Kisah Penjual Tahu Bulat Bisnis Lima Ratusan

Profil Prospek Tahu Bulat


 
Suara tahu bulat digoreng dadakan... lima ratusan... bergema. Dibalik mobil bak terbuka itu, tampak lah seorang pria tengah asik menggoreng. Pria tersebut bernama Ismail, 21 tahun, bertugas menggoreng, lalu menyajikan tahu bulat digoreng dadakan tersebut.

Didepan mobil pickup, ada sopir tentunya, namanya Aditya Farid, umurnya 18 tahun fokus mengendalikan laju mobil. Suara keras bergema disepanjang mereka berjalan. Megaphone aktif mengumandangkan ikonik suara panggilan tahu bulat digoreng dadakan.

Penjual tahu bulat kerap terlihat di sudut jalan Ibu Kota. Mereka berdua tengah bekerja. Dua anak muda ini memulai dari kawasan Kosambi, Jakarta Barat, dimulai pukul 07.00. Keduanya tidak segan mengitari jalan baru mereka lalui.

Prospek tahu bulat


Satu hari penuh mereka menjajakan tahu bulat. Setelah diwawancarai Viva, ternyata nih, mereka berdua itu karyawan seorang pengusaha. Tugas mereka berkeliling menjajakan tahu dari Kosambi, lalu Joglo hingga ke kawasan Ciledug. Rute dibuat segampang mungkin berputar kembali lagi ke awal.

Target penjualan 3.000 buah tahu dalam sehari. Harganya ya lima ratusan seperti trademark mereka. Apa mereka rugi jualan pakai mobil. Keduanya mengaku menghabiskan uang Rp.50 ribu seharian. Dan mereka dapat jatah Rp.100 dari sang pengusaha. Dimana nanti diambil rugi dari keuntungan dia dapatkan.

Sementara Adit dan Ismail bisa dapat Rp.350 ribu. Mereka bisa kantongi uang tersebut seharian saja -jika mencapai target. "Kotor enggak termasuk uang makan," paparnya. Kesimpulan sederhana omzetnya kan kalau 3000 dikali Rp.500 sudah Rp.1,5 juta, dipotong Rp.100 ribu dan gaji keduanya masing- masing itu.

Untung didapat si pengusaha ya sampai Rp.700 ribu perhari. Uang makan tidak ditanggu sang pemilik tahu bulat dan mobil. Pembeli sendiri mulai pengendara motor atau mobil, mereka akan menstop mobil ini buat sekedar beli tahu bulat. Kadang kalau masuk perumahan, ada ibu- ibu, anak kecil, beli tahu bulat juga.

Faktor cuaca kadang menambah syahdu. Bisnis tahu bulat panas laris manis karena itu. Biasanya selepas hujan turun maka pembeli akan menyerbu tahu bulat. Kalau hujan datang memang menjadi titik larisnya tahu bulat digoreng dadakan. Adit bahkan berdoa kalau bisa hujan terus deh biar tahu bulat habis 3.000 buah.

Pelopor Bisnis Sambal Kemasan Sendiri ANT

Profil Pengusaha Hadianto 



Pengusaha veteran itu bernama Hadianto. Pria asal Belitung, Provinsi Bangka Belitung, yang sudah lama menjalankan bisnis sambal. Bahkan sebelum bisnis sambal ngetren seperti sekarang. Usaha sambal buatan Hadianto sudah pasti terjamin. Sudah 20 tahun dia melalang buana menjajakan sambal terasi ANT.

Pria asal Desa Air Saga, yang memulai bisnis lebih lama. Sebelum orang sadar bahwa rebon bisa dijadikan bahan mengejutkan. Sebelum orang Belitung sadar bahwa terasi itu enak. Sudah tidak terhitung berapa banyak orang merasa tertanggu akan bau terasi. Sampai akhirnya mereka mencicipi lezatnya sambal terasi itu.

Hedianto memulai bermodal televisi. Dijualnya televisi menghasilkan Rp.300 ribu. Itulah modal awal dia berjualan sambal. Maklum kedua orang tua Hedianto hanya nelayan dan pedagang ikan asin.

Orang tua Hedianto juga membuat terasi. Berbahan udang rebon, yang diambil sendiri dari lautan. Alhasil mereka cuma menjual beberapa kali. Dimana ternyata banyak tengkulak pula menguasai. Mangkanya nih berjualan terasi bukan solusi bisnis. "Kondisi ini saya perhatikan hingga dewasa," ungkapnya.

Dia merasakan ada prospek. Namun bagaimana cara agar terhindar tengkulak. Hedianto pengen buat terasi sendiri. Alasan karena merupakan bumbu masak utama. Alasan lainnya adalah karena sudah biasa bergelut di laut. "...saya tertarik," Hedianto begitu semangat.

Bisnis ikonik


Uang Rp.300 ribu buat membeli alat dan bahan terasi. Ia mulai membuat terasi sendiri. Dan masalah pertama muncul yakni diusir warga. Karena kebauan mereka mengusir Hedianto. Untuk menghindari hal serupa ia memindahkan tempat produksi.

Hanya berbekal terasi kemudian menjadi sambal. Usaha dijalankan sejak 1996 sudah dikenal warga. Mulai baunya yang menggoda. Serta kelezatannya yang teruji bertahan 20 tahun. Pria 46 tahun ini selalu berani membuktikan analasisanya benar. Dibuktikan dengan mengangkat 3 orang karyawan pembuat sambal.

Semenjak majunya pariwisata Belitung. Berdampak positif pula buat bisnis sambal ANT. Jika 15 tahunan sudah bisnis sering tersendat. Akhir 2015 ini bisnis sambal milik Hedianto kian moncer. Sambal ANT menjadi ikonik pariwisata ketika orang berkunjung ke sana.

Dia juga menggaet Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tujuan agar menjadikan sambal ANT tak sekedar sambal biasa. Prinsip harus memenuhi standar kesehatan dan bahan baku berkualitas.

Bisnis sambal ANT lantas dikembangkan ke kemasan botol, sambal terasi siap saji, yang mana dihargai Rp.11 ribuan. Kemudian ada terasi berbungkus tikar, isinya terasi setengah jadi, jadi harga per- tikarnya cuma Rp.9000. Penjualan sudah melalui galeri sepanjang Tanjung Pandan.

Terasi ANT sudah berjejer di toko- toko penjuru Belitung. Terasi 20 tahun tersebut dikenal memiliki rasa nikmat. Selain nikmat sudah terbukti sehat berkat verifikasi. Berasal dari udang rebon pilihan yang sudah difermentasi, bukan rebon busuk.

"Resep fermentasi ini saya yang menemukan," unggahnya.

Inilah kisah Raja Terasi dengan omzet Rp.75 juta- Rp.80 juta, dimana dia mampu menjual 1,5 ton. Dia bertekat menjadi pemain dominan di Belitung. Dia akan selalu meningkatkan kualitas terasi ANT. Harapan terbesar menguasai Belitung dimana 6 ton terasi luar masuk tiap bulan.

Ia dikenal sebagai pecetus fermentasi udang. Untuk rebon didatangkan dari Jawa dan Sumatera, seperti dari Lampung. Karena di daerah Belitung sudah tidak mencukupi. Produksi 100kg terasi mentah butuh setidaknya 120kg udang rebon. Beda jika terasi identik dengan udang busuk maka terasi Belitung tidak ada.

Bisa dibilang jauh dari mikroba berbahaya buat pencernaan. Berkat cita rasa otentik, setiap hari bisa capai 1000 pesanan botol terasi kering, belum basah. Agar bisnis makin berkembang dia mengajutkan kredit ke Bank Mandiri senilai Rp.25 juta dengan bunga 9 persen per- tahun, dari program Kredit Usaha Rakyat.

Batu Bata Samroni Tegal Hasilkan Rumah 1 Miliar

Profil Pengusaha H. Samroni


 
Sejak muda H. Samroni sibuk jualan batu bata. Tekat Samroni melebih keras batu bata merah. Semenjak ia masih remaja hingga kini pengusaha batu bata. Awal sekali hanya sekedar salesman, sekarang dia sudah mempunyai pabrik batu bata sendiri di Tegal. 

Ini kisah pengusaha sederhana, yang sekarang sudah sanggup membeli rumah Rp.1 miliar. Warga Setu RT. 3 RW. 2 mengumpulkan uang sejak dulu. Semenjak bujang sudah punya cita- cita membelikan rumah. Dia ingin bukan rumah biasa menaungi istri dan anaknya kelak.

Banyak loh orang tidak percaya dia beli rumah sendiri. Masih tidak percaya kalau sanggup membeli rumah seharga satu miliar. "Saya punya rumah di sini (Taman Sejahtera)," ujarnya kepada pewarta JPNN.com.
Kini, Samroni sudah mempunyai 40 orang karyawan lebih, mereka membuat batu bata merah Tegal.

Banyak orang heran serta tidak percaya. Bahkan serifikat sudah resmi hak milik. "Padahal sertifikat sudah atas nama saya," sembari menunjukan fotokopi sertifikat asli legalisir. Tidak bisa dipercaya orang yang mengenal mereka bahwa mereka membeli rumah Rp.1 miliar.

Pabrik miliknya menghasilkan batu bata sampai 7 ribu- 8 ribu perhari. Tanpa berhenti mereka membuat dan mendisribusikan ke aneka toko bangunan. Bukan waktu singkat ujar pria 41 tahun sejak bujang usaha sendiri. Sekarang mah enak dia tidak kerja sendiri lagi, sudah punya istri dan dua orang anak.

Dia membeli rumah di kawasan elit Kota Tegal. Perumahan Taman Sejahtera, Kelurahan Kemandungan, Kecamatan Tegal, yang mana pemilik rumah kebanyakan pejabat, politis, dan pengusaha ternama. Siapa sangka dia mampu membeli rumah di kawasan kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) Tegal.

Pemasaran masih disekitar Tegal. Mungkin karena Tegal tengah berbenah. Permintaan selalu saja datang ke pabrik miliknya. Untuk memenuhi kebutuhan bahkan setiap hari berproduksi. Kok beda dengan banyak kisah pembuat batu lain. Karena H. Samroni bekerja dengan ambisi untuk mencapai sesuatu.

Setiap hari pasti ada pesanan dan barang dikirim. Ia bahkan menarget mengembangkan cabang buat bisnis batu bata. Bukan buat diri sendiri adalah pesan ingin disampaikan pengusaha ini. Sang pengusaha batu bata merah ingin membahagiakan istri dan kedua anaknya. 

Setiap ada untung selalu sempatkan menabung. "Kalau ada rezeki berlebih, tak lupa kami bersedekah untuk warga kurang mampu," tutup.

Jualan di Gang Pudding Art Sunarno Berbunga

Profil Pengusaha  Dedi Kurnia Sunarno


 
Bisnis memang harus kreatif jaman sekarang. Tidak boleh cuma bermodal kerja keras. Ini dibuktikan oleh pria bernama lengkap Dedi Kurnia Sunarno. Pria 30 tahun yang bergutat dengan lembutnya pudding. Bukan sembarang pudding loh. Dia pengusaha seni di atas permukaan pudding atau Pudding Art.

Pikiran kreatif Dedi memang mengejutkan. Jika pengusaha pudding biasa cuma menebus pasar biasa. Dia mampu menembus pasar non- konvensional. Aneka bentuk mampu diciptakan Dedi lewat jarinya. Kisah sukses Dedi bermula sudah sejak sekolah menengah dulu.

Bisnis seni kuliner


Masa SMA akan segera berakhir juga. Dan Dedi bingung harus melanjutkan kuliah atau tidak. Ia memutar otak hingga berencana membuka usaha. Dedi lantas meniru mereka yang sukses berbisnis kuliner. Hingga langkahnya menemukan kuliner bernama pudding. Pertama Dedi mulai membuat pudding berbentuk biasa.

"Itu juga karena putus cinta, akhirnya jualan puding saja," selorohnya. Karena jualan pudding biasa maka kurang laku.

Pengusaha asal Surabaya ini kemudian menemukan cara. Ilham datang mungkin dari cerita luar negeri. Ia menemukan kesenian pudding art. Satu cara agar dagangannya berbeda. Cara jitu menaikan pamor kuliner puding bikinannya.

Dedi mulai menambahkan aneka kreasi. Di atas puding, seolah dijadikan kanvas olehnya, aneka bentuk ia sejikan ternyata sangat diterima masyarakat. Dedi mengias pudingnya. Dimulai aneka warna bunga ditaruh di atas. Kemudian semakin berkreasi lewat aneka bentuk imut lainnya.

Tidak cuma memakai cara konvensional. Sekarang juga berjualan lewat sosial media. Penjualan terbilang lumayan. Peningkatan terlihat, dimana jika sebelumnya cuma Rp.3 juta per- bulan. Sekarang dia sudah menjual Rp.20 juta per- bulan.

Harapan Dedi sekarang adalah melebarkan sayap bisnis. Termasuk kemungkinan merambah pasaran luar negeri. Dedi tidak muluk. Harapan utama bagaimana memasuki pasar Asia Tenggara.

Jualan di gang


Bermula dari gang tempat tinggal Deni. Usaha tersebut dijalankan sangat sederhana. Sesederhana pudding ia tawarkan pertama kali. Target usaha adalah mereka masyarakat kelas menengah ke bawah. Jualannya cuma di Kelurahan Kapasari, Surabaya.

Kemudian dia mengikuti pelatihan bernama Pahlawan Ekonomi tahun 2014. Pengembangan pudding tidak lagi monoton. Melalui pudding art usaha dijalankan Dedi makin bersinar. Pelajaran teknik suntik didalami untuk membentuk pudding. Terbukti lewat teknik suntik membuat pudding art makin gampang saja.

Meskipun sudah sukses membuat aneka bentuk. Dia tetap tidak berhenti ikut pelatihan. Program Tatarup III dilakon Dedi. Program tersebut membantu Dedi menata marketing bisnis De 'Nil Pudding Art. Dahulu kalau jualan pudding pasti pakai wadah berwarna gelap.

Kini, dia diajari untuk menonjolkan produknya, lewat program Tatarupa dia belajar bagaiman mendandani pudding agar cantik. Kemasan dirubah menjadi transparan hingga terlihat. Motif- motif pudding keliatan tuh dari luar. Pembeli makin tertarik makin banya datang memesan.

Cara berjualan lewat sosial media memang enak. Lebih banyak menggaet pelanggan. Ditambah lagi biaya dia keluarkan murah. Mudah juga tinggal memposting produk ke halaman. Ada Facebook Fanpage, lalu ada Twitter, Instagram dan WhatsApp. Yang mana orderan 80% datangnya dari aktifitas jualan di sosmed.

Saat ini, dia dibantu 6 orang karyawan, menghasilkan delapan varian rasa pudding. Mulai rasa original, ada rasa pisang, coklat, strawberry, dan banyak lagi.

Masih Jadi Karyawan Meski Punya Usaha Sepatu Lukis

Profil Pengusaha Sukses Gilang 


 
Kanvas sekarang sudah menjadi alas lukis lama. Kini, pengrajin berlomba- lomba, menciptakan peluang berbeda lewat sentuhan karya. Sambil menyalurkan hobi lukis. Seorang pemuda 28 tahun bernama Gilang memulai berbisnis. Bermodal talenta lukis dan alas lukis berbeda yakni tas dan sepatu.

Keromon berawal dari keadaan mendesak. Bingung mau bayar kuliah. Gilang lantas mencari ide tentang usaha. Gilang memulai bisnis lukis sejak kuliah. Sejak duduk di bangku kuliah semester 3, jari tangannya sudah memoles anaka barang dijadikan media lukis.

Tanpa menggelontorkan uang sepeser pun. Ia bercerita modal awalnya cat. Itupun pinjam dari teman saja. Ia mencoba memakai sepatu sendiri. Menjadikan barang sendiri jadi eksperimen, eh ternyata, hasilnya tidak mengecewakan. Dia upload foto ke sosial media. Dan pembeli pertama menanyakan hasil karyanya.

Dijual beberapa rupiah lantas dipakai lagi. Ia mengganti uang cat milik temannya. Kemudian dia bikin lagi lalu hasilnya diputar menjadi modal. Kuas dan cat dibelinya kembali. "Dengan kata lain nol rupiah untuk modal awal," jelasnya.

Bisnis berlanjut


Sukses Gilang karena menerapkan konsep custom. Dimana ia menyerahkan desain kepada konsumen. Dia hanya mengikuti arahan sembari memberi saran. Justru melalui cara tersebut bisnis berkembang. Disisi lain mengasah daya kreatifitas seorang Gilang akan trend kebanyakan di masyarakat.

Gambar tergantung bisa karakter, atau lukisan wajah, ataupun pemandangan dan batik. Semuanya Gilang bisa gambar diatas media lukis sepatu. Keahlian Gilang tidak serta- merta bisa. Namanya bakat kalau tidak diasah akan tumpul. Melalui bisnis sepatu lukis bakasnya terasa ke arah lebih komersial tetapi "nyeni".

Bisnis ini dijalankan lumayan lama. Sampai bertahun- tahun, dan Gilang menikmati bisnis sampingannya tersebut. Untung diraup Gilang bersih minimal Rp.6 juta per- bulan. Cukup lewat jualan di sosial media dia bisa segitu. Kendala bisnis tidak ada yang berarti jelas Gilang kepada jurnalis Okezone.

Kendala utama ya mungkin di bahan baku. Harga sepatu lukis harganya bisa menjadi mahal. Karena banyak orang melihat pasar yang sama. Bisnis sepatu lukis memang sudah banyak dikenal. Tetapi Gilang mengaku meski harga bahan baku naik, harga sepatu lukis dipatoknya tidak naik, karena harga harus tetap bersaing.

Dia sudah menjual lebih murah dibanding lainnya. Karena itulah orang bisa menjadi reseller karena dia ambil untung minimal. Itulah cara marketing diterapkan Gilang. Perbanyak pilihan produk menjadi satu cara Gilang lebih maju. Mulai wedges, heels, dan boots lukis tengah dikembangkan Gilang Keromon.

Pengusaha muda

Umurnya baru 28 tahun tetapi bisnisnya moncer. Pemilik Keromon, brand fasion lukis, Gilang sendiri tidak cuma berbisnis. Dia dikenal sebagai workaholic. Terbukti aneka profesi dia jabani. Mulai dari jadi fotografer pre- wedding sampai karyawan swasta. Semua demi memenuhi rasa hausnya akan pengalaman.

Kunci sukses pengusaha sampingan: Membagi waktu semaksimal mungkin. Jam 08.00 sampai 16.00 sore dia karyawan swasta. Naik jam 19.00 sampai 23.00 dia akan menjadi pengusaha. Kemudian pada Sabtu- Minggu dia akan menjadi fotografer pre- wedding.

Padahal dia memproduksi 150 buah sepatu lukis per- bulannya. Semua masih dilakoni sendiri lantaran dia belum menemukan pegawai kompeten. Dulu ada sih karyawan tetapi kerjanya tidak serius. Mencari sosok karyawan penuh dedikasi bukan cuma skill memang susah. "...dan mau bekerja keras," Gilang menjelaskan.

Namun tetap dia tidak mau pantang menyerah. Dia akan tetap mencari pegawai. Karena tujuannya akan jadi lebih luas. Bukan sekedar usaha sampingan. Gilang ingin membuka workshop. Untuk kedepan dia akan merekrut karyawan dari kalangan marjinal. Mereka pekerja keras yang dipinggirkan karena masalah hidup.

Sebagai pengusaha muda, Gilang menjadi panutan mematahkan mitos bahwa bisnis butuh modal besar. Dia bahkan tanpa modal. Semua berkat sifatnya yang humble ke teman. Disinilah kita bisa belajar bahwa jadi pengusah ialah tentang konektifitas.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba