Menyewakan Mainan Berapa Untungnya

Profil Pengusaha Amelia Purnajati 



Tingginya permintaan akan mainan berkualitas. Membuat pangsa pasar mainan sewa dilirik. Banyak orang tua lebih nyaman menyewa mainan. Dibanding harus kesana kemari mencari, dan ujungnya mereka harus rela merogoh kocek buat mainan tidak berkualitas.

Koleksi beragam memberikan kemudahan memutuskan. Pada orang tua bisa memilih mainan terbaik dari koleksi dari yang terbaik. Makin tinggi kesadaran akan mainan sehat. Mendorong mereka tidak asal untuk mengajak anak membeli sembarangan.

Kalau bisa memilih mainan pilihan, kalau bisa lebih berkualitas, kenapa harus capek mencari mainan buat si kecil. Tidak jarang mainan berkualitas tidak ramah kantong. Harga mainan edukatif misal, apalagi buat balita, pastilah mahal karena aman, nyaman dipegang.

Contoh pengusaha rental mainana ialah Amelia Purnajati. Pemilik situs www.duniabermain.com ini, sudah memiliki banyak koleksi mainan sewa. Dari ukuran paling kecil, mainana ramah anak harganya bisa antara Rp.150- Rp.500 ribu. Mainan lebih besar harga taksiran antara Rp.2,5 juta- Rp.4,5 jutaan.

Alasan lain, kenapa orang tua akan memilih sewa mainan, ya karena sifat anak yang mudah bosan dengan mainannya sekarang. Inilah kenapa Amelia bersemangat membangun bisnis. Jangka waktu bosan anak itu memang beragam tetapi pasti. Rentang waktu antara satu sampai tiga bulan, sudah dibaca oleh Amelia.

Bisnis sewa


Mainan berharga mahal berasa mubazir. Umur pemakaian cuma sebentar. Begitu selesai, kita cuma akan menyimpan mainan itu. Apalagi jika mainannya besar memakan ruangan. Ketika itulah, mainan bingung akan digunakan apa, disinilah Amelia dan kawanya, Jessica Natasha Halim, menawarkan bisnis sewa saja.

Bisnis yang bernama Funbox Toy Rental (FTR) ini, melihat celah kebutuhan anak akan mainan berkualitas. Mereka melihat pasar sewa mainan anak besar. Penyewa datang dari berbagai kalangan, mulai orang tua, organisasi tertentu, perusahaan, atau event organizer.

Tidak cuma buat mainan sehari- hari. Orang tua menyewa mainan juga termasuk buat pesta si kecil. Mau mengadakan pesat ulang tahun dengan mainan bisa sewa. Sementara event organizer bisa sewa mainan buat mendukung konsep acara mereka. Jadi keliatan kan prospek bisnis dijalankan Funbox Toy Rental mereka.

Tempat penitipan anak juga menyewa kepada mereka. Banyak pelanggan perusahaan rekanan mereka yang memang targetnya anak kecil. Bisnis mereka bisa merangkul langsung ke konsumen, ataupun lewat sewa ke rekanan mereka. Tidak heran dalam setahun bisnis merek sudah keliatan hasilnya.

Jessica sudah memiliki 160 buah mainan. Dimana mereka menawarkan mainan ke berbagai tempat di Jakarta. Mereka mancangkup pasaran Cibubur. Amelia mengaku dalam sehari ada 40 sampai 60 penyewa mainan setiap bulan. Sekali sewa, biasanya, penyewa tidak cuma meminjam satu mainan saja.

Mainan disewakan kebanyakan mainan edukatif. Kebanyakan mainan edukasi merupakan produksi mainan perusahaan luar negeri. Agar memudahkan orang tua, mereka sudah membagi mainan ke berbagai macam kategori usia. Jadi lebih memudahkan penyawa mencari mainan sesuai kriteria kebutuhan anak mereka.

Sewa mainan mulai harga Rp.50.000 hingga Rp.700.000 perbulan, ini tergantung jenis mainan disewakan ke penyewa. Sewa bulanan bisa, sewa mingguan juga bisa kamu lakukan, temponya seminggu- dua minggu atau harian bila mau.

Penyewa biasanya sewa mingguan, atau harian dulu biar tau apakah anaknya cocok atau tidak dulu. Amelia mengamini hal tersebut. Penyewa awalan akan menyewa sebentar, kalau anaknya tidak suka kan dapat cari mainan lain. Ketika sudah suka tinggal ditambah sewa sampai beberapa bulan.

Deposit sewa


Untuk organisasi atau perusahaan, biasanya menyawa harian untuk membuat acara yang melibatkan anak- anak. Sebagai contoh kalau ada acara ulang tahun. Amelia mengatakan biasanya organisasi atau korporasi menyewa lebih banyak macam mainan.

Seperti rental lainnya, mereka menerapkan sistem deposit dulu, dimana besanya Rp.100 ribu untuk sekali sewa. Uang deposit kembali jika mainan kembali. Selain deposit cara lainnya, agar aman, maka penyewa menunjukan tanda pengenal asli dan menyerahkan fotokopi KTP buat dicatat.

Omzetnya berapa sih, dari bisnis tersebut mereka mengantungi omzet Rp.30- 50 juta. Mereka dapat dari bisnis sewa mainan tersebut, belum termasuk ongkos kirim loh. Untung dikisaran 30 persen sampai 50 persennya. Bisnis sewa mainan itu untungnya lumayan besar. Apalagi biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar.

Sudah dipotong gaji karyawan, biaya operasional, adapula anggaran buat alat pembersih dan antiseptic buat mainannya. Jika mainan dibawa pulang kotor ada tambahan biaya Rp.20 ribu. Mereka biasanya menyewa tempat buat gudang penyimpan, atau menggunakan rumah sendiri buat menyimpan aneka mainan sewaan.

Catatan saja, kamu harus punya anggaran mainan loh, melengkapi koleksi mainan membutuhkan tambahan dana yang harus dianggarkan. Kelebihan bisnis mereka ialah tidak perlu memiliki showroom. Mereka lebih memilih memamerkan mainan lewat situs mereka, termasuk layanan diberikan kepada pelanggan.

Modal awal antara Rp.50- 100 juta, meskipun keliatan mahal tetapi kalau tepat sasaran, bisnis kamu bisa balik modal empat atau lima bulanan. Perlu diingat bisnis sewa mainan, biasanya, ada di kota- kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, atau Yogyakarta yang kesadaran akan mainan sehat tinggi.

Ingat usaha ini membutuhkan pengetahuan tentang mainan. Tau tentang siapa produsennya, kualitas produk mereka, termasuk tentang keamanan mainan dan bahan bakunya. Ingin hemat biaya beli produk dari para distributor di Indonesia. Koleksi beragam menjadi kunci sukses pengusaha sewa mainan anak juga.

Amelia mengaku sudah punya 500 mainan. Kalau kamu menemukan mainan favorit, kamu harus sediakan lebih dari satu jenis. Mainan anak favorit umur 6- 12 bulan ya jumperoo dan exercauser. Untuk anak umur 12 bulan- 6 tahun mainannya slider swing, playhouse, mobil mainan, dan roller coaster.

Jika kamu sudah memiliki mainan banyak. Tinggal dah, kamu membuat situs buat memajang katalog kamu, situs harus menarik memanggil orang lebih banyak. Selain itu pastikan keamanan, kenyamanan, dan juga kebersihan setiap koleksi. Umur mainan biasanya 1- 2 tahun, maka sebaiknya diganti agar tidak bahaya.

Jangan lupa memberikan keterangan detail. Terutama tentang umur pengguna mainan sebaiknya. Utamanya berat dan usia anak. Tentukan pula tentang apakah mainan bisa ditelan atau tidak. Pokoknya bagaimana agar penyewa merasa nyaman menyewa di tempat kamu. Akan mengurangi dari resiko kecelakaan pada anak nantinya.

Di FTR, mereka akan menerangkan dahulu cara pemakaian, tugasnya untuk menjaga keamanan yang berisi baik apa saja yang boleh dan tidak boleh. Seperti tidak boleh dimasukan ke mulut dan sebagainya. Bisnis sewa memang mengendalkan pematangan internal untuk membuat sistem terbaik guna layanan maksimal.

Karena sasaran orang tua, maka iklan di sosial media, bisa menjadi pilihan bisnis kamu ini. Siapkan dana khusus buat beriklan kalau ada. Ide promosi kreatif juga termasuk kerja sama dengan pihak ke ketiga. Contohnya FTR mengajak kerja sama pengelola apartemen, membuka tempat bermain indoor buat para penghuni.

Tidak berhenti, jika dana banyak, kamu bisa mencoba mempromosikan ke media konvensional, seperti di televisi. Atau kalau mau murah, bisa dengan membuat brosur atau bekerja sama dengan pihak terkait, atau bisa membangun iklan ke website gratisan. Tapi paling efektif adalah promosi mulut ke mulut sendiri.

"...mereka puas dengan layanan FTR dan mempromosikan ke teman dan saudaranya," terang Jessica.

Anak Pengusaha Membuka Usaha Sendiri

Profil Pengusaha Bernama Budi


 
Anak pengusaha menjadi pengusaha. Meskipun sudah hidup nyaman, Budi memilih hidup dalam ketidak pastian alias pengusaha. Seperti halnya orang tua Budi, kini, dia dikenal sebagai pengusaha yang usahanya adalah menjual aneka lampu hias. Pengusaha muda satu ini membuka usaha sendiri bermodal Rp.5 juta.

Tahun 2011, ia mencoba peruntungan jualan lampu hias, kemudian utamanya usaha jualan lampu tidur. Dia awalnya melihat kedua orang tua. Kok, jadi pengusaha, malah kelihatan santai dibanding karyawan. Lama- lama Budi ingin merasakan sendiri pengalaman tersebut.

Seketika keluar dari pekerjaan, dia membuka usaha sendiri kepikirannya membuat lampu hias. Proses cari bisnis cocok dilalui Budi pula. Awal dia mencari informasi segala tentang lampu hias. Mencari bagaimana cara membuat lampu sendiri.

Hingga akhirnya, dia bisa membuat lampu sendiri, dan setiap lampu dihargai Rp.25 ribu dan omzetnya dia dapat Rp.10 juta sampai Rp.15 juta. Pemasaran tidak masalah, Budi sudah punya jalan, memilik rekan kerja yang baik.

Untuk Budi lebih memilih fokus bagian produksi saja. Bisnis begitu dinikmati hingga tidak ada beban. Dia mengaku menikmati menjadi pengusaha. Dia mengkreasikan produk sesuai imajinasi. Jenis modelnya dia bikin bermacam- macam. Pemesanan juga disesuaikan konsumen jika diinginkan, kerjakan kan semua.

Keputusan keluar dari pekerjaan sudah tepat. Sekarang Budi begitu menikmati bisnisnya sendiri. Memang karena punya passion jadi lebih menyenangkan mengerjakan. Meskipun bekerja sama kerasnya, menjadi pengusaha dan pegawai ternyata dua hal berbeda.

Tidak Pernah Melamar Pekerjaan Tetapi Sukses Jualan

Profil Pengusaha Aulia Achmad, Satria Kinayungan, dkk



Selepas kuliah biasanya mau berkuliah. Namun, dalam benak dua mahasiswa, Aulia Achmad dan Satria Kinayungan, tidak ada dalam benak mereka bekerja. Tidak juga bekerja berkeinginan di perusahaan asing besar, sekalipun. Dua sahabat tersebut memilih melanjutkan bisnis sandwich sejak kuliah dulu.

Bisnis belakang rumah


Dimulai sejak 2013, masih kuliah, Agam dan Isank mendirikan usaha sandwich. Untuk target pasaranya adalah teman mereka sendiri, sebuah kampus di Tangerang. Bisnis mereka bermodal tidak lebih dari 500 ribu.

Sistem bisnisnya bernama sistem preorder, dimana mereka akan kirim satu per- satu. Mereka saban pagi mengirim pesanan sehari sebelumnya. Mereka bermodal roti tawar. Mereka berbelanja bahan bersama. Mereka bersama membuat resep sendiri. Keduanya dapat untung yang lumayan Rp.5000/potong.

Karena urusan skripsi, keduanya memilih fakum, bisnis sandwich mereka sempat berhenti hingga dilanjut kembali ketika lulus. Selesai kuliah, keduanya menggebu melanjutkan bisnis yang lumayan tersebut. Tidak cuma berdua saja tetapi mengajak personil lagi.

Tahun 2015, ada Yohanes Ladita Patriyoso (Yosho), dan Mandala Putra yang bergabung pada tahun 2016 silam. Ke empat pengusaha muda tersebut mencoba peruntungan. Bisnis sandwich Agam dan Isank lalu dikemas menjadi lebih menarik. Mereka lantas menamai bisnis tersebut menjadi Sandwich Attack.

Harga sandwich Rp.20.000/potong, sehari terjual 50 potong. Mereka juga menawarkan aneka minuman enak. Omzet saban bulan menembus Rp.50 jutaan.

Bisnis iseng berkembang melebisi espektasi. Rahasianya, ya, karena mereka mencintai pekerjaanya dan memilih pandangan luas. Semakin kedepan Agam dan Isank yakni bisnis mereka mampu menghidupi. Dari jualan sandwich mereka bisa makan punya masa depan.

Hidup mereka sekarang mengembangkan bisnis ke depan. Agam mengaku bisnis mereka mengalir. Tidak banyak masalah dialami, ada sih tetapi tidak besa hingga tidak teratasi. Cara pemasaran unik, juga mereka suka melakukan variasi, dari lewat sosmed, bercerita mulut ke mulut, hingga akhirnya punya kafe.

Empat pemuda ini tidak berpikir akan kerja kantoran. Berwirausaha ternyata menghasilkan tidak kalah dari bekerja menjadi karyawan. Bekerja kantoran menurut Agam dan Isank bukan dunia mereka. Karena kamu tau keduanya belum pernah sama sekali melamar pekerjaan.

"Dari experience, menjadi wirausaha, gue juga dapat," ujarnya. Berkat wirausaha dia bisa bertemu banyak link- link baru yang kreatif.

Kelebihan Sanwich Attack ialah aneka konsep ditawarkan. Tidak memakai penyedap rasa tetapi memakai bahan rempah pilihan. Jualanya dengan menggunakan mobil berkeliling. Sementara disisi lain, ada kafe yang siap menemani kamu makan sambil membaca buku, menikmati lantunan musik, pokoknya anak muda.

Kisah Pengusaha Kerupuk Masih Muda Luar Biasa

Profil Pengusaha Saraya Tauris Dianti 


 
Jika pengusaha muda lainnya memilih bisnis fasion. Gadis 24 tahun ini malah memilih menjadi juragan kerupuk. Berawal seorang pengusaha kerupuk yang hampir bangkrut. Saraya Tauris Dianti kemudian datang mengambil alih -mengakuisisi pabrik kerupuk-, karena pemilik awal tidak mampu menutupi biaya oprasional.

Pemilik pabrik kerupuk awal tidak mampu membayar biaya. Pengusaha tersebut tidak mampu membayar uang pesanan tepung ke ibu Raya. Kemudian Ibu Raya dan dia sendiri, memberika penawaran mengambil alih usaha tersebut. Keduanya sepakat membangun usaha kerupuk miliknya kembali jaya.

Sang pemilik awal sama sekali tidak ikut campur. Total produksi diserahkan kepada Ibu Raya, dan kepada Raya pada khususnya menjadi puncak pimpinan pabrik. Sulit sih, bayangkan saja, Raya harus memulai dari nol karena jualan kerupuk biasa saja jaman sekarang susah.

Pengusaha dadakan


Dia bersama ibu membuat resep sendiri. Kesana- kemari keduanya coba membangkitkan kerupuk buatan mereka sendiri. Banyak komplain datang kepada mereka, mulai dari ukuran, warna, serta rasa yang tidak cocok. Sang ibu lantas menunjuk Raya menghadapi mereka, dari pemasaran sampai costumer service.

 "...agar kerupuk kami bisa menjadi lebih baik," ia menjelaskan.

Melalui aneka eksperimen mencoba menemukan komposisi. Dibawah bisnis Kerupuk Putra Jangkar, Raya mencoba menampung keluhan konsumen mereka. Pokoknya bagaimana agar usaha semakin kedepan. Ia tidak ingin cuma berjualan di kawasan Sidoarjo mulu.

Raya memiliki pandangan ke seluruh Jawa Tengah, Jawa Barat, sampai ke Lampung, Makassar, dan juga ke Balikpapan. Padahal awalnya, Raya sendiri tidak memilik pandangan segitu, menurut gadis berkacamata tersebut bisnis dijalani sekarang karena dia iba melihat sang ibu.

Ibu Raya sudah cukup tua buat mengurus semua. Apalagi mereka seperti memulai bisnis dari nol ketika menjalankan pabrik Kerupuk Putra Jaya. Dari awal, Raya sudah merasakan capeknya, perasaan bagaimana menghadapi kerasnya berbisnis ikut dirasakan.

Dia tidak ingin ibunya terporsir buat mengurusi pabrik. Untuk masalah dikomplain pembeli, kemajuan dari pabrik sendiri, ia berpikir biar lah Raya sendiri rasakan. Saat ini, kerupuk dihasilkan 2 ton dalam sehari berproduksi. Jumlah karyawan 60 orang dengan shift pagi- malam. Kisaran harga Rp.56 - Rp.57 ribu per- bal (5kg).

Harga masih bisa dinego loh. Disesuaikan saja dengan harga pasaran mau menerima. Bahan baku tepung tapioka dari Lampung. Kendala dihadapi sebagai pengusaha muda, dalam wawancara khusus bersama pihak bisnisukm.com, ia menyebutkan kendala terbesar ialah bahan baku.

Terkadang pada bulan tertentu kebutuhan akan tepung tapioka sulit. Sering mengalami kekosongan buat produksi karena harga naik- turun. Sehingga bahkan sampai sekarang Raya masih berjuang. Bagaimana biar bisa menangani kekosongan stok bahan baku ke depan, tetapi tanpa mengurangi kualitas produksi sendiri.

Banyak pesaing, usaha pembuatan kerupuk kecil- kecilan mulai nampak. Kebanyakan dibuat justru malah merusak harga pasaran. Untung Raya mempunya cara jitu mendekati pelanggan. Kendala tersebut dapat ia atasi dengan pendekatan persuasif.

Meskipun modalnya besar buat akusisi yakni Rp.800 juta. Ia mengaku sudah bisa mengantungi omzet hingga Rp.350 per- bulan. Pabriknya juga memberikan pahala karena memberikan lowongan pekerjaan. Ia merasakan betul perubahan masyarakat sekitar lebih baik. Inilah kenapa dia optimis bisnisnya berkah ke depan.

Ke depan, selain membuat kerupuk mawar, keong, rantai dan kepang, Raya ingin mengembangkan aneka kerupuk irisan, seperti kerupuk udang, tersanjung, dan kerupuk tahu. Untuk pemasaran sudah mencapai daerah luar pulau, dan akan mencoba masuk ke pasar ekspor.

Mimpi Pengusaha Dodol Keripik Ibu Popon

Profil Pengusaha Popon Suhaemah 



Sosok petani buah satu ini layak kamu tiru. Popon Suhaemah tidak mau 83 pohon mangga miliknya terjual murah, atau bahkan membusuk tidak laku. Ibu Popon lantas membuka usaha jus buah. Sasaran Bu Popon adalah sekolah dekat rumah. Meskipun usaha ini berjalan sebentar, aneka usaha lainnya menyusul lagi.

Pokoknya Popon tidak mau hasil perkebunan mubazir. Inilah cikal bakal usaha camilan dia kembangkan. Yang dari semula berawal buah mangga, Bu Popon terkenal membuat keripik nangka. Dia memanfaatkan segala sumber daya sekitaran daerahnya.

Ide bisnis muncul dari pelataran rumah, Kelurahan Cijati, Kab. Majalengka, yang sebelumnya berjualan jus lantas berbisnis dodol kemudian keripik. Sebelum bisnis buah, Bu Popon ternyata pernah jualan telur asin pada 2000 silam. Bisnis berakhir ketika musim kemarau karena bebek hilang di budidaya desanya.

Bisnis terus


Kenapa bisnis jus buah Popon gagal. Ternyata ada alasan dibalik kisah gagal tersebut. Menurutnya jus buah tidak awet. Dalam seminggu disimpan maka akan keluar bakteri pembusuk. Ia mulai memutar otak caranya agar jus buah mangga awet. Dia lantas berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan, bagaimana biar tahan lama.

Ia mengenang awal usahanya: Cuma ingin bagaimana produk jualan yang bertahan lama. Atas saran Dinas Kesehatan, dia diberi surat mengikuti pelatihan, mendapatkan ilmu baru tentang bagaimana mengawetkan buah mangga. Dia merubah mangga menjadi dodol kemudian keripik.

Segera bisnis ini berjalan, dan sejak 2002, nama usaha Ibu Popon sudah terdaftar menjadi merek dagang. Ia menggunakan nama Ibu Popon biar nyarinya gampang. "..karena saya asli orang sini," jelasnya. Kan orang sana kenal sama Ibu Popon, jadi orang tau siapa pembuat camilan mangga menggiurkan itu.

Agresifitas bisnis Popon memang meningkat. Apalagi semenjak sang suami di- PHK, bisnis keripik ia jalankan semakin gencar promosi. Pada Oktober 2003, mangga Popon melimpah, menghasilkan banyak buah yang dijadikan modal usaha.

Popon lantas merubah mangga menjadi dodol, dengan berbekal pengawet. Semua berkat ilmu pengawet baik yang sudah berijin Dinas. Mengendarai motor GL 86, Popon titipkan dodol mangga ke warung, ada 20 bungkus dodol setiap warung disinggahi, dodol pokoknya harus habis tidak ada sisa di rumah.

Namun, berbisnis tidak semudah harapan, dodol Ibu Popon kok tidak selaku dibayangkan. Laku cuma 2- 5 bungkus setelah dia menagih ke warung- warung. Sisanya dikembalika ke Popon dan berlangsung lumayan lama. Popon tidak lupa membawa gunting, tidak laku dodol dipotong kecil, dan merek dibakar dibuang ke sungai.

Tetapi Popon tetap ulet menggarap bisnis dodol mangga. Meskipun hasilnya rugi tetap dia perjuangkan. Ia lantas menarik perhatian Dinas Pertanian. Senang banget ketika itu, tempat usahanya didatangi pejabat- pejabat berseragam cokelat. Mereka membeli dodol- dodol mangga Ibu Popon akan dijual ke Provinsi.

Mereka ingin memamerkan bahwa Majalengka punya khas. Dodol mangga menunjukan bahwa sumber daya utama Majalengka, yakni mangga, bisa diusahakan menjadi hal baru. Inilah titik terang bisnis Popon berkembang. Lewat obrolan dan sepucuk nomor telephon yang dia minta seolah membuka jalan.

Bisnis keripik


Selepas Lebaran, Bu Popon mampir ke Dinas Pertanian, untuk bertemu Kepala Seksi Usaha tingkat Kab. Majalengka, bernama Pak Nunu. Dia berkesempatan menceritakan mimpinya. Panjang lebar tentang apa yang hendak Popon capai dari bisnis dodol mangga.

Dia kemudian diajak menjadi warga binaan tani. Syaratnya Bu Popon harus membentuk kelompok tani dulu. Ada 4 orang dalam satu kelompok Popon. Mereka adalah saudaranya sendiri. Mengumpulkan uang Rp.50 ribu buat mendapatkan pelatihan. Mereka melakukan trial- error usaha dodol mangga bersama.

Dengan dukungan Dinas Pertanian, beberapa hal mendasar mendapatkan bantuan. Tetapi untuk bagaimana menciptakan produk berkualitas. Sepenuhnya ditangan kelompok tani Bu Popon. Sudah membuat dodol tapi malah sudah jamuran meski belum beredar. Dinas memberi saran lemak sapi tetapi dodol malah bau.

Didampingi Dinas, usaha terus dilakukan, hingga mereka diajak melalukan kunjungan ke Ciamis. Di sana dia belajar mengenai cara benar membuat dodol. Pokoknya Dinas Pertanian mendampingi pasca panen sampai akhirnya membantu memberi pencerahan.

"Ooohh... rupanya begini caranya membuat dodol," ujar dia. Mulai studi banding dodol ke Ciamis hingga Sukasena. "Kalau orang lain bisa, kenapa saya enggak," yakinnya. Pelatihan mulai cara membuat sampia ke pengemasan.

Dia pun belajar mengenai arti merek. Nama harus memiliki filosofi kuat dibaliknya. Nama merek berarti intergritas bisnis mereka. Popon mendapatkan bantuan dari Universitas Padjajaran (Unpad), dan juga Universitas Pasundan (Unpas). Semua masalah dikonsultasikan ke Jurusan Teknologi Pangan keduanya.

Bahkan Popon rela mahasiswa datang melalukan penelitian ke rumah. Berkat bantuan para mahasiswa itu, Popon dapat menempelkan kandungan nutrisi.

Tahun 2004, bisnis Popon makin maju, aneka camilan diolah yang berbahan dasar buah- buahan hasil pertanian. Dia kemudian mendapatkan tawaran mesin vacuum frying untuk membuat keripik. Aneka macam keripik buah dibuat. Dari kerpik pisang, dia belajar, bagaimana agar keripik tidak letoy kelamaan.

Ia belajar jenis pisang berpengaruh, disisi lain tingkat kematangan mempengaruhi. Kita harus tentukan dulu, pisangnya apa, kulit pisangnya seperti apa, kemudian harus kita goreng sampai ke tingkat kematangan berapa. Kalau gagal disortir maka akan diolahnya menjadi dodol.

Kalau awal, pisang dihajar, langsung kupas goreng tanpa mikir. Bu Popon belajar bahwa berbisnis adalah kesabaran. Meskipun dianggap sepele, Popon barulah mampu membuat keripik pisang sesuai dengan apa yang dia inginkan setelah tiga tahun. Nama dodol dan keripik Ibu Popon mulai dikenal khalayak ramai nih.

Bisnis tidak berhenti


Usaha dijalankan Popon terus berkembang. Dia terus belajar termasuk cara menentukan harga. Jika dia jual ke warung Rp.3.500 maka kalau ke pembeli langsung Rp.5000. Disisi lain ada orang jualan 1/4 ons dijual Rp.2.500. Alhasil keripik Popon tidak laku di pasaran, meski rasa lebih mantap, hanya karena harga.

Ia kembali dapat retur. Dia kemudian menentukan ulang harga. Disisi lain, permodal juga masalah, untung ada jaminan dari Dinas Koperasi. Alhasil Popon mendapat pinjaman bank BJB senilai Rp.9 jutaan di tahun 2009 silam.

Dia kemudian diajak ikut pameran oleh Dinas Perindustrian. Hampir seluruh wilayah Indonesia sudah dia kunjungi, contoh NTB, Makassar, Surabaya, Jakarta, dan Batam. Produk Ibu Popon juga pernah muncul di pameran Singapura Expo. Kemudian masalah packing produk juga mulai diperbaiki Bu Popon.

Dibantu Packing House asal Bandung, disarankan produk buatannya tidak cuma diplastik, tetapi dibentuk jadi souvenir lewat kardus. Melalui itulah nama Ibu Popon semakin besar -pemasaran merambah sampai ke Majalengka, Jakarta, termasuk rest area jalan tol dan kantor koperasi Jakarta.

Di Bogor, kamu bisa dapati produk Ibu Popon di sentra oleh- oleh Priangan Sari. Pusat perbelanjaan di Carrefur Yogya juga sudah ada. Sudah berkembang, Popon mulai berbagi ilmunya lewat pelatihan kepada ibu- ibu sekitar. Ada sekitar 40 kelompok tani, terdiri dari 10 orang, dimana mereka berkeahlian khusus.

Ada bagian pembuatan keripik pisang, karipik jagung, keripik salak. Soal SOP dan bumbu dikontrol oleh Bu Popon langsung. Dengan bantuan mereka bisa menghasilkan berbagai jenis keripik. Kemudian tidak cuma berhenti di keripik, juga ada peyek kacang hijau, sumpia isi oncom, dimana juga mak nyus.

Siapa sangka wanita sederhana ini, adalah pemilik pabrik memproduksi aneka jajan, banyak sekali dari aneka dodol sampai aneka keripik buah. Popon sendiri termasuk suka inovasi. Dia mengutak- atik setiap produknya menjadi lebih unik. Ia sekarang terkejut karena setiap idenya diminati masyarakat luas.

Dengan upah Rp.2000 per- kilogram, maka Popon mempekerjakan sumpia oncom. Lalu ada juga emping jagung yang diminati konsumen Bogor. Awalnya cuma bikin emping original. Permintaan konsumen mau lebih: Mereka ingin diberi taburan bumbu barbeque, ini menjadi jalan Popon mengembangkan produk lagi.

Inovasi selalu dilakukan Popon. Dia menyikapi hal tersebut seperti hobi. Biasanya dia membuat sesuatu yang baru di bulan sepi order yakni Maret hingga Mei. Banyak mimpi ingin direguk Popon akan produk olahan bermerek Ibu Popon. Seperti keripik nanas, dimana tengah dia agresif pasarkan dan berhasil.

Kerja keras 8 tahun Popon, apa yang telah dihasilkan wanita tersebut. Tidak banyak dibanding pengorbanan waktu. Dia menghasilkan omzet Rp.180 juta, dimana keuntungan bersih 15- 20 persen. Dimana Popon sudah memiliki lima buah mesin penggoreng sekaligus pengering keripik sendiri.

Kegemaran -atau hobi- Popon berkreasi praktis membuatnya sulit disaingi. Pokoknya selalu ada yang baru ditampilkan produknya ini. Selain mimpi pribadi menjadi pengusaha sukses, mimpi lainnya, yakni memberdayakan petani sekitarnya telah berhasil lewat kelompok tani binaan.

Semua kesuksesan karena dia ikhlas membantu orang. "Dengan membantu orang lain, Insya Allah urusan kita juga dibantu sama Yang Kuasa," tegasnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba