Mendirikan Usaha Seorang Diri Tanpa Bantuan

Profil Pengusaha Iwan Suprianto 



Meskipun mabel bambu cuma bertahan lima tahun. Bisnis Iwan Suprianto tetap mengemari. Ia ingin mengembangkan agar lebih efekti. Karena, di sisi lain, dari pohon bambu sendiri lebih gampang tumbuh kembang. Sukses Iwan bermodalkan kesederhanaan dalam desain yang minimalis. 

Harga murah namun dapat dijadikan aneka benda bermanfaat. Iwan mengolah tanaman menjulang tersebut. Aneka benda kerajinan dapat tercipta. Aneka furnitur unik klasik dapat dibentuk. Memang butuh ketekunan ekstra karena tidak gampang. 

Kerja keras Iwan sudah dimulai sejak tahun 1991 -an. Empat tahun bekerja di perusahaan mabel menjadi bekal. Iwan mantab membuka usaha mebel sendiri. Bermodal 150 ribu di saku, dia mulai membuat mabel bambu sederhana. Caranya mengumpulkan bambu gelonggong dirakit menjadi satu. 

Namun cara sederhana tersebut tidak tahan lama. Jualan mulai laku. Sementara serbuan mabel asing terus masuk. Agar bertahan kala itu, Iwan harus berinovasi dari segi desain dan ketahanan. Iwan mengklaim dia mampu membuat furnitur bambu awet selama 10 tahun hingga 15 tahun.

Usaha miliknya berkembang. Tahun 2000 Iwan menamai usahanya menjadi DK Milenium. Bisnis yang sudah berbadan tersebut mulai digalakkan. Nama Milenium diambil bertepatan akan isu unik. Tahun baru yang disebut tahun milenium -menyongsong tahun 2000 -an, dan meninggalkan dekade 1000 -an.

Iwan tidak mempekerjakan siapapun. Tanpa bantuan mendirikan usaha. Lewat tangan kreatif, bambu yang terkesan tua, sudah menjelma menjadi furnitur modern. Unsur klasik masih terasa tetapi dari segi desain sudah beda. Sudah tidak ketinggalan jaman karena Iwan sadar kelemahan bambu.

Masih menonjolkan kesan etnik. Ia sekarang mempekerjakan delapan orang karyawan. Menjual dua jenis bambu, yaitu bambu standar dan kualitas tinggi. Iwan juga merangkul perajin bambu lainnya. Usaha tidak dijalankan seorang diri lagi. Harga dipatok Rp.2,5 juta- 4 jutaan, yang mana produk kualitas tinggi.

Untuk biasa dihargai antara Rp.1- 2 jutaan. Dan bisnis dikembangkan Iwan beromzet Rp.25 juta per- bulan. Setiap bulan paling tidak menjual 5 buah set- furnitur bambu. Pemesan terbanyak datang dari Pekalongan, lainnya ya standar saja atau musiman.

Mengembangkan bisnis dia mengikuti aneka pameran. Target Iwan memasuki pasar Kota Jakarta. Dia juga membuka showroom sendiri di bilangan Matraman. Meskipun sudah ada showroom tetap tidak puas. Ia memang pengusaha sejati tidak mudah puas. Ingin sekali rasanya mampu mengirim sampai pasar ekspor.

Kesulitan meningkatkan kualitas produk masih dirasa. Masih butuh peralatan modern menunjang usaha ia tengah jalankan. Pokoknya dia terus berusaha agar maju. Apalagi tujuan tengah dia capai ialah menjual ke pasar ekspor -sampai ke luar negeri lah. "Mudah- mudahan dalam waktu dekat bisa ekspor," paparnya.

Sulam Usus Bisnis Mewariskan Budaya Lampung

Profil Pengusaha Siti Rahayu 



Hidup sebagai ibu tunggal membuat Siti Rahayu sempat goyang. Lantaran suami yang dicintainya, Andi Supandi, meninggal kan dia bersama anak- anak. Sebelum suami meninggal, Rahayu memang sudah gemar membuat kerajinan tangan. Lewat Rahayu Gallery Lampung mencoba mempopulerkan hobi uniknya.

Awal dia membuat aneka sulam tapis. Kemudian ibu empat orang anak ini melihat potensi sulam usus. Kan Lampung dikenal akan teknik sulamnya. Apalagi nama sulam usus tidak setenar teknik lain. Melalui usaha sulam usus dia mencoba mengisi kekosongan ketika sang suami pergi -untuk selama- lamanya.

Bisnis sulam


Tuntutan ekonomi makin berat, ketika 1997, sang suami meninggal. Tahun berikutnya yakni 98' terjadi krisis moneter. Nah waktu menjalankan bisnis sulam usus. Rahayu tengan merintis tepat ketika krisis itu tengah bergejolak panas. Beruntung bisnis sulam usus dijalankan tidak goyah. 

"Itu masa berat bagi tante," ujar pensiunan Pegawai Neger Sipil itu.

Meskipun sedih bercamput getir tetap berusaha. Kecintaan akan teknik sulam membangkitkan semangat. Ia semakin semangat ketika orang lain terdampak. Didukung nama besar sang kakak, Aan Ibrahim, yang dikenal sebagai desainer terkenal mencoba memasukan bisnis sulam usus.

Bertahap dia mulai membangun bisnis. Dibantu banyak ibu- ibu dan anak muda asal Lampung. Sulam usus menjadi usaha bersama. Ia seolah memberikan harapan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan karena di PHK.

Wanita kelahiran Pagardewa, 10 Oktober 1957, juga merupakan anak seorang master jahit. Jadilah dia dan Aan Ibrahim klop kompak bisnis fasion. Keluarga mereka dikenal sebagai pesulam usus kenamaan asal Lampung. Namun dia baru benar berbisnis ketika kebutuhan menghimpit keluarga kecilnya.

Kakak Rahayu memiliki prespektif diluar keahlian Rahayu. Dia selalu menganggap sulam usus lebih punya potensi lewat fasion modern. Jadilah keduanya berkolaborasi bersama. Bisnis sulam usus menelan biaya Rp.20 juta tetapi omzetnya mencapai Rp.50 juta per- bulan.

Sulam usus tidak selalu monoton berkesan mahal. Bisa dijadikan akesoris lewat sarung bantal, tapak meja, alas piring atau biasanya yang mahal dijadikan kebaya. Pengunjung datang ke galerinya sekarang, paling tidak merogoh kocek 500 ribu sampai puluhan juta.

Macam motif seperti ukel- ukel, sulur, dedaunan, harga juga bervariasi. Mangkanya bisnis sulam usus bisa dibilang sama seksinya dengan tenun atau batik. Karena proses pembuatan yang sulit, pantas kalau harga bisa sangat mahal, apalagi kalau media sulam besar bukan sekedar taplak.

Bisnis berlanjut


Proses pembuatan terkadang Rahayu akali. Kalau- kalau dia membuat bahan kombinansi harga bisa sampai Rp.700 ribuan. Sulam berarti dikerjakan sangat detail, ia mengatakan tidak boleh emosional terburu- buru. Haruslah cermat agar sulaman rapih membentuk motif menarik.

Sukses Rahayu menurutnya karena pelanggan setia. Mereka tidak bisa meninggalkan sulam usus miliknya. Kualitas tinggi memang diandalkan Rahayu, tidak ada pilihan lain. Banyak pejabat dan sosialita memilih menjadi pelanggan Rahayu. Kain diubah bahkan menjadi gaun penganting menawan buat dipamerkan.

Untuk pelanggan setia cukup pesan lewat telephon sudah. Aneka kerajinan lain meliputi bed cover, hiasan dinding, juga sarung tapis. Yang paling mahal adalah pembuatan gaun pengantin. Terbuat dari kain kebaya senilai Rp.2 juta sampai Rp.8 jutaan, yang diatasnya ditaburi batu swarowski.

"Ada rupa, ada harga," jelas Rahayu.

Penjualan juga sudah merebak sampai ke pasar- pesar sekitar. Juga sudah masuk ke pasar Malaysia- Singapura juga loh.

Menggunakan prinsip binaan bisnis Rahayu berjalan. Dia berharap para wanita terinspirasi melestarikan budaya sulam Lampung. Pengen setiap ibu muda putus sekolah, remaja putri, bukan sekedar duduk- duduk tanpa melakukan kegiatan bermanfaat di rumah.

Untuk bahan dia beli dari Jakarta karena lebih murah. Sulam usus dibuat dari pilinan kain satin, dirangkai dengan jaring berbentuk jaring- jaring. Kemudian dihiasi payet- payet nan- indah memanjakan mata. Ia mengatakan pembuatan bisa sampai dua hari sampai dua minggu.

Pengusaha Dulunya Sangat Miskin Merantau di Lampung

Profil Pengusaha- Pengusaha dari Nol 


 
Sukses tidak harus ke Jakarta. Banyak orang tertipu oleh gemerlap ibu kota. Sementara di Jakarta orang datang hidup susah tetap susah. Di sini, daerah Lampung semisal, orang datang jika mampu bertahan hidup susah maka akan sukses. Apalagi mereka mengikuti program pemerintah transmigrasi.

Berikut kisah orang sukses tanpa bantuan. Mereka datang ke Lampung sebagai pendatang. Tanpa modal ataupun tanpa dukungan pemerintah. Namanya Lulut, Lesung, dan Suratmin, orang Magetan, Jawa Timur, kemudian jadi saudagar Lampung.

Tidak disangka Lulut, pria umur 55 tahun, dulu pernah tiduran di emperan. Sekarang Lulut bergelar Haji karena keuletan, kejujuran, dan kerja keras. Kini, dia memiliki kios di Pasar Terminal Induk Pringsewu, merupakan anak ketiga dari sembilan saudara. Dia memang terlahir dari keluarga sangat tidak mampu.

Nekat merantau


Pemuda asal Desa Karangrejo, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, di tengah ekonomi keluarga super sulit mau melakukan apa. Solusi Lulut tidak lain hanyalah merantau ke kota. Nekat dia berangkat ke Lampung dengan uang minim.

Sejak tiba di Lampung tidak ada saudara ditumpangi. "Tidur di emperan pasar hanya beralaskan kardus," ia melakoni itu mulai 1973- 1976. Sekitar tiga tahun tersebut ia kerja jadi buruh. Bukan buruh sekarang yang gajinya Rp.2 jutaan. Lulut menjadi buruh pengemas sayuran berupah Rp.25 per- karung.

Lelaki yang cuma tamatan SMP tersebut, lantas ketemu Sukati, wanita 55 tahun yang juga hidup sangat miskin seperti Lulut. Keduanya nekat menikah hingga hidup makin sulit. Sukati sendiri juga perantau dari Jawa, menjadi buruh juga di pasar sama. Sukati sendiri biasa tidur di pasar beralas ala kadarnya.

Sesudah menikah hidup mereka makin susah. Tidak cuma menerapkan konsep "Jipe Jinggo", atau baju yang dipakai satu, satu lagi dicuci kering kemudian dipakai lagi dan satunya dicuci. Makan sehari- hari pun juga cuma makan pisang sisir direbus. Mereka cuma bisa bekerja keras serta bertawakal mengumpulkan uang.

Hasilnya mereka punya rumah sendiri sekarang. Mereka punya kios jualan hasil bumi. Omzet dicapai oleh Lulut mencapai Rp.20 juta sehari. Bayangkan sekarang mereka bahkan punya mobil.

Kisah lain diretas pria bernama Lesung Sudarsono. Pria yang kini menginjak umur 55 tahun. Dikenal juga jadi saudagar kaya padahal cuma lulusan SD. Merupakan kelahiran Desa Nguntolonadi, Takeran, Magetan. Yang merantau ke Lampung juga berbekal minimal. Juga pernah dia merasakan dingin tidur di lantai pasar.

Dia bekerja sebagai buruh angkut. Sudah rantau ke Lampung sejak 1980 -an dan enam tahun sudah tidur di pasar. Lesung bekerja bisnis dari Haji Sarkun. Karena cerdik, tekun, jujur, dan kerja keras, Lesung berubah menjadi pedagang hasil bumi di Pasar Pringsewu.

Jualannya sukses, dia sudah punya rumah kos, sarang burung walet, dan sawah sangat luas. Untuk hobi, dia menekuni bela diri, dan mendirikan padepokan silat Persaudaraan Setia Hati Teratai, yang merupakan cabang perguruan silat asal Jawa Timur

Lesung sama halnya Lulut juga menangis. Terharu mengingat perjuangan menggapai keadaan sekarang. Dia pamit merantau kepada ibu. Dalam sungkem dia menangis bersujud meminta restu. Ibu tidak rela kalau ia merantau ke tempat jauh. Tetapi tekat merubah nasib begitu bulat berada dibenak Lesung.

Kemudian ada kisah dari Suratmin, pendatang asal Gorang Goreng, Magetan. Dimana ia sudah merantau sejak  Merantau sejak 1990 bermodal uang Rp.250.000. Uang tersebut digunakan ongkos bus, kemudian sisa baru dijadikan modal usaha, sederhana kok usaha dijalankan Suratmin.

Dia jualan sayur- sayuran, seperi ada bawang merah, kol, cabai, dan kacang- kacangan. Awalan cuma jualan sayuran dengan jumlah sedikit. Jualan sayuran sekedar 10- 20 kilogram. Kalau sekarang ya jualan sudah mencapai puluhan kuintal sehari.

Omzet sampai Rp.30 juta seharian, bahkan Rp.60 juta jika masuk musim Lebaran. Meskipun rindu pulang kampung, dia mengaku tidak akan tinggal di Jawa. Apalagi harus meninggalkan kerjas keras selama ini di Lampung. Walaupun dibayari sejuta sehari tidak mau meninggalkan kerja keras.

Pengusaha Muda Dari Nol Bisnis Batik Kartun

Profil Pengusaha Garina Irmayanti 



Pengusaha muda dari nol tersebut bernama Garina Irmayanti. Umur baru 22 tahun, tetapi sudah memutar uang senilai Rp.100 juta. Rahasia bisnis Garina ternyata adalah batik. Dia mengambil inisiatif dikala naik pamor batik Indonesia. Bukan perkara mudah karena mahasiswa aktif ini akan hadapai banyak pesaing.

Mahasiswa Universitas Airlangga, Surabaya, masih aktif kegiatan perkuliahan. Sembari itu dia memiliki pandangan ke depan. Berwirausaha menjadi pilihan. Kalau dulu kan batik terkenal buat pakaian formal. Ia mencoba merasuk lebih dalam. Dari sekedar pakaian keseharian lebih dalam lewat aneka motif berbeda.

Garina pun tidak sekedar membatik. Ia berlatih menjadi pembatik tulis sejak Juli 2010 silam. Aneka kaos batik memang sedang populer. Ia ingin mengambil langkah beda. Batik Garina menampilkan aneka batik tulis bermotif kartun, animasi, dimana ditabrak motif bunga dan binatang pada batik tradisional.

Bisnis Garina dimulai lewat menjadi reseller. Kalau dulu, dia menjual kembali aneka tas batok kelapa, kalau sekarang memproduksi sendiri. Bisnis ditekuni gadis berjilbab tersebut memang tidak jauh dari kesan etnik. Garina,  gadis manis berjilbab, menciptakan sendiri batiknya lewat belajar sendiri.

Jualan aneka souvenir dan tas batok kelapa. Uang didapat dijadikan modal usaha. Kurang, Garina memilih meminjam ke ayah Rp.3 juta. Tentu agar bisa membayar hutang tersebut. Garina lebih giat belajar batik dan mulai bekerja karena itu amanah!

Awal usaha pasti kesusahan. Ponta- panting Garina mencoba memasarkan produk. Kesulitan membacar apa kesukaan konsumen. Membuat batik bikinan Garina tidak sempurna. Lewat blog, dia mencoba buat langsung memamerkan desain, dari sana lah, ia menemukan cita rasa kegemaran pembeli dari desainnya.

Disisi penjualan memang dirasakan sulit. Namun dia bisa melewati hal tersebut seiring waktu. Hanya saja, masalah kembali tiba justru ketika usahanya mulai naik. Permintaan akan barang dagangan tidak diimbangi oleh jumlah pegawai. Susah mencari tim kerja yang sepandangan tentang bisnis batik tengah ia geluti.

Ada kesusahan sendiri ketika membatik di atas kaos polos. Proses tidak mudah. Diawali gambar desain lewat pensil. Dititik pakai malam kemudian barulah diwarnai. Harga jual berdasarkan ukuran yakni kaos anak Rp.85 ribu, dan kaos dewasa dihargai Rp.130 ribuan, tutup gadis kelahiran 20 Juni 1990 ini.

Emping Melinjo Sehat Bebas Penyakit Bantul

Profil Pengusaha Sukses Sukati 



Ibu bernama Sukati kemudian menceritakan kisah suksesnya. Orang bilang sukses tidak perlu mahal. Inilah sukses Sukati, seorang pengusaha emping melinjo, berkat usaha sederhana mampu mensekolahkan anak sampai lulus sarjana. Diawali rasa prihatin atas melimpah ruah biji melinjo di kampung halaman.

Warga Dusun Tegalkenongo, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, yang merasa kok banyak ya melinjo berceceran. Tidak dimanfaatkan secara maksimal. Hanya jualnya rendah sekali. Kesempatan buat Sukati membuat perubahan pada bisnis melinjo lokal.

Dia kan asi Wonogiri, Jawa Tengah, nah di tempat asalnya, buah melinjo diubah menjadi emping. Buah si melinjo dijadikan emping dan harganya jauh lebih mahal. Dia hanya mencoba membuat apa yang sudah ada di luar, tetapi tidak di lokal. Usaha dijalankan pada tahun 1980 silam berjalan lancar.

Tahun 80 -an itu, melinjo dihargai Rp.1000 per- kg, dan ketika dia bikin emping harga Rp.3000 per- kg. Laris manis jualan Sukati terutama ketika Lebaran tiba.

Uang Rp.3000 itu banyak jaman dulu. Penjualan cukup sekitar rumah saja. Atau ada pedagang yang datang mengambil buat dijual lagi. Tahun 2000 -an, bahan baku malah naik sampai Rp.60 ribu per- kg. Mangkanya dia tidak cuma membutuhkan dari lokal saja.

Cari sampai keluar Bantul, sampai ke Kulonprogo dan Sleman. Dia sudah punya penjual langganan. Sehari dia memproduksi 500kg permintaan. Bahan baku mencapai lima kilogram setiap kilogram untung sampai Rp.1000. Jika sebulan laku 150kg dikalikan saja Rp.1000, atau hasilnya sampai Rp.150.000.

Ia mengatakan emping melinjo miliknya beda. Karena rendah purin, maka tidak masalah dikonsumsi oleh penderita asam urat hingga darah tinggi. Ia berani kerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan sampai bisa menciptakan emping melinjo. Emping melinjo rendah purin dihargai Rp.90 ribu per- kilogram.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba