahid dan istrinya membeli alat-alat percetakan dari tabungan mereka sendiri. Awal memulai usaha segalanya mereka lakukan sendiri, Sahid yang mengurusi membeli bahan bahan seperti kertas di JL. Tiang Bendera, Jakarta.

Sahid juga yang melakukan antar jemput pesanan cetak dan juga melakukan penagihan. "Naik turun oplet, tak heran saya banyak kenalan non pri," kenangnya. 
 
Walau telah sukses merintis bisnis sendiri, jaringan perkawanan Sahid ketika masih bekerja dulu tetap dijaganya. Dia adalah tipe orang yang supel, senang berorganisasi dan pandai bergaul. Itu memamng modal seseorang jika ingin sukses berbisnis.
 

Bisnis Perhotelan

 
Sahid pun kemudian membuat organisasi yang menaungi usahawan percetakan di Indonesia. Disinilah Sahid kemudian bisa dekat dengan sosok Presiden Soekarno. Ini juga menjadi kesempatan untuk lebih meluaskan jaringan usahanya, apalagi setelah berkenalan dengan seseorang sekelas presiden. 
 
Bisnis percetakannya pun menjadi semakin ramai karena banyaknya order dari Departemen dalam negeri dan departemen keuangan, apalagi disaat peralihan ibukota dari Yogyakarta ke Jakarta maka semakin banyak dokumen yang harus dicetak di sana.

Saking banyaknya orderan Sahid harus membagi orderannya ini dengan percetakan lain yang ada di Surabaya, Bandung dan Semarang. Untunglah Sahid juga banyak membina hubungan dengan pengusaha percetakan di luar daerah. 
 
Dia mampu mengatasi orderan membludak tak keteteran menanganinya. Yang membedakan Sahid dan pebisnis di masa Orde Baru bahwa kanyataan bahwa ia tak pernah meminta- minta. Pertemanannya dengan pejabat memang sebatas mencari teman, mengikat tali persaudaraan.

Bisnis yang moncer sepenuhnya ia lakukan dengan paham profesionalitas. Percetakan Sahid akhirnya bisa semakin maju saja dan mesin- mesin pabriknya semakin canggih pula. Dia pun diangkat menjadi Presiden Direktur di perusahaan percetakan yang didirikannya. 
 
Pundi-pundi modalnya pun semakin berkembang pesat. Bisnis percetakan milik Sahid menjadi auto pilot atau bisa bekerja sendiri tanpa dirinya turun tangan langsung. Perlu sebuah ekspansi, Sahid tidaklah berpuas diri.

Dia melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka lembaga pendidikan, yaitu mendirikan Akademi Grafika dan Sekolah Tinggi Grafika di tahun 1965. Sebagai pengusaha tentulah ia sering bepergian ke luar daerah. 
 
Suatu hari, ketika sedang bepergian ke Medan, karena saat itu penerbangan begitu penuh membuat Sahid harus menginap di hotel untuk waktu yang cukup lama. Dari situ insting bisnisnya bekerja lagi. Dia berfikir, bahwa untuk Negara Indonesia yang sedang berkembang membutuhkan hotel. 
 
Indonesia baru saja merdeka tentu hotel sangat diperlukan, apalagi persaingannya belum begitu ketat. Akhirnya ketika sampai di Solo beliau langsung membangun hotel di sana. Modal yang digunakan adalah hasil dari bisnis percetakannya selama ini. 
 
Ada cerita menarik ketika proses pembangunan Hotel Sahid. Ketika itu semen sangatlah langka karena kondisi Indonesia yang memang gencar-gencarnya membangun. Kesulitan mendapatkan semen juga dialami oleh Sahid kala itu. 
 
Akhirnya dengan terpaksa dan tidak berniat melanggar hukum, ia memutuskan untuk menggunakan semen ilegal hasil selundupan. Ini dilakukannya agar proyek pembangunan Hotel Sahid segera diselesaikan agar bisa segera dijalankan. 
 
Setelah terbangun satu hotel, Sahid terus mengepakkan sayap di bisnisnya yang satu ini. Tahun demi tahun hotel yang dibangunnya bertambah banyak. Bisnisnya yang lain pun semakin berjaya antara lain industri, perdagangan kertas, biro perjalanan, pariwisata, pertanian, konstruksi dan perkebunan. 
 
Sahid juga menjadi salah satu pendiri Harian Bisnis Indonesia hingga saat ini beliau menjabat sebagai pimpinan umum. Dia kemudian membuka bisnis pendidikan lain, yaitu Universitas Veteran Bandung Nusantara di Sukoharjo melalui Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Sosial Sahid Jaya. 
 
Kemudian ia juga membuka lagi satu Akademi Perhotelan pada tahun 1988 dan kemudian menjadi Universitas Sahid. Selain berbisnis, Sukamdani Sahid juga membangun dan sekaligus menjadi pengurus pesantren di Bogor, Jawa Barat. 
 
Menurut biografi Sukamdani Sahid, orang Islam terutama Santri harus piawai berbisnis. Seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang juga seorang pengusaha. Bagi beliau kerja keras, keilmuan dan keimanan yang kuat adalah satu yang tak bisa dipisahkan. 
 
Ia kemudian menulis buku berjudul Wirausaha Berbasis Islam dan Budaya. Begitulah kisah biografi dari pendiri jaringan Hotel Sahid, pengusaha pribumi yang sangat mandiri.

Motivator Ari Chandra Ayo Belajar Wirausaha

Profil Pengusaha Ari Chandra

 
arichandra.png
 
Nasib tragis pernah menimpa motivator Ari Chandra dulu. Dia kini sibuk mengajari belajar wirausaha. Nama lengkap Ari Chandra Kurniawan, berusia 24 tahun, senang akan kehidupan malam sampai merusak hidupnya kelak. 
 
Hingga ia mampu berrubah menjadi positif. Dia kini menjadi motivator berkelas internasional. Bagimana Archan bisa menyukai dunia malam. Kisah bermula dari Archan yang telah mandiri sejak dini. Usianya 9 tahun sudah mencari uang sendiri.

Dia pernah berjualan koran, berjualan ikan, dan membuat kacamata berbahan plastik bekas. Uang baginya bukanlah perkara sulit dia dapatkan. Beranjak dewasa jualan Archan mulai lebih berkualitas. Hingga ia mampu buat membiayai kuliah sendiri.

Archan kemudian berjualan produk multi- level marketing CNI. Tentu keuntungan lebih tinggai dibanding berjualan koran. Dunia penjualan sudah mendarah daging baginya. Walau penolakan datang dan cercaan selalu muncul ketika jualan.

Belajar wirausaha termasuk jualan dari pintu ke pintu. Archan sudah siap ditolak. Namun Archan terus berjualan sampai berhasil. Kemudian Archan mengajak beberapa teman membangun bisnis. Belajar wirausaha termasuk bekerja sama.

Dia mengajak teman- temannya membuka event organizer (EO). Archan berhasil mengadakan acara berkelas nasional. Alumni Universitas Trisakti, Sekolah Tinggi Manajamen Transpor Udara, yang makin memiliki jaringan pertemanan luas.

Archan pernah ikut komunitas breakdance. Mereka kemudian diajak aneka acara di kafe atau diskotik seantero Jakarta. Archan terus memenangkan aneka kompetisi tari. Dia pernah menjadi bintang iklan sepatu. Inilah cikal dia sangat menyenangi dunia malam sampai suatu hari.

Dia bertemu sosok Reza M. Syarif M.A. MBA. Reza dikenal motivator, dan grandmaster motivator Indonesia. Lewat dia berubahlah Archan menjadi lebih baik. Reza mengajak Archan hidup lebih baik tanpa membuang masa muda.

Buktinya dia membangun Spinners Club, tempatnya anak- anak muda berbakat. Dia juga membangun bisnis warung tenda 4Rest. Archan pun menjadi presiden direktur PT. Maha Andalan Gemilang, di bawah bendera Maha Corporation yang bergerak general trading dan suplier.

Archan memiliki gaya berbicara lantang. Alhasil dia dijuluki motivator "Sang Provokator", dan punya 300 jam terbang pelatihan. Cita- citanya memprovokasi anak muda jadi pengusaha. Dia memiliki target mengajak 170.845 pemuda menjadi pengusaha 2010 silam.
 
"Pemuda jangan hanya membuat kisah, tapi membuat sejarah," tutupnya.

Syafir Yakup Buktikan Diri Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Syafir Yakup Bawean

 
pengusahamuda.png

 
 
Membuktikan diri jadi pengusaha muda tak mudah. Syafir Yakup asal Bawean, Gresik, akrab dipanggil Caping pekerja keras. Dia menjadi pemberitaan banyak media masa. Penampilannya ramah dan kalem yang memiliki dua buah bisnis.

Pertama merintis bisnis travel pada 1997 di Gresik. Ia menjadi agen travel kapal Jet Foil. Prospeknya dulu masih sangat besar. Kemudian dia berkembang menjadi bisnis perajalanan wisata. Caping kembangkan ini hingga menjadi penjualan 24 jam untuk warga Bawean.
 

Pengusaha Sosial


Mereka kebanyakan akan berangkat ke Malaysia atau Batam pulang pergi. Pembeliannya akan melalui Caping dan dilayani kapanpun. "Hampir setiap hari ada saja warga Bawean yang memesan dari saya," ujarnya.

Sibuk menjadi pengusaha muda tetapi tetap berorganisasi. Ia menjadi sekertaris Pemuda Bawean Gresik (PBG), pengurus KWBG, dan manajemen Bawean FC. Dia berbisnis travel melalui agensi PT. Artha Guna Wisata dan pemilik cuci mobil Baita Motor di Jalan Usman Sadar Gresik.

Buktikan diri pengusaha muda Bawean ini bertahan. Walau banyak kendala termasuk dalam membuat bisnis travel wisata. Caping memulai dari penjualan tiket kapal Jet Foil. Dia kemudian mandiri lewat perusahaan sendiri PT. Safari Megah Abadi Travel.

Syafir memang memiliki kepedulian sosial tinggi. Tujuan usahanya di bidang perjalanan sebab warga Bawean (pulau) butuh transportasi. Bayangkan buat perjalanan via udara masih dikuasai satu pemain pesawat perintis. Syafir siap melayani tiket penerbangan tanpa mencari untung.

Syafir sebagai pengurus KWBG atau Kerukunan Warga Bawean Gresik aktif. Termasuk mendukung adanya tempat singgah. Ia menyoroti hubunganj Bawean sebagai pulau dan Gresik. Adanya tempat singgah akan memudahkan warga pulau Bawean.

Bayangkan warga Bawean butuh layanan kesehatan prima. Dan Gresik memiliki RSUD Ibnu Sina, dan warga Bawean banyak dirujuk ke sana. Mereka membutuhkan tempat singgah sementara. Warga daroi Bawean butuh tempat singgah di pelabuhan.

Dari pasien dan ibu hamil bisa singgah lima hari. Ini akan memangkas biaya inap rumah sakit. Juga melayani konsumsi sampai layanan kesehatan.

Elang Gumilang Pengusaha Perumahan Rakyat

Biografi Pengusaha Elang Gumilang

 
elanggumilang.png
 
Tentu tidak untung besar pengusaha perumahan rakyat ini. Dibanding pengusaha lain yang memilih membangun perumahan mewah. Ada idealisme dia coba bangunkan. Elang Gumilang, nama pemuda kelahiran Bogor, 6 April 1985 ini, melihat orang miskin layak memiliki perumahan murah dan layak. 
 
 
Tidak hanya menyangkut harga murah, melalui Elang Group, fokus pada pembangunan perumahan sederhana sehat (RSH). Berayahkan seorang kontraktor sudah pasti mempengaruhi pilihannya. Dari bisnis biasa lalu berbisnis properti, tampaknya disinilah jalannya mengikuti jejak sang ayah.

Elang adalah anak pertama dari tiga saudara pasangan H. Enceh (55) dan Hj. Prianti (42). Dia terlahir dari keluarga yang lumayan berada, yaitu ayahnya yang seorang kontraktor, sedangkan untuk ibunya, beliau adalah ibu rumah tangga. 
 
Sejak kecil Elang kecil diajari bahwa segala sesuatu dapat diperoleh secara gratis, lebih tepatnya mengajarkan bahwa segala sesuatu harus ada perjuangan. Ditambah pemahaman tentang agama bahwa sesungguhnya rejeki datangnya dari Allah SWT; dia diajari untuk yakin akan do'a dan usaha.

Menjadi Pengusaha

 
Ketika duduk di bangkus sekolah dasar, dia dikenal sebagai anak yang pandai. Di sekolah dasar Pengadilan 4 Bogor, Elang kecil sering mengikuti berbagai perlombaan. Bahkan pernah mengalahkan anak SMP untuk perlombaan cerdas cermat. 
 
Karena kepintarannya ia menjadi murid kesayangan guru- gurunya. Di SMP, ia diterima di sekolah terfavorit di Bogor, dan selalu ranking satu. Pemuda kelahiran 6 April 1985 ini mengaku kesuksesan yang didapatnya bukan lah instan.

"Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu yang bisa dicapai secara instan," tegasnya. 
 
Jiwa wirausaha Elang mulai bergelora ketika memasuki kelas 3 SMA. Dia bertekat untuk mandiri, membiayai kuliahnya sendiri dan tak tergantung kepada orang tuanya. Ia memiliki target mendapat uang 10 juta dari usahanya untuk biaya kuliah nanti. Berjualan donat. 
 
Akhirnya tanpa sepengetahuan orang tua, ia memulai bisnis kecil- kecilan berjualan donat keliling.

Setiap hari ia mengambil 10 boks donat masing- masing berisi 12 buah dari pabrik donat. Elang kemudian jajakan ke Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata lumayan juga hasilnya. Dari hasil jualannya ini, setiap hari Elang bisa meraup keuntungan sekitar Rp.50 ribu. 
 
Setelah beberapa bulan, rupanya kegiatan sembunyi-sembunya ini akhirnya tercium juga oleh kedua orang tuanya.

"Karena sudah dekat UAN, orang tua menyuruh saya untuk berhenti berjualan donat. Mereka khawatir kalau kegiatan saya ini mengganggu ujian akhir," jelas pria yang pernah menang lomba bahasa sunda tahun 2000 se- kabupaten Bogor ini.

Dilarang berjualan donat. Elang justru tertantang untuk mencari uang dengan cara lain yang tidak mengganggu sekolahnya. Suatu ketika di tahun 2003, ketika Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competion se-Jawa, Elang mengikuti lomba tersebut dan menang. 
 
Begitu pula saat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang berhasil menjadi juara ke-tiga. Hadiah uang yang diperoleh dari setiap perlombaan ia gunakan sebagai modal kuliah.

Selepas lulus SMA, Elang memutuskan melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB. Dia masuk tanpa mengikuti tes SPMB sesebagaimana calon mahasiswa yang akan masuk perguruan tinggi negeri. Itu semuanya berkat pengalaman mengikuti lomba- lomba tersebut diatas, terutama yang diselenggarakan oleh IPB sendiri. 
 
Sewaktu awal masuk kuliah, Elang mendapat musibah hingga  Rp.10 jutanya tinggal Rp 1 juta. Namun Elang enggan memberitahu apa musibah yang dialaminya kepada kedua orang tua, padahal rencananya itu akan menjadi modal usaha.

Meski sekarang modalnya hanya 1 juta, Elang mengaku tetap semangat untuk berusaha. Uang modal 1 juta tersebut dibelikannya sepatu lalu dijual di Asrama Mahasiswa ITB. Uang Rp.1 juta, dalam tempo satu bulan, telah berubah menjadi Rp.3 jutaan. 
 
Tapi setelah berjalan beberapa tahun, orang yang menyuplai sepatu entah kenapa mulai menguranginya kualitas sepatunya. Satu- per- satu pelanggan pergi, tak mau lagi membeli sepatu Elang. Sejak itu, ia memutuskan untuk tidak lagi berjualan sepatu lagi.

Bisnis Elang


Setelah tidak lagi berbisnis sepatu, dia justru kebingungan mencari bisnis apalagi. Pada awalnya, dengan sisa modal uang bisnis sepatu, rencanaya akan digunakan untuk bisnis ayam potong. Tapi, ketika akan terjun ke bisnis ayam potong, Elang justru melihat peluang bisnis pengadaan lampu di kampusnya. 
 
"Peluang bisnis lampu ini berawal ketika saya melihat banyak lampu di IPB yang redup. Saya fikir ini adalah peluang bisnis yang menggiurkan," jelasnya. Karena tak punya modal berlebih, ia menerapkan strategi Ario Winarsis, atau bisnis tanpa modal. 
 
Arti Ario Winarsis sendiri adalah pemuda miskin dari Amerika Latin. Awalanya dia (Ario Winarsis) yang mengetahui ada seorang pengusaha tembakau yang kaya raya di Amerika, setiap hari ketika pengusaha itu keluar rumah, dia selalu melambaikan tangan ke pengusaha itu. 
 
Pada awalnya pengusaha itu tidak memperdulikan si Ario ini. Tapi karena Ario ini selalu melambaikan tangan setiap hari, pengusaha tembakau itu menemuinya dan mengatakan, "Hai pemuda, kenapa kamu selalu melambaikan tangan setiap saya ke luar rumah?". 
 
Pemuda miskin itu lalu menjawab, "Saya punya tembakau kualitas bagus. Bapak tidak usah membayar dulu, yang penting saya dapat PO dulu dari Bapak." Pengusaha kaya itu lantas membuatkan tanda tangan dan stempel untuk pemuda itu.

Dia bermodal cuma satu stempel dan tanda tangan. Pemuda tersebut lantas pulang dan mengumpulkan hasil tembakau di kampungnya untuk di jual ke si pengusaha kaya raya itu. Maka, jadilah pemuda itu orang kaya raya tanpa modal uang. 
 
Elang Gumilang, bermodal surat dari kampus, mencoba melobi perusahaan lampu Philips pusat untuk menyetok lampu. Dan jadilah, "Alhamdulillah proposal saya gol, dan setiap penjualan saya mendapat keuntungan Rp 15 juta," ucapnya bangga.

Karena bisnis lampu bersifat musiman jadilah perputaran uang tidak teratur. Suatu ketika ada celah di bisnis minyak goreng, caranya: setiap pagi sebelum kuliah, Elang akan membersihkan puluhan jerigen, kemudian diisi minyak goreng curah, dan dikirim ke warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor.
 
Setelah selesai mengirim minyak, barulah ia pergi ke kampus. Sepulang kuliah, dia kembali untuk mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali esoknya. Namun bisnis ini tidak berjalan baik terutama karena mengganggu kuliahnya. 
 
Bisnis minyak goreng yang membutuhkan 80% otot membuatnya kelelahan. Tak mau melanjutkan bisnis semacam ini, ia pun bergegas mencari jalan keluar. Kali ini Elang menggunakan otak mencoba mencari- cari cara dari orang lain. 
 
Elang segara berkonsultasi ke beberapa para pengusaha dan dosennya meminta sedikit wejangan. Dari hasil konsultasi, ia mendapat pencerahan bahwa berbisnis tidak harus selalu memakai otot, dan banyak jalan untuk berbisnis dengan otak.

Salah satu bisnis yang disarankan ialah membuka bisnis lembaga bahasa Inggris. Bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi tentunya, bisnis lembaga bahasa Inggris sangat lah diperlukan. 
 
"Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif apalagi di kampus, karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak mau kita dituntut untuk bisa bahasa Inggris," jelasnya. Adapun modal, Elang sekarang lebih memilih untuk berpatungan dengan kawan-kawannya.

Sebenarnya ia bisa membiayai usaha itu sendiri, tetapi karena pegalaman saat jualan minyak, ia memutuskan untuk mengajak teman- temannya. Karena lembaga kursusnyanya ditangani secara profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri; pihak Fakultas Ekonomi mempercayakan lembaganya itu menjadi mitra. 
 
Karena di bisnis lembaga bahasa Inggris Elang tidak terlibat langsung dan hanya mengawasi saja, ia manfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai marketing perumahan.

"Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, saya hanya mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen," ujarnya.  Setelah berbisnis lembaga asing, Elang masih mencari- cari bisnis apa lagi yang bisa dijalankan dengan otak bukan otot.

Bisnis Perumahan rakyat


Ada ketidak tenangan dalam langkah seorang Elang Gumilang atas bisnis- bisnisnya. Padahal jika dilihat ia telah berusaha maksimal tapi hasilnya selalu kegagalan demi kegagalan. Sesuatu dirasakan salah hingga hati membawanya kembali kepada Tuhan, Allah SWT. 
 
Ia merenung selama ini, disepanjang jalan bisnisnya, tidak ada rasa syukur terucap. Setelah pengalaman itu ia selalu bersyukur jika menemukan kemudahan atas usaha, dan tak lagi berhenti berdoa ketika mencari jalan di saat kesusahan.

Mau bisnis apalagi? Elang mulai shalat istikharah minta ditunjukkan jalan bisnisnya. "Setelah shalat istikharah, dalam tidur saya bermimpi melihat sebuah bangunan yang sangat megah dan indah di Manhattan City, lalu saya bertanya kepada orang, siapa sih yang membuat bangunan megah ini? 
 
Lalu orang itu menjawab singkat, "Bukannya kamu yang membuat?" Setelah itu Elang terbangun dan merenungi maksud mimpi tersebut. "Saya pun kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dunia properti," ujarnya.

Pengalaman di dunia marketing cukup membantunya terutama menjadi marketing perumahan. Inilah jalannya masuk ke dunia properti. Awal tahun 2005, ia masih menjadi mahasiswa IPB, dibelilah sepetak tanah untuk rumah pertamanya. 
 
Modalnya dari patungan bersama teman-teman semasa SMA nya dan kuliahnya. Rumah sederhana berukuran 22 meter persegi dengan luas tanah 60 meter persegi itu langsung laku ketika selesai dibangun.

Terbukti orang hanya perlu rumah murah seharga 25 jutaan, harga yang bagi sebagian kalangan menengah keatas tak akan cukup untuk membeli sebuah tas bermerk namun sangat dibutuhkan oleh kalangan bawah. 
 
Dari sini, pola pikir membangun untuk kalangan bawah muncul, bisnis properti tidak lagi tentang membangun rumah mewah. Bisnis ini hanya membutuhkan 7 orang untuk mengurus administrasi hingga pemasaran rumah. Namun lambat laun, bisnisnya ini berakar dan menggeliat hingga tumbuh.

Dari cuma satu unit bertambah menjadi tiga unit, bertambah terus hingga mencapai 200 an rumah dibangunnya. Elang pun mulai percaya diri, mengikuti berbagai tender untuk membangun properti pemerintah. 
 
Tender pertama yang ia menangi senilai Rp 162 juta di Jakarta, yakni membangun Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat.  Sukses menangani sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang lebih besar. Ia kemudian mendapatkan tender untuk membangun perumahan.

Prinsip bisnisnya menarik jika kebanyakan kontraktor memilih perumahan mewah , tidak untuk seorang Elang Gumilang. Prinsipnya di Indonesia ada 70 juta rakyat yang masih belum memiliki rumah. Apalagi rumah juga merupakan kebutuhan yang sangat primer. 
 
"Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah," jelasnya lagi.

Bagi Elang sendiri, kalau mau kenal orang maka kenalilah 10 orang terkaya di Indonesia dan juga kenal 10 orang termiskin di Indonesia. Mengenal keduanya akan membuat anda rela melakukan sesuatu untuk mereka yang miskin. 
 
Jadi jika kamu mau mengenal lebih banyak orang miskin yang kemudian kaya; ikutilah blog ini selalu tambahan dari kami. :)

Biodata


Nama : Elang Gumilang
Kelahiran : Bogor, 06 April 1985
Pendidikan : S1  Fakultas Ekonomi dan Manajemen,  IPB.
Jabatan : CEO Elang Group
Website: elanggroup.co.id

Penghargaan :

1. Pemenang I Wirausaha Muda Mandiri (2007)
2. Top Youth Entrepreneur versi Warta Ekonomi ( 2008)
3. Man of the Year 2008 versi Group Jawa Pos
4. Pemuda Pilihan 2008 Versi TV One
5. Juara Lelaki Sejati Pengobar Inpirasi 2009 versi Bentoel
6. Tokoh Pilihan Majalah Tempo (2009)
7 Penghargaan Ernst & Young Indonesian Entrepreneur Of The Year 2010
8. Pemuda Andalan Nusantara (2010)
Kiat Sukses :

1. Memilih usaha yang kita kuasai terlebih dulu.
2. Niat pelayanan. Setelah kita memberikan pelayanan yang baik, profit nantinya akan mengikuti.
3. Berusaha dengan baik.  Usaha yang dilakukan harus benar, baik dari cara strategi pemasarannya, promosi, menjalankan usaha dan sebagainya.
4. Antara niat dan usaha harus jalan beriringan.
Dari bisnis donat  sampai real estate

Jiwa kewirausahaan  sulung  dari tiga bersaudara pasangan H. Misbach dan Hj. Priyanti ini, tidak didapat secara instan tapi  merupakan buah dari pergulatan hidupnya, berikut garis besar perjalanan bisnisnya:

1. Saat bersekolah di SMAN 1 Bogor, setiap hari berkeliling menjual 10 boks donat (satu boks isi 12 donat) ke beberapa SD.  Keuntungannya Rp 50.000./hari
2. Tahun 2003 menang kompetisi ekonomi di IPB dan UI. Sambil  kuliah berjualan sepatu ke asrama-asrama mahasiswa IPB. Omzet Rp 3 juta/bulan. Namun usaha itu tidak berlangsung lama. Kualitas sepatu yang dijualnya menurun, mengakibatkan pesanan merosot.
3. Bermodal  surat dari kampus, mengajukan proposal ke  Philips untuk menyuplai  lampu ke kampusnya. Setiap penjualan lampu, Elang untung Rp 15 juta. Namun karena sifatnya insidental dan perputaran uangnya lambat, ia tidak meneruskan usaha ini.
4. Berikutnya mencoba berjualan minyak goreng. Namun lantaran kecapean setiap pagi  harus mengantar minyak goreng ke warung-warung, kuliahnya terganggu.
5. Merintis usaha kursus bahasa Inggris English Avenue, di kampusnya dengan modal Rp 21 juta hasil patungan bersama teman-temannya. Ia tidak turun langsung, hanya mengawasi saja.
6. Bekerja sebagai sales marketing perumahan dengan sistem  komisi dari setiap rumah yang terjual. Pengalaman sebagai  marketing perumahan inilah yang mengantarnya menjadi pengusaha sukses di bidang properti seperti sekarang ini.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba