Menjadi Pengusaha Bakso Geranat Abdul Anziy

Biografi Pengusaha Abdul Anziy


pengusaha bakso geranat
 
Berikut tips menjadi pengusaha bakso geranat Abdul Anziy. Pria kelahiran 8 Agustus 1991, yang tak bermimpi muluk membuka usaha, hanya menjalankan hidup. Dia berkuliah di Politeknik Universitas Jombang. Pernah ingin masuk Politeknik Universitas Sriwijaya tetapi gagal.

Begitu lulus sekolah dia tak lantas melanjutkan kuliah dulu. Sempat Azis mengikuti kursus komputer setahun di Palkomtek Palembang. Disini dia juga diajarkan bagaimana berdagang komputer. Aziz sempat bekerja sambilan menjualkan komputer milik Palkomtek.

Bulan ke empat selepas kursus dia ditawari bekerja di Palkomtek. Ia lalu mengajar desain grafis yang bertahan delapan bulan. Kemudian Aziz lanjut pelatihan kewirausahaan di YEC Palembang pada Oktober 2010. Ia lanjut masuk kuliah di AMIK Bina Sriwijaya pada akhir 2010 silam.

Usaha Bakso Geranat


Berkuliah selama dua semester datang kesempatan praktik. Dari pengalaman mengikuti pelatihan, dia mencoba ikut perlombaan wirausaha yang diadakah oleh kampus. Ketika itu dia sama sekali belum punya pengalaman. Hanya mengikuti saran dari orang tua Aziz, yang bekerja sebagai tukang becak.

Dia disarankan sang ayah untuk mencoba jualan aksesoris. Ide sederhana yang dia tuangkan dalam bentuk bisnis aksesoris kalung. Bisnis berkonsep kalung custom yang diukir nama khas Jepara. Usaha itu tak bertahan lama hingga akhirnya tutup.

Di Agustus 2010, masih dengan semangat kewirausahaan, Aziz mulai mencari bisnis apa yang bisa dia lakukan. Ayah Aziz kembali memberi ide melalui usaha sambilan keluarga. Ketika tidak menarik becak, ternyata ayahnya juga berjualan bakso buatan sendiri.

Usaha bakso tersebut memang sampingan bukan utama. Ayahnya cuma membantu tukang bakso sesama perantau Jawa.  Maka Aziz berniat untuk mematenkan ide bisnis ini. Siapa sangka sang ayah memiliki resep bakso sendiri. Inilah cikal bakal dari Bakso Geranat yang merupakan resep sang ayah.

Ayah Aziz berjualan bakso sendiri memakai gerobak orang. Tetapi tidak tentu, dia hanya berjualan bila sang pemilik gerobak pulang kampung. Ayah Aziz lalu menyarankan putranya untuk berjualan bakso. Setelah berdiskusi dengan anggota keluarga lain, maka Aziz memutuskan untuk usaha ini.

Diputuskan untuk membuka usaha bakso bersama- sama. Bergotong royong hingga ayahnya tak perlu mengayuh becak, dan ibunya tak perlu jualan jamu. Bermodal uang Rp.38 juta, yang Rp.20 juta hasil pinjam Bank, sedangkan sisanya merupakan hasil perlombaan BDEC 2011.

Sisanya merupakan uang tabungan mengajar dan milik ayah. Pertama Aziz menyewa tempat di Jalan Inspektur Marzuki, di depan SMA 11 seharga Rp.6 juta pertahun. "Saya menyewa tempat itu selama tiga tahun," tuturnya. Dia lalu berinvestasi ke gerobak, peralatan masak, papan menu, neon box.dll.

Dia berjualan bakso buatan sendiri yang masih memakai tangan. Aziz percaya diri berkat latar sales, desain grafis, dan kemampuang sang ayah. Di Pelembang sendiri, banyak pedagang bakso ukuran besar yang berasal dari Wonogiri atau Solo.

"Saya mencoba segala macam bakso yang ada di Palembang, sekalian riset pasar," terangnya.

Aziz berpikir cara menghasilkan bakso tidak biasa. Pada saat itu namanya bakso pedas masih belum seramai sekarang. Ia pun memutuskan membuat bakso pedas. Konsep tersebut masih terbuka luas karena belum ada saingan.

Dia menggabungkan konsep jajanan pedas ke dalam bakso. Kemudian ia mengemas bakso tersebut dalam brand Bakso Mas Aziz. Dia lantas mendaftarkan merek Mas Aziz pada Juli 2012. Ternyata itu sudah dipakai nama orang lain. Dia lalu mendaftarkan dengan nama Bakso Geranat pada Juli 2012.

Ternyata nama Bakso Geranat kembali telah dimiliki orang lain. Ia memutuskan menamakan usaha ini Bakso Geranat Mas Aziz. Uang pendaftaran merupakan hasil perlombaan, uang senilai 1 juta dari Wirausaha Muda Mapan Hatta Rajasa.

Menjadi Pengusaha Bakso Geranat


Pertama kali membuka usaha dia hanya menjual 10 mangkuk. Para pelanggan pun marah lantaran tak tau kalau baksonya pedas. Aziz memang agak jahil jadi kemarahan mereka "disengaja". Yakni ketika mereka memesan, Aziz cuma menawari pilih bakso besar atau kecil- kecil tanpa detail bakso apa.

Mungkin orang cuma paham rasa pedas berasa dari kuah. Ternyata di dalam bakso besar mengandung geranat pedas. "Ketika mereka memesan bakso yang besar, maka saya akan memberikanya bakso pedas," ujarnya. Meskipun komplain berdatangan, tetapi toh mereka kembali lagi karena ketagihan.

Sejak kejadian tersebut maka timbul ide memuat tagline. Bakso Geranat Mas Aziz "Pedasnya Bikin Ketagihan". Tempatnya buka dari jam 08.00- 21.00 dan semakin laris manis. Agar bisa menaikan omzet, Aziz mengakali lewat perlombaan berhadiah Rp.1 juta, lombanya makan bakso geranat.

Agar dia bisa mengajak banyak orang maka dicarilah sponsor. Brand Hydro menjadi sponsor hingga bisa beriklan di surat kabar. Biaya pendaftaran Rp.20.000 dan menarik 120 peserta. Walau nampak cuma lomba makan, ternyata hasil eksposur bisnis ini sangatlah luar biasa.

Dia mengundang dari koran sampai televisi swasta. Sebut saja ada Sriwijaya Pos, Sumatera Express, TVRI,  PAAL TV, dan Sriwijaya TV. Mereka tertarik untuk memberitakan perlombaan makan bakso tersebut. Ini berhasil menaikan nama Bakso Granat Mas Aziz hingga dikenal seantero Palembang.

Soal lain dia mengembangkan aneka menu masakan. Mulai dari bakso geranat, rawit, lombok ulek, ranjau dan basoka. Kesan yang akan diambil memang tegas layaknya tentara. Agar lebih menarik lagi dia menyeratakan sloga. Kalau ada pembeli datang, karyawan akan segera berkata layaknya tentara.

Karyawan akan menyambut, "Lapor Pak! Mau makan apa?", kemudian mereka akan menutup dengan "Siap laksanakan!". Bakso miliknya juga masih mengambil nama Jawa seperti asal- usulnya. Seperti kata "lombok" yang berarti cabai bila di Jawa.

Agar lebih sukses dia mempromosikan ke online dengan kreatif. Aziz membuat akun Twitter yang bernama @aziz_geranat. Untuk Facebook, dia nebeng ke akun group bernama Wisata Kuliner, yang kebetulan milik temannya yang lebih banyak pengikut.

Bisnis Bakso Terus


Dia juga memanfaatkan iklan melalui akun @kicaupalembang. Termasuk menggunakan iklan selama sebulan penuh di Koran Sriwijaya. Mengapa mendaftar di akun Wisata Kuliner terdapat alasan. Itu ternyata hasil analisa, bahwa pemilik fanspage bernama umum lebih banyak pengikut.

Pengusaha muda ini lalu membuat kartu anggota. Banyak kelebihan pemegang kartu, mulai dari yang memiliki nama tertentu dapat diskon. Adapula diskon malam hari pukul 18.00- 21.00 yang masuk jam- jam sepi. Diskon 50% berlaku bagi anggota yang membawa pacar dijam- jam tersebut.

Aziz menawarkan kartu anggota ke anak- anak SMP dan SMA. Dia juga membuat umbul- umbul penunjuk arah. Untuk budget iklan sosmed, ia rela mengeluarkan uang Rp.1 juta. Adapula voucher makan gratis yang rutin dibagikan melalui radio anak muda Palembang.

Pengusaha cerdas ini juga mengelola emosi mereka lewat group chat. Pesan- pesan penyemangat akan dishare ke seluruh chat. Juga termasuk menyebarkan aneka promo melalui pesan berantai. Ada pula program promo makan gratis bagi mereka yang membawa pelanggan baru.

Ia menceritakan banyak halangan datang ketika wirausaha. Suatu hari datang pesaing yang terbuka menunjukan menu baru. Pesaing itu menujukan bakso dengan konsep geranat. Aziz tak minder ketika ditunjukan itu. Bahkan dia berani merasakan sendiri rasa bakso tersebut dan ternyata tak seenak itu.

Dia mengatakan masalah utama ialah tidak konsisten. Penjual bakso lain nampak kurang fokus pada menu bakso geranat. Mereka kurang konsisten pada rasa bakso geranat. Walau mereka juga memakai konsep perlombaan, faktanya bakso geranat miliknya lebih enak dan pelopor.

Menurutnya bisnis harus fokus sebelum memulai ide bisnis lain. Dia mendapatkan saran bisnis dari boss Kebab Baba Rafi, Hendy Setyono. Saran bahwa harus fokus mengerjakan satu bisnis terlebih dahulu. Jangan terburu- buru untuk menerapkan konsep lain dengan harapan menaikan untung.

Soal keuntungan taukah kamu bahwa Aziz cuma untuk Rp.800 ribu di awal. Kemudian itu naik ke Rp.1- 4 juta berkat promosi yang gencar. Dia menambahkan bisnis bakso untungnya tipis. Tetapi itu bisa didukung dengan berjualan minuman dingin.

Gerai pertama ia mengatakan mampu mengolah 13kg perhari, sedangkan yang kedua mengolah 6- 7kg. Saat berita ini dipublish di SWA.co.id, dikatakan dirinya tengah merencanakan sistem franchise sendiri. Dengan investasi Rp.35 juta maka rekan bisnis sudah mendapatkan jalan membuka bisnis ini.

Soal hambatan klise masalah bahan baku mahal. Terutama bahan baku cabai dan bawang. Kalau soal operasional sudah tak masalah. Gerainya sudah punya lahan parkir luas untuk motor dan mobil. Soal bakso pun begitu, dia telah memilik pabrik pengolahan bakso sendiri yang sudah bermesin.

Niat Wirausaha Pengusaha Boss Bebek Udig

Profil Pengusaha Fery Eka Laksamana


pengusaha boss bebek

Menjadi boss Bebek Udig Fery Eka Laksamana berkisah. Niat wirausaha bukan sekali- dua kali, tapi apa mau dikata nasib belum berpihak. Mengingat perjalanan bisnisnya kita dibawah ke tahun 2002. Ia yang masih mahasiswa nekat membuka usaha dibanding berdiam diri.

Tidak mudah menjalankan sebuah usaha tanpa niat betul. Banyak pengusaha muda gagal lantaran itu sebatas niat. Fery tak mau mimpinya menjadi wirausahawan kandas. Jangan menunda- nunda, begitu kuliah Semester 4, dia membuka usaha lagi.

Benar dulu dia pernah membuka usaha tetapi ala kadar, belum serius. Ia mengenang sejak kecil sudah suka jualan. Dulu ketika sekolah, ada keharusan untuk mengganti sepatu setahun sekali, lantas dia mengumpulkan sepatu milik temannya. Dia lalu menjual sepatu- sepatu tersebut ke tempat lain.

"Saya jual ke daerah Kosambi," runut pria kelahiran 5 Februari 1981 ini.

Ia semakin jeli melihat peluang bisnis. Tahun 2002, dia memutuskan membuka usaha meski masih berkuliah. Saat itu dia memutuskan untuk membuka usaha peternakan sapi. Dia mengajak investor dan berhasil mengeluarkan modal Rp.26 juta.

Perjalanan Tidak Selalu Mulus


Niat wirausaha akhirnya terlaksana dengan lebih serius. "Saya terapkan sistem bagi hasil keuntungan untuk investor," terangnya. Dia melanjutkan bahwa semua telah diasah. Pengalaman berjualan dulu, dia terapkan di bisnis sapi dengan lebih serius terencana.

Hasilnya sebuah peternakan sapi yang terletak di kawasan Cimalaya, Karawang. Kemudian ide lain muncul yakni membuka toko pertanian. Dia melihat tanah perkebunan dan pertanian itu luas. Tetapi kok cuma ada satu toko pertanian yang melayani.

Alumni Fakultas Hukum, Universitas Parahiyangan, Bandung ini bergegas. Dia membuka toko buat peralatan tani dan pupuk. Dalam lima bulan pertama saja, dia berhasil mengantongi untung sampai Rp.600 juta, dan lebih. Ini bahkan mengalahkan pendapatan dari berbisnis peternakan sapi.

Padahal dia telah membangun bisnis peternakan sapi tiga tahun. Dalam lima bulan toko peralatan tani untung melonjak. Omzet cepat melejit dijadikan modal untuk diputar kembali. Fery telah membuka beberapa toko di tempat lain. Usia masih 25 tahun tetapi telah menghasilkan keuntungan ratusan juta.

Bayangkan Fery telah memiliki cabang di Majalengka, Brebes, Sumedang, Tegal, dan Brebes. Semua dia dapat hanya pada tahun pertama. Dia bisa membeli rumah, mobil, dan fasilitas lain. Jarih payah dari kesuksesan yang relatif singkat.

Pada tahun 2007, dia mendapatkan pengalaman luas biasa tak terlupakan, yang mana dia mendapat tuduhan serius. Pada suatu hari dia mengirim lima truk tronton ke daerah Brebes, Jawa Tengah. Truk membawa 32 ton pupuk, tetapi diperhentikan oleh pihak tertentu.

Dia dituduh membawa pupuk ilegal. Tuduhan lain truk pupuk tersebut tak punya dokumen. Hasilnya nama Fery terbit di berbagai media lokal. "Saya bingung kenapa ditahan karena saya tidak melakukan kesalahan," jelas Fery. Ternyata ada kesalahan tetapi dia enggan menceritakan detail kesalahan.

Yang pasti dia harus mengurusi dokumen- dokumen tertentu. Fery berhasil mengeluarkan truk yang ditahan polisi. Tetapi dia harus membawa truk kosong tanpa muatan. Bayangkan semua pupuk disita sebagai barang bukti. Total dia kehilangan pupuk senilai Rp.600- 700 juta rupiah seketika itu.

Dia rugi besar hingga bangkrut. Ada kesalahan manajemen dalam pengelolaan keuangan. Alahasil dia harus menanggung hutang. Inilah penyebab kegagalan karena dia belum seperti pengusaha. Dari keuangan sampai ke manajemen, dia ternyata juga menanggung hutang sampai Rp.1,2 miliar.

Pengusaha Boss Bebek Udig


Fery yang tak tahan ditagih debt collector segera menjual aset. Hasil menjual aset berhasil menutup setengah hutang. Hampir stress, dia berhasil bangkit kembali dengan niat wirausaha kembali. Dia lalu berkeliling Bandung, menelusuri berbagai kawasan di Jawa Barat.

Dia tengah mencari peluang bisnis baru. Kala itu kuliner bebek tengah naik daun, dia segera punya pikiran untuk menjadi pemasok bebek. Langkah kakinya sampai ke Pasar Cilamaya, terus membuka los di Pasar Kosambi untuk jualan bebek.

Selain menjual bebek utuha, Fery juga memotong bebek untuk dijual kembali. Dalam pemikirannya dia melakukan apapun. Usaha yang dia tak kuasai pun dilakukan agar bertahan hidup. Berjualan terus sampai Fery mendapatkan kesempatan emas.

Dia menjadi pemasok buat restoran- restoran. Tahun kedua, dia menjual 300 potong perhari, dan ia lantas berpikir ingin punya peternakan sendiri. Februari 2010, dia memutuskan membuka peternakan bebek, dengan menyewa tempat seluas 150 m2 di Cilamaya.

Lahan segitu mampu menampung 1000 ekor bebek. Tak mau berhenti sekedar beternak dan jual- beli bebek. Fery mencoba peruntungan di bisnis restoran bebek. Prinsip pengusaha yang dipercaya ialah membuat nilai tambah. Jangan berhenti cuma menjadi pemasok melainkan harus menjual olahan.

Mulailah pengusaha muda ini melakukan riset racikan bebek enak. Di September 2010, dia membuka restoran bebek sendiri, yang diberi nama Bebek Udig di dekat Universitas Islam Bandung. Usaha itu berkembang pesat tanpa takut kehilangan pemasok.

Bisnis peternakan Fery juga lancar, mampu menghasilkan 2.5000 ekor bebek perminggu. Lahan juga naik luasnya sampai 5000 m2. Restoran Bebek Udig sendiri pindah ke kawasan yang lebih bagus. Dia memindahkan restonya ke Dago di atas lahan 600 m2.

Usaha Bebek Sangrai


Baginya niat wirausaha saja tak cukup buat berjalan. Kisah pengusaha boss Bebek Udig ini memang jempolan. Banyak macam- macam olahan bebek, termasuk digoreng atau dibakar. Tetapi pernahkah kamu mendapati bebek disangrai. Inilah kisah Fery yang mencoba sesuatu mengejutkan dan berhasil.

Dia menjelaskan bebek ini disangrai tidak memakai minyak. Pria asli Bandung ini memakai teknik pengolahan khusus. Penggunaan wajan tanah liat menjadi krusial dalam teknik temuan Fery. Dalam penjelasannya, teknik memasak seperti ini sebenarnya telah dimiliki masyarakat tradisional.

Pengolahan sangrai atau tanpa minyak sudah biasa. Penggunaan tanah liat didapatkan Fery entah dari mana. Namun keunikan inilah yang khas bebek sangrai bernama Bebek Udig. Fery telah memulai berbisnis sejak 2010 silam.

Inspirasinya datang dari ide kerupuk melarat yang digoreng tanpa minyak. Kerupuk yang digoreng memakai pasir panas. Bebek Udig meniru teknik tersebut namun dengan resep tersendiri. Dia lalu melanjutkan, Bebek Udiq cuma bermula dari warung pinggir jalan, dan hanya bermodal Rp.20 juta.

Waktu itu tempat berjualan di jalan masih murah biaya sewanya. Berkat kegigihan, ia mampu bisa menjual 200- 300 potong seharga Rp.25.000. Penjualan naik hingga Fery mampu membuka dua warung sekaligus. Dia memanfaatkan online via Facebook dan Twitter dengan harga Rp.35.000.

Selama pemesanan datang dimanapun akan dilayani Fery. Mau lewat fanspage ataupun Twitter akan dilayani baik. Konsep bebek sangrai ternyata menarik banyak perhatian masyarakat. Karena tak pakai minyak maka dijamin bebek buatannya bebas kolesterol.

Berkat sangrai membuat kulit bebek lebih mudah terurai. Meskipun begitu dia tetap menawarkan bebek goreng atau bakar. Tetapi ya, pembeli lebih memilih memesan bebek sangrai karena terasa lebih enak. Bumbu yang dipakai tradisional, seperti rendang, dan memakai sambal matah.

Berkat kerja keras dia telah memiliki 13 orang karyawan membantu. Inti dari bisnis ini menurut Fery terdapat di dapur. Sudah ada karyawan khusu yang ditaruh di dapur, selain mereka bagian ke depan dan manajemen. Dapur khusus yang didevelop sehingga lengkap mau goreng, bakar, atau disan

Punya Usaha Bengkel Ratusan Juta Kisah Andika

Profil Pengusaha Andika Kairuliawan



Siapa sangka dia punya usaha bengkel ratusan juta. Kisah Andika Kairuliawan yang bukanlah siapa- siapa dulu. Dia putra dari seorang ayah yang bekerja sebagai sopir. Ia menjelaskan ayahnya bekerja sopir travel Yogya- Bali. Sedangkan ibunya hanya wanita ibu rumah tangga biasa tanpa penghasilan.

Andika hidup dalam kesederhanaan tetapi menikmati hidup. Ia tak pernah berangan- angan, apalagi berpikir akan membuka bengkel. Semua berubah ketika bom Bali, selepas pristiwa itu membuat ayah Andika menjadi pengangguran.

Maka ia pun berpikir keras bagaimana memenuhi kebutuhan. Aneka usaha dijalankannya untuk bisa makan. Bermula dari dia yang memodifikasi motornya pada sebuah bengkel. Rasanya kok ada yang kurang, Andika berpikir modifikasi yang dihasilkan tidak sesuai keinginan.

Bermula kejadian tersebut, dia mulai belajar mengenai otomotif sendiri secara otodidak. Kemudian ia nekat mencari modal buat membangun bengkel kecil. Semangat wirausaha sudah timbul semenjak ia berkuliah di Universita Teknologo Yogyakarta (UTY).

Memulai Bisnis Bengkel


Punya usaha bengkel ratusan juta itu seperti mimpi. Layaknya pria pada umumnya, dia menyenangi otomotif, termasuk coba- coba untuk membuat modifikasi. Hanya kali ini, Andika memutuskan untuk membawa motornya ke bengkel, alih- alih memodifikasi sendiri.

Ia merasa tidak puas dengan hasil tangan orang lain. Teman- temannya juga merasa modifikasi di bengkel tidak bagus. Insting bisnisnya bergerak mencari celah dari keluhan teman- teman. Ia pikir mengapa tidak dia sendiri. Andika lantas memperdalam ilmu tentang modifikasi sampai menjadi ahli.

Andika membuat kepala motor berbahan fiber glass berbekal Youtube. Makin percaya diri, Andika nekat membuka bengkel bernama Oto Work pada Mei 2011 di Yogyakarta. Dia mengeluarkan modal Rp.800 ribu. Ia menggunakan uang tersebut untuk membeli mesin kompresor bekas.

Andika menggunakan mesin kompresor untuk mengecat bagian modifikasi. Cetak kepala motor bisa dilakukan memanfaatkan barang sudah ada. Awalan, dia hanya menjual kepala motor yang dimodif ke situs online, yang saat itu masih ramai forum jual beli Kaskus.

Pengusaha muda yang tak puas sebelum sukses menghasilkan. Andika juga memasarkan langsung ke orang- orang. Beruntung dirinya pernah mendapatkan pengalaman bekerja, dia pernah bekerja jadi Audience Marketing Manager untuk Microsoft Innovation Center di Yogyakarta.

Produk buatan tangannya berhasil menuai respon positif. Pesanan modifikasi motor mulai datang ke Balu Oto Work. Maka ia pun menambah jumlah pegawai untuk menangani pesanan. Walau nampak berkembang, nyatanya Balu Oto Work hanya mampu menghasilkan Rp.2 juta perbulan.

Ia lalu memenangi lomba Inovasi Bisnis Pemuda pada November 2011. Penjualan Balu Oto Work naik pesat semenjak perlombaan. Pesanan modifikasi motor dan kepala motor meningkat drastis. Dia lebih memilih memfokuskan ke produksi kepala motor.

Kelebihan Balu Oto Work terdapat pada kepala motor modifikasi. Bentunya unik berbeda dari yang di bengkel lain. Andika dengan imajinasinya membuat kepala bermodel action figure.

"Orang boleh modifikasi motor di bengkel lain, tapi kalau mencari kepala motor, biasanya mereka pesan dari sini," tuturnya.

Andika semakin bekerja keras dan mengikuti aneka lomba. Bahkan dia mendapatkan penghargaan sebagai perwakilan Indonesia. Pengusaha muda ini lalu berangkat untuk International Auto Parts, Accessories and Equip Exhibition (INAPA) di JIEXPO Kemayoran tahun 2012.

Ketia pameran bertemu dengan warga Singapura untuk kerja sama. Dia tertarik untuk memajang hasil karya Balu Oto Work. Semenjak Juli 2012, produk modifikasi Andika telah dipajang di dealer yang ada di Malaysia dan Singapura.

Kompetisi Usaha Tak Sehat

Bisnis Andika berjalan baik hingga bisa diserah tugaskan. Walau begitu, ia meyakinkan bahwa masih memegang penuh kontrol, dan masih aktif merancang modif. Ia selain menjadi pengusaha muda, dia juga bekerja sebagai Dosen. Andika bercerita bahwa kompetisi usaha bengkel bisa sangat tidak sehat.

Banyak orang meniru kepala modifikasi bikinannya. Ia sendiri tak merasa khawatir akan masalah tersebut. Dia justru semakin tertantang untuk berinovasi. Andika memiliki 86 karyawan, hampir 40% pegawainya merupakan mereka yang putus sekolah, dan pengangguran.

Siapa sangka dia berhasil menjadi pengusaha muda bengkel modif. Andika sendiri juga bekerja jadi asisten Dosen di UTY sejak Semester 2. Pihak kampus sendiri tidak bermasalah dirinya aktif dalam wirausaha. Mereka memberi semangat dan menyarankan Andika memberi motivasi ke mahasiswa.

Dia sangat bersyukur bahwa UTY memberikan peluang. Mereka lah yang mendorong dirinya untuk berwirausaha. Semangat makin menggebu walau kompetisi usaha tak sehat. Dia semakin banyak desain kepala motor baru. Tidak hanya kepala motor, aneka aksesoris lain juga diproduksi oleh Bolu Oto Work.

Ia ingin merambah cabang ke daerah lain. Rencana membuka 26 cabang di berbagai provinsi terbuka, juga termasuk membuka cabang di Filipina dan India. Alasan semakin kuat karena pesanan datang dari berbagai daerah. Andika semakin mantab membuka cabang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Bengkel utama milikinya telah memiliki luas 1000 meter persegi. Pelanggan datang ke bengkel tak hanya pribadi. Mereka tak jarang datang bersama komunitas kendaraan bermotornya. Dia buktikan bahwa kepuasan pelanggan selalu terjaga.

"Kalau ada retakan sedikitpun, apalagi ketika dipasang kami ganti," tutur pengusaha muda ini.

Andika juga tak membedakan pelanggan dari jumlah pesanan. Mau eceran ataupun grosir akan dia layani baik- baik. Semua dilayani maksimal, itulah kunci mengapa Balu Oto Work semakin dicintai, selain fakta usahanya selalu belajar dan berinovasi.

Sejak 2011, dia telah membuat dua divisi, yaitu modifikasi full body dan khusus kepala motor saja berbahan fiber glass. Dia meyakinkan bahwa bisa mofifikasi semua motor. Pelanggan hanya tinggal bawa mesin dan rangka ke Jalan Pramuka, Umbulharjo, Yogyakarta.

Andika mematok tarif Rp.7- 9 juta per- motor untuk modifikasi. Pelanggan datang dari berbagai daerah sampai diluar Jawa. Semua pelanggan akan dilayani karyawan secara ekslusive. Bila semua karyawan sibuk, Andika tidak akan menerima pelanggan lagi daripada mengecewakan.

Usaha Minyak Atsiri Wirausaha Antonius Dian Feryanto

Profil Pengusaha Antonius Dian Feryanto


usaha minyak atisiri
 
Antonius Dian Feryanto bukan tipikal pengusaha pada umumnya. Usaha minya atsiri memiliki aspek kerumitan. Tak sembarangan orang menjalankan wirausaha seperti ini. Fery memang tipikal yang ahli di bidang kimia.

Dia mendirikan CV. Pavettia Kurnia Atsiri yang bergerak dalam aneka macam. Utamanya dia dan beberapa rekan mengolah minyak atsiri. Mereka berawal dari penyulihan minyak atsiri dalam skala kecil. Semua bermula dari pabrik menengah yang nampak sibuk mengolah minyak.

Minyak atisiri berguna untuk esense parfum, minyak angin, dan sabun. Produk yang bahan utama terbuat dari metabolit tumbuhan. Walau bernama atsiri tetapi bersumber dari aneka tanaman, seperti daun nilam dan batang kayu manis.

Fery menambahkan kini usahanya termasuk pembuatan alat suling dan penyewaan. CV. Pavettia juga menjadi pemilik perkebunan untuk minyak astiri. Cara pengekstrakan minyak gampanya bersumber dari aroma. Tanaman tertentu akan mengeluarkan senyawa terpenoid hasil metabolisme.

Bagian tanaman yang mengandung aroma lantas disuling. Melalui proses distilasi hasil sulingan lalu menjadi minyak atsiri. Perusahaan Fery menjual ke umum maupun untuk kebutuhan perusahaan. Di umum, kamu bisa membeli ukuran 5ml dan 10ml.

Alumni ITB yang tidak hanya berhenti dalam pengolahan minyak. Dia tidak hanya berhenti menjual bahan bibit. CV. Pavettia juga ikut terjun ke bisnis kosmetik dengan minyak astiri. Harganya sangat tinggi bila diolah menjadi minyak esensial murni.

Perusahaan miliknya mungkin masuk ke pelosok daerah. Tetapi itu bukan karena apa, melainkan demi mendapatkan kemurnian air dari aliran sungai. Di tempat tersebut sekaligus menjadi kebun untuk tanaman. Pabrik yang tampak berlantai tanah dan bebatuan, yang ruanganya terbuka di alam.

Minyak atsiri juga digunakan sebagai bahan baku dupa dan minyak gosok. Fery menunjukan bahwa ini sangat prospektual bagi mahasiswa ITB. Pabrik CV. Pavettia Kurnia Astiri terletak di kawasan JL. Curuq Cijalu Subang, Jawa Barat.

Sepatu Batik Bisnis Unik Tyas Ajeng Nastiti

Profil Pengusaha Tyas Ajeng Nastiti


pengusaha sepatu batik
 
Sempat sepatu batik miliknya ditolak Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas). Tyas Ajeng Nastiti memilih untuk melanjutkan sampai jauh. Dia memilih berbisnis dengan hasil penemuan tersebut. Bahkan ia sempat ikut ajang Wirausaha Muda Mandiri 2012, yang pada akhirnya mengakui hasil karya Tyas.

Bisnis yang cuma berjalan setahun berhasil menang lomba. Sempat kecewa karena gagal di Pimnas ternyata harus diambil hikmah. Dia memenangkan hadiah Rp.50 juta untuk suntikan modal. Tyas semakin bersemangat berkreasi menjadikan ini bisnis serius.

Tyas berkarya sepatu etnik berbahan batik khas. Ia pun menamai bisnisnya sebagai Klasik Footware, yang menghasilkan aneka sepatu bermotif batik. Dia bersama beberapa teman menarget kalangan anak muda. Aneka produk footware memang tengah digandrungi anak- anak muda kita.

Pengusaha Muda Sepatu Unik


Produk Klasik Footware mengusu teman tradional lekat. Ambil contoh produk sepatu anjani tenun, telaga tenun, janita dan kiara. Mahasiswi Semester awal yang mengambil Desain Produk Industri, di Institute Teknologi Sepuluh November. 

Dia mengatakan semua bermula dari bisnis sebelumnya, Meralodist. Beda dengan Klasik Footware, bisnis yang ini berhasil memenangkan ajang Pimnas kampus. Tyas membuat aneka aksesoris dari bahan bekas. Gagal masuk Pimnas ini dimaknai sebagai pembelajaran sekaligus keberuntungan.

Hobi mengoleksi sepatu sedikit banyak menginspirasi dirinya. Sebulan dia bisa membeli 1- 2 pasang. Dia lalu berpikir apa banyak orang seperti dirinya. Apakah benar berbisnis seperti ini menghasilkan keuntungan.

"Berarti bisnis ini (sepatu) sangat menjanjikan," tuturnya.

Pemikiran tersebut yang membawa dia berbisnis sepatu. Akhir tahun 2011, bermodal uang Rp.6,7 juta,  maka dia mulai membangun bisnis sepatu Klasik Footware. Otak bisnis Tyas memang telah terlatih sejak dahulu.

Dia sudah mulai berbisnis semenjak kuliah. Ketika di Desain Komunikasi Visual, Tyas mulai fokus mengerjakan beberapa usaha yang cukup bagus. Semenjak Semester 4, dia telah mencoba berbisnis padahal kesibukan kuliah makin mencekik.

"Waktu itu saya membuat aksesoris dari barang daur ulang," imbuhnya.

Bisnis aksesoris ternyata tidak bertahan lama. Ia mengalami tidak keberkembangan atau stuck. Ini bukanlah karena bisnisnya gagal ya. Dia merasakan bisnis ini susah dikerjakan sendiri, dari produksi sampai marketing. Tyas menyadari tidak sanggup lagi karena cuma dia yang mampu.

Sepatu lah yang memberinya inspirasi berbisnis kembali. Kali ini beda, ia mau menggandeng rekan bisnis, dan mewujudkan semua gagasa dalam bisnis plan. Ia menggandeng rekan dan mulai merekrut tim marketing.

Usaha Tak Boleh Minder


Melalui kampus turunlah dana Rp.6,7 juta untuk modal usaha. Ini bukan cuma- cuma tetapi bentuk kepercayaan dari Dikti Departemen Pendidikan Nasional. "Ketika saya meriset tentang batik, saya menemukan bahwa motif batik di Indonesia jumlahnya ribuan," ia menjelaskan.

Itulah landasan membuat footware bertema batik. Desainnya akan tidak monoton karena selalu ada motif baru. Ia tinggal mengembangkan jenis sepatu. Tyas juga menambahkan batik telah ada di hati masyarakat. Warna- warna yang digunakan "ngejreng", yang sangat cocok digunakan kamu hawa.

Inilah keunggulan berbisnis sepatu Klasik Footware. Untuk mengatur modal yang minim dibutuhkan cara unik. Ia mengakali produksi lewat sistem kimtraan. Tyas mendapatkan info mengenai tukang sepatu di Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka diajak kerja sama dalam produksi dan juga pemasaran.


Ia tak minder walaupun modal sedikit. Meskipun dipasaran sepatu batik telah banyak dijumpai. Tyas tak gentar sedikitpun. Kepercayaan dirinya tetap menggelora, yakin bahwa produk Klasik Footware akan berada di tahu masyarakat. Ia mengatakan memiliki desain sendiri sehingga dijamin berbeda.

Tyas mengatakan mereka hanya mengaplikasikan kain. Bukan keseluruhan produk dibuat dari bahan kain batik. Adapula strategis bisnis lain yang ia kembangkan dalam marketing. Pokoknya dia selalu memiliki strategis bisnis dan bekerja keras untuk berhasil.

Dia mulai membangun relasi baik dengan para tukang. Ini terbukti mempermudah lahirnya workshop sendiri. Pola kemitraan baik membuat pesanan puluhan pasang terpenuhi. Tyas juga bisa menjadi sosok desainer sekaligus. Perlakukan baiknya membuat para tukang mudah diajak bekerja sama.

Produksi lancar membuat value dibanding produk sejenis. Alhasil Tyas mampu menaikan pendapatan penjualan. Kini Klasik miliknya telah menjual tidak hanya di offline. Lewat toko online yang dapat dikunjungi www.klasikfootware.com, Tyas memajang aneka jenis produk yang menarik mata kita.

Dia memanfaatkan toko online untuk menjangkau lebih luas. Tetapi Tyas tidak melupakan marketing offline. Perpadua keduanya membuat bisnis Klasik tak sebatas Jakarta. Ia bisa merambah kota- kota lain diseluruh penjuru Indonesia.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba