Jualan Pomade Mr. Prabs Propsek Bisnis 50 Juta

Profil Pengusaha Pringgodani 



Jualan pomade tengah digemari pengusaha Jakarta. Penulis sendiri kurang tau tetang hal semacam ini. Tetapi diambil dari berbagai sumber, itu loh minyak rambut kental yang berbau harum. Sukses pomade menular ke manapun sempai ke pegawai perusahaan ternama. Adalah sosok Pringgodani, 25 tahun, yang akhirnya banting stir menjadi pengusaha online.

Bermodal cuma Rp.1 juta dimulai lah rencana produknya. Ia mulai membikin pomade sendiri. Kemudian dia menjualnya ke pasaran. Harga jual pomade bikinan Pringgodani seharga Rp.105 ribu sampai Rp.125 ribu. Itu tergantung varian produknya. Pomade bikinan sendiri yang diberinya nama Mrprabspomade pada 2013. "Bisnis saya murni online," tuturnya kepada pewarta online.

Alasan utama pria yang biasa dipanggil Igo ini, ialah fakta akan hobinya terhadap barang- barang tua. Yah, memang pomade merupakan produk jadul, lewat produk ini bisa didapatkan rambut klimis khas jaman dulu. Produk Mr. Prabs ada dua jenis yakni oilbased dan waterbased. Pomade Mr. Prabs oilbased terdiri dari produk bertajuk sexyshine, sexyhold, dan sexyheavy.

Sedangkan waterbased sendiri meliputi watergrease superhold dan watergrease mediumhold. Paling laku di produk Mr. Prabs ya oilbased. "...waterbased baru kita launching," tuturnya.

Jumlah produk pertama kali cuma 100 pcs. Langsung laris dalam waktu lima hari saja, Igo lantas mulai lagi, kali ini lebih serius menggarap pasar onlinenya. Di tahun 2014, ia meluncurkan slogan Dreamer, Fighter, and Victory berusaha memproduksi masal produknya Mr. Prabs Pomade. Ternyata antusiasnya lebih daripada harapan seorang Igo. Pemesanan berdatangan maka lahir lah tim reseller DHM Teamwork.

Pemenuhan kebutuhan pemasanan dilakukan secara online juga. DHM Teamwork artinya itu ya Dealer Hair Machine Teamwork tersebar di 30 kota se- Indonesia. Jangkauan pasarnya telah meliputi Jakarta, Bali, Riau, Pekanbaru, Banajrmasin, Kendari, Surabaya, Depok, Bekasi, Tangerang, Sidoardjo, Yogyakarta, Lombok, Aceh, sampai Tenggarong.

Bisnisnya dijalnkan lewat media sosial. Selain itu, Igo juga memilik satu toko online sendiri, agar lebih mudah yakni di www.mrprabs.com. Omzetnya cukup menggiurkan yakni Rp.50 juta per- bulan. Sebagai tambahan dia mengaku merupakan pemakai pomede. Istilahnya kalau dia suka memakai, kenapa tidak dia sebarkan kesukaanya, kenapa tidak menghasilkan produk buatan sendiri lebih baik.

Pengusaha Gerobak Mungil Waralaba Rombongku

Biografi Pengusaha Wahyu Kharisma



Memiliki hobi mendesain bingung memulai usaha. Pasangan pengusaha muda satu ini mungkin menginspirasi usaha kamu. Berdua mampu melihat dibalik tren bisnis di Indonesia. Ketika musim bisnis waralaba keduanya malah membuka usaha jasa. Tetapi bukan sembarangan jasa, tetapi Wahyu Kharisma beserta istrinya, Dyas Ayu Anindya, membuka jasa pembuatan booth atau outlet waralaba.

Mengusung nama Rombongku, pria yang akrab dipanggil Nobby ini awalnya diminta memenuhi pesanan orang. Dia dan istri mendapatkan permintaan dari beberapa pengusaha lokal. Mereka diminta banyak sekali membuat jasa desain untuk berjualan minuman atau makanan. Awal mula cuma dibikin standar saja, tetapi berjalannya waktu semakin unik dan cocok bagi pemilik waralaba kembangkan.

Pembeli banyak datang dari pemilik franchise. Bahkan keduanya bisa mewaralabakan konsep usaha mereka sendiri. Pemesan pertama paling besar ialah pemilik Kebab Baba Rafi, Hendy Setiono. Dari gerobak bikinan Nobby itulah mengalir kisah ratusan cabang Baba Rafi. Kala itu, ia mengisahkan, Hendy masih berjualan lewat gerobak dorong dari kampung ke kampung.

Pemesan selanjutnya adalah Bakso Kepala Sapi dan Coffe Toffe. "Sekarang kami tidak hanya jual jasa pembuatan rombong saja, melainkan sekaligus konsultasi bentuk dan logo produk yang akan dijual," papara Nobby. Pria kelahiran Banyuwangi, 31 Juli 1979 ini, sepakat memperdalam konsep usahanya lebih lanjut. Ia tidak lagi sekedar membuatkan berdasarkan pesanan saja.

Di rumah berupa workshop desain, yang waktu itu kecil- kecilan, kedua orang ini memulai usahanya penuh semangat. Dimana tumbuh memiliki 10 orang desainer dan 20 tukang. Kalau bicara omzet tidak kalah dari pemilik waralaba yakni Rp.1 miliar per- tahun. Menyasar bisnis kuliner menjadi andalan pasangan pengusaha muda ini.

"Bisnis kuliner adalah bisnis tidak akan pernah ada habisnya, selalu ada dan makin banyak berkembang," jelasnya lagi.

Bisnis gerobak


Lulusan Jurusan Desain Produk Industri ITS, memang Nobby mempunya hobi mendesain ketika masanya di kuliah dulu. Terus berlanjut sampai ia menjadi pegawai di sebuah perusahaan digital printing. Dua tahun jalan hidupnya beralih ketika ia dan sang istri melihat tumbuh pesatnya usaha waralaba. Dan, satu fakta menarik, para miliarder baru ini adalah mereka yang berawal dari gerobak dorong.

Perhatian mereka ialah pedagang kaki lima. Mereka yang penjual makanan atau minuman. Mereka yang baru memulai jalannya di dunia pewaralabaan. Lambat laun workshop mereka yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur, mulai dikenal oleh kalangan kaki lima sampai pengusaha menengah. Ia bermodal satu komputer miliknya ketika masih berkuliah dulu.

Modal uang sendiri didapat dari mengumpulkan honor membuka les privat gambar. Dia juga mengajar anak- anak melukis di Surabaya. Nobby dan Ayu mengakui mereka bermimpi. Usaha tersebut didasari hobi akan dunia desain. Sementara diliputi kesempitan dalam mengumpulkan uang. Awal mereka cuma membuat logo, maskot, kemasan dan brosur. Ditambah kerja keras, kreatitifitas miliknya mampu mencapai Sabang sampai Marauke.

Kecintaan akan desain serta kuliner melahirkan Rombongku. Brand usaha jasa yang ingin menggairahkan si usaha kecil lewat visual Maka grobak buatannya memiliki garis, warna, dan tesktur yang enak dipandang oleh mata. Berjalan waktu usahanya juga termasuk pembuatan media marketing seperti hal brosur, flayer, serta kemasan produk, maskot, sampai mereka mengkonsepkan usaha apa.

Tahun 2005 merupakan tahun modal dengkul pasangan suami- istri ini. Berbekal laptop (komputer) satu- satunya ditambah uang ngumpul Rp.5 juta jalan. Selama sebulan, berjalan waktu, mereka akhirnya mampu mencapai omzet rata- rata Rp.100 juta dan sampai tembus Rp.150 juta. Selama Ramadhan usaha mereka jadi meningkat karena banyak pedagang dadakan.

Pesanan bisa mencapai puluhan unit. Dimana jasa konsultasi desain dan logo, Nobby memberikan harga yaitu Rp.1,5 juta, Rp.2,5 juta, dan Rp.3 juta. Harga tersebut tetapi diluar harga pembuatan grobak. Untuk harga rombong bervariasi Rp.1,5 juta, sampai bisa Rp.20 juta. Rombongku pun telah memasuki sekala kafe dan restoran. Untuk gerobak sekelas kafe lebih mahal karena lebih rumit dan unik dibanding kaki lima.

Nobby dibantu 25 tukang kayu yang merupakan karyawan lepas dari Sidoarjo. Semua melalui proses kreatif juga ditambah bantuan 10 orang tim khusus desain. Satu rombong ukuran sedang akan dikerjakan seorang tukang dan selesai tiga sampai empat kali. Rata- rata permintaan akan rombong bikinan Nobby Rombongku mencapai 20 buah. Adapula yang sekalian konsultasi desaian sekaligus bikn di tempat, tambah Ayu.

Pemesan telah menyebar ke seluruh penjuru Indonesia. Paling jauh pesanan, wanita kelahiran Surabaya, 14 November 1983, ini menuturkan sampai ke wilayah Papua sana. Penawaran dilakukan awalnya lewat blog yang gratisan di www.rombongku.blogspot.com. Klien luar ada juga loh tetapi tidak seramai kebutuhan akan pengusaha lokal yakni dari Dubai meminta burger hotdog, jelas Ayu menambahkan lagi.

Total 400 desain telah dikembangkan siap dibikin. Tiap pemesan bisa beda desainnya, tetapi tidak juga lupa menyiapkan model rombong sebagai dasar. Kalau ada order, ya, tinggal pihaknya memasang merek dagang saja. "Tetapi mayoritas desainnya by order," ujar Ayu. Dibutuhkan desain unik dan cantik agar benar- benar mengangkat produk si pemesan.

Usaha macam pembuatan grobak waralaba ini mulai sengit. Aneka macam upaya dijalankan pengusaha agar menarik perhatian pengusaha waralaba. "Banyak anak muda kreatif yang bisa memulai dari sekarang. Tak perlu modal besar untuk usaha semacam ini karena yang dijual ide," papar Nobby. Bahan baku pun mudah ditemukan di dalam negeri seperi paku, papan, cat, dan pernak- pernik.

Website: www.rombongku.com

Kisah Entrepreneur Muda Kripik Pisang Zanana

Pengusaha Muda Gazan Azka Ghafara 


 
Produk Zanana Chips adalah produk keripik pisang kekinian. Bahkan sudah didaulat oleh sang penemu jadi jajanan ekslusif. Banyak dicari orang, Gazan Azka Ghafara memang sudah merencanakan hal tersebut lama. Dia punya rencana, riset, ditambah do'a jadilah pengusaha muda. Sukses telah membawa namanya tertulis di berbagai media online.

Hanya berjualan kripik pisang Azak mengantongi omzet Rp.200 juta- Rp.400 juta. Menggiurkan memang mendengar omzetnya. Modal Rp.1,05 juta disulapnya menjadi ratusan hanya selang dua tahun. Kepada media Republika pengusaha muda ini bercerita.

Modalnya ingat cuma Rp.1 juta sangat minimum. Dia tambahkan uang Rp.50 ribu dalam rencana bisnis baru tersebut. Uang tersebut dibelikan mesin pengemas dan kripik pisang. Ya, kamu tidak salah dengar kok, awal ia hanya membeli kripik pisang sudah jadi. Kripik tersebut nanti dibungkusi sendiri ditambah taburan serbuk coklat.

Agar menarik pembeli dibungkus sedemikian rupa terlihat modern. Bungkus keren inilah menjadikan kripik Zanana kekinian. Nama awalnya bersumber dari saorang ternama dari Gazan dan Banana. Alias pisang yang jadi Gazanana. Karena terlalu panjang maka dihilangkah dua huruf depannya jadi Zanana. Ia lantas menjual itu ke jalan- jalan menyebutnya kekinian.

Bisnis kapapun


Ia berkisah sejak SMA sudah mengerjakan aneka bisnis. Dan, uniknya mereka berjalan cepat tetapi ya gagal karena alasan tertentu. Dia pernah berjualan ayam tulang lunak. Tetapi karena tidak mengenal manajemen hasilnya itu kebangkrutan. Azak pernah berjualan risoles. Sudah punya cabang tiga tetapi lagi- lagi bangkrut karena suatu hal.

Banyak cibiran dan hujatan ketika dia gagal mengerjakan bisnis. Tetapi dia tetap berusaha menjalankan ini sebagai passion -nya. Untuk mencegah kegagalan terulang mulailah terbersit pemikiran. Kenapa dia tidak masuk ke komunitas pengusaha. Dia harus bersosialisasi dengan lingkungan yang mendukung. Inilah alasan dia tidak bosan mengikuti aneka seminar entrepreneurship.

Azka bertemu banyak pengusaha. Ia merasakan ketulusan dalam diri mereka. Dia mendapatkan mentor yang pengertian. Modal uang Rp.1.050.000 dijadikan usaha kripik pisang kekinian. Mulailah dia berjualan kripik pisang kekinian lewat berbagai media. Jaringan dibuatnya secara bertahap lewat berbagai cara. Ide awal dari bisnis ini katanya kripik pisang Lampung.

Dia melamun membayangkan enaknya kripik pisang Lampung. Pikiran Azka pun buntu tidak bisa mendapat pisang tersebut. Tetapi dia menemukan ide bagaimana kalau dibisniskan. Dia mulai bertanya kepada saudara atau teman tentang kripik pisang Lampung. Ia mulai melakukan riset kecil- kecilan. Memang kripik pisang khas Lampung diminati banyak orang.

Tetapi jangkauan masyarakat di tempatnya terbatas. Ia ingin membawa itu tetapi inovasi berbeda. "Ia masih sebatas jajanan oleh- oleh," paparnya.

Azka mulai membuat kripik seperti itu dulu. Kripik pisang coklat lantas didistribusikan ke seluruh Indonesia. Mantap barulah Zanana Chips diplokamirkan pada 28 November 2013. Usaha ketiga ini berjalan lumayan karena 30 bungkus pertama langsung habis. Jumlah meningkat sampai 50, 60, sampai 100 bungkus. Bahkan sepekan bisa mencapai 500- 600 bungkus Zanana per- hari. Sejalan waktu menjual dua ribuan bungkus per- hari.

Hal pertama yang dilakukan oleh Azka ialah: Membeli kripik pisang mentah yang lantas ditaburinya aneka bumbu. Itu lantas dibungkus dikemas sebagus mungkin. Enam bulan pertama, ia kerjakan produksi sendiri mulai berbelanja kripik, dibumbui, menjual dan melayani, kemudian promosi ke berbagai media. Pemesanan bertambah seiring itu jumlah karyawan juga. Ia mampu mempekerjakan 14 karyawan tetap kini.

Omzet melonjak sampai Rp.200- 400 juta per- bulan. Azka lantas menyewa ruang buat kantor Zanana. Ini sudah termasuk peralatan kantor lengkap, antara lain laptop, dan lain- lain. Sampai- sampai berkat usahanya ini, Azka mampu membeli mobil yang menunjang bisnisnya sendiri. Hasil perputaran uang dari kripik pisang Zanana ini memang terbilang besar.

Marketing kekinian


Lewat media Instagram, Zanana mampu bertahap diperkenalkan ke masyarakat, lantas juga menyebar luas sampai Facebook, Twitter, Line. Ia mengindentifikasi pelanggan Zanana hampir 80 persen adalah perempuan usia 17- 30 tahun. Mereka yang disebutnya suka belanja online, doyan ngemil, suka foto- foto, juga menjadi pengguna aktif Instagram.

Zanana mencoba menempatkan dirinya disana. Ia mengajak beberapa menjadi reseller, membuka outlet di tempat masing- masing. Jumlah reseller mencapai 600 -an tersebar di 70 kota di Indonesia. Zanana tidak lah punya outlet resmi tetapi memanfaatkan reseller. Dia bahkan mencapai Papua- Marauke. Memiliki 100- 150 reseller aktif menghasilkan rata- rata Rp.2 juta- 4 juta per- bulan.

Menjadi reseller Zanana Chips caranya mudah. Cukup kita membayar biaya Rp.50 ribu dan membeli 50 an bungkus Zanana Chips.

Reseller mendapatkan harga Rp.15 ribu seberat 200 grm. Bonus akan diberikan buat mereka yang penjual berprestasi. Misal mampu menjual 250 bungkus akan mendapatkan bonus Rp.250 ribu. Semakin banyak ya semakin banyak untungnya. Ia memisalkan 400 bungkus mendapatkan 500 ribu, jual 600 bungkus berbonus Rp.800 ribu. Ia mengaku tidak ada hal muluk soal resep rahasia sukses bisnisnya.

Semua orang menurutnya akan sukses selama tidak berhenti berusaha, belajar dan berdoa. Dia selalu baca- baca buku soal entrepreneurship. "...saya tetep baca buku bisnis, motivasi, ikut seminar, workshop, training. Itu harus jadi kebiasaan," kata Azka.

Dia menjelaskan bahwa terus belajar menjadi kunci. Azka lantas memberikan contoh usaha wartel yang dulu pernah ramai. Tetapi semakin hilang, ketika jaman telah menyediakan peralatan komunikasi berupa handpon dan seterusnya. Pengusaha harus terus belajar untuk mengikuti perkembangan. Jika dia tidak melakukan hal tersebut maka bisnisnya akan mati.

Masih ingat dua usaha sebelumnya? Ya, ia lantas menambahkan, dari bisnisnya ayam tanpa tulang dan bisnis risoles meninggalkan hutang 10 juta. Dia bangkit mencoba memperbaiki segela lewat Zanana. Dia yakin ada solusi disetiap usaha. Sempat dibuat sedih lantara usahanya selalu bangkrut. Azka semakin bersemangat buat memperbaiki respon negatif itu.

Ungakapan meremehkan dan dipandang sebelah mata sudah biasa. Ia telah kenyang merasakan hal tersebut sampai sekarang. Cerita unik terjadi di enam bulan awal memulai usaha Zanana. Ketika saudara memintanya memberi diskon. Azka berkelit meminta mereka menghubungi admin. Lantas si admin menjawab tidak bisa karena akan dimarahi bosnya. Padahal, Azka adalah bosnya, dia juga berperan menjadi admin perusahaan.

"Kalau kita langsung menolak atas nama pribadi kan tidak enak juga," tuturnya sambil diikuti tawa. Masa lalu yang tidak menyenangkan ketika kecil tidak membuat dia lemah. Usia lima tahun, perlu kamu tau, ibu dan ayah Azka bercerai, hingga menjadi masa sulit bersama ibu dan seorang kakak perempuan. "Saking sulitnya, hingga untuk membeli telur untuk makan pun susah," katanya lagi.

Semangat lah yang membawanya sampai menjadi wirausaha. Dia mulai membaca aneka buku bisnis dan juga motivasi. Zanana Chips memiliki aneka rasa, yakni brown chocolate, creamy milk, green thai tea, smoked beef, classy spicy. Untuk semakin laris maka dilakukan usaha jemput bola. Dia mulai distribusikan langsung ke kafe- kafe, dan tentu, ini sudah termasuk sertifikat Halal dari MUI Jawa Barat.

Tahun 2016, rencananya, ia akan bersiap memproduksi kripik pisang sendiri. Rancangan sudah lama disusun tinggal pematangan saja. Dia sudah punya karyawan binaan yang dijadikan patner produksi pisang. Ini akan lebih mudah dikontrol olehnya akan ketersediaan bahan baku.

Biodata Pengusaha


Nama          : Gazan Azka Ghafara
TTL            : Bandung, 27 Juli 1995
Brand         : Zanana Chips
Website      : www.zananachips.com
Facebook   : www.facebook.com/zananachips.official

Instagram    : @zananachips
Twitter        : @zananachips
Line@        : @zananachips
HP/WA        : 087780080075

Es Krim Potong Kalimantan Barat Raymond Lim

Profil Pengusaha Raymond M. Limas



Es krim potong sempat menjadi primadona. Jajanan yang katanya asli Singapura itu, ternyata sudah 33 tahun berada di Indonesia, tepatnya di Kalimantan Barat. Ialah sosok Raymond M. Limas, pengusaha asli dari Indonesia, yang menyimpan rahasia resep keluarga. Ini sama sekali bukan lah es krim potong Singapura loh. Dia menjelaskan lebih lanjut kisahnya melalui awak media.

Sebenarnya es krim miliknya merupakan bagian menu restoran. Usaha restoran keluarga yang dijalankan oleh Raymond. Es krim disini sebenarnya banyak bentuk. Semenjak es krim potong mulai naik daun maka naik pula es krim potong Raymond. Dia lantas muncul ke permukaan sebagai pengusaha es potong. Padahal dia bukanlah pengusaha es potong secara spesifik.

Hanya menu pelengkap katanya lagi menambahkan. Nama es potong Raymond semakin mencuat dibanding nama restoran Raymond Lim Resto. "Tadinya untuk pelengkap restoran saya, tapi malah jadi terbalik yang pelengkapnya malah restorannya," jelasnya lucu. Mereka pengunjung restoran datang malah mencari es krim potong Raymond.

Pengusaha asal Kalimantan Barat ini meyakinkan es krim miliknya homemade. Resep turun temurun 33 tahun milik keluarga. Es krim potong miliknya lebih tipis dibanding es krim Singapura. Macam varian rasa meliputi rasa coklat, kopi, alpukat, vanila, green tea, strawberry serta  kurma. Lantas ia menemukan resep musiman yakni es krim rasa durian dan mangga.

Awal model es krim milik keluarganya disajikan tradisional yakni dikerok. Hingga muncul ide menjadikan itu es krim potong bersama roti.

"Tapi kita tidak terinspirasi dari es krim potong Singapura. Ketebalan kita berbeda, yakni 18 mm," paparnya. Ketebalan lebih tipis dimaksudkan agar orang tidak jenuh memakannya.

Asli Indonesia menyajikan aneka rasa berbeda. Raymond menetapkan standar tinggi soal pemilihan buah  bahan baku -BMW alias becek, manis, wangi. Untuk wangi es krim durian ditetapkan tidak boleh bau langu, pahit, alkohol, minyak, asam. "Saya bisa badain itu dengan mencicipi buahnya tanpa ditelan," jelasnya. Nama es krim potong miliknya pun semakin menggema.

Dia bahkan bisa meggaet mitra di lokasi berbeda. Usaha tersebut lantas diberinya nama Raymond Lim Es Potong Sandwich. Dia lantas kembangkan lewat usaha berbasis franchise. Ada dua paket investasi yakni es krim booth kecil dan booth besar masing- masing Rp.10 juta dan Rp.35 juta. Mitra bisnis rata- rata menjual 4 ribu potong sebulan seharga Rp.15 ribu per- buah

Mitra bisa menghasilkan omzet rata- rata Rp.60 juta. Dan, Raymond sendiri mengaku mampu menghimpun sukses Rp.540 juta dalam waktu satu bulan. Ia pun telah membuka kemitraan sampai di Pasar Santa yang mana pemesanan mencapai 2.000 potong. Produksi ditempat ini bahkan mencapai 10.000 per- potong.

Jajan Krepes Bunda Sulis Berawal di Rumah

Profil Pengusaha Sulistiawati Ningsih 



Inspirasi wirausahawan muda adalah kebutuhan. Kita butuh semangat untuk terus menjalankan usaha. Kalau bicara sumber bisa macam- macam. Tetapi pengalaman adalah guru terbaik termasuk pengalaman orang lain. Berikut kisah dari buku Rahasia Jadi Entrepreneur Muda. Kisah seorang Sulistyawati Ningsih, 34 tahun, atau sering dipanggil Bunda Sulis mengajak orang lain sukses.

Dia tidak sendiri ketika memulai usaha. Melihat peluang waralaba Bunda Sulis mengajak dua orang teman untuk berbisnis bersama. Ia bersama Teti dan Nopy akhirnya mengerjakan bisnis Lucky Crepes serius. Awal usaha sendiri bermula dari usaha rumahan. Kini, dia dikenal sebagai pengusaha sukses, memiliki 250 gerai cabang Lucky Crepes dan beberapa lembaga pendidikan pra- sekolah. 

"Saya sudah malas bekerja di kantor lagi," aku Sulis. Mantan pegawai Indosat ini memang berawal dari karyawan nyambi pengusaha. Namun kemudia ditekuni sampai sukses. Alasan utama kenapa berbisnis di rumah menurutnya "kebahagiaan".

Dia sendiri seorang ibu rumah tangga. Faktanya mengerjakan usaha di rumah menyenangkan loh. Pemikiran tentang dunia kerja lambat laun ditinggalkan. Bayangkan, ketika dia masih bekerja, lulusan STT Telkom Bandung ini, harus berangkat dari rumahnya yang di Tangerang, Propinsi Banten, ke kantor yang beralamat di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. 

Berangkatnya dari jam 6 dan harus meninggalkan anak- anaknya yang masih kecil. "...semua saya mulai dari bisnis yang dapat dimulai dari rumah, dan hal itu sangat membahagiakan," ujarnya, yang semuanya ditulis di buku Bunda Luar Biasa.

Bisnis luar biasa


Dia bersama dua orang patungan mengumpulkan Rp.10 juta. Itupun sebagian besar merupakan pinjaman dari bank. Sebelum waralaba, Sulis memang sudah merencanakan usaha sendiri, mengerjakan usahanya itu di rumahnya. Itu pun setelah 10 outlet miliknya sendiri berjalan. Lantas ada seorang temannya menyarankan kenapa tidak di waralaba.

Awal sekali usahanya masih tanpa nama ketika 2004 -an. Selepas patungan uang Rp.10 juta tersebut baru dimulai bisnis sesungguhnya. Dari satu outlet, bisnisnya menjadi empat outlet selepas mendapat modal. Tiga sahabat ini baru memberi nama selepas siap berwaralaba. Mereka sendiri mengerjakan sendiri berbagi tugas karyawan.

Sebelum mengerjakan bisnis crepes ini Sulis pernah berbisnis lain. Menurut bukunya Bunda Luar Biasa, dia pernah mengerjakan jualan bed cover atau sprei. Intinya dia menjadi distributor atau agen produk retail yang bermacam- macam. Ia pernah juga berjualan pakaian, kue, dll. Menurutnya modal usaha rumaha saja tidak membutuhkan modal lebih dari Rp.5- 10 juta.

Kembali ke Luck Crepes, maka jadilah Bunda Sulis menjadi marketing strategy manager, Nopy berperan jadi public relation manager, dan Teti kemudian bertindak sebagai operasional manager. Perkembangan dari usaha ini sangat bagus sampai Teti memutuskan keluar. Dia memutuskan keluar dari pekerjaan untuk fokus di usaha ini.

Mereka membidik pasar menengah kebawah dengan harga mulai Rp.2000 saja. Untuk strategi marketing dari segala penjuru -menyebar brosur, sosial media, iklan media cetak, dan program member. Alhasil inilah yang membuat Lucky Crepes menjadi buruan media manapun seperti SWA, Majalah Pengusaha, Franchise, Pebisnis, Tabloid Peluang Usaha, Kontan,dll. Soal Waralabanya juga tidak memungut fee ataupun royalti dari nama.

Tidak membebani mitra menjadi konsep lain. Modal investasi waralaba terjangkau yakni Rp.5,5 juta rupiah sudah termasuk join fee, peralatan, gerai, seragam dan pelatihan. Kita mencarikan lokasi dan karyawan buat jualan saja. Kemitraan bisa lewat www.luckycrepes.com atau www.luckycrepes.multiply.com. Sukses ini pun tidak begitu saja karena ada hambatan harus ditaklukan.

Sulis sebenarnya tidak berniat mengerjakan bisnis krepes. Ia malah maunya membuka usaha penitipan anak dan lembaga pendidikan TK atupun PAUD. Namun, karena ingin membuka di mall, maka dana yang ia bisa keluarkan bisa membengkak. Meski pernah ditawari investor tetapi kepastian tidak kunjung tiba. Dia lantas bertemu satu perusahaan. Tetapi mereka menawari kerja sama lembaga pendidikan dan pelatihan wirausaha.

Sayang kordinasi diantara keduanya tidak berjalan baik. Karena memang, Bunda Sulis masih sibuk dengan pekerjaanya. Gagal usaha pendidikan justru membawa arah ke bisnis kuliner. Dia yang sadar bahwa teman- teman hobi jajan akhirnya punya ide. Ketika dia bersama teman tengah nongkrong di kantin kantor, ia lantas menemukan jajanan unik bernama kue iekker.

Usaha waralaba


Ia menemukan titik "aha" nya. Lantas direalisasikan oleh mereka lewat gerobak pertama. Mereka lanjutkan lewat mencari literatur resep krepes. Berikutnya Sulis mulai mengumpulkan peralatan memasak. Outlet itu dibuka pertama kali di kawasan pasar rumput di sebuah sekolah, di Bakasi. Cobaan pertama datang lewat karyawan yang kurang bertanggung jawab.

Alhasil, Bunda Sulis harus menomboki biaya pengelolaan outlet pertama tersebut. Ia mencari lagi karyawan yang bisa bertanggung jawab.

Perkembangan positif akhirnya terlihat dari usaha krepes. Berani mengambil resiko, Sulis memutuskan buat meminjam kredit tanpa agunan di bank swasta. Pertaruhannya tersebut menghasilkan hasil memuaskan. Hasil dari usaha krepes ternyata lebih tinggi daripada bunga bank. Dia lantas mendaftarkan nama usahanya agar tidak ditiru. Cabangya telah bertambah 10 outlet dan diliput oleh berbagai media bisnis.

Liputan media bisnis menaikan pamor Lucky Crepes. Ditambah liputan khusus sebuah tabloid bisnis ternama tentu lebih naik. Omzet pun mencapai angka Rp.100 juta per- bulan dari 240 cabang berbeda. Lalu Lucky Crepes menyambut investasi pewaralaba tersebut lewat aneka produk baru, seperti martabak manis, produk wafel, dan pukis parabola.

Memiliki usaha lembaga pendidikan merupakan impian. Jadi ketika Lucky Crepes sukses, maka Bunda Sulis mulai lagi menyasar usaha pendidikan, yang sebenarnya sudah dia impikan sejak sebelum menikah. Ini sudah diyakini tetapi berjalan justru selepas dua tahun Lucky Crepes berjalan. Usaha lembaga pendidikan dimulai sejak 2005, sementara yayasan resmi menaungi lembaga baru berdiri Februari 2006.

Usaha lembaga pendidikan berkonsep kelompok bermain dan TKIT, yang kemudian dinamai Ibnu Rusyid berjalan sejak tahun ajaran 2006- 2007 di Kencana Loka, Bumi Serpong Damai. Dimana fokus pendidikan ada di pendidikan karakter dan multiple intelligence. Tidak cuma diajarkan baca dan menulis tetapi termasuk bagaiamana good character. Semua berdasarkan kepercayaan Sulis akan "golden age" masa pertumbuhan.

Usaha kedua kemudian didirikan di Citra Raya Tangerang. Perjalanan usahanya kemudian berkembang lebih pesat lewat program TPA Plus dan English Club for Kids. Yayasan Ibnu Rusyid juga termasuk rajin dalam hal mengadakan seminar dan pelatihan multi- intelligence. Untuk mereka yang mau membuka usaha ini juga diberikan pelatihan kurikulum berbasis tersebut.

Dalam hal membagi waktu di kantor ataupun di yayasan, Bunda Sulis menyerahkan kepada satu tim yang full time bekerja di yayasan. Kemudian dalam jangka panjang yayasan akan membuka sekolah guru berbasi di konsep multi- intelligence tersebut. Ini juga termasuk bagi orang tua yang mau belajar lebih banyak tentang hal multi- intelligence.

Usaha selanjutnya adalah membuka salon muslimah. Dia membuka usaha ini di kawasan Villa Ilhami, Lippo Karawaci. Meski masih embiro belum sukses tetapi tetap dijalankan. Ia memang sudah berprinsip bahwa ini soal dikerjakan atau tidak. Bunda Sulis menyadari usaha bukan tentang cepat tetapi proses. Maka kalau ada ide bisnis harus segera dilakukan.

"Kalau patokan dan tujuan kita hanyalah hasilnya, setiap proses yang belum menghasilkan akan kita anggap sia- sia," tutur wanita berjilbab ini.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba