Pabrik Hanger Pakaian Rajawali Raup Ratusan Juta

Profil Pengusaha Joko Ibrahim 


 
Menjadi pengusaha tidak disangka- sangka. Siapa sangka niat hati menyenangkan calon mertua, eh ternyata, malah menjadi bisnis berbuah ratusan juta. Inilah kisah Joko Ibrahim seorang pengusaha alat rumah tangga. Ia menceritakan awal kisah dia sama sekali tidak berniat menjadi pengusaha muda.

Dia awalnya berkunjung ke rumah kekasih di Dusun Ngunut, Tulungagung. Ternyata calon mertua Joko itu pengusaha alat rumah tangga. Dan kebanyakan warga dusun memang pengrajin peralatan rumah tangga. Satu kecamatan tersebut menjadi sentra alat rumah tangga. 

Kan kalau dia bisa membuktikan diri, siapa tau makin mudah. Jadi mudah buat Joko melamar sang kekasih. Lalu dia menawarkan diri untuk menjualkan hanger buatan calon mertua. Pria lulusan IAIN Wali Songo ini lantas menawarkan tetangga, kebetulah dia tengah melanjutkan sekolah Universitas Paramadina Jakarta.

Tawaran tersebut diterima senang hati. Jadilah Joko pengusaha alat rumah tangga dadakan. Ditawarkan itu ke tetangga tempat dia bertempat. Tidak cuma berhenti disitu saja, ia lantas membidik pasar internet melalui situs gratisan.

Bisnis siapa sangka


Joko sendiri bukan orang susah. Lahir dari keluarga berkecukupan membuat dia bisa bersekolah tinggi. Dia pun mengingat masa kecil menyenangkan. Ayah Joko sendiri adalah seorang kepala sekolah. Mereka sudah memiliki sepetak sawah. Kemudian ibu Joko merupakan penjual tanaman palawija.

Tumbuh menjadi pemuda biasa sampai berkuliah. Waktu kuliah di Semarang, ia juga aktif mengikuti aneka kegiatan kemahasiswaan. Berkat itu dia memiliki kemampuan komunikasi baik. Dalam hal membangun relasi juga mudah.

Itulah kenapa, ketika lulus 2003, pekerjaan bagus dapat digenggam Joko yakni menjadi manajer sebuah yayasan pendidikan di Solo. Namun karir dijalani Joko sangat lambat. Lima tahun berlalu kemudian ditawari beasiswa S-2, tanpa berpikir panjang Joko mengiyakan berkulih kembali ke Jakarta.

Sambil kuliah sambil bekerja. Joko bekerja di sebuah kantor pengacara. Disaat bersamaan juga menemukan wanita kekasihnya, yang sekarang istrinya, Prisa Ani Yulia.

Prisa sendiri merupakan warga Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur. Ketika berkunjung ia melihat orang tua kekasihnya mengerjakan hanger kawat. Sebuah usaha yang kelihatannya maju karena banyak pekerjaan tiap hari. Dia mencoba mengambil hati mertua. Joko sampai rela berhenti dari kantor pengacara.

"Sebab, bisa jualan sambil pacaran lebih menyengangkan,"cletuknya.

Ketika di Jakarta dia menjual melalui internet. Ternyata hanya berbekal situs penjualhanger.multiply.com bisa menghasilkan banyak pesanan. Transaksi online dijalankan Joko sudah seperti sekarang. Selepas membayar transfer barang akan langsung dikirim. Untuk penjualan dengan syarat tertentu tidak dipungut biaya mengirim.

Dia baru tau dahsyatnya berjualan hanger. Apalagi penjualan alat rumah tangga melalui internet kan masih sangat jarang. "Hasilnya lumayan," imbuh Joko. Produk dijual Joko masih produk hanger kawat biasa tidak ada spesial.

Penjualan melalui internet berbeda dari langsung. Ketika menjual rumah ke rumah, bayangkan Joko hanya mampu menjual 2- 3 calon pembeli. Dan ketika ia pindah berjualan dari multiply. Bayangkan dia melayani pembeli sampai belasan. Jika pembeli langsung membeli sedikit, pembeli internet akan membeli jauh lebih banyak.

Makin banyak dibeli


Suatu hari dia kedatangan seorang pembeli asal Korea. Ternyata dia merupakan pemilik laundry asal Korea. Ia pun menawarkan kerja sama bisnis menarik. Dia menginginkan hanger dibuat khusus. Kemudian datanglah seorang kawan menawarkan contoh hanger khusus. Hanger sesuai dengan keinginan pengusaha Korea itu.

Sang pengusaha laundry menginginkan hanger khusus. Bukan hanger kawat bekas, namun hanger dengan ukiran di gagang. Joko lantas membuat sampel. Kemudian beberapa contoh tersebut diberikan kepada si pengusaha Korea tersebut. Akan tetapi pemesan tersebut tidak kunjung memesan. Ia merasa dikecewakan sekali.

Namun, apa sudah berlalu tinggal pelajaran, banting stir Joko menawarkan hanger sama ke orang lain. Sabar dia menawarkan ke beberapa laundry. Hasilnya satu pesanan datang dari laundry di Nusa Tenggara Barat pada Mei 2009 silam. Tidak tanggung mereka memesan sampai 250 unit hanger.

"Saya senang sekali, tetapi juga bingung," ia berlanjut. Pasalnya Joko belum berproduksi sebanyak itu. Pria kelahiran 19 Maret 1980 ini lantas memberitau kesusahan ke pacar. Sang calon mertua ternyata merespon masalah ini mengejutkan.

Calon mertua menawarkan modal Rp.2,5 juta kepada Joko. Maksudnya agar dia dapat membelikan mesin cetak buat hanger. Untuk menambah modal usaha, ia menarik uang tabungan Rp.5 juta, lantas dibeli gulungan kawat dan bahan kimia buat mewarnai hanger. Sukses besar Joko memenuhi pesanan tersebut tepat waktu.

Kisah berlanjut dia membuat kembali hanger berdesain sama. Dia bekerja bersama empat orang karyawan yang dipinjamkan mertua. Kisah berlanjut tetapi tidak sesuai harapan dia. Pesanan malah kembali sepi tidak ada pesanan banyak.

Bertahan sabar


Ia sempat menawarka ke eksportir. Namun ditolak karena waktu itu belum punya mesin. Ia sempat bersedih cuma dia tetap semangat. Dia merasa bertanggung jawab bahwa dia sanggup. Keinginan memajukan usaha mertua membuat dirinya lebih bersemangat. Alhasil pesanan hanger baru membuka peluang bisnis pembuatan sendiri.

Hanya saja, bagaimana jika ternyata pesanan kembali sepi ya? Padahal dia barulah menikah. Juga masih ada stok 30.000 hanger. Mereka pasangan suami istri baru terpaksa berhemat. Mereka memenuhi kebutuhan hidup dari pesanan hanger yang sepi.

Tidak mau lama- lama berdiam diri. Apalagi sampai gila karena pesanan tidak kunjung datang. Joko memiliki ide brilian. Dibukannya buku YellowPage, mencari- cari internet, bagaimana dia bisa menemukan pasar lain potensial.

Akhirnya Joko membuat surat penawaran, ditawarkan hangernya kepada 7 laundry dari Bali dan Makassar. Startegi seperti ini ternyata tidak sia- sia. Pesanan mulai berdatangan. Namun, ketika sudah bersemangat, ia menemukan tidak se- "wah" dibayangkan. Dimana tidak setiap saat mereka akan butuh hanger tergantung musim.

Tujuh bulan berlalu, hingga Joko mampu menguasai pasar hendak dicapai. Joko akhirnya mampu memetakan calon pelanggan.

Masuk Idul Fitri 2009, pesanan mulai menaik, dan pesanan datang salah satunya Simply Fresh. Ya laundry besar tersebut memesan hanger ke Joko. Selain Simply Fresh, ada nama Martinizing Dry Cleaning memesan hanger juga. Dua bulan stok hanger produksinya habis tanpa sisa di gudang.

Simply Fresh Yogya pun secara teratur memesan hanger dari Joko. Kemudian sejak itu lahirlah nama produk Rajawali Hanger. Secara rutin mereka memasok hanger 8.000 buah ke Simpy Fresh setiap bulan. Kemudian dari Marinizing Dry Cleaning memesan sampai 2.000 unit setiap bulan.

Visioner bisnis


Rajawali Laundry masuk pasar ritel berbekal semangat. Bayangkan mereka memproduksi sampai 360.000 hanger setiap bulan. Juga termasuk masuk ke pasar grosir. Ternyata banyak orang membeli peralatan rumah tangga disana. Tidak berhenti di hanger, banyak orang meminta dipasok sapu, keset, dan kemoceng.

Melihat potensi itulah dia mulai mencari produk lagi. Dia menampung produk karya warga Desa Ngunut. Ia melalui perusahaan Rajawali Hanger berekspansi. Dari menjual aneka peralatan kebersihan, Joko lantas masuk ke bisnis pembuatan peralatan dapur sampai 100 jenis.

Ia menjalin kemitraan dengan pengrajin sekitar. Dia bertindak sebagai distributor. Kemitraan memasok alat- alat dapur. Dari empat orang karyawan pinjaman mertua, Joko merekrut empat lagi karyawan lepas buat membantu dia. Omzet jangan ditanya, Joko mampu meraup omzet sampai Rp.250 juta per- bulan.

Semua karena tidak cuma lokal. Joko bahkan mendapatkan tawaran ekspor. Joko mengekspor sampai ke Kanada lewat PT. Seven Continent, dimana mereka merupakan pemasok display buat produk ke Amerika seperti Lea Jeans. Tidak berhenti dia mendapatkan tawaran ekspor lain dari dua perusahaan asing.

Tetapi dia cuma mau jika bisa dikerjakan disela- selag kesibukan. Joko sendiri lebih nyaman berhubungan langsung dengan pelanggan, baik website, Twitter, ataupun Facebook. Meskipun begitu dia tetap merekrut orang buat menjalankan marketing. Karena itu merupakan kunci sukses sebuah perusahaan berbisnis.

Meski efek internet membantu, nyatanya, penjualan tidak 50% datang dari internet. Semua justru kerena ia memiliki kedekatan langsung ke konsumen. Cuma bedanya sekarang dia telah membangun citranya. Sudah memiliki brand awareness berkat internet. Kini, dia sibuk mengunjungi mereka bahkan ke seluruh Indonesia.

"Mungkin banyak yang bilang itu buang- buang duit tapi yang penting bisa menjaga hubungan baik," imbuh dia.

Menjalin hubungan dengan pengrajin rumahan sulit. Ia mengakui mereka cenderung sensitif. Ketika dia mulai menyusun data untuk keperluan jaringan distribusi. Mereka melihat Joko penuh curiga. Apalagi ketika mulai dia beralasan mengambil gambar dan banyak bertanya.

"Mereka tidak mau kalau sekedar kita tanya- tanya dan ambil gambar tanpa membeli," Joko menjelaskan lagi.

Oleh karena itulah setiap survei, maka Joko akan membeli barang dari mereka. Tujuh bulan lamanya sampai dia benar- benar menyusun data base. Dia akhirnya mampu memetakan produk apa saja. Dia juga mulai menyusun rencana pendekatan. Lantaran kebanyakan mereka sudah memiliki pengepul sendiri jadi susah.

Dia akhirnya mendekati pengepul juga. Mereka adalah pemberi orderan kepada perajin. Pendekatan dalam hal bagaimana meningkatkan penjualan. Serta memberikan sedikit pelatihan pengembangan produk. Karena mereka kebanyakan memproduksi satu jenis produk sesuai pesanan.

Mereka memang terbiasa memproduksi apa adanya tanpa inovasi. "Saya ajarkan bagaimana pengemasan, ukuran, atau pengembangan model baru," ia menjelaskan lebih lanjut. Joko sendiri ingat betul bagaimana ia berawal. Sebagai pembuat hanger pemula berbekal kawat bekas dibentu seadanya.

Dia berharap mitra juga merasakan pengalaman. Bagi Joko, kesuksesan milik siapa saja, bukan mereka yang terlahir kaya ataupun keturunan tertentu. Siapapun mau bekerja keras pasi bisa. Memulai usaha adalah soal keberanian. Keberanian mengambil keputusan penting dan fokus akan apa pekerjaan kita.

Pengusaha Sekaligus Trainer Gelas Lukis Alia Kraft

Profil Pengusaha Laksmiwati Etty  



Seorang ibu rumah tangga telah sukses membuka peluang bisnis. Berkat kemampu seni menghantarkan ibu rumah tangga satu ini sukses berkat Alia Kraft Glass Painting. Melalui media kaca meraup jutaan rupiah dari bisnis gelas lukis. Dari hobi membuat souvenir kemudian melukis gelas kaca meraup sukses.

Warga Sidoarjo, Jawa Timur, baru mendalami sebagai bisnis pada 2009. Melalui bisnis sederahan tersebut, Laksmiwati Etty sudah mampu mengantongi omzet Rp.20 juta. Dimana perlu kamu tau prospek margin untung telah mencapai 50% nya.

Namun tentu hal tersulit dalam hal ini menyangkut cita rasa. Sisi lain adalah bagaiman kita memasarkan ke masyarakat. Aneka media kaca bisa digunakan. Jika Laksmi menggunakan media gelas minum. Kamu bisa mencoba dari botol minuman ataupun gelas lain.

Masalah lain ialah menyangkut penjiplakan desain. Untuk pemasaran, melalui sosial media, memang lebih bisa mengena di hati masyarakat kita. Bahan digunakan tergolong barang bekas. Cuma dibutuhkan jiwa seni yang memang tidak semua orang memiliki. Inovasi aneka media gelas dilakukan agar pasarnya tidak bosan.

Sukses unik


Laksmi memiliki empat orang karyawan membuat lukisan diatas kaca. Tidak cuma gelas tetapi vas bunga, guci, toples kaca, lampu, tempat permen, piring kaligrafi, serta benda lain yang kaca. Tetapi memang paling laris menurutnya ialah gelas kaca. Gelas bukan buat minum, tetapi buat dipajang. 

"Kecuali toples kaca buat tempat kue," tuturnya. Untuk gelas yang panjang Laksmi mampu menghasilkan 50 buah per- hari. Kalau vas bunga atau kuci besar baru mampu menghasilkan satu buah per- hari.

Soal harga bervariasi dari tingkat kesulitan serta ukuran. Kalau buat souvenir pernikahan Laksmi menjual antara Rp.15 ribu sampai Rp.25 ribu per- buah. Kalau yang besar- besar seperti lampu, guci, dan lainnya dijual Rp.100 ribu sampai sejuta.

Soal bahan baku, Laksmi sudah memiliki sumber sendiri yakni diambil di kawasan Kedawung, Jawa Barat. Kalau produknya kelas premium maka tidak segan dia mencari sendiri. Dia rela berkeliling suatu tempat hanaya buat mendapatkan gelas unik. Laksmi ketika berkunjung ke suatu kota, maka tidaklah lupa mencari gelas.

Biasanya khusus untuk gelas panjang, vas bunga, ataupun guci juga dicari khusus. Sedangkan untuk gelas- gelas kecil cukup dipesan saja ke pengepul.

Laksmiwati sendiri adalah seorang trainer. Selain berbisnis sendiri aktif mengajarkan aneka kerajinan tangan. Dia juga seorang penulis loh. Contoh buku pernah ditulis olehnya, antara lain Kreasi Bunga dari Biji, Glass Painting, Modern Patchwork, Kriya Kertas Semen, Art Painting, dan Gift BoBox.

Trainer kerajinan


Laksmi disibukan hari- harinya dengan mengajar. Selain berbisnis gelas lukis dia sibuk mengajarkan kepada siapapun yang tertarik akan kerajinan tangan. Sudah puluhan buku diterbitkan oleh wanita asli Surabaya ini. Ia pernah melatih ke Malaysia. Ibu 58 tahun ini memang lihai menggerakan jari- jarinya horizontal- vertikal.

Ia sibuk mengajari para calon wirausaha. Terutama mereka yang tertarik akan kesenian melukis gelas. Ia memastikan setiap selesai pasti akan ada wirausaha baru. "Setelah ini (pelatihan) selesai, saya pastikan dari mereka ada yang benar- benar menggeluti usaha ini," tuturnya.

Dua pekan pelatihan buat 30 orang. Laksmi memilih 10 orang terbaik dari pemantauan dan pendampingan proses seminar. Ia memang dikenal suka berkeliling mengajarkan ilmunya. Semua permintaan dari berbagai kota dipenuhi. Sambil mengajar dia mulai menulis buku kembali. Buku ke 11 yang masih tentang kerajinan tangan.

Tahap pelatihan sudah diperhitungkan. Mulai proses paling bawah sederhana dulu. Kalau urutan sebenarnya sih apa diajarkan Laksmi tidak berurutan. Ia mencoba menghitung kemampuan peserta saja. Tidak adanya kesulitan berarti menunjukan keahlian Laksmi.

Memang dibutuhkan pengulangan terus menerus. Tujuannya agar semakin cekatan nempel bagaimana cara melukis garis. Tiga tahun sudah ia mengajari banyak orang melukis gelas terutama di Jawa Timur.

Tidak cuma gelas lukis loh, ia juga memiliki keahlian kerajinan tangan lain, ahli lukis kain, kemasan kraton, daur ulang barang bekas, hantaran pernikahan, dan membuat bros. Pasar gelas lukis dianggap Laksmi masih luas. "Gelas lukis masih jarang," imbuhnya. Kalau dilihat cantik, apalagi kalau kena cahaya bisa memancar.

"Orang beli kebanyakan untuk hiasan atau souvenir," imbuh Laksmi. Bisa dibilang untuk seniman gelas lukis masih jarang di Indonesia. Ia menyebut empat orang terkenal. Sisanya merupakan produk impor dari Italia, Republik Ceko, dan Turki.

Dia menyebut kalau mau memulai mulailah yang mudah. Jangan langsung melukis gelas dengan motif batik. Memang motif batik akan susah apalagi medianya gelas. Buat mempertegas warna disarankan gunakanlah warga emas. Dilanjutkan dengan teknik menggunakan warna biasa. Warna gunakan sesuai selera kemudian keringkan.

Keringkan dibawah sinar matahari. Lama pengerjaan antara enam jam dapat 10 gelas. Kalau media gelasnya besar bisa sampai seminggu.

Kisah Tukang Cupang Kaya Berkat Botol Bekas

Profil Pengusaha Sukses Yono


 
Yono bukanlah pemulung botol. Cuma dia hobi mengumpulkan puluhan botol bekas. Buat apalagi ya kalau bukan buat dibisniskan. Bisnis pria empat puluh lima tahun ini terbilang unik. Dia tidak menjual. Tidak pula dijadikan kerajinan. Dia menyulap botol seperti aquarium buat budidaya ikan.

Pengusaha kecil ini berbisnis botol bekas dijadikan tempat budidaya. Usaha kecil yang diam- diam mampu menghasilkan puluhan juta. Jika kamu berkunjung ke rumah Yono, kamu akan melihat puluhan botol tersusun rapih berjajar berisi ikan hias cantik warna- warni.

Tidak cuma puluhan bahkan Yono kini punya ratusan. Bisnis yang ditekuninya sejak 5 tahun terakhir. Yaitu apalagi kalau bukan budidaya ikan cupang atau Betta Splendens. Budidaya cupang memang sudah dikenal luas tidak membutuhkan ruang luas. Dapat dilakukan memanfaatkan botol bekas orang.

Ia menceritakan kalau indukan betina dan jantan siap. Mereka akan dimasukan ke media lebih luas. Ingatlah mereka harus berumur 4 bulanan. Siap menikah kedua ikan tersebut akan jadi sendiri. Selesai, dalam kurang dari 2 bulan sudah menghasilkan telur. Pakan pakai ulat sutra pagi dan sora hari, gampang kan?

Hasil membudidaya ikan cupa Yono tersebar. Kebanyakan dijual di daerah Banjarnegara. Tetapi tidak juga sampai disana, Yono sudah mengirim sampai ke Sumatra, Surabaya, dan Jakarta. Sekali panen dia mampu menghasilkan 1.000 ekor. Ikan cupang dijualnya persatuan seharga Rp.5.000 sampai Rp.70 ribu.

Berkat ekspansi luas memasarkan ikan. Yono dikenal mampu menghasilkan omzet mencapai puluhan juta rupiah. Ini tentu sangat menginspirasi kita bukan. Dari cuma ikan cupang bermodal botol bekas mampu hasil jutaan rupiah. Sementara orang bekerja siang dan malam belum tentu berhasil.

Guna ikan cupang selain buat ikan hias, dapat membasmi jentik- jentik nyamuk, apakah kamu tertarik buat membudidaya ikan cupang?

Menjual Bandeng Cabut Duri Untung Muslim Semarang

Profil Pengusaha Sukses Muslim 



Tidak mudah bagi Muslim memulai usaha. Namun tekat menjadi pengusaha menghantarkan sosoknya seperti sekarang. Dia dikenal sebagai pengusaha bandeng cabut duri. Bukan perkara mudah sekali lagi, dia pernah bekerja menjadi kuli panggul, cleaning service, menjajal jualan bakso, kemudian bisnis pengiriman paket.

Semua dilakoni Muslim guna memenuhi kebutuhan keluarga. Selain, memenuhi hasratnya menjadi pengusaha sukses, siapa sangka setelah tiga tahun barulah berasa sukses. Muslim mau bekerja apapun. Hingga dia mulai menggeluti bisnis bandeng. Inspirasi bisnis berkat ketrampilan yang ditularkan teman asal Rusun Kalegawe.

"Karena saya ingin belajar, saya sampai ikut juga mengantarkan pesanan (bandeng)," imbuhnya. Mulai lah dia belajar seluk beluk bandeng cabut duri. Selepas paham betul dia lantas mengajak beberapa teman membuka usaha ini.

Sayang tidak kecocokan membuat mereka bubar. Muslim memilih berbisnis bandeng cabut duri sendiri. Ia cuma berpikir usaha tersebut belum banyak di Semarang. Bermodal uang tiga jutaan ditambah tekat kuat jadi tenaga tambahan Muslim.

Bisnis nekat


Dia cuma berbekal peralatan seadanya buat cabut duri. Uang Rp.3 juta dibelikan 10 kilogram ikan bandeng. Lalu dia mencabut durinya lewat teknik khusus. Selesai ia lantas memasarkan produknya lewat acara arisan atau pertemuan warga. Lambat laun usaha dijalankan Muslim dikenal masyarakat.

Pembeli tidak cuma orang Semarang, hingga luar kota. Usaha tersebut memang masih baru lantaran berdiri pada 2013 silam. Meski begitu usaha ini jangan dipandang sebelah mata. Jika awal hanya mengolah 10kg sekarang dia mengolah 65kg bandeng cabut duri. Bandeng tersebut lantas dipasarkan ke Pasar Kaligawe, Semarang.

Muslim tidak memakai jasa pemasok. Kalau kamu mau menjadi penjual baiknya datang langsung. Jadi bisa memilih langsung bandeng berkualitas dan barapa banyak dibutuhkan. Proses produksi masih memanfaatkan rumah sendiri. Dia sendiri memilik target membuka pabrik bandeng cabut duri sendiri.

Ia membuka tempat lagi tepatnya di sebelah timur rumahnya. Dia dibantu empat orang karyawan. Tugas mereka berbeda- beda mulai membersihkan ikan, menyembelih ikan dan membersihkan kotoran, mencabut duri, sampai ke pengemasan di freezer.

Tips memilih bandeng ialah masih segar, tidak terlalu kenyal ataupun gembur, lalu mata ikan juga tidak merah. Jika dulu sendirian bekerja dari pagi menjelang sampai larut malam. Kini, dibantu karyawan, usahanya baru dimulai pukul 9 pagi, istrihat pukul dua belas, lalu dilanjutkan kembali pukul setengah satu sampai setengah lima.

Bagi Muslim apa dikerjannya dimasa lalu adalah kewajiban. Bagi kamu mau jadi pengusaha sukses harulah bekerja keras. Tidak mengenal kata libur. Adalah kewajiban memastikan permintaan pelanggan. Rajinlah berpromosi meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang produk kita.

Usaha ini menang tender mengirim ke RSUP Dr. Karyadi, juga sudah masuk dua restoran di Semarang, dan masuk pasar tradisional. Ekspansi bisnis Mulsim termasuk nuget bandeng yang dipesan RSUP Dr. Karyadi baru- baru ini. Produk nuget karyanya mencapai 30- 35kg.

Meski sudah sukses masalah juga ada. Termasuk bagaimana mensinergi usaha, termasuk dengan pemerintah, kemudian startegi bisnis mendatang, bagaimana menata keuangan dan lainnya. Dia mengaku butuh seorang konsultas bisnis. Bandeng cabut duri diharapkan dia menjadi oleh- oleh khas selain bandeng presto.


Usaha dilakoni Muslim bukan tanpa hambatan. Namun dukungan istri terutama, Bu Fikri, membuat ayah dua anak ini tetap maju. Ketika ditemui mahasiswa magang sang istri tengah membantu. Waktu itu dia tengah jadi pengganti pegawai yang sedang pulang kampung. Pengusaha 32 tahun ini merupakan warga Tambakaji, Ngaliyan.

Muslim mengaku keluarga merupakan faktor utama. Awal usahanya untuk menghidupi keluarga. Mulai dari menyekolahkan anak dan hidup tenang. Dengan dukungan keluarga usahanya tumbuh stabil. Meskipun telah sukses dia tetap sederhana.

Omzet Muslim mencapai Rp.50 juta per- bulan. Faktor sukses seorang Muslim adalah konsisten, terutama soal kualitas produk, termasuk bertanggung jawab jika terjadi masalah dipengiriman. Bahkan Muslim berani mengganti jika ada masalah. Merajakan pelanggan ialah cara Muslim memenangkan hati pelanggan.

Kendala lain yaitu dimana pada bulan sembilan dan delapan susah dapat ikan. Harga ikan juga naik di bulan tersebut.

"Teruslah belajar dan mencoba serata jangan takut gagal. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya" saran dari Muslim.

Pedagang Telur Bebek Slamet Kisah Kuli Naik Haji

Profil Pengusaha Slamet Daroini 


 
Ketika krisis moneter justru banyak orang kaya baru. Banyak pengusaha bangkit dari keterpurukan dan jadi lebih besar. Adapula pengusaha yang baru merintis ketika krisis menerap. Begitu pula sosok Slamet Daroini, siapa orang mengenal namanya dulu. Kini, dia dikenal sebagai salah satu pengusaha inspirasi kita semua.

Warga Ponggok Blitar bangkit ketika dalam himpitan. Krisis moneter makin membuat hidup keluarga Slamet terjepit. Bahkan mungkin hampir gepeng. Tahun 1997, iseng Slamet mulai mengangon bebek, kemudian jadi bisnis lumayan menghasilkan. Awalnya dia cuma menjadikan ini usaha sampingan penyambung hidup.

Beternak bebek dimulai dengan 178 ekor bebek. Kandang tepat dibelakang rumah milik Slamet. Sederhana sekali memang usaha dijalankan dia waktu itu. Pria yang juga berprofesi kuli angkut tebu ini sekarang sudah jadi pengusaha telur bebek.

Bisnis bebek


Kenapa memilih bebek ada strategi tersendiri. Ia ungkapkan masalah kandang gampang. Dikategorikan yang paling murah dibanding unggas lain. Tambahan lain bebek tidak mudah terserang penyakit. Untuk bebeknya dia menernakan bebek jantan jenis peking dan betinya dari bebek jenis lokal.

Waktu itu dia bercerita harga telur bebek relatif murah. Ketika masuk 1998, kriris moneter melanda, dan jadi telur bebek naik drastis. Kalau sebelumnya hanya Rp.250 per- butir menjadi Rp.600 per- butir. Untunglah dia mampu mengimbangi produktifitas bebeknya.

Semakin produktif pundi- pundi uang dihasilkan makin menjanjikan. Peluang bisnis bebek bagi Slamet masih terbuka lebar. Coba mencari keberuntungan lain, Slamet mencoba jadi pengepul telur bebek dari beberapa peternak lain di kampung halaman.

Slamet juga orangnya nekat meminjam bank. Beda dengan teman sesama peternak bebek. Dia nekat pinjam uang ke bank untuk meningkatkan jumlah kandang bebek serta pakan. Pertama kali seumur hidup dia pinjam uang sampai Rp.15 juta. Karena sudah kejadian Slamet makin bekerja keras untuk membayar hutang.

Dia harus sukses. Karena kepepet membuat dia semakin giat kerja. Hutang yang seharusnya menjadi beban malah membawa keuntungan. Bisnis dijalankan Slamet berjalanan lancar. Bahkan Slamet dapat mengangon bebek sampai 3000 ekor bebek.

Dari nol

Jika melihat kebelakang dia bersyukur. Walau begitu dia sempat dianggap gila. Lantaran dia memilih keluar dari pekerjaanya di PTPN XXI. Dia lantas membeli itik buat dibawa ke kampung halaman. Waktu bekerja dulu dia bekerja musiman. Bekerja waktu itu ketika ada musim gilingan, jadi sambil menggiling dia berusaha.

Selepas cukup mapan barulah dia keluar total. Tahun 1999/2000 -an, dia resmi mengundurkan diri melalui surat pengunduran diri. Tahun 1997/1998, dia fokus beternak di kampung halaman, Kebonduren, Ponggo, Blitar, dimana banyak tetangga gagal beternak bebek maupun ayam.

Nah, dia melihat peluang, kenapa ternak tetangga tidak dikembangkan. Ia mulai membeli bebek tetangga dengan cara berhutang bank. Lambat laun usahanya cepat berkembang berkat ketekunan. Ia mengkisahkan bagaimana tetangga menjual bebek dan ayam murah meriah, dan Slamet lah penampung utama mereka.

Berbekal hutang tersebut diambil alih bebek mereka. "Saya beli dengan uang tunai," ujar Slamet. Dia ambil hutang jangka panjang sampai 4- 5 bulan. Disela waktu sambil memutar otak bagaimana melipat gandakan. Bak pengusaha mapan dia mengambil alih 186 ekor bebek. Kemudian ditempatkan tanah lapang belakang rumah.

Karena krisis harga mahal termasuk pakan. Dengan sekuat tenaga dia mencoba mengakali biaya pakan. Dia cuma berharap bebeknya berkembang dan harga membaik. Bermodal ampas ketela olahan gambyong bisnis Slamet bertahan. Tidak membeli dedak atau kaspe, dia memilih sisa gambyong sebagai makanan bebek.

Tidak mudah baginya menjalankan bisnis di kala kriris moneter. Beruntunga ketakutan Slamet tentang bebek akan mati tidak terbukti. Meski diberi makan makanan tak bergizi. Nyatanya bebek- bebek Slamet tetap bisa berkembang. "Memang enggak ada gizinya. Bebek pun seperti akan jatuh," kenang Slamet.

Beruntung dua bulan berselang harga telu naik. Akhirnya dia mampu memutar uang kembali, kemudian dibeli pakan bebek lebih bergizi. Selama dua bulan tersebut dia mencatat hasil 600- 700 butir telur. Masuk tahun 1997, harga telur mentah mencapai Rp.155 per- butir, disisi lain harga pakan dari Rp.187 turun menjadi Rp.48,5kg.

"Alhamdulillah saya bisa bayar hutang sekitar 2 bulannya," imbuhnya. Bahkan dalam 4- 5 bulan Slamet sudah bisa membayar hutang membeli bebek tetangga.

Meski gila ternyata dia mendapatkan dukungan keluarga. Mungkin karena bekerja menjadi kuli tebu bersifat musiman. Dan terbukti meski sedikit menghasilkan mampu memberi makan. Hasilnya ternyata membuat istri Slamet bangga. Dia mampu menghidupi istri dan ketiga anaknya.

Sudah sukses membayar hutang dan untung semakin banyak. Slamet tidak tinggi hati. Malah dia semakin giat mencari tau tentang bebek. Fokusnya bagaimana mengembangkan usaha ternak bebek petelur. Dia belajar teman serta link bisnis. Maksudnya agar telur naik tetap dibeli banyak, ketika turun Slamet beri harga turun; tetap stabil.

Kepercayaan bagi Slamet adalah mahal. Kepercayaan akan teman kerja serta konsumen terus dijaga. Soal bisnis memang tidak melulu soal pendidikan. Kepercayaan menjadi andalan Slamet sukses meniti dari nol. Ia semakin aktif bahkan ikut memberi penyuluhan tingkat desa Dinas Peternakan Kabupaten Blitar.

Ia menghasilkan ribuan bebek dan telur. Penjualan telur Slamet tidak lagi memakai motor. Tetapi seminggu dia bisa mengirim telur sampai empat truk ke Jakarta dan Banjarmasin. Satu truk menurutnya berisi 90.720 butir. Berhasil membuat Slamet dikenal sebagai juragan telur bebek. Dia membuka lapangan pekerjaan buat yang lain.

Dia dibantu 12 orang pekerja. Sudah memiliki alat mixer buat membuat pakan sendiri. Maksudnya agar bisa menekan biaya pengeluaran. Dia dapat mesin dari pemerintah setempat. Usaha bebek bersama tersebut dia lantas beri nama Nova Bersaudara. Bahan pakan bebek campuran katul, kebi, kremis dan karak atau aking.

Pakan didapatkan dari Kabupaten Pati, Brebes, dan Mojosari. Biaya pakan perhari mencapai Rp.50 ribu. Ia menyebutkan 50 ribu buat seratus ekor, maka tinggal kalikan saja. Sehari buat 3000 ekor Nova Bersaudara membutuhkan uang Rp.1,5 juta per- hari.

Sehari dia mampu memproduksi 1.800 telur. Tidak cukup memenuhi pesanan, Slamet akan meminta dari peternak lain. Untuk seminggu UD Nova Bersaudara mampu mengirim empat kali pengiriman ke Jakarta dan Banjarmasin. Desan tempatnya sendiri terdapat 117 peternak. Dia membeli telur Rp.1.050 per- butir dari mereka.

Berkat ketekunan omzet dicapai Slamet sampai puluhan juta. Spesifiknya UD Nova Bersaudara beromzet sampai Rp.50 juta. Dia mempekerjakan 12 pegawai berupah antara Rp.700 ribu sampai Rp.900 ribuan. Ia memiliki komposisi pakan katul dan kebi masing 400 kilogram, kremis dan karak masing 200 kilograman.


Dia dulu bekerja sendiri sekarang sudah punya pegawai. Juga memilik rekan kerja sesama peternak bebek di kampung. Pada hari minggu usaha Slamet akan libur. Berkat kegigihan kini namanya dikenal sebagai H. Slamet. Sosok ramah ini memang telah menjadi kebangganaan Pemkab Blitar.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba