Bisnis Kue Kukus Batik Nazwa Pastry

Profil Pengusaha Yusman Gunara dan Weni Suci Wulansari

 
kuekukus.png
 
Bisnis kue kukus Batik Nazwa Pastry sukses. Dirintis pasangan suami istri pengusaha menampilkan perbedaan. Buka berbisnis toko pastry biasa. Mereka menawarkan berbagai konsep kue unik. Dan cara marketing usahanya patut ditiru. 
 
Tokonya terletak di bilangan PLN Ciatuel Bandung. Pagi tiba, dan pengunjung sudah memadati outlet miliknya. Beberapa orang terlihat tengah memesan dua- tiga kotak pastry. Pelanggannya tidak cuma warga Bandung, juga turis asal Malaysia, Singapura, serta negara tetangga lain

Kebanyakan mereka para turis mendengar kisahnya dari mulut- ke mulut. Adapula yang tau dari media cetak atapun dari media televisi nasional. Kunjungan akan membludak ketika hari besar seperti Idul Fitri. Biasanya jika kamu mau memesan disaat hari spesial ini.
 

Bisnis Kue Kukus

 
Kamu harus memesan terlebih dahulu. Jika tidak, kamu harus rela mengantri. Pemilik toko pastry Nazwa Pastry, tersebutlah nama Yusman Gunara (37) dan Weni Suci Wulansari (34), pasangan suami istri yang menawarkan menu pastry ramah kantung. 
 
Mereka berani menawarkan anek pastry berharga terjangkau. Meski terjangkau rasanya nikmat, unik, dan cocok dibawa pulang untuk acara- acara terntu. Harganya rata- rata masih belasan ribu. Ditambah nama unik, ada menu Salju Bakar yang dijual seharga Rp.15.500 dan Batik Kukus Rp.18.500.

Menu diatas dikenal enaknya. Merupakan produk pastry andalan Nazwa Pastry yang ikonik sekali. Mereka biasanya akan memproduksi 400x bok dari 23 jenis kue. Kesemuanya merupakan hasil tangan sendiri Weni Suci Wulansari. Jumlah produksi bisa meningkat berkali lipat ketika musim liburan tiba.


Weni menceritakan awal usahanya. Kisahnya, mereka memulai dengan modal peralatan pinjaman orang tua. Mereka cuma mengeluarkan uang 150.000. Awal usaha cuma mengolah si batik. Kue ikonik dimana kamu akan melihat bagaimana kue dimotif batik. 
 
Berlanjut kue Batik Kukus itu terbuat dari kue rol yang berbahan dasar putih telur dan didalamnya diisi selain.  Ia lantas bercerita bagaimana susahnya membuat si Batik Kukus. Adanya bahan putih telur diawal justru jadi tantangan tersendiri. 
 
Kala itu Batik Kukus langsung laris manis, banyak yang memesan, dan Weni justru jadi bingung karena tidak mampu menyediakan putih telur. Alhasil dia menciptakan produk lain, entah disengaja atau tidak, jadilah produk bernama Salju Bakar. Tanpa putih telur!

Salju itu sale keju, maksudnya kue yang didalamnya ada sale pisang yang hitam itu (sale pisang, bukan selai pisang), kemudian diatasnya ditaburi keju. Ketika Batik kehabisan stok, barulah si Salju muncul sebagai satu penyelamat. Malahan, Weni mengaku, produk olahanya satu ini justru lebih laku.

Usaha yang dirintis sejak 2007 itu terbukti jadi primadona di Bandung. Pertama kali berjualan, Yusman sang suami bahkan berjualan hingga di depan tempat wisata kuliner di Bandung, seperti di Tahu Tauhid di daerah Lembang, kemudian berjualan di sepanjang Jalan Riau. 
 
Awal menjual seperti biasanya Yusman mengaku itu tidak terlalu laku.

"Saya ngampar di Lembang memanfaatkan toko yang tutup setiap Sabtu. Saya juga menyimpan kue di beberapa pedagang kaki lima daerah Cihampelas, tapi yang laku cuma satu. Saya sabar pasti ada jalan keluarnya," kata Yusman.

Alhasil ia hanya kembali ke outlet miliknya. Di rumahnya sendiri, dimana garasinya disulapnya jadi toko kecil. Dia lantas memasang papan bertuliskan bolu gulung didapen komplek. Hasilnya, lagi- lagi tak sukses untuk merenggut sedikit perhatian masyarakat. 
 
Tak lekas menyerah ia pun rela merogoh kocek dalam- dalam. Dia memilih menggunakan iklan di berbagai media cetak ternama. Hasilnya lagi- lagi gagal ditemui. Suatu hari ada saran dari orang tuanya agar mengganti nama jualannya. 
 
 
Pertama kali namanya dijual dengan bolu gulung jadi bolu guling. Hasilnya masih sama saja. Tak berhenti ia mencari nama lain. Jadilah nama Salju Bakar dan Batik Kukus seperti cerita diatas. Kedua namanya lantas dipasang dijadikan ikon Nazwa Pastry. 
 
Akhirnya, orang yang lewat di depan komplek menjadi penasaran. Mereka pun mulai berdatangan satu- per- satu mencicipi lezatnya kue buatan istrinya itu. Mereka datang ke tempatnya, lalu beberapa orang bersama mereka, begitu seterusnya. 
 
Sukses dari nama pasangan suami istri ini membuat Nazwa kembali berkreasi. 
 
Tersebut nama unik, seperti halnya: Brondong (brownies dong), Nangkub (nangka keju bakar), Nangkarak (nangka rasa coklat), Paku (pisang keju bakar), Salak (sale rasa coklat), PKS (peyeum keju spesial) dan masih banyak lagi hingga sampai 23 jenis kue loh.

Nama Nazwa merupakan gabungan nama pasangan suami istri pengusaha ini .Nazwa selalu berkreasi dimana minimal dalam 3 bulan akan selalu ada produk baru.

"Istri saya sering baca buku kuliner dan dia fokus sekali. Jadi ada aja saja yang baru dan rasanya enak," kata Yusman.

Berapa omzet Nazwa Pastry? Weni mengaku omzet dari bisnisnya ini telah, bisa mencapai kisaran Rp.3 juta hingga Rp.8 juta per- hari. Menurutnya yang paling besar ketika hari lebaran, atapun adanya long weekend. Sehari bisa mencapai 300 kotak terjual, itu kalau di luar pesanan. 
 
Kalau adapun pesanan bisa sampai 1000 kotak terjual. Saat ini Nazwa Pastry telah memiliki 14 karyawan dari yang membuat kue dan juga menjaga toko.

Uniknya mereka tak lupa diri. Selain membuka outlet baru, mereka juga membuka satu rumah untuk anak yatim piatu. Semua konsep marketing diatas memang tampak mudah. Tapi, semua itu kerena mereka selalu mendekatkan diri kepada Allah. 
 
Melalui marketing dari mulut ke mulut, kini, Nazwa Pastry cukup melayani para pelanggan yang makin banyak. Dan kesemuanya datang dari media- media besar tanpa perlu mereka mengeluarkan iklan sepeserpun.

Bubur Goreng Bang Juna Usaha Unik Pengisi Perut

Profil Pengusaha Diman dan Dayat

 

buburgoreng.png
 

Mau usaha unik pengisi perut tiru pengusaha ini. Bubur goreng Bang Juna tengah naik daun. Bermula keinginan membuka usaha bubur ayam berbeda. Diman merupakan penemu resep buburnya. Sementara ia dibantu adiknya, Dayat, menjaga kualitas cita rasa.


Suara lantang terdengar ketika bertandang ke kedai. Terdengar suaranya bergantian, "bubur goreng dua porsi". Pelayan segera bergerak menyiapkan pesanan pembeli. Tempatnya sebuah warung tenda sederhana di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.


Bubur goreng terdengar asing bahkan menjadi perdebatan. "Bubur kok digoreng? Bagaimana rasanya?" ucap orang. Diman mampu menghadirkan sesuatu. Tangan dingin pengusaha berikut mampu hadirkan bubur goreng. Racikan Diman menjadi standar penjualan termasuk cabang- cabang.


Usaha unik tersebut sudah dirintis lima tahun. Tiga bulan awal, usahanya sepi peminat karena dianggap aneh. Rasanya juga belum cocok dilidah pembeli. Itu merupakan waktu tersulit menjajakan. Rasa beda bubur ayam umumnya memang menggelitik.


Ternyata pembeli kemudian kembali setelah menjajalnya. "Tapi, setelah orang coba terus balik lagi, usahanya berkembang," ucap Dayat kepada Liputan6.com. Kakaknya, Diman, semula merupakan supir seorang dokter.


Ia sempat mengutarakan ide tersebut ke dokter. Pembicaraan serius tersebut berbuah pemberian modal. Dokter tersebut mendanai bubur gorengnya. Pengusaha asal Purwokertro, Jawa Tengah, tersebut yang meracik sendiri bahan pendukung bubur goreng.


Diman juga memantenkan standar bumbu serta teknik masak. Dia sendiri terjun meracik bubur ayam hingga rasanya konsisten. Bubur Goreng Bang Juna pun membuka franchise sendiri. "Karena bumbu, bahan (bubur goreng), semuanya dari kami. Sebelumnya juga akan diajari sampai bisa," ucap Dayat.


Bang Juna juga memberikan training pihak franchisor. "Habis itu tinggal jualan saja, kami yang supply semuanya," Dayat menjelaskan. Bubur goreng berisi bubur yang digoreng, kecap, ayam goreng suwir, potongan sawi, bawang bombai, daun bawang, kerupuk, dan telur orak- arik.


Semua bahannya digoreng kecuali kerupuk dan kacang. Bahannya semua menyatu sempurna. Rasa sempurna begitu kamu menyendok. Kemudian kamu tinggal tambah sambal atau kecap. Harga bubur ayam goreng Rp.15 ribu, dan bubur biasa Rp.10 ribu. 

 

Usaha unik ini mampu menjual sampai 300 porsi perhari. Selain bubur ayam goreng ada bubur ayam biasa dan kuah asin. Pemesanan belum dapat dijual secara daring kecuali di kawasan Jagakarsa, Jekarta Selatan. 

 

Bubur Goreng Bang Juna juga dapat ditemukan di dekat Masjid Kuba Emas, Depok, Jawa Barat, dan buka pukul 07:00- 16:00 dan 18:00- 22:00.

Pebisnis Restoran 9 Buah Beromzet Ratusan Juta

Profil Pengusaha Yenn Wong

 

pebisnisrestoran.png
 

Memiliki restoran 9 buah beromzet ratusan juta begini ceritanya. Adalah pebisnis wanita asal Singapura yang bernama Yenn Wong. Wanita yang sukses membuka restoran di Hong Kong. Dikisahkan Yenn ini pernah hampir keluar kuliah.


Pasalnya dia "terobsesi" membangun bisnis sendiri. Usaha hospitality atau perhotelan itu bernama JLA Group. Pengusaha wanita yang didukung ayah sepenuhnya. Ayah Yenn juga seorang pengusaha loh. Dia asal Singapura dan tidak masalah Yenn drop out.


"Menjalankan sebuah bisnis restoran, seperti menjalankan usaha pertunjukan," ujar pebisnis restoran 9 buah. Ya dia kini mengerjakan "pertunjukan" melalui restoran tersebut. Maka prinsip inilah yang bisa membuat restorannya menonjol.


9 restoran berarti mengerjakan sembilan pertunjukan. Pengusaha wanita ini masih sempat menjalankan hotelnya. Dari berbisnis perhotelan baru kemudian muncul ide bisnis restoran. Bicara mengenai sukses restoran Yenn begitu dikenal.


Pelanggannya dari kalangan ternama Hollywood, sebut saja nama Olsen's Twin, Michael Jordan, Thom Browm, dan One Direction. 9 restoran tersebut mampu melayani sampai 900.000 pelanggan di 2014 saja. Dia meraup omzet $ 20 juta atau Rp.240 miliar.


Hong Kong telah ditunjuk menjadi kiblat kulinari Asia. Pelanggannya yang datang merupakan kelas dunia. Bahkan Chef Dunia Gordon Ramsay dan Jamie Oliver punya restoran disini. Banyak koki kelas dunia berdatangan ingin membuka restoran di Hong Kong.


Negara ini memang memiliki iklim berbisnis tinggi. "Pasar yang kompetitif," lanjut pengusaha wanita berusia 23 tahun ini. Industri kuliner memang bersaing ketat. Yenn memiliki bar dan restoran Italia. Dia menciptakan tema sesuai landmark Hong Kong, pusat seni kontemporer dunia.


"Hong Kong adalah kota dengan tingkat stres yang tinggi, orang selalu bekerja," jelasnya. Buat mereka dibutuhkan tempat santai. Nongkrong berjam- jam diluar jam kerja menghilangkan stres. Total Hong Kong punya 1.400 restoran. Pebisnis restoran 9 buah saja sudah beromzet ratusan juta.

Adi Kusuma Pemilik Biznet Pengusaha Anti Lemot

Profil Pengusaha Adi Kusuma


adikusuma.png
 
Adi Kusuma pemilik Biznet berani bertaruh akan masa depan. Pengusaha anti lemot mempertaruhkan nasibnya kepada Indonesia. Mempertaruhkan masa depan jaringan internet kita.  Maka Biznet menjadi veteran koneksi internet. 
 
Tujuannya menyambungkan dunia nyata ke dunia maya ke pelanggan. Dijamannya belum internet secepat sekarang, itulah kenapa dia begitu gereget membuat perubahan. Adi Kusma, adalah CEO Biznet berhasil memberikan layanan prima untuk pengguna sekala perusahaan. 
 
Dia menjelaskan sebelum operator, Biznet berhasil membuat sambungan di tiap warnet. Pelanggannya pada umumnya tertarik koneksi internet cepat bukan murahan. Adi memang sudah akrab dengan komputer semenjak muda hingga disebut kuper. 
 

Rahasia Pemilik Biznet

 
 
Dia menjadi penyedia broadband handal. Jauh sebelum operator selular menggunakan layanan 3G, Biznet telah mengudara dengan koneksi broadband nya. Perusahaan yang didirikan oleh kecintaannya akan dunia komputer. Biznet menyediakan koneksi internet berkualitas kecepatan tinggi. 
 
Perusahaan membidik perusahaan yang lebih loyal. Jika sambungan internet mati, mereka akan mencari Biznet atau merugi. Mereka lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas.

Ini berbeda dari operator selular. Mereka cenderung membidik pengguna baru; dengan segala tawaran menarik. Hasilnya, mereka tidak sanggup melayani pelanggan bahkan pengguna baru.


Lulus SMA, dia pernah sekali meninggalkan komputer demi bersekolah  diTeknik Industri di Oregon State University. Tetapi tidak bertahan lama, dan Adi kembali menggeluti dunia komputer tanpa mengindahkan keinginan orang tua meneruskan perusahaan baja. 
 
Tetapi juga, dari sini, dia mendapat pencerahan bahwa bisnis koneksi juga akan  menguntungkan. Dia membutuhkan sedikit keberanian serta mental untuk memutar otak; mengakali kecepatan internet.

Adi sebelumnya bekerja di perusahaan affiliasi MID Plaza membuka bisnis sambungan dengan US$5 juta. Alasannya adalah faktor prospek, salain itu dia meyakini perusahaan akan menerima idenya; bahwa koneksi cepat merupakan terbaik. 
 
Dia menempatkan dirinya menantang penguasa koneksi PT. Telkom yang konon kala itu masih sangat buruk koneksinya. Ia membangun perusahaannya sendiri Supra Primata Nuzantara dengan merek dagang Biznet. Perusahaan yang fokus membangun jaringan wireless kuat. 
 
Palanggannya kebanyakan merupakan mereka kantor- kantor setempat, seperti disekitaran MID Plaza. "Waktu itu kecepatannya kurang lebih 10 Mbps," ujarnya lebih lanjut Ini tidak terlalu besar dengan paket HSPA+ sebesar 21 Mbps.

Supra Primata akhirnya menjawab kesulitan akan kecepatan itu dengan menggunakan server luar. "Menyewa Bandwitch dari luar sangat mahal, karena kabel laut yang masuk Indonesia masih sediki," ujarnya menjelaskan Atau, perusahaan harus memilih membangun jaringannya sendiri.

"Sekarang palanggan Biznet merupakan korporat mencapai 80% " ujar pria berumur 33 tahun ini. Pelanggan Biznet membayar tarif beragam dari Rp.500.000 hingga Rp. 10 juta per- bulan untuk korporasi dan tentunya bukan untuk satu dua komputer. 
 
Dia juga yakin prospek bisnis koneksi internet masih akan terus diminati terutama untuk individu. Dan  ketika membangun Biznet, Adi pernah mengalami tantangan terberat sepanjang usaha. Dia bahkan pernah merasakan yang namanya ditolak. 
 
Tetapi, di tahun 1998, kenyataan berbalik Biznet kemudian menjadi incaran perusahaan yang beralih dari yang murah. Mereka mengalami krisis keuangan hingga memilih menahan pengeluaran sewa gedung. Mau tidak mau koneksi internet menjadi pilihan utama. 
 
Adi sudah bersiap Biznet memiliki kecepatan maksimal, dan mampu meyakinkan pelayanan menyamai provider lain. Biznet fokus membangun jaringan kabel optik hingga kecepatan meningkat. Adi enggan menyebut angkanya. 
 
Namun, pada saat itu kabel optik biznet telah berjalan dari 10 kilometer dari jalan Sudirman di tahun 2005. Akses internet terus meningkat sehingga membuat Biznet memiliki pelanggan baru walau kala itu harganya cukup mahal.

Akses cepat mendongkrak nilai penjualan Biznet lebih tinggi. Pelanggan juga mulai sadar memilih kecepatan dibanding harga yang ditawarkan. Mereka tidak leai memilih harga, apalagi dengan ekonomi yang mulai membaik. 
 
Percuma jika harganya murah tetapi harus menunggu lama untuk bertransaksi. Biznet tak ragu mematok harga premium kala itu. Hari ini, Biznet telah memiliki kabel optik sepanjang 1.100 Km dari Serang sampai pulau Bali. 
 
Sebagai veteran sekarang karyawan Biznet meningkat dari  empat orang manjadi 1000 orang. Adi juga berpikir untuk mentarget koneksi individual seperti operator seluler. Untuk sekarang, Biznet tetap fokus untuk memberikan layanan internet ke korporasi.

Sejarah Aqua Pengusaha Tirto Utomo Dianggap Gila

Biografi Pengusaha Tirto Utomo

 

tirtoutomo.png
 

Dulu pengusaha Tirto Utomo dianggap gila. Sekarang, dalam sejarah Aqua, menjadi yang pertama dalam bisnis air minum dalam kemasan ( AMDK). Kalau orang mau membeli minuman kemasan, maka nama pertama kali muncul adalah Aqua, apapun mereknya orang bahkan menyebut nama Aqua.


Tirto merupakan warga Wonosobo, pernah menjadi pegawai di perusahaan plat merah. Dia dulu bekerja di Pertamina. Awal tahun 1970 -an, Tirto diberikan tugas menyuguh tamu delegasi dari perusahaan besar asal Amerika Serikat.


Delegasi perusahaan asing yang membawa lengkap istrinya. Mereka dijamu makanan, juga minuman termasuk minum air putih rebusan. Ternyata istri delegasi malah menderita diare setelah kunjungan karena bakteri. Usut- punya usut orang asing tidak terbiasan minum air rebusan.


Air Minum Kemasan

 

Mereka sudah terbiasa minum air sterilisasi. Jamannya memang minuman steril belum diadaptasi di Indonesia. Ia kemudian menemukan ide bisnis AMDK. Dia lantas mengajak saudara- saudaranya bergabung. Tirto memulai langkah lewat mengirim saudaranya sampai Thailand.


Di Thailand, terdapat perusahaan minuman kemasan yang berdiri sejak 16 tahun. Adiknya, Slamet Utomo diminta bekerja di Polaris. Bisa dibilang Aqua "meniru" produk asing bernama Polaris asal Thailand tersebut. 

 

Dari kemasan bening, kemasan berbahan kaca, sampai desain warna menyerupai. Tidak cuma segi desain tetapi pengolahan air, sterilisasi air, kesemuanya "meniru" Polaris. Tujuan adiknya masuk ialah mempalajari semua proses produksi sampai pengemasan.


Dari sebuah ruang tamu sederhana yang memiliki tiga lemari kayu. Di sana terdapat berbagai macam produk awal Aqua. Terdapat meja bundar kecil untuk rapat, dan meja kerja sederhana, yang merupakan tempat pengusaha Tirto Utomo memimpin lahirnya Aqua pada 1973.


"Meja ini merupakan meja yang digunakan pendiri," terang Willy Sidharta, Direktur Utama PT. Aqua Golden Missisippi Tbk.

 

Tirto menemukan cara kerja pembuatan air minum kemasan. Selepasnya dia membangun pabrik di kawasan Pondok Ungu, Bekasi, dan menamainya Golden Missisippi. Pabrik sebesar enam juta liter per- tahun. Target pasarnya ialah dia menjual ke ekspatriat alias orang asing yang disini.


Bagi orang Indonesia namanya Golden Missisippi terdengar asing. Konsultan bisnisnya, Eulindra Lim, yang manamai nama Aqua buat produk minuman ini. Namanya dianggap sesuai atas image minuman tengah dibangun. Nama enak dilafal dibanding nama sebelumnya Puriritas milik Tirto.


Mengapa pengusaha Tirto Utomo dianggap gila. Lantaran sejarahnya Aqua pertama kali dijual seharga Rp.75. Dan harganya dua kali lipat harga bensi dijaman tersebut Rp.25. Gila masyarakat disuruh buat membeli air putih botolan ukuran 950 ml segitu, dibandingkan 1000 ml bensin.


Air minum kemasan dimasa Tirto belum ada. Hingga ia meyakini minumannya akan mudah laku. Dia nekat keluar dari pekerjaanya di Pertamina, pada 1982. Di tahun sama, Tirto merubah sumber airnya dari mata air bor ke air pegunungan yang mengalir sendiri (self- flowing spring).


Tirto menyadari bahwa air pegunungan mengandung nutrisi seperti kalsium, magensiun, potasium, zat besi, dan sodhium. Dia dibantu orang hebat bernama Willy Sidharta, teknisi yang menciptakan mesin pabrik pertama Aqua, sembari memperbaiki sistem distribusi.


Tirto nekat membangun bisnis air minum kemasan. Idenya dianggap gila menjual air putih lebih mahal dari bensin. Pada Oktober 1977, dia mengumpulkan seluruh pegawai Golden Missisippi, sejak pertama kali jualan air di 1 Oktober 1974, usahanya tidak kunjung untung.


Dia mengajak mereka ke Restoran Oasis miliknya, di kawasan Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Saat itu karyawan pertamanya, Willy Sidharta, menceritakan bagaimana keputusan sulit buat melanjutkan usaha. Willy mengatakan bahwa Tirto sudah banyak "menalangi" usaha ini.


"Sekitar Rp.5- 6 juta tiap bulan," Willy menyebut angka Tirto keluarga. Uang tersebut digunakan buat produksi sampai gaji. Sembari Tirto menjelaskan keadaan keuangan Aqua. Ia juga mengajak karyawan lebih giat menjual Aqua.


Bagi Willy pabrik Aqua sudah menjadi rumah sendiri. Dia memboyong anak- istri buat tinggal di sekitaran pabrik Aqua. Willy juga bekerja siang- malam ingin berjuang. Bahkan disaat itu, mesin- mesin Aqua menganggur, sudah banyak air diproduksi namun belum menghasilkan penjualan.


Maka Willy turun ikut membantu Tirto berjualan air. Menyitiri sendiri mobil Mitsubishi milik Aqua, ia dan Tirto Utomo menawarkan air dari kampung ke kampung. Semula Willy tak percaya kalau orang Jakarta tak mau membeli.


Bahkan buat membuktikan dia memberikan gratis. "Kami berikan contoh gratis untuk orang mencoba pun orang- orang tetap tak mau," terangnya kepada Detik.com.


Menurut Salim, pegawai produksi yang sekarang Supervisor water treatment, merasakan betul tak ada orang membeli Aqua. Pembeli adalah orang asing, bahkan masyarakat kelas menengah juga tak mau membeli air putih dikemas ini.


Salim yang bekerja di produksi sampai merangkap penjualan. Tak ada warga Jakarta terbiasa dan mau membeli "air putih". "Waktu itu kan air dari sumur masih bagus," terang Salim. Ia yang mebawa 75 krat cuma laku 5 krat seharian.

 

Pembeli masih dilingkungan orang asing dan orang kaya Jakarta. "Orang- orang belum percaya pada Aqua," kenang Salim. Walau pegawai Aqua gagal, mereka tidak mampu memenuhi keinginan sang pendiri; mereka belum menyerah.


Tirto memang bukan tipikal pengusaha. Dia turun sendiri menjual Aqua. Maka ketika gagal, ia lebih memilih mendiskusikan kembali mau bagaimana. Tirto kemudian mematik cerutunya. Asapnya lalu mengepul memenuhi ruangan mereka berdiskusi.


Prinsipnya adalah kalau jualan terlalu murah malah curiga. Pembeli malah mencurigai kualitas isi air kemasan. Kalau dibanding produk sejenis diluar negeri harganya jauh lebih mahal. Air botolan 950 ml dijual Rp.350 dibanding Aqua Rp.75.


Keputusan menaikan harga menyentuh harga pasarannya malah bagus. Kepercayaan masyarakat malah meningkat. Aneh memang. Keputusan Desember 1977, menaikan harga tiga kali lipat, malah membuat pendapatan meningkat bahkan grafiknya makin naik.


Pasarnya menyebar sampai ekspatriat Jepang. Pada 1970- an, Aqua dibeli orang lokal, dan pada tahun 1980 -an, Aqua telah membukukan untung bahkan penjualan diatas ekspatriat. Ini sejalan dengan mulai memburuknya kualitas air Ibu Kota.


Era 1975, kebutuhan air minum rumah tangga meningkat, maka Aqua menyuguhkan konsep air galon pertama kalinya. Belum punya galon tetapi memakai tabung mirip es putar. Air pun dikirimkan lewat truk air langsung ke pelanggan buat isi ulang.


Tabung air dingin tersebut sempat mengalami kendala. Yakni salah satunya tabung yang dipasang di Citibank dikrumuni semut. Maka Aqua berinisiatif mengganti bukan plastik tapi kaca. Dulu belum ada tabung plastik, tetapi ada tabung kaca bekas cuka yang tutupnya cari sendiri.

 

Willy mengingat mereka membersihkan tabung kaca sendiri. Manual mereka pakai air panas buat mengocok tabung sampai bersih. Mereka membeli tabung cuka bekas di pasar loak. Willy dan kawan berkeliling sampai ke pasar Glodok Lama.

 

Ternyata mengerjakan galon gelas sangat sulit dicuci. Willy mengenang dirinya pernah mengantar 200 galon kaca ke Cilegon, sekarang Provinsi Banten. Dan ternyata, air sebanyak itu malah akan digunakan buat mengisi kolam renang. 

 

Di tahun 1980, Aqua beralih galon plastik walau merelakan impor dari luar negeri. Hingga di tahun 1984, perusahaan memilih memproduksi galon plastik sendiri di Bekasi, dan merupakan satu- satunya perusahaan galon air. Persaiangan pertama datang ketika PT. Santa Rosa Indonesia pada 1984. 

 

Walau sekarang sudah banyak merek pesaing Aqua berjaya. Pada tahun 2014, Aqua memproduksi 11 miliar liter air yang merupakan merek terbesar diantara milik Danone, dimana perusahaan Prancis tersebut menguasai mayoritas saham sejak 2011.

 

 

Aqua menjadi satu- satunya produsen memenuhi kebutuhan pasar. Mereka ditunjuk menjadi penyedia air minum kelas menengah atas, baik dari rumah tangga, perkantoran dan restoran. Pada 1981, Aqua telah memiliki kemasan plastik sendiri aneka bentuk dan ukuran.


Tetapi mereka masih memakai bahan tidak ramah lingkungan PVC. Sejalannya waktu memakai bahan plastik PET. Aneka kemasan plastik dan ukuran membuat rantai distribusi lebih mudah. Plastik juga membantu Aqua menyesuaikan harga lebih baik.


Pabrik Aqua menjadi satu- satunya penyedia produksi in line. Dari pemrosesan air sampai kemasan dilakukan bersama di Mekarsari. Begitu pula mengembangkan proses isi ulang, pembersihan botol dilakukan sendiri, dan ujungnya produksi menjadi higenis.


"Dulu bukan main sulitnya. Dikasih saja orang tidak mau. Untuk apa minum air mentah," ucap Willy, menceritakan kenapa pengusaha Tirto Utomo dianggap gila.


Orang masih kepikiran prosesnya layaknya memasukan air keran. Aqua menurut mereka tinggal stel air keran ke dalam botol. Padahal banyak tantangan mulai dari menciptakan air terbaik. Memastikan kemasan terbaik dan menyampaikannya ke konsumen.


Sejarah Aqua


Dibesarkan orang tua yang pengusaha susu sapi, pedagang, dan peternak, Tirto merupakan anak biasa kelahiran Wonosobo, 8 Maret 1930, Jawa Tengah. Dalam biografi Tirto Utomo, ketika masih anak harus berangkat sekolah jauh ke Magelang atau 60 km, karena di Wonosobo tak ada SMP.


Perjalanan sekolah ditempuhnya memakai sepeda. Ketika SMA, Tirto masuk ke HBS atau setingkat SMA di jaman Hindia Belanda di Semarang kemudian Malang. Masa remajanya dihabiskan di Malang dan betemu Lisa atau Kienke (Kwee Gwat Kien), yang kelak jadi istrinya.


Tirto habiskan waktu kuliah dengan menjadi wartawan Jawa Pos. Ia dikhusukan memberitakan berita dari peradilan. Kemudian Tirto pindah ke Jakarta, dirinya bekerja buat Majalah Sin Podan dan Majalah Pantja Warna.


Tahun 1995, dia yang sudah menikah diperhentikan redaksi Mahalah Sin Po. Dia kehilangan sumber pendapatan. Maka istrinya Lisa membantu kebutuhan keluarga lewat bekerja. Lisa menjadi pengajar dan membuka katering.


Tirto lantas ikut membantu istrinya bukan bekerja. Kedaan tersebut berlangsung sampai Tirto lulus dari Universitas Indonesia. Tirto merupakan Sarjana Hukum UI. Hingga Oktober 1960, berbekal ijasah hukumnya, Tirto Utomo mendapat pekerjaan di Pertamina itu.


Kemampuan Tirto diakui sampai menjadi Deputy Head Legal and Foreign Marketing. Alhasil dia banyak bekerja keluar negeri. Berkat keluar negeri pandangnya sangat luas. Puncaknya, ketika dia memilih berhenti bekerja dan menjadi pengusaha.


Usut- punya usut bahwa Aqua bukanlah usaha tunggal. Tirto juga merupakan pemilik PT. Baja Putih dan Restoran Oasis. Namun ia nampaknya lebih bersemangat membangun Aqua. Tirto merupakan sosok murah senyum, ramah, cerdas, dan berpenampilan sederhana.


Aqua yang sukses membangun kemasan makin moncer. Mereka sampai melayani pengiriman keluar negeri. Aqua sudah ekspor sampai Singapura, Malaysia, Australia, Maldives, Fuji, Timur Tengah, dan Afrika.


Pada tahun 1998, usahanya ketat dan muncul persaingan- persaingan baru. Lisa Tirto, merupakan putri Almarhum Tirto Utomo, pemilik Aqua Golden Missisipi memilih melepaskan saham. Lisa menjual saham mayoritasnya kepada Danone pada 4 September 1998.


Ini dianggap keputusan tepat olah pengamat buat pengembangan. Mereka anggap Aqua tidak akan selamat menghadapi pesaing baru. Berkat Danone maka kualitas Aqua menjadi meningkat. Mereka sudah memiliki pengalaman menangani perusahaan AMDK.


Tahun 2000, ketika pergantian milenia, mereka mengeluarkan produk Danone- Aqua. Dan sampai sekarang perusahaan Aqua menjadi terbesar se- Indonesia. Mereka merupakan produsen air minum tertua sekaligus terbesar.


Nama Tirto Utomo mendapat penghargaan Hall of Fame Pencetus Air Minum Kemasan. Menurut survei Zenith International, bahwa Aqua menjadi produsen air minum terbesar se- Asia Pasific, dan menjadi nomor dua sedunia.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba