Sejarah Es Cendol Elizabeth Pengusaha H. Rohman

Profil Pengusaha H. Rohman

  
escendol.png
 
Mungkin kamu tidak mengenal nama H. Rohman. Tetapi sejarah es cendol Elizabeth berkaitan dengan namanya. Minuman satu ini menjadi salahsatu kegemaran jika berkunjung ke Bandung. Es Cendol Elizabeth menawarkan minuman cendol biasa. 
 
Bahan cendolnya berupa cendol hijau sedikit tua, irisan nangka, santan kental, serutan es, dan tentunya gula merah. Terasa segar di tenggorokan apalagi ketika musim panas. Meski telah banyak pedagang berjualan ternyata si empunya tak merasa mewaralabakan. 

Pemilik Cendol Elizabeth

 
 
Siapa pemilik aslinya? Apakah es cendol ini dimiliki seorang wanita bernama Elizabeth atau bukan. Usut punya usut, ternyata usaha tersebut dimulai dari H. Rohman. Dia mengaku bahwa es cendol yang punya nama sama di pinggiran jalan hanya mendompleng. Itu bukanlah es cendol buatannya. 
 
Mereka itu hanyalah ikut- ikutan menempelkan nama Es Cendol Elizabeth di gerobaknya. Mereka tak mengambil cendol dari si empunya. Dan, Rahman juga tak mengakui itu buatannya.

Jika ada masalah tanggung sendiri akibatnya. Es cendol buatannya yanga asli adalah yang ada di Jalan Otista, Bandung, di depan Toko Elizabeth. Jika bulan Ramadhan jualannya akan tutup. Jadi bagi anda yang biasanya minum di bulan Ramadhan itu bukanlah miliknya. 
 
Disini di es cendol asli Elizabeth merupakan olahan milik H. Rohman. Anda bisa mendatangi tempatnya di Jl. Inhoftank No.64 Bandung. Lokasinya tidak begitu jauh dari Jalan Otista, tepatnya ada di ujung Jalan Otista.

Selain itu, ada cabangnya, yang asli ada dikawasan Otista, Cihampelas, Merdeka, Buah Batu, Setrasari, Pahlawan, Kopo, Majalaya, serta di luar Bandung berada di Tasikmalaya. Seperti bagiamana larisnya orang menggunakan nama usahany, es cendol asli memang punya kelebihan. 
 
Berbeda dengan usaha es cendol biasa dimana terletak pada bahannya. Pengusaha H. Rohman tak mau tanggung- tanggung memanjakan lidah pelanggan.

Es cendol ini memiliki perbedaan pada kadar gula merah dan santan yang lebih kental. Kemudian ditambah dari bahan berkualitas yang alami. Cendol Elizabeth terbuat dari sagu. Warna hijaunya terbuat dari daun suji. Sementara itu wanginya berasal dari daun pandan. 
 
Jadi produknya memang asli dari bahan alami. Rahman lantas menambahkan jika tak menemukan pewarna alami, dia lebih baik membiarkannya saja. Dia lantas akan membiarkan warnanya putih seperti sagu.

Meski tak lulus SD, Rohman sadar kualitas menjadi nomor satu. Bahan- bahan didapatkan dicarinya sendiri dari pabriknya sendiri. Untuk sagu didapatnya dari Kepulauan Riau dan gulanya dari Cilacap, Jawa Tengah. 
 
Semenara itu untuk daun suji dan pandan berasal dari kebunnya sendiri dari Ciparay dan Majalaya, Kab. Bandung. Adapun untuk kegiatan membeli bahannya dilakukan setiap dua bulan. Dia akan membeli 4 ton gula merah dan sagu sebanyak 5 ton.

Karena bahan utamanya berkualitas jadilah harganya lebih mahal. Harganya melonjak lebih mahal dari es cendol berbahan zat kimia. Pembeli harus merogoh kocek Rp.2.500 untuk segelas es cendol. Kalau anda mau yang paket jumbo, per- bungkus seberat 1,5 kg, akan dijualnya Rp.8000. 
 
Karena keunggulan itulah maka salah satu grup waralaba asal Jogja mengajaknya bekerja sama. Mereka menggandeng Es Cendol Elizabeth untuk setiap cabangnya di Yogyakarta.

Sejarah Es Cendol Elizabeth


Perjalanan bisnisnya tidak mudah loh. Perjalanan H. Rohman sebagai penjual es cendol panjang dan berliku. Dia telah mandiri semenjak ayahnya meninggal. Ketika itu dia masih duduk dibangku sekolah dasar kelas 2 di Cilacap. 
 
Rohman kecil haruslah putus sekolah dan mulai mencari nafkah sendiri. Menginjak remaja pada tahun 1972, ia nekat pergi ke Bandung, berjualan es cendol mengikuti jejak pamannya. Melalui bimbingan sang pamanlah es cendol Elizabeth lahir.

Dibawah bimbingan pamannya berjualan es cendol dengan gerobak. Dia berkeliling sejak tahun 1972 sampai tahun 1980.

"Saya keliling sejak tahun 1972 sampai tahun 1980, mulai dari Astanaanyar sampai Dago. Lama-kelamaan sampai di jalan Otista es cendol sudah habis sama pelanggan, jadi tidak ke Dago lagi. Akhirnya saya mangkal di Otista," kata Rohman melanjutkan.

Tiga tahunan dia belajar berbisnis es cendol dari pamannya. Ia akhirnya memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Ketika itulah ia mulai berkreasi mencari- cari resepnya sendiri. 
 
Saat itu modalnya hanya terdiri dari satu kompor, satu tempat wadah cendol, satu gerobak, 2 kilo gula, 1 kilo sagu, dan 5 butir kelapa. Semua hanya 200 ribu untuk modal bisnis cendol. Dan karena uletnya, dua bulan kemudian modal tersebut bisa balik.

Rohman bercerita selama berjualan grobaknya kerap diamankan oleh satuan pamong praja. Tercatat sudah tiga kali gerobaknya diamankan. Kadang gerobak dan pemiliknya yang diamankan akan diturunkan jauh dari daerah perkotaan. 
 
Jika bertanya dari mana asal nama Elizabeth. Rohman melanjutkan bahwa dulu ketika ia mangkal di Jalan Otista. Dia mangkal di depan rumah milik orang China bernama Eli. Ibu Eli sendiri berbisnis tas yang bernama Elizabeth.

Rohman lah yang sering membantu membawakan barang- barang hingga ke dalam rumah. Pada 1978, ibu Eli berinisiatif untuk berjualan di depan rumah. Bu Eli berjualan didepan rumah denga menggunakan meja disamping gerobak cendolnya. 
 
Saat itu Ibu Eli menyuruh Rohman menawarkan tasnya kepada pembeli es cendolnya. Dan, suatu hari ada yang membeli tas, namun memaksa mendapatkan cendol gratis.

"Saya bilang ga boleh. Kalau cendolnya punya saya, tasnya punya ibu. Dia tetap maksa dan akhirnya saya nurut setelah saya melapor ke Ibu Eli dan beliau bersedia membayar cendolnya" kata H. Rahman.

Kejadian seperti berulang kembali. Bahkan menyebar sebagai rumor membeli tas Elizabeth dapat segelas es cendol Elizabeth gratis. Maka seiring kesuksesan Elizabeth, terkenal pula lah es cendol Elizabeth. 
 
Akhirnya Ibu Eli menyuruh Rohman membuat kartu nama es cendol dengan nama es cendol Elizabeth. Selanjutnya menuruti permintaan dari konsumen terus meningkat, maka pada tahun 1996, ia mendirikan restoran yang khusus menjual dan melayani pembelian es cendol.

Restoran Es Cendol Elizabeth didirikan di Ll. Inhoftank no.64 Bandung. Produk buatannya juga ditambah tidak hanya es cendol, ada es goyobond, batagor, bakso tahu dan mie bakso. Kini, jika sedang libur atau setiap hari di bulan Ramadhan omzetnya bisa mencapai 10 juta hingga 15 juta. 
 
Meski omzetnya lumayan dia mengaku tidak berhenti berkreasi. Usahanya yang didirikan dengan penuh semangat kerja keras, kini, pria yang tak tamat SD ini menjadi sosok yang patut kita tiru.

Usaha Keripik Melinjo Pengusaha Muda Pernah Ditipu

Profil Pengusaha Supriyadi

 

usahaemping.png
 

Pengusaha muda berikut pernah ditipu. Hingga membuka usaha keripik melinjo melambungkan namanya. Dialah Supriyadi seperti anak muda lain menyukai fashion. Maka dia membuka usaha distro pakaian di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.


Dia merinti usaha bersama sahabatnya Aniz Anshri. Keduanya berkomitmen menjalakan bersama tanpa saling berkuasa. Tidak boleh menjadi matahari bagi satu sama lain. Kedua sahabat ini bertanggung jawab atas kemanjuan bersama.


Usaha Keripik Melinjo

 

Bisnis distronya berjalan cukup lama sampai 3 tahun. Dari awal 2014 sampai 2017, mereka mampu buat menjalankan usaha sampai kemudian ditipu. Bisnis mereka gulung tikar tetapi tetap bersahabat. Mereka meyakini akan mampu bangkit berbisnis kembali.


Dia sangat percaya akan doa, semangat, dan kesabaran. "Kami ditipu waktu itu, namun saya tetap sabar. Percaya bahwa hal itu adalah kebangkitan," terangnya kepada Pijarnews.com. Supriyadi pun kemudian membuka bisnis lain kemudian.


Supriyadi membuka usaha keripik melinjo MpingChips, dirintis Februari 2017. Modalnya Rp.2,5 juta dimana dijual melalui sistem pesan- antar. Adapula penjualan ke warung- warung, kios, dan warkop. Ia katanya memiliki alasan khusus kenapa berbisnis.


Menjadi pengusaha karena mau membuka lapangan pekerjaan. "Kenapa saya memilih bisnis, karena mau menciptakan lapangan pekerjaan," jelas pengusaha ini.


Selain Supriyadi mendapat keuntungan sekalian memperkenalkan. Ia memperkenalkan produk kreatif khas daerah. Maka tak heran, dikemasannya diberikan landmark daerah, khusus kemasannya terdapat gambar monumen Cinta Ainun- Habibie asli Kota Parepare.


Dia berharap usaha keripik melinjo milinya dapat bersaing. Tekad dan keberanian yang membawa MpingChips terkenal. Produksi meningkat sejalan pemasaran juga meningkat diluar Sulawesi Selatan. Produknya sampai ke Kendari Sultar, Sangata Sulbar, dan Palembang Sumsel.


Khusus Sulawesi Selatan produknya sampai ke Toraja, Palopo, Makassar, Sengkang, Barru, dan juga Pinrang. Ia berharap keripik melinjo khas Parepare menasional. Dia mengatakan omzet perbulannya antara Rp.3- 4 juta perbulan.


Dia pun berhasil membeli dua mesin produksi. Bertahap dia akan menaikan produksi. Supriyadi juga merupakan Calon Legislatif 2019, melalui Partai Berkarya, dan mewakili anak muda yang memiliki keinginan mereka.

Kerja Serabutan Menjadi Pengusaha Sukses

Profil Pengusaha Ichdal Husaini

 
keripikgabus.png
 
Kerja serabutan menjadi pengusaha sukses. Ichdal Husaini tak pernah menyangkan hidupnya berubah. Itu berkat tekat dan ketekunan. Dulu Ichdal bekerja apapun, pekerjaan benerin barang, pekerjaan tukang atau seadanya dikerjakan.

"Dulu ini saja kerja serabutan, semua saya kerjakan, bekerja untuk orang lain," terangnya kepada pewarta Detik.com. Sampai dia merasa menginginkan usaha sendiri.
 

Usaha Unik


Maka Ichdal mulai membuat keripik. Bahan bakunya berasal di sekitaran wilayah Kalimantan Selatan. Tapi ia bukan membuat keripik sembarangan. Dia malah bikin keripik ikan gabus. Nyeleneh tetapi bahan baku sangat banyak tersedia.

Selain ikan gabus ia juga membuat keripik bebek. Bahan bakunya berasal dari wilayah Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Ichdal melihat banyak orang jualan keripik. Dia merasa sudah banyak saingan jualan keripik pisang atau singkong.

Di daerahnya sudah biasa orang bikin keripik ubi atau singkong. Ichdal ingin berbeda. Kalau kerupuk ikan banyak tetapi kalau keripik belum. "...di sini kan banyak saingan kerupuk- kerupuk jadi kita coba khas lain," jelasnya. Kan orang taunya ikan gabus atau bebek dibikin kerupuk, beda keripik.

"Jadi kita cari rasanya beda," lanjut Ichdal. Dia mengatakan bisnisnya bermodalkan Rp.100 ribu. Buat menjadi pengusaha sukses ternyata murah. Dia kini tidak perlu kerja serabutan kembali. Usaha keripik ikan dan bebek hasilkan omzet Rp.2 juta perbulan.

Harga keripik ikan gabus dan bebek dijual Rp.10 ribu ukuran 150 gram. Usaha pribadi tanpa modal diluar kantong sendiri. Dia dulu jualan ditawarkan ke tetangga- tetangga. Omzetnya sampai Rp.1 juta- 2 juta perbulan, mempekerjakan 4 pegawai, mampu membungkus 100 bungkus perbulan.

Penjualan ke depan dikembangkan lewat jalur digital. Promosi lewat platform WhatsApp digencarkan belum platfrom digital lain. Penjualan masih terbatas 100 bungkus dan masih terus dikembangkan.

Pengusaha Gorengan Sukses Terkenal Cendana

Profil Pengusaha H. Yusuf Amin

 
 
pengusahagorengan.png
 
Gorengan terkenal Cendan mematahkan pandangan orang. Pengusaha gorengan sukses mematahkan bayangan usaha remeh- temeh. Dulu usaha kecil- kecilan yang dianggap tak menghasilkan sesuatu, tetapi siapa sangka bisnis ini bisa berbalik 180 derajat. 
 
Bisnis kecilan juga bisa jadi jutaan bila anda kreatif. Kisahnya, kisah sukses H. Yusuf Amin, pengusaha gorengan Cendana asal Cirebon. Apakah ada hubunganya dengan pohon cendana. Tidak, tidak ada hubungan dengan pohon cendana.

Gorengan Cendana Cirebon

 
 
Lalu, apakah berhubungan dengan keluarga cendana. Tentu saja tidak ada hubungan sama sekali. Nama gorengan Cendana tak ada hubungannya dengan pohon cendana. Tidak pula ada hubunganya dengan mereka Keluarga Cendana yang ada di Jakarta. Nama gorengan ini hanyalah istilah yang diberikan oleh masyarakat kota Bandung kepada gorengan olahan H. Yusuf.

Kebetulan penjual gorengan yang satu ini berjualan di Jalan Cendana Kota Bandung. Hanya dalam sehari ia bisa menghasilkan omzet hingga Rp.3 juta. Omzetnya bisa bertambah sampai Rp.4 juta lebih disaat bulan Ramadhan tiba. 
 
Untuk menjajakan gorengan ini, Yusuf hanya bermodal satu gerobak besar dengan saung terpal di pinggir Jalan Cendana. Dia mulai membuka lapaknya dari pukul 3 sore sampai pukul 9 malam. Dia dibantu 10 orang yang didatangkan dari kampung halamannya.


Selama enam jam berjualan Yusuf akan membutuhkan 1 kwintal pisang tanduk, 2000 tahu, 75 kg tepung terigu, 45 kg ubi, 4 kg kacang hijau, 40 butir nanas serta 10 lonjor tempe. Semua dimulai ketika ia menikahi seorang gadis di kampung halamanya di Cirebon. 
 
Pemuda yang tak tamat SD ini menikahi seorang gadis bernama Sumarni. Orang tuanya serta merutuanya hanyalah buruh tani kala itu. Sehingga pria kelahiran 11 September 1952 ini ikut membantu di sawah. Setahun kemudian kemarau panjang melanda desanya. 
 
Apalagi ditambah sang istri yang tengah hamil tua. Yusuf harus melakukan sesuatu. Ia lantas merantau ke Bandung dengan berat hati meninggalkan istri. Disana, di Bandung, ia tinggal bersama kakak sepupunya bernama Maripah di daerah bernama Cihaurgeulis.

Dengen bermodal gerobak pinjaman dimulailah perjalanan bisnisnya. Usaha yang dimulai dengan berdagang sekoteng hangat. Setiap malamnya usai sholat Isya, Yusuf mulai menjajakan dagangannya sambil mendorong gerobaknya. 
 
Dia mendorong dari satu daerah ke daerah lainnya yang jaraknya puluha kilo. Pukul 02:00 dini hari Yusuf barulah akan pulang ke rumah. Setelah anaknya berusia delapan bulan, ia mengajak istri dan anaknya ke Bandung. Mereka masih tinggal di tempat yang sama di Cihaurgeulis. 
 
Yusuf menggunakan uang hasil berjualan sekoteng untuk menyewa tempat. Hanya cukup untuk menyewa bekas jongko pasar. Meski sebenarnya tak layak huni, mereka tetap bertahan bersama sebagai keluarga. 
 
Sisa uang hasil sekoteng digunakannya untuk membeli gerobak sekoteng milik temannya itu. Dua tahun sudah ia berjualan sekoteng, namun tidak menghasilkan sesuatu untuk keluarga kecilnya. Itu tak menghasilkan kesejahteraan mereka. Dia kembali memutar otak mencari cara. 
 
Dari sebuah ajakan temannya, H. Yusuf Amin membuka usaha gorengan pertamanya di tahun 1977. Sebuah gerobak gorengan yang dibelinya seharga Rp.67.500. Dia memulai usahanya di Jalan Ciliwung, Bandung. Sayang, usahanya itu hanya bertahan satu malam.

Pengusaha Gorengan Sukses


Alasannya menutup jualannya di Jalan Ciliwung mungkin terdengar menggelikan. Yusuf tak tega berjualan di sana ketika ada seorang ibu yang juga berjualan gorengan. Setelah berkeliling Kota Bandung, barulah Yusuf menemukan tempat di Jalan Cendana. 
 
Bersama istri tercinta dan anaknya yang barulah dua tahun, Zackia Yamani, mereka bersama membangun usaha gorengan mereka disana. Yusuf menjadi bersemangat karena dukungan keluarga. Dia membuka lapaknya selepas menunaikan sholat Dzuhur hingga pukul 10 malam. Meski awalnya selalu mengalami kerugian tak membuatnya berhenti. 
 
Alhasil dia berhasil mengumpulkan untung. Tahun demi tahun usaha Yusuf berjalan dengan berbagai halang rintang. Dia tetap belajar. Bisnisnya pun dikenal, masyarakat menamai gorengannya Cendana. Gorengen Cendana pun dikenal oleh masyarakat luas.

Tak ada resep rahasia dalam gorengannya. Hanya ada ketekunan dan selalu menjaga kualitas serta cita rasa. Akhirnya dia sukses mebawa nama gorengan Cendana menjadi terkenal. Gorengannya digemari tidak hanya orang biasa, juga mereka para anggota DPRD Jawa Barat membeli gorengannya. 
 
Yang paling spesial dari jualannya adalah gorengan pisang. Paling nikmat untuk menemani rapat- rapat di malam hari. Singkatnya nama dari gorengan Cendana ini membawa hoki.

Tidak hanya orang biasa, pejabat juga menyukainya. Mereka bahkan rela antri untuk mendapatkan gorengan panas yang baru. Apalagi di bulan Ramadhan. Gorengan Cendana ini pun digemari mereka para pendatang asal Jakarta dan Surabaya. 
 
Apalagi media masa membantu mengisahkan perjuangan si empunya. Apa yang membuat gorengan Cendana berbeda ialah warnanya yang coklat keemasan. Gorengannya tak menyerap banyak minyak. Gorengan ini juga terasa lebih renyah.

Selain pisang goreng, tempat ini juga menyediakan jajanan lain khas Sunda, seperti tahu isi, combro, ada juga gorengan kacang hijau, gorengan nanas, serta gorengan tempe. Waktu terakhir jualannya itu dijual seharga Rp.600 rupiah. Berkat ketekunan dan kesabaran ia membuahkan hasil. 
 
Bulan Oktober 1983 atau sudahlah enam tahun setelah berjualan jajanan gorengan, Yusuf akhirnya mampu membeli sebuah rumah sederhana dari tabungan. Dalam kurun waktu lima tahun kemudian, Yusuf Amin beserta istrinya telah berangkat ke Makkah untuk menunaikan rukun Islam ke lima. 
 
Sekarang H. Yusuf telah memiliki 5 buah rumah. Satu rumah ia dedikasikan untuk kepentingan umat dengan membuat Majelis Taklim ibu-ibu yang berasal dari Cirebon. Sisanya untuk anak-anak, serta karyawannya yang kini sudah mencapai 10 orang. 
 
Empat anaknya, ia kuliahkan hingga jenjang perguruan tinggi. Dua diantaranya sudah menjadi dokter umum. H. Yusuf membuatkan rumah untuk orangtua dan mertuanya di Cirebon, lalu memberangkatkan mereka ke Makkah.

Cerita Eka Lesmana Blogger Kaya Berkat Bisnis Online

Profil Pengusaha Eka Lesmana

 

ekalesmana.png
 

Kaya berkat bisnis online merupakan impian semua orang. Cerita Eka Lesmana, sosok tersebut sangatlah dikenal para blogger online. Berkat Adsense dirinya mampu hasilkan ratusan juta rupiah. Dulu dia pernah bekerja menjadi angon bebek.


Keluarga Eka tidaklah sempurna karena kehilangan ibu. Beliau meninggal dunia ketika usia empat tahun. Dan ayahnya kemudian menikah lagi dan menghilang. Eka tinggal bersama nenek. Pendidikan Eka tak sampai sekolah menengah pertama.


Bisnis Online Otodidak


Mentok bersekolah sampai SMP mau bekerja apa. Tetapi dia wajib mencari pekerjaan buat hidup. Dulu waktu sekolah semua- semuanya merupakan sumbangan. Bahkan baju seragam Eka merupakan pemberian orang. 

 

Orang- orang merasa iba melihat Eka, remaja berprestasi tersebut kesusahan ketika bersekolah. Eka pun memutuskan tidak bersekolah. Dia pernah menjadi angon bebek. Disarankan pamannya melihat cuma punya modal ijasah menengah pertama.


Sayangnya, Eka sering kehilangan bebek, lantaran dimakan binatang buas ketika dia lengah. Berhenti Eka kemudian bekerja menjadi buruh serabutan. Dia diajak salah satu keluarganya bekerja di pabrik di Solo.


Dia mengerjakan pekerjaan kasar. Apapun dia lakukan demi menghasilkan rupiah. Mulai dari bekerja kuli bangunan, operator mesin giling, dan kerja serabutan lain. Bekerja keras dia ditawari pindah ke Yogyakarta. Dia bekerja di pabrik bergaji lumayan.


Namun Eka ditawari kerja bersama mandornya sampai keluar. Pindah bekerja dia bertemu wanita yang merubah hidupnya. Dimana dia merupakan langganan toko bangungan tempat Eka kerja. Dari dialah didapatkan informasi mengenai jualan online.


Ternyata wanita tersebut penjual online. Penasaran Eka mulai mencari tau mengenai bisnis online itu. Dia bahkan menghabiskan sebagian gajinya. Itu semua demi membayar kebutuhan internetan di warnet dulu.


Lambat laun pembelajarannya secara otodidak membuahkan hasil. "Coba sesekali dolan ke warnet, cari tau apa itu toko online. Bagaimana cara membuat toko online. di Google banyak," Eka menirukan wanita tersebut, yang dijelaskannya kepada blog Sugeng.id.


Dia mampu membuat toko online. Tetapi tidak datang orang mau membeli. Ia kemudian belajar cara mendatangkan trafik pengunjung. Perhari biaya dikeluarkan di warnat sampai Rp.10 ribu. Lalu dia coba cashbon, dibelilah laptop, dan dipotong gaji perbulan.


Uniknya dia membuat toko online buat jualan barang milik tempat kerja. Hasilnya lumayan sampai Rp.50- 200 ribu. Begitu diketahui pemilik kemudian dimarahi sampai berhenti. Eka tak lagi berjualan barang milik atasannya.


Pikiran tentang masa depan menghantui Eka. Dia berpikir begini nasib karyawan. Apa dia akan terus berganti- ganti kerjaan. Apa pekerjaannya akan menghasilkan penghasilan cukup. Eka ingin memberi uang keluarga, ingin merajut masa depan (menikah), dan bagaimana kelak.


Eka berpikir apa kehidupan begini- begini saja. Dia mulai browsing tentang bisnis online. Diluar jalur berjualan online apasih menghasilkan lebih. Eka menemukan bisnis blog. Ia akan menjadi blogger lantas apakah prospek.


Tidak kepikiran akan kaya berkat bisnis online ini. Cerita Eka Leksmana blogger kaya berlanjut. Dia cuma hasilkan $3- 4 perbulan. Walau dia tidak yakin akan dibayar pihak Adsense. Tetap Eka lanjutkan sampai dapat surat dari Google, dapet PIN, dan verifikasi menjadi blogger.


Awal tahun 2012, dia berhenti jualan online tetapi pasang Adsense, web disulap menjadi blog sampai hasilkan $100 perbulan. Lumayan. Dia mengerjakan blog bahasa Indonesia. Kemudian tahun 2013, dia mulai beternak blog alias membuat beberapa lagi.


Prinsipnya satu blog hasilkan $100 maka bila banyak berlipat. Kemudian dia membuat 10 blog berbahasa Indonesia, menulis 10 kali, dan hasilkan $150 masing- masing. Bayangin capeknya mengisi 10 blog sendirian saban hari, tidak boleh putus, belum lagi optimasi lain.


Tahun 2014, ia menemukan rahasia blog Bahasa Inggris, tak perlu banyak blog cukup satu tetapi punya bahasa Inggris. Buat bikin blog Eka memaksa menabung. Pasalnya pendapatan mepet, mau sewa buat hosting dan keperluan optimasi mahal.


Dia terus belajar otodidak. Kendala datang justru ketika dia mendapatkan pekerjaan. Kerja enak dan gaji cukup maka membuat malas usaha. Pencapaian Eka Lesmana menganggumkan karena sudah pernah 3- 4 digit dollar.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba