Profil Pengusaha Pipa Bekas Rivaly Gerung

Profil Pengusha Rivaly Gerung


daur ulang pipa wirausaha

Bisnis barang bekas sudah tidak bisa dipungkiri memiliki prospek menjanjikan. Selama kita memiliki kreatifitas maka jadilah uang. Faktor bahan baku yang ada dimana saja. Harga murah lebih murah jika dibandingkan menggunakan bahan baku baru. Maka contoh pengusaha muda barang bekas asal Sulawesi Utara ini.

Pria bernama Rivaly Gerungan, pemuda Tondano Selatan, Sulawesi Utara. Memulai berbisnis yang memanfaatkan pipa pvc bekas. Diolahnya menjadi bermacam piala. Pipa- pipa bekas bahan bangunan dicari di tempat sampah, atau yang dibuang ke selokan.

Tidak ada gengsi Rivaly memunguti pipa- pipa bekas. Pengusaha muda satu ini memiliki rasa seni tinggi. Hasilnya karya tersebut menghasilkan uang jutaan rupiah.

Ide bisnis awal ketika melihat sampah terbakar di depan rumah. Sang istri, Amel, saat itu spontan tertarik akan corak pipa bekas yang terbakar. Keterikan tersebut kemudian direalisasikan menjadi satu produk. Ia mencoba membuat karya seni berbekal pipa bekas tersebut.

Produk pertama dibuat adalah piala. Karya seni piala tersebut pertama berbentuk sketas wajah anjing. Berawal dari pipa yang bercorak menarik, yang susah dibakar menjadi bisnis kerajinan. Ia tidak serta merta membuat karena pipa pvs bekas memiliki unsur racun.

Dibutuhkan teknik khusus dan bahan khusus agar aman. Meyakinkan para pembeli menjadi pekerjaan awal. Sukses meyakinkan, banyak komunitas, instansi pemerintah, restoran, sampai perkantoran jadi pembeli Rivaly. Ia juga membuat pesanan sesuai kebutuhan pembeli.

Tiga piala dibandrol Rp.500 ribu. Harganya bervariasi dan terhitung tinggi karena pengerjaanya. Ia menyebut meski diambil dari tempat sampah atau selokan. Pengusaha muda ini berharap ke depan dia bisa memajang produknya di meja- meja kantor.

"Semoga karya saya kedepan bisa dipajang di meja kaca atau meja kantor," tuturnya

Produk dihasilan Rivaly juga mulai bervariasi. Tidak lagi monoton. Produknya meliputi vas bunga, meja, jam, dan lain- lain. Karya seni Rivaly laris menerima pesanan dari sosial media. Omzet yang dihasilan hingga Rp.14 juta/bulan.

Resep Membuat Kopi Rempah Bisnis Puluhan Juta

Profil Pengusaha Dewi Ratna Kumbiati


pengusaha kopi rempah

Berbisnis tidak selamanya direncanakan. Beberapa pengusaha sukses justru karena keahlian mereka sangat langka. Contoh ibu bernama Dewi Titik Ratna Kumbiati, siapa sangka dari keahlian meramu rempah mampu mendatangkan rejeki. Omzet diraih mencapai Rp.100 juta dari penjualan kopi herbal ini.

Berawal kebiasaan meracik kopi sendiri. Ratna tidak sekedar membuat kopi untuk tamu. Tetapi juga dimanfaatkan sebagai energi dan kesehatan keluarga. Ditambah racikan rempah turun- temurun itulah menjadi pembuka rejeki.

Racikan kopinya mendapatkan pujian dari tamu. Kemudian ada seseorang yang nyeletuk agar Ratna bisa menjualnya ke umum. Bermodal uang minim Rp.150 ribu, ia lantas membelikan kertas hvs, biji kopi, rempah- rempah. Cuma dibelikan biji kopi seberat tiga kilogram tidak banyak.

Ia lantas meminta digilingkan oleh pedagang pasar. Karena waktu itu Ratna belum memiliki mesin penggiling sendiri. "Saya sempat menggunakan kertas hvs sebagai pembungkus," kenangnya. Yang mana sebelumnya kopi racikannya dilapisi kertas plastik dulu.

Bertahap dia membeli dua mesin pengemas kopi sendiri. Harga perunitnya Rp.3 juta, yang mana ia juga membeli satu mesin penggiling kopi seharga Rp.4. Baru berbisnis ternyata bisnis Ratna benar- benar mengasilkan keuntungan besar.

Bisnis cerdas


Sukses Ratna berbisnis tidak berhenti cuma menghasilkan untung. Ia memastikan bahwa produknya terjaga lewat membuka perusahaan. Ia memberi nama produknya Dewi Kumbi, tercatat hak paten sejak November 2011, dibawah perusahaan bernama UD. Cahaya Ilahi.

Selesai mengurusi perusahaan, produksi besar- besaran dilakukan pada Februari 2012. Pengusaha wanita asal Jombang ini tidak berhenti di kopi. Produk lainnya ada jahe merah, kopi putih instan, dan kopi bubuk rempah. Setiap produk dijual seberat 100gram. Produknya dibandrol Rp.12- 15 ribu tiap bungkusnya.

Produk Ratna laris karena berbekal fakta. Produknya sudah dijamin tidak mengandung kimia. Maka tidak perlu khawatir mengganggu kesehatan justru menjaga kesehatan. Dia meyakinkan dengan fakta bahwa umur 40 tahun sangat tidak baik minum kopi berbahan kimia yang di pasaran.

"...produk Dewi Kumbi bebas zat kimia," jelasnya.

Produknya ada bernama Kopi Kapologo, yaitu perpaduan biji kopi excelsa memiki aroma moka kuat, dipadukan dengan rempah kapulaga, cengkeh, jahe merah, dan kayu manis. Ia mengembangkan satu ini karena pernah mendengar ucapan salah satu pelanggan.

Ia pernah mendengar bahwa kunir putih berkhasiat mengatasi kanker. Maka pengusaha wanita ini langsung merancang produk miliknya. Pokoknya setiap ada tanggapan positif dari pembeli, langsung ditanggapi dengan senang hati dan diaplikasikan ke produknya.

Produk miliknya tidak cuma dijual lokal. Orang Jepang pernah membrong produknya 10 kilogram, tahun 2010 silam, yang kemudian ada orang Belanda dan Malaysia. Berbekal tampil di pameran PRJ Kemayoran bisnisnya menggeliat. Produknya tersebar di Bali, Jombang, Sampit, dan Palembang.

Ia juga sukses menggaet pembeli dari Timur Tengah. Tercatat ada Mesir dan Dubai tertarik, namun dia menyatakan tidak ekspor ke sana. Alasannya karena permintaan besar tetapi dia belum memiliki kemampuan finansial ke sana.

Dibantu tujuh orang pekerja, bisnis rumahan ini ternyata menghasilkan banyak, sistem tenaga lembur ketika pesanan berlebih menunjang bisnis Ratna. Pemesanan langsung minimal 20 bungkus yang mana biaya pengiriman ditanggung pembeli.

Ide bisnis itu datang kala dia menyiapkan minuman untuk tamu. Kemudian lahirlah bisnis minuman rempah. Sejak berbisnis awal dia sudah mendaftarkan paten produknya ke Disperindag Kabupaten Jombang, mengantongi serifikat P-IRT atau industri rumah tangga.

Kopi- kopi milinya bahan utamanya didapat dari Wonosalam, Jombang. Bahan temulawak juga dia dapat dari Jombang. Berbeda dengan jahe dan kopi, temulawak diproduksinya tidak banyak hanya cukup 25kg selama tiga bulan. Beberapa kali dia mengikuti pameran hingga produknya dikenal oleh masyarakat.

Aktivitas bisnis Ratna ternyata bukan karena kebutuhan pokok. Melainkan mengisi waktu luang jadi ibu rumah tangga, namun ketika sudah terjun di dunia bisnis, pengusaha wanita muslim ini lakukan semuanya secara profesional. Jiwa entrepreneushipnya sangat kuat termasuk membantu kemajuan desa sendiri.

"Lha, terus saya mau ngurusi apa di desa?" selorohnya, wanita yang sebenarnya memiliki pekerjaan bagus yakni bimbingan konseling perusahaan, ini memilih berwirausaha juga karena ikut membantu membuka lapangan kerja.

Meraup Untung Berbisnis Kerajinan Gerabah Bambu

Profil Pengusaha Kerajinan Sunardi


cara membuat gerabah bambu
 
Berbisnis kerajinan tangan memang susah. Sunardi, 31 tahun, sudah berpikir untuk bisa berbisnis sendiri. Sukses baginya adalah perjalanan kreatif dan panjang. Lewat kerajinan bernama gerabah tempel dia berhasil ekspor ke luar negeri. Menurutnya tampilan gerabah kala itu tidak menarik hati.

Pria warga Dusun Neco, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Yang berpikir gerabah ditawarkan pengrajin di sana tidak menarik untuk dijual. Maka dia menempeli gerabah dengan kulit bambu. Sunardi lantas mengajak dua orang temannya yang pengangguran.

Modal Rp.80.000 diberi nama produk itu gerabah tempel. Tahun 2002 dimana prosesnya meniru apa gerabah tempel yang sudah ada. Namun ditambah variasi tempelan kulit bambu. Limbah kulit bambu cukup banyak di daerahnya. Dimana kebanyakan merupakan pengrajin "kepang" atau "gedhek" dari bambu.

Limbah bambu disulap menjadi gerabah. Ia membeli kulit bambu bekas seharga Rp.1500- 2000 per- ikat. Ukuran 50- 60 cm dengan ketebalan 0,5 milimeter. Gerabah sendiri dibeli dari pengrajin asal Kasongan, Bantul, yang seharga Rp.30 ribu- 40 ribu. Caranya cukup mengambil lem kayu kemudian tempeli gerabah menggunakan lem kayu, lapisi dengan kulit bambu satu per- satu rapih.

Kalau sudah dikeringkan, setelah kering kemudian dicuci, dijemur hingga kering kembali. Begitu kering tinggal dicat sesuai kebutuhan pembeli. Kalau pembeli meminta dicat sepuluh warna. Ia akan menyanggupi sesuai permintaan.

Selepas mengikuti Festival Kesenian Yogyakarta, bisnis gerabah Sunardi semakin maju. Awalnya dia sempat tidak percaya diri. Lantaran hari pertama barangnya tidak laku. Orang cuma meminta kartu nama saja. Tetapi dua minggu selepas itu pesanan datang bahkan dalam jumlah besar.

Pesanan datang dari broker yang menawarkan produk miliknya. Mereka menjual lewat jasa pesan sesuai keinginan konsumen. Lambat laun usahanya ini berkembang bahkan sudah menebus pasar internasional. Dalam sebulan dia dibantu 30 orang karyawan menghasilkan 500- 1000 unit gerabah.

Dijual sesuai besar kecilnya gerabah. Dimana dia menyebut angka kotor Rp.70 juta. Gaji karyawan Rp.1- 1,5 juta per- bulan. Jerih payah tersebut membuatnya mampu membangun rumah dua tingkat, dan empat buah motor. Kehidupan Sunardi kini bisa dibilang sudah sangat mapan dibanding ketika nganggur.

Profil Kerajinan Kain Daun Kain Ulap Doyo Menginspirasi

Profil Pengusaha Myra Widiono


pendiri bisnis kain ulap doyo

Siapa sangka kalau daun bisa dirubah menjadi kain bati. Kreatifitas orang Indonesia memang sudah menembus batas terutama di bidang kerajinannya. Inilah kisah kain Ulap Doyo, satu buahnya dijual Rp.1,5 juta. Batik khas Kalimantan ini merupakan hasil kerajinan sebuah desa bernama Desa Tanjung Isuy.

Pengusaha wanita dibalik sukses mengangkat batik ini. Namanya Ibu Mira Widiono, penggagas batik ulap doyo, pemilik bisnis Rumah Rakuji mengelola hasil karya masyarakat untuk dipasarkan. Bahan dasar berbeda inilah menjadi nilai jual produk miliknya.

Bahan dasar utamanya adalah daun. Prosesnya dimulai dari pengambilan serat pada daun. Seratnya itu dikeringkan kemudian dijadikan benang kemudian ditenun. Kemudian diwarna dengan pewarna alam. Proses selanjutnya menurut Mira sama halnya dengan produksi batik biasanya.

Bertempat di rumah pengusaha Mira, di Rumah Rakuji, setiap kain ukurannya 200cm x 80cm. Ia lalu menjualnya Rp.1,5 juta per- lembar. Ukuran tersebut didasarkan ukuran tenun manusia. Jadi cocok karena ukurannya sepinggang dewasa. Bisnis ini tidak dia jalankan sendiri namun ada dukungan dari orang lain.

Pengusaha asal Jakarta dan Kalimantan membantu Mira. Peminat kain ini juga lumayan sehingga dia optimis bisnisnya ke depan. "...yang kurang suka minatnya ya membeli lembaran," paparnya.

Bisnis passion


Myra Widiono sebenernya bekerja sebagai seorang arsitek. Namun, dengan bakat kreatifnya itu, dari sekedar membuat desain kemudian merambah bisnis fashion. Sekarang bisnisnya sudah memiliki 60.000 pegawai. Bebekal kepercayaan bahwa Indonesia memiliki kekayaan kultur, utamanya kain.

Dia menjadi pengusaha berbekal kepercayaan. Ditambah passionnya akan seni, yang mana dia lihat sudah kurang ketika mengikuti pameran kesenian. Kreatifitas yang dianggapnya dulu tidak begitu mengejutkan. Akhirnya dia membuat sebuah komunitas untuk membuat sebuah kain.

Dari sana mulai dia mencoba membuat kain. Hasil karya kain ulap doyo mulai diperkenalkan. Kemudian lahir sebuah pameran bernama Pameran Tenun Indonesia, yang ternyata menggaet banyak antusias. Jujur dia bukan ahli dalam hal kain. Hanya passion yang membawa Myra hingga sekarang ini.

Kemudian masuk ke pameran tahun kedua. Ia mulai berkenalan dengan para peminat kerajinan kain. Lantas dia berkenalan dengan Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional). Tidak hanya kain, Myra mulai tertarik akan dunia kerajinan secara keseluruhan.

Mereka mengadakan aneka pameran, dari kain, kerajinan kayu, keramik,dll. Myra belajar dari sana, dan mengaggumi bagaimana leluhur kita memiliki kearifan lokal dalam berkesenian. Berbekal dari pengalaman tersebut Myra mulai membuat tim kerja.

Dia yang dasarnya senang berpergian. Mulai bersama berkeliling mempelajari kesenian. Bersama Dekranans juga mengadakan aneka pameran kesenian selama 5 tahun. Dia sadar bahwa kesenian kita terlahir karena adanya cinta.

Bisnsi Rumah Rakuji sudah berjalan sebelum dia ikut Dekranas. Dia tertarik tidak cuma kain, tapi juga kesenian tari, lukis, dan musik. Berkat ikut Dekranas dia berkenalan dengan keramik, kerajinan kayu, dan lainnya. Kenyataan bahwa pengrajin Kalimanta terlilit kemiskinan membuatnya semakin bersemangat.

Dia bersemangat untuk memajukan mereka. "Saya hanya bisa melakukan hal kecil, tetapi setidaknya saya melakukan sesuatu," jelasnya pada sebuah wawancara kepada Noesa.co.id

Memulai bisnis kain


Dari Dekranas, dia berkenalan dengan IKN (Industri Kreatif Nasional). Komunitas membawa Myra mengenal pewarna alami. Dia lantas kembangkan bersama workshopnya di Kalimantan, Flores, dan Sumba, mengajarkan masyarakat desa menggunakan pewarna alami.

Setelah keluar dari Dekernas, dia ikut kelompok Gerakan Pewarna Alam, tujuan awal bisnis Myra adalah sosial tidak menarget uang. Semua pameran penjualan tidak bertujuan mencari uang. Tetapi untuk mengembangkan kesenian kita. Termasuk memperkenalkan kepada masyarakat Internasional kita.

Di Kalimantan Barat, dia menemukan kain Ulap Doyo. Berbahan utama daun doyo, sebuah hal yang menyenangkan menemukan satu- satunya daerah menggunakan kain alami. Susah menemukan seni berbahan kain 100% alami. Menggunakan teknik ikat, sudah memiliki motif unik ketika disatukan jadi kain.

Sekarang ini kain tradisional tidak dibuat memuaskan. Kualitas menurun karena permintaan untuk produksi cepat. Masalah utama dihadapi berbisnis kain ulap doyo apa. Hanya ada 30 orang pengrajin di desa, dan hanya ada satu yang benar- benar ahli. Anak muda desa juga ragu untuk belajar ulap doyo.

Solusi produksi dikembangkan dia adalah membagi- bagi prosesnya. Setiap orang akan diposisikan pada posisi produksi tertentu. Dia kemudian mendapat dukuangan dari Pemda. Sayangnya Pemda meminta penggunaan warna kimia karena dianggap lebih cerah; lebih menjual.

Bisnis Myra adalah tentang kebutuhan masyarakat tanpa meninggalkan alami. Fokus bisnis sosial seorang Myra sendiri adalah artisan. Dia mengajak para artis muda, pengrajin muda untuk membuat sebuah pameran tetapi tanpa memaksa. Membangun komunitas lebih diutamakan untuk berbagi pemikiran.

Kenapa tidak memilih pewarna sintetik. Alasan kesehatan menjadi alasan utama. Buruk buat kulit, hingga menjadi polusi ketika usang. Banyak kepercayaan yakin bahwa pewarna alami justru bisa menyembuhkan penyakit.

Memanfaatkan Bio Slurry Bisnis Pupuk dan Sayuran

Profil Pengusaha Petani Sarianto


pengusaha pupuk bioslurry
 
Pagi begitu muram ketika tidak ada matahari di langit. Di sebuah tempat bernama Desa Babadan, Kec. Ngancar, Kabupaten Kediri. Suasana tampak bahagia di sisi lain, tampak seorang pria bersama wanita tengah berbincang, senyum tidak terlepas dari wajah keduanya terutama pria berkumis itu.

Siapakah mereka, nama pria itu Sarianto (49), dan istrinya, yang tengah berbincang dengan pewarta. Mereka tengah asik membahas hutang dan pekerjaan mereka. Dimana hutang puluhan juta itu sudah terlunasi. Hal lain yang membuat mereka senang adalah kontrak pengadaan 200 ton kompos sudah di tangan.

Perihal apa mereka membutuhkan kompos sebanyak itu. Ternyata mereka tengah membangun reaktor pengolah pupuk bernama Bio- Slurry. Usaha ini merupakan usaha rintisan dari usaha utama mereka yaitu pupuk kompos.

Pabrik kompos


Berbekal pupuk kompos, keduanya mencoba membuat perubahaan dalam berbisnis. Awal berkenalan dengan pupuk kompos ialah pada 2005. Sebagai petani terdorong untuk memotong biaya produksi karena beberapa kali merugi.

Dia menjelaskan menggunakan pupuk organik tidak cuma memperbaiki tanah. Alasan utamanya ialah menekan biaya produksi. Ketika dia tau bahwa pupuk organik juga membantu menyburkan tanah. Ia semakin mantab menggunakan pupuk organik karena memang tanah pertaniannya rusak.

Ia mengajak teman membentuk kelompok tani. Mereka mengumpulkan modal 3 juta rupiah. Uang itu digunakan untuk membeli pupuk kompos. Pada akhirnya cuma dirinya yang bertahan menggunakan kompos. Dan, memilih untuk juga memproduksi kompos untuk kebutuhan sendiri.

Usaha pembuatan kompos ini mulai ditekuni Sarianto. Bukan tanpa pengorbanan, ia menggadaikan BPKB motor dan menghasilkan uang 13 juta. Ia lantas menyulap halaman belakang menjadi pusat produksi pupuk organik.

Halaman belakang rumah dijadikan tempat penyulihan bahan baku. Agar bersih terpisah dari kotoran dan bahan plastik. Ada 2 mesin penyaringan dan 2 pengayakan. Sedangkan halaman samping dia gunakan sebagai lokasi composting dan packing. Juga menjadi tempat penumpukan kompos sebalum dijual.

Tenang karena Sarianto juga punya ruang tamu luas. Di sinis ada meja besar dan kursi panjang untuk ruang diskusi. Ada dua papan informasi berisi berbagai piagam penghargaan dan seritifikat kegiatan. Adapula brosur- brosur kegiatan yang sudah dan akan diikuti.

"Motif saya adalah untuk ekonomi keluarga, di samping untuk membantu petani," tuturnya.

Bagaimana Surianto bisa menjual pupuk murah kepada petani. Kenapa dirinya berani mengambil keputusan beresiko. Menjadi pengusaha pupuk kompos bisa- bisa gagal. Uang puluhan juta hasil gadai motor mungkin saja lenyap seketika.

Dia tidak menjelaskan dari mana asal keberaniannya. Setiap hari, ada lima orang pekerja yang rutin mengolah 20- 35 ton per- bulan. Tidak cuma menjual ke petani, beberapa perusahaan perkebunan yang menjadi pelanggan.

Hasilnya ada kontrak 200 ton pupuk kompos dari sebuah perusahaan menjelang lebaran 2013 silam. Dijual Rp.500/kg kepada petani dan 550/kg kepada perusahaan. Setiap pupuk kompos dijual dengan berat 40 kg per- zak. Jika orang lain merubah limbah menjadi gas, dia mengaku fokus menjual pupuk nya.

Sedangkan hasil gas nantinya akan digunakan untuk dapur. Dulu, Surianto pernah mencoba membuat biogas dari plastik, uang 800 ribu lenyak karena gagal. Selain baunya malah lebih bau dibanding jika memakai kotoran. Dia mengatakan bahwa memakai itu kompor tidak menghasilkan api matang.

Perhitungan bisnis


Jika orang bilang membeli reaktor rugi. Dia sudah hitung baik- baik. Jika dihitung reaktor sama saja dia membeli gas 3 kilo selama 3 tahun. Bedanya kan, setelah 3 tahun, otomatis biaya memasak di rumah sudah gratis. Disisi lain dia menghasilkan pupuk buat dijual ke petani atau perusahaan.

Apalagi semenjak elpiji naik, hitungan Surianto selaku pengusaha tepat, apalagi mengingat subsidi pupuk urea yang dicabut. Berkat subsidi pupuk urea dicabut maka penjualan pupuk kompos miliknya bisa naik. Pendapat inin diamini istrinya, Purwati, wanita 35 tahun yang sibuk mengurusi urusan dapur.

Dia mengatakan bahwa biogas dihasilkan sangat membantu. "Punya biogas sama dengan punya pabrik pupuk," jelasnya. Itu sangat meringankan sang suami yang petani, dan dapurnya semakin gampang ngepul. Otomatis penghasilan bulanan bisa dialihkan ke tempat lain selain ke biaya elpiji.

Ada tiga bpkb Surianto gadaikan, ketiganya bisa dilunasi lewat bisnis pabrik kompos, juga termasuk hutang ke UPK, PNPM. Tidak cuma jualan kompos, dia juga menjual tempat menanam polibag yang sudah disuburkan.

Ditambah lagi, Purwanti mendapat 1 juta per- dua hari dari berjualan cabe yang subur. Kemudian ada tanaman oyong, kacang panjang, kubis, terong, dan bayam. Sudah tidak lagi bingung untuk belanja dapur dan uang jajan anak- anak.

Idenya menanam tanaman lewat polibag berhasil. Dengan memanfaatkan pupuk sistem bio- slurry, Purwati tinggal membeli bibit, menanam, dan menghasilkan hasil. Pikirannya dia memanfaatkan waktu luang. Lebih baik dibanding berpikir untuk ngobrol dengan tetangga yang ujungnya bergosip.

"Tanaman saya hasilnya bagus dan menghasilkan uang," tuturnya

Pasangan suami istri pengusaha yang mempunyai dua putri ini, berhasil memberikan inspirasi bagi keluarganye sendiri. Terhitung ada 4 orang dari keluarga mereka mengikuti jejak keduanya. Surianto tidak berhenti disitu, rancangan berikutnya adalah membuat pertanian dan peternakan terpadu.

Bisnis pembibitan tanaman lebih menguntungkan dibanding bisnis hasil pertanian. Perputaran uang memang lebih besar disini. Berlanjut, Surianto sukses membangun kampung organik, dengan sistem kompos perkembangan pertanian di lereng gunung Kelud itu berputar.

Sosoknya sekarang dikenal sebagai guru petani. Semua orang belajar dari membuat pupuk, bertanam, dan mengelola tanaman dari hama. Surianto menganjurkan untuk tidak menggunakan produk kimia. Ketekunan Surianto membuahkan hasil setelah dua tahun meyakinkan berhenti menggunakan kimia.

Contoh produk sukses desa mereka adalah kacang tanah. Meski disebut sebagai salah satu sumber penyakit kolesterol, faktanya Surianto juga ikut mengkonsumsi. Menurutnya semua terjadi karena penggunaan produk kimia. Sudah 10 tahun dia meninggalkan pupuk kimia dan memulai kompos.

Dia sendiri diyakinkan dengan ajakan ahli ITB. Ia juga membuktikan hal tersebut sendiri. Meskipun dia waktu itu sukses panen besar karena kimia. Selanjutnya tanah buat menanam rusak, bukan yang rusak tanamannya tetapi tempat menanamnya rusak dan hasilnya produksinya menurun tajam.

Juga kalau dihitung penggunaan kimia itu mahal. Dia menghabiskan Rp.1,2 juta, sedangkan memakai pupuk organik atau kompos mengeluarkan Rp.600 ribu. Butuh waktu praktek hingga produknya bisa terlihat jelas hasilnya. Para petani lain akhirnya mengakui bahwa sayuran miliknya lebih bagus.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba