Membuat Album Foto Menjadi Usaha Menjanjikan

Profil Pengusaha Freddy Sinatra  dan Lio Andrian


 
Usaha berawal dari iseng sudah banyak. Berawal keinginan menambah uang jajan. Alkisah ada seorang mahasiswa bernama Freddy Sinatra menjajaki wirausaha. Usaha foto album kecil- kecilan berubah jadi satu perusahaan besar. Lumayan lama dari berjualan keliling hingga menembus pasar internasional.

Jiwa seninya memang menjadi andalan. Ditambah keuletan ingin mencari penghasilan sendiri. Usaha yang dirintis sejak 1964 kemudian berkembang. Freddy sempat loh berjualan keliling. Menenteng album foto ditangan, menjualnya dari pintu ke pintu. Tangan dinginnya lalu memasukan karya ke toko- toko sekitaran Semarang.

Tidak disangka usaha album foto ternyata menjanjikan. Usaha bernama Susan Photo Album mulai tampak untung didepan mata. Produk foto album miliknya bahkan masuk ke pasar Australia.

"Saya tidak menyangka bila bisnis ini bisa berkembang pesat," kenangnya. "Saya memulai usaha album foto ini hanya iseng."

Usaha yang awalnya cuma menghasilkan uang jajan. Kemudian merambah uang tabungan buat kuliah. Inilah hidup kini Freddy telah berbalik 180 derajat. Pria kelahiran Blitar 1946 ini memang sudah berniat untuk membuka usaha sendiri. Ide membuat usaha apa berbekal kreatifitas tangan sendiri.

Bisnis tidak disangka


Dia mencari bahan, membuat, dan memasarkan sendiri. Awalnya dia berjalan berkeliling menawarkan satu per- satu. Suami Lanny Riana Dewi ini, memang sudah menyukai dunia seni. Dibantu dua orang karyawan agar bisnis Renddy tetap berjalan. 

Tugas utama Freddy adalah memotong dan pengepakan. Dalam sebulan menghasilan 20 buah album foto. Ia menyebutkan kualitas utama merupakan kunci. Tidak cuma sekedar desain bagus saja. Pelayanan baik mampu membawa perusahaan, kini, memiliki 200 orang karyawan tersebar.

Soal menjalankan bisnis tidak perlu neko. Usaha kecil- kecilan dikerjakan mengikuti arus. Namun dia ingat bahwa bisnis berubah mengikuti jaman. Dia tidak bisa menjaga loyalitas pelanggan terus. Jika ada perubahan sedikit saja usahanya akan hangus. Inilah Freddy fokus mengembangkan inovasi produk lebih baik.

Ia rajin menungunjungi pameran. Aktif menjual tidak cuma offline, juga online melalui sosial media atau website perusahaan sendiri. Barapa pun permintaan pasar diusahakan dipenuhi. Dulu mungkin Freddy akan keteteran tetapi sekarang tidak.

Ayah dua anak, Lio Andrian dan Olivia Susanti, hanya ingin melayani saja. Kualitas produk sekali lagi, lalu inovasi, ditambah melayani pembeli. Tidak salah usahanya lambat laun berkembang makin pesat. Pesanan album foto meningkat cepat. Pria bermoto "maju terus" merasakan Susan Album Photo sudah terkenal.

Tahun 2016 saja, Susan Album Photo memiliki 200 orang karyawan, sudah termasuk tenaga produksi dan staf. Niatnya sungguh- sungguh membuka usaha. Membantu lebih banyak lewat jiwa seninya. Dia bekerja keras tanpa dipengaruhi omongan orang sekitar. Tidak terpengaruh dan fokus mengembangkan usahanya.

Nama Susan sendiri ternyata bukan nama orang terkenal. Bukan pula nama istri Freddy sendiri. Pemilihan brand Susan hanya nyeletuk saja. Alasan utama karena mudah diingat dan diucapkan. Orang luar negeri juga mudah mengucapkan Susan.

Bisnis Freddy tidak berhenti di penjualan langsung. Dunia digital eCommerce sudah dijajaki pria paruh baya tersebut. Namun demikian pendekatan personal lebih kental. Sukses Freddy kini diambil alih oleh sang putra. Lio Andrian memiliki masalahnya sendiri dimana orang menyebut album foto sudah kuno.

Bisnis tak lekang


Meski banyak orang bilang jualan album foto sudah ketinggalan jaman. Lio masih meyakini bahwa ini hanya soal peralihan. Oleh karena itulah, ia bertekat merubah konsep album foto agar dapat mengikuti laju perubahan jaman. Lio sendiri tampak siap menghadapai tantangan global bisnis album foto.

Tidak cuma menjual album foto. Perusahaan mereka mantap memberikan jasa konsultasi. Bagaimana agar membantu rekanan bersama memajukan bisnis mereka. Lio menyasar konsep album art work, corporate package, hingga mengambangkan bisnis lain di dalam maupun luar negeri.

Freddy sendiri sudah membekali Lio. Selain ekspansi bisnis lain, seperti bisnis bridal, salon kecantikan, dan spa. Itu semua diberi nama Susan.

Devirsifikasi bisnis memang giat dilakukan Freddy. Bisnis selain album foto dikerjakan sang istri dan juga putrinya. Dua wanita Freddy memang menyukai bisnis kecantikan. Freddy mengaku bisnis dijalankan tidak ada perencanaan khusus. Freddy sendiri sejak awal sudah dibantu permodalan oleh Bank BCA.

Lio sendiri menjalankan bisnis senang hati. Memang berwirausaha sudah menjadi passion -nya. Selain itu, dirinya mewarisi bakat seni sang ayah. Dia tertarik karena melihat ayah bekerja sejak kecil. Freddy bilang Lio tidak melihat uang dibalik bisnis ayahnya. Cuma dia melihat bagaimana bisnis mempengaruhi industri fotografi.

Inilah kenapa Lio lebih mencintai berwirausaha. Dibanding sibuk memikirkan berapa uang didapat. Freddy sendiri membebaskan Lio berekspresi. Lio sendiri mengerjakan business development. Bagaimana agar membuat brand awareness tentang produk- produk milik Susan.

"Banyak orang menyebut pasar album foto sudah "senja"," ujar Lio. Penulis melihat bisnis mereka bukan cuma soal album foto tetapi brand Susan itu sendiri.

Obat Tradisional Kalimantan Akar Kayu Berkah

Profil Pengusaha Heni Wijiastuti 



Pengetahuan akan ramuan kuno membawa berkah. Inilah kisah pengusaha Heni Wijiastuti. Semenjak sang suami kecelakaan tidak bekerja. Otomatis dia menggantikan tugas mencari nafkah. Bukan perkara mudah, karena membuka usaha pun butuh uang.

Sejak sembilan tahun silam, Heni mulai mengikuti cara kuno masyarakat Pulau Kalimantan, yang dikenal memiliki satu kekayaan alam hutan. Dia mulai meramu apa yang bernama akar kayu. Obat tradisional yang mana kemudian menjadi fondasi perusahaan miliknya, Berkat Uhat Kayu, diberi nama sesuai bisnisnya.

"Sesuai nama usahanya, uhat berarti kayu," Heni menjelaskan.

Sejak kecelakaan sang suami berhenti bekerja. Otomatis semua bergantung kepada tangan Heni. Otodidak ia mulai meramu ramuan akar kayu. Total 25 ramuan telah ia kembangkan berbekal akar kayu. Bahan juga mudah didapatkan gratis mencari di hutan.

Namun masalah pengembangan daerah sawit menjadi masalah. Itu sejalan dengan pengalihan fungsi hutan. Jadilah susah mendapatkan bahan baku utama akar kayu.

Dia lantas membudidaya sendiri kayu. Ramuan akar kayu Hani bisa menyembuhkan sakit pinggan hingga obat diabeter. Heni dibantu 4 orang karyawan. Usahanya memproduksi 2.000 bungkus per- bulan, yang ia kirim ke berbagai tempat termasuk Bandung, Bali, Pangkalan Bun, sampai Batam.

Ramuan dijual antara Rp.22.000 sampai Rp.75.000, disesuaikan jenis penyakitnya. Hitungan kasarnya ia memperoleh omzet sampai Rp.60 juta. Heni sendiri enggan menyebut angka pasti. Namun dia mampu menghidupi 7 orang anaknya. "Sekolah semua, dua kuliah," ungkapnya kepada Detik.com

Ia meyakinkan produknya sudah mendapatkan ijin Kementrian Kesehatan RI.

Pengusaha Eksportir Teh Hijau Kakak Beradik

Profil Pengusaha Ifah Syarifah 



Semua berawal dari keprihatinan akan teh kita. Dia adalah Ifah Syarifah, wanita 49 tahun, yang mulai aktif di kegiatan sosial. Berawal aktifitas sosial diantara petani kebun teh, dia menyulap aneka teh hijau jadi aneka makanan. Terutama nih opak teh hijau yang dibaluri coklat enak nikmat.

Dalam setahun usahanya sudah mengantungi Rp5 miliar. Usaha Ifah dikenal sebagai eksportir teh hijau ke luar negeri. Aneka produk teh hijau terbilang inovatif dan variatif. Ada opak teh hijau, pelembab teh hijau, sabun teh hijau, dan masker wajah teh hijau. "Kami membuat pewarna lukisan dari teh."

Harga jualnya sih cuma Rp.10 ribu sampai Rp.125 ribu. Ibu Ifah cuma berpikir bagaimana agar teh disukai semua orang. Bagaimana nih agar remaja menyukai makanan tradisional seperti opak. Tidak cuma teh hasil lokal tetapi teh Jepang yang hijaunya lebih pekat.

Aneka usaha


Ifah berdomisili di Jakarta aktif kegiatan sosial. Fokus sosialnya membangun sekolah anak jalanan. Sejak muda dia memang lebih ke sosial. Dari 1995 sudah menyukai kegiatan sosial, di sekitaran kebun teh di daerah Bandung, Jawa Barat.

Dia membantu petani bersama teman- teman. Mereka membangun sanitas juga jalan. Sela- sela perjalanan dia belajar memetik teh. Ia mampu memilah teh berkualitas. Gurunya Ifah ya petani serta pemetik teh. Dia memahami seluk beluk proses pembuatan teh. Gaya pemetikan lewat ketajaman indra penciuman kita.

Di tahun 2014, dia kembali ke Bandung, kali ini dia kembali memberikan pelatihan buat petani teh. Bagi lulusan S- 1 Psikologi, Universitas Padjajaran, ini bukanlah hal tidak biasa. Dia mulai mengingat sembilan tahun lalu sebuah keinginan. Potensi bisnis teh hijau dalam benaknya menggeliat kembali.

Dia lantas mengajak adiknya, Evi Amalia, wanita 46 tahun tersebut bersama Ifah mulai melakukan riset kecil- kecilan. Maksudnya menemukan produk andalan yang tidak monoton. Untuk bahan baku daun teh dipasok kawasan Ciwidey, Sukabumi, Cianjur, Bandung Barat dan Garut.

Mereka dibantu enam karyawan mengolah. Mereka merupakan anak- anak petani teh. Tidak mudah tetapi karena dibalik usaha mereka adalah berbagi; tidak terasa rasa lelah. Setelah menemukan aneka produk dan pasar menerima usaha Arafa Teh. Keduanya sepakat memberikan donasi 25% kepada keluarga petani teh.

Bubuk teh hijau dijadikan coklat teh hijau, opak, kemudian minuman instan. Coklat teh hijau bukanlah coklat sembarangan. Memiliki level kepekatan teh hijau terasa dimulut. Kemudian ia menaburkan teh hijau Jepang keatas opak. Inilah perusahaan pertama inovatif yang fokus ke usaha aneka teh hijau.

Bisnis besar


Orisinalitas usaha mereka tidak perlu ditanyakan. Cita rasanya terjamin. Begitupula dengan higenitas yang mereka tawarkan. Perusahaan mereka juga menghasilkan pewarna batik dari teh loh. Arafa Teh menggaet pengrajin batik Solo, Pekalongan, dan Yogyakarta menjadi patner.

Mereka juga membuat sabun berbahan teh hijau. Merekomendasikan sabun tersebut melalui kerja sama dengan perusahaan farmasi. Mereka juga memproduksi teh putih yang mencapai 3 ton/bulan.

Agar bisnis mereka makin moncer: Arafa Tea membangun jaringan reseller. Antara lain Batam, Padang, Medan, Balikpapan, Lombok, Menado, dan Makassar. Mereka nanti menjadi jalan masuk ke kafe- kafe. Ia menyebut reseller mereka ada di 11 titik. Omzet dari mereka saja sudah mencapai Rp5 milair per- tahun.

Olahan teh mereka dilirik negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Qatar, Srilanka, dan Korea Selatan. Ia menyebut volumen ekspor sampai satu kontainer ke masing- masing. Inovasi selalu dilakukan Ifah agar usaha mereka mengglobal lewat jaringan yang sudah ada.

Sambutan positif masyarakat direspon lewat aneka produk baru. Kakak- beradik asal Bandung ini memang tidak ada bandingnya. Bahkan produk opak mereka sudah pernah dipesan Bapak President Susilo Bambang Yudhoyono sampai 2.500 opak. Produk mereka dibandrol harga Rp.10.000 sampai Rp.125.000 -an.

Mereka juga mendukung riset dan penelitian teh hijau. Mereka menggandeng Fakultas Teknologi Pangan, Universitas Padjajaran, menciptakan aneka pangan inovatif berbahan teh. Seiring peningkatan permintaan PT. Arafa Hangarita Asia memproduksi 120kg coklat, 5.000 opak, dan 60kg daun teh kering seduh tiap minggunya.

Pengusaha Yogurt yang Pernah Bangkrut Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Sukses Pepew 


 
Alkisah pengusaha muda bernama Pepew atau Febrianti, cuma tau wirausaha lewat buku teori. Berawal perkenalnnya dengan Rendy Saputra, pemilik KeKe Busana, timbul niat usaha. Lantas mahasiswi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Bandung (UPI), ini mulai langsung praktik.

Katanya nekat merupakan jalan baginya. Pepew nekat meminjam uang. Sebagai mahasiswa biasa, dia nekat pinjam uang, yang baginya tidak sedikit yakni Rp.24 juta. Sebenarnya malu sih tetapi hati ingin buktikan apa ucapan kang Rendy.

Diusia muda baru 19 tahun waktu itu tidak cuma pengangguran. Tidak punya penghasilan ditambah punya hutang puluhan juta. "Saya juga bingung waktu itu tidak malu sama sekali untuk utang (modal)," selorohn Pepew.

Bisnis yogurt


Kalau dibayangin pastilah malu. Tetapi memang malu tidak bisa membeli apapun. Kesuksesan tidak bisa ia capai kalau malu. Tidak punya pengalaman dia nekat buka usaha. Usaha berprinsip kalau belajar renang ya harus masuk kolam renang nyelem. Belajar wirausaha tidak bisa cuma baca buku atau internet.

"Harus nyemplung ke kolam," imbuhnya.

Berawal dari pelatihan kewirausahaan oleh Randy Saputra. Pelatihan tersebut menantang dia berwirausaha langsung.

Dua bulan membuka usaha -yang entah apa usahanya- finalis Womenpreneur ini malahan jadi bangkrut seketika. Hasilnya dia dicari- cari kreditor menagih hutang. Mereka meminta uang mereka dibayar dan ia tidak menghasilkan apapun. Uang modal tersisa tinggal Rp.1 jutaan dikantung Pepew.

Rasa malu barulah berasa ketika dia gagal. Rasanya ketika mau menutup usaha tersebut sudah tidak ada muka. Optimisme dulu tersisa rasa malu kepada teman sekuliahan. Terpaksa dia harus menutup toko dia banggakan dulu. Pepew jatuh sakit dan frustasi karena omongan Randy "salah".

Ia segera menemui Randy. Seolah ingin mengatakan semua dia katakan salah. Dengan entengnya nih sang motibator menjawab,"terjunlah kamu tanpa berbekal parasut". Randy mencoba menyemangatinya. Tetapi sakit hati tidak dipungkiri karena kini dia berhutang puluhan juta.

Ucapan Randy belum mengena langsung. Ia cuma tau Randy "menjerumuskan" dia menjadi pengusaha. Dia cuma mikir bagaimana membayar hutang titik. Dia kembali membuka usaha yogurt tetapi bermodal uang sejuta. Usaha dijalankan lebih bekerja keras dan ngotot karena hutang menumpuk- numpuk.

Dia merasa diterjunkan tanpa parasut. Ketika sudah jatuh tidak ada sama sekali penolong. Pepew cuma bisa merenungi nasib. Dia merasa dibodoh- bodohkan. Ke kampus terasa berat bagi Pepew melanjutkan. Tagihan tetap mengalir butuh mental superman menghadapi.

Kesimpulannya: Hutang adalah tanggung jawab harus dibayar. Ia membuka usaha yogurt bermodal meja kecil di depan rumah pinggir jalan. Tidak ada karyawan seperti ketika ia membuka toko di Jl. Trunojoyo. Ia membuka toko tersebut mulai Agustus 2010 tapi dua bulan bangkrut.

Niat membayar utang berbuah manis. Niat baiknya terbayar dengan usaha makin laris. Berjualan nekat ia mendapatkan untung lumayan. Omzet Rp.10 juta bermodal meja ukuran 1x1 meter. Semangat Pepew naik lagi dan tidak malu. Dia menjalankan usaha kembali dan mencicil utangnya sedikit- demi sedikit.

Usaha yogurt pinggir jalannya sukses. Langsung dia membuka toko di kampusnya sendiri. Kemudian dia sudah membuka warung bukan cuma meja kecil. Dia bisa bernafas lega serta ringan pergi ke kampus. Dia sukses membayar hutang semuanya dalam enam bulan.

Jadilah toko tersebut sebuah kedai Jalan Cihaurgeulis no.4 Bandung. Dua gerai masing- masing Jakarta dan Bandung. Untuk kedepan dia berharap mampu membuka bisnis bar yogurt. Brand Amleera mulai naik daun berkat kerja keras Pepew. Dia sadar kita lah sendiri bukan orang lain yang menaikan semangat.

Carline Darjanto Cotton Ink Bagaimana Go Internasional

Profil Pengusaha Carline Darjanto 


 
Konsep bisnis fashion masa kini yaitu nyaman dipakai, berkualitas, dan cocok buat semua. Artinya bahwa desainer harus membuat fashion lebih praktikal. Ria Sarwono dan sahabatnya, Carline Darjanto, memilih pakaian murah praktikal tetapi berkualitas. Secara teori berarti pakaian mereka akan nyaman dipakai.

Keduanya sudah mengenal sejak SMP. Dua sahabat ini memiliki pandangan sama tentang pilihan dress, accessorizes, pants, dll. Pandangan tersebut lantas tertuang dalam brand Cotton Ink. Itu loh salah satu brand yang masuk daftar pengusaha muda Forbes Indonesia.

Ria dan Carline sama- sama berkursus di London Collage of Fashion. Kursus singkat yang disusul dengan peluncuran Cotton Ink pada November 2008 akhir. Carline sendiri selepas SMP, masuk SMA, kemudian masuk jurusan desainer, Lasalle Collage of Fashion, Jakarta. Ketemu kembali dengan Ria, keduanya lalu berbisnis.

Momen bisnis mereka dimulai ketika mendapatkan satu kesempatan. Waktu itu keduanya mendapat satu kesempatan langka dengan Presiden Obama. Mereka membuat kaus sablon berwajah Obama tahun 2008. Dari sekedar kaus bersablon, lantas mereka merambah ready to wear, dari legging, shawl, serta aksesoris.

Produk shawl atau syal menjadi andalan. Ketika memulai produk mereka satu ini paling dicari. Untuk satu produk syal mereka menggunakan bahan langka. Bahan bernama tubular yang bahan kaus lingkaranya tanpa jahitan. Memang belum banyak penggunannya dan inilah momentum dibuka Cotton Ink.

Bisnis fasion


Produk bernama tabular shawl ini memang terkenal. Kreatifitas mereka menembus batasan. Alhasil dapat dipadu padankan dengan pakaian apapun. Desain multifungsi memang jadi andalan. Inilah yang penulis sebut sebagai pakaian praktikal. Cotton Ink sudah memiliki kelebihan dibanding produk fashion lain.

Carline menambahkan pelanggan mereka suka simple. Meskipun begitu harus memiliki detail di atas kain. Cotton Ink menggunakan katun dalam negeri. Harga jangkauan shawl produk mereka yakni Rp.69.000 dan Rp.349.000 buat jaket luaran dan outwear lainnya. Keuntungan sudah 80% dari omzet dicapai mereka loh.

Pemasaran fokus online dan offline. Cotton Ink sudah bekerja sama dengan The Good Dept, Pacific Place di Jakarta, ESTplus di Bandung, Widely Project, Happy-go-Lucky, dan di Surabaya ada butik ORE. Cotton Ink juga melayani pembeli asing seperti Singapura, Malaysia, Australia, dan Eropa.

Pemasaran memakai berbagai media, mulai di berbagai sosial media, Facebook, Twitter, Instagram, dan Pinterest. Kemudian juga melalui media blog Tumblr dan website toko cottonink-shop.com

Carline menyebut sukses mereka berkat ciri khas. Membedakan bisnis mereka dengan bisnis fashion asli Indonesia lain. Cotton Ink punya desain sendiri. Hal paling menantang menjadi pengusaha fasion: Bahwa orang selalu menuntut hal terbaru soal fasion. Mereka butuh terus mengembangkan bisnis mereka kelak.

"Kami dituntut selalu memiliki ide baru," jelasnya. Meski begitu produk karya lama mereka masih dapat diterima baik. Kekhawatiran mereka terbayar melalui kualitas bahan unggulan. Tidak ada desain baju baru setiap hari. Mereka cukup fokus memperluas pasar ke masyarakat lebih luas.

Diusia muda nama mereka memang menggema. Banyak sudah penghargaan diraih, mulai macam Most Favorite Brand di Brightshop Market, The Most Innovative Brand di Cleo Fashion Award (atau Jakarta Fashion Week), Best Brand Local oleh Free Magazine, serta merek loka terfavorit Style Magazine pada 2010.

"Industri fasion penuh tantangan. Kami harus bisa kreatif di segala hal," Carline menambahkan. Caranya sukses ya fokus solusi masalah bukan masalahnya.

Dinobatkan sebagai salah satu 30 Under 30 Asia oleh Forbes. CEO sekaligus Creative Director Cotton Ink ini mengaku tidak bereaksi berlebihan. Wanita 28 tahun ini memandang justru inilah tolak ukur bagi mereka masuk ke pasar global Asia.

Dia cuku kaget ketika mendapatkan email dari Forbes. Ternyata tidak mudah loh, dia harus ditanyai dahulu sebalum akhirnya mendapatkan jawaban masuk atau tidak. Cotton Ink membanggakan karena 100% hasil karya Indonesia. Dia berharap kawan- kawan pengusaha muda retail dan desain tetap semangat ya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba