Sejarah Lele Sangkuriang Kisah Pengusaha Dibalik Nama

Profil Pengusaha Nasrudin

 
 
sejarahlele.png
 
Ada kisah dibalik nama ikan legendaris berikut. Dia adalah maestro dibalik sejarah lele sangkuriang. Ia sudah sudah puluhan tahun menekuni budidaya lele, sukses mengangkat derajat hidup orang banyak. 
 
Sang "Letkol" atau Letnan Kolam yang sudahlah pasti ia memiliki puluhan kolam budidaya lele. Rahasia suksesnya pun tak pernah ia rahasiakan untuk anda. Dia juga dikenal sebagai seorang Penanggul Miskin oleh warga sekitar.

Sosok Nasrudin tetaplah bersahaja, sederhana dan murah senyum, meski telah berkecukupan dari lele saja.  Ia selalu siggap untuk membantu anda yang ingin berbisnis lele Sangkuriang. Keberhasilan membudidaya ikan lele tak pernah ia rahasiakan.
 

Sejarah Lele Sangkuriang

 
Dia bahkan membaginya kepada masyarakat. Sejak awal, peternak tak lulus SD ini memang bercita- cita memberdayakan orang banyak. Ia ingin sekali membantu mereka yang menganggur, di PHK, pensiun, ataupun putus sekolah. 

Bersama- sama mereka ikut nyemplung di kolam ikan lele Sangkuriang. Nasrudin memang pekerja keras.  Dia yang tekun mengerjakan budidaya, sukses mewujudkan mimpinya. Kini setiap hari akan banyak orang berbondong- bondong datang kepadanya. 
 
Ada sekitar 50- 70 orang beragam profesi dari 32 provinsi di Indonesia datang ke tempatnya di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor.

Sebuah tempat Nasrudin membudidaya ikan lele, sekaligus tempat pelatihan. "Training Center" bagi anda yang ingin belajar budidaya lele dengan ahlinya. Selain itu Nasrudin juga aktif menjadi pembicara di berbagai seminar wirausaha.


Ketika itu masih di era Orde Baru. Nasrudin hidup sebagai petani, tenang, dan bekecukupan. Kala itu benih, obat- obatan, dan pupuk sudah disubsidi pemerintah. Harga beras jadi stabil. Baginya itu kisah lama, semua sirna ketika krisis ekonomi. 
 
Di tahun 1998, jutaan orang termasuk petani seperi dirinya tak luput terkena libas krisis ekonomi. Dia menjadi salah satu orang yang berhadapan dengan kebutuhan yang naik selangit. Meski hidup susah, ada prinsip kuat dalam dirinya. 
 
Prinsip Nasrudin adalah lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan. Hingga 2010, ia akhirnya menemukan budidaya lele yang kala itu tengah diteliti genetiknya oleh Balai Budidaya Air Tawar (BBAT), Sukabumi, Jawa Barat.

BBAT tengah mengerjakan perbaikan mutu untuk lele dumbo. Waktu itu tengah ada penelitian peningkatan mutu lele dumbo melalui perkawinan silang- balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan indukan jantan generasi keenam (F6). 
 
Indukan betina F2 merupakan salah satu koleksi BBAT Sukabumi yang sejatinya berasal dari keturunan kedua lele dumbo dari Afrika tahun 1984. Adapun untuk indukan jantan F6 merupakan induk yang ada di Boyolali Jawa Timur.

Nah, inilah cikal bakal si lele Sangkuriang. Saat itu Nasrudin mendapatkan kepercayaan dua ekor betina dan satu ekor jantan lele. Meski kualitasnya ajaib. Lele ini sulit dikembang biakan. Ia ingat betul pesan dari Irhin, seorang petugas BBAT, bahwa ikan ini akan sulit tumbuh natural. 
 
"Kamu tidak akan bisa mengembangbiakan lele jenis ini tanpa buatan (disuntik)," kenang Nasrudin lagi.

Bagi Nasrudin tak ada yang tidak mungkin. Ia kemudian membuat dua buah kolam. Satu kolam ada dibawah rumahnya, dan satu lagi yang ditempatkan di belakang rumah. Dua kolam alami yang dibuat dengan lubang- lubang, bebatuan serta beberapa sikat ijuk. 
 
Enam hari berlalu. Nasrudin menemukan telur- telur di kolamnya. Ia lantas kegirangan. Namun setelah menetas, dua minggu kemudian ada keanehan. Apakah itu?

Dari bagian parut ikan- ikan kecil itu nampak tumbuh kaki. Ternyata, yang selama ini dikira anakan lele itu, hanyalah anak katak atau kecebong. Nasrudin tak menyerah. Ia membuang kecebong itu lalu mengganti air dalam kolam dengan air jernih. 
 
Malamnya ia manatap lele- lelenya dalam- dalam. Nasrudin memperhatikan lele- lele nya saling mengejar. Dia memperhatikan perut lele betina yang tampak mulai besar. Esoknya ia menemukan telur lagi. Nasrudin menemukan banyak telur di pinggiran tembok kolamnya. 
 
Dengan sigap ia segera memindahkan lele- lelenya. Dia langsung pisahkan lele- lelenya ke kolam yang satunya. Kali ini telur- telur itu benar- benar berasal dari lele betina. Dari ratusan ribu telur yang menetas itu, yang menjadi bakalan lele hanya 1000 ekor dengan ukuran sekitar 2-3 cm. 
 
Kemudian Nasrudin menjual bibit- bibit lele seharga Rp.150. Melihat keuntungan yang besar. Nasrudin merombak sawah- sawahnya satu per- satu menjadi kolam lele. Ada 13.000 m2 telah ia habiskan untuk membuat kolam- kolam yang terdiri kolam pamijahan (tempat bertelur), penetasan dan pembesaran. 
 
Kolamnya sendiri dibuat menggunakan bahan terpal dan sebagian diantaranya ditembok. Secara teori dan pengalaman para peternak lele, cara budidaya lele jenis ini tidaklah mudah. Demikian halnya yang dialami pula oleh Nasrudin.

Mulai dari pengaturan Suhu, racun tanah, polusi udara serta pakan, memiliki pra-syarat yang cukup rumit. Ditambah lagi, di zamanya, tidak ada informasi mudah seperti halnya internet. Meski begitu melalui serangkai percobaan akhirnya Nasrudin kokoh sebagai peternak lele mumpuni.

Bisnis Sosial


Dia selalu mencari tahu perihal budidayanya. Sampai suatu saat ia akhirnya menemukan kunci suksesnya. Kunci sukses yang masih diburu para pembudidaya lele sekarang. Nasrudin menemukan kunci pakan herbal untuk lelenya.

"Mereka, para peternak lele beraninya di dalam ruangan. Kalau saya enggak. Di lapangan yang terkena hujan, suhu dingin atau panas, lele saya enggak mati," kata Nasrudin.

Waktu itu karena lele itu belum bernama, banyak orang bertanya kepadanya. Setengah bercanda ia pun lalu menyebut "Sangkuriang". Alasannya waktu itu karena tempat lelenya dibudidaya terkenal akan satu legenda, legenda Sangkuriang. 
 
Kian hari nama Nasrudin kian meroket. Berbagai lembaga lantas berdatangan untuk mendukungnya. Mereka antara lain dari Balai Budidaya Air Tawar (BBAT), Dirjen Kelautan dan Perikanan, Penyuluh, Penyuluh kecamatan Megamendung, serta beberapa lembaga lainnya.

Akhir tahun 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan mengundang Nasrudin untuk mengisi seminar lele Sangkuriang. Dia berbicara dihadapan peserta dari 28 provinsi. 
 
Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, yang kala itu menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan turut hadir meresmikan nama "sangkuriang" sebagai salah satu nama jenis lele. Menurutnya jenis lele ini mampu menghasilkan telur lebih banyak. Bisa menghasilkan 40 ribu- 60 ribu butir telur/kg. 
 
Lele Sangkuriang berbeda dengan lele dumbo yang menghasilkan 20 ribu- 30 ribu butir telur/kg. Ia menambahkan lele ini relatif tahan terhadap penyakit. Lele Sangkuriang mampu meredam serangan beragam bakteri.

"Benih lele sangkuriang dengan ukuran 7 – 8 cm hanya memerlukan waktu sekitar 50 hari untuk mencapai panen, sedang lele dumbo mencapai tiga bulan," tambahnya.

Selain itu, Nasrudin menambahkan kandungan protein lele Sangkuriang sangat tinggi, rasanya gurih, dan tidak amis. Bahkan ada beberapa orang menyandingkan rasanya dengan udang yang berkualitas. Masyarakat pun sangat tertarik mengkonsumsi lele Sangkuriang. 
 
Tak heran permintaan akan ikan ini melonjak. "Pemasaran lele sangkuriang masih luas, kebutuhan Jabodetabek 200 ton perhari. Belum termasuk kebutuhan olahan lainnya dan ekspor," tutur Abah, sapaan akrab Nasrudin.

Wirausaha Bangun Desa Pengusaha Muda Defrian

Profil Pengusaha Defrian Ardiansyah

 

wirausahadesa.png
 

Pengusaha muda Defrian Ardiansyah terus menjalankan usaha. Wirausaha membangun desa walau dalam keterbatasan kita mampu. Pemuda Desa Gerbo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, telah lama menjalankan usaha budidaya jamur.


Jumlah petani jamur masih sedikit diwilayah tempatnya. Padahal memiliki lingkungan cocok buat tumbuh jamur. Defrian menyebut jumlah pembudidaya jamur masih dihitung jari. Ia pun sudah menjalankan usaha 4 tahun. Dia menjalankan budidaya ketika 2014 silam.


Menanam jamur digagas dirinya sendiri. Semua dipalajari Defrin sendiri tanpa pengalaman dulu. Dia mengatakan jamur juga tergantung musim. Perawatan musim kemarau akan susah karena jamurnya juga butuh air. Jenis jamur Defrin adalah jamur tiram karena lebih mudah.


"Serbuk gergaji, bekatul, kapur, sama jagung. Terus dicampur, disetrilkan, dikasih bibit," ucapnya coba menjelaskan kepada Desabisa.com.


Defrian telah lihai membuat log jamur. Media tanam berbentuk kantong- kantong tersebut sangatlah esensial. Jadi kita tidak menanam di tanah melainkan di kantong log. Panen jamur membutuhkan waktu 25- 30 hari.


Defrian mengatakan kendala terdapat pada air. Bila musim kemarau maka kesulitan mendapatkan air. Ia juga kesulitan memasarkan ketika panen raya. Pasalnya orang akan panen bersamaan hingga bisa melimpah ruah. Defrin jual ke pengepul atau konsumen langsung bila perlu.


Harga jamurnya Rp.10 ribu perkilogram. Dan belum memiliki rencana mengolah panennya sendiri. Ia mendapatkan modal melalui Bank BRI Simpedes. Hasil keuntungan dia tabungkan buat diputar kembali. Defrin wirausaha membangun desa bersama warga lain.


Dia tergabung dalam kelompok tani Pagergunung Jaya. Keuntungan masuk kelompok tani ialah dapat ilmu dan pemasaran. Kelompok tani tersebut fokus mengajarkan bertani jamur. Termasuk mengajak orang membangun lebih banyak kumbung (tempat jamur).

Pengusaha Mainan Edukasi Ari Bayat Hobi Berdagang

Profil Pengusaha Ari Bayat


pengusahamainan.png
 
 
Pengusaha mainan edukasi Ari Bayat memang hobi berdagang.  Dia tak pernah berhenti bermimpi walau gagal. Apakah impiannya, dalam satu postingan blog pribadinya, ia menulis "membuat produk sendiri yang  membanggakan di negeri sendiri". 
 
Kenapa produk kita miliki berasal dari luar negeri. Dimana para ahli mesin kita, dimana uang pengusaha kita, jangan mau kita dijadikan antek- antek asing, tegasnya. Ari yang mencintai anak- anak ingin menciptakan mainan sendiri. 
 
Mainan yang edukatif akan membangun manusia indonesia. Lalu berdirilah toko mainan anak bernama Arba Makmur, berdiri berkat jeri payah pemuda tersebut. Usaha yang terletak di Jalan Raya Pondok Gede, Bekasi, tak jauh dari Monumen Pancasila Sakti. 
 

Hobi Berdagang

 
 
Aneka mainan edukatif yang berbahan kayu dipajang. Dimana kamu bisa beli secara eceran. Fokus usahanya saat ini adalah produk untuk pesanan sekolah dan proyek pengadaan pemerintah. Kegigihan bisnis seorang Ari tak terlepas dari gemblengan orang tua. 
 
Jiwa entrepreneurship yang tak terasa terpati dalam jiwanya. Dimulai dari kelas sepuluh, ia sudah berjualan es lilin sendiri di musim sadranan. Dia berjualan disekitar rumahnya. Persaan bangga itulah dalam dirinya selalu. 
 
Tak ada rasa malu sama sekali. Dia itu sosok yang senang berdagang saja. Ada perasaan bangga saat jualannya habis katanya.


Ketika anak lain bermain di sela libur sekolah panjang. Apakah yang dilakukan Ari? Dia, yang masih SMP, sudah bekerja mencetak batu bata. Begitu pagi tiba tubuhnya sudah bergulat dengan tanah merah. Dia mulai mengaduk- aduk bahannya, diaduk hingga jadi adonan. 
 
Lalu, adonan itu dicetak lantas dimasukan ke bara api. Batu batanya dibakar sampai jadi. Jika hasilnya bagus maka bisa laris dijualnya. Hasil uangnya kemudian digunakan untuk membeli sepatu.

Itulah Ari Bayat, sosok entrepreneur sejati. Disaat liburan pas masa SMA, pengusaha muda tersebu tak malu berjualan es krim berkeliling dari gang ke gang. Berjualan jauh dari kampung ke kampung, dari daerah Makam Haji hingga Jongke di Kota Solo. 
 
Untuk berjualan es krim saja ia sudah bangun sangat pagi di pagi buta. Dia merebus air, memarut kelapa, dan memprosesnya jadi es krim. Ari berjualan hingga jam sembilan malam. Sungguh pengalaman panjang menjadikan sosoknya yang sekarang.

 "Padahal saat itu saya tidak disuruh orangtua. Semua itu saya lakukan karena niat saya yang kuat untuk bisa mandiri," ujar Ari mengenang. Hobinya memang berdagang. Hingga menjadi pengusaha mainan edukasi sukses.

Hobi berdagang juga terbawa hingga ke masa kuliah. Dimulai dari menjual contoh soal -soal ujian masuk ke perguruan tinggi. Ia juga mengkordinasai fotokopi buat satu kelas. Usaha lain juga menjual minyak wangi dan sebagainya. Kegiatan tersebut sangat menyenangkan katanya. 
 
Dengan kegiatan berjualan itu justru ia bisa menambah banyak teman. Jelasnya lagi, melalui usaha tersebut, ia mendapatkan uang untuk memenuhi segala kebutuhan pribadi.

Sayangnya, ia mengaku tak menyeriusi semua bisnisnya hingga lulus kuliah. Dia masih memikirkan bagaimana agar lulus kuliah. Berhubung dirinya kuliah di jurusan perbankan, sehabis kuliah, ia hanya berpikir: selepas ia kuliah ya jadi pegawai bank. 
 
Akhirnya di tahun 1997, Ari resmi lulus kuliah dengan bersusah payah. Saat itu suasana ekonomi tak mendukung. Meski susah, ia terus mengirim surat lamaran ke banyak bank, baik yang ada di kota Solo, Yogya, dan Semarang. 
 
Semuanya ia lakoni tanpa berpikir sekalipun tentang bagaimana jadi entrepreneur. Selama menunggu jawaban ia bekerja dulu di proyek perumahaan di Yogya. Penantian akan lamaran kerja itu ternyata tak menghasilkan. Selama enam bulan jerih payahnya tak terjawab. 
 
Sempat, sesaat ia berpikir untuk menjadi agen koran di suatu daerah. Dia yang tak punya modal akhirnya mengurungkan niat itu. Dia juga masih ragu akan kemampuanya sebagai wirausahawan.

Bekerja di Bank


Alhasil, ia justru nekat merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Kala itu ekonomi keluarga masih lah bagus. Jadilah ia berani merantau ke Jakarta tanpa kenalan. Dia mulai memasukan lamaran satu per- satu ke perusahaan. Dia berani bergeriliya dari pintu ke pintu. 
 
Akhirnya ia bekerja di sebuah bank swasta setelah ia lolos berbagai tes wawancara pada November 1998. Namun, siapa sangka hobinya berjualan malah muncul disela- selanya. Ari bekerja dibagian pusat data kredit. Pertengahan 2000 dia dipindahkan ke daerah Podomoro. 
 
Hobinya berdagang muncul kembali. Usaha barunya didukung oleh kondisi kantor yang strategis. Letak kantornya ada di dekat pabrik yang punya ribuan karyawan. Dia mulai berjualan aneka makanan. Dari keripik belut, ada batik Solo, jagung turbo, dan sebagainya. 
 
Apa saja yang bisa dijualnya. Namun, lagi- lagi, ia tak mau menyeriusi hal itu. Dari berusaha sendiri ia menghasilkan motor melalui kredit. Pada akhirnya ia malah keluar dari kantornya, itu karena proses marger yang terjadi. Dan kini, ia bersyukur menemukan bisnis barunya sekarang. 
 
Semua itu karena kerja kerasnya. Dimulai dari menjual mainan edukatif di hari Sabtu, ketika masih bekerja sebagai seorang pegawai bank. Setiap hari Sabtu, ia mulai berkeliling dari playgroup dan Taman Kanak- Kanak yang berada di sekitar kosannya.

Kegigihan Klaten, Jawa Tengah, ini memang patut diacungi jempol. Dia langsung ambil inisiatif melakukan pendataan nama kepala sekolah, alamat, serta contact person -nya. Begitu datanya dikumpulkan ia langsung menghubungi mereka. 
 
Mulailah ia menawarkan produk mainan edukatifnya ke orang- orang. Ternyata tak disangka- sangka, respon masyarakat terhadap mainan edukatif cukup tinggi. Ari bahkan kwalahan mendapatkan orderan dari pembeli. Semua karena jarak pembuat mainan edukatif itu sangat jauh.

Kondisi inilah yang membuatnya berpikir memproduksi mainan sendiri. Dia pun rajin menabung agar hal ini menjadi kenyataan. Selepas menikah Ari memilih pindah ke daerah Taman Mini, Jakarta Timur. Faktor utamanya karena udara yang masih sejuk, selain itu dia karena dekat keramaian. 
 
Disana ada Asrama Haji Pondok Gede yang menyelenggarakan berbagai acara. Salah satunya adanya acara manasik haji yang selalu ramai. Mereka itu Taman Kanak- Kanak dari berbagai sekolah.

Prospeknya ialah pasar yang masih luas. Mainan edukatif pasti akan bisa berkembang pesat. Lalu target pasarnya itu cukup besar. Dia mulai berjualan di daerah Taman Mini. Pelanggan sedikit demi sedikit teruslah bertambah. Produk mainan edukasinya semakin dikenal. 
 
Tahun 2004, ia memberanikan diri mengajukan satu pinjaman ke Bank untuk membuat workshop. Ia gunakan uang itu untuk membeli mesin- mesin. Sampai saat ini, produknya masih menggunakan bahan triplek dan kayu.

Semuanya diproduksi dari mesin- mesin yang ia modifikasi sendiri. Yang terpenting produksinya itu punya standar kualitas, semuanya berjalan baik. Sambil ia berjalan, sambil pula dirinya memperbaiki mesin- mesin yang sudah ada. 
 
Produksinya ditujukan untuk kalangan anak mulai umur dua tahun sampai sembilan bula. Dia pun mulai memproduksi mainan untuk playgroup, TK, dan keperluan anak autis. Usaha yang diberinya nama Arba Makmur juga berbisnis di dunia maya.

Prinsipnya juga termasuk ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Jika bicara prospek, bisnisnya akan semakin bergairah jika bulan Mei hingga Agustus. Disele- sela lesunya usaha maka ia mengerjakan produk lain. Dia menjelaskan selain memproduksi mainan edukasi. 
 
Dia juga memproduksi kerajinan kayu seperti tatakan piring, gantungan baju, box bayi, kursi dan meja anak serta produk kayu lainnya. Dengan strategi itulah, ia bersama Arba Makmur tetap eksis dan berproduksi.

Bagaimana Menjadi Pengusaha Boneka Sendiri

Profil Pengusaha Sukses Tuti 

 
menjadipengusaha.png
 
Bagiamana menjadi pengusaha bonek sendiri. Entah apa yang membuat Tuti begitu nekat. Tuti nekat untuk membuka usaha sendiri. Tapi yang pasti semua ia lakukan untuk ekonomi keluarganya. Meski tak pernah merasakan hidup berwirausaha. 
 
Meski begitu ia tak mau menyerah. Usaha apa yang bisa anda lakukan. Tuti Nurhayati memilih menjadi pengusaha boneka. Meski kecil tapi ini lebih baik dari ketika ia menjadi buruh. Usaha ini telah ia jalani sejak tahun 2001.
 

Menjadi Pengusaha Boneka


Kisahnya seorang buruh pabrik boneka yang membuat boneka sendiri. Sebuah pabrik boneka asal Korea. Ia mengambil usaha yang masih bisa dilakoni. Tahun 2001, Tuti memulai usahanya hanya bermodalkan apa adanya. Modal awal usahnya tak sampai satu juta rupiah. 
 
Tuti mencoba membuat boneka sendiri. Lalu ia memasarkan produknya ke toko- toko di sekitaran Jakarta. Dari toko ke toko dijalaninya tanpa mengeluh. Satu hal yang pasti pengalaman di pabrik boneka menempa kemampuannya.

Pada saat itu, kebanyakan toko boneka yang ada sudah memiliki suplier tetap dari pabrikan besar. Tidak mudah menembusnya. Ternyata menjalankan usaha sendiri tak semudah dibayangkan Tuti. Di tahun 2006, ia mengalami hampir bangkrut karena modal usaha. 
 
Ditambah pemasaran yang sulit ia tangani. Hingg suatu hari ia mulai rajin mengikuti pameran dan hasilnya lumayan. Nah, setelah lama berjuang, akhirnya sebuah BUMN memberikan bantuan modal untuknya.

Berlajar dari perjalanan bisnisnya. Ia kini memegang prinsip bahwa perlu adanya trobosan. Perlu ada beda di dalam model- model bonekannya yang lebih inovatif. Semua berkat berbagai media seperti televisi, majalah, internet, dan lain sebagainya. 
 
Dengan 25 orang karyawan, Tuti sudah mampu menghasilkan ribuan boneka tiap bulan. Bahkan ketika mengikuti pameran dia bisa mendapatkan 2.000 pesanan. Harga jual boneknya itu beragam dari 10.000 untuk yang termurah sampai 350.000 untu termahal.

Ia mulai mengembangkan model boneka secara periodik. Semua untuk memenuhi keinginan konsumen akan produk berkualitas dan update. Meski begitu ia masih menggarap pasar primadona seperti model beruang atau binatang lain yang lucu dan menggemaskan. 
 
Untuk boneka karakter ia mengaku jarang memproduksi. Karena memang persaingan yang ketat serta hanya musiman. Kini, toko- toko di Mangga Dua sudah mau memajang bahkan menacari- cari produknya.

Wanita asal Sukabumi ini kini bersyukur jerih payahnya terbayar. Ia yang selalu belajar membuat usahanya itu semakin bagus. Meski demikian ia sadar pasarnya penuh persaingan. Usaha yang telah berjalan lebih dari 10 tahun ini menghasilkan margin hingga 10%- 20%. 
 
Usaha dibidang ini memang dinamis, dimana pengusaha harus siap bersaing dengan pabrikan besar atau bersaing dengan produk luar sekalipun. Tuti beruntung menemukan cara menjadi pengusaha.

Sejarah Es Cendol Elizabeth Pengusaha H. Rohman

Profil Pengusaha H. Rohman

  
escendol.png
 
Mungkin kamu tidak mengenal nama H. Rohman. Tetapi sejarah es cendol Elizabeth berkaitan dengan namanya. Minuman satu ini menjadi salahsatu kegemaran jika berkunjung ke Bandung. Es Cendol Elizabeth menawarkan minuman cendol biasa. 
 
Bahan cendolnya berupa cendol hijau sedikit tua, irisan nangka, santan kental, serutan es, dan tentunya gula merah. Terasa segar di tenggorokan apalagi ketika musim panas. Meski telah banyak pedagang berjualan ternyata si empunya tak merasa mewaralabakan. 

Pemilik Cendol Elizabeth

 
 
Siapa pemilik aslinya? Apakah es cendol ini dimiliki seorang wanita bernama Elizabeth atau bukan. Usut punya usut, ternyata usaha tersebut dimulai dari H. Rohman. Dia mengaku bahwa es cendol yang punya nama sama di pinggiran jalan hanya mendompleng. Itu bukanlah es cendol buatannya. 
 
Mereka itu hanyalah ikut- ikutan menempelkan nama Es Cendol Elizabeth di gerobaknya. Mereka tak mengambil cendol dari si empunya. Dan, Rahman juga tak mengakui itu buatannya.

Jika ada masalah tanggung sendiri akibatnya. Es cendol buatannya yanga asli adalah yang ada di Jalan Otista, Bandung, di depan Toko Elizabeth. Jika bulan Ramadhan jualannya akan tutup. Jadi bagi anda yang biasanya minum di bulan Ramadhan itu bukanlah miliknya. 
 
Disini di es cendol asli Elizabeth merupakan olahan milik H. Rohman. Anda bisa mendatangi tempatnya di Jl. Inhoftank No.64 Bandung. Lokasinya tidak begitu jauh dari Jalan Otista, tepatnya ada di ujung Jalan Otista.

Selain itu, ada cabangnya, yang asli ada dikawasan Otista, Cihampelas, Merdeka, Buah Batu, Setrasari, Pahlawan, Kopo, Majalaya, serta di luar Bandung berada di Tasikmalaya. Seperti bagiamana larisnya orang menggunakan nama usahany, es cendol asli memang punya kelebihan. 
 
Berbeda dengan usaha es cendol biasa dimana terletak pada bahannya. Pengusaha H. Rohman tak mau tanggung- tanggung memanjakan lidah pelanggan.

Es cendol ini memiliki perbedaan pada kadar gula merah dan santan yang lebih kental. Kemudian ditambah dari bahan berkualitas yang alami. Cendol Elizabeth terbuat dari sagu. Warna hijaunya terbuat dari daun suji. Sementara itu wanginya berasal dari daun pandan. 
 
Jadi produknya memang asli dari bahan alami. Rahman lantas menambahkan jika tak menemukan pewarna alami, dia lebih baik membiarkannya saja. Dia lantas akan membiarkan warnanya putih seperti sagu.

Meski tak lulus SD, Rohman sadar kualitas menjadi nomor satu. Bahan- bahan didapatkan dicarinya sendiri dari pabriknya sendiri. Untuk sagu didapatnya dari Kepulauan Riau dan gulanya dari Cilacap, Jawa Tengah. 
 
Semenara itu untuk daun suji dan pandan berasal dari kebunnya sendiri dari Ciparay dan Majalaya, Kab. Bandung. Adapun untuk kegiatan membeli bahannya dilakukan setiap dua bulan. Dia akan membeli 4 ton gula merah dan sagu sebanyak 5 ton.

Karena bahan utamanya berkualitas jadilah harganya lebih mahal. Harganya melonjak lebih mahal dari es cendol berbahan zat kimia. Pembeli harus merogoh kocek Rp.2.500 untuk segelas es cendol. Kalau anda mau yang paket jumbo, per- bungkus seberat 1,5 kg, akan dijualnya Rp.8000. 
 
Karena keunggulan itulah maka salah satu grup waralaba asal Jogja mengajaknya bekerja sama. Mereka menggandeng Es Cendol Elizabeth untuk setiap cabangnya di Yogyakarta.

Sejarah Es Cendol Elizabeth


Perjalanan bisnisnya tidak mudah loh. Perjalanan H. Rohman sebagai penjual es cendol panjang dan berliku. Dia telah mandiri semenjak ayahnya meninggal. Ketika itu dia masih duduk dibangku sekolah dasar kelas 2 di Cilacap. 
 
Rohman kecil haruslah putus sekolah dan mulai mencari nafkah sendiri. Menginjak remaja pada tahun 1972, ia nekat pergi ke Bandung, berjualan es cendol mengikuti jejak pamannya. Melalui bimbingan sang pamanlah es cendol Elizabeth lahir.

Dibawah bimbingan pamannya berjualan es cendol dengan gerobak. Dia berkeliling sejak tahun 1972 sampai tahun 1980.

"Saya keliling sejak tahun 1972 sampai tahun 1980, mulai dari Astanaanyar sampai Dago. Lama-kelamaan sampai di jalan Otista es cendol sudah habis sama pelanggan, jadi tidak ke Dago lagi. Akhirnya saya mangkal di Otista," kata Rohman melanjutkan.

Tiga tahunan dia belajar berbisnis es cendol dari pamannya. Ia akhirnya memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Ketika itulah ia mulai berkreasi mencari- cari resepnya sendiri. 
 
Saat itu modalnya hanya terdiri dari satu kompor, satu tempat wadah cendol, satu gerobak, 2 kilo gula, 1 kilo sagu, dan 5 butir kelapa. Semua hanya 200 ribu untuk modal bisnis cendol. Dan karena uletnya, dua bulan kemudian modal tersebut bisa balik.

Rohman bercerita selama berjualan grobaknya kerap diamankan oleh satuan pamong praja. Tercatat sudah tiga kali gerobaknya diamankan. Kadang gerobak dan pemiliknya yang diamankan akan diturunkan jauh dari daerah perkotaan. 
 
Jika bertanya dari mana asal nama Elizabeth. Rohman melanjutkan bahwa dulu ketika ia mangkal di Jalan Otista. Dia mangkal di depan rumah milik orang China bernama Eli. Ibu Eli sendiri berbisnis tas yang bernama Elizabeth.

Rohman lah yang sering membantu membawakan barang- barang hingga ke dalam rumah. Pada 1978, ibu Eli berinisiatif untuk berjualan di depan rumah. Bu Eli berjualan didepan rumah denga menggunakan meja disamping gerobak cendolnya. 
 
Saat itu Ibu Eli menyuruh Rohman menawarkan tasnya kepada pembeli es cendolnya. Dan, suatu hari ada yang membeli tas, namun memaksa mendapatkan cendol gratis.

"Saya bilang ga boleh. Kalau cendolnya punya saya, tasnya punya ibu. Dia tetap maksa dan akhirnya saya nurut setelah saya melapor ke Ibu Eli dan beliau bersedia membayar cendolnya" kata H. Rahman.

Kejadian seperti berulang kembali. Bahkan menyebar sebagai rumor membeli tas Elizabeth dapat segelas es cendol Elizabeth gratis. Maka seiring kesuksesan Elizabeth, terkenal pula lah es cendol Elizabeth. 
 
Akhirnya Ibu Eli menyuruh Rohman membuat kartu nama es cendol dengan nama es cendol Elizabeth. Selanjutnya menuruti permintaan dari konsumen terus meningkat, maka pada tahun 1996, ia mendirikan restoran yang khusus menjual dan melayani pembelian es cendol.

Restoran Es Cendol Elizabeth didirikan di Ll. Inhoftank no.64 Bandung. Produk buatannya juga ditambah tidak hanya es cendol, ada es goyobond, batagor, bakso tahu dan mie bakso. Kini, jika sedang libur atau setiap hari di bulan Ramadhan omzetnya bisa mencapai 10 juta hingga 15 juta. 
 
Meski omzetnya lumayan dia mengaku tidak berhenti berkreasi. Usahanya yang didirikan dengan penuh semangat kerja keras, kini, pria yang tak tamat SD ini menjadi sosok yang patut kita tiru.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba