Jual Lampu Aroma Terapi Mas Toyo Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Sukses Sutoyo 



Mental bisnis Sutoyo jangan diragukan. Warga Dusun Manayu Lor, Desa Tirtonirmolo, ini sudah pernah berbisnis aneka jenis. Mulai berbisnis daur ulang kertas. Jatuh bangun pun sudah dirasakan Sutoyo agar mencapai namanya kesuksesan. Orang bilang kita harus gagal berulang kali hingga menemukan jalan.

Ia pernah tertipu eksportir. Dua kontainer kerajinan tidak dibayar. Tidak berputus asa, dia lakukan semua agar tetap menghasilkan karya. Meskipun usaha dijalankan Sutoyo bermodal sangat minimalis.

Bisnis daur ulang


Menjadi pewirausaha tidak wajib bersekolah tinggi. Wirausaha dijalankan Sutoyo cuma bermodal ijasah setingkat SMA -ijasah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Jurusan Teknik Mesin. Ayah dua anak yang sejal awal menekuni usaha kreatif. Bermula dari usaha bernama Toy' Production: Flower & Handycraft.

Pada awal dia mendistribusikan aneka kerajinan tangan. Tahun 2005 usahanya bergeser dari sekedar jualan aneka kerajinan. Nama Titoy Production: Terracotta & Handycraft, dia mulai memproduksi aneka ragam kerajinan tangan bikinan sendiri.

Di tahun 2008 dia membuat aneka kerajinan. Sebut saja frame foto berbahan lintingan kertas, frame kaca, wall dekor, aksesoris, dan lainnya. Ia menjelaskan kepada Indotrading News. Awal usaha saja sudah tidak semulus kamu bayangkan.

Ia menjalin kerja sama dengan eksportir. Eh ternyata malah mendapatkan komplain. Tahun 2010, menurut pria yang akrab disapa Mas Toyo, mengatakan mereka menghentikan kerja sama sepihak. Rugi besar tentu diderita pihak Mas Toyo.

Usaha miliknya gulung tikar. Ada 32 orang karyawan dirumahkan. Mereka bahkan tidak dapat pesangon. Ia malu sangat. Harta benda digadaikan, dijual, seperti sebuah gudang, dua unit mobil, dan empat unit motor hilang. Walaupun sudah dijual tetap tidak nutup kerugian menyisakan hutang sampai Rp.100 juta.

Tahun 2011, dia menyadari bahwa sang eksportir hanya ingin memonopoli, ingin menguasai produk karya miliknya. Semena- mena dan akhirnya Toyo tidak lagi membuka kesempatan. Pembayaran juga tidak bisa lancar. Harga ditawarkan ke dia juga jatuhnya terlalu murah.

Terjepit bukan kembali berbisnis sama. Mas Toyo mengadu nasib lewat jualan soto. Empat bulan bisnis tersebut dikerjakan. Kemudian ya berhenti lantaran sepi pembeli. Dia lalu meminjam modal Rp.4 juta buat jualan ayam ke Taman Hias (Pasty), Yogyakarta, hanya 5 bulan karena jualannya kena flu burung.

Ayam mati hingga tidak balik modal. Walau gagal terus. Toyo mengaku tidak capek. Tetap melangkah maju membuka usaha lain. Didukung sang istri, Dwi Astuti, mereka berbisnis mensuplai aneka kebutuhan buat spa. Mereka membuat lotion, lulur, handbody, dan lain- lain.

Lumayan usaha mereka berjalan baik. Cukup membantu meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Agar lebih banyak menghasilkan dia juga jualan jagung bakar. Tapi, yah, usaha jagung bakar itu berakhir gulung tikar kembali.

Bisnis terus


Ide bisnis pembawa berkah. Muncul ketika dia melihat banyaknya limbah berserakan di sebuah toko, di samping rumah kontrakan Toyo. Pada 25 Juni 2012, dia mengadu nasib kembali lewat bisnis kerajinan, yakni menjadi pengrajin kaca bekas. Tangan dingin Toyo memang sempat kaku tetapi kembali dilemaskan.

Dia mulai mencari, memotong, merangkai, hingga terbentuk produk. Produk unik dihasilkan Mas Toyo yakni lampu. Ia cuma bermodal kaca bekas bangunan. Atau sekedar kaca bekas akuarium pecah.

Bisnis ini dijalankan cuma bermodal uang Rp.100 ribu. Uang tersebut dibelikan kaca bekas, batu alam, dan mangkuk. Mangkuk digunakan sebagai landasan atau atasan. Ditempel sedemikian rupa sampai bentuk jadi lebih manis. Batu alam digunakan menjadi penopang kaca. "Jadilah barang unik."

Awalnya cukup dipotong kecil- kecil layaknya puzle. Produk pertama bikinan Mas Toyo adalah pengharum atau lampu aroma therapy. Sang istri, yang lulusan farmasi, mendukung ide bisnis Mas Toyo. Keduanya lamtas bersiap memasarkan. Sasaran pertama dia adalah memamerkan ke guru- guru sebuah SLB.

Memuaskan hampir semua guru memesan 80pcs. Harga jual murah kok, hanya Rp.85 ribu sampai Rp.150 ribu. Justru ketika permintaan itu banyak Mas Toyo pusing. Lantaran tidak disangka peminat akan sebesar itu. Bagaimana produksi sebanyak itu? Mangkanya dia berhasil selesaikan pesanan baru setelah 3minggu.

Enam bulan berlalu usaha Toyo naik daun. Ia lantas mematenkan usaha dalam bentuk perusahaan. Usaha bernama Titoy Jaya Production -Lampu Aroma Therapy & Handicraft. Usaha kecil menengah ini semakin menggeliat saja. Kerajinan lain mulai lampu biasa, vas, lampu tidur. "Saya optimis dengan produk baru ini."

Tidak mau sendirian sukses. Ia mulai merekrut tetangga. Pesanan melipah naik dibanding sebelumnya. Ia mendapatkan pesanan pengusaha- pengusaha, mereka kebanyakan membeli buat dijual kembali ke hotel- hotel. Ia mempekerjakan 15 orang. Jika pesanan melonjak dia mengambil pegawai tambahan tetangga.

Ia bersemangat dengan bisnis barunya. Bahan dibutuhkan murah, dan proses pembuatan yang tidak sulit. Ia mengatakan cukup kaca dipotong, ditata dan ditempel, dibentuk sesuai keinginan. Nilai jualnya jadi tinggi kalau sudah jadi.

Untuk menciptakan perbedaan. Ia berinovasi, lampu bikinan Toyo bisa dijadikan selain pengharum, bisa jadi lampu penerangan, bisa pula dekorasi mewah. Rahasia sukses produk Toyo ada pada minyal aroma esensial, yang mana dicampur air. Panasnya lampu akan menguapkan aroma tersebut ke udara sekitar.

TJP, singkatan usahanya, mampu memproduksi 300- 400 buah. Meskipun sudah sukses, Toyo tidak puas hati, ingin meciptakan aneka inovasi lain. Selain aroma therapy juga aneka lampu, seperi lampu tidur, baca, dan lampu hias. Ada 25 motif lampu siap menyambut kita pembeli, dan 18 varian aroma berbeda.

Meskipun sama aroma therapy tetapi berbeda fungsi: Ada pewangi ruangan saja, penghangat atau massage oil, penghangat lulur, juga ya lampu hias. Aroma macam- macam, dari flamboyan, night queen, kenangan, kamboja, bogenvil, rose, ylang-ylang, edelwis, sandal wood, lily, akasia, dan bali flower.

Sedangkan aroma minyak esensial, yang digunakan sebagai pengharum ruangan, antara lain ada lavender, jasmine, green tea, peppermint, sandalwood, rose, opium, sakura, bali flower, apple, strawberry, vannila, lemon, ylang-ylang, frangipani, lotus, night queen, dan orange.

Pemasaran utama masih disekitaran Kota Yogyakarta. Namun Toyo juga sudah mengikuti aneka pameran, dari Nusa Dua Bali, Plasa Kementrian Industri, Jakarta, dan optimis membuka peluang menjual ke banyak daerah. Optimis pasarnya akan bisa diperluas dari biasa mereka.

"Tiap pameran saya ikuti, produk saya selalu habis," ungkapnya senang.

Omzet mencapai kisaran Rp.10 juta- Rp.25 juta. TJP sendiri masih banyak kendala. Contohnya pengadaan mesin. Maksudnya agar lebih mudah dalam produksi. Termasuk banja bahan, yang semakin sulit lantaran kapasitas produksi meningkat. Tenaga karja juga masih dianggap tidak mencukupi dengan pesanan.

Pengembangan UMKM menurut Mas Toyo udah baik. BUMN juga ikut membantu majunya UMKM. Tapi belum menyentuh merata ke semua UKM, apalagi ke pelosok daerah. Mas Toyo cuma berharap bahwa pemerintah makin memperhatikan UKM kita.

Kaos Om Telolet Om Hasilkan Jutaan Rupiah

Profil Pengusaha Dianto Arif Martadi 


 
Kisah viral om telolet om membawa keberuntung. Kali ini, pengusaha muda bernama Dianto Arif Martadi yang menggarap kaus bertajuk sama. Pengusaha yang sudah lama bergelut dibisni distri ini pun. Akhirnya meneguk untung lumayan lewat ngehits viral om telolet om.

Seorang pengusaha sablon asal Solo. Seperti dilansir Okezone, dengan mengusung brand Brothel, emang hobi mengangkat kata- kata nyeleneh. Misalnya kaus bersablon mboknom atau yang artinya istri muda dalam bahasa Jawa. Tidak mau kehilangan kesempatan om telolet om diubah menjadi kaus sablonan.

Padahal sih kaus bikinan Arif sangat sederhana. Hanya menonjolkan kalimat tersebut lewat sedikit bumbu humor tambahan. Baru lima hari saja dipublikasikan menghasilkan lumayan. Baru lima hari sudah banyak berminat. Alhasil sekarang dia mengumpulkan omzet sampai Rp.13 juta, hanya dari satu desain kaus.

Setelah ditelisik ternyata bukan kali pertama. Arif bersama Brothel memang senang senang akan isu- isu hits. Apalagi kalau berhubungan dengan sosial media. Banyak hal bisa dijadikan bisnis dadakan mereka. Contoh nih, selain om telolet om, ada tajuk 212, Jokowi Payung, kemudian adapula AFF Cup kemaren.

Pokoknya bisnisnya rajin mantengin isu di Twitter ataupun Instagram. Cara terbaik meningkatkan bisnis ia mengangkat ise panas. Kalau sudah mulai anget ya dia harus rajin cari lagi. Itulah kenapa satu tajuk akan cuma dibuat 2 lusin sehari. Sudah selesai isu kaus tidak akan tersisa, tinggal Arif mencari lagi.

Kaus om telolet om dalam tiga hari laku 30 kaus. Penjualan akan berhenti seiring isu memudar. Jadi Arif harus terus mantengin tuh. Kaus bertajuk unik dihargai Rp.65 ribu. Tidak cuma jualan kaus ngehits bisnis Arif juga menerima kaus bikinan kamu sendiri.

Ukuran F4 dihargai Rp.75 ribu, dan A3 dihargai Rp.90 ribu. Untung kaus isu hasilkan Rp.15 ribu. Jika kaus custom lebih banyak yakni Rp.25- 30 ribu. Omzet sampai Rp.1,5 juta- 2 juta perhari. Profitnya kalau sudah dipotong oprasional dan bahan jadi Rp.300 ribu- 500 ribu. Omzet perbulan mencapai Rp.7,8- 13 juta.

Membuat Brownies Sayuran Bebas Mengasuh Anak

Profil Pengusaha Ana Risnawati


 
Terinspirasi kisah- kisah sukses pengusaha. Wanita asal Yogyakarta bernama Ana Risnawati, kini adalah seorang pengusaha. Meskipun masih sekala kecil usahanya lumayan loh. Inspirasi oleh acara televisi yang sempat ngehits Bosan Menjadi Pegawai, dalam satu acara televisi, hingga dia memutuskan resign kerja.

Karis reporter salah satu radio swasta ditinggalkan. Semua demi mengejar membuka usaha sendiri. Dia lantas menggeluti keahliannya. Ana memang jago membuat aneka brownies. Mangkanya dia memilih di bisnis brownies kukus, tetapi dia butuh sekedar brownies.

Kan udah banyak orang bisa membuat brownies. Ide datang. Wanita 25 tahun ini kemudian membuat aneka brownies kukus sayuran. Semua berawal karena pekerjaan dan tugasnya menjadi ibu rumah tangga. Susah buat mengatur waktu karena reporter sering pergi ke luar. Dunia reporter itu tidak mengenal waktu luang.

Membuat brownies kukus sayuran. Lebih sehat buat keluarga Ana. Tidak ada salahnya jika dia mencoba menjual ke umum. "Masa itu saya putuskan berhenti dari dunia jurnalis," Ana tegas. Usaha kemudian dia rencanakan bagaimana menjual brownies kukus sayuran.

Bisnis sehat


Warga Madelan, Desa Sumberagung, Bantul, mengatakan putra pertamanya tuh tidak suka sayuran. Inilah cara dia mengatasi hal tersebut. Anak- anak memang lebih suka kue, nuget, sosis, padahal sayuran sangat baik buat pertumbuhan mereka.

Bisnis Ana cepat mendapatkan tanggapan positif. Cara marketing Ana sederhana kok. Cukup lewat mereka orang terdekat, keluarga, teman, dan menyebar. Ia menjadikan mereka konsumen awal. Lantas ditambah aneka iklan internet mendukung bisnis Ana.

Ana jelaskan perbedaan brownies kukus coklat dan sayuran. Cara pembuatan berbeda: Lapisan adonan dia buat bukannya coklat tetapi sayuran. Banyak varian sayuran dia buat seperti jagung, wortel, selada, brokoli, dan tomat. Perloyang nanti dijual Rp.20 ribu, untung diperoleh perloyang sampai 20% atau Rp.4000.

Dalam satu bulan dia menyebutkan. Sekarang pesanan mencapai sampai 100 loyang. Namun, jika ramai- ramainya nih, bsa mencapai 250 loyang. Melalui internet pemesan juga datang dari luar kota juga. Pesanan terbanyak masih datang dari dalam Yogyakarta. Banyak teman juga mendukung Ana mengembangkan ini.

Pemesanan buat aneka acara diminta teman. Brownies kukus sayuran miliknya lantas diberi nama Kue Brownies Brosaku. Pembuatan mudah cuma butuh ekstra kreatifitas. Karena ya namanya brownies masih orang banyak kenal mengandung banyak coklat. 

Orang banyak tidak menyangka kalau kue mereka makan berbahan sayuran. Ini bukti nyata bahwa Ana telah sukses mengembangkan kemungkinan. Ketika bisnis kue brownies tengah naik daun, banyak pesaing tetapi dia mantap mengambil celah. Pembeli suka karena tidak cuma coklat melainkan adanya lapisan sayuran.

Rasa sayurnya tidak kentara. "Pokoknya enak," tutur dia kapada pewarta Vivanews.

Bisnis brownies sayur miliknya makin menggeliat. Usaha kecil- kecilan tersebut sudah mempekerjakan empat orang. Dia sekarang juga menjual perkotak berat 500gr. Segitu dijual Rp.25 ribu tergantung juga topingnya. Omzet kotor dua juta rupiah perbulan, kalau ramai ya mencapai Rp.6 jutaan.

Pengacara Nyambi Menanam Jagung di Kampung

Profil Pengusaha Roder Nababan 



Siapa sangka pengacara kondang asal Tapanuli Utara, kelahiran 31 Juli 1970, ini selain bekerja juga mau berbecek ria. Dia ternyata punya usaha bidang agro loh. Pengacara bernama Roder Nababan menceritakan kisah dia dan persawahan dia miliki kepada JPNN.com

Suatu waktu dia akan ke Jakarta menangani kasus. Di kampung, Desa Paniaran, Siborong- borong, punya kurang lebih 40 hektar. Tanah warisan sudah ratusan tahun dibiarkan begitu saja. Tidak dikelola menjadi lahan produktif. Kemudian 15 hektar bagiannya ia tanami jagung, sisanya ubi Jepang dan cabe.

Ia pun bercerita bagaimana bisnisnya untung. Lumayan satu hektar lahan dia hasilkan Rp.15 juta. Itu sudah termasuk potongan buat biaya pemeliharaan dan tenaga. Roder hitung kasar saja Rp.15 dikali 15 hektar sudah dapat Rp.225 juta.

Jika dihitung jagung saja, masa panen kan tiap 4 bulan, jika dihitunga perbulang untung bersih Rp.56, 25 juta. Dia juga membentuk komunitas petani jagung. Namanya Perhimpunan Tani Akal Sehat. Kok nama perhimpunannya lucu. Ternyata ada alasan kenapa pakai kata Akal Sehat.

"...karena selama ini para warga di sana tidak menggunakan akal sehat," selorohnya. Pasalnya tanah begitu luas dibiarkan tidak produktif. Lahan bagus dibiarkan begitu saja padahal bisa berguna.

Ia ngoto tidak ada lahan tidur. Kalau ada ya kalian pemilik tanah yang tidur. Kalian tidur karena tidak mau merubah tanah menjadi lahan produktif. Ide awal menjadi petani jagu dari mana sih? Ternyata tidak serta- merta Roder menjadi petani jagung.

Iseng dia tanya kepada temannya, Wakil Ketua DPRD, Dairin Dahlan Sianturi. Iseng sih, sekedar bentuk bercandaan, kan emang tuh gosip bahwa pejabat nyari- nyari proyek dari Bupati. Sang teman kemudian mengajak Roder berkeliling tempat tinggalnya.

Dahlan mantap berkata tidak meminta proyek. Ia sadar akan tugasnya sebagai wakil rakyat. Meminta satu proyek berarti merusak kerajanya sebagai anggota dewan. Sambil jalan menelusuri lahan, dia mengajak Roder datang ke lahan kebun miliknya. Ada 12 hektar lahan sudah ditanami jagung yang siap dipanen.

Inilah "proyek" pribadi milik Dahlan. Dengan bangga sang Wakil Ketua DPRD menunjukan hasil kerja kerasnya. Perbulan bisa menghasilkan Rp.45 juta. "Kemudian saya ingin menirunya," ujar Roder, yang adalah pengacara handal spesialis kasus sengketa Pilkada.

Untung uang bukanlah hal dibesarkan. Dia justru mengambil segi positif lain. Selain bentuk pemanfaatan biar tidak mubazir. Roder juga merasa nyaman ketika berkunjung ke kebun. Energi alam merasuk ke dalam membuat dia hilang penat. Bahkan menyusun gugatan di kebun, dia bisa menghemat waktu setengah hari.

Lebih cepat selesai pekerjaan ketika di luar. Kalau di Jakarta kerjaan bisa seharian baru selesai. Kadang dia malah molor sampai sepekan- dua pekan tinggal di Jakarta.

Juragan Beras Pasar Induk Paling Terkenal Nellys Jaya

Biografi Pengusaha Nellys Soekidi 


 
Terlahir sebagai anak pasangan petani. Hidup Nellys Soekidi tidak jauh dari beras. Namun kesuksesan dia sekarang bukan tanpa perjuangan. Pria yang dikenal sebagai juragan beras. Sekarang memang memiliki 5 kios dan satu gudang penyimpanan di PBIC, merupakan salah satu juragan beras besar asal Pasar Cipinang.

Lima kiosnya menduduki kawasan Pasar Induk Cipinang. Delapan toko lain juga tersebar di sekitaran Kota Jakarta alias Jabodetabek. Ada di Pondok Ungu, Bintara, Kalimalang, Cilodong, Depok, dan Cengkareng. Omzetnya mencapai Rp.500 juta perhari atau Rp.15 miliaran perbulan.

Labar bersih sendiri dia tidak mau menyebut. Tetapi cukuplah kata Nellys, jualan beras itu punya untung sedikit tetapi awet.

Siapa sangka dia cuma menamatkan bangku SMA di Ngawi, Jawa Timur. Kondisi ekonomi keluarga Nellys memang sangat kekurangan. "Saya tamat SMA tahun 1990," tutur dia. Langsung pergi merantau ke Jakarta tanpa bekal. Mengadu nasib layaknya nasib perantau lainnya. Ia seolah terjebak hanya mampu bekerja asal- asalan.

Tanpa memiliki keahlian mau jadi apa di Jakarta. Nasib membawa Nellys kerja menjadi buruh proyek. Ya kalau ada proyek bangunan, jika tidak ada nasib Nellys digantungkan lewat mengamen. Lorong jalan, terminal becek, dan panasnya bus- bus dalam kota, membawa Nellys melihat masa depan samar.

Kalau ngamen dia mangkal di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Jika ngamen, dia tidak pernah melakukan hal melanggar aturan, kemudian suatu hari ketika mengamen dia bertemu seorang teman. Dia teman dari kampung Nellys.

Ternyata dia sudah bekerja di toko beras kawasan PIBC. Inilah awal perkenalan Nellys dengan bisnis juragan beras. Oleh temannya, ditawari kerja menjaga toko beras milik si boss. Waktu itu Nellys ingat tahun 1992 dia memulai semua perjalanan karir.

Bekerja di toko, Nellys diserahi bagian pembukuan lantaran otaknya encer. Dia ditugaskan mencatat nama dan jumlah barang keluar- masuk toko. Meskipun bekerja di tempat penting toh gajinya tetap ala kadarnya. Seorang sang boss mengejek Nellys lantaran cuma pengamen dan lulusan menengah atas.

Meskipun begitu dia tetap bersyukur. Segala upaya dilakukan agar tetap makan. Disisi lain tetap tidak lupa dia menabung. Uang pas- pasan apa yang bisa didapat Nellys. Ternyata banyak, yakni pengalaman bekerja berjualan beras, termasuk tentang pergudangan serta urusan pengeluaran atau pemasukan.

Dia mengembangkan kemampuan akuntansi atau pembukuan. Natural Nellys mengamati cara kerja di toko beras. Sifat supel membuat dia akrab dengan penyumplai beras, dari Cirebon dan Garut. Rasaya syukur dia coba terus panjatkan. Tidak punya uang banyak tetapi ketemu banyak kenalan. 

"Saya selalu berusaha jujur," ujarnya.

Sifat baik Nellys ternyata diamati rekan kerja atasannya. Para pemasok beras menilai sifat Nellys sangat menarik. Tahun 1993, dia memutuskan cabut dari pekerjaan, nekat dia mencoba peruntungan dari bisnis beras. Bekal dia cuma ilmu akuntansi seadaanya, sisanya adalah relasi dengan para pemasok beras.

Bisnis nekat


Bermodal Rp.3 juta dia mulai jualan di los Pasar Induk. Itu uang hasil nabung selama bekerja. Walaupun ia modal cekak tetapi dukungan relasi kuat. Kunci sukses juragan bera Nellys cukup selalu berlaku jujur, dan ditambah ketekunan mengerjakan usaha. Niscaya usaha kamu akan kayak usaha Nellys Jaya, toko miliknya.

Hubungan baik selalu dijaga dia, dengan pemasok asal Pula Jawa, dari Jawa Barat, Cibinong, dan Garut, dia rangkul. Siap membantu mereka buat menyalurkan beras mereka dengan harga baik. Uang modal Rp.3 juta cuma dapat 1 ton saja.

Beruntung karena memiliki relasi kuat. Dipercaya, mereka pemasok bahkan rela menggunakan sistem titip atau konsinyasi. Total berang dititip makin lama semakin besar. Bahkan sampai 15 ton hingga 20 ton perhari. Nellys akan membayar ketika beras sudah habis terjual. Ia dikasih waktu seminggu buat habiskan itu.

Kemampuan kesupelan Nellys terbawa dalam berbisnis. Mampu menjual barang mudah hingga tak jarang beras stok habis sehari, paling lama ya dua hari. Uang penjualan tidak mampir. Dia langsung bayarkan ke pemasok beras. Pembayaran cepat sampai pemasok semakin yakin bahwa dia orang yang tepat.

Tepat buat diajak kerja sama. Usaha jualan beras Nellys semakin berjaya. Penjualan semakin meningkat pesat saja. Uang untung diperolah ditabung. Tidak seperti juragan beras lain. Begitu sukses langsung lah berubah gaya hidup. Ia memilih bersabar fokus mengerjakan bisnis.

Ketika teman pedagang membeli mobil baru. Nellys memilih mengembangkan usaha. Pokoknya begitu ada untung sisanya buat ditabung. Uang tabungan apalagi kalau bukan buat nambah usaha. Cukup empat sampai lima tahun sudah dia menghasilkan kios khusus di Pasar Induk.

Harganya saja Rp.160 juta karena posisinya strategis. Dia juga mengajak orang bekerja buatnya. Dengan berbisnis menambah lapangan pekerjaan. Ia punya 34 orang karyawan. Nellys banyak menampung mereka yang masih saudara.

Usaha sukses Nellys sempatkan melanjutkan pendidikan. Dia beranggapan bahwa pendidikan merupakan juga hal penting. Mengembangkan hidup Nellys tidak selalu uang. Ia ambil jurusan manajemen. Disaat ia kuliah di perguruan tinggi, dia sudah punya istri dan dua anak.

Bisnis belajar


Bisnis tidak melulu uang. Ada pembelajaran kuat meningkatkan usaha kita. Uang banyak tanpa pengetahuan tidak cukup. Mangkanya dia memilih kuliah selaras dalam berbisnis. Semakin jeli melihat peluang bisnis kedepan. Dia menemukan itu ketika kembali ke Ngawi, Jawa Timur, menikmati hamparan persawahan.

Ide bisnis muncul. Dan dia laksanakan di Kota Ngawi. Nellys membangun satu pabrik penggilingan padi. Tahun 2008 dia mendirikan pabrik penggilingan bermuatan 25 ton perhari. Lantas bisnis selanjutnya dia membuka bisnis pusat kebugaran. Mungkin terdengar nyeleneh tetapi dia lakukan bukan tanpa alasan.

Dia suka kebugaran atau fitness. Sela berbisnis dia juga aktif mengikuti aneka organisasi. Sudah 19 tahun bisnis berjalan semakin berkibar. Nilai aset Nellys setara Rp.9 miliaran. Uang Rp.3 miliar tidak ragu ia keluarkan buat membangun bisnis pabrik penggilingan padi. Pabrik itu berdiri di lahan seluas 4000 meter persegi.

Penggilingan beras dilengkapi juga penyimpanan beras. Sudah jadi pemasok besar, tetapi dia tidak mau buat membeli gabah dari petani. Pasalnya dia tidak mau membunuh penggilingan kecil. Lantas dia mulai mengajak mereka, penggilingan kecil, menjadi mitra bisnis.

Ia justru membeli dari penggilingan kecil juga. Dari penggilingan mereka dimasukan ke penyimpanan dia. Oleh Nellys diproses dengan mesin kembali. Agar meningkatkan kualitas beras buat dikirim ke Jakarta. Ia juga mengajak petani bekerja bersama. Kemudian dia akan mengembangkan kapasitas penggilang tersebut.

Bisnis pusat kebugaran di Pondok Kopi, Bekasi Barat, juga jalan. Dia menjaring 400- 500 orang anggota fitness. Ia merambah bisnis suplemen, berbagai macam makanan sehat, mulai dari jualan beras merah, susu kedelai, lain- lain.

Kesibukan lain, dia menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (DPD Perpadi DKI Jakarta). Sudah menjabat sejak 2009, juga menjabat Sekretaris Koperasi Pedagang Pasar Induk Cipinang Jakarta. Jabatan itu digunakan untuk memperbaiki keadaan Pasar Induk.

Ia mencontohkan cap negatif pedagang Pasar Induk. Sering dianggap apalah- apalah. Disini tuga Nellys membuktikan mereka tidak begitu. Salah satunya dengan kegiatan penggalangan bantuan. Membantu orang banyak termasuk ketika gempa Padang. Mereka menggalang empat kontainer berisis beras buat bantuan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba