Lulus Kuliah Malah Wirausaha Ikan Asap

Profil Pengusaha Dwi Angga

 

wirausahaikan.png
  

Ketika lulus kuliah malah wirausaha ikan asap. Dwi Angga, usianya 24 tahun, malah melanjutkan usaha yang sudah 20 tahun ini. Tinggal diantara rawa- rawa dan tambak memang cocok. Maka cocoklah usaha mereka membuat ikan asap.


"Saya sendiri meneruskan usaha milik orang tua. Memang dari dulu usahanya ya pengasapan ikan ini," ia menjelaskan. Dia beranggapan kerja sama orang tidak enak. Maka dia lebih baik melanjutkan usaha milik keluarganya.


Tak malu meskipun dia merupakan lulusan kuliahan. Tampak rumah sederhana tersebut terjejer ikan- ikan asap. Diatasnya nampak cerobong asap yang mengepul hitam. Rumah- rumah di Desa Poropayung, Kec. Juwana, Kabupaten Pati, memang dikenal produsen ikan asap.


Bahkan baru 100 meter dari gapura sudah tampak baunya tercium. Di sana, tampak orang- orang yang mengerjakan sesuatu, ada yang tengah memotong ikan dengan batang kayu kecil. Adapula mereka tengah mengasapi ikan di dapur bercerobong asap.


Bahan bakarnya memakai batok kelapa. Kemudian ikan dikemas pakai koran bekas. Angga ketika dia ditemui pewarta Betanews.id, tengah sibuk menjejer ikan matang dan sembari dikipasi kipas angin biar dingin.


Pengusaha muda berkaos panjang, bersepatu bot karet, itu lantas melanjutkan ceritanya. Dia bercerita usahanya memproduksi aneka macam ikan. Dari ikan manyung, pari, jahan, dan kropak. Itu semua dia beli dari nelayang langsung.


Dia setelah dikemas akan diantarkan ke pelanggan. Angga sudah memiliki pelanggan tetap. Mereka adalah pemilik rumah makan di beberapa kota. Mereka dari Semarang sampai Yogyakarta ada. Dimana produksi ikannya mencapai 2 kuintal perhari, kalau kepala bisa 5 kuintal.


Harganya berbeda- beda tetapi terjangkau. Buat manyun paling mahal harga sampai Rp.60 ribu. Dan kepala dihargai Rp.30 ribuan.

Usaha Modal Patungan Sejuta Jadi Puluhan Juta

Profil Pengusaha Mardiana

 

usahapatungan.png
 

Mardiana usaha modal patungan sejuta jadi puluhan juta. Pengusaha wanita 39 tahun adalah warga Desa Simbang, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Sulsel, yang menjadi perintis usaha. Bahkan dia menjadi perintis usaha budidaya jamur tiram di Makassar.

 

Orang di sana masih kepikiran kalau semua jamur beracun. Namun kini, kebalikannya masyarakat suka aneka olahan jamur tiram. Mardiana atau yang akrab dipanggil Diana bersyukur. Dia memplopori sampai sekarang menuai hasil.

 

Ibu dua anak yang masih kecil- kecil, ini menjelma menjadi pengusaha sukses. Dia pun mengajak tetangga ikutan budidaya. Mereka diberi pemahaman mengenai jamur tiram. Diajarkan mereka mulai dari persiapan media tanam sampai panen.


Target Pasar


Diana tak jenuh mengedukasi bahwa jamur tiram lezat, bergizi, dan aman dikonsumsi. Edukasi terus dilakukan sembari terus mengembangkan budidaya. Petani jamur pemula yang melihat boomingnya jamur di Pulau Jawa dan Bali.


Diana ikutan belajar mengolah jamur selain menanam. Ada jamur crispy, sup jamur, dan sate jamur, dikembangkan pasca- panen. Diana mengajak ibu- ibu yang menganggur ketika di rumah. Mereka yang sibuk mencari kutu di tetangga, dan duduk- duduk di teras diajak.


"Ibu-ibu yang tadinya cari kutu di tangga atau di teras rumahnya kini mereka lebih aktif karena disibukkan usaha jamurnya masing- masing," kata Diana kepada pewarta Merdeka.com.


Dikisahkan dia, suaminya Ahmad, dan seorang teman patungan. Usaha modal patungan sejuta jadi puluhan juta. Temannya ini rekan kerja suaminya di LSM. Bareng mereka patungan di 2010, terus dibelikan 100 baglog dan bibitnya dari Jawa.


Mereka bersama meriset usaha buat dijalankan di Makassar. Dan mereka mencari peluang usaha lewat internet. Diana mencari bisnis minimal modal tetapi menguntungkan. Melihat budidaya jamur di Jawa dan Bali berkembang pesat; Mereka menginisiasi.


Diana alumni jurusan Teknik Geologi Universitas Hasanuddin, menyadari bahwa masyarakat Jawa dan Bali suka makan jamur. Dia kepikiran kenapa Makassar tidak. Padahal kuliner di Makassar memiliki cita rasa sama.


"Saat itu saya berpikir pokoknya dimulai dulu, belum kepikiran bagaimana pemasaran," jelas Diana sembari tertawa. Dia seperti masuk ke hutan rimba ketika merintis.


Merintis budidaya jamur tiram sempat berpindah tempat. Pertama dia membuka di Kabupaten Bone, tetapi hasilnya pas- pasan. Kemudian dia pindahkan ke Desa Taeng, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Goa, dan dia pindahkan ke Desa Simbang, Kabupaten Maros.


Suatu ketika dia iseng melihat ke supermaket buat evaluasi. Dia mencari jamur tiram ternyata ada. Dia melakukan pengamatan siapa pembeli. Diana mencati tau kalangan mana mau beli. Ternyata hasilnya warga etnis Tionghoa banyak membeli jamur tiram.


"Akhirnya kita jual ke Pasar China di Jalan Bacan. Suami jual ke sana awalnya dua kilogram. Rupanya laris manis," ia senang. Kemudian Diana tidak menjual langsung, melainkan penjual akan membeli dari dirinya, atau jadi suplier.


Kemudian datang pedagang dari Pasar Sawah dan Pasar Kalimbu. Dan pemasaran hasil panen jamur miliknya meluas. Banyak pedagang datang mengambil dari Diana. Mereka menjadi reseller kemudian dijual ke hotel- hotel dan pasar- pasar.


Ada tiga hotel di Makassar sudah disuply petani jamurnya. Diana menjual 400- 500 kilogram perhari. Itu semua merupakan gabungan panen ibu- ibu Desa Simbang, dan usaha dampingan dari Kabupaten Soppeng.


Ada 40 ibu- ibu di kawasan Makassar didampinginya. Karena sekarang peminatnya banyak, padahal produksi terbatas, maka satu reseller dijatah 30 kilogram dan seharga Rp.25 ribu perkilogram. Usaha modal patungan sejuta tersebut diberinama Celebes Mushrooms Farm.


Tidak cuma jualan jamur tetapi juga berjualan bibit. Diana dibantu 11 orang. Perbulan mereka mampu memproduksi 7 ribu sampai 10 ribu baglog yang dijual Rp.4000 perbaglog. Pembeli bibit dari wilayah Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Manado.


Omzet usahanya Rp.40- 60 juta perbulan dengan keuntungan 40%. Diana yang ahli di bidang IT juga mendapat pesanan dari Brazil dan Inggris. Tetapi dia tidak sanggupi karena keterbatasan produksi. Dia sebagai pengusaha, mempunyai obsesi mengembangkan usaha lebih besar tetapi terbatas dana.


Diana bukan tanpa kegagalan. Pernah dia rugi 2000 baglog karena gagal tumbuh. Adapula serangan hama serangga dan jamur liar. Diana mengajarkan, pengusaha harus siap evaluasi, cari solusi termasuk lewat internet, dan jangan panik kalau ada masalah.

Buruh Dirumahkan Karena Covid Berbisnis Frozen Food

Profil Pengusaha Sukses Azim

 

buruhbisnis.png
 

Kisah buruh dirumahkan karena Covid kembali berlanjut. Dia kini berbisnis frozen food. Tujuannya biar bisa bertahan sekaligus menolong. Azim namanya juga mengajak teman- teman sesama buruh. Mereka berjualan aneka frozen food enak bin murah.

 

Azim bekerja di industri otomotif salah satu kawasan industri Jakarta. Dia tinggal di Bekasi. Begitu dia dapatkan berita pemberhentian otaknya berputar. Dia ingin tetap berpenghasilan selama masa tanggap darurat tahun lalu.


Sembari ia mengisi waktu karena dirumahkan. Dia merintis usaha rumahan. Azim memang tidak dipecat tetapi diliburkan. Namun dia tetap harus memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga. Sembari dia berharap pandemi cepat selesai, sembari mengurus rumah sambilan berjualan aneka frozen food.


Dia pun menyediakan egg roll, chicken tofu, ebi shrimp, shrimp stik ayam, shrimp stik ikan, ebi furai, chicken katsu, kani roll, shrimp roll dan ekkado. Azim lengkapi semua demi memenuhi kebutuhan masyarakat.


Usaha berkonsep bento dikembangkan Azim menjanjikan. Waktu dia keluarkan lebih fleksibel sembari mengurus rumah. Dia yang anggota FSPMI DKI, mengajak sesama buruh buat menjajal usaha sejenis frozen food begini. 

 

"Merintis usaha di rumah, menjual aneka produk bento frozen food yang siap saji. Alhamdulillah prospeknya bagus," terangnya kepada koranperdjoeangan.com. Dia juga mengajak buruh yang masih bekerja buat wirausaha. Ayo berbisnis frozen food. 

 

Menurutnya hal- hal tidak diinginkan mungkin terjadi. Kita harus mempersiapkan sejak jauh- jauh hari. Buruh dirumahkan karena Covid bisa berbisnis. Usaha frozen food begini halal, dibuat dari seafood, dimasak dengan higienis demi menjaga kualitas rasa dan zat gizi.


"Untuk rasa dijamin menggugah selera makan dan pasti ketagihan," imbuhnya. Dia meyakinkan bahwa Faal Bento Frozen Food, adalah makanan yang disajikan restoran Jepang tetapi terjangkau. Harganya nyaman dikantong cocok buat kawan- kawan buruh juga.

Sejarah Kerudung Rabbani Pengusaha Dibalik Brand

Profil Pengusaha Amry Gunawan 

 
 
pemilikrabbani.png
 
Ini cerita dibalik brand ternama kerudung instan masa kini. Sejarang kerudung Rabanni dimulai dari sosok pria diatas. Mengejutkan memang kemajuan brand Rabbani ini. Tiba- tiba ada puluhan cabang dibuka di berbagai kota. Siapa sosok dibalik brandnya.
 
Pengusaha jenius itu ternyata seorang pria. Dibawah bendera CV. Rabbani Asysa, kami telah menemukan Amry Gunawan lah pemiliknya. Amry memanglah tidak sendiri menjalankan bisnis ini. Amry bersama istrinya, mereka bersama menjalankan perusahaan kecil tersebut.
 

Sejarah Kerudung Instan

 
Perusahaanya dikenal sebagai profesornya kerudung instan. Dan Amry sedikit dari pengusaha dibidang fashion. Terutama dia bukanlah desainer, bukan juga wanita. Memang pada umumnya bisnis fashion dikuasai kaum Hawa. 
 
Berawal dari jatuh bangun mengerjakan berbagai usaha. Dia dulu dikenal sebagai penjual buku, alat- alat kantor dan kaos. Nama Rabbani sendiri sudahlah melekat sejak usaha pertamanya. Sejak ia berjualan alat- alat kantor dan buku.

Sejak tahun 1991, ia tergolong cukup sukses berjualan buku dan alat kantor. Saat itu ia menjual buku- buku islami. Dia dikenal berjualan di depan kampus Universitas Padjajaran (Unpad). Disaat usahanya itu sukses, ia segera membuka toko buku sendiri. 
 
Tak bermodal besar, cukuplah ia merubah sebagian rumah kontrakan di Jalan Haur Mekar menjadi toko buku. Setelah usahanya semakin sukses. Amry mulai mengumpulkan uang untuk membuka toko sendiri. Akhirnya sebuah toko buku baru lahir. 
 
Dia lantas memberinya nama Pustaka Rabbani, letaknya masih didekat Unpad, tepatnya di Jalan Dipati Ukur. Semua berawal dari perjalanan pendidikannya di Kota Kembang. Tahun 1986, Amry memutuskan pergi ke Bandung, melanjutkan studi Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran (Unpad). 
 
Namun, karena ada perasaan yang kuat untuk mendalami Agama, Amry berbalik arah tujuannya. Dia bukannya masuk ke ekonomi, Amry malah masuk ke jurusan Sastra Arab. Usia Amry masih muda kala itu masih 22 tahun. Sambil berkuliah Amry berusaha untuk mandiri. 
 
Meskipun masih hidup seadanya, dia tak takut untuk menikahi seorang akhwat. Bermodal pinjaman dari guru ngajinya sebesar 60 ribu rupiah. Dia tak takut "mau makan apa". Meski begitu masalah duniawi tak bisa dihindari. 
 
Meski sudah bertekat, setelah lahirnya anak pertama, ia harus memutar otak lebih lagi. Tahun 1991, ia memulai usaha buku Islami dan peralatan kantor. Dia lantas berjualan di depan kampus Unpad. Disaat usahanya semakin naik ia akhirnya membuka toko sendiri. 
 
Cukuplah bermodal sebagian dari rumah kontrakannya di Jalan Haur Mekar menjadi toko buku. Sedikit demi sedikit Amry mulai menyisihkan keuntungan untuk membuka toko kedua. Kali ini ia membuka toko sendiri tanpa menempel rumahnya.

Sebuah toko buku bernama Pustaka Rabbani di Jalan Dipati Ukur, masih dekat Unpad. Seking sibuknya ia memuka usaha sendiri. Amry memutuskan meninggalkan kuliah Sastra Arab -nya. Pria kelahiran Aceh Utara, 20 Februari 1967 ini, benar- benar ingin fokus pada bisnisnya. 
 
Tapi pada tahun ke empat ia malah banting stir berbisnis kerudung. Saat itu ia melihat peluang dari kaum muslimah di Indonesia. Waktu itu, khususnya untuk instansi formal pemerintahan khususnya pendidikan dan perkantoran, ada satu larangan menggunakan jilbab. 
 
Dia lantas berpikir jika dilarang bukannya semakin penasaran. Dari sanalah, ia membuka usaha kerudung dibantu istrinya. Semuanya hanya bermodal nekat. Ia lantas menjual toko buku itu untuk modal usaha. Dia bahkan tega memberhentikan 30 karyawan yang tak siap memulai dari nol bersama.
 

Pengusaha Dibalik Brand

 
Semuanya dia lepaskan untuk memulai kembali. Ide kerudung instan datang ketika ia dan istrinya berkunjung ke Tanah Suci tahun 2003. Di tempat itu, sang istri melihat seorang wanita muslim China mengenakan kerudung kreasi. 
 
Dari melihat itulah ide- ide tentang kerudung apa bermunculan. Uang 15 juta hasil menjual toko dijadikannya modal. Selain dari menjual toko, Amry juga mendapatkan tambahan dari sang istri. Waktu itu istrinya dengan rela menggadaikan lima gram emas mahar.

Istrinya Nia bersamanya ketika usaha itu tumbuh. Dibawah bendera CV. Rabbani Asysa keduanya fokus pada konsep kerudung instan. Karena mudahnya membuat kerudung instan ini. Maka sepanjang usahanya itu selalu ada saja yang meniru. 
 
Maka untuk menyiasati hal tersebut, ada tim khusus menangani inovasi dan juga pengembangan desain baru. Bahkan Rabbani mampu mengeluarkan model baru setipa sepertiga bulan sekali. Ada 35 ribu kerudung untuk 120 outlate yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dari desain awalnya sudah ada ribuan lusin model sejak berdirinya. Setiap satu modal itu terjual maka tidak akan ada model lagi yang sama. Itulah juga alasan mengapa tag line bisnisnya "Profesor Kerudung". Benar- benar fokus pada model yang selalu kaya. 
 
Untuk harganya bervariasi di setiap produknya. Mulai dari harga 14.500 sampai 800.000 -an. Selain fokus di kerudung, Rabbani juga mengeluarkan produk busana muslim satu paket.

Nah, untuk harga busana muslim, Rabbani menjual Rp.89.000 sampai 40.000 per- potong. Lalu juga ada produk lain seperti mukena, busana anak dan lain- lain. Karyawan Rabbani pun melonjak jauh jadi 2500 orang karyawan. 
 
Jumlah ini tersebar di berbagai cabang, baik di kantor pusatnya yang ada di  JL. Dipatiukur no 44, Bandung. Ada pula yang di tempat- tempat desain dan produksinya di kawasan Leuwisari, Karasak, Soekarno Hatta, Mochammad Toha, Kopo dan beberapa tempat lainnya di Bandung.

Ada masanya untuk bisnis Rabbani bersinar. Itulah bulan Ramadhan. Jadilah produk Rabbani akan gencar untuk selalu melakukan promosi. Promosinya akan ada di berbagai media, dari media cetak, televisi, dan juga radio. 
 
Bahkan untuk media televisi, Rabbani melakukan promosi di berbagai tayangan sinetron dan juga tayangan televisi lain. Caranya dengan menjadi sponsor para artis yang tampil di layar kaca.
 
Ada sinetron Cinta Fitri Seson Ramadhan, Fitriyah, Islam KTP, Charlie & Trio Angel di SCTV; Ada Kontrakan Dalam Gang, Alif Ba Ta serta Mat Jiung di TPI; Nurjanah dan Nikah Siri di INDOSIAR; Assalamualaikum Ustadz di RCTI; Bioskop Indonesia trans TV (Trans TV); Istri-istri Jagoan di Global TV; serta Wara Wiri Ramadhan di Trans 7.

Lantas bagaimana Rabbani begitu menjamur. Usut punya usut, ternyata Rabbani telah menggunakan sistem waralaba, jauh sebelum bisnis marketing modal ini jadi tren. Bedanya jika umumnya cuma waralaba, maka Rabbani manamainya wala rabba. 
 
Walau disini artinya loyalitas sedangkan rabba artinya Tuhan. Waktu itu nilai investasi tergolong tinggi, sekitar 500 juta per- investor. Dengan uang segitu pewaralaba sudah bisa menjual produk- produk aneka macam dengan sistem bagi hasil

Selain menggunakan konsep waralaba ada pula istilah sub- dealer. Dimana investasi awalnya cukup 5 juta saja dan untuk pendaftaran 250 ribu investor akan mendapat diskon 30%. Cara- cara inilah yang digunakan agar Rabbani selalu dekat dengan masyarakat. 
 
Konsep lain juga melalui menjadi loyalitas pelanggan melalui sistem seperti downline. Dimana para pelanggan akan mendapatkan diskon- diskon untuk setiap pelanggan baru. Sampai di Juli 2010, brand ternama Rabbani memiliki 60 ribu waralaba. 
 
Adapula 500 juta investor yang telah aktif sebagai pelanggan dan penjual produk kerudung instan. Inilah sejarah kerudung Rabbani, dan pengusaha dibaliknya Amry Gunawan.

Sumber: diterbitkan oleh Majalah Pengusaha Muslim. Edisi 9. Volume 1. September 2010, Rubrik Laporan Utama Hal 20-23 "Bisnis Menjanjikan di Saar Lebaran"

Kisah Perantau Wonogiri Dikala Pandemi Usaha

Profil Pengusaha Ryna Mardianti

 

perantauwonogiri.png
 

Ryna Mardianti tak menyangka membangun usahanya ulang. Demi bertahan hidup, inilah kisah perantau Wonogiri dikala pandemi Covid 19. Dia sempat membuka usaha bakso Wonogiri dan mie ayam. 

 

Wanita yang bertempat di kawasan Pondok Jaya, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Bantan, yang sempat terpuruk. Dia tinggal di kawasan bisnis. Cocoklah Ryna merintis bakso Wonogiri tersebut. Tetapi agaknya Corona tak kunjung selesai. 

 

Nasi Berkat Daun Jati

 

Usahanya terpukul sampai gulung tikar. Usaha sepi tidak nampak pembeli datang. 

 

"Saya juga takut tertular Covid 19, jadi warung saya tutup saja," terangnya kepada pewarta Jawapos.co. Pemasukan warga asli Lingkungan Jarum, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri yang otomatis kehilangan sumber pendapatan.


Ryna harus memutar otak. Kebetulan dia kangen akan keluarga jadilan membeli nasi berkat. Beberapa bungkus nasi berkat pengobat rindu keluarga di kampung. Nasi atau sego yang telah menjadi ciri khas makanan kampungnya.


Biasa nampak ketika diadakan hajatan atau selamatan. Biasanya Ryna akan dapat bungkusan nasih berkat sepulangnya. Nasi berkatnya dibeli di Cipondoh, dan jarak antara Pondok Aren ke Cipondoh jauh, dan Ryna beli lewat ojol.


Kasihan ojolnya karena jarak jauh. Biaya kirim sampai Rp.90 ribu, dan harga nasi berkatnya semua Rp.120 ribu. Gimana lagi Ryana memang tengah rindu kampung halaman. Pandemi sekaligus menutup kesempatannya buat pulang kampung.


Sembari makan Ryana mengamati kemasan nasi berkat. Diliatnya isi nasih berkat dan memang dia bisa bikin sendiri. Kepikiran pula bahwa di wilayahnya belum menemukan sejenis. Belum ada penjual nasi berkat berbungkus daun tersebut.


Padahal ia menemukan kawasannya banyak perantau Wonogiri. Dia belum menemukan banyak usaha begini. Ryna kemudian membangun usaha sego berkat. Tujuannya menarget pasar masyarakat asal Wonogiri. Menyasar mereka yang kangen rumah tetapi tidak boleh pulang kampung.


"Dalam keadaan pandemi ini yang terpenting bagaimana bisa bertahan hidup, gitu saja," kisah sang perantau asal Kota Sukses ini.


Nasi berkat berisikan campuran aneka lauk dan nasi. Pengusaha wanita 49 tahun memasak mie bihun, oseng tempe, daging sapi dan banyak lagi. Bungkus nasi merupakan kunci kenikamatan makanan tradisional ini. Nasi berkat memakai kemasan daun jati bukan pisang.


Makanan tradisional tersebut Ryna jual Rp.12 ribuan. Murah tetapi bukan murahan karena nikmat dan nostalgia. Dijual melalui Facebook pesanannya mencapai 100 bungkus perhari. Ryna sendiri mengaku tak menemukan kesulitan ketika memulai usaha.


Walau dikala pandemi dia tetap mampu memenuhi pesanan. Sudah terbiasa buat menyiapkan usaha berbasis kuliner. Wanita berjihab tersebut tak kerepotan. Kalau pesanan banyak tinggal dia meminta bantuan seorang perantau asal Wonogiri juga.


Dia mempekerjakan perantau yang dirumahkan akibat pandemi. Padahal perantau tersebut bekerja di perusahaan kontraktor, kini menganggur. Soal rasa masakannya menuai banyak pujian. "Aroma nasi yang dibungkus daun jati katanya ngangenin," tuturnya.


Pasca Lebaran, rencanannya akan membuat menu baru, Ryana merencanakan akan membuat masakan tengkleng. Namun tidak bisa dipungkiri, aroma nasi dibungkus daun jati adalah andalan, berkah Ryna tidak mau menyerah.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba