Polisi Punya Bisnis Sampingan Pengusaha Peternak Bebek

Profil Iptu Iman Budiman


polisi jadi pengusaha
 
Berkisah tentang hidup seorang Iptu Iman Budiman, umur 45 tahun, adalah seorang Kanit Patroli di Gunung Sindur, Bogor. Tentu dia sosok sederhana karena dia berlaku jujur. Maka untuk memenuhi kebutuhan hidup kurang- kurangnya dia membuat bisnis sampingan.

Di kawasan dia patroli, banyak warga yang beternak bebek, maka dia tertarik menjajal beternak juga sambil bekerja. "Ternyata enggak ribet (beternak bebek)," pungkasnya. Dia langsung belajar kepada warga dan akhirnya beternak 500 bebek.
Tahun 2016, merogoh uang Rp.20 juta, guna pengadaan kandang, bibit, dan fasilitas peternakan lain. Dalam 45 hari, bebek anakan peliharaan telah menjadi bebek dewasa dengan berat 2 kilogram untuk per- ekornya.

Dalam panennya ia mampu menjual 500 bebek tersebut seharga Rp.40.000 per- ekor. Awalnya dia membeli Rp.25.000. Hasil untungnya dibelika lagi 800 ekor anakan bebek. Dia ternakan di hamparan lahan seluas 5.000 meter per- segi.

Singkat ceritanya berkah bebek sangat dirasa oleh Iman. Dari bisnis sampingan tersebut, ia bercerita sudah bisa jalan- jalan sampai ke China sekeluarga. "Anak saya kuliah dan masuk pesantren," tambah Iman.

Meskipun sibuk dia tetap bisa membagi waktu, tetap bertahan bekerja menjadi abdi masyarakat, ia menunjukan bahwa jadi polisi juga bisa wirausaha. "Saya juga direstui pemimpin." Berseloroh kini dia mendapatkan panggilan Iman Bebek dari rekan sekerjanya.

Memang sih risih, tetapi dia menganggapnya bagian dari doa untuknya jadi juragan bebek. Meskipun dia sukses. Iman tidak pelit ilmu. Alhasil dia diangkat menjadi bagian dari sebuah program. Yang mana merupakan rintisan sebuah bank bernama Bank Mantap.

Dia menjadi bapak asuh pengusaha pemula. Utamanya buat para pensiunan polisi yang bingung mau berbuat apa. Memang mereka tidak bisa dipaksa masuk ke bebek. Dia sendiri merasakan itu. Tetapi juga dapat dorongan dari PPG atau Putra Perkasa Genetika (pembibit bebek).

Mungkin dia jalannya menjadi juragan bebek. Dibalik suksesnya, ternyata ada sosok Drh Agustin Polana seorang wanita ahli bebek, yang sudah berkecimpung dengan lewat PPG itu. Dia memberikan masukan buat pemula seperti Iman.

Menurut Agustin ada empat faktor biar kamu bisa sesukses Iman: Pertama adalah tempat, kamu harus punya tempat mendukung, karena jika bebek stress karena kandang kecil atau kebersihan yang buruk maka berat bebek akan menurun. Berat bebek 1,4- 1,6kg atau 2kg dijual antara Rp.19 ribu- 20 ribu/ kilo.

Dia berutur kalau manajemen bebek lebih gampang dibanding unggas lain. Demikian kisah sukses pengusaha sekaligus polisi yang punya usaha sampingan bebek.

Jualan Dawet Lele Pengusaha Untung Bisnisnya Nagih

Profil Pengusaha Lele Eka 


bisnis dawet lele

Siapa sangka lele bisa dijadikan minuman. Siapa sangka wanita satu ini mampu mendulang omzet dari bisnis minuman dan camilan lele Rp.70 juta per- bulan. Ditangan Eka, daging lele diolah jadi aneka camilan hingga es dawet. Bagaimana rasanya ternyata sudah menjadi minuman khas juga loh.

Minuman khas Boyolali ini membangun kesadaran. Bahwa kita harus rajin mengkonsumsi ikan, dan khususnya masyarakat Boyolali, Jawa Tengah.

Konsumsi ikan rendah, pasalnya orang Indonesia sukanya digoreng, dibakar dan dikukus. Lalu ada ide Eka merubahnya menjadi es dawet. "Jadi orang tidak merasa sedang makan ikan," imbuh Eka. Ia mangatakan selain segar, melepaskan dahaga, kandungan tinggi protein tentu berbeda dengan dawet biasa.

Omega tiga nya juga tinggi loh. Kalau dibanding dawet tepung beras tentu jauh. Itu cuma ada karbo tidak ada proteinnya.

Dengan menjual 200 gelas sehari, satu gelas dijualnya Rp.5000, bisnisnya mampu mengantungi satu omzet juta per- hari. Satu kilogram butuh 300 gram daging lele. Eka sudah memiliki trik khusus agar lele tidak bau amis.

Pertama lele dipisahkan dari tulang dan kepalanya. Kemudian daging filet itu direndam di jeruk nipis selama satu jam. Lalu bersihkan dan diaduk memakai tangan langsung. Adonan dawet itu dibuat memakai tangan tidak blender. Alasannya agar masih terasa ada tekstur daging ikan lelenya ketika diminum.

Tahun 2010 usahanya tidak berjalan lancar. Banyak orang meragukan karena ia tergolong nekat yaitu bahan baku amis mau dijadikan makanan manis.

"Orang dulu pada bergidik. Mereka jijik lho kok lele dijadikan es dawet pasti bau amis, enek, tidak enak...," jelasnya.

Imej ikan lele jadi semakin buruk karena itu. Namun, sekarang sudah berbeda, aneka olahan lele sudah bisa kita jumpai maka kenapa tidak minuman cendol. Dia dan kawan- kawan memang pantang menyerah. Mereka tidak capek menginformasikan produk ini menyegarkan dan penuh gizi bukan menjijikan.

Eka tidak cuma berbisnis es dawet, ia mengolah daging lele menjadi abon, dendeng, kerupuk, bakso, sosis, otak- otak, kaki naga, tahu bakso, galatin, lalu lele crunchy. Adapula Lestari yakni lele segar tanpa duri, kerupuk kulit lele hingga nugget lele ada.

Bisnis sederhana


Produk bikinannya dijual dengan harga Rp.10.000 sampai Rp.35.000. Abon lele menjadi jajanan satu jajanan paling diburu. Bahkan produknya ini sudah pernah dibawa ke Moskow, oleh Kementrian Perdagangan. Dibawa 200 pak, alhamdulillah habis semua, "...mudah- mudahan bisa diekspor," ia menuturkan.

Eka bercerita pernah bercerita ditawari ekspor satu kontainer keripik kulit lele. Dia cuma bisa untuk menyanggupi 200kg- 300kg saja. "..kulit lele itu kan susah, ya mudah- mudahan ada jalan lain untuk ekspor," ia menambahkan.

Hanya berbekal jualan aneka olahan lele, dia mampu mengantungi omzet Rp.60 juta sampai Rp.70 jutaan. Margin omzetnya 25%, itu sudah termasuk biaya listrik dan air, karyawan, dan mereka itu cuma bekerja dengan 15 orang.

Awalnya dia memberdayakan tetangga yang menganggur, pada 2010 silam,"...Alhamdulillah terus sampai sekarang" tutur Eka. Abon lele miliknya juga sudah berstandar nasional (SNI) sejak 2015. Ia melakukan hal tersebut agar usahanya makin meyakinkan, untuk bisa lebih membuka jalan lebih luas pemasaran.

Pengusaha Sambel Jontor Pernah Kehabisan Modal

Profil Pengusaha Bagus Adinda 


resep sukses sambal jontor
 
Bagi penikmat kuliner wajib mencicipi rasa Sambal Jontor. Masakan baru yang dijamin membuat berkeringat karena pedasnya. Pengusaha muda dibalik bisnis ini ialah Bagus Adinda, pria 32 tahun yang sudah memiliki 24 cabang sambal Jontor di penjuru Jakarta.

Meskipun sesukses sekarang, dia masih merasa hidupnya masih belajar dan bekerja keras, bisa dikatakan meski usahanya terus berkembang tidak ada kepuasan. Dia dulu mantan vokalis band Punk Celebrand. Dan juga dikenal pernah bekerja sama dengan Aldi Taher lewat grup bernama Duo Kingkong.

Ia menjelaskan bisnis kuliner bukan yang pertama. Sebelumnya dia pernah berbisnis Bakso Tukul kawasan Tebet, Jakarta Selatan, namun di tahun 2009 tutup karena kurang modal. Padahal dia waktu itu sudah tidak lagi menjadi vokalis karena bandnya bubar.

"Hal tersebut tidak menyurutkan semangat saya untuk melakukan usaha," tuturnya.

Ia sempat rekaman band. Semangat pengusaha perantau asal Padang, meyakini kesuksesan menjalankan bisnis kuliner di Jakarta. Tahun 2010 bisnis lainnya didirikan, kafe Three Musketeer didirikan di kawasan yang sama yakni Tebet, sayangnya bisnis ini juga berakhir tanpa kelanjutan.

Karena pemilik kontraan tidak mau melanjutkan sewa kepada kafe yang sempat digandrungi ABG itu. Itulah usaha kuliner terus tetapi tidak kunjung sukses. Bagus akhirnya mencari metode berbeda mengembangkan bisnis kuliner.

Saran sukses buat kalian pengusaha baru, "mintalah kepada Tuhan agar ikut campur dalam usaha kita." Ia meyakinkan diri dan meluruskan niatnya berwirausaha. Yah hasilnya Alhamdulillah dia mampu mendirikan banyak cabang Sambal Jontor di Jakarta.

Sulit memang mengajak orang bekerja sama wirausaha. Bahkan dia sempat dicemooh idenya untuk bisa berbisnis sambal. Beberapa kali dicemooh orang yang diajaknya kerja sama; Bagus move on melanjutkan membuat konsep Sambel Jontor.

Hasilnya dapat dilihat berbekal dua resep andalan: Sambal Jontor Gendeng dan Sambal Jontor Mampus, ia meyakini kamu akan membeli lagi buat merasakan pedasnya.

Makanan khas Indonesia diolahnya serba penyet. Dari ayam, lele, dan bebek goreng, dimana dari rasa dan bumbunya pedas nendang. Levelnya 1- 6, bumbunya sedap meresap ke dalam ayam loh, "...rasanya pedas banget." Omzet didapatnya sampai Rp.183- 306 juta, investor meraup omzet Rp.50- 100 juta per- bulan.

Harga mulai Rp.15 ribuan, mulai sambal jontor biasa sampai mampus. "Indonesia soal makanan enggak ada matinya dan suka pedes," tutur Bagas. Ada sambal Jontor Cemen buat yang anak kecil baru belajar makan pedas. Paling pedas Jontor Mampus, "...ini yang paling pedes sampai jontor- jontor."

Coba- Coba Bisnis Rendang Pengusaha Reseller Miliaran

Profil Pengusaha Ayu Mizaki


reseller rendang miliaran
 
Biasanya rendang di rumah makan Padang tidak bisa disimpan lama. Namun, di tangan Ayu, makanan yang favorit berbahan daging ini diubah. Bisa disimpan lama karena kemasannya modern. Untuk rendang basah bertahan dua minggu, dan untuk rendang kering mampu bertahan tiga bulan.

Ayu memproduksi mulai dari paru, ati, belut, itik, hingga telur semua bisa direndang. Produk buatannya lantas diberi nama Rendang Mizaki.

Usaha ini dimulai sejak 2014 silam, dimana dia awalnya hanya reseller produk tersebut, ya karena dasarnya bisnis ini adalah milik keluarga. Ayu kemudian berbekal Rp.200 ribu membuat trobosan. Konsep bisnis ia jalankan sangat menarik. Ia menyebutnya konsep gali lubang tutup lubang.

Cara ini cocok buat kita, para pengusaha muda pemula untuk memulai usaha. "Jadi saya ambil dagangan kalau habis baru bayar dan untungnya saya ambil," jelasnya. Dari untung tersebut dia membangun modalnya lagi ke depan.

Ia menjajakan dagangannya ke sekolah- sekolah, ke kampus- kampus. Satu tahun berselang mulai banyak permintaan datang. Kedua orang tua Ayu berasal dari Payakumbuh dan Padang Panjang. Jadi sudah pastilah dia ingin membuka usaha sendiri.

Kemudian uang modal Rp.5 juta, Ayu bersemangat untuk membuka usaha lebih luas, dengan menggunakan brand dia sendiri. Tahun 2015 berbekal sosial media, seperti Facebook, Instagram, hingga Line menjadi ujung tombak bisnis Ayu.

Dia juga menjual ke dinas- dinas, kampus- kampus di Sumatra Barat. Bisnis online yang memadukan offline membuat Ayu berkembang. Sudah banyak pembeli luar kota merasakan rendang bikinannya, sebut saja ada dari Aceh, Medan, Jakarta, Bandung, Tangerang, Kalimantan, Sulawesi, hingga Manado.

Sebulan dia memproduksi sampai 100 kg daging dan 100 kg telur dijadikan rendang. Saban bulan, dia mengatakan mampu mengantungi omzet 60 juta. Produknya terjual mulai dari Rp.15.000 sampai Rp.150 ribu, tergantung berat dan jenis rendangnya.

Ayu kedepan akan meningkatkan kualitas pengepakan. Tujuannya agar bisnisnya maskin jauh, aman disaat pengepakan ke luar kota bahkan negeri. Hal lain dia ingin membuka satu galeri, dapur dan rumah makan spesial masakan rendang. Untuk jadi reseller kita bisa mendaftar bermodal uang Rp.500 ribu dengan diskon 5- 10%.

Mantan TKI Banyumas Berbisnis Resep Carang Mas

Profil Pengusaha Pasangan TKI



Hujan emas di negeri orang tidak selamanya indah. Sebaiknya tempat beristirahat, ya, dimana lagi kalau bukan tanah kelahiran sendiri. Pasangan TKI ini merasakan betul susahnya menjadi buruh migran. Keduanya sepakat membuka usaha sendiri dan berhasil.

Namanya Krisna Adi (43) dan Ani Sugiyanti (28) asal Banyuwangi, keduanya mantan TKI di Taiwan yang dikenal bebas kekerasan. Toh, keduanya tetap memilih mencari uang di negeri sendiri, caranya adalah apa yang mereka kumpulkan sebagai buruh dijadikan modal usaha kue.

Bisnis bersama


Modalnya minim tetapi mereka bertekat kuat. Usaha mereka lantas menjadi oleh- oleh buat rekan- rekan sesama buruh migran. "Sebelum ini, saya usaha antara jemput TKI dan banyak nganggurnya," ujar Krisna. Ia menambahkan apa mereka usahakan mereka sekarang adalah kue- kue tradisional.

Ada keciput, kuping gajah, pastel kering, dan carang emas. Keduanya berawal dari menjualkan apa yang dibuat sesama mantan TKI. Mereka yang telah tergabung di dalam Keluarga Migran Indonesia (KAMI) Banyumangi. Lewat organisasi tersebut mereka saling bertukar keahlian, mereka saling memasarkan produk mereka.

Kebanyakan menurut Krisna, para TKI kebingungan ketika sudah pulang kampung mau apa. Maka mereka hadir merangkul mereka ke jalan kewirausahaan. Mereka sudah siapkan modal dan skill, "...mau belajar ya monggo". Prinsip usaha dijalankan ialah saling bahu- membahu. 

"Jadi salah satu teman ada kelebihan biar diajarkan ke orang lain," tuturnya.

Jadi ketika mereka pulang tidak ingat Taiwan lagi. Apalagi Banyuwangi sudah berkembang tidak seperti dulu lagi. Bagaiman prospek bisnis kue ini. Terutama ketika Lebaran, mereka memproduksi sampai empat kuintal kue. Mereka juga melayani ekpor loh, harganya juga menyesuaikan harga ongkos kirim yang lumayan.

Pastel saja bisa sampai 1 kuintal sebelum bulan puasa. Untuk jajanan favorit namanya carang emas karena itu jajanan langka. Harga jualnya sampai Rp.40.000/kg, harga luar dan ekspor sama. Carang emas sendiri dibuat dari bahan potongan ketela dibentuk membulat dan dibalut gula merah.

Resep carang emas sendiri dipelajari Ani dari ibunya. Dia mengaku awalnya mengalami kesulitan.Setelah ia coba beberapa kali baru dia bisa. "Saya belajar 1kg, ubinya itu lember. Sudah tak sisihkan, bikin lagi agak keras, sampai ada yang jadi batu," imbuhnya. Belajar terus sampai benar- benar bisa dibuat sesuai resepnya.

Akhirnya habis 20kg baru bisa sempurna. Itu semua berkat Google dan YouTube loh. Ani tidak cuma bisa menggantungkan resep keluarga. Pesanan dalam negeri kebanyakan merupakan mereka eks- TKI, yang mana dijadikan buah tangan buat keluarga di rumah.

Satu kali pengiriman bisa mencapai 6kg kue. Lokal pengiriman ke Trenggalek, Malang, Blitar, Madiun, Ponorogo, Yogyakarta, Pacitan, Jakarta, Lampung, pembeli merupakan mantan TKI dan sanak keluarganya. Carang mas memang primadona, bahkan sampai 65kg dikirim ke Trenggalek.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba