Kisah Haru Pengusaha Roti Bakar Pantang Menyerah

Kisah Pengusaha Menyentuh Hati 



Terkadang kita suka maksa ke mas penjual. Kadang minta cepat dilayani padahal si penjual sudah bekerja. Kita mungkin harus sedikit bersabar. Ini bukanlah kisah pengusaha sukses. Hanya sebuah kisah yang diliat dari sebuah foto viral sosial media.

Pengguna Facebook bernama Bobby Lamanepa. Mengabadikan sebuah kejadian super langka. Dimana dia bertemu seorang penjual roti bakar. Siapa sangka dibalik diam, sibuk sendirinya penjual itu, ternyata ada alasan karena segala kekurangan pelayanan terhadap pembeli.

Ternyata penjual tersebut memiliki keterbatasan. Penjual tersebut tunarungu dan tunawicara. Cara unik dia lakukan agar tetap melayani. Karena dia sadar bahwa pelanggan terkadang komplain. Menurut Bobby, dia memiliki keterbatasan, dan tetap semangat melayani pesanan yang lumayan banyak.

Agar Bobby bersabar ditulis sebuah tulisan di kaca. Bunyinya "mohon maaf, saya penyandang tunarungu dan tunawicara. Kalau anda memesan roti, silahkan tulis dibuku saja, ya. Terima kasih atas kunjungan anda dan saya mohon maaf kalau pelayanan saya kurang di hati pembeli sekalian. Terima kasih."

Samangat berjualan inilah menjadi kekaguman buat Bobby. Perasaan jengkel menunggu sirna karena sang penjual penuh kejujuran akan kekuranganya. Bahkan seharusnya tanpa harus meminta maaf. Penjual roti bakar tunarungu tersebut tetap meminta maaf.

Postingan Bobby sudah dishare lebih dari 900 kali dan dibagikan lebih dari 900 kali. 

Sumber: citizen6.liputan6.com

Cara Mengajari Wirausaha Anak Romantic Cotton

Profil Pengusaha Monic Subiakto 



Monica Subiakto berbisnis bermula keinginan sang anak. Dia, Amanda, ingin membuka usaha sendiri, dan ia mencoba memfasilitasi hal tersebut. Bisnis mereka berawal sederhana kok. Monica mulau jualan kaus- kaus asal Bangkok, Thailand. Dimana ia mendapatkan kaos tersebut dari seorang teman.

Respon ternyata cukup bagus, hingga Monica memutuskan membuat produk sendiri. Inilah cikal- bakal usaha yang lantas dia namai Romantic Cotton. Monic yang gencar mengikuti aneka pameran telah mampu meraup omzet sampai ratusan juta.

Uang Rp.3 juta digunakan membeli barang. Berdagang selama enam bulan uang berlipat. Lantas memasuki 2008 semakin besar, hingga Monica memutuskan membuka pabrik garmen sendiri, tepatnya mulai bulan Juli 2008. 

Bisnis tersebut didukung latar belakang karir. Ia pernah bekerja di Danar Hadi dan Matahari Department Store selama puluhan tahun. Karena masih bekerja menjadi karyawan. Ada koneksifitas ke pedagangan konveksi. Mangkanya dia kenal banyak pengusaha konveksi yang tersebar di Jakarta.

Monica memanfaatkan sistem maklun atau cut, make & trim (CMT). Dimana pengusaha konveksi tinggal mencontoh barang sample Monica buat. Selanjutnya pengusaha konveksi akan meniru dengan berbagai ukuran standar. Monic tidak juga mendesain sendiri produk bikinannya.

Terkadang merupakan contoh barang hasil buruan di luar negeri. Terkadang sih dia juga mendapatkan ide dadakan jika tidak puas akan barang buruan. Dia lantas merubah bahan. Mengaplikasikan beberapa hal yang berbeda. Modelnya juga tidak jarang dirubah pengusaha ini, yang juga fans desainer dunia Laura Ashley.

Kalau beda dari produk lainnya. Monic memilih cuma beberapa warna, ada dusty pink, mint green, dan juga mustard yellow. Warna lembut tersebut masih belum digunakan desainer asal Indonesia.

Mantan broker


Ternyata nih, Monic juga dikenal sebagai broker, ketika sang anak minta dibikinkan usaha. Monic sempat gugup. Lantaran Amanda masih duduk di bangku SMP. Melihat keinginan wirausaha sang anak yang begitu tinggi. Ia kemudian mengajak Amanda berkolaborasi. Anak Monic sejak remaja udah "ogah" kerja sama orang!

"Mungkin dia tidak nyaman melihat bapak- ibunya bekerja," jelas Monic. Karena ya namanya pegawai bisa berangkat pagi pulang larut malam.

Amanda sendiri sejak kelas 3 SD sudah jualan pernak- pernik. Dukungan Monic sebatas mengarahkan dan mengawasi. Permintaan lugu anaknya, ternyata didukung pengalaman dia sendiri, mulai dari jualan stiker, akesoris rambut, kemudian perlatan sekolah, yang Amanda beli secara grosir buat dijual lagi.

Monic mengakui Amanda lebih jago. Dia mampu merayu teman- temannya yang awalnya tidak mau. Dia mampu membuat konsep beli buat hadiah adik, atau teman yang ditaksir. 

Untuk awal berbisnis bersama mereka tidak mamakai uang besar. Pasalnya dia khawatir Amanda akan bosa ditengah jalan dengan bisnis itu. Uang sebesar Rp.3 juta itu didapat dari kakak dan pinjam asisten rumah tangga. Kenapa pinjam ke pembantu rumah tangga. Ternyata ada alasan khusus bukan semata butuh uang.

Ada tantangan bagaimana Monic harus kembalikan. Usaha mereka nih harus sukses. Uang harus sudah bisa mereka kembalikan kurang dari seminggu -sesuai dijanjikan Monic. "Saya ingin membuktikan, saya bisa berhasil," tegas Monic. Cara jualan Monic standar yakni beli dari kawan barang impor buat dijual kembali.

Waktu cuma seminggu uang tersebut menjadi Rp.6 juta. Monic lantas menepati janjinya mengembalikan uang ke asisten rumah tangga. Dipikir bisnis mereka ternyata menjanjikan juga. Monic merasa tertantang menambah modal sampai Rp.9,5 juta, dimana dia dapat pinjam kepada sebuah bank asing.

Tiga tahun hutang dicicil Rp.425 ribu perbulan. "Tanggung jawab membayar cicilan, saya serahkan kepada Amanda," ia menambahkan. Tujuannya agar Amanda sadar agar tidak bermain- main dengan bisnis. Bisnis mereka menyasar produk wanita berbahan dasar katun, katun lokal, impor Jepang, Korea, dan India.

Ada alasan tertentu kenapa Monic fokus di katun. Kain ini cocok buat Indonesia yang beriklim tropis. Ia menambahkan bahwa terjangkau kalangan menengah. Harga dikisaran Rp.175.000- 700.000. Eksperimen terhadap katun dilakukan Monic lewat tabrak warna, tidak monoton polkadot, bunga, atau garis- garis.

Di sehalai pakaian akan ada variasi warna. Dia terinspirasi pakaian bayi Amanda. Produk bernama Oliliy itu, warnanya lembut, dimana motif bunganya tabak lari. Empat warna bahkan dijadikan satu dalam satu helai pakaian. "Tapi, kok, tetap lucu," selorohnya.

Bisnis katun kuat


Warna tidak ngejreng justru menjadi kalem. Laura Ashley memberikan banyak inspirasi. Desainer yang dikenal memulai dari bisnis kain perca. Masalah utama Monic awal adalah warna itu sendiri. Tabrakan warna membuat satu pakaian butuh banyak kain. Tetap untung loh tak menghabiskan biaya produksi banyak kok.

Kemudian dia memakai uang Rp.12 juta. Uang tersebut dipakai buat memproduksi 50 helai pakaian. Ia serahkan pembuatan ditangan penjahit pilihan. Lahirlah bisnis bernama Romantic Cotton sejak Juli 2011 resmi. Branding kemudian menjadi fokus Monic dengan pengalaman belasan tahun di bisnis dagang.

Ia mencetak katalog. Meski uang terbatas, ia juga membuat paperbag. Koleksi pertama dipajang di sebuah bazar. Macam komentar diluncurkan masyarakat. Mulai yang menganggapnya baju tidur. Adapula yang kaget karena harga mahal buat bahan katun. Meski begitu, toh, jualan Monic habis dibeli masyarakat yang tertarik.

Penjualan berikutnya lewat bazar di sekitar rumah. Koleksi habis. Tinggal marketing mulut ke mulut yang berkembang di masyarakat. Sukses meski sekala masih kecil menaikan percaya diri Monic dan Amanda.

Bisnis mereka makin serius. Uang untung dijadikan modal kembali. Mangkanya rumah mereka di kawasan Kemang Pratam tertumpuk banyak kain katun. Memang sengaja disebar Monic. Warna- warni kain katun akan diseleksi lewat insting dipadu padankan di ruang tamu rumah mereka.

Target berikutnya promosi adalah Inacraft 2009, di Jakarta Convention Center (JCC), tepat pada April 2009 silam. Hasil lebih mengejutkan didapatkan Monic. "Stannya hampir roboh," kenang dia. Kan waktu itu dibantu Amanda dan dua asisten, hasilnya mengejutkan karena omzet nonjok sampai 150 juta!

Meskipun mulai berjalan baik. Pernah nih suatu ketika ada kesalahan warna. Meskipun sepele Monic tetap tidak suka. Dimana penjahit salah memasang warna resleting. Backpack warna kalem kok resletingnya warna hitam. Langsung deh dia kirim semuanya ke panti asuhan -dimana dia biasa juga memberi donasi.

Pokoknya Monic bisa dibilang perfeksionis soal kualitas. Mangkanya kerja sama dengan penjahit benar- benar dia perhatikan. Tidak boleh ada kesalahan. Kerja sama Monic sudah tersebar di Jakarta, Solo, Yogya, sampai Bali. Ia tinggal kirim desain gambar dan ukuran. Kalau di Jakarta dia awasi langsung pekerjaannya.

Jika ada masalah juga bisa menjadi ide bisnis. Contohnya suatu ketika mendapati kiriman kain perca yang tidak sesuai. Ukurannya terlalu kecil yakni 10x20cm dan 3x2cm. Waranya bagus, lucu- lucu, bahannya juga katun berkualitas. Dibuang sayang, akhirnya Monic memutar otak bagaimana biar tidak dia buang.

Dia pergi keliling mencari orang. Siapa saja yang bisa bikin aneka aksesoris, mulai kalung, cincin, bando, jepit, bros, tas, sampai taplak pun jadi. Ketika ada pembeli batal beli pakaian karena tidak ada ukuran. Jadi memilih memberi aksesoris buatan Romantic Cotton.

Sukses mereka memang tidak mudah. Tetapi dilalui karena memiliki passion. Sukses Monic selanjutnya apa yah. Sekembali dari ibadah Haji, Monic kepikiran membuat koleksi pakaian hijab. Tetapi tidak mau gegabah. Perlahan tetapi pasti akan terwujud. Dari 4 potong per- desain, jadi selusin, dua lusin dan terus.

Monic selalu memilih buat berkutat langsung. Selera kain katun berkualitas, kemampuan membaca selera pasar, dan tidak malu menjadi pengsuaha. Tidak malu buat keluar masuk pasar mencari bahan bagus. Cara penjualan juga unik awalnya dimana pelanggan meminta Monic mengirim banyak ke rumah buat dipilih.

Semua layanan terbaik diberikan Monic. Tujuannya adalah membangun kepercayaan kepada brand baru mereka Romantic Cotton.

Tidak Betah Jadi Pramugari Cantik Memilih Bisnis

Profil Pengusaha Sara Febriana 



Jenuh bekerja di perusahaan penerbangan. Sara Febriana tidak mau lagi jadi pramugari. Gadis cantik asal Samarinda ini, lantas membuka bisnis butik sendiri. Mahasiswi Universitas Balikpapan, lulusan 2011, mengaku sudah lama menyimpan cita- cita jadi pengusaha.

Beberapa usaha ternyata pernah digeluti. Sebelum menjadi pramugari, dia pernah membuka usaha event organizer bernama Quinn & Co. Juga pernah coba berbisnis batu bara dan properti di 2011 sampai 2013 silam. Hingga dia memilih berbisnis pakaian pada jenjang berikutnya.

Dunia fasion searah dengan dirinya -sebagai seorang wanita kota. Selera Sara memang diuji lewat usaha jualan aneka pakaian fashionable. "Saya ingin jadi pengusaha," tegas Sara. Kebetulan dia juga memiliki minat tinggi akan dunia fasion wanita.

Kerana sudah punya pengalaman bisnis panjang. Dia langsung buka tempat di Komplek Bumi Sempaja, Jalan PM Noor, Kelurahan Sempaja, Kecamatan Samarinda Utara, Samarinda, Kaltim. Dan semua karena rasa jenuhnya bekerja menjadi pegawai. "Sudah jenuh diatur perusahaan," jelas Sara.

Wanita penghobi traveling ini, juga bermimpi akan kebebasan waktu. Karena berbisnis fasion adalah satu passionnya maka semua enak. Selain berbisnis fasion dia juga menyasar bisnis dekorasi. Bisnis bernama S.A.I.A Boutique menyediakan pula penyewaan dan penjualan kostum, kebaya, dan gaun pesta.

Kalau dilihat Sara tidak main- main soal bisnis. Bayangkan dia juga menyediakan pembuatan gaun custom. Mulai gaun pengantin, kebaya, kaftan, dan baju kasual ready to wear. Harga mulai Rp.200 ribu buat baju kasual hingga Rp.6 jutaan untuk dress full payet kristal swarovski.

Biodata pengusaha


Nama : Sarah Febriani
Lahir : Samarinda, 25 Februari 1988
Orangtua : H. Imansyah Kadrie - H. Djunaidah
Alamat : Ruko Komplek Bumi Sempaja Jalan PM. Noor, Samarinda
Pendidikan : Sarjana Ekonomi Universitas Balikpapan tahun 2011
Hobby : Traveling
Bisnis :
- Pramugari Maskapai Garuda Indonesia tahun 2006-2009
- Boutique SAIA (Sewing House and Dress Maker)
- Even Organizer Quinn & Co : Party Planner and Decoration, Designer, Photoshot dan Bridal. (bud)

Kisah Penjual Tahu Bulat Bisnis Lima Ratusan

Profil Prospek Tahu Bulat


 
Suara tahu bulat digoreng dadakan... lima ratusan... bergema. Dibalik mobil bak terbuka itu, tampak lah seorang pria tengah asik menggoreng. Pria tersebut bernama Ismail, 21 tahun, bertugas menggoreng, lalu menyajikan tahu bulat digoreng dadakan tersebut.

Didepan mobil pickup, ada sopir tentunya, namanya Aditya Farid, umurnya 18 tahun fokus mengendalikan laju mobil. Suara keras bergema disepanjang mereka berjalan. Megaphone aktif mengumandangkan ikonik suara panggilan tahu bulat digoreng dadakan.

Penjual tahu bulat kerap terlihat di sudut jalan Ibu Kota. Mereka berdua tengah bekerja. Dua anak muda ini memulai dari kawasan Kosambi, Jakarta Barat, dimulai pukul 07.00. Keduanya tidak segan mengitari jalan baru mereka lalui.

Prospek tahu bulat


Satu hari penuh mereka menjajakan tahu bulat. Setelah diwawancarai Viva, ternyata nih, mereka berdua itu karyawan seorang pengusaha. Tugas mereka berkeliling menjajakan tahu dari Kosambi, lalu Joglo hingga ke kawasan Ciledug. Rute dibuat segampang mungkin berputar kembali lagi ke awal.

Target penjualan 3.000 buah tahu dalam sehari. Harganya ya lima ratusan seperti trademark mereka. Apa mereka rugi jualan pakai mobil. Keduanya mengaku menghabiskan uang Rp.50 ribu seharian. Dan mereka dapat jatah Rp.100 dari sang pengusaha. Dimana nanti diambil rugi dari keuntungan dia dapatkan.

Sementara Adit dan Ismail bisa dapat Rp.350 ribu. Mereka bisa kantongi uang tersebut seharian saja -jika mencapai target. "Kotor enggak termasuk uang makan," paparnya. Kesimpulan sederhana omzetnya kan kalau 3000 dikali Rp.500 sudah Rp.1,5 juta, dipotong Rp.100 ribu dan gaji keduanya masing- masing itu.

Untung didapat si pengusaha ya sampai Rp.700 ribu perhari. Uang makan tidak ditanggu sang pemilik tahu bulat dan mobil. Pembeli sendiri mulai pengendara motor atau mobil, mereka akan menstop mobil ini buat sekedar beli tahu bulat. Kadang kalau masuk perumahan, ada ibu- ibu, anak kecil, beli tahu bulat juga.

Faktor cuaca kadang menambah syahdu. Bisnis tahu bulat panas laris manis karena itu. Biasanya selepas hujan turun maka pembeli akan menyerbu tahu bulat. Kalau hujan datang memang menjadi titik larisnya tahu bulat digoreng dadakan. Adit bahkan berdoa kalau bisa hujan terus deh biar tahu bulat habis 3.000 buah.

Pelopor Bisnis Sambal Kemasan Sendiri ANT

Profil Pengusaha Hadianto 



Pengusaha veteran itu bernama Hadianto. Pria asal Belitung, Provinsi Bangka Belitung, yang sudah lama menjalankan bisnis sambal. Bahkan sebelum bisnis sambal ngetren seperti sekarang. Usaha sambal buatan Hadianto sudah pasti terjamin. Sudah 20 tahun dia melalang buana menjajakan sambal terasi ANT.

Pria asal Desa Air Saga, yang memulai bisnis lebih lama. Sebelum orang sadar bahwa rebon bisa dijadikan bahan mengejutkan. Sebelum orang Belitung sadar bahwa terasi itu enak. Sudah tidak terhitung berapa banyak orang merasa tertanggu akan bau terasi. Sampai akhirnya mereka mencicipi lezatnya sambal terasi itu.

Hedianto memulai bermodal televisi. Dijualnya televisi menghasilkan Rp.300 ribu. Itulah modal awal dia berjualan sambal. Maklum kedua orang tua Hedianto hanya nelayan dan pedagang ikan asin.

Orang tua Hedianto juga membuat terasi. Berbahan udang rebon, yang diambil sendiri dari lautan. Alhasil mereka cuma menjual beberapa kali. Dimana ternyata banyak tengkulak pula menguasai. Mangkanya nih berjualan terasi bukan solusi bisnis. "Kondisi ini saya perhatikan hingga dewasa," ungkapnya.

Dia merasakan ada prospek. Namun bagaimana cara agar terhindar tengkulak. Hedianto pengen buat terasi sendiri. Alasan karena merupakan bumbu masak utama. Alasan lainnya adalah karena sudah biasa bergelut di laut. "...saya tertarik," Hedianto begitu semangat.

Bisnis ikonik


Uang Rp.300 ribu buat membeli alat dan bahan terasi. Ia mulai membuat terasi sendiri. Dan masalah pertama muncul yakni diusir warga. Karena kebauan mereka mengusir Hedianto. Untuk menghindari hal serupa ia memindahkan tempat produksi.

Hanya berbekal terasi kemudian menjadi sambal. Usaha dijalankan sejak 1996 sudah dikenal warga. Mulai baunya yang menggoda. Serta kelezatannya yang teruji bertahan 20 tahun. Pria 46 tahun ini selalu berani membuktikan analasisanya benar. Dibuktikan dengan mengangkat 3 orang karyawan pembuat sambal.

Semenjak majunya pariwisata Belitung. Berdampak positif pula buat bisnis sambal ANT. Jika 15 tahunan sudah bisnis sering tersendat. Akhir 2015 ini bisnis sambal milik Hedianto kian moncer. Sambal ANT menjadi ikonik pariwisata ketika orang berkunjung ke sana.

Dia juga menggaet Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tujuan agar menjadikan sambal ANT tak sekedar sambal biasa. Prinsip harus memenuhi standar kesehatan dan bahan baku berkualitas.

Bisnis sambal ANT lantas dikembangkan ke kemasan botol, sambal terasi siap saji, yang mana dihargai Rp.11 ribuan. Kemudian ada terasi berbungkus tikar, isinya terasi setengah jadi, jadi harga per- tikarnya cuma Rp.9000. Penjualan sudah melalui galeri sepanjang Tanjung Pandan.

Terasi ANT sudah berjejer di toko- toko penjuru Belitung. Terasi 20 tahun tersebut dikenal memiliki rasa nikmat. Selain nikmat sudah terbukti sehat berkat verifikasi. Berasal dari udang rebon pilihan yang sudah difermentasi, bukan rebon busuk.

"Resep fermentasi ini saya yang menemukan," unggahnya.

Inilah kisah Raja Terasi dengan omzet Rp.75 juta- Rp.80 juta, dimana dia mampu menjual 1,5 ton. Dia bertekat menjadi pemain dominan di Belitung. Dia akan selalu meningkatkan kualitas terasi ANT. Harapan terbesar menguasai Belitung dimana 6 ton terasi luar masuk tiap bulan.

Ia dikenal sebagai pecetus fermentasi udang. Untuk rebon didatangkan dari Jawa dan Sumatera, seperti dari Lampung. Karena di daerah Belitung sudah tidak mencukupi. Produksi 100kg terasi mentah butuh setidaknya 120kg udang rebon. Beda jika terasi identik dengan udang busuk maka terasi Belitung tidak ada.

Bisa dibilang jauh dari mikroba berbahaya buat pencernaan. Berkat cita rasa otentik, setiap hari bisa capai 1000 pesanan botol terasi kering, belum basah. Agar bisnis makin berkembang dia mengajutkan kredit ke Bank Mandiri senilai Rp.25 juta dengan bunga 9 persen per- tahun, dari program Kredit Usaha Rakyat.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba