Kerajinan Batok Kelapa Solusi Wirausaha Sosial

Profil Pengusaha Mahasiswi UNY

 
kerajinanbatok.png
 
Kerajinan batok kelapa bisa menjadi solusi limbah. Lewat wirausaha sosial mampu memberikan suatu dampak nyata. Berkat kreatifitas mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, kita mampu melihat apa fungsi batok diluar menjadi sampah.
 
Suatu kelompok yang menasional menjadi tajuk artikel di berbagai media online. Mereka adalah Lely Suci Rahmawati, Hesti Sulistyani, serta Maryanto, mahasiwa dan mahasiswi dari jurusan pendidikan sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNY. 
 
Mereka menghadirkan inovasi pemanfaatan bahan- bahan limbah. Produknya memanfaatkan serabut, kopeng, dan batok kelapa.
 

Bisnis Kerajinan


Ini mungkin bisa jadi solusi daur ulang yang menghasilkan. Mereka meciptakan nilai jual dari sampah industri semacam batok dan serabut. Lebih lanjut, apakah yang mereka buat, produk kreatif berupa bunga dari bahan batok. Hasilnya sangat unik dan memiliki nilai seni. 
 
Menurut Lely, produk kreatif berupa bunga kering dari serabut, kopeng, dan batok kelapa tersebut dapat dijadikan alternatif hiasan yang cantik dan menarik untuk ruangan.

"Selain itu, produk ini dapat mengangkat potensi sumber daya alam yang belum optimal dimanfaatkan dan menjadi unit usaha berkelanjutan sebagai modal dasar dalam berwirausaha," sambungnya, Kamis 15 Agustus 2013, melalui situs vivanews.co.id.

Hesti menjelaskan bahwa serabut, kopeng, dan batok itu mudah ditemukan. Di tempatnya sendiri cenderung melimpah tidak dimanfaatkan masyarakat. 
 
Dan, modalnya memang tidak terlalu besar, dapat diusahakan menjadi usaha sampingan maupun ditekuni sebagai mata pencaharian pokok menghasilkan.  Cara membuatnya juga sederhana.

Pertama- tama kita membuat pola seperti pola mahkota bunga untuk batok kelapanya menggunakan pensil,  penghapus, dan kertas karton. Kemudian, batok kelapa dipotong batok kelapa akan sesuai dengan pola menggunakan gergaji besi lalu dihaluskan menggunakan amplas. 
 
"Lubangi pada bagian ujung batok kelapa menggunakan solder, lalu batok-batok kelapa dikaitkan menggunakan benang dan lem menjadi mahkota bunga dan dipernis," jelasnya.

Lanjutnya, Hesti menjelaskan, pisahkan serabut kelapa beserta kulitnya. Caranya cukup dipukul- pukul menggunakan martil dan dipisahkan menggunakan pisau, kemudian baru dibentuk menjadi kelopak- kelopak bunga.
 
Setelah jadi kaitkan menggunakan kawat dan disatukan menjadi mahkota bunga. Setelah itu buat kawat menjadi batangnya, caranya balut kawat dengan pelepah pisang kering. Lekatkan kawat yang sudah dibalut dengan kopeng dan mahkota bunga yang sudah dibuat sebelumnya. 
 
Gunakan lem untuk melekatkan masing- masing bagian. Putik bunga dibuat dari biji salak yang dibalut dengan lem dan ditaburi pasir putih, namun putik bunga juga dapat dibuat dari bunga pinus sebagai variasi jenis bunganya. 
 
"Tahap terakhir, menyatukan putik dengan kawat yang dibalut pelepah pisang yang sudah dibuat, dan bunga kering siap dipasarkan," tutup pengusaha muda. Kerajinan batok kelapa solusi limbah sekaligus menjalankan wirausaha sosial.

Berbisnis Karangan Bunga Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Hidayat Maulana


jualbunga.png
 
Dia tidak menyangkan pilihan berbisnis karangan bunga berhasil. Pengusaha muda tersebut bernama Hidayat Maulana. Yang tidak memiliki bakat ataupun keturunan seorang florist. Dia tak pernah punya pengalaman pengusaha.
 
Pekerjaan nyamannya di kantor, bekerja sebagai pegawai bagian pemasaran internet, dan merasa tidak berpuas hati. Menjadi pengusaha muda justru membuatnya senang, Selain dia kini menghasilkan lebih banyak pundi- pundi uang.
 
Hidayat mengaku kepada vivanews.com, dia sama sekali buta akan bunga, baik pengetahuan mendasar, baik ragam maupun cara penjualan.

Modal Nekat

 
Hanya bermodal nekat, ia minta diajari oleh orang yang sudah lama berbisnis bunga. "Saat itu, saya menerima order, lalu memberikannya kepada perajin. Saya dapat komisi," ujar Hidayat di kediamannya, Rawabelong, Jakarta.

Ia mengaku tidak berpikir untuk mendalami bisnis ini. Setelah mencicipi bunganya barulah ia mencoba lebih dalam lagi. Manisnya bunga mempunyai prospek yang menggiurkan jelasnya. Akhirnya pria asli kelahiran Bukittinggi ini berani membuka satu toko bunga pada 2011. 
 
Toko Bunga Cantik, dikelola oleh Hidayat membutuhkan Rp5 juta untuk modal awalnya.

"Waktu itu, saya dapat 29 pesanan bunga sekitar Desember 2010 hingga Januari 2011," kata dia.

Bisnis bunga menggiurkan alasnya karena bunga selalu "hidup". Maksudnya bisnisnya akan selalu ada pesanan dari sana- sini. Setiap upacara terkait fase kehidupan manusia selalu dilambangkan dengan bunga aneka jenis, mulai dari kelahiran hingga kematian.

"Waktu ada bayi lahir, ada bunga sebagai ucapan selamat kelahiran. Ada bunga selamat ulang tahun. Bunga saat wisuda. Bunga saat pernikahan. Bahkan, saat meninggal pun diberi bunga," kata dia.

Toko Bunga Cantik mempekerjakan 19 orang karyawan antara lain kurir, tukang bunga, karyawan administrasi, customer service, dan marketing. Usahanya cukup mendapatkan pasokan dari berbagai tempat. 
 
Biasanya dia mendapatkan pasokan dari Cipanas, Lembang, Bandung, dan Malang. Bahkan, untuk bunga tulip, pasokannya didatangkan dari Belanda sendiri.

Bisnisnya meliputi karangan bunga, hand bouquet, dan bunga meja. Bunganya pun bervariasi. Mulai dari bunga lokal seperti mawar, matahari, gerbera, hingga bunga impor seperti  lili dan mawar hitam. Soal harga, ia membandrol angka Rp.5 juta. 
 
Untuk serangkaian bunga meja harganya paling murah Rp250 ribu, dan terdiri atas 10-20 batang. Namun, jika rangkaian bunga impor, harganya bisa mencapai Rp1-3 juta.

"Bunga yang paling banyak diminati itu bunga krisan, lili, gerbera, tulip, matahari, dan mawar," kata dia.

Sayang, pria lulusan D-3 akuntasi pajak ini tak mau menyebut angkanya berapa omzet bisnis ini. Menurutnya cukup untuk jalan- jalan keluar negeri dan membesarkan 3 anak. Benar- benar bisnis berprospek bagus. 
 
Ia menambahkan pesanan bunga ini bisa variasi,  seperti karangan bunga untuk ucapan pelantikan pejabat dan peresmian kantor baru. Sementara itu, bunga meja untuk keperluan pernikahan, ucapan selamat ulang tahun, atau perkawinan.

"Karena saya bukan ahlinya, saya kurang paham. Tapi, prosesnya lumayan lama sekitar 2-3 jam untuk membuat karangan bunga. Kami menempelkan bambu dengan styrofoam, lalu diberi lapisan kain foam, selanjutnya diberi bunga," kata Hidayat.

Hidayat bercerita tentang pengalamannya menghadapi pasanan bunga mawar hitam. Ya, bunga mawar hitam ini memang langka, sangat jarang di pasaran dan termasuk bunga impor. Jumlahnya terbatas, sekali impor, dia hanya mendapat sepuluh tangkai. 
 
Karena langka, ia pun sempat- sempatnya menjelaskan hal ini kepada para pembeli. Harganya mahal ujar Hidayat.

Harganya cukup fantastis dikisaran harga Rp.1 juta hanya untuk sepuluh tangkai. "Biasanya pembeli kaget. Dikiranya harganya sama saja dengan mawar biasa," kata dia. Tantangan bisnis bunga menurut Hidayat ialah  harus selalu berpacu dengan waktu ketika pesanan datang.

"Harus cepat. Kalau tidak, pembeli bisa pindah ke tempat lain," kata lulusan Universitas Trisakti ini.

Meskipun menggiurkan, Hidayat mengatakan bahwa bisnisnya pun tidak luput dari pasang surut. Pria kelahiran 1980 ini mencermati bahwa bisnis ini kurang laku ketika bulan puasa. Justru penjualannya lebih laris pada akhir tahun dan Lebaran Haji.

Hidayat menyebut bunganya sudah banyak dipesan dari dalam maupun luar negeri, seperti Amerika, Inggris, Eropa, Singapura, dan India. 
 
Karena bunga tidak tahan lama  -misalnya bunga mawar yang hanya tahan 2-3 hari, Hidayat menjalin hubungan kerja dengan penjual toko bunga di berbagai tempat, misalnya Yogyakarta, Papua, dan Padang.

"Kalau di Jabodetabek, kami yang bermain. Kalau di Papua, ada di Jayapura. Tapi, kalau di Biak, ya, tidak ada. Susah," ujarnya kepada VIVA News.

Ia membuka situs www.tokobungacantik.com sebagai sarana pemasaran online. "Semua orang butuh cepat. Jadi, kalau sedang sibuk dan ingin memesan bunga, tidak harus membuka-buka katalog bunga," kata dia. 
 
Sementara itu Toko Bunga Cantik sendiri berlokasi di Jalan Berdikari Nomor 37, Rawabelong, Jakarta Barat. Pemesanan bisa melalui telepon (021) 91579440 atau via email di order@tokobungacantik.com. Dan ternyata berbisnis karangan bunga tidak seram loh.

Toko Serba Pedas Ide Bisnis Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Willyhono

 
toserba.png
 
Ide bisnis pengusaha muda berikut baik ditiru. Toko serba pedas ini adalah konsep one stop service menarik.  Bila kamu berkunjung ke Bandung maka banyak kuliner. Di setiap tempat menyajikan aneka kuliner unik, termasuk yang pedas- pedas.

Mereka memanjakan lidah. Kamu harus bersiap- siap menentukan apa yang akan kamu makan hari ini. Salah satu kuliner "ngejren" yang patut anda coba ialah Toserda alias Toko Serba Lada. Usaha yang memfokuskan aneka olahan. 
 
Pemiliknya, Willyhono, kemudian berbagi cerita kepada Vivanews.com, bahwa bisnis Toserda ialah bisnis aneka makanan serba pedas.
 

Kembangkan Ide Bisnis


Kemudian Willy, sapaan Willyhono, bercerita bahwa bisnisnya merupakan berkelanjutan bisnis sebelumnya. Waktu itu ia menjajakan produk olahan pedas namun hanya satu jenis. 
 
"Dulu, saya menjual satu produk saja, yaitu bawang pedas. Namanya, Bawang Pedas Balalada buatan teman saya," kata dia. Lama- lama karena melihat respon pasar bagus, jadilah pria kelahiran 1983 ini, mencetuskan ide gila yakni berjualan makanan serba pedas.

"Kalau saya lihat, respons konsumen bagus. Rata-rata orang Indonesia suka makanan pedas," kata dia.

Dia memutuskan untuk mengembangkan usaha itu lebih. Idenya memperbanyak jenis dagangannya. Sukses dia menanjak setelah menggunakan sistem online. 
 
Pertama- tama, Willy membangun toko di Jalan Padjajaran No. 4, Bandung, modal awalnya total sebesar Rp10- 15 juta. Untuk nama toko seluas 25 meter persegi itu, dia sengaja memilih akronim dan ada unsur bahasa Sunda. Biar mudah diterima warga Bandung mungkin.

"Orang-orang tahunya Toserba, toko serba ada. Tapi, saya pilih Toserda, toko serba lada. Kata 'lada' dalam bahasa Sunda, kan, artinya pedas," kata dia. Jadi nama lada disini bukanlah dikususkan untuk makanan yang serba lada, ini juga makanan berbahan pedas lainnya.

Kemudian dia mulai memperbanyak jenis dagangannya, mulai dari makanan bawang goreng pedas, keripik, kerupuk, abon, sambal, rendang, bahkan cokelat. Produk dagangannya memiliki tingkat kepedasan, mulai level satu untuk pedas hingga level enam untuk sangat pedas. 
 
Penganan di Toserda pun beraneka macam ukurannya, mulai dari 100 gram, 300 gram, dan 400 gram. Harganya juga bervariasi, mulai dari seharga Rp5.000 -an hingga Rp59.000.

"Yang Rp5.000 itu keripik, beratnya 100 gram dan Rp59.000 adalah rendang kering," kata pria lulusan Universitas Parahyangan, Bandung itu.

Dari mana barang itu berasal? Barang dagangannya berasal dari home industry di Bandung dan sekitarnya. 
 
"Tapi, kalau untuk abon, saya juga mendapatkannya dari Cirebon, Medan, Jakarta, dan Surabaya. Untuk cokelat, saya mengambil produk Chocodot dari Garut dan Monggo dari Jawa (Yogyakarta) dan harganya berkisar Rp10-15 ribu per kemasan," kata dia.

Ada dua cara diterapkan oleh Willy untuk menjadi pemasok tokonya. Pertama, melalui sistem beli putus, artinya dia membeli produk itu sendiri berdasarkan berat tertentu dan selesai. Dia lalu menjual kembali produknya. 
 
Cara titip barang jadi yang paling banyak digunakan para supplier di Toserda. Mungkin karena lebih praktis soal jumlah saja. "Saya hanya mengambil marjin keuntungan 20 persen dari dagangan mereka," kata dia.

Memang tidak semua penganan pedas akan masuk ke daftar jualannya tanpa seleksi. Willy akan aktif ikut mensurvei dahulu calon dagangannya tersebut. 
 
"Saya lihat-lihat dulu dagangannya, mana yang paling laris. Sambal biasanya habis 10 kemasan per minggu, sedangkan basreng (bakso goreng) habis 100-200 bungkus per minggu," ujarnya lagi.

Jangan pikir bisnisnya tanpa hambatan selalu berbuah manis. Willy mengaku mengawali bisnisnya dengan pasang surut. Ketika keripik pedas booming jadilah Toserda mampu meraup omzet sampai Rp.60- 70 juta. 
 
Tapi, dengan bertambahnya saingan, produk- produk keripik pedas lain memotong omzetnya bisa sampai cuma Rp.30 juta per- bulan. Sarjana matematika ini cuma mempekerjakan dua pegawai offline juga satu pekerja online dan satu programer.

Toserda online


Makanan yang dijajakan antara lain keripik, abon, bawang goreng pedas, kerupuk, sambal, rendang, hingga coklat pedas. Memang sangatlah unik, bahkan produknya dikategorikan berdasarkan tingkatan level juga, dari level satu untuk pedas sampai level enam untuk rasa super pedas. 
 
Kemudian selain melalui tokonya yang berada di Bandung, Toserda juga membukan satu toko online melalui toserda.com, yang ikonnya berupa gambar cabai rawit super pedas. 
 
Toko online yang didirikan pada 11 Juni 2011, biaya yang dia keluarkan untuk membuat website ini sama dengan biaya yang dia keluarkan untuk toko offline, yaitu Rp10-15 juta. 
 
Willy menyewa satu domain dengan kapasitas 200-an MB dan ada satu karyawan khusus yang menangani toko online itu, mulai desain hingga pemeliharaan. Tak mau setengah- setengah, barangnya itu dipastikan mampu menembus pasar nasional dan internasional.

Barang dagangannya itu sudah pernah dibeli konsumen Jakarta, Bandung, dan Tasikmalaya untuk pasar lokal. Kalau online, barangnya sudah pernah dibeli orang Indonesia, bahkan hingga konsumen dari Malaysia, Singapura, Amerika, Swedia, Inggris, dan Australia. 
 
Willy menjelaskan tidak mau membatasi jumlah minimal penganan kepada pelanggannya, baik di toko offline maupun online.

"Saya sih tidak membatasi. Kalau pembeli mau beli satu bungkus, ya, kami tetap melayani. Itu kan nanti dikenai biaya pengiriman kalau online," ujarnya. 
 
Bahkan ada pelanggan yang membeli satu bungkus, tetap ia layani, "Pernah ada konsumen dari Nusa Tenggara yang hanya membeli satu bungkus basreng," kata dia.

Ia menambahkan Toserda belum memiliki cabang, tapi sudah memilik reseller dan agen. Memang ada berbagai persyaratan bagi siapa pun yang berminat untuk menjadi reseller dan agennya. Menurut dia, reseller itu ada dua, yaitu yang dropship dan stock. 
 
"Reseller dropship itu gratis, tapi dia tidak punya stok barang. Jadi, dia membeli dari saya. Harga jual ke konsumen, sih, tergantung dia," katanya. Jika pemesan menjadi reseller tinggal menghubungi dia langsung untuk pemesanan baik dropship atau tidak.

Kemudian reseller mentransfer sejumlah uang sesuai barang yang dipesan. "Setelah mendapat konfirmasi, kami mengirimkan barang itu kepada reseller dan dia yang menjualnya ke pembeli itu," tuturnya. 
 
Beda antara reseller stock dan agen. Ada minimal pembelian yang harus dipenuhi keduanya. Untuk reseller, dia wajib membeli minimal sebesar Rp.500 ribu, sedangkan agen, dia wajib membeli minimal Rp.3 juta. 
 
"Terserah barang apa yang dia pesan, dan jumlahnya itu tergantung harga barangnya," kata dia.

Saat ini, para reseller Toserda berasal dari wilayah Bogor, Medan, Jakarta, Samarinda, bahkan Belanda dan Swedia. "Mereka itu orang Indonesia dan memasarkan produknya ke perkumpulan orang-orang Indonesia di Eropa. Di sana susah mencari makanan Indonesia," ujarnya. 
 
Ada sedikit pengalaman menarik yang ia rasakan ketika berjualan penganan pedas, dan itu terjadi dua tahun yang lalu. Katika itu harga cabai sedang melambung, akhirnya banyak orang justru banyak membeli cabe olahan daripada cabe asli.

"Dulu, waktu harga cabai sempat naik hingga Rp80 ribu, orang-orang lebih suka membeli sambal seharga Rp20 ribuan per kemasan daripada cabai Rp80 ribu per kilogram," ungap Willy ke vivanews.com. 
 
Apabila anda tertarik menjajal berbagai produk makanan pedas ini, bisa saja langsung berkunjung ke Toserda, yang terletak di Jl. Padjajaran No. 4, Bandung. Tapi, apabila kamu tidak sempat berkunjung ke sana, kamu bisa juga mengakses toko online-nya di www.toserda.com.

Bisnis Madu Kalimantan Kisah Bakti Seorang Ibu

Profil PengusahaYuhanna

 
 
madukalimantan.png
 
Bisnis madu Kalimantan Tiga Wanyi menyimpan cerita haru. Kisah bakti seorang ibu demi memenuhi kebutuhan keluarga. Cairan emas ini memang sangat berharga terutama bagi kesehatan kita. Produk yang dihasilkan lebah ini, dan telah menjadi rahasia umum menyembuhkan beberapa penyakit. 
 
Selain rasanya enak kandungan gizinya mantap. Pengusaha itu bernama Yuhanna, ibu berumur 53 tahun, yang sejak tahun 1980 mengumpulkan madu dari pedalaman hutan Kalimantan. Apa berbeda adalah madu- madu tersebut berasal dari bunga-bunga yang dihisap lebah langsung.
 

Pertama Kali Usaha

 
Bunga- bunga yang belum tercemar oleh polusi.

"Sudah sejak tahun 80-an, ibu mulai menjual madu. Dulu, biasanya ke pasar setiap minggunya," katanya.

Dulu memang seorang pegawai negeri, kini, ibu Yuhanna adalah seorang pengusaha kecil- kecilan sukses. Bermodal madu Kalimantan, ia sukses membawa ke empat anaknya untuk menjadi sarjana. 
 
Selama puluhan tahun sudah ia menjual madu- madu tersebut, kini pemasok pun makin banyak, sehingga pasokan madu bisa stabil tidak seperti dulu. Kondisi ini yang membuatnya berbeda seperti pedagang madu alam lainnya di Kalimantan. Dia punya brand -nya sendiri.

Waktu pertama kali memulai usaha, Yuhanna mengaku hanya membeli 23 liter madu dari orang Dayak pedalaman Kalimantan. Itu pun, dengan pasokan yang tidak pasti ada di setiap minggunya. Karena memang madu pedalaman bisa dibilang langka, karena dari bunga liar. 
 
Dia mulai dari mengumpulkan madu- madu dari botol- botol bekas untuk pertama kali. Harga madunya berkisah di Rp.150 ribu per- satu liter dan harga Rp.75 ribu untuk kemasan berisi 500 liter.

Selain itu, ia yang ikut menikmati program CSR (corporate social responsibility) dari PT Adaro Indonesia Tbk, memilih membuat kemasan yang baik untuk setiap produknya guna menjamin kebersihan dan mutu. Setelah mendapatkan pasokan tetap bisnis Yuhanna mulai mulus. 
 
"Dulu, kami hanya menggunakan jeriken yang dijejer di depan rumah. Setelah ada penyuluhan, kami mulai tahu bagaimana nilai kebersihan dan keamanan dari sebuah produk," ujarnya.

Madunya bernama madu Tiga Wanyi. Madu yang kini dijual tidak terbatas di Kalimanta melainkan ke seluruh Indonesia. Alasannya karena madu hutan terkenal lebih berkasiat, rahasia umum di seantero Indonesia. Dia mengaku untuk menghasilkan sekelas industri masih banyak kendala. 
 
Sebab, karena madu hutan itu sangatlah tergantung oleh lebah dan musim bunga di hutan. Yuhanna meyakinkan kita bahwa madunya 100% asli. Dia mengatakan bahwa banyak diluaran sana, banyak yang mengaku- ngaku menjual madu hutan kalimantan, padahal telah ada percampuran dengan air gula ataupun madu lain. 
 
Madu miliknya ini, menurutnya, bisa tahan hingga lima bahkan tujuh tahun tanpa diberikan bahan pengawet hanya perlu pengemasan khusus. 
 
Syaratnya hanya satu, madu disimpan ditempat yang baik dan tidak dimasukkan ke dalam lemari es. "Kalau dimasukkan ke dalam lemari es, bakteri-bakteri yang ada di dalam madu itu akan mati," katanya.

Madu hutan Kalimantan ini, dia melanjutkan, semakin lama disimpan akan semakin baik. Bahkan, kadang ia menyediakan madu hitam kalimantan yang berguna untuk meningkatkan vitalitas. 
 
"Kalau madu hitam ini sulit mendapatkannya, karena harus disimpan selama lebih dari lima tahun," ujarnya. Jadi, jika Anda kebetulan bepergian ke Kalimantan Selatan, tidak ada salahnya untuk mencoba madu khas ini. Sebab, Madu Tiga Wanyi ini tidak membuka cabang lain.

Kamu bisa berkunjung ke toko mereka di Jalan A. Yani, RT V, Kelurahan Jangkung, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Bisnis Sambal Baby Cumi Online Pengusaha Fachry

Profil Pengusaha Fachry Dwiprihanto

 

sambalcumi.png
 

Pengusaha Fachry Dwiprihanto tidak menyangkan akan begini. Efek pandemi COVID 19 justru memberi peluang usaha. Dibantu mahasiswa tata boga yang susah dapat kerja. Fachry siap menjajakan sambal baby cumi dimanapun.

 

Lewat online, anak muda asal Malang, Jawa Timur, tersebut membuat sambal dalam botol. Sambal baby cumi memang sempat naik daun. Dan ternyata belum meredub bahkan menanjak lagi. Semenjak pandemi COVID 19, memang perubahan pola konsumsi masyarakat berubah drastis.

 

Masyarakat lebih banyak duduk memainkan gawai mereka. Tidak terkecuali buat mereka mencari- cari menu makanan. Fachry mengatakan sambalnya bebas pengawet. Mampu bertahan selama sebulan dalam freezer.  Tiap memasak dia memproduksi 10 toples sambal cumi.


Micumi Sambal Baby Cumi dibantu mahasiswa Tata Boga Universitas Malang. Sempat ia menjadi pengusaha wisata, mengelola biro wisata bersama teman- temannya, namun meredub. Dia menjual pertoples Rp.35.000.


Ia mendobrak pandemi lewat dapur rumah. Bisnis sambal baby cumi online hebat. Produk baru yang diluncurkan dikala pandemi. "Pokoknya sekarang gimana caranya bisa cari uang yang halal sajalah," katanya kepada Koran Solo. Baby cumi tersebut dirintis Maret 2020 merupakan usaha rumahan.


Produk sambal siap sajinya tidak memakai bahan pengawet. Kalau mau dimakan tinggal dihangatkan. Fachry menyetok banyak tople di dalam freezer. Dia lebih memilih masak sekali seminggu dalam jumlah besar.


Saat ini dia menjual sampai ratusan toples keluar kota. Pesanan datang dari Blitar, Surabaya, Jakarta, Cikarang, dan Bekasi. Pesanan pun mengalir deras ketika lebaran silam. Makanan cepat saji tengah naik daun karena praktis.


Ketika Ramadhan gampang membuka puasa dan saur. Pembatasan Sosial Bersekalah Besar memberi peluang pengusaha online. Orang kan tidak boleh keluar sembarangan ketika mau saur atau buka. Ini merupakan cerminan bahwa perusahaan mikro dan menengah harus go online.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba