Kisah Pengusaha Kopi Jogja Goeboex Coffee

Profil Pengusaha Dwi Kartika Sari

 
pengusahakopi.png
 
Kisah pengusaha kopi Jogja bernama Dwi Kartika Sari. Dia mulai berbisnis ketika berumur 22 tahun, bisnisnya bernama Goeboex Coffee. Awalnya dari ide yang datang ketika mengamati teman- temannya yang hobi nongkrong. Ia menangkap peluang itu. 
 
Gerai kopi seluas 3000 m2 telah dikunjungi ratusan penghobing nongkrong. Selalu mendengar keluhan pelanggan, mematok harga yang tak mencekik kantung para mahasiswa, ialah bentuk kerja nyata seorang Dwi Kartika.

Pengunjungnya memang kemudian datang banyakan dari kalangan mahasiswa UGM, dan beberapa kampus lain di Jogjakarta.

Bisnis dari kecil


Sejak kecil sudah dikenal sudah melek duit. Sari sempat berjualan kala duduk dibangku sekolah menengah. Ia berjualan baju tidur yang lagi ngetrend kala itu model babydoll. Dia juga pernah berjualan aksesoris rambut. 
 
Saat kuliah Sari sempat mencari penghasilan sendiri. Hal ini dilakukannya bukan karena kekurangan uang jajan tapi karena ia memang senang menghasilakan uang sendiri. Ayahnya adalah orang pertamina yang mampu menyokong kebutuhannya walau dia tak perlu bekerja.

Memulai bisnis kedai kopi, Sari mengaku tak paham tentang kopi di awal. Ia tak begitu paham tentang perkopian, tapi kalo menunggu ahli kapan bisa berusaha. Ia kemudian mengajak kemitraan seorang patner usaha. Tapi karena mitranya sering melakukan sesuatu dibelakannya; Sari pun mundur. 
 
Dia memilih untuk berusaha sendiri. Sari kemudian menggandeng sang kakak, Fandi Hanifan, dan Adelia Pradifta, sahabat baiknya, berhasil mengumpulkan modal Rp.60 juta.

Lokasi lahan sengaja dipilih berdekatan dengan sejumlah kampus- kampus ternama seperti Universitas Gajah Mada, Universitas Islam Indonesia, Universitas Pembangunan Nasional. dsb. Tujuannya tentu agar bisa merangkul pasar. 
 
Pengusaha kopi Jogja ini mampu diterima, baik dikalangan mereka yang memang hobi nongkrong atau masyarakat biasa. Menu kopi yang disediakan Goeboex Coffee, awalnya cuma kopi tradisional khas pria namun untuk menjaring pasar wanita, Sari juga menyuguhkan blend coffe serta varian lainnya.

Dalam promosi, Sari berpromosi dari kampus ke kampus dan tak tanggung-tanggung, ia juga mendatangkan band indie idola remaja saat itu asal Yogya. Melalu promosi dari mulut ke mulut jadilah Goeboex Coffee sebuah trend setter di Yogyakarta. 
 
Sempat ada tuduhan miring tentang kafenya, namun dapat dilalui dengan baik. Menghadapi hal ini, orang tua Sari yaitu ayahnya ikut turun tangan langsung membela dan menjelaskan kepada masyarakat sekitar bahwa Goeboex Coffe ini bukan seperti yang dituduhkan.

Sari pun mensiasati dengan merekrut karyawan dari orang sekitar dengann tujuan agar bisa menjelaskan ke penduduk sekitar bahwa tuduhan miring itu tak benar, namun kebanyakan orang sekitar tak memiliki etos kerja yang bagus. 
 
Sari juga menyisihkan sebagian keuntungan untuk diberikan pada sekitar yang tidak mampu. Dia dan kedua rekannya yaitu kakak dan sahabatnya tak cepat- cepat untuk mengambil dividennya, mereka selalu menahan beberapa untuk pengembangan usahanya.

Sari juga tak ingin menjadikan ini waralaba. Hanya dalam tempo satu tahun Sari berhasil balik modal yang notabennya dari orang tua. Goeboex Coffee benar- benar gubuk secara penampilan. Namun perlu diketahui menu -nya sangatlah modern. 
 
Secangkir kopi Toraja  dihargai Rp 6 ribu, atau segelas besar es kapucino yang cuma dibanderol Rp 10 ribu. Belum lagi ditambah seporsi steak ayam lengkap dengan aneka sayur rebus dan nasi putih yang hanya Rp 15 ribu. Kesemuanya dibuat seringan mungkin untuk kantong para mahasiswa.

Tahun 2008, masih di lokasi yang sama, Sari mendirikan lapangan khusus futsal pertama di Goeboex Coffee. Yang dilanjutkan dengan lapangan kedua tahun 2011. Di kedua arena itulah Sari kerap menggelar kompetisi futsal antarpelajar dan mahasiswa. Dengan gebrakan tersebut, tak pelak nama Goeboex Coffee makin populer di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Menurutnya kalau dirata- rata pertumbuhan bisnis pertahunnya mencapai 40%- 50%, dimana total pengunjung hariannya berkisar 300-400 orang. Pada akhir pekan, pengunjungnya bisa naik sampai 500 orang. Saat ini, Sari mengaku membukukan pendapatan Rp 3-9 juta per hari. 
 
Sebuah angka yang lumayan untuk bisnis anak muda di Yogya. "Alhamdulillah, sampai sekarang trennya terus naik," ungkap Sari yang sudah berbisnis kecil-kecilan sejak SMA.

Kedepan ia dan kakaknya memiliki konsep bar khusus kopi. Bukan berjualan minuman keras. Mereka akan membeli satu set perlengkapan pembuat kopi dengan konsep open kitchen. Untuk membangun bar ini saja, ia berani merogoh kocek Rp.300 juta untuk investasi awal.  
 
Modal itu selain untuk membuat dapur terbuka yang representatif, juga membeli mesin pengolah kopi yang harganya mencapai angka Rp 50 juta. Jika sudah rampung kelak, Sari menjanjikan pengunjung dapat memilih jenis kopi yang diinginkan dan melihat langsung proses pengolahannya.

Hidup Menderita Berjuang Usaha Hidup Sejahtera

Profil Pengusaha Suwaryo

 

hidupmenderita.png
 

Dia pernah hidup menderita. Suwaryo berjuang usaha hidup sejahtera. Berusaha harus memiliki mental bola bekel. Makin dia ditekan harus kembali mantul kembali. Banyak pekerjaan berat pernah dilakoni dia dulu. "Saya benar- benar merasakan betapa kerasnya hidup," imbuhnya.


Suwaryo meyakini, bahwa selama kita mau berjuang akan menemukan jalan. Dia hanya lulusan sekolah dasar. Suwaryo lantas mengadu nasib ke Jakarta. Tentu dia sangat kesulitan mendapatkan pekerjaan. Dulu dia pernah bekerja menjadi tukang asongan, tukang ojek, dan terpaksa jualan martabak.


Penghasilannya tentu pas- pasan belum mencukupi. Bahkan dia sering mengalami minim bahkan pas- pasan buat hidup. Terdorong keinginan merubah nasib maka dicarilah jalan. Suwaryo menemukan jalan lewat MLM. Dia menekuni sebuah MLM sampai tujuh tahun.


Nasib Suwaryo tidak kunjung berubah. Hingga ia memutuskan berhenti mengerjakan MLM. Di suatu hari, dia bertemu Bapak Wasja, diberinya pandangan mengenai produk Oxy. Bisnis booming tersebut dikatakan menguntungkan. Jujur Suwaryo masih trauma tetapi harus berjuang usaha hidup sejahtera.


Pak Wasja juga tidak lelah mengajari mengenai Oxy. Hingga Suwaryo setuju memutuskan ikut bisnis air oksigen ini. Menurut penjelasan bahwa Suwaryo bisa mendapatkan bonus. Ditambah air minum Oxy memang menyehatkan.


Awal Suwaryo ditawari mengkonsumsi air oksigen tersebut. Kemudian ia merasakan sendiri efeknya positif. Kemudian bonus didapat ketika ia mendapatkan downline. Untuk inilah ketekunan Suwaryo kembali diuji. Dia rela turun sendiri mengantarkan air ke downline buat dijualkan.


"Tantangan yang saya harus hadapai tidak hanya penolakan saja," ia menjelaskan. Rela turun langsung menghantarkan berdus- dus air Oxy.


Memang di tempat downline nya belum terdapat stoklist. Ia rela mengantarkan 6 dus air Oxy memakai motor. Suwaryo berjalan sampai 4 jam sembari kehujanan. Perjuangan Suwaryo ternyata masih terus berlanjut. Lantaran banyak downline menjadi pasif, berhenti, satu grup bubar atau pindah MLM lain.

 

Banyak MLM lain menawarkan iming- iming bonus lebih. Mereka bahkan menawarkan cara jualan lebih mudah. Suwaryo tidak pernah setengah- setengah berjuang usaha. Itu semua demi merubah nasib demi lepas dari hidup menderita.


Mantan penjual martabak tersebut akhirnya mulai berubah nasib. Berkat air Oxy finansial keluarganya berubah. Lebih baik karena kebutuhan sehari lebih daripada cukup. Berkat bisnis air Oxy sampai dia bisa memiliki rumah dan mobil impian.


Pendapatan puluhan juta karena MLM ternyata benar. Suwaryo tidak salah memilih MLM terbaik tersebut. Dia bahkan diajak naik kapal pesiar ke tiga negara. Suwaryo lantas menjelaskan perjalanan menyandang Silver Director.


Usaha tidak akan berhasil tanpa ketekunan. Dalam waktu singkat mampu menghasilkan puluhan juta. Itu berkat tekun melakukan persentasi 2 kali seminggu. Suwaryo bahkan melakukan home sharing dari rumah ke rumah. Air Oxy sangat mengandalkan kunjungan sebagai strategi bisnis.


Tawarkan air Oxy kemanapaun, dimanapun dan siapapun. Awal kamu akan merasa kesulitan karena belum biasa; Bisa karena biasa. Kamu harus memiliki keyakinan diri sendiri. Asal ada kemauan akan ada jalan.

Pembuat Kue Lapis Sangkuriang Pengusaha Bakso

Biografi Pengusaha Rizka Wahyu Romadhona

 
lapissangkuriang.png
 
Kisah pembuat kue lapis Sangkurang pernah gagal. Dia adalah mantan pengusaha bakso. Langkahnya tak terhenti meski pernah gagal berbisnis. Kini usaha barunya yang ada di Jalan Pajajaran, Bogor, tak pernah sepi. 
 
Hampir setiap hari tokonya dijejali pengunjung dari berbagai negar yang ingin mencicipi kue lapis istimewa. Lantaran pembeli membludak, Rizka Wahyu Romadhona, pemilik kue lapis Sangkuriang memutuskan menggunakan sistem antrean untuk para pembeli.  
 
"Produksi kami masih terbatas," ujar wanita lulusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Surabaya ini.

Bangkit dari Keterpurukan

 
Meski terbatas penjualan kue lapis berbahan talas atau umbi ini relatif besar. Memang kalo menelisik 
lebih dalam seharusnya Bogor adalah sumber bahan bakunya. Meski memiliki karyawan 60 orang, Rizka mengaku masih tetap kesulitan. 
 
Terlalu enak mungkin hingga permintaan itu terlalu banyak khususnya mereka yang dari luar kota. Selain gerai yang ada di Jalan Pajajaran, Rizka juga membuka dua cabang lain, di Jalan Sholeh Iskandar Bogor dan Jalan Raya Puncak, Ciawi.

Di luar sana masih ada sekitar 10 resellers yang tersebar di sekitar Bogor. Usahanya kini patut mengundang decak kagum. Maklum, perempuan asal Surabaya tersebut belum lama ini menjalani usaha. Tepatnya, pada Juni 2011, ia mulai membuat kue lapis berbahan talas. 
 
Semangatnya berwirausaha ada karena mendapatkan dukungan suami, Anggara Kasih Nugroho Jati. Bagi anda yang belum tau dia lah orangnya dibalik jaringan bisnis Bakso Kepala Sapi yang tersohor.

"Sejak dulu saya sudah sering jualan. Apa saja yang bisa dijual, seperti baju. Lalu, sewaktu masih kerja kantoran, saya jualan bakso, kenang wanita kelahiran Surabaya, 15 Juni 1984, ini.

Rizka dan sang suami memang lah pasangan pebisnis. Keduanya bersama sang suami sedang bersemangat membangun bisnisnya. Keduanya merintis bisnis ini bersama, keduanya juga sama- sama almameter ITS. 
 
Rizka, yang saat itu masih berstatus karyawan suatu perusahaan telekomunikasi, selalu membawa bakso dalam kantong plastik dan dijual ke teman-teman sekantor. "Kalau dijalani free time saja sudah bisa punya penghasilan lumayan, apalagi kalau diseriusin," pikirnya.

Ia pun mantap resign untuk menjalani bisnis bakso. Bersama sang suami, Rizka total terjun menjadi sang pengusaha bakso saat itu. Selain memiliki gerai 2x3 meter di sebuah pusat perbelanjaan, ia juga memasok bahan bakso ke konsumen lamanya di Jakarta. 
 
Mereka menawarkan kemitraan gerai bakso. Sayang usaha baksonya harus gulung tikar meski telah 3 tahun bertahan.

"Banyak mitra yang nakal, mencampur bakso kami dengan bakso lain, sehingga kualitas menurun," tutur dia.

Mereka pun menuai kerugian besar karena banyak gerai yang harus tutup. Ia harus menjual mobil. Bahkan, motor operasional rela ditarik leasing."Kami menunggak pembayaran angsuran rumah hingga empat bulan," kenang dia. 
 
Dalam keadaan terpuruk dan kepepet, keduany memutar otak, usaha apa yang selanjutnya mereka buat. Terinspirasi oleh ramainya pariwisata di Bogor, tebersitlah ide untuk membuat produk oleh-oleh khas Bogor.

Tak ingin mengulang pengalaman pahit saat berdagang bakso dahulu, ia memikirkan matang-matang konsep usahanya.Selain kualitas terjamin, produknya harus mempunyai ciri khas yang lekat dengan Kota Bogor. Itulah konsep yang coba ia kembangkan saat itu. 
 
Ia pun teringat kue lapis khas Surabaya yang begitu populer, "Di Bogor belum ada lapis seperti itu," kata dia. Lantas, Rizka meminta resep dari ibunya yang ada di Surabaya. Agar nuansa Kota Hujan tampak, ia menggunakan talas yang berlimpah di Bogor.

Ia mencoba bahan baku ubi talas sebagai pengganti terigu. Modal awalnya uang Rp 500.000 dan mixer milik mertua, perempuan 29 tahun ini kemudian membuat lapis talas. Semula Rizka menjual lapis talas itu ke tetangga, teman, arisan, serta kelompok pengajian. 
 
Namun, dia menyadari gaya pemasaran semacam itu tak bisa mendongkrak penjualan secara cepat. Ia pun menawarkan lapis talas ke beberapa hotel di Bogor. Tapi sayang usaha itu gagal total. 
 
Tak kurang akal, Rizka pun melobi pimpinan perhimpunan pengusaha hotel dan restoran di Bogor. Dia yang mengenal jaringan pengusaha hotel, dan resto karena aktif ikuti pameran yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. 
 
Dari situ, jalannya terbuka, "Hotel memberi kesempatan untuk membuka booth jika ada rombongan yang ingin membeli oleh- oleh," kata perempuan ayu berhijab ini. 
 
Rasa yang enak, tekstur lembut, serta harga yang terjangkau membuat lapis talas Rizka benar-benar menjadi buah tangan andalan Bogor. Bukan hanya tamu hotel saja tapi banyak pelancong yang mencari- cari kue lapis khas buatanya.

Pembuat Kue Lapis Sangkuriang


Kue lapis yang sekarang bernama Lapis Sangkuriang diburu untuk dijadikan oleh- oleh untuk dibawa pulang. Rizka membuka gerai pertamanya di Jalan Baru pada Desember 2011, ini untuk memudahkan pelanggan katanya. Tahun berikutnya, dua gerai lain beroperasi. 
 
Kendati terlihat mulus, dia mengaku juga mengalami berbagai rintangan dalam perjalanan usahanya. Pernah, saat jumlah karyawan mencapai 60 orang, Rizka merasakan masalah datang silih berganti bahkan sempat berpikir untuk berhenti saja.

"Ketika itu, saya sempat berpikir mengakhiri usaha ini. Pusing mengelola banyak orang," kisah dia. Banyak karyawan yang direkrutnya merupakan anak-anak putus sekolah. 
 
Menurut Rizka, persentase anak jalanan, lulusan SD dan SMP yang menjadi karyawannya mencapai 77%. Sisanya adalah lulusan SMK dan ibu rumah tangga. 
 
"Kami ingin memberdayakan masyarakat sekitar yang memiliki potensi, namun tidak dapat berkarya di perusahaan formal karena  faktor pendidikan," ujar Rizka.

Inilah yang membuatnya harus bekerja ektra keras. Seorang teman lantas menyarankan Rizka untuk ikut memakai jasa konsultan bisnis. Maklum lah meski sudah mengenyam pendidikan magister bisnis, ia mengakui tak bisa langsung mempraktikkan ilmunya di lapangan seperti ini. 
 
Ia mendapat banyak masukan dari konsultan bisnis tersebut. Sampai kini, Rizka masih menggunakan jasa konsultan bisnis untuk usahanya, jumlah karyawan sudah mencapai 114 orang.

Berkat pengalaman sebagai manejer memberinya pengalaman untuk mengatur orang. Segala sesuatu ada catatannya. "Misalnya tiap kelebihan keju 1 gram, dikali harga kejunya sudah berapa rupiaj. 
 
Kalau kami tidak punya catatan seperti itu, tidak akan bisa terdeteksi," tuturnya kepada Femina.com, yang memegang prinsip 'Believe is good but check is better' di dalam mengawasi kinerja karyawannya nanti. Keahliannya di bidang electrical engineering juga  tak sia- sia.

Ia merancang sendiri sistem pelistrikan dan pengaturan daya untuk pabrik barunya itu. Begitu juga keahliannya membuat program komputer, Rizka merancang sendiri software khusus untuk customer service. 
 
Sekarang produksinya sudah mencapai 4.300 kotak per hari, harga per- kotak antara Rp25.000- Rp30.000. Dari modal Rp500.000, dari bisnis rumahan kini omzetnya mencapai miliaran rupiah per- bulan.nya Itu pun belum memenuhi permintaan pasar yang amat tinggi. 
 
Itulah sebabnya, ia masih membatasi pembelian, maksimal 5 kotak per orang, bahkan hanya 2 kotak ketika akhir pekan tiba. "Pagi buka langsung habis, baru ada lagi pukul 14.00. Masih ada jeda waktu konsumen tidak bisa kebagian," kata Rizka, menyayangkan.

Pemuda Usaha Modal Nekat Saat Korona

Profil Pengusaha Awaludin

 
jualankorona.png
 
Kisah pemuda usaha modal nekat saat Korona. Ditengah pandemi COVID 19 ini, Awaludin usia 27 tahun, terpaksa memutar otak demi memenuhi kebutuhan. Warga Desa Pekayon, Kecamatan Sukardi, yang coba menjajal usaha minuman demi pundi- punding uang.

Awaludin merintis usaha bernama Susu Royal Jelly Drink. Minuman kemasan handmade yang dibuat di kawasan setempat. Modalnya stand mini dan memasarkan melalui sosial media. Dia mengaku mampu menjual 50 botol perhari.

"Saya jual satu botolnya Rp.10.000," ujarnya kepada BantenNews.co.id. Semenjak ada Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) di Tangerang Selatan, Awaludin mengalami kesusahan ekonomi. Krisis keuangan menerpa butuh uang.

Nekat Awaludin membuka usaha kecil menengah minuman itu. "Nekat saya Bang, semangat saja terus saya promosiin," jelasnya. Teman, saudara, dan tetangga ikutan membeli membantu. Inginya kedepan bisa memperluas usaha tersebut.

Suasana COVID 19 jangan membuat kita menyerah. Ingin semua pemuda modal nekat saat Korona gini. Usaha kita jalankan sembari saling membantu sesama masyarakat kecil.

Coklat Loosari Inovasi Berani Jadi Pengusaha

 Profil Pengusaha Saiful Abdullah

 

jadipengusaha.png
 
Membuat Coklat Loosari inovasi Saiful Abdullah. Dia berani jadi pengusaha. Dulu usahanya pernah ditolak orang. Kisah jatuh bangun Saiful untuk meyakinkan masyarakat sekitarnya tentang bisnis barunya. 
 
"Waktu itu, saya pernah menawarkan cokelat saya di suatu toko. Pemiliknya bilang: Mana ada cokelat di Makassar," kata Saiful menirukan. 
 
Sang pemilik toko menganggap coklat buatannya tak berkelas. Ia pun sempat diejek dan dipandang sebelah mata.  Menurut mereka coklat milik Saiful malah bikin sakit perut.

Tak mau diejek, ia lantas balik menantang agar mereka mau mencobanya dulu, "Kalau sakit perut, saya yang tanggung jawab," kata bapak tiga anak ini. Ia tak pantang menyerah.
 

Nekat Usaha

 
Makassar memang kaya akan produk kakao atau biji coklat, produksinya sangat melimpah namun pemanfaatannya masih sangat rendah. Masyarakat disana lebih senang menjual biji coklat mentah ke luar negeri.

Memanfaatkan produk pertanian menjadi produk jadi. Itulah Saiful, yang mengembangkan merek coklatnya sendiri. Ia mengolah coklat mentah menjadi coklat kemasan siap makan.

"Saya berpikir untuk membuat produk dalam bentuk jadi. Makanya saya mencoba masuk bisnis produk ini," kata Saiful.

Sebagai awalan, di tahun 2007, dia memulai dengan membuat coklat isi kacang mende. Produknya itu lalu diberi nama "Coklat Loosari". 
 
Modal yang dikeluarkan cuma Rp.1,5 juta untuk membeli bahan baku seperti 10 kilogram cokelat dan 1,5 kilogram kacang mede serta peralatan produksi lain seperti halnya mesin pemanas, pendingin, dan mesin sterilisasi.

Waktu itu Saiful menjelaskan produknya baru sebatas pesanan. Acara- acara tertentu saja terangnya. Soal kemasan pun masih biasa, hanya toples berbentuk tabung dan segilima. Setelah dua tahun produk Coklat Loosari -nya dipasarkan, kini, Saiful telah memiliki aneka varian rasa. 
 
Ada rasa cokelat isi keju, durian, dan kismis. Ia juga sudah menggunakan kemasan dan desain yang dipatenkan.

"Ada ukuran kemasan besar yaitu 16x11 gram dan yang kecil 8x11 gram. Kalau yang besar harganya Rp30 ribu dan yang kecil Rp15 ribu," kata dia.

Awalnya menawarkan ke toko tanggapan sinis didapatnya. Namun, Saiful tak pantang menyerah bahkan ia sempat- sempatnya kembali ke tempat coklatnya ditolak. Saiful pantang menyerah. 
 
Dari toko yang sama, dia menawarkan kembali produknya lagi. Setelah dia ditolak sebanyak 3- 4 kali, akhirnya sang pemilik toko mau saja menerima cokelat buatannya, tapi dengan syarat tertentu.

"Tapi, hanya menitip. Berapa yang laku itulah yang dibayar," kata dia.

Kini, setelah cokelat buatannya banyak peminat dan digemari pelanggan, toko- toko justru ingin pasokannya ditambah lagi. Ternyata kerja keras Saiful akhirnya berbuah manis. Sekarang, bahkan ketika ia telat saja mengirimkan barang si pemilik toko bisa ngomel- ngomel. 
 
"Kenapa saya dibedakan dengan yang lain," kata Saiful sambil terkekeh. Para pelanggannya menyukai produknya, cokelat dengan berbagai isi yang dikemas dalam wadah toples ini.

"Sekali beli dapat banyak rasa," kata dia.

Pria yang kini berusia 48 tahun ini, memproduksi sekitar 300- 400 bungkus Cokelat Loosari per- hari, dan dibantu dengan 4 orang pekerja tetap dan 2 orang pekerja lepas. Berapa keuntungan yang didapatkan dari bisnis ini? Saiful tak menjelaskan keuntungannya secara rinci. 
 
Namun, pendapatan dari bisnis mencapai lebih dari Rp50 juta setiap bulan. "Sekarang omzetnya sekitar Rp60 juta per bulan," kata Saiful.

Dia menjelaskan produknya baru dijual sebatas wilayah Makassar dan sekitarnya. Tapi, Coklat Loosari bisa dipesan antarkan ke Balikpapan, Palu, Bandung dan Menado. Pernah juga dijual keluar negeri, tepatnya, pembeli menjual kembali coklat buatannya.

Ia kemudian menambahkan, produknya telah lolos uji sertifikasi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Oleh karena itu, Cokelat Loosari ini aman dikonsumsi. Tidak hanya itu, merek Cokelat Loosari pun sudah terdaftar sebagai Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

"Kalau tidak salah, dari BPOM itu dapatnya pada 2010 dan HAKI tahun lalu," ungkapnya kepada VIVA News.

Saiful pun mempersilakan siapa pun untuk mengunjungi gerai Cokelat Loosari -nya, di kompleks Alam Hijau Sejahtera, Jalan Tidung VII No. 102, Kelurahan Mapala, Makassar Pemesanan juga bisa mengirim e-mail kepada loosari@ymail.com atau mengakses situs www.loosari.com. 
 
Saiful mematok jumlah minimal pemesanan Rp1 juta. "Tentu biaya kirim ditanggung pembeli," kata Saiful.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba