Cerita Nyata Bekas Sopir Sukses Bisnis Katering

Profil Pengusaha Heni Hermawan


bisniskatering.png
 
Sukses bisnis katering cerita nyata bekas sopir. Berbisnis dari hobi apakah lebih sukses faktanya memang begitulah adanya. Tapi tak semua hobi bisa dijadikan sumber pendapatan loh. Mungkin paling banyak menghasilkan adalah hobi memasak. 
 
Ya, memang hobi satu ini punya banyak jalan menujur Roma kesuksesan. Seperti halnya kisah Heni Hermawan, pengusaha ketering yang sudah makan asam- garam aneka usaha. Ia sudah kenyang jatuh bangun membangun usaha.
 
 

Bisnis Katering


Istrinya, Lilik Afifah, merupakan saksi hidup kesuksesan sang suami kini, ayah dari ketiga anak mereka, M. Anandhito, Jihan, dan Laura, memulai semuanya cuma dari bekerja serabutan. Dimana Heni bekerja menjadi sopir kenang sang istri. 
 
Dia pernah bekerja sebagai sopir saudaranya sendiri. Gaji cuma 200 ribu, padahal ia sendiri masih mengontrak Rp.80 ribu. Sisanya ya cuma bisa digunakan buat makan tahu- tempe. Mencoba merubah nasib Hani mulai berjualan sendiri.

Usaha pertamanya menjadi makelar motor. Tugasnya cukup menjual- beli mobil China. Kebetulah pada saat itu memang tengah booming motor China murah. 
 
Suksesnya cuma sesaat, Alumni Unitomo Surabaya ini, memang mesti memutar otak kembali lantaran putri pertamanya, yang baru tujuh bulan harus sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Itu semua terjadi disaat bersamaan. 

"Live must go on", kisah pilu tersebut diubah menjadi cambukan keras. Bingung mencari- cari, hingga ia pun sadar bahwa sang istri bisa memasak enak. Hobi memasak istrinya coba diekspolarsi lebih.

"Kenapa masakanmu nggak dibisnisin aja, ya ma?" gumamnya.

Keduanya lantas sepakat bekerja sama membuka warung nasi kecil- kecilan. Bermodal masakan enak tak butuh waktu lama bisnis keduanya tumbuh. Jumlah pelanggannya tumbuh cepat. Bahkan tak cuma makan di tempat, bahkan sampai banyak mau membawa pulang masakannya. 
 
Mereka meminta dibungkuskan nasi buat dibawa pulang ke kantor atau rumah. Cuma bermodal marketing dari mulut- ke mulut usahanya maju. Tanpa merogoh kocek dalam- dalam buat memasarkan. Ditambah kondisi Kota Cilegon sangat mendukung usaha Heni. 
 
Bayangkan saja disekitaran dari tempat mereka berjualan berbaris pabrik- pabrik dan sentra- sentra industri. Satu- persatu perusahaan disekitar warungnya merespon balik. Bahkan mereka berebut berlangganan makan di warung miliknya. 
 
Hingga, akhirnya, bisnis warung berubah menjadi katering, Heni dan istrinya bersama- sama memnuhi kebutuhan sarapan, makan siang, hingga makan malam ratusan karyawan. Singkat ceritanya itulah awal mula katering Al Mukarommah. 
 
Katering yang telah malayani pesanan sembilan perusahaan besar di sekitar Kota Cilegon. Empat diantaranya bahkan punya ribuan karyawan, ada PT. Nestle, Kimia Nusantara, Sankyu, dan Gajah Tunggal. Omzet pun melonjak drastis bahkan menyentuh angka ratusan juta. 
 
Wajar karena memang makanan buatan istrinya memang enak. Apalagi ditambah, baru- baru ini, lelaki yang pernah mengenyam pendidikan SMA -nya di SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo ini, resmi mendirikan cabang kateringan Al Mukarommah letaknya di kawsan sekitar Banten.

Pengusaha Katering

 
Totalnya ada 3 tempat startegi yaitu Cikupa, Bojonegoro, kemudian Anyer, ditotal empat katering utama Heni di Cilegon.

"Omzet tertinggi yang pernah kami cetak mencapai Rp.700 juta, tahun lalu. Kini turun sedikit, sekitar Rp.400- 500 juta (per- bulan). Ini omzet ya, bukan untung," tutur Heni menjelaskan, kepada awak media dari Tribunnews. 
 
Membuat pensaran pewarta, Heni pun dikulik- kulik lagi berapa sebenarnya untung bersih bisnis kateringnya. "Ya perkirakan sendiri," ujarnya. Bukan pengusaha kalau tak menemui hambatan. Kisah langsung sukses milik Heni Hernawan memang terlalu manis menjadi nyata. 
 
Soal hambatan dijelaskannya tak main- main. Bahkan hambatan itu datangnya dari hal- hal gaib. Tak lain, tak bukan adalah dari para pesaing mereka yang merasa bisnis miliknya terlalu sukses. Ia menyebut pengalaman nasi baru masak langsung basi! 
 
Aneh tetapi nyata begitulah persaingan bisnisnya yang tidak sehat. Heni sendiri tetap lurus- lurus saja. Meski ditimpah hal semacam itu, dimana tak cuma sekali -tetapi berkali- kali, mereka sekeluarga tetap lurus berserah diri kepada Allah. 
 
Memang keluarganya dikenal rajin beribadah. Ini menjadi senjatanya menghadapi hal- hal aneh. Dia cuma bisa pasrah tanpa melawan balik. Cuma meminta anak buahnya buat langsung memasak lagi. Meski hampir saja terlambat memenuhi kebutuhan pesanan.

Padahal dia harus melayani pesanan ribuan karyawan pabrik. Selain hal itu, adapula komplain dari pelanggan baik nasi terlalu keras, atau pelanggan neko- neko minta nasinya sedikit lembek, sayurnya kurang asin, dan masih banyak lainnya.

"Saya tak terlalu peduli kalau keluhannya menyangkut selera. Orang kan ada yang suka nasi lembek dan juga sebaliknya. Bagaimana bisa menuruti satu persatu selera?" tuturnya.

Kalau sudah menyangkut selera memang sulit. Tapi kalau menyangkut bagaimana usaha mereka bekerja, ia akan sangat pedulih bahkan rela turun tangan. Kalau tentang keterlambatan pengiriman, komponen menu yang bekurang, serta masalah teknis lainnya, ia akan siap sedia menanggapi. 
 
Meski harga kebutuhan bahan pokok naik keduanya tak seketika menaikan harga. Inilah kelebihan katering mereka tetap murah dan rasa yang terjaga. Hani bahkan bercerita, kalai margin untunya bisa dikejar, meski sedikit- sedikit maka ia akan ikhlas hati agar harganya tak begitu naik. 
 
Bahkan menaikan sidikit- demi sedikit bukanlah pilihannya. Dia menyebut lagi bahwa yang terpenting pelanggan tak lari ke tempat lain. Pria yang kini namanya dikenal sebagai salah satu pengusaha katering sukses; mengaku jika dirinya tak pernah menghitung detail untungnya.

Pengusaha Aneka Kerajinan Eceng Gondok Liar

Profil Pengusaha Indra Darmawan


pengusahaecengondog.png
 
Pengusaha aneka kerajinan eceng gondok liar.  Siapa Indra Darmawan dari sungai Citarum? Adalah definisi pengusaha sosial sebenarnya, jugalah pahlawan lingkungan, pria paruh baya yang menggelutin passion -nya saja. Apakah passion -nya tak lain bagaimana menjaga lingkungan. 
 
Indra memang sudah dikenal masyarakat pinggiran sungai Citarum. Cintanya kepada lingkungan, khususnya Kota Bandung, telah ia buktikan melalu serangkaian usaha bersama. Tak cuma soal lingkungan juga termasuk bagaimana agar warga terbantukan secara finansial.
 

Kerajinan Eceng Gondok

 
Pria kelahiran Bandung, 7 Maret 1972, merupakan suami dari Tati Mulyati dan ayah dari tiga orang anak, lulusan Sarjana Matematikan di Universitas Padjajaran Bandung, yang akhirnya menjadi seorang pecinta lingkungan. 
 
Tapi jangan salah, berkat mencintai lingkungan, dia jadi pengusaha sukses bermodal sampah. Dia yang tinggal di Kampung Babakan Cianjur Rt 02 Rw 04, Cihampelas Kacamatan Cihampelas Kabupaten Bandung, aktif bersama mengajak masyarakat berbisnis.

Salah satu hasilnya yaitu tas dari eceng gondok. Selain itu masih ada produk lainnya bersumber dari sampah daur ulang. Bekat ide kreatifnya banyak produk diciptakan seperti tas, kaligrafi, dan briket.

Kerja sosial


Sebenarnya kesadaran akan lingkungan sudah timbul di hati masyarakat. Tapi daya upaya itu belum lah jadi maksimal. Ada beberapa organisasi lingkungan di sekitar Kampung Cihampelas. Indra yang menyadari hal tersebut mencoba mengambil jalan tengah. Bagaimana sih caranya mengatasi masalah lingkungan? Dimana dua masalah utama bisa terselesaikan; sampah plastik dan eceng gondok.

Masalah sampah plastik yang menumpuk, dirasa tak cukup cuma mengajak rajin mendaur ulang. Soal ada eceng gondok tak cumalah bisa diselesaikan melalui gotong royong semata. 
 
Hingga di tahun 2008, ia mulai mengajak masyarakat mengumpulkan eceng gondok dan dikeringkan buat dijadikan uang. Kemudian buat masalah sampah adanya Bank Sampah karyanya bisa menjadi bantuan.

Bersama mereka membangun usaha Koperasi Bangkir Bersama sebagai bendera bisnis. Disana aneka hasil kerajinan eceng gondok dan sampah plastika bisa dijualnya. Usaha tersebut berbuah hasil dimana populasi dari hama eceng gondok sudah tinggal 75 hektar tak tertanggulangi. 
 
Sisanya? Sudah bisa disulap oleh warga yang menganggur disekitarnya. Indra pun rutin membeli Rp.500 ribu untuk setiap tiga kintal.

"Saya mengajak warga tak memiliki pekerjaan untuk memanfaatkan eceng gondok menjadi nilai ekonomis," aku Indra

Bagaimana dengan proyek bank sampahnya. Bersama Koperasi Bangun Bangsa, konsep bank sampah milik Indra sudah berjalan maju. Ada dua bank sampah aktif di kawasan Cihampelas, yakni Koperasi Bangun Bangsa miliknya dan Koperasi Berkah. 
 
Sudah dimulai jauh sejak 2009 mampu mengumpulkan puluhan ton sampah plastik dan eceng gondok. Soal masalah dihadapinya selama meyakinkan masyarakat, secara jujur diakuinya," kesulitan dari kurangnya dukungan pemda."

Menurutnya mengharapkan pemerintah seperti mimpi saja. Sementara itu, warga atau masyarakat sudahlah punya semangatnya. Jadilah pria 43 tahun ini sepandai- pandainya merubah sampah. Diubahnya menjadi aneka kerajinan siap jual. 
 
Eceng gondok dijadikannya tas tak kalah kualitasnya dari produk- produk dari perusahaan besar. Selain itu, yang paling menonjol, adalah kerajinan kaligrafi bermodal eceng gondok.

Kesemua bagian eceng gondok bisa dimanfaatkan. Akarnya jelasnya bisa digunakan sebagai media tanam. Lalu ada batangnya dijadikan bahan pembuatan tas atau produk mabel. Kemudian soal limbahnya pula bisa dijadikan bahan styrofom. 
 
Menurutnya jikalau kamu berbicara omzet, berapakah omzet dihasilkan olehnya, ia menjelaskan Koperasi Bangun Bangsa menghasilkan Rp.5 juta- Rp.8 juta per- bulan. Produk hasil karya koperasinya dipasarkan diberbagai pameran.

Dia juga menawarkannya secara online. Produk- produknya sudah meluas seluruh Jawa Barat. Sedangkan  buat sampah plastik diolahnya menjadi biji plastik.

"Saya ingin menghijaukan Citarum dan memberdayakan masyarakat yang bermukim di sekitaran Citarum," terangnya tentang mimpi selanjutnya.

Indra menjelaskan koperasinya menjalin kerja sama dengan 58 orang pemulung. Setiap sampah plastik yang dibawa mereka dari sungai dihargai Rp.1.300 per- kilo, sedangkan buat eceng gondok dihargai Rp.25 ribu tapi dihitungnya perhari buat berapapun. 
 
Eceng gondok langsung diolah menjadi kerajinan. Dari aneka tas wanita, pria dewasa, sampai tas anak- anak. Mimpi- mimpin lain tengah direngkuh alumni Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjajaran ini. Salah satunya adalah membangun minimarket sampah. 
 
Kemudian membuat klinik sampah, Rumah Pintar buat anak pemulung, membuat ruang terbuka hijau sekiatar waduk, kemudian terakhir; Indra menginginkan adanya satu laboratorium entrepreneur di Waduk Saguling. Kesemuanya diharapkan terwujud mandiri tanpa bergantung kepada pemerintah.

Pengusaha Cuma Lulusan SD Juragan Antena

Profil Pengusaha Lasiman Muhammad Nursal


pengusahasd.png
 
Pengusaha cuma lulusan SD juragan antena. Seperti halnya kata bijak lama milik maestro bisnis Bob Sadino. Dia pernah berkata dalam satu kesempatan, "orang goblok sulit dapet kerja, akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok akan mempekerjakan orang pintar." 
 
Sebuah celetukan kiranya menggambarkan kisah pengusaha perantau sukses asal Surabaya ini. Sebuah kisah Lasiman asal Surabaya, yang tak lain cuma lulusan sekolah dasar. Dia hanya mampu mencium peluang. Sukses Lasiman sudah bergaung diseantero Surabaya.

Cuma Lulusan SD

 
Juragan antena lulusan SD, mencium kesempatan meski masyarakat sudah berlangganan TV Kabel. Mereka ternyata masih membutuhkan antena sendiri. Bimsalabim Abra Kadabra.... pria yang bernama lengkap Lasiman Muhammad Nursal ini kemudian membuat antena televisinya sendiri. 
 
Bermodal pengetahuan ilmu elektronika seadanya, ia sadar, meski berlangganan, orang masih butuh saluran televisi lokal.

Tahun 1994, lelaki asal Gedangan, Kabupaten Malang, memilih merantau ke Surabaya. Apalagi kalau bukan buat mencari rejeki lebih baik. Modalnya merantau mencari kerja cuma selembar kertas. Itu bukanlah ijasah tapi selembar surat keterangan pencari kerja kelurahan. 
 
Modal seadanya, Lasiman lantas berusaha sendiri, ia berbisnis sendiri seadanya buat bertahan hidup. Usaha pertamanya berjualan kacamatan 3D. Disaat itu, dua stasiun televisi yaitu SCTV dan RCTI, tengah berlomba menayangkan acara 3D.

Kacamata didapatkanya dari seseorang dari Bandung. Dijualnya murah cuma Rp.3 ribu per- buah. Pertama kali berjualan Lasiman langsung memborong 100 buah. Usahanya ternyata laris manis. Tak disangka- sangka dia bisa menjualnya habis stoknya. 
 
Esok harinya, uang keuntungan diputar kembali, dia membeli 2.000 buah langsung dan bisa mengantongi untung puluhan juta. "Sekitar 15 juta," jelasnya. Sadar bahwa usahanya tak akan bertahan lama; dia memilih beralih.

Bisnis keduanya yaitu ceret listrik, itu loh.. teko alumunium panas yang dicolok listrik. Usaha berbasis rumahan itu ternyata tak begitu menguntungkan. Setahun sudah digelutinya, tidak seperti yang akan diharapkannya.
 

Pengusaha Lulusan SD

 
Memang tidak sampai rugi sih, cuma bisa ngepas memenuhi kebutuhan sehari- hari. Keuntungan bisnis makin menipis, membuatnya harus memutar otak kembali. Bermodal pemahaman akan kekuatan pemancar (Db) antena maka dimulailah bisnis tersukses Lasiman.

Dia membuat antena sendiri pertama kalinya. "Setelah itu, saya mulai bikin antena sendiri. Saya sendiri yang menjual ke beberapa pasar besar di Surabaya," terangnya kepada Jawa Post.

Bisnis antena tersebut merupakan cikal bakal bisnis Ante Radar. Merupakan perusahaan rumahan miliknya. Ketika orang dimalam tengah bersantai, Lasiman masih sibuk mengerjakan bisnisnya sendirian. Mengotak- atik komponen jadi antena- antena sederhana. 
 
Pagi harinya tidak ia gunakan buat beristirahat. Dia akan bergegas langsung pergi berjualan ke Pasar Turi. Bermodal lapak sederhana, karena bermodal kecil, bisnis antena buatanya dibuat jadi sesederhana mungkin.

"Maklum, modal terbatas. Jadi, saya harus ngalahi lebih sibuk dibanding pengusaha lainnya," terangnya.

Sibuknya ternyata terbayar manis meski butuh waktu. Lambat laun, lapak jualannya di Pasar Turi tersebut bisa berkembang. Bahkan sudah punya cabang di dua tempat berbeda. Keduanya baik lapak JMP ataupun di Pasar Besar sama- sama kebanjiran order. 
 
Lasiman bahkan tak sanggu mengerjakan sendiri. Mulailah Lasiman merekrut pegawai sendiri merakit antena. Dia mengajak beberapa tetangga buat bikin. Adapula beberapa karyawannya dari luar kota, membantunya merakit di kediamannya, Sukomanunggal.

Dia memberdayakan ibu- ibu rumah tangga sekitar. Mereka adalah ibu ramah tangga menganggur menunggu suaminya pulang. Ibu- ibu itu biasanya mengerjakan ferit buat dijadikan konduktor. Batang karbong tersebut dililitkan ke kotak- kotak plastik. Mereka bekerja borongan. 
 
Dalam dua hari, Lasiman meminta mereka mengerjakan sekitar 2.000 buah. Kakek dua cucu ini ternyata tak cuma fokus merangkai antena jadi saja. Seiring waktu juga mulai memproduksi sendiri rangkaiannya.

Bisnis Sederhana


Mulai dari boks plastik dan ferit sudah diproduksi sendiri. Para karyawan pria akan mengerjakan boks- boks plastiknya. Mereka akan ditempatkan di sebuh tempat, yang disebutnya pabrik kecil- kecilan. Boks tersebut ia jelaskan hasil pengolahan sampah plastik. 
 
Itu adalah sampah gelas plastik yang dirubah jadi biji plastik. Ia kemudian merubah bijinya menjadi boks plastik. Biji plastik tersebut kemudian dicampur pewarna dan bahan baku itu kemudian dicetak kotak- kotak.

"Saya buat sendiri karena kalau beli, harganya tak seimbang harga jual," jelasnya.

Harga antena tersebut dibandrol Rp.15.000. Pemasarannya sudah menjangkau luar Pulau Jawa. Ada suplier sendiri membewa produknya buat dijualkan. "Di Surabaya sudah ada suplier yang mengamb," ia menjelaskan lagi. 
 
Disaat diwawancarai pewarta, Lasiman sendiri tengah mempersiapkan pengiriman, ada 230 koli antena siap kirim ke Palembang, Balikpapan, bahkan Jakarta. Untuk feritnya sendiri, Lasiman mengaku baru bisa memproduksinya sendiri.

Ferit sendiri merupakan komponen fital. Yakni komponen alektornik buat penerima gelombang, di Indonesia sendiri; baru dirinya lah yang berproduksi. Awalnya, ia mengaku mengimpor komponen ferit dari Tiongkok. 
 
Kini, Lasiman mungkin menjadi polopor pembuatan ferir mandiri asli Indonesia. Keuntungan jadilah berlimpah utamanya dari penjualan ferit saja. Ia mengaku bisa mendapatkan pesanan ribuan cuma buat komponen tersebut.

Cuma lulusan SD, tetapi, Lasiman bisa memberdayakan banyak orang. Dia telah memilik banyak karyawan. Dia punya 13 rumah, cuma berbekal pengetahuan sederhana soal elektronika ditambah kerja keras. Sosok  Lasiman cumalah pria biasa yang hobi mengutak- atik barang. 
 
Yang tanpa disangka mengutak- atik antena menjadikannya kaya raya. Terakhir, Lasiman diajak Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, memberdayakan masyarakat di Jalan Jarak; membuktikan ia masih pria bersahaja.

"Saya pasti mau. Sebab, tempat dimana saya mendapat rejeki, warga sekitar juga harus mendapat.

Petani Muda Reza Mulyana Bisnis Milenial

Profil Pengusaha Reza Mulyana

 

petanimuda.png
 

Reza Mulyana, 26 tahun, petani muda harapan masyarakat Indonesia. Bisnis milenial memanfaatkan suatu teknologi budidaya. Ia menjalankan pertanian micro- cloning. Reza merupakan penangkar bibit tanaman dari Garut, Jawa Barat. 

 

Dalam literatur, metode ini merupakan teknik perbanyakan bibit, dengan tingkat kemurnian tinggi secara konvensional dan berkelanjutan tanpa merusak pohon induk. Reza mengaku idenya didapat ketika dirinya mengikuti pelatihan.

 

Petani Muda


Ada pelatihan micro- cloning dilakukan Insitut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2019. "Informasinya mengenai micro- cloning di luar negeri sudah ada, namun di Tanah Air masih minim informasi," Reza lalu melanjutkan.


Dia tidak sendiri. "Kami tertantang melakukan itu (uji coba)," jelasnya. Bersama dia mendapatkan dukungan temannya, Rahman Hakim, berdua mencari reverensi mengenai mengenai micro cloning dan melalukan uji coba bersama.


Literasi pertamanya diterjemahkan tiga bahasa,yang akhirnya diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Dia menguji coba pada produk pertanian alpukat. Bibit pertama alpukat varietas Sindangreret, asli Garut, menjadi ikonnya bisnisnya.


"Ada beberapa kali kegagalan yang saya terima, namun tetap kami coba, hingga akhirnya sukses," ia menjelaskan kepada Liputan6.com. Petani muda Reza Mulyana menggabungkan teknik grafting dan dan cangkok bibit, lalu mencoba micro cloning tersebut.

 

Metode persilangan micro- cloning melakukan uji coba setahun lalu. Itu memunculkan bintil akar, hanya 15 sukses memunculkan akar pada bintil, dan beberapa belum keluar. Kemunculan akar bintil menandakan calon bibit akan mampu menyerap nutrisi sempurna.

 

Ia bersyukur. Walau kurangnya literasi, penelitian kurang optimal tak menghalangi Reza. Banyak hal kendala mensukseskan ini. Harusnya ini dilakukan dalam rumah kaca. Tujuannya pengaturan suhu yang optimum walau begitu dia tetap bersyukur.

Inspirasi Siswa SMK Berbisnis Sepatu Ajaib

Profil Pengusaha Pelajar Indonesia


berbisnissepatu.png
 
Berbisnis sepatu ajaib inspirasi dari siswa SMK. Disinilah tempat dimana siswa dikembangkan sifat profesionalnya. Mereka muda tetapi mata memiliki jiwa kewirausahaan. Para siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 6 Jakarta.

Mereka masih kelas X sudah diajarkan menciptakan produk. Siswa SMKN 6 Jakarta menghasilkan sandal multifungsi. Dijelaskan oleh Debya, remaja sederhana, yang ternyata sudah menduduki jabatan VP Produksi. Ia menjelaskan bisnis yang dikerjakan oleh mereka merupakan bisnsis serius.
 

Berbisnis Sepatu

 
Mereka menciptakan sepatu sandal unik. Dimana dilhat pertama kali cuma sepatu berbahan kanvas. Tetapi dibaliknya ada resleting yang jika dibuka. Akan merubah sepatu jadi sandal siap pakai seketika. 

Dia menjelaskan ketika ditemui DetikFinance. Debya menjelaskan sepatu ini memiliki resleting dibawahnya, yang mana menyatu atasnya. Ketika resleting dibuka sampai sol bim- salabim jadilah sandal. Mereka lantas membangun perusahaan mereka sendiri bernama Perusahaan Pelajar. 
 
Orang menginginkan sesuatu memang yang serba simple, disaat mau sandal, bagian atasnya bisa dilepas jadi sandal, jelasnya.

Jikalau kamu mau sepatu, ya, tinggal bagian atasnya dipasang. Ini bisa membantu kamu cuma membawa satu sepatu saja. Produk tersebut merupakan hasil karyanya dan kawan- kawan. Sudah ganti desain tiga kali agar produknya sesuai harapan. "Kami sampai 3 kali ganti desain. Ini kreasi kami sendiri," pungkasnya.

Usahanya dikerjakan Debyan dan 20 orang kawannya. Sejak Mei 2015, mereka terus berkreasi, modalnya cuma 1,5 juta. Jikalau dibagi 21 orang maka biayanya bisa dibilang murah. Mereka yakin pastilah bisa meski mereka masihlah berstatus pelajar. 
 
Bagaimana pembagian hasilnya? Inilah uniknya, dan bisalah kamu contoh, caranya adalah melalui bentuk saham. Mereka menyebar 75 lembar saham. Per- lembarnya akan dihargai Rp.20.000/lembar saham. Inilah cara menarik karena orang akan berminat mendanai jika ada hitam diatas putih. 
 
Satu pasang sepatu akan mereka jual seharga Rp.110.000. Dalam tahap awalnya mereka, Debyan, menjelaskan bahwa 15 sepatu haruslah dijualnya dalam 5 bulan saja. Barulah 2 bulan sudahlah bisa dijualnya 9 buah.

"Nanti setelah 5 bulan diharapkan sukses, kita akan lanjut lagi ke lebih serius," tegasnya.

Saat ini saja, perusahaan sudah mengantongi omzet Rp.450.000 per- bulan. Hambatan terbesar dibisnis ini, bisnis kreatif, apalagi kalau bukan mematenkan produknya. Bagi para siswa hal tersebut masihlah menjadi kendala sementara bisa saja ada peniru. 
 
Namun, nampaknya itu tak begitu mengganggu anak- anak SMK ini, karena visi mereka adalah:

"Visi kami menjadi perusahaan yang inovatif menciptakan produk-produk yang mendekati‎ dengan kebutuhan orang sehari-hari," tutupnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba