Hiasan Magnet Kulkas Lucu Berbentuk Makanan

Profil Pengusaha Megawati Suganda 


 
Kegemaran Megawati Suganda akan miniatur. Membuatnya berpikir tentang bisnis sendiri. Dia dan suami lantas mempunyai ide bikin hiasan kulkas. Berbekal kecintaan akan miniatur, dari minatur diubah mereka jadi pernak- pernik kulkas bermagnet itu.

Ide bisnis dimulai sejak 2009 silam. Dengan nama TechnoCraft membuat aneka miniatur. Lalu dijadikan pernak- pernik kultas menarik. Kebetulan sang suami bekerja sebagai arsitek. Jika orang berpikir mereka akan membeli barang impor. Salah. Mereka berencana membuat miniatur buatan sendiri hingga jadi.

Mereka berpikir desain khas Indonesia. Mereka mencari trend disekitaran sendiri. Pokoknya makanan apa yang dikenal masyarakat Indonesia. Dikaji dulu, membuat desain, dan mulai berproduksi. Awal bisnis ia dibantu suami membuat semua manual, tanpa mesin.

Siring perkembangan usaha, mereka sudah memiliki lima mesin. Menurut Detik.com ada mesin pencetak kemudian mesin pengecil miniatur. Macam- macam minatur tersebut lantas dipasangi magnet. Desain meliputi produk makanan dan minuman terkenal Indonesia, contohnya Freshmilk dan Teh Botol. 

Awal usaha mengeluarkan uang mencapai Rp.30 juta. Itu buat beli bahannya saja. Mesin beru kebeli ketika sudah berjalan bisnisnya.

Semakin dikenal usaha semakin banyak promosi. Mega mulai mengikuti aneka pameran bisnis, aneka ajang pameran kerajinan seperti di Jakarta Convention Center (JCC), dan Indonesia Convention Center (ICC) di BSD, Tangerang. Juga memajang produknya di pusat perbelanjaan kota wisata Bandung.

Biasa mereka membuka pameran kecil, di mal Kasablanka, tetapi memakai konsep tidak menetap seperti cuma dua bulan. Termasuk ke floating market Lembang, atau di Farm House. Mereka juga mengirim ke Siangpura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Timur Tengah.

Website: www.magnetkulkas.com

Usaha Kaos Limited Edition Nagud Banyuwangi

Profil Pengusaha Annisa Febby Chaurino dan Hendra Gunawan 




Bagi pecinta kaos khas Banyuwangi, nama Nagud sudah tidak asing didengar di telinga. Tetapi buat kita nih namanya Nagud adalah bisnis berkonsep unik. Kamu layak mencoba bisnis mereka. Bisnis kaos distro itu memang tidak ada matinya. Bagaimana jika membuat kaos distro limited edition?

Distro Nagud! Banyuwangi dipelopori pasangan pengusaha. Sang suami, Hendra Gunawan (34), melihat peluang ada di bisnis istrinya. Annisa Febby Chaurino, memulai brand Nagud! Banyuwangi sengaja untuk membuat desain tidak pasaran.

Annisa juga mengangkat nama Banyuwangi sendiri. Hasilnya tidak asal membuat kaos distro. Ia juga tidak mau memproduksi banyak, tetapi kualitas kaos rendah. Dimulai sejak 2012 silam, satu bulan selepas dia lulus Design Industri ITS Surabaya, modalnya cukup Rp.2 juta sudah bisa membuka distro milik sendiri.

Uang tersebut pinjaman orang tua. Berarti Annisa harus sukses mengembalikan. Dengan pemasaran lewat sosial media, ada Facebook, Twitter, ada webnya juga, desainnya original tidak copy- paste desain milik orang lain. "Desainnya juga asli karya saya dan mengharamkan copy- paste desain orang lain," ujarnya.

Memang sejak awal Annisa menawarkan sesuatu beda. Dia sendiri pernah dapat juara lomba desain kaos se- Jawa Timur pada 2010. Waktu itu dia masih aktif berkuliah. Dan, oleh karenanya, dia sangat percaya diri buat memulai bisnis clothing.

Dua bulan dia mengembangkan bisnis. Mulai belajar administrasi dulu, pembuatan kaos, lalu dia beranikan diri meminjam uang. Ia sudah perhitungkan betul perputaran uang. Akhirnya memberanikan diri meminjam uang kembali ke bank. Kemudian dia mengajak kerja sama kakak di Surabaya, untuk mulai membuat kaos.

Bisnis pintar


Harga produksi Annisa memang sedikit lebih mahal. Patokan harga kaosnya mencapai Rp.90.000 sampai Rp.150.000. Satu desain diselesaikan selama satu minggu. Tetapi terkadang juga malah mengikuti mood -nya sih, jadi bisa lebih panjang. Setiap dua bulan Nagud! dan dia minimal mengeluarkan dua desain.

Bersama sang suami Hendra, mereka menyasar konsep tradisi khas ke- Banyuwangian. Bisnis mereka juga sudah berkembang tidak cuma kaos, termasuk jeket, jamper, aksesoris, batik, pokoknya khas Banyuwangi lah.

Nama- nama tradisi diambil mengangkat Banyuwangi. Baik gambar ataupun tulisan semuanya Banyuwangi. Ia mengaku bisnis mereka berjalan. Alasan karena konsep ditawarkan mereka beda. Tidak ada produksi kaos banyak. Bisnis mereka cuma memproduksi 18 potong kaos.

Dimulai kaos anak- anak hingga dewasa diproduksi terbatas. "Sengaja terbatas dengan desain yang khas agar tidak pasaran," Hendra mempromosikan.

Pengalaman memakai pakaian branded berkualitas. Yang tidak banyak dimiliki orang lain. Ada perasaan yang berbeda Hendra rasakan. Ditambah tradisi lokal membuat bisnisnya makin bersinar. Pengabdian akan tradisi lokal membuat Nagud! Banyuwangi makin matang.

Bisnis mereka sudah sampai ke Jakarta, Surabaya, Sulawesi, dan Denpasar, dan juga sampai ke luar negeri loh, seperti ke Taiwan dan Hongkong. Untuk jaket harga kisaran Rp.120.000 sampai Rp.150.000. Juga ada tas seharga Rp.60.000. Batiknya kisaran Rp.100.000 sampai Rp.600.000.

Bisnis kaos mereka berharap mampu memindahkan. Trademark tentang kota distro Bandung, ataupu kalau orang mau ke distro di Jawa Timur, ya Surabaya. Maunya nama Banyuwangi menjadi trademark tersendiri lewat Nagud! Soal omzet mereka mengaku pernah mampu mengantungi omzet Rp.60 juta perbulan.

Keripik Daun Apa Saja Jenis dan Untungnya

Profil Pengusaha Sri Lestari Murdaningsih 



Hobi memasak menghasilkan untung. Ketika banyak kaum hawa tidak pandai memasak. Banyak pengusaha lahir kerena masakan mereka. Mau belajar masak. Cobalah datang ke Ibu Sri Lestari Murdaningsih yang hobi memasak. Wanita 46 tahun ini memang suka membuatkan aneka camilan buat keluarga.

Tahun 2007, mencoba membuat camilan berbeda, gimana membuat keripik tidak berbahan umum. Tidak harus berbahan tempet. Tidak pula berbahan singkong. Ini keripik bayam dan daun singkong khusus buat keluarganya.

Karena bikinya terlalu banyak. Dia mulai membungkusi sisanya. Keripik daun- daun tersebut terkumpul 20 bungkus. Iseng dia tawarkan ke warung- warung dekat rumah. Eh, kok, antusias pembeli begitu besar terhadap keripik buatan Sri. Keripik daun tersebut laris manis habis diborong tetangga.

"Saya terkejut banyak yang suka," selorohnya. Kan dibuat tidak banyak juga. Malahan ada yang bertanya apakah Sri bisa buat lagi.

Melihat peluang bisnis terbuka sendiri. Sri membuat kembali keripik daun bayam dan daun singkong. Dia juga menambahkan keripik daun kemangi. Ketiga daun tersebut diolah kemudian dipasarkan. Tidak cuma dititipkan ke warung, Sri menyasar pula toko oleh- oleh sekitaran Solo- Yogya, hasilnya mencengakan!

Semua daun buatan Sri habis terjual. Mulailah dia semakin serius menekuni. Bisnis keripik aneka daun itu mulai dikembangkan bukan sekedar iseng. Ide bisnis Sri adalah bagaimana membuat pilihan keripik dari bahan daun.

Bisnis Puluhan Juta


Meskipun terlihat sukses besar. Tetapi juga membutuhkan jalan, hingga Sri sampai di titik dimana bisnis dia jalankan menghasilkan puluhan juta. Di awal, tentu bisnis Sri sekedar tambahan uang belanja keluarga saja. Selepas 1,5 tahun barulah terlihat hasil memuaskan, dan Sri memutuskan membuat inovasi lebih.

Dibuat lah keripik daun sirih, daun seledri, daun kenikri, terong, dan pare. Orang jaman dulu suka makan sirih. Nah, sekarang bisa digiatkan kembali lewat jajanan keripik daun sirih. Rasanya tidak pahit melainkan gurih dan renyah. Tidak cuma sirih, kemangi yang cuma lalapan bisa menjadi keripik buat dimakan santai.

Produksi awal sedikit jadilah dia bisa gampang. Sri mengaku cukup memetik di halaman rumah. Namun, ketika pesanan makin banyak, jika sekarang ia harus membeli ke pasar. Perlu kamu tau, Sri mengaku dulu sempat kesulitan meracik bumbu berbeda- beda. Mengkomposisikan pare dan daur sirih yang pahit tidak gampang.

Tiga tahun berjalan, bisnisnya menyebar, keripik aneka daunnya mulai meluas. Pemilik warung atau toko oleh- oleh dari Bantul, Klaten, Sleman, bahkan Solo, menyetok keripik daun milik Bu Sri. Pesanan luar Jawa juga banyak seperti Bali, sampai Sumatra.

Kalau musim liburan telah tiba. Bisnis Sri mengundang orang luar lokal ataupun luar negeri. Meskipun rumah Sri terletak di belakang Candi Ratu Boko, yang mana jalannya pedesaan sekali. Sri Lestari telah memiliki tiga karyawan memproduksi 40kg keripik berbagai jenis.

Keripik dijual per- 2 ons seharga Rp.5000 untuk daun bayam dan daun singkong. Adapun kemangi, sledri, kenikir, terong dan daun pare, per- 2 ons dihargai Rp.8000. Buat perkilo keripik bayam dan singkonga dia hargai Rp.35.000. Keripik kemangi, sirih, seledri, kenikir, terong, dan pare, harganya Rp.40.000 per- kilo.

Untuk tengkulak bisa mengambil sehari 35kg sampai 40kg. Stok sehari sering habis sehari, padahal dia juga menarget wisatawan Candi Boko dan Candi Ratu Boko belum makan.

Bisnis wisatawan


Pasar Sri juga termasuk wisatawan dua candi dekat rumah. Disini, awal mula, Sri semakin niat menyeriusi usaha keripik. Setelah sepuluh tahun pencapaian Sri tidak terduga. Pelanggan bukan lagi sebatas mereka dari kedua candi. Berawal dari lomba kelurahan bertema lingkungan hidup, Sri menjajakan aneka keripik daun.

Modalnya Rp.500 ribu saja, dan bisnis Sri berkembang dengan omzet mencapai Rp.15 juta per- bulan. Dia kemudian merambah aneka dedaunan lain. Contoh olahan laris adalah keripik daun sirih dan kemangi, yang sangat bercita rasa unik. Selain renyah daun keduanya memiliki khasiat buat tubuh kita.

Tiap hari dia menyiapkan 45 kilogram beraneka ragam. Untuk daun singkong, caranya potong batang, dia kemudian rebus, diperas airnya, untuk daun direbus dianginkan. Rebusan daun dicampur bawang putih, kemiri, ketumbar, garam dijadikan satu dengan tepung terigu.

Goreng pakai tungku berbahan kayu bakar agar renyah. Ingat panas api dan minyak harus stabil ya. Tidak mau berhenti di dedaunan. Keripik Sri sampai tempe, jamur tiram, usus ayam, serta daun seledri. Apapun jenis daunnya bisa diolah jadi keripik. Inti bisnis Sri selalu berkembang tetapi tidak "ngoyo" sendiri.

Bisni Sri bahkan menyentuh angka Rp.1 juta sehari. Bayangkan kalau dikalikan 30 hari saja. Sangat lebih dari cukup buat memenuhi kebutuhan perempuan sederhana ini.

Sukses keripik Sri membawa banyak media masa, baik lokal maupun nasional. Akhirnya membawa banyak orang menjajal peruntungan. Disisi lain, banyak pesaing, Sri juga kebanjiran orderan sampai dari luar Jawa berkat pemberitaan. Antrean pesanan bahkan sampai tiga hari, karena saking banyak pembeli.

"Saya sampai kwalahan memenuhi permintaan," ujarnya. Total ada 30 orang tetangga Sri ikutan berbisnis sejenis. Lumayan hasilnya bisa menambah dapur masing- masing. Sri sendiri merasa tidak tersaingi ya karena Sri sudah makan garam keripik daun puluhan tahun.

Quote Terbaik Yasa Singgih Pengusaha Muda

Quote Terbaik Pengusaha Muda 



Resep Bolu Tape Ibu Berkah Sekarang Pengusaha

Profil Pengusaha Norma Suhaedah 




Pengusaha Norma Suhaedah, wanita 31 tahun ini, bercerita bisnis dilakoni sekarang serba kebetulan. Awal dia ingin membawa bekal bolu tape buatan ibu. Ke kantor, dia kemudian didekati teman- teman, namanya teman kantor sering berbagi makanan. Inilah awal bolu tape Ibu Norma mendapatkan perhatian orang.

Mereka suka mencicipi bolu tape Ibu Norma. Lama kelamaan, muncul pesanan bolu tape, mereka beli buat dijadikan camilan arisan dan sebagainya. Iseng Norma mengiyakan keinginan teman- temannya. Dia kemudian mulai jualan bolu tape buatan ibunya sendiri.

Bisnis keluarga


Dia mengajak sang adik, M. Irwan (28), bersama membuat kue bolu tape. Mereka mulai berbisnis dari level paling dekat. Didukung pendidikan Irwan dibidang advertising, maka lahirlah brand bernama Mama Bolu. Guna menekuni bisnis bolu tape banteng, Norma bahkan rela melepas pekerjaan mapan.

Empat tahun sudah dia bekerja di sebuah perusahaan asing. Pekerjaan sebagai Sales Account Management, di PT. Siegwerk Indonesia, dimana gajinya menyentuh angka Rp.5 juta. Kejadian 2013 silam tersebut jadi titik tonggak perjalanan Norma menjadi pengusaha bolu.

Respon teman yang bagus langsung menjadi patokan. Nekat memang, Norma memutuskan melepaskan jabatan, tetapi di hati paling dalam sudah jenuh. Ia ingin menjadi pengusaha. Norma kemudian fokus buat bisnis tape bolu.

Modal awalnya cuma Rp.1,5 juta, dibelikan peralatan, packing, dan bahan baku. Uang tersebut hasilnya menyimpan selama bekerja. Bisnis tersebut berjalan dua tahun dan berkembang baik.

Dorongan menjadi pengusaha makin kuat. Selepas dia mendapatkan ilham dari Ustad Yusuf Mansyur, yang mengatakan semua orang bisa berbisnis. Karena itulah dia semakin giat mengembangkan bolu tape. Dia juga melihat kuliner khas kota lain. Dalam benaknya "kok di Kota Tangerang tidak ada", maka jadilah.

Landasan diatas membuat wanita berhijab ini makin mantab. Yang semula bermodal Rp.1,5 juta, kemudian menjadi omzet bulanan Rp.25 juta, dimana kapasitas produksi mencapai 100 boks. Agar semakin laris- manis maka tampilan harus dipermak.

Dia mempermanis lewat kreasi toping aneka rasa. Ada rasa strawberry, blueberry, cokelat, keju, kismis, keju cokelat, dan kacang. Harga bolu tape berfariasi mulai Rp.30.000- Rp.35.000 aneka bertoping. Dia berjualan lewat internet mulai dari sosial media, blog, dan banyak lagi.

Penjualan tape bolu sudah menyebar ke penjuru Indonesia loh. Dan, Norma dan Irwan, sudah memiliki satu gerai berkat dorongan Dinas Indagkop Kota Tangerang dan Angkasa Pura. Norma jadi sering diajak mengikuti kegiatan festival kuliner. Peluang bagus tidak ditampik Norma lewat aneka bantuan buat bisnis.

Dia mendapat bantuan modal Rp.20 juta. Dan, akhirnya, nama bolu tape dikenal laris manis menjadi khas Benteng, Tangerang. Tekstur lembut rasa tapenya terasa hingga diburu orang. Peminat dari Sumatra hingga Papua. Tidak ada bahan pengawet. Bisa bertahan empat haris tanpa lemari es, tujuh hari kalau didinginkan.

Untuk untung dibuka Norma, dipotong gaji karyawan Rp.10 juta, maka untung bersih mencapai Rp.18 juta perbulan. Diman sekarang dia sudah memproduksi 800 boks per-bulan. Atau omzetnya naik menjadi Rp.28 juta perbulan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba