Pengusaha Warnet Gue Salman Aziz Alsfadi

Profil Pengusaha Salman Aziz Alsfadi


 
Cukup bermodal berusaha dan kreatifitas, bukan uang. Pengusaha warnet ini bernama Salman Aziz Alsfadi. Bisnis tanpa modal dibuktikan oleh pria bernama Aziz  Bermula dari jualan nasi goreng hingga buku foto kopian, bisnis Salman pun mulai berkembang ke mana- mana.

Seolah ia menemukan feeling -nya, aneka bisnis kemudian dilakoni tanpa beban. Sebut saja bisnis penyewaan komputer, toko foto, laundry, dan bahkan usaha salon. Modal Aziz bukan sekedar uang, melainkan kejelian dan kemampuan untuk membaca peluang.

Tak percaya? Berikut cerita sang pengusaha muda yang kreatif dimanapun. Ini kisah pemuda yang berhasil memangkan Wirausaha Muda Mandiri 2007.

Bisnis Pertama


Begini kisahnya, suatu hari di tahun 2003, dia sebagai siswa SMU Insan Cendekia sekolah berasrama (boarding school) di Serpong, Salman dan kawan- kawannya tak jarang merasa bosan. Mereka jenuh akan menu makanan di asrama. Ingin rasanya ia mengajak teman- teman menyantap menu lain.

Mau mencoba makanan lain tetapi tidak bisa, di sana tidak ada kantin yang menjual jajanan untuk mereka. Semuanya telah tersedia tetapi monoton lauknya itu- itu saja. Keadaan inilah justru yang mulai menggelitik naluri bisnis Salman.

la menanyakan siapa saja yang ingin membeli makanan di luar asrama, lalu bersama dua rekannya, mereka  naik sepeda 3 km mencari tukang nasi goreng. Salman mencari yang murah dan enak, dan menjualnya lagi kepada pemesan tadi. Usaha yang tidak membutuhkan modal cukup sekali saat itu saja.

Tentu untungnya sedikit tapi tetap dilakukan karena passion. Pengusaha muda Aziz membeli nasi goreng di luar kemudian dijual untuk mereka yang di asrama. Wajah Salman lalu menerawang ketika cerita ini dibuat, namun bibirnya menyungging senyum.

"Saya mengingat peristiwa itu seolah seperti baru kemarin," katanya.

Salman terobsesi menjadi wirausahawan muda sukses. Itu semua gara- gara buku entrepreneurship, ketika masih duduk di bangku SMU, bapaknya membelikan dia buku berjudul Rich Dad Poor Dad, karya fenomenal dari Robert T. Kiyosaki.

Ia mengaku menemukan pilihan hidup yang sangat menarik karena buku itu; pilihan untuk menjadi pengusaha.

"Sebagai manusia saya tidak ingin untuk mengikuti arah arus yang ditetapkan sejumlah orang. Saya ingin menciptakan arus itu sendiri," ujarnya.

Tamat berasrama, pria kelahiran 11 Februari 1986 ini, tak lantas langsung berbisnis, ia memilih berkuliah terlebih dahulu di Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UL. Aziz melihat buku- buku di Fasilkom yang be­gitu besar dan tebal, serta jumlah mahasiswanya yang mencapai ratusan.

Hingga muncul gagasan untuk berjualan foto kopian buku. Dia ingin berbisnis buku foto kopian ini ia membagikan selem­bar kertas kepada teman-temannya sesama mahsiswa. Isinya, "Bagi yang ingin pesan buku foto kopian silakan tulis di sini." begitu singkat.

Karena jumlah mahasiswa Fasilkom tiap angkatannya cukup besar. Maka jumlah mahasiswa yang memesan buku foto kopian ini cukup ba­nyak. Uang muka pesanan dijadikan modal Salman, tak perlu uang untuk membeli buku aslinya, kemudian tinggal difoto kopi saja.

Mudah kan? Pembayaran kepada tukang foto kopi akan dilaku­kan secara mencicil, seiring dengan pelunasan biaya buku foto kopian, Aziz mampu mengatur laju uang modal. Memang sedikit repot sih tapi nyatanya hasilnya itu lumayan.

"Sebagai manusia saya tidak ingin mengikuti arah arus yang ditetapkan sejumlah orang. Saya ingin menciptakan arus itu sendiri." kata Salman.

Pengusaha Muda Mandiri


Salman tak pernah berhenti mencari peluang usaha baru. Dia tiba- tiba melihat kesempatan lain lagi, mahasiswa Fasikom membutuhkan komputer, jadilah ide bisnis baru muncul. Mahasiswa kala itu membutuhkan adanya komputer untuk mengerjakan berbagai tugas kuliah.

Kala itu, di tahun 2004, belum ada toko komputer yang menjual komputer murah bermerek. Yang ada hanyalah komputer rakitan, dan itu pun dijual di glodok. Lebih repot lagi karena pembeli harus beli secara tunai dan itu memberatkan mahasiswa.

Di semester 2 itulah bisnis komputernya mulai dijalankan. Dia lalu menjual komputer rakitan murah sendiri yang dibelinya di pasar Glodok. Kemudian dibuatkan selebaran- selebaran foto kopian yang disebar hingga ke kampus UI, halte- halte bis, dan fakultas- fakultas di lingkungan UI.

Isi foto kopia tersebut bunyinya "jual komputer murah". "Sebelumnya, hampir setiap Minggu saya berkeliling Glodok mencari toko yang menjual komputer dengan harga paling murah," kenangnya.

Ketika pesanan itu datang ia tinggal menelpon toko lalu menyampaikan spesifikasi yang dibutuhkan agar segera dirakit, lalu diambilnya ke Glodok. Keunggulan seorang Salman untuk merubah masalah menjadi kesempatan memang benar adanya.

Di jaman sekarang internet sangatlah dibutuhkan, dan jadilah ini kesempatan baik baginya. Sukses berbisnis komputer Salman tertarik bisnis internet.Tepatnya dia lalu membuka warung internet. Ia mengajukan proposal agar satu ruangan di asrama dijadikan warnet, dan usulan itu diterima.

Nah, masalahnya kini ada pada permodalan dan modal membuka warnet tidaklah sedikit. Biayanya sekitar Rp.34 juta, uang tersebut didapat dari pinjaman 19 juta dan sisanya Salman sendiri, yang menyisakan tanggung sekitar 19 juta lagi. Maka dia harus memutar otak untuk mendapatka sisanya.

"Tetapi waktu itu saya hanya punya 9 juta dari hasil usaha yang dulu. Yang 10 juta belum tahu harus dari mana," kenang pengusaha warnet ini. Dia kemudian menyampaikan rencana bisnis itu kepada orang tuanya.

Gayung pun bersambut, untunglah orangtuanya sangat mendukung pola berfikir Salman yang ingin wirausaha. Sukses membuka warnet meberi efek ganda kepada Aziz. Apa itu? Yang pertama, dia mendapatkan uang yang dibutuhkannya untuk modal untuk kedepan.

Kedua memotivasinya untuk berusaha habis- habisan. Tentu dengan maksud menutup modal yang dipinjam; dia harus sukses begitulah kiranya. Ya hutang Aziz masih menumpuk walau bisnis warnet masih jalan. Tetapi itu tidak masalah karena keuntungan mengalir stabil. Dia cuma butuh eksta penghasilan.

"Kalau saya gagal saya akan kelaparan, maka saya tak boleh gagal," tegas Salman.

Warnet ini kemudian diberi nama Warnet Gue. Berharap pelanggan merasa memiliki dan terus mengunjunginya. Pelanggan warnet Aziz tentulah mahasiswa di sekitar kampus. Pengusaha muda Salman terus melakukan promosi luar biasa diluar kampus. d

Dia meletakkan berbagai brosur di halte bus dan fakultas lain. Tujuannya agar warnet tersebut tidak hanya digunakan mahasiswa sekitar saja. Sukses di asrama di universitas UI, ia melebarkan sayap ke luar wilayah kampus, dan terbayarlah hutang- hutang Aziz.

Menghadapi Persaingan Bisnis


Aziz membuka dua gerai baru Warnet Gue di 2006. Dia membuka gerai di dua di sekitar stasiun Universitas Pancasila. Rupanya ini tak disukai pesaingnya, ada usaha terntu untuk menjegal bisnis Salman. Inilah resiko menjadi pengusaha tetapi kamu harus yakin untuk tetap berusaha.

Mereka tidak suka ketika Salman menjual servis printing 300 per- lembar sedangkan mereka menjual 400 per lembar. "Saya menolak mengikuti kemauan mereka untuk menaikkan harga," ungkap Aziz kepada pewarta. Ini lalu dianggap perlawanan dengan mayoritas usaha sejenis.

Ternyata penolakan ini berbuntut panjang loh. Di malam hari, warnetnya selalu didatangi 10 preman berclurit. Saat itu kebetulan Salman tak ada ditempat. Tapi setelah mendengar hal itu ia langsung bergegas kesana. Ternyata para preman sudah raib, Salman langsung mengadukan hal ini ke pak RT.

Seketika itu pak RT mengumpulkan seluruh pengusaha warnet untuk berdiskusi. Para pesaingnya menuntut Salman menyamakan harga atau rusuh. Akhirnya, Salman menurut juga, "Saya sekarang percaya orang bisa bunuh- bunuhan gara- gara uang seratus perak," katanya.

Warnet cabang kedua ini tak berjalan mulus. Berbagai teror dan percobaan perampokan juga kerap terjadi. Hingga Aziz terpaksa menutup gerai kedua ini. Namun hal ini tak membuat Salman jera. Ia terus melebarkan sayapnya dengan membuka cabang- cabang lain.

Warnet Gue tersebar sampai ke Serpong, Pamulang, Ciputat dan lain- lain, yang kesemuanya masih wilayah Tangerang. Dalam waktu dekat, Aziz akan merambah ke desain web, servis computer dan akan membuat pelatihan ilmu teknologi informasi. 

Baginya berbisnis itu layaknya berpetualang di laut lepas. Bayangkan kamu tengah mencari- cari harta karun ditengah bahaya dan ketidak pastian. Itu membuat diirnya selalu ingin coba-coba dan bereksperimen kapan saja.

Banyak diantara percobaan itu gagal dan tidak dilanjutkan, namun itu tak masalah. Namun kini, pengusaha warnet Aziz telah menemukan bisnis inti, yaitu ada bisnis di bidang teknologi informasi. Ia telah memiliki visis dan misi ke depan, baginya optimisme akan masa depan telah di depan mata.

Sumber: wirasmada.blogspot.com

Usaha Salak Pondoh Purwobinangun Salacca

Profil Pengusaha Mahasiswa UGM


umkm salak purwobinangun

Tidak mudah petani mengembangkan hasil budidaya mereka. Usaha salak pondoh Purwobinangun Salcca. Mereka harus berhadapan dengan para tengkulak. Petani kita juga selalu dihadapkan dengan harga fluktuatif. Terutama ketika panen raya salak yang otomatis menjatuhkan harga jual.

Yogyakarta dikenal memiliki salak kecil yang manis. Masyarakat suka budidaya salak pasalnya bisa berbuah tiap tahun. Pada musim panen raya harganya akan jatuh tetapi mereka tak berhenti. Harga jualnya bisa anjlok Rp.700- 1000 per- kilogram.

UMKM Salak Pondoh


Kerugian petani sangat besar diatas biaya modal mereka menanam. Kerugian berlipat dari harga jual yang anjlok. Fenomena tahunan yang ditangkap oleh Mahasiswa Universitas Gajah Mada. Mereka berniat memberdayakan para petani salak. Masyarakat diajarkan mengolah salah menjadi olahan jadi.

Diperlukan pengolahan lanjutan agar terjadi nilai tambah. Dibawah binaan Miftahuduha dan timnya, maka berdirilah Pruwobinangun Salcca. Mulai sejak 2012 usaha berbentuk UMKM pengolahan salak dari Desa Purwobinangun, Yogyakarta.

Modal awalnya mereka mengeluarkan Rp.9.5 jutaan bersama. Mereka gunakan itu untuk membeli peralatan mengolah dan kemasan. UMKM yang merekrut usaha kecil lainnya, awal mereka merekrut tiga UKM, terdiri 10 anggota UKM Kerupuk Salak, Manisan Salak, dan Kerajinan Limbah Salak.

Purwobinangun Salacca menyerap 250 kg salak setiap bulan. Mereka mengolahnya menjadi manisan salak sejumlah 800 cup seharga jual Rp.5000, kerupuk salak 106 buah berharga Rp.10,.000, dan 100 kerajinan seharga Rp.7000.

Miftahudduha sebagai salah satu penggagas mengatakan: Bahwa bisnis salak masih memiliki potensi besar. Pengusaha muda hanya butuh menemukan produk sesuai dan pemasaran. Ia bersama rekan kemudian memperdayakan petani. Melalui sistem konyasi petani tak lagi terjebak permainan harga.

Tugas Miftahudduha nanti memasarkan produk tersebut ke toko oleh- oleh. Berbekal jaringan yang kuat baik petani maupun Purwobinangun Salacca untung. Bahan baku melimpah terutama dikalah panen raya. Purwobinangun Salacca sendiri memilih untuk membeli diatas harga yang jatuh.

UMKM ini menggaet banyak UKM kecil lain untuk bersama. Miftahudduha mengajak mereka untuk menaikan tingkat produksi. Adapun standarisasi disiapkan Purwobinangun Salacca, guna memastikan hasil yang diproduksi sama. Mereka juga memastikan standar dapat ditiru oleh kelompok lain di luar Yogya.

"Kami berharap metode pengolahan salak dengan pemberdayaan masyarakat ini bisa diterpakan di tempat lain," tuturnya kepada bisnis.com

Salah satu usaha yang menarik hati adalah manisan salak. Dipelopori oleh Miftahudduha dengan para mahasiswa UGM lain. Mereka melakukan pelatihan khusus kepada para ibu. UKM bernama Manisan Salak Salwa, dengan produk unggulan manisan salak, enting, dan kerupuk salak.

Pelatihan 2013 tersebut merupakan salah satu cara Purwobinangun Salacca. Untuk mendorong hasil penjualan mereka pun berbisnis online. Produk manisan tersebut menjadi salah satu andalan dari usaha mereka. Walau kecil tetapi usaha salak pondoh ini menghasilkan pundi- pundi uang tambahan.

Nelayan Menang Wirausaha Mandiri Projo Mino

Profil Pengusaha Fachrudin Projo Mino


nelayan projo mino
 
Bank Mandiri tak hanya peduli akan keberadaan individu muda berprestasi. Melalui ajang ini nelayan menang wirausaha muda mandiri 2014 silam. Mereka Projo Mino, kelompok nelayan yang dimotori dua orang pemuda, bernama Fachrudin Al Rozi dan Samsudji Rokmad.

Mereka menjadi motor bagi nelayan lain melalui Projo Mino. Diharapkan melalui kelompok nelayan ini, kelak para pencari ikan akan lebih pandai dalam pengolahan hilir. Mereka juga diharapkan sadar pentingnya merawat lautan. Caranya adalah dengan mengajarkan cara tangkap berbasis lingkungan.

Projo Mino juga mengajarkan manajemen penangkapan dan pengolahan. Mereka ingin meningkatkan kesejahteraan nelayan pesisir pantai selatan, Bantul. Ini diharapkan agar nelayan terlepas dari jerat rentenir. Fachrudin bercerita kelompok mereka bermula di tahun 2011, dan beranggotakan nelayan.

Melalui KUB Projo Mino, dia berharap nelayan dapat diperdayakan secara mencari ikan, sedangkan para ibu dapat mengolah dan memasarkan. Jadi Projo Mino ini bukan sekedar mengedukasi keluarga nelayan, tetapi juga memberikan solusi apa yang dapat dilakukan.

Pengusaha Jaman Now


Fachruin berniat meningkatkan daya jual nelayan kita. Sam menambahkan mengikuti ajang seperti dari Bank Mandiri, tidak lain sebagai penyemangat. Nelayan menang wirausaha mandiri mungkin tak disangka. Bank plat merah telah memberikan jalan bagi wirausahawan muda dibidang kelautan.

Kewirausahaan tak selalu harus membuat bisnis fenomenal. Tidak pula tentang pengusaha membuka usaha keren. Kedua pemuda ini ingin membuktikan bahwa kelautan adalah kita. Sektor laut harus jadi andalan bangsa Indonesia.

"Sesuai dengan visi- misi pemerintahan Jokowi- JK yang berkeinginan kuat mewujudkan kedaulatan maritim," tutur Sam.

Alkisah mahasiswa Jurusan Perikanan Universitas Gaja Mada, berniat menciptakan bisnis mengolah ikan. Pihak universitas sendiri memberikan Fachrudin penghargaan Inovator Kewirausahaan 2006. Ia juga mendapatkan penghargaan Insan UGM Berprestasi bidang penilitian 2007.

Mengapa pemuda tersebut begitu berprestasi tentu karena passion. Ia memiliki passionya di bidang kelautan. Lewat CV. Mina Lara, ia membantu pengolahan ikan kawasan Bantul, DIY. Dia kemudian menjadi salah satu penggagas Projo Mino, yang menang perlombaan Wirausaha Muda Mandiri 2014.

Dia juga bersama mengelola kapal Inka Mina yang melaut di laut Yogya. Kapal Inka Mina tersebut menghasilkan 170 ton hasil laut, mulai dari cakalang, layang dan ikan tuna. Tentu Fachrudin tidak mungkin mengerjakan itu sendirian.

Mereka adalah kelompok usaha yang anggotanya tersebar di berbagai kecamatan. Projo Mino diharapkan melepaskan ketergantungan akan pengepul. Mereka mengerjakan dari hulu sampai hilir perikanan Bantul. Mereka berharap nelayan lokal berjaya dan mandiri untuk mengelola lautannya.

Wirausaha Muda Sosial Menolong Anak Jalanan

Profil Pengusaha Nezatullah Ramadhan


pendiri yayasan nara kreatif
 
Wirausaha muda sosial sangat dibutuhkan Indonesia. Sosok yang kreatif menyelesaikan masalah di sektor real. Mereka yang membuka lapangan pekerjaan bagi orang banyak, atau menyelamatkan lingkungan. Butuh pengusaha muda yang giat dalam pengembangan pendidikan untuk anak jalanan.

Inilah Nezatullah Ramadhan penggagas Nara Kreatif, yang bermula dari keprihatinannya akan dunia anak- anak. Mereka yang harusnya masih disibukan belajar dan bermain. Neza prihatin karena hidup mereka hanya bekerja, mencari sesuap nasi dari mengamen tanpa takut bahaya.

Jalanan itu kejam memang sudah menjadi idiom kehidupan mereka. Banyak kejahatan menimpa para pengamen jalanan. Mereka yang meminta- minta tak sedikit menjadi objek pemerasan. Orang tua mereka yang mempekerjakan anak, dengan dalih tak memiliki uang merenggut masa kecil mereka.

Neza membangun Nara Kreasi sebagai wadah anak pada 2010 silam. Bersama beberapa teman dari Politeknik Negeri Jakarta, membangun sistem dan pendidikan untuk para pekerja cilik. Tujuan Nara Kreatif ialah melepaskan mereka dari masalah sosial berbelit.

Usaha untuk Pembangunan


Wirausaha muda sosial yang berusaha membangun. Nara Kreatif mengajak anak- anak ikutan aneka kegiatan. Mereka mengajak anak- anak itu untuk membuat aneka kerajinan. Ia mengajarkan mereka menghasilkan uang dengan cara lebih baik. Tetapi semua membutuhkan proses hingga anak- anak itu tersadarkan.

Hal pertama yang mereka pertanyakan ialah menghasilkan uang. Anak- anak jalanan tak mau kalau membuat waktu. Kehidupan mereka adalah bekerja untuk mencari makan. Nara Kreatif lalu mencoba menggugah jiwa kecil mereka untuk bermain, sembari bersenang- senang juga menghasilkan uang.

Jika mengenang semua berkat sang ibu yang mengajar. Sebagai guru menerangkan kepada Neza kecil keadaan sekolah. Itu tertanam dalam benak Neza kecil hingga dewasa kelak. Rasa simpatinya akan anak- anak jalanan berbuah hasil.

"Mendiang ibu bercerita keadaan anak- anak di sekolah... Saya ingin memberikan wadah atau tempat mereka untuk berkreatifitas dan meninggalkan kegiatan di jalanan," tutur pengusaha muda ini.

Ingin rasanya mengajak mereka menikmati hidup layaknya anak- anak. Berkat kerja keras serta ia yang selalu berkreasi. Nara Kreasi berhasil meluluskan banyak anak jalanan, kemudian berkuliah sampai lulus. Melihat mereka bekerja di tempat yang baik menjadi kepuasan tertinggi Nara Kreatif.

Mengajak para anak jalanan tidaklah mudah butuh kepercayaan. Kehidupan jalanan seolah merubah mereka menjadi curiga. Aneka upaya dilakukan Neza untuk membiayai Nara Kreatif di awal- awal. Ia harus memastikan bahwa di sana, para anak jalanan juga bisa menghasilkan uang sendiri.

Produk kreasi Nara Kreatif meliputi bermacam kerajinan daur ulang. Mereka merubah sampah kertas yang dijadikan perangkat. Butuh waktu sampai Nara Kreatif mampu menjual, tetapi tidak ada perjuangan yang sia- sia, bertahap mereka menghasilkan uang sendiri.

Neza dan rekannya, Dian Hardiyanti Karren, akan memasarkan aneka peralatan meja kantor, dekorasi ruangan, kemasan produk, paper bag dan lain- lain. Nara Kreatif didirikan mereka di Jalan Keramat Jati, Jakarta Timur, yang telah besar dengan asrama untuk anak asuh bersekolah.

Nara Kreatif membangun sanggar Rumah Kreatipreneur, dan bekerja sama dengan Sekolah Master Terminal Depok, untuk mengadakan pendidikan. Mereka juga menyelenggarakan ujian paket A, B, dan C. Banyak badan yang membantu hingga berdirilah Yayasan Nara Kreatif sampai sekarang.

Prinsip yayasan bukanlah memberdayakan anak- anak. Melainkan menyadarkan mereka untuk bisa bermimpi. Bayangan Nesa adalah mereka akan membuka unit- unit usaha di daerah lain. Anak asuh Nara Kreatif beberapa sudah, mereka berwirausaha membangun bisnis kuliner untuk awalan.

Wirausaha muda sosial bukan sekedar membuat uang tetapi memutar. Jika komersil memutar uang untuk lebih banyak menghasilkan uang. Yayasan ini memutar uang untuk merangkul lebih banyak anak jalanan. Mereka mampu menghasilkan Rp.60 juta perbulan yang bukan mereka sebut sebagai profit.

Mereka juga membangun kurikulum sendiri untuk SD hingga SMA. Berkat kerja kerasnya ditambah dengan kreatitiftas, Neza menjadi jawara Wirausaha Muda Mandiri 2014, dan Duta Nasional 2014. Dian sebagai co- founder juga diberi anugrah Pemenang Favorit 2014 Women of Worth Loreal Paris.

Mycotech Bisnis Startup Bahan Bangunan Alternatif

Biografi Adi Reza Nugroho


pendiri mycotech


Bayangkan kita memakai sisa media tanam menjadi sampah. Sebuah bisnis startup bahan bangunan alternatif dari sampah. Ketika membudidayakan jamur tiram, petani memakai bahan sekam padi, kulit kacang, atau serabut kelapa. Bahan tersebut kemudian dibuang karena yang dipanen hanya jamurnya.

Pengusaha muda bernama Adi Reza Nugroho mencoba merevolusi itu. Ia membangun Mycotech guna mendaur ulang limbah jamur. Adi membuka solusi baru bahan bangunan, furnitur, dan interior, bersama Tim Institut Teknologi Bandung dan Universitad Padjajaran, mereka melalukan penelitian.

Ide liar mereka berkembang hingga menemukan sisa jamur tiram. Pengembangan material ini berasal dari analisa mereka. Di tahun 2013, bermula mereka melihat banyak petani jamur tiram membuang media tanam. Mereka menumpuk dibuang begitu saja sebagai sampah, dan tidak diberdayakan.

Wirausaha Sosial


Padahal limbah pertanian tidak berbahaya bagi masyarakat. Kebanyakan organik sehingga memiliki potensi untuk lain. Ide liar muncul dipikiran Adi untuk bisnis startup bahan bangunan alternatif. Dia berpikir membuat fermentasi ethanol sampai bahan bangunan dari sekam.

"Terdengar tidak masuk akal dan banyak dari anggota tim yang pesimis pada awalnya," ujarnya.

Kepada Youngster.id, Reza menyampaikan bahan bangunan dari limbah organik dan jamur. Dia lalu membuat prototipe material yang kuat, ringan, tahan api dan ramah lingkungan. Itu diolah menjadi genting atau panel untuk perabotan dan interior lain.

Namanya Mycotech bersumber dari istilah teknologi terinspirasi jamur. Mereka pun sudah membuat paten untuk teknologinya. Sejak September 2015, berdirilah PT. Miko Batera Nusantara, yang jadi indukan startup Mycotech yang memproduksi intertior dan desain ramah lingkungan.

Adi yakin memperkenalkan Mycotech sebagai alternatif bahan baku. Guna menggaet banyak orang, ia bersama tim membuat video edukasi melalui sosial media. Tidak disangka videonya akan ditonton lebih dari sejuta pasang mata. Viral bahkan ditonton oleh warga dunia yang memberi motivasi lebih.

Bahan baku Mycotech sendiri sangat banyak mencapai 120 juta ton. Itupun berasal dari Indonesia yang telah darurat sampah. Wirausaha sosial bukan sekedar mencari keuntungan semata. Mycotech bisnis bahan bangunan alternatif milenial.

Mereka memungkinkan membuat rumah yang berbahan berkelanjutan. Produk mereka pasti aman berbahan organik seperti serabut. Dibanding bahan sekarang yang mengandung kimia karsikogenik atau beracun. Bahan bangunan dan furnitur kita sekarang tidak aman karena bisa meracuni anak.

Termasuk bahan perekatnya tidak aman butuh altenatif. Mycotech berbahan murah dengan kualitas yang sama. Adi mengatakan bahwa semua berkat ketidak sengajaan. Tahun 2013, tim Adi melihat fenomena jamur memperkuat media tanam, atau baglog seperti batang kayu yang kokoh.

Sejak kuliah alumni ITB ini memang gemar membuka aneka usaha. "Saya beberapa kali mencoba usaha, hingga empat jenis usaha dilalui. Saya pernah jadi tukang foto dan video, hingga berjualan sayur keliling di akhir pekan."

Suatu hari ia mengajak teman- temannya berbisnis jamur. Semua berkat satu teman Adi nyeletukn bahwa orang tuanya memiliki bisnis jamur. Berdasarkan pengalaman budidaya, ditemukan tidak cuma jamur yang dihasilkan, tetapi juga baglog yang mengerah layaknya bahan bangunan.

Adi menyandari perubahaan tersebut dan mulai ide gilanya. Ia lalu merriset mengenai nasib si baglog selepas budidaya. Ternyata mereka hanya dibuang layaknya sampah. Jumlahnya pun tidak sedikit mencapai tonase. Adi lantas membayangkan mereka menjadi bahan baku alternatif untuk bangunan.

Bisnis Bahan Bangunan Alternatif


Siapa sangka gubuk budidaya jamur tersebut menyembunyikan berlian. Itu menjelama menjadi lab penelitian untuk masa depan. Butuh enam bulan riset hingga Adi meyakini tesis di atas. Bahwa jamur layaknya tempe terfermentasi. Baglog yang dihasilkan akan terikat serat- serat fermentasi hasil jamur.

Baglog menjadi kokoh yang diyakini bisa menjadi bahan alternatif. Pemuda kelahiran 17 Maret 1989, yang ngoto walaupun satu per- satu temannya mundur. Dia juga mendanai penelitian dengan dana yang seadanya. Proses penelitian ternyata sangat sulit, kegagalan terus ditemui memakan biayak tak sedikti.

"Sudah kita uji coba, satu bata jamur bisa menahan tekanan setara sepuluh mobil, namun 300 kali lebih fleksibel dari baja," pengusaha muda ini menerangkan.

Modal yang dikeluarkan tidak sedikit mencapai Rp50 juta. Awalnya tim Adi cuma memanfaatkan dana dari pribadi. Sistem boothstraping digunakan untuk membiayai penelitian. Kegagalan berlanjut sampai tahapan prototipe berhasil.

Di tahun 2014, ada Dr. Hardaning Pranamuda yang tertarik akan penelitian mereka, sampai memberi dana tambahan. Ia merupakan pihak dari Laboratorium Bio Industri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang mengeluarkan pembiayaan sampai Rp.1,3 miliar untuk penelitian lanjutan.

Yakin akan kemapuan produk andalan mereka, Mycotech tak segan untuk turun mengikuti kompetisi wirausaha. Mereka ikutan Wirausaha Muda Mandiri 2014, dan menjadi runer up, membawa uang untuk pendanaan. Pada tahapan ini mereka menjual ke masyarakat melalui sistem pre- order dahulu.

Sebagai perusahaan startup mereka mengalami kesulitan. Pengembangan produk lewat penelitian butuh pendanaan. Ekosistem Indonesia pun belum mapu menangani pengembangan produk. Fasilita perlindungan kekayaan properti rendah. Adi menganggap ini memeperlambat produk dipasarkan keluar.

Produk mereka disebut BIOBO perekat misela jamur. Perjalanan pengembangan 6 tahun banyak sekali menghasilkan kegagalan. Namun ia berprinsip "Presistance never lie" hingga terus bekerja. Dia mengatakan pengusaha tak selalu mengajar keuntungan.

"Awalnya yang membuat saya terinspirasi ialah untuk kaya raya. Ternyata hal itu tak mudah," ujar dia.

Adi mulai merubah pola pikir menjadi orang kaya. Pengusaha muda ini mulai terinspirasi apa yang dihasilkan berguna. Membayangkan produknya dipakai orang banyak lebih memuaskan. Adi sangat puas ketika bisa membantu orang lebih banyak.

Dalam satu meter persegi, Mycotech membutuhkan 16,5 kilogram limbah pertanian dari budidaya jamur. Perusahaan startupnya mampu memberikan penghasilan tambahan 50% untuk petani. Itupun masih banyak bahan baku yang tersedia, bayangkan kita punya 120 ribu ton limbah jamur.

Produksi Mycotech telah dijual menyebar keseluruh penjuru Indonesia. Di Papua yang dikenal bahan bangunan yang mahal, Mycotech hadir memberikan solusi. Mereka memberikan masyarakat bahan untuk develop sendiri. Itu bisa memotong biaya untuk pengiriman dan membuka budidaya jamur.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba