Marketing Jualan Kambing Lewat Salon Gobing

 Pengusaha Sukses Margo Santoso


jualankambing.png
 
Marketing jualan kambing lewat salon. Ini ide bisnis yang berhubungan dengan hari raya Idul Adha. Kalau jualan kambing atau sapi sudah biasa. Tetapi pengusaha ini menciptakan marketing jualan kambing jenius. Ide bisnis yang layak kamu ikuti ketika masuk Idul Adha nanti.

Bagaimana cara memanjakan si hewan kurban sebelum pergi ke surga nanti. Kanapa kita tak sedikit memanjakan mereka toh pahalannya buat kita sendiri. Dibanding cuma beli beberapa hari sebelum berkurban, disembelih, kemudian dipotong- potong. 
 

Marketing Jualan

 
Atau kita bisa biarkan mereka untuk beberapa hari menikmati layanan premium. Di saat Hari Raya Kurban, maka para penjual akan menawarkan layanan terbaik. Di Semarang ada seorang pengusaha bernama Margo Santoso menawarkan layanan berbeda. 
 
 
Salon hewan kurban bernama Gobing, yang mana fokus merawat si kambing. Dari perawatan bulunya dibersihkan layaknya rambut manusia, lalu dimandikan layaknya spa, hingga disisir rapi hingga tampak elok ketika dikurbankan.

Pria 36 tahun ini membuka salonnya di Jalan Arjuna Raya No. 61 RT 5/2, Pandrikan Kidul, Semarang Jawa Tengah, dimana sudah 14 tahun menggeluti bisnis ini. Gobing sendiri merupakan satu singkatan dari Margo Kambing. 
 
"Kalau tidak untuk Idul Adha, biasanya untuk Aqiqah," kata Pak Margo. Disana ada satu tempat mandi besar buat memandikan kambing- kambing. Dengan senang hati dirinya mengajak pewarta dari Metro melihat ke dalam.

Sejak 2009, bisnisnya terbilang cukup sukses, mampu melayani 25 ekor kambing di salonnya. Meski begitu tak mudah memandikan kambing loh. Ketika diliput Margo tengah mengambil satu kambing dari kandang yang terbuka. Meski melawan ketika sudah diguyur air. 
 
Kambing itu jadi tenang dan tak berontak lagi. Ia pun lantas mengambil sabun dan sampo.

"Sabun dan samponya biasa. Memang agak susah kalo kambingnya berontak," ujar Margo.

Unik karena salon Gobing tak memungut biaya. Alias gratis, tentunya buat kamu yang membeli kambing dari Margo. Air sampai samponya merupakan cara uniknya memasarkan bisnisnya. 
 
Tidak cuma ada salon juga ada layanan pemeriksaan kesehatan langkap, pemeriksaan mata, kontrol keberisahan telinga, dan kuku. Dan kuku jika tak dibersihkan akan menimbulkan kutu. Nah, si kutu itu menjalar ke telinga membuat bawah telinga gatal. 
 
Jikalau cuaca panas dan tidak disalonkan itu bisa membuat menyebar sampai ke tubuh. Alhasil kambing jadi penyakitan dan tak mudah gemuk. Hasil akhirnya apalagi kalau bukan tak layak dikurbankan. 
 
Hal lain dilakukan oleh Margo adalah pemberian nutrisi lengkap, berupa sentrat, tetes tebu, garam, vitamin, dan obat cacing. Lagi- lagi ia menkankan tidak ada biaya tambahan! Ia akan tetap menjual kambing serhaga Rp.2 juta- Rp.4 juta. 
 
Bahkan pihaknya mau menjamin gratis ongkos buat mengirim kambingnya. Untuk memasarkan konsep bisnisnya ternyata tak butuh biaya mahal. Cukup lewat konsep mulut- ke mulut. Daya tarik bisnisnya ada pada salonnya. 
 
Hasilnya ialah penjualan mampu capai 250- 300 ekor kambing di Musim Haji. Pembelian juga berfariasi dari perusahaan atau perorangan.

Pengusaha Mancit Bisa Bikin Duit

Profil Pengusaha Ismanto


pengusahamancit.png

Pengusaha mancit atau "pengusaha tikus" begitu Kompas memberitakan. Memang bagi kebanyakan orang tikus itu menjijikan. Tak jarang binatang pengerat ini menjadi sasaran sandal. Apalagi para petani pasti benci sekali namanya tikus yang perusak tanaman. 
 
Beda orang, beda kisah Ismanto, pria 38 tahun yang sengaja menternakan tikus. Ia buka sekedar mengembangkan tikus biasa. Tapi ini tikus putih atau mancit (Mus Musculus), yang termasuk dalam keluarga rondentia.
 
Mungkin buat kamu sedikit membingungkan. Begitu juga penulis tak begitu paham arti istilah- istilah biologi tersebut. Hanya saja warga Jalan Merbabu, Kampung Jambon Tempel Asri, Kelurahan Cacahan, Kota Magelang ini, tau betul bahwa tikus putih menghasilkan duit. 
 

Penjual Tikus

 
 
Masih keluarga dekat hamster, gerbil, tupai dan hewan pengerat lainnya, jika diperhatikan baik- baik tikus putih tak terlalu buruk.

Semula usahanya cuma hobi belaka. Tanpa ada embel- embel niatan menjual tikus- tikus putihnya. Karena dari keseharian Ismanto sudah tercukupi dari bisnis keluarganya. Sebuah bisnis bakmi warisan orang tua dia rasa cukup. Dari sisa makanan yang bisa jadi mubazir. 
 
Dibelikanlah beberapa ekor tikus, diberinya makan dari sisa jualannya. Tepatnya di tahun 2002, Ismanto membeli beberapa ekor tikus putih dan hitam seharga Rp.10.000.

"Sayang sekali sisa makanan itu kalau dibuang begitu saja. Biasanya memang untuk pakan ayam, tetapi masih sisa," ujar Ismanto.

Entah datang dari mana ide tentang tikus putih tersebut. Hanya berpikir bagaimana kalau itu dijadikan pakan tikus saja. Tikus tersebut dimanfaatkan buat menghabiskan makanan sisa. Selain buat tikus, ternyata selepas tikus itu kenyang, mereka dimakankan ke ular- ular peliharaannya. 
 
Eh ternyata bukan cuma tikus, Ismanto juga memelihara kucing, ayam, burung, serta aneka reptil. Setahun beternak tikus sendiri buat sendiri. Ternyata kebutuhan akan mancit oleh sesama pecinta reptil ikut datang. Mereka menghampiri Ismanto memintanya menjual. 
 
Selain dari mereka ada pula permintaan dari para mahasiswa, yang katanya buat media penelitian. Sejak saat itulah dirinya mulai berpikir menyeriusi ini sebagai bisnis baru. Beternak tikus menjadi alternatif bisnis lainnya. Dalam perjalanan ia mulai berani kawin silangkan tikus.

Hasil kawin silang beberapa tikus berbeda ternyata menganggumkan. Ini menakjubkan baginya karena lahir berbagai tikus yang berwarna unik. "Ada warna emas, perak, belang-belang, bentuknya lebih lucu dan menggemaskan," jelasnya. Ayah dari tiga orang anak ini merasa beruntung karena istrinya, Sri Lestari (37), beserta anaknya ternyata tak takut tikus.

Mereka malah mendukung bisnis baru ayahnya. Pria gondrong yang ternyata alumnus STM Penerbangan ini. Memang melenceng jauhnya dari apa yang ia jalani. Dari penjual bakmi menjadi pengusaha mancit. Berkat kejeliannya mampu membaca peluang. Bisnis ini juga tak terlalu mahal loh. 
 
Tikus mancit itu suka biji- bijian dan pelet makanan ayam. Untuk kandangnya ia perhatikan sangat dibersihkan sekali seminggu. Alasnya cukup memanfaatkan sekam padi. Pelanggan datang baik dari pecinta reptil, mahasiswa, hingga masyarakat umum. 
 
Soal cara marketingnya, Ismanto tak spesifik caranya cuma lewat sosial media, ada website, Facebook, dan lain- lain. Ketua dari Komunitas Reptil Magelang ini menyebut untungnya lumayan. Dia bahkan mampu mengirim ke daerah lain di Pulau Jawa. 
 
Tiap bulannya ada saja pesanana. Padahal awalnya cuma sebagai pemenuh hasrat hobinya. Kini, tikus mancit jualannya itu bisa dihargai per- ekornya Rp.3000, untuk warna unik hasil kawin silang bisa Rp.25.000- Rp.100.000.

Biografi Ucok Durian Medan Cara Sukses Jualan

Profil Pengusaha Zainal Abidin


biografiucok.png

 
Cara sukses jualan durian diperagakan pria berkacamata ini. Biografi Ucok Durian Medan, nama aslinya Zainal Abidin Chaniago. Atau, biasanya orang memanggilnya Ucok Durian. Apa halnya panggilannya jadi begitu. Karena dia adalah putra asli Medan, putra Batak. 
 
Berkat dia pula buah durian lokal tak sekedar menjadi hiasan. Dia sukses menjual aneka durian utuh. Itulah sebab adanya embel- embel nama durian di belakang namanya. Sebelum setenar sekarang perlu kamu tau perjalanan hidupnya tak mudah.

Menurut Kontan.co.id, sejak usia 14 tahun, terlahir dikeluarga yang kekurangan. Membuat Ucok terbiasa mencari uang sendiri. Memulai usaha dari nol sejak belasan tahun. Lantaran orang tua miskin membuatnya tak punya uang membayar sekolah. 
 

Biografi Ucok Durian

 
 
Pendidikan terakhir Ucok mentok dikelas 2 SMP. Ayah hanyalah tukang becak. Dan ibu membantu ekonomi keluarga menjadi buruh cuci. Itu masih tak cukup membiayai Ucok dan lima adiknya. Ia memutuskan usaha sendiri. 
 
Memutuskan mandiri mencari uang sendiri, mencoba ikut membantu ekonomi keluarga. Di masa awal, Ucok bekerja menjadi karyawan di gerai penjualan buah durian di Kota Medan. Tak sekedar bekerja juga aktif belajar tentak seluk- beluknya. 
 
Bertahun- tahun bekerja di tempat orang, hasrat membuka usaha sendiri akhirnya tersalurkan. Modal Rp1,75 juta ditambah pengalaman dan pengetahuan soal durian. Ucok memberanikan diri membuka bisnis sendiri. Uang tersebut digunakan membeli durian sebanyak setengah mobil bak. 
 
Lantas dijajakan di pinggiran jalan. Umur 24 tahun sudah punya usaha sendiri. Sebuah warung tenda sederhana di pinggir jalan. Jikalau durian sisa dan tak habis maka langsung dijualkan ke pasar. Untung jualan pertama cukup lumayan omzetnya Rp.300.000.

Omzet tiga ratus ribu per- hari dibaginya menjadi tiga. Pertama dibagikan ke teman sekaligus mitra bisnisnya. Lalu uang Rp.50.000 diberikan kepada keluarga. Sembari berbisnis, tidak lupa belajar mengenai si buah durian ini. 
 
Cara sukses jualan durian lewat menyambangi petani di berbagai tempat. Bahkan sampai ke Aceh cuma buat durian. Dedikasinya akan durian membawanya ke pusat durian Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, seluruh Pulau Sumatra.

"Tiap kampung bisa memiliki musim durian yang berbeda- beda," ujar Ucok.
 

Rahasia Bisnis Durian


Lambat laun kegiatannya itu membuahkan jaringan bisnis. Koneksinya ke para petani durian semakin kental dan kuat saja. Modal saling percaya digunakan oleh pria yang sekarang sudah berumur 45 tahun ini. Modal PD -nya atau percaya dirinya berani membeli durian lebih mahal. 
 
Dia menawarkan harga lebih mahal dari pedagang lain. Selain itu ketika ada petani membutuhkan uang karena kebutuhan mendesak; Ucok selalu ada disana.
 
Ia bahkan rela meminjam uang untuk membantu petani. Hasilnya ketika mereka panen, hasil durian mereka akan menjadi milik Ucok. "Sebagai gantinya ketika sudah panen, durian-durian milik petani itu menjadi milik saya," kata dia. 
 
Berkat pendekatan itulah maka lapaknya selalu kebanjiran stok terus. Tidak ada matinya, ia bahkan mampu menjual durian 24 jam non- stop. Startegi "memanjakan" diterapkan kembali ke konsumen pula.

Baginya kepuasan merupakan kunci suksesnya. Pengusaha yang sudah 20 tahun melalang buana ini. Sudah tau betul persaingan semakin ketat. Itulah baginya pelanggan merupakan "mahal" seolah seperti pelanggan adalah raja. 
 
Memanjakan mereka, maka lapak Ucok menghadirkan durian dengan variasi jenis terbanyak. Berkat pemahaman akan durian Ucok membuat penjualan lebih efektif. Sejak itupula lapaknya disulap lebih nyaman. Agar pelanggan bisa makan langsung di tempatnya. 
 
Guna memenuhi kebutuhan durian, setiap hari, ada enam mobil hingga tujuh mobil berisi durian berasal dari Aceh, Sumatra Barat atau Sumatra Utara. Menjalin hubungan baik dengan para petani masih dilakukannya. Seolah mereka sudah menjadi bagian keluarga. Berkat inilah sepanjang tahun Ucok bisa mendapatkan stok durian lengkap.

Bulan Juni, Juli, Agustus, dan September, menjadi bulan melimpah durian. Lalu Oktober dan juga November jumlah durian akan menyusut. Pada bulan Desember, maka durian akan mulai melimpah kembali. 
 
Karena sudah terbaca maka di bulan- bulan panen ramailah tempat itu. Berkat dedikasinya yang tinggi telah mampu membuat usahanya jadi legenda. Menjadi suatu keharusan kalau ke Medan harus mampir ke tempat Ucok Durian.

Ini sudah menjadi ajang pariwisata. Dari turis lokal dan asing pasti menyempatkan diri mampir. Sukses dalam membangun brand -nya maka tak ayal. Pada suatu hari, seorang President, yakni Pak SBY rela mampir ke tempatnya buat mencicipi.

"Saya merasa sangat terhormat toko ini pernah didatangi pak SBY. Momen itu sungguh tidak akan terlupakan sepanjang hidup," kenangnya.

Untuk seharinya Ucok Durian mampu menjual 7.000 buah durian per- hari. Soal harga berfariasi dari Rp.20.000- Rp.25.000 per- buah untuk ukuran kecil. Ukuran lebih besar, cukup murah kok yakni cuma Rp.30.000 saja. 
 
Dalam sehari ia mengaku mampu mengantongi omzet Rp.45 juta sehari. Kalau masuk di akhir pekan bisa mencapai omzet Rp.55 juta per- hari. Bisa dibayangkan dalam sebulan berapakah omzet dari Ucok Durian.

Dibantu 30 orang karyawan bekerja 24 jam non- stop berjualan. Ucok sendiri tak menyadari harapan bisnis durianya telah menjadi ikon pariwisata. Berkat usahanya durian juga, pria yang cumalah lulusan SD ini, telah mampu memberangkatkan kedua orang tuanya berhaji. 
 
Dia juga bisa menyekolahkan adik- adiknya menjadi sarjana. Soal rencana membuka kebun durian. Ucok mengaku tak terpikirkan soal itu. Ia maunya fokus di penjualan durian saja. Soal stok diserahkan sepenuhnya kepada petani mitra. 
 
Kalau bicara ekspansi maka impiannya adalah memiliki pusat oleh- oleh sendiri. Ia ingin membuka lapak aneka produk yang khas dari Medan. Lapaknya nanti akan menjual ikan teri, ikan asin, sirup markisa, lapis legit, kemudian bika ambon,dll.

"Sekarang sedang mencari tempatnya, juga sedang diseleksi barang apa saja yang bisa di jual di toko tersebut," tutup Ucok Durian.

Biografi Luther Kombong Mantan PNS Sawit

Profil Pengusaha Luther Kombong

lutherkombong.png
   
Biografi Luther Kombong, mantan PNS, nama pengusaha yang mungkin sudah familiar untuk warga Kalimantan Timur. Pria kelahiran Rantapeo Sulawesi Selatan, 27 September 1950, yang dikenal sebagai pengusaha kaya raya dan salah satu kader terbaik dari Partai Gerindra. 
 
Seorang politikus, pengusaha terkenal, yang ternyata dulunya pernah mengecap rasanya jadi orang bergaji. Untuk pengalaman politik selain pernah menjadi calon Gubernur Kaltim. Dia tercatat menjadi anggota DPR sejak 2004. 
 
Dua periode sudah dia menjabat menjadi anggota DPR Komisi IV -membadani pertanian, perkebunan, Kelautan, Perikanan dan Pangan. Selain pengusaha dan politik, ia juga mantan PNS di Dinas Kehutanan sejak 1985.

Biografi Luther Kombong


Sebelum menjabat direktur utama PT. Pancakarya Margabhakti dan PT. Dwiwira Lestari Jaya. Sosok Luther ya seperti kebanyakan orang biasa alias bergaji. Cuma bedanya dia cerdik dalam hal berbisnis. Ia bahkan sukses ketika masih berstatus pegawai negeri sipil. 
 
Pengusaha berdarah Toraja dan tumbuh besar di Kalimantan Timur. Merupakan pengusaha lokal bisnis sawit di Kaltim. Unik, jarang loh ada pengusaha lokal sukses di sawit.

Bahkan hampir tidak ada pengusaha lokal sukses disini. Menurut artikel sumber, pengusaha di Kalimantan, kelau pengusaha lokal cuma pemilik hak pengusahaan hutan (HPH). Jadilah cuma beberapa saja yang bisa punya tanah luas. 
 
Jarang sekali pengusaha lokal bisa sebesar Luther Kombong -kebanyakan merupakan perusahaan besar dari luar Kaltim. Sebut saja nama- nama perusahaan besar seperti Astra Argo Lestari, Lonsum, Sinarmas.dll.

Pengusaha yang memulai usahanya dari bawah. Setamat SMA, Luther tak mungkin kuliah karena masalah ekonomi, untungnya ia mampu masuk PNS di Dinas Kehutanan Kalimantan Timur. Berkat kerja kerasnya lah dia bisa mendapatkan pekerjaan. 
 
Terbukti selama bekerja di dinas, tak sedikit usaha sampingan dijalaninya sambil bekerja. Mulai dari berbisnis restoran kecil- kecilan, kantin sekolah, penyewaan mobil, sampai ikut proyek prasarana. Justru dibisnis sampingan lah uang lebih besar berasal. 
 
Hingga ada seorang relasi nyeletuk kepadanya, "kalau jadi PNS terus, kamu tak akan bisa kaya atau cukup." Luther harus menjadi entrepreneur sejati. Seorang yang mampu melihat peluang bisnis. Soal mental sendiri sudah dianggapnya Luther punya. 
 
Tahun 1986, ia baru bisa mengajukan surat pengunduran diri. Disaat mengajukan surat itulah banyak kolega bahka atasan yang menahannya. Sang atasan malah menawarinya cuti di luar tanggungan negara. Sayang, tekadnya menjadi pengusaha sudah bulat. 
 
Ia sempat mengikuti saran tersebut. Tetapi, hasratnya condong ke pengusaha tak tertahan lagi. Selepas tak lagi menjadi pegawai, Luther membangun bisnis konstruksi. Targetnya mengerjakan proyek pemerintah di bidang infrastruktur. 
 
Luther banyak membangun jalan- jalan antar daerah. Proyek pemerintah daerah yang fokus di kawasan transmigrasi. Berjalan waktu ia lantas "bosan" akan tingkah Pemda. Menurutnya pemerintah daerah terlalu birokrasi dan bertele- tele. 
 
Kalau birokrasi mungkin bisa ditunggu, tapi menurutnya kalau soal bertele- telenya; ia tak tahan lagi. Udah bekerja setengah mati tapi uangnya susah keluar. "Kami bekerja tapi seperti pengemis," ujarnya. Perusahaan miliknya sudah tak mau lagi berurusan. 
 
Pilihannya cuma satu bekerja sama dengan perusahaan swasta muni. Berkat kharismanya, kemampuan berbisnisnya memanggil perusahaan besar mendekat. Dia dipercaya oleh perusahaan besar macam Sumalindo. 
 
Ia lantas menjelaskan, "sukses dipercaya oleh perusahaan-perusahaan besar itulah yang membuat saya beranjak naik." Tak cuma naik tapi seperti halnya balon ditiup. Berkat hal apa namanya kepercayaan bisnis ayah dua anak ini moncer. "Seperti balon ditiup," ia menganalogikan.

Meski sukses berbisnis konstruksi justru memunculkan kegalauan. Lantaran fakta dia dan perusahaan sangat tergantung rekanan. Sistem kontrak karya membuat usahanya berhenti, ketika tak ada lagi kontrak kerja sama. 
 
"Ketika kami nggak dipakai lagi, maka kerjaan tak ada. Kami ingin bisnis yang long-term, bukan bisnis kontraktor seperti ini," Luther menjelaskan. Dibenak Luther cuma ada bisnis perhotelan, rumah sakit, perkebunan atau sekolah.

Pengusaha Sawit


Meski banyak ide tak lantas semuanya cocok. Dia membaca itu lewat keadaan Kaltim. Secara umum buat bisnis perhotelan, rumah sakit, dan sekolah belum saatnya. Mau memilih batu bara yang sedang "booming" malah menurutnya terlalu banyak unsur perjudian. 
 
Kurang menarik baginya yang mencari kepastian jangka panjang. Akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa bisnis sawit lah.

"Saya pikir bisnis ini paling cocok untuk Kal-Tim karena alamnya memang memungkinkan," ujar Luther.

Idealisme Luther sebagai pengusaha dicoba seketika. Semasa itu, tahun 1998, dia sempat ditawari ijin HPH. Gampangnya, kamu tinggal tebang pohon atau jug bakar pohon, tanami tanaman sawit dan jadi duit dan begitu seterusnya. Ini tak menggoyahkannya karena fokus ada di tanah perkebunan. 
 
Tanah hak siap pakai tanpa ada jeda waktu. Jika pengusaha kebanyakan sukses di HPH, tidak seorang Luther, sekali lagi bisnis long- term bukan short term! Ini baru kesampaian di akhir 1998 lewat hak pemanfaatan hutan. Total ada perkebunan sawit seluas 20 ribu hektar. 
 
Semenjak punya kebun sawit sendiri kiprahnya sebagai pengusaha bergulir. Di tahun 1999 mulailah proses penanaman. Untungnya waktu itu, ia mendapatkan bibit bagus asal PT. London Sumatera Plantation -yang gagal tanam karena didemo warga. 
 
Modal sendiri menjadi andalannya ketika membangun bendera PT. Dwimitra Lestari Jaya.

"Saya memakai tabungan sendiri dari hasil keuntungan bisnis-bisnis saya sebelumnya," katanya mengenang.

Karena modal sendiri pantas jikalau pertumbuhan bisnisnya tak cepat. Tak secepat pengusaha sawit yang sudah dimodali kredit bank. "Makanya pertumbuhan kami nggak bisa secepat mereka yang menggunakan kredit bank," lanjutnya merendah. 
 
Toh, akhirnya bisnis sawit itu terus berkembang, bahkan sudah mencapai 35 ribu ha di Sangkurilang dan Berau. Untuk konsesi kedua seluas 15 ribu ha dipegang oleh putra pertamanya. Dari kebun pertamanya katanya sudah ditanami 8 ribu ha. Sementara yang sudah bisa berpanen ada 3 ribu ha. 
 
Kebun itu mampu mempekerjakan 1.600 pekerja. Sebagian pekerjanya datang dari desa- desan miskin di Pulau Jawa. Kemudian dibangun juga satu pabrik berkapasitas 30 ton per- jam. Yang mana rencananya akan meningkat sampai produksi 60 ton per- jam. 
 
Cerdasnya Luther mampu memanfaatkan perkebunannya. Ia sempat membangun pabrik kayu lapis dan vinil sekala sedang. Usaha plywood atau pengolahan kayu agar tidak ada limbah. Ketika membuka lahan terlebih dahulu ada pemotongan kayu hutan diameter 20- 30cm. 
 
Agar tidak mengikuti aturan dari pemerintah bahwa tidak ada pembakaran atau limbah. Satu- satunya cara ya lewat adanya pengolahan plywood. Untuk itulah perusahaan bernama PT. Panca Karya Marga Bakti. Usaha kayu lapis yang telah mempekerjakan 400 -an karyawan.

Luther masih merasa dirinya bukan siapa- siapa. Tak hentinya ia bersyukur atas jalannya roda kehidupannya. Seorang anak cuma lulusan SMA sampai akhirnya menjadi pegawai negeri dan seterusnya. 
 
Usaha berkembang menurutnya tak melulu harus punya modal besar. Meski terlihat besar sekarang, parlu kamu tau awalnya ratusan alat pengolahan miliknya adalah hasil leasing. Semuanya berkat kemampuannya membaca meperhitungkan.

Ada aset properti dibelinya di Samarinda Seberang seluas 100 ha, dibeli semasa belum krisis, dan harganya baru Rp.15- 20 ribu per m2. Sekarang tanah tersebut ditaksir seharga Rp.500 ribu per- m2. Nilai asetnya naik sampai satu triliun bukan karena apa. 
 
Tapi karena ia pandai menyimpan uang dan berstrategi. "Padahal waktu krisis saya sempat mengira ini langkah bisnis saya yang salah," ujar Luther, yang rencananya akan membangu hotel disana.

Prinsip bisnis Luther sederhana kok, ada lima prinsip agar kamu bisa jadi the next Luther Kombong:
 
(1) mau bekerja keras, (2) punya keberanian, yaitu berani mengambil keputusan, (3) jujur, agar menarik kepercayaan mitra, (4) memelihara lingkungan, (5) punya manajemen yang baik, termask manajemen uang kamu sendiri buat berinvestasi. 
 
Prinsip kejujuran menjadi andalan seorang Luther Kombong. Istilahnya kalau kamu udah bisa dipercaya kamu telah kaya.

"Karena orang kalau sudah percaya akan berani meminjamkan barangnya atau uangnya kepada kami. Kalau kami tidak dipercaya maka hubungan itu akan putus," tutur Luther yang kini lebih sibuk berpolitik sementara putra pertamanya yang menjalankan bisnis. 
 
Meski bisnis sawit tampak megah diluar. Fakta menurut dia, iklim investasi dibisnis ini lemah. Utama soal ada atau tidak kepastian hukum. Tidak ada political- will memajukan pengusaha. Pemerintah tak serius memilah mana pengusaha yang taat pajak, pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan baru, dengan yang mana pengusaha yang sekedar spekulan. 
 
Ilegal dan legal menurutnya di Indonesia itu beda tipis. Birokrat sendiri lebih suka bisnis ilegal yang dilegalkan.

"Kita tertinggal jauh dari Malaysia," tambahnya.

Jaminan keamanan dinilainya lemah banyak perkebunan sawit dirusak warga. Padahal kalau mau pemerintah bisa membuat kebijakan pemberdayaan masyarakat. Belum lagi bunga bank masih cukup tinggi. 
 
"Kalau kondisinya kondusif, kami pasti sudah bisa tanam 20-30 ribu hektar sampai sekarang," tutup Direktur Utama PT Dwimitra Lestari Jaya ini seraya berharap. Sumber: Sudarmadi, Business Journalist and Researcher SWA.

Pengusaha Gila Usaha Briket Kulit Kacang

Profil Pengusaha Edy Gunarto 


pengusahagila.png
 
Pengusaha gila usaha briket kulit kacang. Dasarnya memang menjadi pengusaha keputusan ggila. Ia harus mampu membuat peluang bisnis. Merubah ketidak mungkinan menjadi kenyataan. Termasuk hal- hal paling kecil -remeh temeh, semisal dia mengolah kulit kacang. 
 
Edy Gunarto, cuma warga dusun biasa (awalnya), asli Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, dan Yogyakarta, mampu merubah kulit kacang menjadi briket. Edy sudah bisa memasarkan produknya di berbagai kota, seperti Surabaya dan Jakarta.
 

Usaha Briket

 
Lewat kulit kacang saja namanya dikenal diantara pengusaha kelas rumah tangga. Mereka adalah orang- orang yang butuh bahan bakar alternatif pengganti. Gagasan sederhana yang lantas memulai keisengan. 
 
Mulai dari rasa terlalu banyak sampah kulit kacang di desanya. Sampah bertumpuk dibiarkan di pinggiran jalan atau begitu saja di kebun- kebun.

Di rumah Edy sendiri kulit kacang tak kalah banyaknya. Apalagi sang istri ternyata seorang pengepul kacang. Dimana istrinya menerima kacang hasil panen para petani. Setelah itu kacangnya dikupas oleh istrinya, dijual setelah bersih tanpa kulit. 
 
Kacang asal Desa Sidomulyo itu biasanya dijual di pasar tradisional, terutama di pasar Bringharjo, yang mana cuma menyisakan setumpuk kulit kacang di rumah. Semakin menumpuk lagi berkat jasa Edy pula. Berkat mesin canggih buatannya yang mampu mengupas 2 kuintal dalam sehari. 
 
Alat tersebut semakin ganas selepas dimodifikasi ulang. Olehnya, kini, mesin pengupas kacang buatannya mampu mengolah 1,5 ton per- hari. Alat tersebut dijelasnya meniru alat perontok padi karena prinspinya hampir sama.

"Dengan bantuan alat pengupas, kacang tanah yang tertampung semakin banyak," jelasnya. Serta semakin banyak pula kulit kacang tertumpuk di rumahnya.

Berkat mesin itu keuntungan bisnisnya makin menanjak. Tapi bukan karena itu namanya menanjak, menjadi sosok pengusaha inspirasi kamu. Berkat mesin pengupas kacang, petani kacang datang tidak cuma berasal dari daerah Bantul. Tetapi juga petani asal Kulon Progo dan Gunung Kidul. 
 
\Itu membuat usaha istrinya makin pesat saja.

"Dampak lainnya, ya semakin menumpuknya sampah kulit kacang di rumah kami," ujarnya.

Kulit itu bahkan terkumpul sampai bertruk- truk. Kulit itu dijualnya ke pengrajin tahu seharga Rp.30.000- Rp.35.000 per- truk. Kulit kacang tersebut digunakan oleh para perajin sebagai bahan bakar. 
 
Di sanalah ada terbersit ide bagaimana memanfaatkan kulit kacangnya. Kebetulan juga ada pelatihan pembuatan briket di kampung Edy. Ada pelatihan membuat briket serbuk gergaji, yang sayangnya, lebih mudah mencari kulit kacang dibanding kayu.

"... di tempat saya sulit dan yang tersedia kulit kacang, ya saya coba saja," ujar Edy, lantas dicarinya sumber bacaan tentang kulit kacang dan briket. Dia tertarik bagaimana cara membuat briket kulit kacang. Masa eksperimen dilakukan dengan mencampur kulit kacang dan serbuk gergaji. 
 
Lambat laun, akhinya Edy sukses menemukan cara 100% kulit kacang. Pada awal eksperimen, proses pembakaran tidak sempurna jika cuma memakai kulit kacang. Menurut hasil penelitiannya semua bahan organik bisa. Mampu dirubah olehnya menjadi bahan briket. 
 
Begitu pula bahan kulit kacang yang berton- ton tersebut. Cuma butuh diakali dulu sampai benar- benar bisa 100% dari kulit kacang. Hasil penelitian Edy ada cangkang jarak, tempurung kalapa, bahkan bonggol jagung bisa diolahnya jadi briket. 
 
Penggunaan bahan lain digunakannya jikalau stok kulit kacang menipis.

"Karena di daerah sini terkenal sebagai sentra kacang, stok kulit kacang praktis selalu tersedia meskipun pada masa-masa tertentu stok kulit kacang kadang memang agak berkurang," jelasnya.

Pengusaha Gila

 
Selain kulit kacang ada pula bonggol jagung sebagai alternatif. Pabrik briket kecilnya mampu menghasilkan 70kg briket. Setiap 1kg briket membutuhkan 2kg kulit kacang. Dalam sehari dibutuhkan 180kg kulit kacang setiap harinya. 
 
Selain sampah milik sendiri juga dibelinya dari masyarakat sekitar. Dibelinya Rp.50 per- kg, yang mana Edy menjual kemasan 2kg -an. Briket- briket tersebut kemudian dijualnya Rp.2.500 per- kg.

Produksinya masih rendah dibanding permintaan yang meninggi. Kendala paling utama bisnisnya adalah soal peralatan yang masih sederhana. Harapan akan adanya investor akan sangat membantu. Mungkin dia bisa berproduksi setingkat pabrikan. 
 
Mengingat potensi kulit kacang (organik) masih terbuka lebar. Pria lulusan STM 2 Jetis Bantul ini memodifikasi peralatannya sendiri. Ambil contoh pengaduk molen briket meniru kerja mesin pabrik. Alat buatannya seharga Rp.2 juta, kalau beli bisa mencapai Rp.5 juta. 
 
Alat cetak briketnya? Tenang, Edy mengunakan alat pencetak genteng. Itupun sudah dimodifikasi pula Pemanfaatan briket cukup memakai tungku tanah liat seharga Rp.10.000. Memang ini khusus dibuatnya karena belum pernah ada. 
 
"Setelah saya bicarakan dengan para perajin, mereka lalu memproduksi tungku gerabah sehingga konsumen tidak kesulitan mendapatkannya," kata Edy.

Menyalakan briket dalam tungku juga mudah. Briket tinggal ditaruh didalam lubang yang atasnya sudah ada tungku. Dinyalakannya juga gampang cuma pakai secuil kertas atau kain (sudah menyala api). 
 
Tidak sesulit kalau memakai briket batu bara. Uletnya seorang Edy menghasilkan secercah harapan. November 2008, ia memenangkan perlombaan, juara pertama lomba yang diselenggarakan Universitas Indonesia dan Citi Peka.

Ia memenangkan ajang entrepreneurship. Berarti juga ada kesempatan mendapatkan bantuan dana. Atas hal prestasinya diatas briket kulit kacang memenangkan Rp.11 juta. Uang tersebut rencananya akan digunakan buat modal kembali. 
 
Usahanya dirasa akan semakin berkembang lagi. Pasalnya kala itu minyak tanah subsidi mulai langka dipasaran. Tanpa subsidi harga minyak tanah mencapai Rp.8.000 per- liter. Nilai ekonomisnya sudah melebih briketnya.

Ini bisa pula menjadi bahan bakar alternatif pemerintah. Sayangnya, briket ini kalah pamor dengan briket dari batu bara. Apalagi kalau bukan masalah "uang" menjadi hambatan. Briket kulit kacang atau bahan organik lain kalah seksi dibanding briket batu bara. 
 
Terlalu banyak orang masuk dibisnis batu bara dan bisa terusik. Menggunakan briket organik nyatanya ramah lingkungan. Lebih irit kalau dibanding minyak tanah (meski tak secocok tabung gas). 
 
Cocok buat mereka yang memasak nasi, sayur, dan lauk, cocok lagi untuk mereka yang punya usaha pengolahan tahu atau tempe. Satu liter minyak tanah delapan ribuan, sementara briketnya cuma Rp.2.500 per- kg. Ini tidak pula menimbulkan asap mengepul mengotori langit- langit.

Kini, briket kulit kacangnya menjadi idaman industri ruma tangga. Salah satunya industri batik, yang mana nilai 3000 kg bisa buat memasakn satu jam.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba