Jualan Rendang Jengkol Ramadhan Makin Menguntungkan

Profil Pengusaha Margaretha Chrisna Sari 


 
Tidak mudah bagi Margaretha Chrisna Sari berbisnis. Pengalamannya berjualan fasion online panjang tidak sampai membuat sukses. Hingga dia memutuskan banting stir menjadi pengusaha rendang. Namanya dikenal sebagai pemilik rendang Den Lapeh. Kisah Erita perlu kamu tau dimulai dari hobi berjualan pakaian online.

Moment Lebaran memang menguntungkan. Mangkanya dia memilih berbisnis pakaian. Kan ketika Idul Fitri permintaan pakaian naik tinggi. Dia bercerita pengalaman berbisnis online. Masa panen bagi penjual online tetapi kendala tentu besar. Salah satunya bagaimana agar tidak kwalahan menyetok pakaian buat dijual nanti.

Kalender panen usaha menjadi solusi. Erita menjelaskan fungsinya yaitu bagaimana merencanakan matang penjualan khusus di Idul Fitri. Semacam "to do list" mengani hal apa dibutuhkan pengusaha. Dia sendiri biasa membuat dan menerapkan sistem empat tahap:

Tahap pertama, empat bulan sebelum Lebaran, menyiapkan modal buat membeli barang dan juga mulai aktif mengamati trend pasar. Sumber modal buat kamu pengusaha musiman. Cobalah untuk menjual aset ataupun menggadai, menawarkan investasi ke investor, atau juga meminjam ke keluarga buat dipakai dulu.

Bagaimana mencari tau produk yang sedang trend. Ia menyarankan datang ke supermarket atau pasar. Aktif lah mengamati produk ditawarkan. Kalau Erita, dia lebih memilih berkunjung ke Tanah Abang, menjadi satu sumber inspirasi mencari barang.

Erita menyarankan sekaligus membeli barang. Pada tahap kedua, pastikan bahwa sudah aktif kumpulkan barang disimpan sebagai persediaan. Ia mengingatkan biasanya produk fasion akan diborong dari suplier, setidaknya 3 bulan sebelum Ramadhan. Ingat persediaan banyak akan meningkatkan pendapatan kamu.

Beda jualan makanan, kalau jualan produk fasion, kamu bisa menyimpan produk kamu dulu. Kalau tidak laku kamu bisa menyimpan dijual tahun depan. Ia mengingatkan juga jangan salah membeli barang. Jangan salah memilih barang untuk dijual. Pastikan barang kamu jual mengikuti trend dan berkualitas bagus.

Tahap ketiga kamu mengevaluasi stok dua bulan sebelum Ramadhan. Biasanya konsumen pada 2 bulan awal sudah mencari barang. Maka omzet kamu harusnya sudah meningkat berangsur. Jika persediaan meningkat dan dirasa stok tidak mencukupi, baiknya kamu bisa tambah.

Mangget konsinyasi atau mencari suplier tambahan. Carilah alternatif sedini mungkin mengatasi masalah. Dia lalu melanjutkan tahap terakhir. Yakni sebulan sebelum Ramadhan, baiknya pengusaha makin rajin dalam hal mengawasi stok. Pengusaha harus tanggap jika persediaan mulai menipis.

Ia mengingatkan mengambil stok baru berarti barang tidak laku. Ingatlah memastikan bahwa produknya masih bagus. Erita menambahkan agar bisa makin laris: Bukalah toko lebih awal dan tutup lebih akhir. Atau memberikan diskon atau menggelar event khusus.

Pastikan produk dijual habis bagaimanapun usahanya. Kalau masa panen selesai, pengusaha seperti kita bisa meraup omzet berlipat dibanding hari biasa. Kalau sudah kumpul uang perhatikan tiga langkah bijak soal modal berikut: 30% dibelikan aset tetap, 60% gunakan sebagai modal, dan 10% barulah dinikmati sendiri.

Dimulai dua tahun belakangan, pengusaha berhijab ini memang memiliki hobi jualan. Tidak salah jika tiba- tiba dia balik arah ke bisnis rendang. Dia berkisah bahwa bisnis rendang terinspirasi Lebaran. Soal resep dia dapat dari nenek dan yakin akan rasanya mampu menarik perhatian.

"Saya pasarkan melalui online shop saja," dia lanjutkan. Walaupun dia membuat manual penghasilan mampu mencapai diharapkan. Kalau masuk bulan puasa maka permintaan meningkat tajam.

Tidak cuma menjual daging tetapi termasuk menjual jengkol. Erita mengolah tidak cuma jengkol, termasuk daging ayam, paru, apapun yang dapat dia buat menjadi rendang.Paling digemari rendang daging sapi disusul rendang paru. Kemudian disusul adalah rendang jengkol dan rendang ayam.

Bulan Ramadhan, dia dibantu tiga karyawan mampu memproduksi 500 pak. Rendang siap saja yang diberinya nama Rendang Den Lapeh. Rendang siap saji dijual 175gram dan 350gram. Dijual Rp.45 ribu sampai Rp.89 ribu.

Penjualan menurut warga Cibinong ini sudah sampai ke Papua. Dia juga pernah mengirim sampai ke negara Inggris, Korea Selatan, Balanda. Biasanya orang asing sukanya rendang daging. Kalau orang Belanda punya ke khususan ke jengkol. Bahkan rendang bikinannya sampai ke Gunung Mount Everest, Himalaya, Nepal.

Kisahnya ada pembeli yang membeli dan ternyata dibawa ke sana. Memang rendang terkenal awet begitu juga rendang miliknya kuat selama sebulan. Prosesnya tidak sederhana juga. Proses penggilingan bumbu dan santan menghabiskan sembilan jam. Kemudian dikemas mesin vakum agar tahan lama tanpa pengawet.

Waktu Ramadhan sampai Lebaran, dia kebanjiran orderan rendang. Omzetnya mencapai Rp.100 juta loh. Ia manambahkan bahkan Walikota Depok, Idris Abdul Shomad, menikmati rendang bikinan Erita terutama rasa pedasnya.

Pusat Pembuatan Pupuk Organik Sederhana Sleman

Profil Pengusaha Haryo Muyono.dkk 



Kotoran sapi dapat dijadikan pupuk. Fakta sederhana mampu mengangkat harkat peternak lokal. Contoh kisah kelompok ternak bernama Sedyo Makmur asal Dusun Ngemplak I, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman. Mereka yang tidak cuma beternak sapi sekarang dikenal berjualan pupuk organik.

Secara mandiri mereka membangun usaha aneka macam. Semua berkat sosok Pak Haryo Muyono, yang mana menjadi penggagas aneka usaha. Berkat kerja sama pintar mereka tumbuh signifikan. Dari memelihara cuma 13 ekor menjadi 143 ekor dalam kandang komunal seluas 2.600 meter persegi.

Saking banyaknya usaha mereka terbaru untung. Yakni usaha pembuatan pupuk berkilo- kilo. Kalau tidak ia akan membersihkan kotoran yang per- sapinya menghasilkan 25kg sehari. Kalau dulu mereka akan langsung kirim ke petani buat dibikin sendiri, sekarang tidak.

Sejak 2011, usaha mereka termasuk mengolah pupuk, kalau mentah dijadikan siap dipasarkan. Dikomandoi oleh Wiharjo membuat pupuk lewat komposer. Pada area seluas 14x5 meter kotoran sapi diolah menjadi pupuk kemasan. Mereka meyakinkan produk mereka sama kualitasnya dengan hasil pabrikan.

"Setiap kilo kami jual Rp.600," ujar Harno, sebagai penanggung jawab produksi pupuk Kelompok Ternak Sedyo Makmur.

Selain usaha tambahan juga berguna mengurangi limbah. Memang sudah dikenal lama usaha peternakan memang menghasilkan limbah tidak tertangani. Haryo.dkk menjual selisih seratus rupiah dari pupuk milik pemerintah. Alhasil mereka mendapatkan banyak pesanan pupuk sampai kwalahan ketika musim tanam.

Karena banyaknya pesanan, dan lahan pengolahan dan mesin masih terbatas, maka Harno.dkk tak jarang mengirim mentahan karean takut mengecewakan. Pupuk diolah 40 persen dulu lantas dikirim ke petani agar diolah di sawah. Soal pengiriman, petani akan datang sendiri ke pusatnya, belum ada marketing khusus.

Pembuatan pupuk kandang cukup kapur, ketes tebu, serta bahan pengurai. Per- tahun mereka memproduksi selama tiga kali. Mereka fokus berproduksi ketika musim tanam. Kan petani tidak setiap waktu butuh pupuk kandang. Hasil penjualan akan dibagi buat kelompok sebesar 80:2.

"Dalam sebulan kami memproduksi 2,3 ton pupuk organik," jelas Harno. Untuk proses pembuatan meski terlihat mudah tetapi butuh waktu.

Bisnis bersama


Butuh waktu sampai pengurai bereaksi. Prosesnya tergantung cuaca juga loh. Tiga pekan dibutuhkan dalam proses penguraian, jika tidak musim hujan. Kalau musim hujan, ia mengatakan mebutuhkan waktu sampai enam pekan. Kesuksesan ini berkat penyuluhan dan pelatihan Dinas Pertanian setempat pada 2011 silam.

Berawal pelatihan tersebut kelompok peternak ini mantap. Mereka mencoba sendiri memproduksi pupuk organik. Sayangnya pembuatan pupuk terkendala mahalnya peralatan produksi.

Atas saran pihak Dina, Harno bersama kawan- kawan, mengajukan proposal ke pusat dan ternyata mereka kabulkan. Mereka memberikan bantuan alat penggiling, kandang komunal, rumah produksi, serta motor roda tiga. Bantuan diberikan pemerintah senilai Rp.340 juta buat memproduksi pupuk organik.

Pertama pembuatan dia mencampur kotoran dengan pengurai, tetes tebu, kapur. Campuran tersebut maka didiamkan beberapa hari sampai mengurai. Proses penguraian juga harus dibolak- balik. Sekali seminggu kalau musim kering. Dua minggu sekali kalau musim hujan tiba.

"Untuk pembalikan ini dilakukan tiga kali," imbuhnya.

Sudah terurai maka akan digiling kemudian dikemas. Buat lebih bagus dilakukan pengayakan agar tidak ada gumpalan. Namun karena dia belum memiliki mesin pengayak, yah, terpaksa bisa langsung dikemas agar cepat. Walau tekstur bagus dibutuhkan waktu tidak kurang lima jam.

Sebulan mereka mampu mengolah 2,3 ton pupuk. Mereka juga menjual di toko pertanian. Atau petani yang terdekat dapat membeli langsung ke mereka. Total sapi 143 ekor berbagai jenis termasuk limusin, metal, peranakan ongle.

Semuanya merupakan milik dari 38 anggot kelompok tersebut. Dari segitu cuma 60% nya dijadikan pupuk sisanya dijadikan langsung sebagai pupuk kandang. Hasil penjualan dibagi 20% untuk anggota pengembang kelompok tani dan 80% buat pemilik sapi. Hasilnya berhasil menunjang penghasilan masing- masing kepala.

Harno sendiri dibantu Wiharjono, pensiunan guru yang banting stir menjadi peternak sapi. Demi uang pensiun mereka banting tulang bekerja keras. Menurutnya merawat sapi seperti merawat siswa. Kalau mereka lapar ya mereka minta makan, saat kenyang yah kenyang. Kadang mereka suka rewel butuh penanganan khusus sendiri.

Wiharjono sendiri juga membuka usaha penggemukan sapi. Sapi dua tahun dibeli Rp.15 juta, digemukan olehnya sampai 4- 6 bulan. Nilai bertambah sekitar Rp.1 jutaan atau nilai jual sampai Rp.20 jutaan. Lalu dia potong bermodal biaya produksi Rp.400 ribu.

"Ibaratnya saya sekarang digaji oleh sapi," candanya. Selain usaha pembuatan pupuk organik. Termasuk mereka mengerjakan usaha pembuatan pupuk cair dan biogas.

Cuci Sepatu Semarang Wardiman Unik Menghasilkan

Profil Pengusaha Didik Kurniawan Toyiban



Buka usaha laundry sudah biasa. Bagaimana jika membuka usaha laundry sepatu, unik kan. Wardiman lantas berkisah bahwa semua bermula dari hobi sepatu. Pria bernama lengkap Didik Kurniawan Toyiban atau suka dipanggil Wardiman mengaku semua iseng awalnya.

Dia menyukai sepatu aneka bentuk, warna, dan bahan. Wardiman bersama teman, yang bernama Yohanes Awie Ananta, atau Awie merupakan penggemar sepatu apapun mereknya. Mereka sendiri merupakan warga Kecamatan Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah. Kedua sahabat ini lantas membuka usaha cuci sepatu.

Mereka merasa kesulit merawat aneka sepatu itu. Yah akhirnya sepatu- sepatu itu bertumpuk tidak terpakai karena nanti takut rusak. Mereka rasa semua orang mengalami pengalaman tersebut. Munculah ide mengenai bagaimana membuka usaha mencucikan sepatu.

Tanggal 25 Desember 2014, kedua teman ini sepakat membuka usaha bersama. Dimana mereka memberi nama usaha mereka Titik Shoes Spa. Keduanya menyewa tempat dan membuka layanan buat aneka merek sepatu dan bahan, mulai berbahan kulit Suede, Nubuck, ataupun kulit lainnya.

Sepeti namanya mereka memberikan perawatan spa untuk sepatu. Mereka menerima segala macam sepatu. Tetapi kebanyakan merupakan sepatu mahal yang sukar dicuci. "Dirawat agar tetap kinclong," imbuhnya. Ia sendiri cukup percaya diri merawat sepatu berhargaan jutaan rupiah.

Bisnis nekat


Menurut Suaramerdeka.com, Wardiman bukanlah pengangguran, dia pernah bekerja di sebuah tv lokal. Untuk menjadi pengusaha muda rela resign meski pekerjaannya telah mapan. Keisengan tersebut ternyata punya prospek cerah. Ketidak sengajaan berbisnis membawa pria 32 tahun ini mantap buat berwirausaha.

Pria kelahiran Semarang, 3 Maret 1985, tidak takut ditengah menjamurnya usaha sejenis. Ia meyakini usaha Titik Shoes Spa masih akan berkembang.

Semua berawal dari iseng, cerita- cerita sambil nongkrong bareng temen. Nyeletuk Wardiman bilang mau buka usaha jasa membersihkan sepatu. Kebetulah seorang teman asal Yogyakarta yang mempunyai hobi sama. Bedanya temannya ini jago membuat bahan pembersih sepatu sendiri.

"Setelah dikasih cleaner, aku mikir ini kayaknya kalu dijual terus usaha buka jasa laundry sepatu boleh juga nih," ceritanya. "Bismillah, buka saja."

Nama Titik Shoes Spa sendiri hasil becandaan teman. Mereka memberi saran banyak, termasuk soal nama usaha yang akan dijalankan Wardiman. Nama Titik Shoes Spa ternyata plesetan dari nama Titik Puspa. Tapi kalau dijabarkan kembali nama Titik berarti berhenti. Sementara Shoe itu sepatu, dan Spa itu yah tempat perawatan.

Jadilah artinya cukup di tempat itu. Orang akan berhenti buat merawat sepatunya. Kira- kira itu kesimpulan Wardiman diiringi derai tawa ketika diwawancarai. "Seperti itu kira- kira penjabaran garingnya," selorohnya.

Padahal meski dikenal penghobi sepatu. Mereka tidak seahli dibayangkan orang. Keduanya memulai semua dari nol. Pengetahuan perawatan sepatu mereka dibilang minim. Pernah awal- awal ada orang nyuci sepatu ke tempatnya. Eh sepatu berwarna putih polos dicuci malah menjadi kuning.

Karena belum ada SOP jadilah berantakan. Dia ingat ketika mencuci sepatu sambil ngerokok. "Eh kena rokok jadi bolong," kenang Wardiman lagi. Namanya usaha baru pertama kali, maka ketika mereka telah melakukan kesalahan ya mereka akhirnya rela hati mengganti rugi.

Pokoknya sebagai pengusaha jujurlah melayani. Bilang lah keadaan apa adanya meski pahit. Komunikasikan masalah terjadi meski makian menanti. Ketika mereka meminta ganti rugi ya diganti. Jika mereka meminta layanan cepat maka tepat waktu lah melayani.

Bukan bisnis pertama


Dulu dia mengaku pernah membuka usaha clothing. Jatuh bangun dibuatnya mengerjakan bisnis tersebut. Tapi dia bersyukur usahanya dapat digunakan makan. Wardiman mencoba menikmati apapun usaha. Dan ia selalu berprinsip usaha lurus meski jatuh bangun.

Seorang teman mengajari keduanya mencuci sepatu. Mereka sendiri tidak punya sandaran bagaiman cara mencuci sepatu benar. Informasi tambahan didapat dari internet serta segala sumber diperlukan. Sumber lain seperti halnya trial and error mereka kerjakan ketika berbisnis tersebut.

Dulu tidak tau bahan ini bagaimana. Terus akhirnya tau kalau bahan seperti ini tidak bisa diapakan. Semua itu datang dari pengalaman mereka sendiri. Berjalan waktu, mereka membeli sepatu sendiri, bukan buat dipakai tetapi bereksperimen bagaimana baiknya merawat sepatu sejenis.

Kalau rusak yah tidak masalah. Hal terpenting mereka mendapatkan pengetahuan yang mungkin tidak ada di buku teks. Toh itu kan sepatu mereka sendiri. Cara promosi terbaik menurut mereka. Dia mengaku memulai dari teman- teman mereka dahulu. Datangnya pelanggan satu- dua mereka tanggapi penuh syukur dan keseriusan.

Banyak pelanggan puas maka nama mereka tersebar lewat mulut. Dari mulut ke mulut banyak pelanggan mau datang kembali membawa orang. Kini sudah 20 orang pelanggan tetap menyerahkan sepatu mereka ke tempat mereka. 

Mereka sendiri kebanyakan karyawan kantor yang padat jadwal jadinya susah cuci sendiri. Apalagi jika sepatu mereka mahal butuh perawatan khusus intens. Lalu harga dipatok Wardiman senilai Rp.40 ribu hingga Rp.70 ribu. Awie menjelaskan mereka memiliki dua layanan utama: Quick Clean dan juga Deep Clean.

Untuk Quick Clean artinya memberishkan cepat. Awie menyebut cuci cepat batas waktu mencucinya sampai 20 menit. Deep Clean lebih fokus membersihkan sebersih mungkin. Layanan kedua yaitu benar- benar detail agar sepatu lebih awet dan bersih karena cairannya khusus.

"Cairan tidak mengandung detergen dan memiliki kandungan melembabkan bahan sepatu," tutur dia.

Awie ingin terus mengembangkan usaha mereka. Tujuan mereka selanjutnya adalah bagaimana memperbaiki sepatu rusak. Dia ingin mengembangkan repaint atau cat ulang. Bahkan mereka maunya mencat ulang dan memperbaiki langsung ke tempat pelanggan.

Bisnis masa depan


Baginya berbisni sekarang merupakan pelajaran. Bahwa ternyata susah mencari uang sendiri. Wardiman akui hal tersebut menjadi tantangan. Baginya kepercayaan konsumen merupakan barang mahal. Menjaga bentuk komunikasi kepada pelanggan merupakan kewajiban pengusaha.

Tidak boleh tutup kuping. Kalau mau menjaga kualitas kita harus mendengar. Insha Allah, menurutnya semua akan wangi, bersih, dan tepat waktu hasilnya seperti sepatu cuci mereka. Mereka menggunakan bahan yang alami (herbal) ketika membersihkan sepatu. Karena menurutnya pakai detergen malah kuning dan kulit jadi keras.

"...kita juga pakai deodorize. Jadi kalau sepatunya bau tuh bisa ilang," imbuhnya. Walau banyak kompetitor malah justru semakin bersemangat. Selama ada persaingan justru mereka bersemangat menjadi lebih baik.

Harga Rp.50 ribu sampai Rp.80 ribu buat Deep Clean. Semuanya dari sol luar, dalam, tengah, sol atas, lidah, bahkan talinya dicuci. Quick Clean lebih murah Rp.25 ribu sampai Rp.35 ribu. Untuk satu ini cuma bisa dicuci atasnya dan tengahnya saja.

Meski bisa cepat semua tergantung bahan sepatu juga. Walau dapat ditunggu, soal mereka dan bahan kulit butuh perlakuan berbeda, inilah kelebihan mencuci di laundry sepatu dibanding cuci sendiri. Sepatu berharga jutaan tentu pelayanan akan berbeda dengan ratusan ribu.

Sepatu seharga jutaan, belasan juta, sampai ratusan juta, Wardiman pernah pegang. Untuk sepatu mahal, dia butuh waktu meriset dulu mereka, hingga bagaiman cara merawatnya butuh waktu. Awal sepatu datang dia akan berbicara terus terang tentang harga ditawarkan berbeda, resiko, serta bagaimana penanganan terbaik.

Ia menyebut cleaner saja enggak cukup. Katanya cleaner aja enggak mempan. Butuh bahan khusus yang dia dapatkan khusus. Soal bahan tersusah menurutnya adalah Suede. "Itu susah! Engga butuh tiga hari saja membersihkan," imbuhnya.

Butuh kering dan tidak boleh dijemur di bawah matahari. Hanya dianginkan saja loh. Pokoknya lama gitulah prosesnya. Termasuk karena noda- nodanya mencar. Juga rentan buat luntur kalau tidak hati- hati untuk dikerjakan. Yang terpenting disiplin mencari tau. Berkat usaha laundry sepatu kini banyak teman dapat kerja di tempatnya.

Wardiman mensyukuri semuanya. Mereka juga membuka peluang kerja sama. Selain itu mereka punya satu rencana membuka cabang di Jl. Krakatau V no.7 Semarang. Tepatnya mereka akan buka di UPGRIS atau dulunya dikenal IKIP PGRI Semarang.

Harapannya adalah Titik Shoes Spa semakin terkenal famous lah. Harapan lain yakni kesadaran masyarakat akan sepatu. Bahwa sepatu juga dapat menjadi investasi seperti hal mobil atau motor antik. Kan kalau benar dirawat nilanya akan semakin mahal bukannya menyusut. 

Melukis Kaleng Kerupuk Berbisnis Kriuk

Profil Pengusaha Noviarti Muhidir 


 
Mantan atlet Noviarti Muhidir tidak pernah menyangka. Tidak menyangka bahwa, konsep kesuksesan yang membawa namanya hingga ke manca negara, justru datang dari sampah daur ulang. Dia tidak pernah berpikir konsep sederhana mampu menghasilkan omzet puluhan juta.

Barang bekas tidak selamanya tidak berguna. Ibu enam orang anak ini membuktikan sampah mampu diubah menjadi uang. Bisa dijadikan barang kerajinan bernilai seni dunia. Mulai mendaur limbah kayu bekas, kelang bekas, lalu mendaur ulang kain perca.

Cerita awalnya dimulai dari iseng melukis country diatas kayu bekas. Ternyata banyak orang mengapresiasi hasil karya Nova. Beranjak dia mulai melukis diatas kaleng krupuk, kaleng minyak, kaleng susu, dan banyak lagi lukisan dibuat. Kemudian semua diunggah ke Facebook coba dipamerkan kepada masyarakat luas.

Dia tidak mau menjual. Nova mengaku belum berpikir membisniskan mereka. Dijelaskan oleh wanita paruh baya ini bahwa tidak mudah mencari kaleng bekas. Beruntung lah teman- teman dekat ikut membantu Nova buat mencari kaleng.

Tidak cuma berhenti melukis diatas kaleng. Nova kemudian menyasar ke tong sampah. Bisnis dimulai sejak tahun 2002. Beruntung dia memang memiliki hobi melukis dan menjahit.

Bisnis daur ulang


Dari sekedar melukis kaleng bekas, Nova merambah pembuatan boneka lucu kain perca. Ide awal ketika mengingat anaknya yang masih Taman Kanak- Kanak. Boneka kain perca tersebut ternyata berhasil merebut perhatian masyarakat. Dia membuat boneka ala Amerika dan dilukis karakter agar menarik perhatian.

Sarjana Pendidikan Insititut Keguruan dan Ilmu Keguruan (IKIP) Padang (atau sekarang Universitas Negeri Padang) ini, mengaku mendapat ilmu pembuatan boneka ketika berkunjung ke Arizona, Amerika Serikat. Ia mengaku cuma belajar sehari saja. Semua karena hobi Nova melukis mempermudah proses belajar disana.

"Awalnya sudah memiliki basic melukis dan menjahit," imbuhnya. Boneka buat anaknya ternyata diminati tak hanya sang anak, tetapi teman- teman anaknya tertarik memesan jadilah bisnis lain. Respon positif maka dia melanjutkan usaha dibawah bendera Country Kyra.

Dia lantas mengikuti pameran kerajinan Jakarta Conventional Center (JCC) 2002. Tujuannya mengikuti pameran kerjinan menurut Nova untuk mengetahui selera pasar. Sejak tersebut dia mengikuti aneka bazar maupun pameran, seperti Inacraft. Berkat kegigihan Nova, dia mendapatkan penghargaan salah satu majalah wanita.

Dan produk Nova makin bervariasi dan semua buatan tangan. Total sepuluh jenis barang memanfaatkan limbah daur ulang. Lantas dia membuka gerai Country Kyra di Grand Indonesia. Yakni memanfaatkan sistem jualan konyasi di Toy Kingdom dan Gandaria City.

Walaupun sudah berkembang pesat, Nova tidak lupa memanfaatkan teknologi internet. Penjualan online dia anggap lebih efektif karena dia sendiri berkomunikasi dengan pelanggan. Produknya dijual tidak cuma lokal tetapi sampai ke luar negeri, seperti Australia, Jepang, Thailand, Taiwan, Singapura, Amerika dan lainnya.

Produk dipasarkan Nova dari termurah Rp.25 ribu sampai Rp.2 juta. Omzetnya itu sampai Rp.15 sampai Rp.20 juta loh.

Bisnis kaleng kerupuk


Mantan atlet basket, yang pernah membela DKI Jakarta era 1989- 1993 ini, menyebut kaleng bekas cuma dibersihkan kemudian dilukis. Kemudian dapat dijadikan hiasan ataupun dipakai kembali sebagai perabot rumah tangga. Menggunakan tema Country Style bisnis Nova merebut perhatian masyarakat Indonesia juga.

Kesan mahal hadir lewat lukisan realistis mengenai kehidupan pedesaan. Hari pertama berbisnis saja sudah mampu balik modal. Bahkan hari pertama Nova berbisnis mampu untung Rp.10 juta. Ada sold out dipesan tinggal diambil pembeli. Berawal cuma menjual kayu bekas yang sudah dilukis indah, dijadikan hiasan rumah.

Jumlah karyawan Country Kyra ada empat orang. Dimana dia secara khusus mengajari mereka bagaimana melukis. Setiap karyawan melukis diatas media berbeda. Dari kaleng mentega, kaleng minyak, juga kaleng krupuk. Sebelumnya itu dibersihkan akrilik ramah pakai dan kemudian dicat lukis sesuai teman diinginkan.

"...sifatnya non- toxic," tegas Nova. Guna kaleng juga diubah sampai multi- tasking. Nova mengajarkan kita bahwa barang bekas bisa buat tempat baju, mainan, majalah buku, pokoknya bagi Nova barang- barang yang terlihat tidak berguna ini bisa didayagunakan.

Menjual melalui pameran dan bazar, Nova mengaku mampu balik modal dan mengantungi untung bersih sampai Rp.10 juta. Sudah bermain bisnis cukup lama, brand miliknya sudah dikenal jadi jangan salahkan jika harganya katanya terbilang mahal. Namun tetap lukisan diatas kaleng krupuk tetap diminati karena keunikan.

Harga jual produk antara Rp.300 ribu sampai Rp.500 ribuan. "Banyak orang bilang mahal. Tapi ini kan cat nya cat akrilik," tuturnya. Mahal memang tapi supaya aman buat di rumah. Agar tidak meracuni keluarga kita terutama anak- anak kita. Jika dilihat dari segi seni maka pantas karena lukisan Nova memang berkelas.

Berawal dari keisengan, wanita asal Bintaro kelahiran 1964 ini, mulai mengecat- ngecat barang bekas lantas diminati orang melihatnya. Tidak cuma lukisan dia mengerjakan aneka boneka perca bordiran. Semuanya dia jual selain melalui sosial media juga melalui offline.

Bola Benang Dijadikan Lampu Untung Ratusan

Profil Pengusaha Guntoro Rusli 

 

Bisnis tidak melulu ribet. Kamu tidak harus menciptakan aplikasi apapun. Tinggal pakai benang aja, pria 33 tahun ini mampu meraup omzet mencapai Rp.100 juta. Bisnisnya bernama lampu benang. Atau lampion dari bahan benang aneka bentuk. Guntoro Rusli bercerita ide awal berbisnis dari hobi mengumpulkan souvenir.

Dia seorang perajin lampu karakter asal Surabaya. Pria gantang yang dulunya seornag pelaut. Alhasil dia jadi sering berkunjung ke tempat dari dalam sampai luar negeri. Menjadi pelaut memberikan kemudahan baginya untuk mengoleksi souvenir. Dalam perjalanannya dia mampu memproduksi 2.000 unit lampu per- bulan.

Ide datang ketika dia melihat produk, ketika Guntoro berkunjung ke Amerika Serikat dan Thailand. Orang sedang berjualan lampu. Maka Guntoro mengajak istri buat berbisnis lampu benang.

Bisnis sederhana


Waktu berjalan- jalan bersama teman ia menemukan cotton light. Lampu hias berbahan benang aneka yang dibentuk aneka bentuk. Ia sebenarnya iseng membuat cotton light ball. Untuk awalan dia membeli satu buah buat contoh dibawa pulang. Lalu dia mencari tau apakah ada atau belum produk sejenis di Indonesia.

Pulang dari Thailand, Guntoro mencari tau lebih dalam, dan menemukan bahwa di Bali sudah ada produsen produk sejenis. Dia tidak takut berbisnis. Pada April 2009, dia memutuskan buat menggelontorkan sejumlah uang, uang Rp.20 juta digunakan buat memproduksi sekala besar.

Gun memulai usaha dari internet merambah ke penjuru Surabaya dan Bali. Uang digunakan membeli bahan serta dibayar buat menggaji pegawai sendiri.

Cotton light ball atau cotton ball lantern merupakan produk lampu berbahan benang polyster. Dia memakai cetakan, dililit benang, dilem dan dikeringkan. "Setelah dikeringkan, cetakannya diambil," jelas dia. Ternyata respon masyarakat kepada produk buatan Gun bagus. Guntoro semakin bersemangat membuat produk yang unik.

Peluang bisnisnya masih bagus dikembangkan. Ia lantas mencoba memperbanyak produksi. Yakni membuat produk 500 pieces dulu. Awal penghobi traveling ini mencoba menitipkan produk ke pusat perbelanjaan di Surabaya, Jawa Timur. Dari sana dia mulai membentuk tim desain sendiri buat menjadi pembeda produk lain.

Tim R&D dan Desain bertugas membuat desain lampu aneka bentuk. Lebih variatif sehingga ngejreng diliat mata calon pembeli. Usaha tersebut lantas, pada Februari 2011, telah berbedan hukum dibawah nama CV. Multicraft Indonesia. Kenapa begitu, karena Gun hendak melirik pasar ekspor hingga ke Amerika Serikat.

Dia menyebut biar mudah mengurus surat- menyurat ijin ekspor. Suami dari YennyWibowo ini, juga memakai strategi mengamati tren pasar. Ketika musimnya Natal, maka CV. Multicraft akan memproduksi lampu yang bertemakan pohon natal dan sebagainya.

Biasanya produk Gun digunakan sebagai hadiah dekoratif. Tidak cuma ketika musim tertentu, secara berkala mereka memproduksi buat pernikahan, ulang tahun atau hadiah perusahaan. Dua tahun berjalan dia makin mantap membuat ciri khas produknya.

Bisnis benang


Dia mengajak sang istri menjadi bagian dari tim kerja. Sebagai desainer interior dan event organizer agaknya sedikit banyak memacu bisnis si Gun. Berbekal jaringan istri pula, dia mampu masuk ke ranah acara- acara yang butuh souvenir -seperti pernikahan dan ulang tahun,.dll. Ini membuat produknya lekas cepat dikenal masyarakat.

Pemasaran mulai sampai ke luar negeri. Ekspor kecil- kecilan mulai digalangkan seperti ke Malaysia dan juga Singapura. Gun juga sudah menembus pasar eropa, seperti Italia, yang mana mampu melonjakan omzet penjualan sampai ratusan juta.

"Ekspor kita masih kecil- kecilan," ujarnya merendah.

Untuk memperluas pasar kembali, Guntoro mengaku memilih menunggu dan mempelajari apalagi cotton light ball sudah cukup dikenal di luaran sana. Butuh satu sentuhan berbeda jika dia ingin perusahaan masuk pasar asing. Brand Light Craft awalnya dikenal sebagai usaha pembuatan lampu benang, dan juga lampu rotan.

Strategi pemasarn berdasarkan pesanan khusus juga diapresiasi. Ia pokoknya tanggap akan keinginan dari konsumen dan terus berkreatifitas. Omzet meningkat dua sampai tiga kali lipat sejak didirikan. Bayangkan dia mengaku mampu mengantungi omzet sampai Rp.560 juta. Perbulan Guntoro memproduksi 1.000- 3.000 produk.

Lulusan perhotelan Universitas Kristen Petra Surabaya ini, mengaku tidak belajar khusus, namun secara niat serius mempelajari seni membuat lampu benang ini. Terlihat dengan keseriusan Gun menggunakan alat tenun sendiri untuk membuat produk lampu kap.

Dengan bantuan mesin mampu menggulung benang selusin roll beraneka warna. Untuk satu jenis lampu dia produksi 10 dengan empat varian warna benang. Produk lampu kap butuh setidaknya 48 roll benang hingga 120 roll benang agar membentuk karakter.

Variasi karakter juga beraneka macam termasuk tokoh kartun anak. Prosesnya gampang dijalankan tetapi butuh kreatifitas agar tidak monoton. Untuk bagian tersulit adalah membentuk bola benang. Juga bagaimana sih agar membentu bentuk dekoratif dan berdesain sesuai.

Untuk produk bervariasi dari Rp.50 ribu sampai Rp.1 juta ada. Aneka aksesoris penikahan atau acara ulang tahun dibandrol Rp.10 ribu sampai Rp.40 ribu. Minimal butuh 4- 6 minggu memenuhi pesanan dari mereka pemilik acara. Agar tidak kecewa selepas desain di muat ke internet ada sesi konsultasi acara terlebih dulu.

"Melakukan korelasi produk dengan calon klien selama dua minggu," jelasnya. Dia lalu mengajak pegawai dan juga masyarakat sekitar jika diperlukan.

Meski diluaran sana sudah banyak peniru. Ia mengaku tidak takut. Karena Guntoro memperlakukan usaha layaknya bisnis besar. Sebuah perusahaan besar memiliki staf khusus buat desain. Mereka mendasain di luar kegiatan produksi. Butuh waktu berminggu- minggu buat menciptakan desain baru lebih menarik di mata.

Gun juga menganjurkan prototipe sebelum diproduksi masal. Pokoknya mah seperti perusahaan besar yang telah menasional produknya. Jenis produk sudah mencapai 20 jenis, mulai dari cotton ball light, cotton ball lantern, letter lamp, character lamp, cooper light, fairly light, dan dia masih akan menambah lagi bila perlu.

Saran sebagai pengusaha mudah adalah jadikan produk unggulan. "Terus belajar dan pantang menyerah terus berusaha. Belum usaha sudah menyerah ya enggak bisa," tandasnya.

Tantangan berbisnis


Memang minat pasar dalam negeri dan luar negeri beda. Jadilah harus memiliki daya tarik tersendiri di kedua sisi. Pasar nasional ditarik melalui brand Boli atau bola imut. Dibuat kecil- kecil imut dapat dijadikan hiasan di kamar. Meski sudah memiliki banyak produk dan menghasilkan ratusan juta, bukan mudah juga.

Dia bercerita di awal tidak pernah digaji. Awal usahanya dia tidak mendapatkan untung. Dari bisnis langsung diputer buat gaji dan produksi. Dia menganggap ini bukanlah masalah. Gun tidak menganggap kerugian itu semua karena proses. Sedikit demi sedikit usahanya mulai menampakkan untung dari setiap penjualannya.

Penjualan ke luar negeri juga musiman sesuai kontrak. Soal keuntungan dipacu para reseller yang bekerja giat memasarkan produk Light Craft. Menawarkan sistem reseller dan dropship tanpa minimal pemesanan. Berapapun dilayakni baik oleh Light Craft. Sistem distribusi reseller bukan retailer tetapi melalui vendor.

Dia memiliki 100 reseller sejak tiga tahun terakhir. Produknya cukup memakai patokan harga tertinggi yakni Rp.140 ribu. Lalu Rp.50 ribu buat lampu kecil dan Rp.90 ribu buat lampu besar. Untung reseller mampu kamu mengantungi untung 50 sampai 100 persen.

Dia bercerita seorang reseller dari Instagram mampu meraup Rp.20- 30 juta. Dia menyebut seorang anak kuliahan, mengambil untung kecil 20- 30 persen. Rahasianya dia memainkan marketing dengan kuat, jadilah tidak menjual nilai eceran tetapi sudah lusinan.

Ia mengaku pernah punya gerai di Surabaya, Bali, Lombok, dan Jakarta. Namun dia sekarang lebih memilih menjual melalui sosial media. Dia memiliki 20 staf serta 40 staf harian bila ada pesanan khusus. Dia sendiri konsern ke pemilihan dan perekrutan SDM. Masih sulit katanya mencari SDM cekatan dan kreatif jaman sekarang.

Karaketer dipriksa betul agar menyesuaikan ritme kerja. Haruslah memiliki kompeten dan mampu belajar cepat dalam bekerja. Gun sendiri tidak ragu memberikan dorongan. Tujuannya agar mendapatkan hasil yang maksimal bekerja. Ia tidak ragu mendengar keluhan kemudian mendorong stafnya agar tidak malah down.

Dia meciptakan suasana tempat kerja senyaman mungkin. Ia menekankan aspek kekeluargaan, mulai dari makan bersama, liburan bareng ke tempat wisata, melakukan training, melalukan pembekalan. Meski sudah sekuat tenaga mendukung SDM, kendala lain adalah bahan baku yang masih impor agar sesuai standarisasi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba