Wirausaha Tanpa Usaha Kisah Dapur Tulis

Profil Pengusaha Agoeng Widyatmoko 



Gara- gara diPHK perusahaan, hidup Agoeng Widyatmoko berubah 180 derajat. Beruntung bekal jurnalistik itu mampu dia gali kembali. Jika kebanyakan orang akan mencari kerja. Maka Agoeng lebih memilih menulis buku. Dia terbilang nekat tidak mau bekerja lagi. Padahal uang pesangon cuma cukup buat beberapa bulan saja.

Lelaki kelahiran Yogyakarta memilih berwirausaha. Selepas dia diberhentikan oleh perusahaan media tempat dia bekerja sebelumnya.

Wirausaha tanpa usaha


Menjadi penulis dirasa tepat menjadi langkah awal. Berwirausaha tidak melulu menghasilkan produk untuk konsumsi. Namun, membangun bisnis apapun jenisnya, pastia akan menemui kesukaran begitupula Agoeng merasakan. Dimulailah rancangan tulisan atau portfolio karangan, lalu Agoeng segera menulis dalam bentuk buku.

Hanya ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Buku pertama miliknya gagal di pasaran. Agoeng tak patah arang mencoba. Buku pertama diterbitkan di tahun 2005, berjudul "Cara Jitu untuk Mendapatkan Kredit di Bank -Panduan untuk UMK". 

Menarik bukan?

Fakta bahwa dia tidak pernah berwirausaha tidak diketahui. Ia nekat menulis buku tersebut dan gagal. Buku kedua juga bertema kewirausahaan, pada 2006, Agoeng meluncurkan buku ke dua langsung meledak. Buku yang berjudul "100 Peluang Usaha" tersebut, lantas sukses besar menjadi best seller.

Waktu itu dia bertemu momen tepat karena belum sebanyak sekarang. Kalau sekarang kamu tingga buka di internet akan berjejer aneka buku kewirausahaan. Sukses buku tersebut bahkan diminta cetak tujuh kali. Ia pun lantas diundang menjadi pembicara wirausaha.

"Ada yang bertanya, dari 100 peluang itu, saya sudah coba usaha apa aja?" kenang Agoeng. Seolah sadar bahwa dia butuhkan lebih dari sekedar menulis tetapi mempraktikan.

Semenjak menikah dengan Anita Marfi, tahun 2007 menjadi titik baliknya masuk ke dunia wirausaha yang sesungguhnya. Dia bersama istri lantas membuka jasa penulisan bernama DapurTulis. Istrinya sendiri bahkan rela keluar dari pekerjaan untuk berjualan. Sedangkan Agoeng bertugas sebagai pengontrol kualitas tulisan.

Pada masa itu memang masih belum banyak jasa penulisan. Untuk mendapatkan klien, Agoeng rela berjalan jauh mencari klien. Mereka harus kemana- mana menjajakan layanan. Jasa paling banyak diminta dari klien adalah jasa pembuatan annual report, buku biografi, atau juga mengisikan situs perusahaan atau perorangan.

Usaha tersebut dijalankan bermodal rumah kontrakan sepetak. Di rumah tersebut tempatnya sempit, tidak memungkinkan ia mengajak klien ke rumah. Justru dari tempat tersebut, pasangan suami- istri ini, sepakat untuk saling menghibur dalam keterbatasan.

Keseriusan berkah


Serius mengerjakan bisnis jasa penulisan. Dari sekian puluh klien ditemui, maka datanglah klien pertama dari rekomendasi teman sang istri. Inilah menjadi titik bangkitnya usaha mereka. Cuma bermodal obrolan ringan di kampus Depok.

"Pertama dapat klien Alhamdulillah langsung disuruh ngisi konten website lembaga wisata internasional, Singapore Tourism Board" terangnya.

Menjadi klien pertama sekaligus membuka referensi pekerjaan sejenis. Agoeng mulai mendapat pekerjaan lebih banyak lagi. Mulai juga mengakat karyawan dan beberapa karyawan lepas. Usaha DapurTulis berjalan menjalankan beragam layanan jasa menulis.

Paling membanggakan ialah dua buku biografi yang sempat dia bantu, kemudian masuk serta dibahas khusus di acara Kick Andy.

Pencapaian tertinggi DapurTulis ketika diberikan kepercayaan pemerintah menangani yang namanya Annual Report ASEAN Secretariat, yang kemudian digunakan dalam pertemuan ASEAN Summit 2011 di Bali oleh Presiden Amerika, Barack Obama.

Berkat usaha jasa penulisan dirinya sekarang membangun rumah kantor di Depok, Jawa Barat. Menurutnya itu senilai nilai usahanya selama setahun setengah saja. Tetapi perlu ditekankan, namanya usaha berbasis kreatifitas sukar dihitung nominal. "Sebab, bisnis berbasis kreatifitas tidak ada patokan harganya," tuturnya.

Agar omzet tetap, Agoeng memilih menyasar LSM dan yayasan, disinalah pasar dianggapnya banyak serta itu memiliki nilai sosial. Sekarang tim DapurTulis aktif membagikan ilmu menulis, secara formal maupun lewat seminar, wujud lain yakni lewat lembaga pelatihan menulis.

Ia mengingkan orang semakin banyak paham soal nilai tulisan. Karya tulis merupakan mendidik, menjadi satu cara mewariskan ke anak cucu. "Bukan semata soal uang," tandasnya. Agoeng pun bersyukur karena pernah diphk, karena disanalah jiwa wirausahaanya menemukan tempat dan berkembang seperti sekarang.

Kunci sukses Agoeng, "...lakukan apa yang kita bisa semaksimal mungkin, pasti ada jalan."

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Pengusaha Muda Indonesia



Anak muda Indonesia kembali mengharumkan nama Indonesia. Jika disana ada Ryo Haryanto, inilah tujuh belas anak muda mengharumkan nama Indonesia melalui entrepreneurship. Tidak tanggun- tanggung karena dari semua negara di Asia Tenggara, kita menyumbang paling banyak.

Dan uniknya, ketika menyabet hampir keseluruhan kategori, di setiap kategori ada pemuda- pemudi kita yang berusia dibawah 30 tahun. Seperti judulnya yaitu 30 Under 30 Forbes Asia. Ini merupakan satu ajang khusus penganugrahan bergengsi untuk entrepreneur dibawah 30 tahun. 

Selain daftar orang terkaya, majalah Forbes memang sedang getolnya memperhatikan Asia. Terutama ikut mengantisipasi lahirnya miliarder baru dunia.

Empat anak muda khusu di bidang tekonologi. Mereka, entrepreneur muda sukses berkat layanan aplikasi. Seperti Kevin Aluwi, salah satu pendiri sekaligus CFO -nya aplikasi Gojek; Benny Fajaria, salah satu pendiri Qlapa; Arief Widhiyasa, salah satu pendiri Agate Studio; Fery Unardi, salah satu pendiri sekaligus CEO Traveloka.

Uniknya, total ada 17 anak muda asli Indonesia, mereka merepresentasikan semangat perjuangan Indonesia sendiri, mereka merepresentasikan Hari Kemerdekaan kita. Inilah mereka:

Kategori Entertainment & Sport

1. Joey Alexander Sila, 12 tahun, Musisi

Arts

2. Helga Angeline Tjahjadi, 25 tahun, salah satu pendiri Burgreens

Retail & Ecommerce

1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur
2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO & Creative Director Blobar Salon
3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri & President Men's Republic
4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri & CEO Traveloka

Finance & Venture Capital

1. Moses Lo, 27 tahun, Pendiri & CEO Xendit
2. Abraham Viktor, 23 tahun, salah satu Pendiri & CEO Taralite

Entreprise Tech

1. Abraham Ranardo, 25 tahun, salah satu Pendiri Mailbird

Consumer Tech

1. Kevin Aluwi, 29 tahun, salah satu Pendiri & CFO Gojek
2. Benny Fajarai, 25 tahun, salah satu Pendiri Qlapa dan Kreavi
3. Arief Widhiyasa, 28 tahun, salah satu Pendiri Agate Studio

Social Entrepreneur

1. Heni Sri Sundani Jaladara, 28 tahun, Pendiri Smart Farmer Kids In Action & AgroEdu Jampang Community
2. Muhammad Alfatih Timur, 24 tahun, salah satu Pendiri & CEO Kitabisa

Healthcare & Science

1. Mesty Ariotedjo, 28 tahun, salah satu Pendiri WeCare.co.id
2. Leonika Sari Njoto Boedioetomo, 22 tahun, Pendiri & CEO Reblood

Korban Lapindo Kuliahkan Anak Berkat Pepaya Calina

Profil Pengusaha M. Syifa 



Kisah korban lumpur Lapindo itu bernama M. Syifa. Disebutkan oleh pewarta Sidoardjonews.com, pria 54 tahun ini memang dikenal petani kuat. Pernah sekali ia membudidayakan buah blewah, itulah buah musiman yang rasanya segar dimakan. Sayangnya, keberuntungan belum dipihaknya jadi dia memilih usaha lain yang sejenis.

Dia seorang petani asal Desa Kandang RT 09 RW 05 Kec. Krumbung, Kabupaten Sidoarjo. Merupakan sosok petani ulet setiap hari bangun menaburi tanahnya dengan bibit blewah. Ia berharap menghasilkan buah yang berkualitas. Hanya tanah tersebut ternyata tidak cocok ditanami tanaman blewah hingga mati.

Sejak kecil ia memang menyukai bercocok tanam. Mulai blewah, mentimun emas, kegiatan bercocok tanam yang awalnya cuma sekedar mengisi waktu luang. Pria beranak delapan ini kesehariannya merupakan guru pengasuh santri. Sampai dia menjadi korban lumpur Lapindo yang menyesengsarakan hidup orang banyak.

Tetapi tidak mengurangi kegigihan bercocok tanam Syifa. Atas saran seorang temannya, ia lantas beralih ke bisnis pepaya, bercocok tanam pepaya Thailand

Diejek petani


Dia disarankan oleh teman menanam pepaya Thailan. Ia pun berangkat ke Trubus Surabaya membeli benih tersebut. Sayang pepaya Thailand tersebut ternyata tidak didapatkan. Lantas pemilik toko menyarankan dia bercocok tanam pepaya Kalifornia atau Calina.

Saran tersebut diikuti Syifa tanpa pikir panjang. Dibawalah benih pepaya Calina, yang katanya berasal dari negeri Amerika sana. Lima saset ditangan berisi dua puluha biji seharga Rp.30 ribu. Ia menaburkan benih itu ke tanah. Namun, sekali lagi kegagalan ditemui oleh Syifa, bedanya dia tetap ngotot.

Ia meyakini akan sukses. Jadi dia tidak memilih tanaman lain. Meyakini kegagalan diawal merupakan proses yang harus dilaluinya. Percaya akan insting, dia melanjutkan menanam pepaya Calina, "mungkin langkah awal saya untuk melatih kesabaran dan lebih mengenal tentang pertanian," imbuhnya.

Suami Nur Wasilan ini meyakini bahwa Allah pasti menjawab keseriusannya. Kegagal tidak dihitung, terus ia menanam sambil mencari informasi tentang tanaman tersebut. Bahkan dia membeli dua kali lipat dari jumlah bibit sebelumnya dibeli, yaitu sepuluh saset.

Total 200 biji disebar hanya menjadi saratus tiga puluh pohon. Itu saja masih ada pohon yang mati. Jadi dia cuma menghasilkan saratus dua puluh tujuh. Empat bulan berlalu dan pepaya akhirnya berbunga. Hingga ia sekarang menikmati buahnya dipetik. Dalam seminggu pepaya dipanen dua kali, sekali menghasilkan dua kintal.

Pernah sekali dalam proses menanam pepaya dia diejek. Lantaran harga pepaya murah di pasaran. Ngapain menanam pepaya kalau tak laku dijual. "Keuntungan didapat dari mana," kenang Syifa. Gagal dan omongan orang malah menjadi semangat dia menanam lebih banyak. Tanah seluas 1,7 hektar ditanami pepaya Calina semua.

Memang menanam pepaya tidak semudah omongan. Pepaya barulah akan mengeluarkan bunga setelah 6 bulan, setelah 8 bulan sudah tumbuh buah pepaya. Panen menghasilan dua kwintal dijual Rp.350 ribu. Dia menghasilkan omzet sekitar Rp.5,6 juta. Satu tahun minimal pemasukan sampai Rp.60 juta terangnya.

Berkat sabar


"Saya pun menyekolahkan anak- anak saya ke perguruan tinggi," tuturnya. Dalam proses pemasarannya juga tidak ribet. Dia yang kini sudah menjadi Pimpinan Anak Cabang Jam'iyattul Qurra' Wal Huffaz (JQH) NU, Kec. Kerumbung, mengaku pembeli malah datang sendiri. Tidak perlu lah jauh- jauh dia menjual ke pasar tradisional.

Meski begitu lagi- lagi omongan datang. Dia tetap yakin bahwa pepayanya tidak akan cuma dibeli kalangan sekitar.

"Nandhor kates piro kayane, nandhure yo suwe," ejek tetangga.

Alumni SMP N 1 Porong ini tetap bersikukuh budidaya pepaya. Hasil nyata ditunjukan Syifa lewat membeli mobil dan mampu menyekolahkan delapan anaknya. Karena dia memang menyukai bercocok tanam, maka dia tidak merasakan letih mengerjakan.

Dia terkadang dibantu istri dan anak ketika panen. Selain pepaya, dia merambah cabe, terong, dan melon di kebun di sela- sela pohon pepaya. Syifa juga menanam pepaya jenis merah delima dari Solok Sumatera, lalu pepaya Solinda dari Bangkok, Thailand.

Ekpansi bisnis Syifa termasuk memproduksi bibit sendiri. Lewat gelas plastik bekas air mineral ditaburi bibit hasil tanamannya. Akhirnya tetangga ikutan membeli bibit dan pelanggan juga membeli bibit. Mochamad Syifa menjual pepaya secara satu seharga Rp.6.000 sampai Rp.7.000, yang rasanya manis, atau datang ke rumahnya.

Jual Kepiting Untung Miliaran Modal Awal Jutaan

Profil Pengusaha Heriansyah 



Menjadi pengusaha banyak jalannya. Asal kita menemukan bisnis tepat maka waktu akan menyesuaikan diri. Inilah kisah Heriansyah, pria kelahiran Balikpapan, 17 Agustus 1976 silam, yang menceritakan kisah awalnya bagaimana memulai bisnis kepiting.

Kota Balikpapan sudah dikenal sebagai penghasil komoditi ikan. Tetapi tidak lantas membawanya menjadi seorang pencari ikan. Perjalanan justru membawanya menjadi sopir carteran. Hanya dilubuk hatinya paling dalam ingin membuka usaha.

Mau usaha apa belum direncanakan. Hanya dia meyakinkan pekerjaan selama itu sebagai batu loncatan. Dia bukan terlahir dari keluarga nelayan. Bukan pula keluarga pengusaha ikan di Balikpapan. Hanya seorang sopir carter perusahaan. Jikalau sepi carteran, maka Heri -begitu panggilannya- akan bekerja jadi sopir taksi gelap.

"...latar belakang keluarga saya bukan nelayan atau pengusaha ikan," ujar warga Manggar, rumahnya Jalan Mulawarman, Balikpapan.

Dia tidak punya modal uang. Hasil bekerja dikumpulkan sampai menumpuk. Dengan sabar, hingga 1997, ia membuka bengkel motor menjadi usaha pertama. Namun, usahanya ternyata belu tepat, maka waktu itu ia bangkrut tidak bertahan lama.

Bengkel tertutup maka mau usaha apa. Akhirnya Heri menyadari sekitarnya bahwa ada potenis bisnis yang ia luput. "Saya sempat bingung ingin usaha apa," kenang Heri. Perlu diketahui memang di Pulau Kalimantan itu terkenal akan komoditas lautan.

Modal usaha 3 juta


Suami dari Rintih Dewi Astuti ini, melirik usaha komoditi lautan, kan di tempat tinggalnya sekitar merupakan para nelayan. Bisnis lauatan dipikirnya ada potensi. Ayah tiga anak ini lantas mencoba berbisnis ikan. Tepat di tahun 2008 dia mulai kulakan ikan jadi bisnis.

Menjalankan bisnis ikan ternyata tidak segampang dibayangkan. Pada akhirnya, Heri kembali tidak sukses berbisnis, kali ini bahkan sampai defisit keuangan. Bisnis Heri tidak mengalami perkembangan selama satu tahun berjalan. Sampai di 2001, ia menyasar bisnis udang, dan usaha bakul ikan ditinggalkan berganti lagi.

Kembali dia cuma bertahan selama setahun. Nampaknya bisnis udang masih juga belum menjadi bisnis tepat. Masih bertahan di bisnis perikanan, ketika melihat restoran menjajakan menu kepiting, otak Heri langsung terkoneksi dia harus berbisnis kepiting. "Saya coba berbisnis kepiting," tutur pria murah senyum ini.

Tahun 2002, dia memulai usaha binatang bercapit itu, dan hanya mempekerjakan satu orang rekan. Bersama mereka mengumpulkan kepiting kecil untuk dikirim ke Surabaya. Mulai dari menyasar pasaran kecil terlebih dahulu. Heri menjual perkilo kepitinganya seharga Rp.300 ribu. Keuntungan pertama diakui Heri tidak begitu banyak.

"Keuntungan waktu itu hanya beberapa juta per- bulan," imbuh Heri.

Lalu putra almarhum Aliansyah dan Aminah ini, mulai menempa dirinya dengan segala pengetahuan tentang kepiting. Hasilnya omzet usaha Heri naik, bahkan sampai menyentuh puluhan juta. Permintaan datang sampai ke orang kargo. Sampai di 2005, Heri tercatat sudah melakukan ekspor, mulai kepiting telur ataupun besar.

Terus berkembang


Perlahan namun pasti usaha dijalankan Heri mulai nampak. Kemajuan tercatat mulai awal 2008, dimana Heri setiap hari mampu mengirim berton kepiting ke daerah serta restoran di Balikpapan. Cuma bermodal uang tiga juta waktu pertama kali. Kini, omzet Heri menembus angka miliaran baik dari ekspor dan sebagainya.

Ia pun telah membuka harapan. Lapangan pekerjaan dibuka oleh Heri, terutama bagi para nelayan kepiting ataupun pembudidaya kepiting. Kalau sebelumnya cuma dua pegawai sekarang dia mempekerjakan puluhan orang. Meski begitu banyak aturan pemerintah sempat menggoyah keberlangsungan usaha Heri.

Sebut saja di tahun 2009, aturan maskapai yang hanya membolehkan satu lubang kecil. Satu tersebut dibuat untuk satu kerdus berisi beberapa kepiting segar. Alhasil banyak kepiting mati dan merugikan pihak pengirim tentunya. "Hal itu membuat banyak kepiting mati saat proses pengiriman," paparnya.

Beruntung berkat usaha bersama hal tersebut teratasi. Pihak maskapai menyetujui memberikan satu lubang besar di pesawat. Sampai terbitnya Permen (Peraturan Menteri) Kelautan dan Perikanan Nomor 1/Permen- KP/2015 dan surat edaran susulan nomor 18/MENKP/1/2015 membuatnya pusing kembali.

Ini menyangkut penangkapann lobster, kepiting, dan rajungan, yang membuat banyak pengusaha hasil laut di Balikpapan merugi. Namun Heriansyah mesih optimis mampu menjalankan usahanya. Masih mampu dia menafkahi karyawan serta keluarga.

Tidak surut


Berawal dari bermain kepiting BS atau sortiran. Kini, Heri tercatat memiliki aneka kepiting lengkap siap jual, seperti 16 jenis kepiting bakau. Mulai kepiting jantan, betina, kepiting soka, BS, dsb. Bermain kepiting super lebih menghasilkan. "...di kepiting jenis BS yang perkilonya hanya Rp.8 ribu."

Ketika ditemui perwarta di kediamannya, Jalan Mulawarman Manggar Baru RT. 15 No 20, Balikpapan Sel. ini, menyebutkan dari 16 jenis tidak semua memberi untung. Istilahnya ada kelebihan dan kekurangan soal mereka. Untuk mengurangi kerugian ditetapkan Heri sistem dibayar langsung. Semua agar tidak bertambah rugi.

"Saya terapkan habis timbang langsung bayar. Soalnya dulu saya pernah pengalaman soal uang macet itu," ia berujar.

Berbisnis kepiting punya resiko besar dibelakang. Oleh karenanya, Heri selalu ambil ancang- ancang lewat cadangan modal. Kalau dilihat keseluruhan penghasilan sampai miliaran, tetapi faktanya per- hari selalu saja ada biaya pengeluaran. "Ini bisnis resikonya juga besar," jelas Heri. Utamanya karena biaya sehar- hari buat oprasional.

Pendapatan besar setiap hari sebanding pengeluaran operasional. Menjadi titik rawan selalu dicermati Heri. Ia tidak mau kecolongan sebuah antisipasi saja.

Untuk kepiting bakau pasarnya meliputi restoran seafood dan pasar tradisional. Kepiting bakau Heri disebut merambah Dandito, Ocean's, dan Bondi (nama restoran). Untuk pasar tradisional kepitingnya dapat ditemui di Pasar Klandasan. Adapula pengiriman ke luar Jawa, seperti ke Kalimantan, Bali dan Surabaya.

Untuk pasar ekspornya?

Heri menjelaskan dia mengirim ke China. "Hanya saja melalui eksportir dari Jakarta," terangnya. Maka itulah biaya ekspor sebenarnya lumayan tinggi. Ada pengeluaran khusus dianggarkan. Maka jangan salahkan jika keuntungan dihasilkan sering naik- turun. "...disamping cost eskpor yang mahal juga. Harga juga ada yang mengendalikan."

Dikirim ke Jakarta, Heri mengirim sampai satu ton sampai ke China jika lautan tengah pasang. Ini berbanding terbalik kebutuhan lokal. Ia menyebut hanya mencapai 200- 400 kilo setiap hari. Harga perkilo relatif beda tergantung jenis kepiting dari Rp.25 ribu- 190 ribu per- kilo.

Meski besar di ekspor, semua tergantung akan kebutuhan. Pasalnya China memilik musim tertentu dimana ia mampu menjual lebih banyak dan menutupi biaya operasional. "Kalau ada perayaan ya ekspor bagus ada ya rugi," jelas Heri.

Meski begitu ia berharap agar pemerintah tetap memperhatikan nasib nelayan. Utamanya bagaimana cara agar harga stabil untuk ekspor ke luar. Ini dimaksudkan harga tidak turun mengikuti harga luar. Nah, selepas itu barulah mengatur penangkapan kepiting, udang, dll. "Jadi nelayan tidak sembarangan menangkap." tutur dia.

Prospek bisnis kepiting masih positif. Heri tak lupa memberikan tips bagi kamu pengusaha pemula. Yaitu ia mengingatkan jangan boros. Manajemen keuangan dari bisnis harus diorganisir diperkuat. Istilah dia pakai ialah pengeluaran sekecil apapun harus diperhitungkan.

Heri sendiri enggan menyebut angka pasti untung pribadi. Tetapi ia meyakinkan dari usaha kepiting dirinya sudah mampu menghidupi keluarga, dan 8 orang karyawan gudang dan dua karyawan di lapangan. Untuk kepiting asoka, Heri telah memenuhi kebutuhan pasar sampai 200 kilo per- hari.

Daging Sapi Berbahan Tempe Dawa Dawa Ceria

Profil Pengusaha Muhamad Hidayat



Menjadi pengusaha berarti siap berkreasi. Seperti kisah mantan reseller baju ini mencoba hal baru. Namanya adalah Muhammad Hidayat, seorang pengusaha muda asal Makassar, Sulawesi Selatan, kelahiran 29 April 1992. Yang mana profilnya sulit ditemukan tetepi kami mencoba mencari cerita terbaik.

Usahanya adalah membuat daging organik. Atau daging nabati menurut pengakuannya. Usaha tercetus ketika harga daging naik memberikan peluang. Harga daging di pasar Makassar khususnya memang tegolong tinggi. Hidayat menyebut Rp.95.000 per- kilogram. Harganya mahal butuh olahan pengganti tetapi masih sama di kualitas.

Hidayat berpikir menciptakan sesuatu, yang sama- sama bergizi, memiliki kemasan kekiniaan, serta tentu jadi lebih ekonomis. Membuat produk alternatif daging sapi buat dijadikan olahan seperti burger. Maka dia cari ke penjuru internet bagiaman membuat tempe jadi daging.

Yah berbahan tempet, usaha bernama Dawa Dawa Ceria ini, memberikan sentuhan kusus. Ditambah bumbu rahasia mampu membuat rasanya seperti daging sungguhan. Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) ini meyakinkan tidak terasa beda.

Ia sendiri merupakan mahasiswa perikanan. Usahanya dijalankan melalui serangkaian percobaan. Sampai ia benar menemukan rasa sesuai harapan. Menjadi daging nabati berasa sapi. Tempe pilihan menjadi andalah pemuda ini. Diberikan bumbu kemudian tempe digiling sangat halus. Tekstur dibuat agar tidak terasa tempe di mulut.

Dan ketika dicobakan ternyata hasilnya memuaskan. Ia menyebut butuh waktu percobaan sejak tahun 2012 sampai 2013. Lalu, dari eksperimen setahun tersebut, terciptalah daging nabati tetapi tidak langsung terburu- buru dipasarkan. "Rasanya seperti daging sapi, padahal enggak ada campuran daging sama sekali," papar dia.

Cara marketing Hidayat terbilang unik. Dia tidak memasarkan daging tersebut mentah. Malah memilih untuk membuka usaha burger dan kebab di Makassar. Bayangkan harga daging nabati dipatok Rp.2000/pcs, lalu dia olah dan jual lagi, maka untungnya berlipat jadi Rp.7 juta per- hari hanya satu gerai miliknya.

Melihat peluang lebih luas, dia mencoba menjajakan berbentuk mentah, atau seharga Rp.2000/pcs. Yang mana omzetnya sekarang (ditambah bisnis burger kebab) mencapai Rp.50 juta/bulan. 

Kebutuhan akan satu alternatif daging terbaca olehnya. Harga yang terjangkau tetapi rasa hampir sama laku terutama dikalangan mahasiswa. Cuma 2- 5 tahun bisnis siap berekpansi ke pasar luar Makassar. Dia yakin peluangnya masih besar di luar sana.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba