Buka Mini Market Kisah Suami Istri Nekat

Profil Pengusaha Pasangan Suami Istri


mini market lokal
 
Banyak sekali dilalui mereka demi mewujudkan mimpi ini. Kisah suami istri nekat ingin membuka usaha mini market sendiri. Trias dan sang suami bukanlah pengusaha tulen melainkan mencoba. Trias merupakan lulusan UNS Fakultas Ekonomi, yang berusaha mengaplikasikan ilmunya.

"Kami benar- benar dari nol. Pertama kali kami lakukan adalah mendatangi beberapa supermarket dan minimarket untuk bertanya, bagaimana caranya membuka usaha seperti mereka," ia menuturkan.

Ada dua cara dapat mereka lekukan pertama membuka franchise. Atau, keduanya mereka nekat buat membangun sendiri. Membayangkan usaha warungan saja membuat pusing kepala. Eh malah, dua orang ini ingin membuka mini market, sepasang suami istri ini pun memilih nekat.

Pokoknya ada seribu jalan menuju impian mereka. Keduanya membangun tempat meskipun banyak tantangan. Resiko sudah mereka pahami dan mencoba meminimalisir. Ibu satu anak yang sangat baru dalam manajemen perusahaan.

Trias tidak punya pengalaman manajemen karyawan. Ia banyak belajar dari temannya, yang bekerja menjadi pegawai senior di supermarket ternama. Manajemen SDM bagian tersulit tetapi Trias siap belajar di tempat. Dia pun tidak segan bertanya kepada temannya yang pegawai itu.

Karyawan pertama sedikit cuma enam orang dulu. Mereka harus menciptakan sistem agar bekerja baik. Sistem disiapkan agar tidak terjadi mubadzir tenaga. Lemahnya manajemen membuat karyawan banyak berbuat curang. Barang habis terjual tetapi tidak menghasilkan omzet sama sekali.

Mereka menganggap pengalaman buruk tersebut pembelajaran. Pasangan suami istri belajar melalui banyak cara. Namanya Family Market belum memiliki nama, tetapi fokus melayani masyarakat lebih utama. Pelanggan datang dari masyarakat disekitar mini market. 

Mini market ini mengalami kenaikan omzet natural. Pelan tetapi pasti mereka menghasikan dari nol rupiah, menjadi Rp.75 juta, dan Rp.100 jutaan sebulan. Ini dianggap wajar apalagi tempatnya punya banyak barang. Trias lebih mempedulikan pertumbuhan stabil meskipun terkesan lambat.

Pertumbuhan perbulan stabil menjadi kepedulian Trias. Empat tahun sudah mereka berbisnis mini market dan masih terus belajar.

Tukang Becak Naik Haji Punya Usaha Pabrik

Profil Pengusaha Garam Sanim


tukang becak sukses

Sanim (60) punya usaha pabrik garam, padahal tidak ada darah bisnis dalam dirinya, sama sekali! Ia dikenal tukang becak naik haji. Sanim sendiri termasuk terlambat tau apa itu bisnis, atau niat menjadi wirausahawan. Baginya becak merupakan hal terbaik memberinya sekedar uang buat makan.

Ia kini dikenal sebagai pengusaha asal Desa Rawa Urip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Dia menjadi sosok mandiri mampu keluar dari garis kemiskinan. Sanim lantas bercerita kisahnya ketika menjadi tukang becak hingga jadi pengusaha.

Becaknya dulu sering mangkal di persimpangan Jalan Cirebon. Di tempatnya mangkal, berdirilah sebuah pabrik garam cukup besar. Sanim pun tertarik untuk sekedar melamar kerja di pabrik tersebut, dengan harapan nasibnya bisa lebih baik. Beruntung dia bisa diterima bekerja di sana.

Mimpi Usaha


"Setelah dua bulan bekerja, saya pun berpikir, daerah kita kan punya potensi garam, loh kenapa saya tidak bisa membuat garam sendiri," ia pun bersemangat.

Sanim memutuskan berhenti dari pabrik garam tersebut dan berpikir ternyata garam seperti emas. Dia seperti menemukan ladang emas di desanya sendiri. Garam tidak hanya bumbu penyedap makanan, melainkan juga dibutuhkan keperluan industri, pertanian, bahkan perikanan.

Ternyata, ia tidak lah sia- sia pernah bekerja di pabrik garam tersebut.

"Jadi bisa dikatakan cuma menimba ilmu di pabrik tersebut," tuturnya lebih lanjut.

Ia segera menggarap empang belakang rumahnya yang merupakan peninggalan orang tua. Dia pun mulai mencari tau segala tentang garam gosok.

"Alhamdulillah, lama- lama usaha saya berkembang, sampai yang awalnya usaha di halaman belakang rumah, lalu berkembang dan kita bisa membeli tanah untuk tempat produksi yang lebih luas lagi," ujarnya.

Melalui usaha sendiri, lama kelamaan bisnisnya bekembang maju. Ia pun berhasil menghantarkan ke empat anaknya menjadi sarjana. Petani garam cukup memanfaatkan tanah dekat laut. Cara membuat garam yaitu mengumpulkan air laut ke dalam empang tersebut.

Lalu, dibantu oleh sinar matahari, air laut yang terkumpul tersebut akan menguap dan menghasilkan kristal-kristal bersenyawa Natrium clorida (NaCl). Kristal NaCL ini akan dikumpulkan oleh petani, lalu dibersihkan berulang kali dari kotoran yang melekat.

Prosesnya dikerjakan hingga menjadi butiran halus dan kecil. Namun perlu diingat garam tersebut berupa garam non- yodium jadi belum siap dipasarkan. Dia aktif membeli garam dari petani garam di sekitar Cirebon. Dengan kisaran harga beli sekitar Rp 400 per kilogram.

Harga belinya itu murah disebabkan garam yang diterima olehnya sangat kotor dan berwarna hitam. Kemudian garam dicuci kembali dengan alat- alat seadanya. Memperluas usaha, Sanim memutuskan membeli alat pencuci khusus garam krosok seharga Rp 20 juta-an.

Lebih efisien, dan garam krosok bisa dibersihkan dengan cepat. Ia pun menjual garam itu ke berbagai tempat seperti industri, pertanian, dan perikanan. Di beberapa iklan promosi di internet, harga jual garam krosok bersih bisa mencapai Rp 810.

Peralatan miliknya ini masih sederhana. Sanim beranggapan ini lebih awet dan tidak menimbulkan suara bising. Berkat mesin baru ia bisa menghasilkan garam beryodium.

Mengajukan KUR


Pada 2010, ia pun memutuskan menggunakan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah disediakan oleh perbankan BUMD Jawa Barat, yakni Bank Jabar Banten (BJB). Sebelumnya, Sanim memanfaatkan jasa bilyet giro Bank BJB untuk bertransaksi dengan pembeli luar kota.

"Kita pernah mengajukan utang pinjaman ke Bank BCA, tapi waktu itu ditolak. Setelah itu akhirnya kita ke bank BJB. setelah diproses dan melihat prospek perkembangan usaha kita, akhirnya kita dapat dana," katanya bercerita.

Untuk menghasilkan 2.000 ton garam, paling tidak Sanim harus mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp 1 miliar. Ia sangatlah membutuhkan suntikan dana bank untuk memperlancar arus produksinya.

"Ke depannya nanti saya akan meminjam kembali ke Bank BJB sebesar Rp 500 juta. Kepenginnya saya balikin sekitar 1 tahun," katanya.

Dia mengaku selama ini usahnya lancar- lancar saja, terutama dalam pengembalian dana pinjaman.

"Tapi Pak Sanim berubah, justru Pak Sanim melihat dirinya ada potensi. Dan sekarang Pak Salim menjadi pengusaha besar di bidang garam. Ketika sebagian besar orang justru ingin impor garam. Pak Sanim berkutat untuk menyelamatkan garam Indonesia. Jadi ini salah satu contoh," ungkap Rhenald Kasali, Guru Besar FEUI sekaligus penggiat Rumah Perubahan

Kini Sanim telah memiliki dua pabrik garam, tiga rumah, 10 mobil, dan dua kali naik haji. Jenis garam yang diproduksi ialah jenis garam grosok (garam non-yodium masih berbentuk butiran besar dan kasar, biasanya dipakai budidaya dan pengawetan ikan), garam dapur (konsumsi), dan garam industri untuk pabrik tekstil.

Selain garam, ia memiliki bisnis pupuk namun tidak seterkenal  juragan garam. Pabrik pupuk ini memproduksi pupuk organik tipe KCL (kalium clorida), fungsinya yaitu meningkatkan unsur hara kalium di dalam tanah budidaya. Kemampuan produksi kedua pabriknya, Samin mengaku, dalam setahun mampu memproduksi masing-masing 2.000 ton baik garam maupun pupuk organik.

Kini pria tua ini telah mendapatkan semuanya berkat kebiasaanya untuk mencoba hal baru. Ia juga mengikuti nalurinya jika pendidikan formal dirasa tak cukup.

"Oh kalau barang jadinya, itu mah (harga jual) rahasia perusahaan, Mas. Yang penting perhitungan saya ini ada lebihnya gitu. Saya tidak tahu kiranya berapa, tapi tahun kemarin bersih minimal mencapai Rp 400 juta per tahun," tuturnya sambil tertawa, itulah tukang becak naik haji dunia nyata.

Tinggalkan Jabatan Manajer Rugi 250 Juta Berbisnis

Profil Pengusaha Shandy Steven


pengusaha kolam ikan
 
Berbisnis memang tidak gampang begitulah Shandy Steven. Dia tinggalkan jabatan manajer rugi 250 juta. Suatu hari dia membuat kolam ikan lele di halam rumah. Tepatnya membuat kolam di rumah kawasan Pondok Legenda. Steven bukanlah orang biasa karena jabatannya menengah.

Dia selalu berpakaian rapih. Dulu pekerjaannya Night Duty Manager hotel bintang empat. Orangnya ramah bersehaja hingga siap melayani. Banyak tamu hotel senang diajak ngobrol Steven.

"Saya telpon penyedianya. Mau yang kayak gimana, belasan tahun, semuanya ada, tinggal telepon. Tapi setelah punya anak, hati saya berontak, makanya saya pilih keluar dan usaha sendiri," ujarnya.

Tampilan necis berjas rela turun tangan mengelola kolam lele. Usaha budidaya langsung berhasil di tiba bulan menghasilkan 1 ton. Bermodal kolam 14 meter persegi membuat Steven mantap. Dia lalu keluar dari pekerjaan.

Resiko Pengusaha


Dipindahkan kolam tersebut ke kawasan Rindu Alam, depan perumahan Midetarian hasil investasi orang Singapura. Dia senang mendapat modal Rp.100 juta. Panen pertama berhasil, Steven kemudian membuat 30 kolam berbekal modal itu dan hasil jual rumah.

Dia total habiskan uang Rp.250 juta buat tiga kolam ikan. Sayang, panen pertama berhasil tetapi yang kedua dan seterusnya gagal total. Penyebab kegagalan mulai dari hama, ular, burung pemangsa dan hama "kepala hitam".

"Mereka mencuri ikannya sebelum kita memanennya. Ternyata anak buah saya sendiri pelakunya," ujar pria asal Bandung, Jawa Barat.

Rugi tidak bisa ditolak masalah kembali bermunculan. Salah satunya, penggusuran lahan Rindu Alam yang menyisakan sesak, dia harus berbondong- bondong memindahkan kolam. Sisa 150 ribu ikan lele dipindahkan ke Barelang, Jembatan IV berbekal sewa tanah.

Gagal bukan berarti dia menyerah melanjutkan. Sisa- sisanya dia lanjutkan kemudian datang investasi tambahan. Orang Singapura kembali akan menggelontorkan uang sampai Rp.1 miliar. Bukan Steven berlega hati malah masalah kembali datang.

Uang tersebut tidak kunjung cair sehingga dia berjualan bermodal seadanya. Dana tersebut tidak cair karena lahan bermasalah. Usaha ikan di Barelang terpaksa ditutup cuma bertahan enam bulan. Ada lagi masalah ketika pegawainya membawa kabur ikan sebelum panen.

Hendak dipanen dibawa kabur beberapa pegawainya. Beruntung dia mempunyai mantan pacar (jadi istri) yang sabar. Dia mengingatkan Steven bertahan. "Kalau tidak ada dia, mungkin waktu itu saya jadi gila. Sudah habis-habisan sampai jual rumah, jual kendaraan, tapi tidak ada hasil," ujarnya.

Disaat kebingungan inilah, dulu dari Rindu Alam sempat dijanjikan otoritas Batam lahan pengganti. Dia langsung ke sana mendapatkan lahan di Sei Temiang. Kehabisan modal dia cuma bisa cangkul tanah sendiri untuk membuat kolam ikan.

Di atas lahan 2 hektar tersebut, dibuat 27 kolam berisi ikan lele, nila, gurame, bawal tawar, ikan mas, patin, ikan hias dan koi. Sebulan dia memanen 1,5 ton lele, 500 kg ikan mas, 300 kg ikan gurame, dan 500 kg ikan nila.

"Hasilnya bisa 5- 6 kali lipat gaji manager hotel dulu," ucapnya.

Ikan- ikan tersebut tidak hanya siap dijual. Tetapi dia juga menjual bibit ikan. Bahkan 70 penghasilan datang dari penjualan bibit. Panen ikan kan cuma sebulan sekali, sedangkan penjualan bibit bisa tiap hari jualan.

Kemudian dia mengembangkan tempat pemancingan disana. Disusul kolam lain dijadikan saung buat makan- makan. Berkat pengalaman dalam perhotelan dia menjadi lebih kratif. Steven mengajak pihak hotel menjadikan tempatnya tujuan wisata.

Ia mengkonsep tempat tersebut layaknya perkampungan asri. Kolam ikan sering dikunjungi sekolah TK buat belajar. Anak- anak bisa pulang membawa bibit ikan. Steven menjual satu ikan Rp.2.500  buat menyenangkan anak- anak.

Aneka bisnis tersebut berkat kesabaran Steven berbisnis. Dia merambah bisnis peternakan ayam. Ada pengalaman dihianati karyawan. Alhasil dia menjadi lebih aktif mengawasi mereka. Bahkan Steven tinggal dekat kolam dan mengawasi 24 jam disana.

Bukan berarti masalah tidak datang ketika sukses ya. Usaha peternakan ayam sempat terpukul karena flu burung. Bisnis miliknya jatuh tidak menyisakan karena harga jatuh. Dia juga pernah membuka usaha lembaga pendidikan.

Namun Steven ditipu rekan kerja bahkan merugi Rp.30 juta menguap hilang. Berbisnis budidaya ikan harus dikerjakan 24 jam. Ketika hujam malam hari, dia turun membuka kolam agar tidak banjir kena air.

Usaha Sekolah Bartender Berkah Bahasa Inggris

Biografi Pengusaha Sudi Artawan


sudi artawan

Seorang pemuda penjual kelapa, menjadi bartenteder, hingga akhirnya bisa memiliki usaha sekolah bartender. Dia pendiri PT. Ratu Oceania Raya Bali. Ceritanya tersebut layaknya sinetron saja ya. Sudi Artawan atau Sudi, tamatan sekolah menengah, namun telah memiliki segudang pengalaman di resort dan hotel.

Berawal cuma berjualan kelapa di pasar Bandung bersama pamannya yang tengah sekeloh D1. Semua berawal senang bahasa Inggris. Akhirnya bahasa lah membawanya menjadi karir bartender ke Restourant Nusa Dua. Dia tidak pantang menyerah meski bergaji kecil.

Sudi memang ulet dan gigih tetap menjadi pribadi ramah. Sudi tetap bisa bergaul bahkan dengan para pelancong asing berkat bahasa Inggrisnya. Dia sering mendapatkan uang tambahan menjadi tour guide. Dan, dari Restourant Nusa Dua lah, dia bisa diterima di Hotel Niko Bali dan baru berlangsung 1 tahun beliau pindah kerja kehotel Rizt Calton.

Kerja Terampil


Bekerja di Ritz Calton, Sudi bertahan selama 2,5 tahun hingga kemudian mendapatkan panggilan kerja di Four Season Resort Jimbaran, sekitar dua tahunan lah. Ia sendiri memiliki ide- ide cemerlang sekaligus kesukaan terhadap tantangan.

Di sinilah, mulai seorang Sudi Artawan bisa masuk ke perusahan Kapal pesiar termewah di Dunia bernama Celebrity cruise line sebagai seorang Bartender. Di perusahan Celebrity Cruise Line lah dia kemudian dipercaya bekerja di Bar terfavorite yaitu Martini Bar.

Berdasarkan pengalaman bekerja di beberapa Hotel Berbintang di Bali maka tidaklah sulit buat bagi Sudi untuk beradaptasi. Dia bahkan dipercaya men-setup martini bar setiap ada kapal baru keluar dari Celebrity Cruise Line.

Penghargaan demi penghargaan dibawanya seperti karyawan terbaik dalam 1 bulan, dalam 3 bulan sampai karyawan terbaik setahun penuh didapatnya. Di kontrak kerja ke tiga, tahun 2002, dia sudah dipercaya merekrut bartender.

Dia dipercaya mencari orang yang akan di salurkan ke celebrity cruise line. Ia harus memilah mereka kembali orang- orang yang disalurkan oleh agen yang dipercaya oleh perusahaan waktu itu. Di tahun 2008 ia mencoba membuka kursus bar sendiri diberinya nama FBC ( Flair Bartender Course) di Bali.

Dengan alasan keluarga menuntutnya tinggal di rumah, Sudi bermodal sejuta pengalaman, mampu mengangkat murid muridnya di angkatan pertama atau sebanyak 11 orang bisa menggantikanya bekerja menjadi bartender.

Tak tanggung- tanggung mereka lolos masuk ke Celebrity Cruise Line; bekerja di Martini Bar. Kemudian cuma bermodal koneksi serta reputasi memuaskan, kenalannya mulai dari menejer hotel, banyak membuatnya siap membuka usaha lain. Sudi lantas membangun PT. Ratu Oceania Raya Bali.

Bisnisnya meliputi agensi bartender terbaik di Bali. Dia memang lahir dari keluarga tak mampu; dia bermodal ide- ide, keuletan, dan kegigihan. Sudi telah membuka aneka bisnis lain, seperti Sekolah perhotelan dan kapal pesiar Monarch Cruise Line dan Hospitality Training Center.

Sudi juga punya agen pengiriman tenaga kerja sendiri ke kapal pesiar- kapal persia, menjadi eksportir,  dan memiliki agen perjalanan dan juga akomodasi. Dia lah sang pengusaha muda yang memulai bisnisnya dari satu tingkat ke tingkat lain.

Seorang ulet fokus pada satu bidang bisnis. Jikalau banyak pengusaha punya banyak lini bisnis; Sudi fokus pada pariwisata- perhotelan.

Masa Kecil


I Nyoman Sudi Artawan lahir pada 1 Desember 1975, merupakan putra ketiga pasangan Ketut Merta dan Wayan Kenak. Ia terlahir di sebuah desa asri bernama Desa Pelapuan, Bali. Kedua kakak perempuannya meninggal ketika masih berumur 2 dan juga 4 tahun.

Hal ini sangat menyakitkan bagi kedua orang tua Sudi. Kedua kakaknya meninggal diwaktu hampir bersamaan tanpa diketahui apa penyakitnya. Semenjak kejadian itu, setelah Sudi lahir, orang tuanya memutuskan pindah rumah.

Keduanya lantas menyiapkan tanah seluas 1 hektar (1000 Are) bermodal mengangsur di Desa Bongancina, Kecamatan Busungbiu. Rumahnya dibangun secara sangat sederhana, setengah tembok dari bata dan setengahnya dari kayu.

Saat musim hujan tiba, angin akan masuk ke kamar dan semua keluarga kedinginan. Terlebih lagi, 50% tanah tersebut merupakan tanah tandus dan  50% sisanya itu berisi tanaman kopi dan cengkeh.

Dengan kondisi itu, ketika kedua orang tuanya bekerja, Sudi bersama adik perempuannya, Ketut Pariasa, harus sering ditinggal dirawat oleh tetangga dan hanya cukup disediakan nasi dicampur dengan ketela atau pisang.

Setelah Sudi masuk sekolah dasar, kedua orang tuanya membelikan seekor kambing. Ia pun belajar beternak guna membantu pendapatan kedua orang tuanya. Karena lingkungan orang disekitar ialah orang berkasta, dia dan adiknya sering merasa minder dalam pergaulan.

Mereka takut jika berbuat salah. Kelas 3 SD Sudi baru bisa membaca dan menulis. Saat itu, buku- buku yang tersedia terbatas dan lingkungan kurang memadai. Saat malam ia harus belajar dibawah lampu tempel karena tidak ada listrik.

Dia juga harus kelelahan setiap kali sampai di rumah karena berjalan sejauh 4 km lebih. Dia kemudian melanjutkan sekolah di SMP PGRI 3 Kemoning. Jika berangkat sekolah yang berjarak jauh, ia kan menempuh 80% berjalan kaki dan 20% diantar oleh ayahnya; naik motor RX 100.

Sudi kemudian melanjutkan sekolah di SMA N 2 Singaraja, dimana saat itu adalah sekolah unggulan di Singaraja. Dia tinggal bersama kakak sepupunya, Kang Kertu, yang berprofesi sebagai guru matematika di salah satu SMA terkemuka.

Begitu pula istrinya yang juga berprofesi sebagai guru Ekonomi di salah satu SMA di Singaraja. Tinggal bersama lingkungan keluarga guru, membuat beliau ikut terpengaruh jadi suka membaca dan terus membaca.

Lingkungan Belajar


Sudi menempati kelas 1.2 yang merupakan kelas terbaik di sekolahnya. Karena persaingan sangat ketat, dia hampir- hampir saja tidak naik sekolah. Akan tetapi, di kelas 2 (tahun ke-2), Sudi cenderung memilih jurusan sosial.

Sejak saat itu pula, dia malah selalu menjadi juara kelas (juara 1 atau juara 2) sampai kelas 3. Ia juga mulai suka akan bahasa Inggris sejak masuk ke kelas sosial. Saat duduk di bangku kelas 3 SMA (tahun ke-3), ia menyempatkan diri kursus bahasa Inggris di Manggala English Course.

Sejak itulah,  bahasa Inggrisnya terus terlatih, Sudi jadi semakin menyukai pelajaran Bahasa Inggris. Karena kedua orang tuanya tak sanggup membiayai sekolah sampai universitas; Sudi hanya dibekali kursus bahasa Inggris di program ILC Anugrah.

Sambil mencoba kuliah lagi D1 di BLKP, disinilah ia setiap kali berjualan kelapa di pasar Badung. Ibunya ikut membantu yaitu mengerjakan kerajinan sangkar burung dan berdagang. Bagi dirinys ibu merupskan inspirasi bisnis tak ternilai.

Sudi lantas tinggal di rumah pamannya, yang pada saat itu masih tinggal di sebuah kontrakan di Jalan Kemuda No.46 Tonja Denpasar. Profesi almarhum pamannya adalah penjual kelapa di Pasar Badung. Karena itulah, Sudi membantu berjualan di pasar hampir setiap hari, sejak pukul  1.00 dini hari hingga 7.30 pagi.

Guna melancarkan bahasa Inggrisnya, ia rela datang sendiri ke kawasan obyek wisata seperti seperti di Museum Bali dan Art Centre. Mengawali kariernya, Sudi lebih memilih bekerja  menjadi saleman mencari nasabah untuk perusahaan ERERA Card Group.

Perusahan multilevel marketing yang setiap hari mengharuskan dirinya berkeliling ke penjuru Bali. Dengan bermodal  mengendarai Vespa yang dibelikan ayahnya, pekerjaan tersebut dilakoni kurang lebih dua bulan dan sambil kursus bahasa Inggris dan kuliah singkat di BLKP jurusan Bartender.

Pekerjaan tersebut diemban karena keadaan terpaksa membantu beban orang tuanya. Dia membantu mereka karena masih ada tanggungan, yaitu adik- adiknya. Dua adiknya saat itu masih duduk di bangku  Sekolah Menengah Atas (SMA) dan  Sekolah Dasar (SD).

Karena ingin merubah nasibnya lebih baik, ia pun pindah ke rumah temannya (Dewa Sudi dan istrinya Dian). Di sinilah Sudi ikut membantu memasak, mencuci, dan sebagainya; menjadi pembantu istilahnya.

Selama disana meski tidak membayar apapun dirinya tidur di alas karpet biru. Kadang hujan dan rasa dingin mencekam dirasakannya karena tidur di luar dengan berbantal kamus bahasa Inggris. Karena tekad  belajar  yang tak pernah pudar, kemana pun pergi dia selalu membawa buku bacaan.

Sudi akhirnya harus tinggal bersama Pak Dewa Sudi kurang lebih ada 1,5 bulan. Berkat Pak Dewa Sudi pula lah., akhirnya ia memilih jurusan 'Bartender' meski bertentangan cita- citanya, sederhana yaitu menjadi 'Guide'.
.Ketut Merta dan Wayan Kenak
Ketut Merta dan Wayan Kenak

Hasil Jualan Jangkrik Seratus Juta Rupiah

Profil Pengusaha Junaidi


junadi jualan jangkrik
 
Tidak harus menjadi pengusaha restoran atau kedai kopi. Hasil jualan jangkrik seratus juta rupiah. Ini kisah Junaidi masuk ke peluang usaha berikut. Junaidi tidak sengaja berbisnis jangkrik. Pertama kali dia heran melihat paket berisi binatang ini diturunkan.

Ratusan terlihat dalam kotakan yang diturunkan di bandara Hang Nadim, Batam. Dia kok aneh itu didatangkan dari Jawa. Padahal jangkrik kan makanan burung memang bisa dimakan. Junaidi mulai mencari tau dan faktanya tidak ada jangkrik di Batam.

Para pecinta burung harus mendapatkan kiriman dari Jawa. Fakta inilah Junaidi jadikan kesempatan membuat usaha. "Kemudian saya baca- baca Al Quran. Saya pernah jatuh bangun usaha. Ternyata gak boleh pake nafsu," tuturnya.

Jangkrik Bikin Kaya


Tidak tergesa- gesar, dia memulai pada Desember 2008, dan percobaan tersebut berhasil. Dia pun merekrut dua orang karyawan. Mereka bekerja dua tempat belakang rumah Blok D No. C3, Komplek Bapindo, dan di Jalan Sanur Blok B No. B2, Tiban 1.

Pertama kali dia bereksperimen dengan satu ons atau 200 ekor jangkrik. Dibawanya dari Jawa buat dibudidayakan. Kemudia ketika berhasil, dia membawa 10 kilo jangkrik yang dimasukan 50 kotak. Ia menjelaskan modal satu boks Rp.80 ribu.

Perkotak berisi tepat 200 jangkrik atau satu ons. Totalnya Junaidi membudidaya 1000 jangkrik dalam produksi pertama. Kemudian dia menghasilkan berkilo- kilo jangkrik buat dijual. Itu nanti akan jadi pakan burung para pecinta kicau di Batam.

Satu ons telur jangkrik berkembang menjadi 6- 7 kilo jangkrik. Hasil eksperimen berhasil dan bisa menghasilkan. Kwalahan Junaidi mempekerjakan tidak kurang 53 orang karyawan. Bekerja keras dia bahkan membuka kembali tempat di kawasan industri Sekupang.

Di tempat tersebut dia menghasilkan 260 kotak budidaya. Keseluruhan dia memiliki tidak kurang 360 kilo jangkrik. Dia menjualnya ke toko- toko pakan di Batam, Tanjungpinang, dan Tanjungbalai. Satu kilo dijualnya Rp.90 ribu.

"Masih untuk pasar lokal, kedepannya ke Singapura. Tapi untuk sini aja kebutuhan belum terpenuhi," tuturnya.

Di rumah tipe 37 bercat merah semua bisnis jangkrik bermula. Termasuk satu rumah sewa seharga Rp.6 juta perbulan. Bukan buat tempat tinggal melainkan dijadikan sarang jangkrik. Bayangkan kalo kamu masuk saja, langsung disambut berkotak- kotak dua tingkat berjejer.

Tiba- tiba suara jangkrik akan memecah kesunyian. Di ruangan depan saja, ada sekitar dua puluhan kotak berukuran 120 cm kali 90 cm. Kotak- kotak yang terbuat dari bahan triplek dengan jangkrik berkembang biak. Masuk lebih dalam kamu akan menemukan kotak- kotak sejenis banyak.

Di bekas kamar, di dapur, dan tingkat dua terdapat tumpukan boks. Di rumah tersebut terdapat sekitar 50 boks, satunya berisi satu ons, itu sekitar 200 -an jangkrik. Tempat lebih besar terdapat di kawasan industri tersebut, ditempatkan di bekas pabrik dengan jumlah 260 kotak.

Kotaknya dibuat dari bahan- bahan bekas terutama triplek. Bahan pelindung termasuk bahan bekas wadah telur. Termasuk menggunakan kertas bekas ronsen menjadi pelindung. Buat pakannya Junaidi juga memanfaatkan bahan bekas seperti sayuran sisa.

Dia memanfaatkan limbah sayuran sisa dari sawi, kubis, mie kering, kepala ikan dan roti. Setiap hari di malam hari, Junaidi akan mencari limbah tersebut ke pasar Bengkalis dan pasar Pagi Jodoh bersama karyawan.

Pukul 23:00 mereka berburu dalam semalam mendapatkan 80 kilogram sayur sawi saja. Sayuran bekas diberikan buat sekali makan ternyata. Berikutnya mereka akan mencari kangkung di rawa- rawa. Beternak jangkrik merupakan pekerjaan layaknya membesarkan bayi- bayi.

Dia lakukan telaten tidak boleh terkena hujan. Jangkrik diberi makan dua kali sehari pagi dan sore. Ia membagi tugas karyawan. Ada karyawan mencari bahan makanan, dan orang yang akan merawat jangkrik- jangkrik.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba