Batok Kelapa Dirubah Menjadi Tas Berharga

Profil Pengusaha Emy Erawati



Tempurung kelapa memilik potensi tidak terbayangkan. Seperti kisah wanita asal Belitar berikut. Namanya adalah Emy Erawati. Dulunya hanya lah warga Dusun Seduri, Desa dan Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang kemudian dikenal sebagai pengusaha batok kelapa.

Tidak mudah karena butuh kreatifitas. Untung karena Emy dibantu suami mengembangkan. Usaha dijalankan sejak 1995 -an. Produk primadona ya tas batok kelapa, yang mana bahkan sudah sampai ke pasar ekspor. Dari cuma coba- coba bekerja bersama keduanya berusaha tampil beda.

Memang kerajinan tas lebih primadona dari sekedar pajangan. Emy melihat ini sebagai peluang tersendiri. Dan ia mulai mencari berbagai macam model tas kegemaran sekarang. Kemampuan melihat pasar kemudian didukung pasar memadai yakni Bali.

Bisnis spesifik


Berbisnis kerajinan memang gampang- gampang sukses. Pengalaman orang lain dijadikan Emy contoh. Ya seperti memasarkan ke pasar orang asing. Kecenderungan orang Indonesia yang lebih meminati merek asing. Tidak dipungkir sedikit banyak membuatnya berpikir berhati- hati.

Berawal dari melihat banyak batok kelapa bertumpuk. Ia membuka aneka kerajinan tidak cuma tas, seperti dompet, dan beragam aksesoris.

Banyaknya wisatawan asing di Bali membawa berkah. Hampir pasti wisatawan asing akan membawa oleh- oleh pulang. Dan produk alami seperti buatan Emy menjadi pilihan. Ditambah krisis ekonomi 1998, membawa dollar naik dan makin banyak permintaan ekspor menjadi baik.

Produksi Emy sampai 50% dijual di pasar Bali. Memasarkan sampai Eropa, nama produk Emy lebih lagi terdengar ke permukaan. Produk Emy terkenal unik dan berkualitas tinggi. Alhasil omzet sampai ratusan juta rupiah sudah ditangan, menjual dari Swiss sampai Belanda, juga beberapa negara tetangga kita.

Tingkat kesulitan tinggi dianggapnya nilai jual. Proses pembuatan memang sangat panjang. Oleh karena itu ia rela merogoh kocek untuk memodifikasi peralatan produksi. "Menurut saya masih sedikit yang melirik bisnis ini," imbuhnya. Sudah lagi proses pemasaran yang tidak bisa semalam- dua malam.

Berkat bisnisnya sudah mengangkat derajat banyak orang. Pegawai Emy sudah mencapai angka 200 orang. Proses pembuatan bisa dibawa pulang ke rumah. Harga kerajinan batoknya mulai dari Rp.10.000 sampai Rp.200.000.

Bisnis yang dirintis bermodal uang Rp.1 juta. Kemudian uang tersebut dibelikan dua mesin produksi. Dia terinspirasi ketika bekerja di Bali. Dan berkat usahanya, kembali ke daerah asalnya, Emy mengangkat para warga desanya bekerja bersama mengukir tempurung menjadi aneka produksi.

Nama Pengusaha Tas Berbahan Dasar Daun Pandan

Profil Pengusaha Ucok Adi Setiawan dan Natalia Indri


 
Pengusaha ini bernama Ucok Adi Setiawan. Pemuda ini memilih berbisnis tas berbahan daun pandan. Dia lalu bercerita bagaimana bahan pandan sangat banyak di Jawa Tengah. Kreatifitasnya tergelitik untuk menjadikan daun pandang yang sekedar bahan baku kue.

Dari mencoba membuat dompet, hingga membuat tas daun pandan. Kekreatifan ditambah rasa penasaran ternyata membuahkan hasil. "...nyoba- nyoba bikin tas dan dompet ternyata laku," unggahnya.

Pengalaman menggunakan pandan menghasilkan kesimpulan. Ada dua jenis daun pandan yakni pandan dari gunung dan pandan pantai. Soal bahan terbaik ya pandan gunung ceritanya. Memasuki tahun kedua semakin dia semakin bersemangat memasarkan produknya.

Harga dompet daun pandan dikisaran Rp.20 ribu. Kemudian tas wanita dijual sampai Rp.200 ribu. Memang mahal tetapi cita rasa pandang menggugah selera. Jangan tanyakan omzet, dia mengaku mampu mengantungi Rp.30 jutaan meski naik turun.

Dia sendiri masih kekurangan SDM. Tenaga ahli buat membesarkan bisnisnya kedepan. Dia cuma dibantu tiga orang setiap tempat. Tenaga pembuatan masih dilakukan swadaya saja.

Pengusaha lain


Lain ceritanya Natalia Indri yang juga berbisnis sama. Didukung statusnya sebagai wanita, membuatnya jadi lebih ekspresif berbisnis tas wanita dari anyaman pandan. Alhasil nama brand INSSOO -kepanjangan dari Indonesia Woven Craft- mampu melejit keras.

Pengusaha wanita asal Yogya berawal dari tahun 2010. Ia berawal memikirkan mau buka usaha menambah penghasilan. Berawal dari iseng kemudian mengkreasikan bahan alami ini. Nama tas clutch merupakan usaha anyaman modern berbahan tidak lagi cuma pandan, mulai daun agel, sampai eceng gondok.

Memang banyak tanaman belum dieksplorasi. Hobinya memang membuat kerajinan. Dan melalui hobi lah, dia membuka usaha pertamanya dan langsung melejit. Untung karena dia didukung kedua orang tuanya. Ia bahkan mendapatkan dukungan berupa materi dan tenaga.

Bisnis keluarga kecil tersebut terdiri lima orang. Dia, papa, mama, adik, suami dan Natalia sendiri. Semuanya membantu Natalia. Bisnis ini ternyata cuma bermodal Rp.500 ribuan loh. "Banyak kok yang tidak percaya modal (Rp.500 ribu) saya segitu," ceritanya kepada Money.id

Harga pandan kan Rp.6- 7 ribu perkilonya. Murah, jadi Natalia bisa dapat banyak bahan, dari bahan segitu menjadi 6- 7 buah tas. Hasil penjualan tersebut kemudian diputar kembali. Lambat laun usahanya semakin membesar sejalan modal digunakan. "Ya, sampai sekarang begini deh keterusan, haha," ucapnya senang.

Ia mengungkapkan omzetnya bisa mencapai Rp.100 juta. Bahkan nih sampai Rp.150 juta, tidak percaya memang bahkan dia sendiri masih tidak percaya. Dia sendiri tidak fokus uang. Bagianya keuntungan nomor sekian. Hal terpenting bagaimana kualitas bagus membuat pembeli tidak akan kecewa.

Ada kebanggan ketika orang mau membeli tas daun sampai Rp.150 ribu. Disana ada kebanggaan karena usahanya dihargai. "Intingnya harus gembira," semangatnya. Memang tampaknya seperti usaha anyaman lainnya. Namun kualitas bahan tidak bohong. Ditambah selera fasion pemiliknya sendiri menjadi andalan.

Dua tahun berjalan tetapi bisnisnya menghasilkan ratusan juta. Proses pembuatan juga dibukanya gamblang. Pertama dimulai pemilihan bahan terbaik. Kemudian diwarnai dengan dicelupkan ke warna dasar. Kemudian dia akan memastikan apakah warna merata atau tidak.

Barulah masuk ke tahap penganyaman dan pengeleman. Wanita berkacamata ini lalu melanjutkan prosenya ke desain. Biasanya tahap ini akan butuh banyak orang. Untuk pewarnaan dengan cat akrilik dikerjakan oleh ayah. Teknik decopage dan sulam dikerjakan dia dan ibunya. Ide desain datang begitu saja sesuai dengan mood -nya.

Tidak jarang dia membuat produk berlukis limited edition. Hanya dua tas yang memiliki desain sama. Ini juga tergantung mood -nya, terkadang mendadak. Penggunaan teknik decopage serta anyaman memberikan kreasi berbeda.

Warna menggunakan bahan alami bukan pewarna tekstil. Banyak sih meminta warna gold atau silver, maka dia harus mengecat dua kali nih. Dalam seminggu menghasilkan 300 buah dibantu 20 pengrajin sekarang. Ia menyebut masalah utamanya adalah soal cuaca.

Kalau datang musim hujan maka proses pengeringan lama. Proses produksi bisa diundur sampai dua minggu. Jika pengeringan tidak jadi maka diangin- anginkan. Alhasil produk tidak dipaksakan harus lah tersedia saat itu juga.

Biografi Pemilik Gerobak Lumpia Mas Miun

Profil Pengusaha Rizki Ananda 



Namanya pengusaha memiliki jalannya sendiri. Tidak semua datang dari kesengajaan. Dimana kebanyakan nih datang karena "keterpaksaan". Ada istilah karena kepepet menjadi pengusaha sukses. Inilah kisah dari pemilik usaha lumpia Mas Miun. Alkisah dia kesulita biaya kuliah maka berusaha menjadi solusinya.

Dulu, waktu Ospek mahasiswa baru Universitas Padjajaran, entah kenapa pemuda bernama Rizki ini malah dipanggilnya Miun. Pembawa acara memanggil si miun naik ke panggung. Sejak saat itulah teman- teman kampus terbiasa memanggilnya begitu. Ia pun mengamini nama Mas Miun menjadi ikonik bagi dirinya.

Identitas tersebut lantas menjelma menjadi brand. Sebuah nama produk kuliner menjual lumpia basah. Dia masuk Unpad karena beasiswa mahasiswa kurang mampu, Bidikmisi. Maka kesimpulan orang pastilah dia bukan anak orang mampu. Menjadi sosok mandiri sudah biasa mengurangi beban orang tua adalah tujuan.

Dia langsung nyeplos agar orang tua tidak kirim uang lagi. Alasannya beasiswa sudah termasuk uang kos dan biaya kuliah. Sayangnya diluar prediksi bahkan sampai dia telat bayar kuliah. Tiga bulan uang dari beasiswa malah tidak cair. Pusing Rizki menghadapai masalah didepannya seketika.

Bisnis basah

Kepusingan tersebut membawa dilema besar. Apakah akan memberi tahu, atau tidak masalah yang dihadapi pemuda kelahiran 15 Oktober 1991 ini. Awalnya dia sangat senang karena dapat beasiswa. Tetapi kini, ia malah kepusingan karena tidak berjalan lancar.

Padahal setiap harinya ada saja pengeluaran sebagai mahasiswa. Disisi lain dia sadar bahwa ayahnya hanya seorang buruh dan ibunya cuma ibu rumah tangga biasa asal Sumedang. Ibunya terkadang ikutan kerja keras agar menambah biaya lagi.

Dia berpikir tidak mau membebani. Dia yang kalau di rumah akrab dipanggil Nanda, kemudian mendadak, nekat memilih membuka usaha sendiri. Dia iseng jualan gorengan ibu kos. Nanda menjajakan gorengan ke penjuru kampus. Lumayan lama dia jualan gorengan milik ibu kos.

Ketika jualan gorengan muncul ide tentang lumpia basah. Ide terbersit karena di Jatinangor makanan lumpia basah tengah digemari mahasiswa. Pangsa pasar dipikirnya masih belum sesak, terutama di daerah bernama Jatinangor. Seketika dia belajar bagaimana membuat lumpia basah lewat You Tube dan Google.

Agar beda dibanding lumpai lain: Nanda meracik lumpia basah aneka rasa. Dia membulatkan tekat menjadi pengusaha lumpia basah. Dana dibutuhkan kira- kira Rp.6 jutaan, digunakan guna membeli gerobak, bahan baku, aneka peralatan. Tetapi dia tidak memiliki dana cukup, yah jadinya memakai uang seadanya.

Dia memberanikan diri meminjam uang ke teman Rp.2 jutaan. Ditambah uang tabungan dari berjualan aneka gorengan Rp.2 juta. Kebutuhan kurang modalnya Rp.2 jutaan lagi. Ia nekat menego kepada pemilik gerobak agar dikurangi. Beruntung dia mendapatkan diskon dan mulai lah perjalanan seorang mahasiswa jualan.

Sialnya, ketika awal merintis usaha, eh... malahan dia bangkrut total! Hidup sebagai pengusaha sekaligus jadi mehasiswa susah ya. Telisik ternyata tidak cuma karena waktu luang. Rasa lumpia basah menurut pembeli tidak terlalu enak. Tekanan menghampirinya menguji mentalnya sebagai pengusaha agar sukses kelak.

Dia langsung banting stir menjadi pengusaha pakaian. Ia meminta waktu kepada temannya. Dari berjualan itu dia mendapatkan uang Rp.7 juta. Uang Rp.5 juta dijadikan modal kembali berbisnis. Sementara uang Rp2 juta dikembalikan ke temannya. Kemudian dia mulai mengevaluasi kesalahan dalam lumpia basah miliknya.

Bisnis pantang mundur

Dia mulai meracik bumbu yang cocok di lidah. Eksperimen kembali dilakukan dan akhirnya membuahkan hasil. Lumpia basah miliknya mulai mendapatkan pembeli. Lambat tetapi pasti, usahanya berkembang semua berkat lumpia basah seafood, sosis, spesial, baso,dsb.

Dari sebelumnya hanya memiliki satu gerobak. Dia memiliki 6 gerobak lain tersebar di Jatinangor. Promosi mulut ke mulut menjadi andalan Nanda. Tidak cukup, dia juga merambah dunia sosial media, melalu alat berupa aplikasi chatting merambah sampai ke Bandung. Dia pun mendapatkan tantangan dari lumpia lokal disana.

Namun rasanya berbeda memberikan varian. Justru menjadi kuliner favorit mahasiswa dan masyarakat. Ia membuat nama lumpia Mas Miun bergema di Bandung. Target memasuki kawasan pendidikan terbukti ampuh. Ia belajar dari pengalaman ketika berjualan di Jatinangor.

Salah satu gerobak miliknya terparkir di kawasan Fakultas Pertanian Unpad. Ia mengaku pendapatan dari usahanya per- 7 gerai pribadi mencapai Rp.40- 85 juta per- bulan. Kemudian ketika memutuskan membuka kemitraan, dari berjualan bumbu saja sudah untung Rp.20 jutaan.

"Saya buka pas libur panjang, jalan 3 bulan saya bangkrut karena modal banyak dibuat untuk membayar operator," jelasnya, meski sudah membuka cabang, tetap kegagalan tetap menghantui dan menguji mentalnya sebagai pengusaha.

Memiliki usaha berbasi waralaba bukan sembarangan. Dia terus belajar fokus mengembangkan manajemen sendiri. Yakni usaha berbasis kemitraan binaan. Dia juga bekerja sama dengan petani toge asal Cileles. Dia mendapatkan kiriman toge sampai 25kg setiap hari.

Selain sibuk menjadi pengusaha muda, mahasiswa Teknik dan Manajemen Industri Pertanian, Universitas Padjajaran ini juga sibuk menjadi pembicara, motivator, pelatih wirausaha. Ia juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa berbentuk modal usaha. Program Jika Aku Menjadi Mas Miun sudah memiliki 30 kemitraan usaha.

Dari mereka pengusaha keripik, fashion, atau bisnis online binaanya. Uang Rp.300 ribu sampai Rp.3 jutaan diberikan sebagai modal usaha. Total hingga Rp.20 juta digelontorkan membantu pengusaha lain. Dia juga tidak memberikan sebagai pinjaman. Tetapi modal berputar buat dijadikan kesempatan orang lain berusaha.

Dulunya Pengangguran Kemudian Kaya Raya Jualan Batik

Profil Pengusaha Sukses Suntiah 


 
Pernah menjadi pengangguran kini pengusaha kaya. Inilah kisah perempuan bernama Suntiah. Berkat sukses booming batik menjadi warisan budaya. Wanita 39 tahun ini memiliki omzet mencapai ratusan juta, bahkan sampai miliaran rupiah. Alkisah dia memulai berbisnis cuma berjualan batik keliling kampung.

Dia terlahir dari keluarga sederhana. Hidupnya penuh perjuangan berjualan sendiri. Suntiah berjualan kain batik berkeliling kampung. Berkat kreatifitas, tidak cuma berjualan, kini dia dikenal sebagai seniman batik lewat brandnya Royyan Batik. 

"Kalau keuntungan bersih Rp.137 juta," imbuhnya. Warga Desa Tegalrejo, Kec. Merakurak, Kabupaten Tuban ini juga mengajarkan anak- anak membatik.

Dari arahan langsung dirinya, diharapkan kelak mewarnai wirausaha Indonesia. Ketika anak- anak masuk ke tempatnya akan langsung disambut deru mesin jahit. Tidak cuma tempat produksi, juga terpampang koleksi karya Suntiah yang dijejerkan. Galeri kecil- kecilan yang baik berisi batik dan tumpukan kain putih siap.

Bisnis kecilan


Tahun 1988, dia memutuskan berhenti bekerja, dulunya dia bekerja sebagai karyawan pabrik di kawasan kota Sidoarjo. Dia menjadi pengangguran. Bingung akan nasibnya dirinya ditegur. Sang mertua mendatangi Suntiah dan meletakan setumpuk plastik berisi kain batik siap pakai.

Waktu itu bulan puasa dan dia mulai berjualan. "...jualan pakaian dari mertua keliling kampung," kenang dia. Tidak jarang wanita kelahiran 1 Juli 1974 ini sampai ke kampung sebelah.

Mau gimana lagi karena suami juga pengangguran. Posisi kala itu kepepet keduanya tidak punya pekerjaan. Dari perjalanan berjualan kok ternyata lumayan laris. Sambil mengobrol terceletuk keinginan belajar batik ke suami. Suntiah memang sama sekali tidak dapat membatik waktu itu.

Uang dihasilkan memang tidak banyak berjualan pakaian. Dari uang jualan dijadikan modal kembali ke baju batik lain. Inilah mendorong Suntiah ingin membuat batik sendiri. Cara menjual lewat kredit baju memang dirasanya cepat menarik perhatian masyarakat, meski untung sedikit.

Ia lantas belajar ke pembatik profesional. Uang Rp.300 ribu dijadikan mahar buat belajar membatik. Angka segitu terbilang besar buat keluarganya. Tahun 2000 -an mereka memang hidup serba pas- pasan. Namun semangat belajar dan passion lebih besar dibanding harga segitu.

Sempat berpikir mau tidak jadi. Berpikir lebih baik dibelikan baju jadi buat dijual kembali. "Ilmu itu mahal, dan pasti akan berguna kelak," Sutiah menyemangati diri. Suami lah yang mengatakan kalimat tersebut. Dan akhirnya dia bersemangat belajar membuat batik sendiri.

Dia belajar dari pembatik asal desa sebelah. Cuma butuh waktu seminggu dirinya sudah mahir. Dia sudah bisa membuat batik sampai jadi. Langsung diparktikan membuat 12 potong kaos batik. Kemudian  dijualnya seharga Rp.12 ribu per- buah. Dia menawarkan barangnya ke penjual di kawasan makan Sunan Bonang.

Dia dapat uang sampai Rp.60 ribu. Pokoknya tidak ada rasa malu ketika menawarkan. Suntiah sudah sadar betul konsekuensi menjadi pengusaha. Total modal dikeluarkan Rp.300 ribu dan cuma menghasilkan Rp.60 ribu. Berjalan mulus pesanan dari Sunan Bonang membuatnya sampai kesulitan mencari bahan kaos.

Diketahui dulu tidak ada satupun pabrik pembuat bahan kaos. Agar dapat bahan kaos polos, para pembatik harus menyeberang ke daerah Babat, Lamongan. Itupun hanya seorang penjahit biasa, yang sudah menjadi langganan para pengusaha konveksi besar. Jadi yah Suntiah harus mengantri agar dilayani dibuatkan kaos polos.

Menunggu sampai sore terkadang dia, yang ditemani suami, tidak mendapatkan bahan kaos polos. Penjahit itu mengesampingkan pelanggan baru macam Suntiah. Ketika sudah buntu Suntiah memutuskan membeli mesin jahit sendiri. Dia mendapatkan arisan dan dibelikan mesin jahit dari Surabaya.

Bisnis lebih besar


Dari sekedar membuat kaos batik, usaha Suntiah merambah konveksi batik. Berbekal uang seadanya dibeli satu mesin jahit. Karena menjahit urasan berbeda dengan membatik. Maka Suntiah mengajak penjahit buat ikut bergabung dengan bisnisnya. Namun para penjahit sinis mendengar konsep bisnis Suntiah jelaskan.

Mereka ragu akan kemampuan wanita berjilbab ini. Alhasil, dia harus bekerja sendiri, bersyukur tetangganya ada yang mau mengajarkan menjahit gratis. Dimulailah dia berproduksi aneka konveksi batik sendirian. Batik dibuatnya dan dijualnya sendiri.

"Pokoknya saya punya prinsip itu, kalau ingin berhasil jangan punya rasa malu," tips Suntiah.

Lambat laun nama usahanya mulai dikenal. Pesanan batik makin banyak berdatangan. Suntiah jadi semakin serius mengerjakan pesanan. Beberapa kali suami memarahi dia karena terlalu serius. Dia bekerja sampai- sampai lupa waktu. Bekerjanya sampai larut malam kurang istirahat.

Namanya pengusaha pengen usahanya semakin berkembang. Iseng Suntiah melakukan eksplorasi dalam hal bahan batik. Dibelinya bahan kain berbeda dalam jumlah banyak. Sayang, tahun 2003 itu, malah dia jadi gulung tikar lantaran kainnya tidak dapat dibatik. Kain jenis baru tersebut tidak cocok dibuat batik katanya.

Dia ternyata tergiur harga murah. Memang kelihatan bagus tetapi ternyata malah bikin susah. Modal usaha ia keluarkan langsung hangus tidak bersisa.

Tidak ada pengusaha tanpa masalah. Itulah kenapa mental baja dibutuhkan termasuk dalam dirinya. Suntiah memang memiliki mental baja buat bekerja. Tekatnya merintis bisnis kembali dari awal. Lalu dia menyamblon kain yang tidak bagus itu seadanya. Kemudian dijualnya semurah mungkin agar cepat laku.

Masuk tahun 2007, dia nekat mengajukan modal usaha, kepada PT. Semen Gresik atau Semen Indonesia sekarang, yang mana nilai modal usaha tidak dijelaskan. Berkat itulah usahanya dijalankan kembali dengan tekat membenahi semua. "Sempat akan gulung tikar tahun 2003," imbuhnya.

Dia mulai mengikuti pameran dari perusahaan tersebut. Jaringan bisnis Suntiah dibangun sampai keluar Kota Tuban. Disanalah dia mulai dikenal sampai ke Jakarta, Surabaya, Bandung, Kalimantan. Inilah batik yang diberinya nama batik Royyan Batik. Dan omzetnya kini sudah mencapai angka Rp.1 miliaran lebih.

Tidak berhenti keinginan besar Suntiah adalah batik khas Tuban. Untuk mengembangkan budaya membatik, ia mengajarkan cara membatik ke banyak anak muda. Beberapa sekolah sudah mengirimkan anak didiknya buat belajar membatik. Maksud hatinya melakukan regenerasi pembatik Tuban agar tetap bertahan.

SMK Sukses Budidaya Pepaya Calisa Terpadu

Profil Pengusaha Muhammad Tono 



Menjadi pengusaha tidak berpatokan dengan latar pendidikan. Siapa saja, berlatar pendidikan setinggi mana saja, bisa menjadi pengusaha sukses kelak. Perlu dibutuhkan ialah fokus dengan tujuan. Bob Sadino telah membuktikan hal tersebut lewat dirinya.

Contoh lah Muhammad Tono seorang lulusan SMK. Jangan diliat latar pendidikannya, tetapi usaha pepaya miliki Tono maju. Pola pikir dikembangan bisnis Tono unik. Dia menganalisa bahwa Tuban kekurangan buah pepaya. Stoknya yang tipis sementara permintaan besar dari masyarakat.

Jadi tidak salah jika dia memilih pepaya Calina IPB-9. Ia mengembangkan bibit. Budidaya buah pepaya ini menghasikan buah pilihan. Untuk satu toko buah paling tidak dibutuhkan 20 buah pepaya. Di Tuban sendiri banyak sekali toko buah sampai puluhan.

"Saya berpikir untuk mengembangkan budidaya pepaya Calina," jelasnya. Dimana dikesempatan bersama Detik.com menyebutkan omzet sampai Rp.11 jutaan.

"...itu belum dikurangi gaji pegawai," celetuknya.

Pemuda kelahiran Julia 1991 ini memang tahan banting bertani. Tidak cuma jualan buah juga berjualan bibit pepaya. Ia setidaknya mampu meraih Rp.10 jutaan per- bulan. Usaha dibawah bendera CV. Negeri Hijau terus mengembangkan pepayanya.

Bisnis agrari


Belum genap setahun bisnisnya sudah lumayan. Ada dua tempat usaha dijalankan Tono. Pertama ada pusat pembibitan pepaya di Kelurahan Mondakan. Kemudian perkebunan pepaya ada di kawasan Desa Tuwiri. Ia mengatakan tempat pembibitan kecil tetapi menghasilkan empat ribu bibit.

Kebun pepaya Tono memiliki seratus pohon. Karena tempatnya kecil Tono tidak memaksa. Ia mengakali dengan memberikan konsep kerja sama. Yakni masyarakat mitra menjadi pemilik tanah, nanti bibitnya beli dari Tono, setelah berbuah maka akan dibeli Tono.

Ia sendiri tidak memaksa kok. Kalau sudah bisa memasarkan sendiri tidak masalah. Setiap dari mitra, Tono biasanya membeli dikisaran harga Rp.3.500 per- kg. Meski berbekal pendidikan SMK, Tono tidak mau kehilangan akal, langsung saja mencari reverensi dari mana saja cara membudidaya pepaya Calina.

Kelebihan pepaya Calina justru dari kecilnya. Karena buah pepaya cenderungnya tidak habis. Disisi lainnya buah Calina lebih manis. Soal produktifitasnya juga termasuk tinggi. Dalam enam bulan pertama sudah siap berbuah. Kalau sudah begitu buah dapat berbuah tiap 1 minggu. Seminggunya cuma boleh diambil sebuah saja ya.

Kenapa tidak memilih buah impor. Tono menjelaskan bermain buah lokal justru jarang pesaing. Yang kamu butuhkan hanyalah bagaimana membaca kebutuhan pasar. Tono menyebut Tuban merupakan daerah sejuk. Cocok buat menanam buah pepaya dan ternyata buah pepaya cukup digemari di masyarakat.

Mitra petani Tono mencapai 35 orang tersebar di wilayah Tuban. Total laha dikelola mitranya mencapai 13 hektar. Satu hektarnya dia menyebut ditanami 1.300 pohon. Jarak antar pohonnya 2 x 2,5 meter. Lalu ia mengingatkan pepaya tidak berkayu jadi jangan terendam air.

Meski tengah sukses Tono tidak berhenti. Jika dia mendapatkan kesempatan belajar. Maka Tono akan siap mengerjakan termasuk pelatihan wirausaha PT. Semen Gresik. Dapat pinjaman modal sampai 20 juta. Udah begitu Tono mendapatkan pelatihan kewirausahaan Wirausaha Muda Kokoh.

Sebagai pengusaha muda Tono siapkan ekspansi. Dia mengaku beternak kambing dan kotorannya. Kotoran dapat dijadikan pupuk buat pepaya Calina miliknya. Dalam sehari mengantungi 10 kantung kotoran. Ini jadi cara efekif mengurangi biaya budidaya pepaya Calina Tono.

Berawal dari prihatin dengan keadaan petani peternak Indonesia. Mereka punya ternak tetapi tanah mereka tidak terurus terawat. Padahal menurutnya peternakan dan pertanian dapat digabungkan. Tahun 2010, sejak lulus Wirausaha Muda Kokoh, uangnya digunakan juga buat membuka usaha ternak kambing.

Usaha dimulai dari 13 ekor kambing beranak pinak. Pola bagi hasil digunakan Tono kembali. Berbekal uang serta kepercayaan masyarakat sudah memiliki 400 ekor. Kambing titipan tersebut sudah termasuk 30 ekor sapi di kandang. Konsep pertanian terpadu menjadi andalan pengusaha muda 22 tahun tersebut.

Air kencing dan kotoran dijadikan pupuk. Ia kemudian menanam terong di lahan 1.000 meter. Sementara pepaya Calina mencapai luas tanah 1,5 hektar. Kambing akan dijual setelah gemuk setelah tiga bulan. Tono mengantungi Rp.150 ribu sampai Rp.200.000 per- ekor. Dia dibantu tujuh orang karyawan warga setempat.

Karyawan Tono mendapatkan Rp.35 ribu per- hari dibayar perbulan. Untuk petani yang lahannya digunakan juga sudah termasuk uang sewa lahan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba