Usaha Sekolah Bartender Berkah Bahasa Inggris

Biografi Pengusaha Sudi Artawan


sudi artawan

Seorang pemuda penjual kelapa, menjadi bartenteder, hingga akhirnya bisa memiliki usaha sekolah bartender. Dia pendiri PT. Ratu Oceania Raya Bali. Ceritanya tersebut layaknya sinetron saja ya. Sudi Artawan atau Sudi, tamatan sekolah menengah, namun telah memiliki segudang pengalaman di resort dan hotel.

Berawal cuma berjualan kelapa di pasar Bandung bersama pamannya yang tengah sekeloh D1. Semua berawal senang bahasa Inggris. Akhirnya bahasa lah membawanya menjadi karir bartender ke Restourant Nusa Dua. Dia tidak pantang menyerah meski bergaji kecil.

Sudi memang ulet dan gigih tetap menjadi pribadi ramah. Sudi tetap bisa bergaul bahkan dengan para pelancong asing berkat bahasa Inggrisnya. Dia sering mendapatkan uang tambahan menjadi tour guide. Dan, dari Restourant Nusa Dua lah, dia bisa diterima di Hotel Niko Bali dan baru berlangsung 1 tahun beliau pindah kerja kehotel Rizt Calton.

Kerja Terampil


Bekerja di Ritz Calton, Sudi bertahan selama 2,5 tahun hingga kemudian mendapatkan panggilan kerja di Four Season Resort Jimbaran, sekitar dua tahunan lah. Ia sendiri memiliki ide- ide cemerlang sekaligus kesukaan terhadap tantangan.

Di sinilah, mulai seorang Sudi Artawan bisa masuk ke perusahan Kapal pesiar termewah di Dunia bernama Celebrity cruise line sebagai seorang Bartender. Di perusahan Celebrity Cruise Line lah dia kemudian dipercaya bekerja di Bar terfavorite yaitu Martini Bar.

Berdasarkan pengalaman bekerja di beberapa Hotel Berbintang di Bali maka tidaklah sulit buat bagi Sudi untuk beradaptasi. Dia bahkan dipercaya men-setup martini bar setiap ada kapal baru keluar dari Celebrity Cruise Line.

Penghargaan demi penghargaan dibawanya seperti karyawan terbaik dalam 1 bulan, dalam 3 bulan sampai karyawan terbaik setahun penuh didapatnya. Di kontrak kerja ke tiga, tahun 2002, dia sudah dipercaya merekrut bartender.

Dia dipercaya mencari orang yang akan di salurkan ke celebrity cruise line. Ia harus memilah mereka kembali orang- orang yang disalurkan oleh agen yang dipercaya oleh perusahaan waktu itu. Di tahun 2008 ia mencoba membuka kursus bar sendiri diberinya nama FBC ( Flair Bartender Course) di Bali.

Dengan alasan keluarga menuntutnya tinggal di rumah, Sudi bermodal sejuta pengalaman, mampu mengangkat murid muridnya di angkatan pertama atau sebanyak 11 orang bisa menggantikanya bekerja menjadi bartender.

Tak tanggung- tanggung mereka lolos masuk ke Celebrity Cruise Line; bekerja di Martini Bar. Kemudian cuma bermodal koneksi serta reputasi memuaskan, kenalannya mulai dari menejer hotel, banyak membuatnya siap membuka usaha lain. Sudi lantas membangun PT. Ratu Oceania Raya Bali.

Bisnisnya meliputi agensi bartender terbaik di Bali. Dia memang lahir dari keluarga tak mampu; dia bermodal ide- ide, keuletan, dan kegigihan. Sudi telah membuka aneka bisnis lain, seperti Sekolah perhotelan dan kapal pesiar Monarch Cruise Line dan Hospitality Training Center.

Sudi juga punya agen pengiriman tenaga kerja sendiri ke kapal pesiar- kapal persia, menjadi eksportir,  dan memiliki agen perjalanan dan juga akomodasi. Dia lah sang pengusaha muda yang memulai bisnisnya dari satu tingkat ke tingkat lain.

Seorang ulet fokus pada satu bidang bisnis. Jikalau banyak pengusaha punya banyak lini bisnis; Sudi fokus pada pariwisata- perhotelan.

Masa Kecil


I Nyoman Sudi Artawan lahir pada 1 Desember 1975, merupakan putra ketiga pasangan Ketut Merta dan Wayan Kenak. Ia terlahir di sebuah desa asri bernama Desa Pelapuan, Bali. Kedua kakak perempuannya meninggal ketika masih berumur 2 dan juga 4 tahun.

Hal ini sangat menyakitkan bagi kedua orang tua Sudi. Kedua kakaknya meninggal diwaktu hampir bersamaan tanpa diketahui apa penyakitnya. Semenjak kejadian itu, setelah Sudi lahir, orang tuanya memutuskan pindah rumah.

Keduanya lantas menyiapkan tanah seluas 1 hektar (1000 Are) bermodal mengangsur di Desa Bongancina, Kecamatan Busungbiu. Rumahnya dibangun secara sangat sederhana, setengah tembok dari bata dan setengahnya dari kayu.

Saat musim hujan tiba, angin akan masuk ke kamar dan semua keluarga kedinginan. Terlebih lagi, 50% tanah tersebut merupakan tanah tandus dan  50% sisanya itu berisi tanaman kopi dan cengkeh.

Dengan kondisi itu, ketika kedua orang tuanya bekerja, Sudi bersama adik perempuannya, Ketut Pariasa, harus sering ditinggal dirawat oleh tetangga dan hanya cukup disediakan nasi dicampur dengan ketela atau pisang.

Setelah Sudi masuk sekolah dasar, kedua orang tuanya membelikan seekor kambing. Ia pun belajar beternak guna membantu pendapatan kedua orang tuanya. Karena lingkungan orang disekitar ialah orang berkasta, dia dan adiknya sering merasa minder dalam pergaulan.

Mereka takut jika berbuat salah. Kelas 3 SD Sudi baru bisa membaca dan menulis. Saat itu, buku- buku yang tersedia terbatas dan lingkungan kurang memadai. Saat malam ia harus belajar dibawah lampu tempel karena tidak ada listrik.

Dia juga harus kelelahan setiap kali sampai di rumah karena berjalan sejauh 4 km lebih. Dia kemudian melanjutkan sekolah di SMP PGRI 3 Kemoning. Jika berangkat sekolah yang berjarak jauh, ia kan menempuh 80% berjalan kaki dan 20% diantar oleh ayahnya; naik motor RX 100.

Sudi kemudian melanjutkan sekolah di SMA N 2 Singaraja, dimana saat itu adalah sekolah unggulan di Singaraja. Dia tinggal bersama kakak sepupunya, Kang Kertu, yang berprofesi sebagai guru matematika di salah satu SMA terkemuka.

Begitu pula istrinya yang juga berprofesi sebagai guru Ekonomi di salah satu SMA di Singaraja. Tinggal bersama lingkungan keluarga guru, membuat beliau ikut terpengaruh jadi suka membaca dan terus membaca.

Lingkungan Belajar


Sudi menempati kelas 1.2 yang merupakan kelas terbaik di sekolahnya. Karena persaingan sangat ketat, dia hampir- hampir saja tidak naik sekolah. Akan tetapi, di kelas 2 (tahun ke-2), Sudi cenderung memilih jurusan sosial.

Sejak saat itu pula, dia malah selalu menjadi juara kelas (juara 1 atau juara 2) sampai kelas 3. Ia juga mulai suka akan bahasa Inggris sejak masuk ke kelas sosial. Saat duduk di bangku kelas 3 SMA (tahun ke-3), ia menyempatkan diri kursus bahasa Inggris di Manggala English Course.

Sejak itulah,  bahasa Inggrisnya terus terlatih, Sudi jadi semakin menyukai pelajaran Bahasa Inggris. Karena kedua orang tuanya tak sanggup membiayai sekolah sampai universitas; Sudi hanya dibekali kursus bahasa Inggris di program ILC Anugrah.

Sambil mencoba kuliah lagi D1 di BLKP, disinilah ia setiap kali berjualan kelapa di pasar Badung. Ibunya ikut membantu yaitu mengerjakan kerajinan sangkar burung dan berdagang. Bagi dirinys ibu merupskan inspirasi bisnis tak ternilai.

Sudi lantas tinggal di rumah pamannya, yang pada saat itu masih tinggal di sebuah kontrakan di Jalan Kemuda No.46 Tonja Denpasar. Profesi almarhum pamannya adalah penjual kelapa di Pasar Badung. Karena itulah, Sudi membantu berjualan di pasar hampir setiap hari, sejak pukul  1.00 dini hari hingga 7.30 pagi.

Guna melancarkan bahasa Inggrisnya, ia rela datang sendiri ke kawasan obyek wisata seperti seperti di Museum Bali dan Art Centre. Mengawali kariernya, Sudi lebih memilih bekerja  menjadi saleman mencari nasabah untuk perusahaan ERERA Card Group.

Perusahan multilevel marketing yang setiap hari mengharuskan dirinya berkeliling ke penjuru Bali. Dengan bermodal  mengendarai Vespa yang dibelikan ayahnya, pekerjaan tersebut dilakoni kurang lebih dua bulan dan sambil kursus bahasa Inggris dan kuliah singkat di BLKP jurusan Bartender.

Pekerjaan tersebut diemban karena keadaan terpaksa membantu beban orang tuanya. Dia membantu mereka karena masih ada tanggungan, yaitu adik- adiknya. Dua adiknya saat itu masih duduk di bangku  Sekolah Menengah Atas (SMA) dan  Sekolah Dasar (SD).

Karena ingin merubah nasibnya lebih baik, ia pun pindah ke rumah temannya (Dewa Sudi dan istrinya Dian). Di sinilah Sudi ikut membantu memasak, mencuci, dan sebagainya; menjadi pembantu istilahnya.

Selama disana meski tidak membayar apapun dirinya tidur di alas karpet biru. Kadang hujan dan rasa dingin mencekam dirasakannya karena tidur di luar dengan berbantal kamus bahasa Inggris. Karena tekad  belajar  yang tak pernah pudar, kemana pun pergi dia selalu membawa buku bacaan.

Sudi akhirnya harus tinggal bersama Pak Dewa Sudi kurang lebih ada 1,5 bulan. Berkat Pak Dewa Sudi pula lah., akhirnya ia memilih jurusan 'Bartender' meski bertentangan cita- citanya, sederhana yaitu menjadi 'Guide'.
.Ketut Merta dan Wayan Kenak
Ketut Merta dan Wayan Kenak

Hasil Jualan Jangkrik Seratus Juta Rupiah

Profil Pengusaha Junaidi


junadi jualan jangkrik
 
Tidak harus menjadi pengusaha restoran atau kedai kopi. Hasil jualan jangkrik seratus juta rupiah. Ini kisah Junaidi masuk ke peluang usaha berikut. Junaidi tidak sengaja berbisnis jangkrik. Pertama kali dia heran melihat paket berisi binatang ini diturunkan.

Ratusan terlihat dalam kotakan yang diturunkan di bandara Hang Nadim, Batam. Dia kok aneh itu didatangkan dari Jawa. Padahal jangkrik kan makanan burung memang bisa dimakan. Junaidi mulai mencari tau dan faktanya tidak ada jangkrik di Batam.

Para pecinta burung harus mendapatkan kiriman dari Jawa. Fakta inilah Junaidi jadikan kesempatan membuat usaha. "Kemudian saya baca- baca Al Quran. Saya pernah jatuh bangun usaha. Ternyata gak boleh pake nafsu," tuturnya.

Jangkrik Bikin Kaya


Tidak tergesa- gesar, dia memulai pada Desember 2008, dan percobaan tersebut berhasil. Dia pun merekrut dua orang karyawan. Mereka bekerja dua tempat belakang rumah Blok D No. C3, Komplek Bapindo, dan di Jalan Sanur Blok B No. B2, Tiban 1.

Pertama kali dia bereksperimen dengan satu ons atau 200 ekor jangkrik. Dibawanya dari Jawa buat dibudidayakan. Kemudia ketika berhasil, dia membawa 10 kilo jangkrik yang dimasukan 50 kotak. Ia menjelaskan modal satu boks Rp.80 ribu.

Perkotak berisi tepat 200 jangkrik atau satu ons. Totalnya Junaidi membudidaya 1000 jangkrik dalam produksi pertama. Kemudian dia menghasilkan berkilo- kilo jangkrik buat dijual. Itu nanti akan jadi pakan burung para pecinta kicau di Batam.

Satu ons telur jangkrik berkembang menjadi 6- 7 kilo jangkrik. Hasil eksperimen berhasil dan bisa menghasilkan. Kwalahan Junaidi mempekerjakan tidak kurang 53 orang karyawan. Bekerja keras dia bahkan membuka kembali tempat di kawasan industri Sekupang.

Di tempat tersebut dia menghasilkan 260 kotak budidaya. Keseluruhan dia memiliki tidak kurang 360 kilo jangkrik. Dia menjualnya ke toko- toko pakan di Batam, Tanjungpinang, dan Tanjungbalai. Satu kilo dijualnya Rp.90 ribu.

"Masih untuk pasar lokal, kedepannya ke Singapura. Tapi untuk sini aja kebutuhan belum terpenuhi," tuturnya.

Di rumah tipe 37 bercat merah semua bisnis jangkrik bermula. Termasuk satu rumah sewa seharga Rp.6 juta perbulan. Bukan buat tempat tinggal melainkan dijadikan sarang jangkrik. Bayangkan kalo kamu masuk saja, langsung disambut berkotak- kotak dua tingkat berjejer.

Tiba- tiba suara jangkrik akan memecah kesunyian. Di ruangan depan saja, ada sekitar dua puluhan kotak berukuran 120 cm kali 90 cm. Kotak- kotak yang terbuat dari bahan triplek dengan jangkrik berkembang biak. Masuk lebih dalam kamu akan menemukan kotak- kotak sejenis banyak.

Di bekas kamar, di dapur, dan tingkat dua terdapat tumpukan boks. Di rumah tersebut terdapat sekitar 50 boks, satunya berisi satu ons, itu sekitar 200 -an jangkrik. Tempat lebih besar terdapat di kawasan industri tersebut, ditempatkan di bekas pabrik dengan jumlah 260 kotak.

Kotaknya dibuat dari bahan- bahan bekas terutama triplek. Bahan pelindung termasuk bahan bekas wadah telur. Termasuk menggunakan kertas bekas ronsen menjadi pelindung. Buat pakannya Junaidi juga memanfaatkan bahan bekas seperti sayuran sisa.

Dia memanfaatkan limbah sayuran sisa dari sawi, kubis, mie kering, kepala ikan dan roti. Setiap hari di malam hari, Junaidi akan mencari limbah tersebut ke pasar Bengkalis dan pasar Pagi Jodoh bersama karyawan.

Pukul 23:00 mereka berburu dalam semalam mendapatkan 80 kilogram sayur sawi saja. Sayuran bekas diberikan buat sekali makan ternyata. Berikutnya mereka akan mencari kangkung di rawa- rawa. Beternak jangkrik merupakan pekerjaan layaknya membesarkan bayi- bayi.

Dia lakukan telaten tidak boleh terkena hujan. Jangkrik diberi makan dua kali sehari pagi dan sore. Ia membagi tugas karyawan. Ada karyawan mencari bahan makanan, dan orang yang akan merawat jangkrik- jangkrik.

Alim Satria Pengusaha Tidak Mencolok Maspion

Profil Pengusaha Alim Satria


alim satria maspion
 
Alim Satria sosok pengusaha tidak mencolok dibanding kakaknya. Adik dari Alim Markus, yang dulu pernah dulu menjabat CEO Maspion warisan ayah mereka. Kini, Satria telah melapaskan dirinya dari perusahaan tersebut, bekerja lebih keras demi membasarkan nama Satoria Group.

Maspion Group dengan segala lini bisnisnya telah ternama. Satri tumbuh menjadi sosok kuat dengan kegemaran aneka bela diri, mulai dari silat, kungfu, dan tekwondo. Sang ayah, Alim Husin memberi contoh sifat tidak pernah menyerah. Pekerja keras yang selalu percaya bahwa semua masalah terdapat solusi.

Tuhan akan memberikan jalan keluar dengan berikhtiar. Entah Tuhan akan memberikan jawaban sehari itu, esoknya, atau lusa. Anak ketika dari lima bersaudara yang memilih jalan berbeda. Dalam 37 tahun dirinya ikut membangun Maspion, sekarang merintis usaha sendiri.

Bisnis Mandiri


Dia mengajak istrinya dan ke empat anaknya bersama. Ibunya, Angkasa Rachmawati memberi pesan menjaga kepercayaan. Pengusaha kelahiran Surabaya, 24 Juni 1954, dalam lima tahun menaikan peringkat perusahaanya sampai multi- nasional.

"Setiap bisnis menawarkan tantangan baru," ia lanjutkan.

Berkat kerja keras Satoria Group meliputi bisnis properti, manfukatur, perhotelan, jasa keuangan, dan usaha jasa perdagangan. "Kami setiap hari harus bekerja keras. Setiap hari adalah hari ini, bukan esok atau nantim" tuturnya.

Usianya 22 tahun ketika ditarik masuk ke Maspion Group. Masih mahasiswa Ngee Ann Polythecnic Singapore, begitu lulus dijadikan General Manager PT. Indal Alumunium Industry pada 1976. Satria ingat betul usaha Indal masih join venture dengan investor Hong Kong.

Posisi usaha mengalami kerugian karena beberapa faktor. Ia paling menyoroti masalah karyawan dan proses produksi. Ia menjaskan Indal punya jalur produksi tunggal. Bila terdapat masalah dalam satu bagian makan total proses produksi berhenti.

Kemudian karyawan juga membutuhkan dorongan agar menyatu. Ada bonus system dia kembangkan agar karyawan bersemangat produksi. Mereka diberi target produksi tercepai dengan sistem bonus pemersatu. Dia pun memberikan ruang rasa memiliki kapada karyawan- karyawannya.

Tahun 1979, Satria mulai membangun pabrik buat PT. Alumindo Light Metal Industry Tbk, yang mesin- mesinnya didatangkan dari pabrik yang bangkrut asal Jerman. Mesin tersebut mampu menjadi peluang bagi perusahaan membesar.

Alumindo menghasilkan alumunium terbesar se- Asia Tenggara. Bayangkan mereka mampu hasilkan omzet Rp.3,6 triliun per- tahun. Produk mereka berupa alumunium tipe AA 5052, 3003, dan juga alumunium foil. Perusahaan Alumindo memproduksi 70% pasarannya ekspor ke luar negeri.

Gonjang- ganjing krisis moneter 1998 melanda Indonesia. Alumindo bertahan karena bahan baku dari impor selaras penjualan ekspor. Kebutuhan rupiah didukung penjualan dalam negeri melalui aneka penjualan. Ini menjadi bagian unik dan termasuk unik lainnya di dalam Maspion Group.

Satria memprakasai aneka unit usaha pendukung Maspion. Kesejahteraan menjadi kunci kesuksesan perusahaan tersebut. Satria ikut menginisiasi intensif dan premi pegawai. Ambilah contoh karyawan di bagian pengecoran logam bersuhu panas, diberikan susu agar tetap sehat.

Satria berpendapat bahwa bila karyawan sakit akan berdampak. Ia menghargai betul jasa karyawan. Melalui sistem entrepreneurship bukan kapitalis membuka peluang. Pemilik usaha lebih senang bila karyawan sejahtera, bisa mensekolahkan anak- anak, dan menghidupi keluarga.

Baginya sang ayah telah memberikan pengalaman nyata. Anak- anaknya melihat betul ayahnya hidup bekerja keras. Papanya yang pernah mengalami hidup susah, selalu mengajarkan dan menekankan itu kapada anak- anak termasuk Satria.

Pengusaha harus tegas tetapi memiliki rasa empati terhadap karyawan. Jangan membiarkan bersantai- santai tetapi bukan pula menakut- nakuti. Ketegasan ini menjadi pengingat bahwa perusahaan harus berjalan. Team work tidak berjalan bila tidak ada ketegasan mencapai tujuan.

Menurut press realese dikatakan dia punya "masalah" di Maspion. Entah masalahnya apa, tetapi dia menjual semua sahamnya, dan berdikusi dengan keluarga. Mereka sepakat mendirikan perusahaan sendiri bernama Satoria Group, meliputi farmasi, agro, dan properti.

Pengusaha dari Nol


"Saya selalu terobsesi ingin seperti mendiang Papa yang merintis usaha mulai dari nol," ucapnya.

Terngiang betul kisah papanya bermula kuli bangunan asal Pasuruan. Dia pindah ke Surabaya buat berjualan cakwe dan es lilin. Ia kemudian mengais pompa air bekas buat diperbaiki. Begitu sudah benar dia akan jual demi mendapatkan uang.

Usaha inilah kemudian berkembang menjadi Maspion Group. Dua tahun semenjak keluar Maspion, ia memutuskan kuliah kembali ke Beijing University. Kuliah sembari menyiapkan semua lini bisnis Satria Group. Dia bergumul dengan banyak pengusaha aneka bidang di sana.

Penjajakan dan penelitian diputuskan berbisnis farmasi. Kemudian Satoria melanjut bisnis food and beverage. Alim Satria juga berbisnis agro melalui glukosa dan kreamer. Arah usahanya lebih ke arah sweetener untuk bahan baku makanan dan minuman.

Bisnisnya nanti akan didirikan di lahan seluas 10 hektar di Desa Sambisirih, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan. Dia telah mempersiapkan semua mulai dari farmasi dan agro. Melalui Satario Agro, termasuk aneka food and beverage, dan Satario Pharma, berbisnis farmasi.

Ia kembali mengamati kondisi pasar Indonesia. Dari barang masuk Tiongkok, ia akan langsung fokus mengerjakan business to business, terutama healthy food and beverage ingredients. Kalau kamu mau sukses maka jangan maju- mundur membangun bisnis.

Kunci sukses Satria berupa 4 M, yaitu money, market, manpower dan management. Dia mengatakan bahwa market menjadi terpenting. Pabrik baru pasti memiliki banyak kendala. Genap setahun jalan perusahaan baik dan tidak bermasalah. Dia optimis buat mengembangkan bisnis tersebut ke depan.

Satoria Pharma menghasilkan produksi 50 juta cairan infus pertahun. Kemudian dia menambahkan 60 juta ke depan. Total kapasitas mencapai 110 botol infus pertahun. "Kita menjadi produser cairan infus terbesar di Indonesia," ujarnya bangga.

Satoria Group Agro memproduksi sweetener 50 ribu ton per- tahun, creamer dan foamer 15 ribu ton pertahun. Satario fokus memberikan nilai tambah hingga spesialisasi. Mulai dari varian pemanis buatan maupun alami dijual ekspor dan dalam negeri. Pabriknya mengantongi ISO 22000, sertifikat halal, Codex HCCP, dan GMP.

Satoria Group memiliki jaringan distribusi farmasi dan alkes dibawah PT. Satoria Distribusi Lestari. Bisnis lain meliputi gedung perkantoran dan hotel bintang 4, Satoria Prima Persada, Surabaya. Ada pula gedung perkantoran Satoria Tower 36 lantai di Surabaya Barat.

Usaha Bumbu Masak Modal Bisnis Deden Arfianto

Profil Pengusaha Sukses: Deden Arfianto 


usaha bumbu masak

Modal bisnis Deden hanyalah hobing makan. Berkat itulah dia mampu membedakan bumbu- bumbu seperti apa yang cocok. Nama lengkapnya Deden Arfianto memulai bisnisnya cuma hal sepele seperti bumbu dapur. Tahun 1999, ia bermodal kurang dari 50 juta, dan nekat mencoba ide bisnis membuat bumbu.

Deden mulai menciptakan bermacam- macam bumbu cepat saji. Awalannya ia cuma menciptakan aneka tepung bumbu, targetnya yaitu kesenangan masyarakat atas makanan serba digoreng. Hasilnya, prediksinya tidak lah salah, dalam 3 tahun  bisnisnya berkembang sangatlah pesat.

Berbisnis memang seperti sudah mendarah daging dalam dirinya. Sewaktu kuliah dulu di Perbanas, Deden juga mepunyai sambilan seperti jualan motor, jualan mobil, dan calo tanah. "Double job-lah," celetuknya.

Namun, menurut Deden, dari usaha broker kurang punya prospek yang bagus. Ia berpikir, sebagai pedagang harus punya tempat jualan.

"Maka, saya lalu membikin minimarket," katanya. Minimarket itu lantas diberinya nama Mitra Kencana yang mana terletak di kawasan Kelapa gading. Sementara ada mini market, pria tiga puluh delapan tahun ini juga masuk menjadi pagawai bank; berbisnis sambil bekerja istilahnya.

Bisnis UKM


Diawali munculnya tepung bumbu Kobe puluhan tahun lalu. Kini beragam merek tepung bumbu terpajang apik di etalase mini market, bahkan toko kelontong biasa. Kebanyakan memang merupakan tepung bumbu buatan pabrikan.

Namun, siapa sangka Deden berhasil menembus ketatnya pasar tepung bumbu. Ia dulu memulai bisnisnya pada level UKM hingga bisa berhasil sejajar. Mitra Qu, singkatan Mitra Quality sudah biasa dijumpai di Carrefour, Makro, Superindo, Indomaret, dan Hero.

Tahun 1999, ia memulai bisnis tepung bumbu masih di level kelas UKM. " Modal saya enggak lebih dari Rp 50 juta," tuturnya. Dia bahkan tak sanggup membeli  mixer penggiling berukuran besar. Tak lantas menyerah, ia nekat meminjam gilingan milik orang lain.

"Saya menumpang giling di tempat orang," kenangnya dulu. Produk pertama dibuatnya bernama Divaboga. Penjualan produk Diva dilakukan melalui sistem orang terdekat dahulu.

Deden menjajaki konsumen terdekat seperti kerabat dan teman- temannya. Setelah itu memperoleh respon cukup positif dari mereka, barulah produk miliknya mulai dipasarkan. Ia pun mempromosikan produknya pada masyarakat luas melalu ibu – ibu rumah tangga. Tidak jarang Deden akan ikut mempromosikan produk melalui demo.

Bersama tiga orang sales dan dia sendiri mencoba peruntungan pertama di bisnis bumbu masak ini. Hasilnya lumayan, penjualan produk bisa mencapai 70 sampai 100 kg. Ia kemudian makin rajin mendatangi beberapa arisan atau pengajian pemilik katering

"Ternyata ada banyak sekali perkumpulan pemilik katering dan restoran. Ada kumpulan orang padang, orang solo," tuturnya. Tanpa segan, Deden mempromosikan tepung bumbunya satu per- satu.

Mereka mendapatkan setidaknya 10 pelanggan dari sana. Produksi pertama UKM -nya cuma bisa sekitar 1 ton sebulan. Tepung bumbu ini dikemas dalam bentuk curah dan dibungkus plastik dari 1 kg sampai 12,5 kg. "Saat itu saya masih belum memakai merek," kenangnya.

Kemasan plastik itu kemudian ditempeli stiker sederhana bertuliskan "Diva", merupakan singkatan dari Diva Mitra Bogatama, nama perusahaannya kelak. Bisnis bumbunya berkembang pesat bahkan kini telah memasuki pasar industri.

Ia mulai menjadi pemasok beberapa perusahaan besar seperti nugget dan sosis. Deden mulai merekrut banyak orang profesional untuk mengisi pos- pos penting. "Saya sendiri di bagian produksi untuk mengawasi peracikan," katanya.

Pengalaman bisnis terbesar mungkin ialah ketika berhasil memasok bumbu ke waralaba McDonald. Waralaba asal Amerika ini tentu akan memilih produk terbaik miliknya. Mereka tak usah repot- repot membeli dari negeri asalnya.

Bisnis besar


Permintaan level industri membuatnya berani membeli dua mesin penggiling sekaligus. Usaha bumbu masak ternyata menjanjikan. Modal bisnis Deden adalah tidak mau setengah- setengah berusaha. Dengan masin baru berkapasitas 200 ton sebulan, Deden siap menjadi pengusaha sekala besar.

Ia bahkan telah menciptakan 30 bumbu berbeda. Hal itu dilakukan semata karena dorongan mencari- cari pelanggan baru. "Ternyata saya salah langkah, karena banyak jenis tepung yang tidak ada lagi permintaannya," ujar Deden.

Belakangan ia mulai mengurangi variasinya menjadi enam bumbu agar menjaga kualitas. Berdiri di Jakarta, diakhir tahun 1999 silam, PT. Diva Mitra Bogatama adalah perusahaan bergerak di bidang manufacturing makanan olahan.

Inilah titik tertinggi bisnis seorang Deden, pria lulusan D3 Akuntasi di Perbanas tahun 1986. Melongok bisnisnya sekarang, kita tidak terkejut ketika tau bagaimana masa lalunya. Deden bekerja menjadi pegawai bank tujuh tahun lalu.

Ia bekerja di bagian kredit, membuatnya terus menumbuhkan ide- ide bisnis.

"Mereka harus menjajaki siapa saja konsumennya. Mulai dari teman-teman sendiri sampai orang lain," ucap Deden, menjadi senjata utama pemasaran bisnisnya sekarang.

Selain ke industri, Deden juga berhasil memasok restoran besar dan hypermarket. Produk MitraQu menjadi salah satu andalan bisnisnya. MitraQu, ingkatan dari Mitra Quality biasa dijumpai di berbagai hypermart seperti Carrefour, Makro, Superindo, Indomaret, dan Hero.

Selain memasok ke pasar modern, Deden juga mengirimkan tepungnya ke perusahaan pembuat nugget dan restoran cepat saji. Produk- produk Mitra Qu mulai dijualnya pula di luar negeri.

"Sekarang ke New Zealand," kata Deden lanjut, terlihat di matanya masih bernafsu menjajaki pasar ekspor di negara lain. Untuk bisa memasok pasar ritel sendiri, perusahaan Deden bisa menghabiskan hingga 50-60 ton tepung sebagai bahan baku setiap bulan.

Saat musim liburan sekolah dan Lebaran kebutuhan tepung itu naik dua kali lipat. Jika satu kilogram tepung bumbu dijual dengan harga eceran Rp 12.000, bisa dihitung- hitung berapakah omzet Deden dalam sebulan.

Bahan baku semua lantas dipakai membuat enam jenis tepung bumbu, yakni tepung bumbu biasa, marinasi untuk membuat rasa gurih merasuk sampai ke daging, tepung tempura, tepung tabur, dan seasoning. Semuanya bermerek Mitra Qu.

"Yang dijual di supermarket hanya tepung bumbu," kata Deden.

Kemudian adapula jenis marinasi khusus dijual kepada pedagang ayam potong, dan seasoning dijual kepada pengusaha makanan. Perkembangan bisnisnya begitu pasat, ia berancang- ancang memulai bisnis lainnya. Deden menyebut bisnis bumbu cepat saji sangat ketat.

"Persaingan di tepung bumbu sangat ketat. Saya harus mengembangkan bisnis lain, tapi yang ada sekarang tetap dipertahankan," katanya. ia berencana membangun sebuah bisnis dibidang minuman berenergi atau teh dalam saset.

Sejarah Hotel Madani Medan Biografi Masri Nur

Biografi Pengusaha Masri Nur


 
Nasib hidup seseorang siapa sangka. Ini biografi Masri Nur, pengusaha Minang 1953, yang rela merantau jauh mecari peluang usaha. Dia tidak mau hidup nyaman, lebih memilih hidup bersusah payah. Adalah pengusaha Minang lahir dari pasangan Minangkabau, H. Nurdin dan Hj. Aisyah.

Dia dikenal karena mendirikan Hotel syariah. Konsep pertama yang dibawa ke tanah Medan jauh. Haji Masri juga dikenal sebagai pemilik Plaza Gelora Medan. Yang terkhir dikenal sebagai pendiri Lembaga Pendidikan Darul Ilmi Murni.

Ayahnya bekerja sebagai pedagang kelontong di Pariaman, Sumatra Utara. Sudah merantau ke jauh sejak usianya 16 tahun. Biografi Masri Nur pernah bekerja serabutan di Medan, mulai dari jadi calo bus antar kota, hingga sukses membuka toko jahitan bernama Gelora.

Bisnis menjahit berkembang menjadi konveksi. Bertahap mendirikan komplek Plaza Gelora. Inilah awal dirinya dikenal sebagai pengusaha terpandang. Setelah membuka pasar swalayan, kemudian dia lalu mendirikan plaza menjual pakaian seragam, baju olahraga, pakaian adat, dan pakaian muslim.

Pengusaha Minang Harus Merantau

Pengusaha Minang ini adalah kombinasi kegigihan, kerja keras, dan keyakinan. H. Masri memilih tidak menjadi pegawai negeri seperti kakaknya. Dia memilih merantau ke Medan di tahun 1969. Di ibu kota Sumatera Utara, pernah bekerja menjadi buruh, sampai berprofesi calo bus di terminal.

Berhenti menjadi penjual tike bus tidak kehilangan akal. Masri banting stir menjadi penjahit padahal tidak punya dasar. Insting membawanya sukses dan mendirikan perusahaan konveksi. Papan nama Toko Gelora seolah mengibarkan semangat Haji Masri, menjadi saudagar Minang diperantauan.

"Saya ini aslinya tukang jahit. Sampai sekarang masih tukang jahit,"ujarnya
Dari bisnis menjahitlah membawa namanya meninggi. Tidak berhenti sukses terus membuka usaha lain. Perusahaan garmen Masri mampu membiayai pembangunan Plaza Gelora. Menjadi pusat aneka pakaian seragam, baju muslim, pakaian olah raga, dan pakaian adat.

Bisnis konveksi semakin berkembang hingga pasar swalayan. Dibawahnya ada tukang jahit sampai 200 orang. Awal tahun 1990 -an, dia membuka komplek plaza, dimana sekarang dia menjadi satu- satunya pengusaha pribumi yang punya pasar swalayan besar di Medan.

Sekian banyak bisnis dijalankan Haji Masri. Paling mengesankan adalah berdiri koko Hotel Madani. Inilah Hotel berkonsep syariah yang memiliki 173 kamar. Ini sempat dipandang sebelah mata oleh semua orang. Apakah mendirikan Hotel syariah akan laku dan sukses disekarang ini.

Hotel Madani tidak serta merta sukses. Banyak orang skeptis akan bisnis Hotel syariah. Bahkan dari beberapa Ulama yang Masri kunjungi. Mereka tidak yakin akan Hotel yang dulunya biasa ini. Orang masih berpikir konsep Masri hanya diluaran saja.

Orang takut kecewa ternyata disuguhi Hotel konvensional. Namun Masri tidak putus asa menjual konsep Hotel Madani. Ia bahkan memperkatat aturan Hotel. Screening dilakukan untuk memastikan tamu sesuai syariah. Tamu yang bukan Muhrim dilarang menginap disini.

Penutup Biografi Masri Nur


Ia mengerahkan pihak keamanan. Aturan syariah Hotel ditulusi besar didepan lounge. Wanita harus memakai hijab. Enam bulan pertama merupakan ujian mental. Pasalnya Masri harus memulangkan banyak pengunjung. "Kami banyak mengeluarkan tamu dari Hotel," jelas pengusaha Minang ini.

Enam bulan pertama banyak orang coba- coba. Mereka mengetest melanggar peraturan Hotel. Atau beberapa juga tidak tau sama sekali. Banyak tamu yang mengajak lawan jenis ketika tengah malam. Masri mempertegas konsep bisnisnya, "Saya yakin Allah akan memberi jalan (kesuksesan)."

Dia meyakini bahwa apa dilakukannya karena Allah. Jikapun tidak ada pengunjung datang menyewa. Haji Masri meyakini apa mungkin Allah membiarkan kegagalan terus. Terutama dibawah usahanya ada nasib ratusan pegawai berkeluarga.

Keyakinan terhadap diri sendiri begitu besar. Sehingga rating pengunjung Hotel menjadi tertinggi di Medan. Memiliki 173 kamar sejumlah 150 kamar pasti terisi. Pihak manajemen Hotel Madani lebih berpikir logis. Mereka percaya keuntungan baru datang setelah dua tahun dijalankan.

Faktanya dalam waktu dua bulan sudah melebihi target. Masri tidak pernah mensubsidi kinerja Hotel miliknya. Pengunjung ternyata tidak cuma kaum Muslim. Tetapi tamu non- Muslim juga menyewa kamar Hotel. Maupun orang TiongHoa maupun ekspatriat yang berlibur di Medan.

Alasannya para istri merasa aman menyewa kamar disini. Merasa lebih aman ketika mereka berlibur di sana. Konsep Hotel syariah Masri ternyata sukses besar. Mereka sering full booked, sehingga nama brand Hotel Madani semakin dikenal masyarakat luar kota.

Mereka tidak perlu mengeluarkan tamu lagil. Otomatis yang kesana sudah mengerti aturan berlaku di Hotel. Menurut cerita depan Hotek merupakan saksi hidup. Ketika Masri pertama kali menginjakan kaki di Medan. Sebelum dibangun Hotel, didepan itu adalah tempat stasiun bis antar kota Medan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba