Penjual Prabotan Akar Kayu Jati Nur Ali

Profil Pengusaha Nur Ali




Namanya pengusaha pasti pernah gagal. Begitu juga Nur Ali, rejeki justru datang ketika dia iseng belaka. Kok malah menjadi bisnis menjanjikan kedepan. Pria yang dulu pernah berbisnis ayam potong ini. Gagal. kemudian iseng menaruh akar jati erosi di depan rumah.

Bisnis akar jati dimulainya lima belas tahun silam. Awalnya dia menirukan mencari akar jati, tapi bukan dijadikan kayu bakar seperti tetanggnya, dia taruh di depan rumah buat hiasan. "Siapa tau ada yang berminat (iseng)," kenang Ali.

"Saya menunggu beberapa hari, tak ada yang menawar," ucapnya. Akhirnya ada orang iseng membeli kayu jati itu. Uang Rp.65.000 masuk kantong buat akar kayu jati. Dia sempat diejek tetangga. Akar kayu yang item kusam tersebut dijual- jual, ngapain?

Niatnya berbisnis bukan mencuri. Ali cuek ketika mendengar cemooh tetangga. Mantan buruh tani, itu loh orang yang disuruh mengerjakan sawah orang lain, ini memang memiliki mental pengusaha karena sudah terbiasa gagal. Lambat laun dia menemukan akar jati tersebut bisa dipoles bukan sekedar glondongan saja.

Jujur akarnya itu keras, susah dibentuk, jadi baiknya dibiarkan begitu saja. Natural memang akar kayu itu sudah terlihat indah. Cukup dibersihkan dan diperhalus saja. Bentuknya sudah bagus, kalau beruntung dia dapat yang berbentuk hewan. Harganya lumayan dibanding bentuk biasa dipajang di depan rumahnya.

Cara mendapatkan akar kayu jati erosi, Ali datang ke tengah hutang, seizin PT. Perhutani sebagai pihak yang bertanggung jawa. Ali akan berjalan masuk hutan kawasan antara Ngawi, Madiun. Jarak dari rumahnya sekitar 100km dari rumah. Tahun ke tahun, bisnis Nur Ali makin bagus, tidak lagi bentuk standar biasa.

Ali menjual buat kursi, meja, bentuk jamur, dan aneka souvenir. Tapi benda itu masih setengah jadi yang mana dijualnya dari Rp.50 ribu sampai Rp.5 juta untuk ukuran besar. Harga akar jati erosi yang besar memang harganya lumayan yakni Rp.750 ribu sampai Rp.5 juta, untuk meja besar Rp1- 1,5 juta, kursi Rp.250- 500 ribu.

Souvenir dijual terjangkau yakni Rp.50 ribu, dimana tiap bulan dia memproduksi 1.000 buah souvenir ke berbagai daerah. "Kalau bentuk bagus, karakternya bagus, ada daya seninya, saya jual Rp.5 juta," ia lalu menambahkan. Selain dia, kini, tetangga Ali ikutan berbisnis sama bahkan membentuk paguyuban akar jati.

Untuk sementara ini, orang desan Ali menjual bentuk setengah jadi, tentu kalau bentuk jadi akan jauh lebih mahal harganya. Meskipun begitu perputaran uang bisnis ini ternyata sampai miliaran.

Bisnis Sepatu Kulit Mahasiswa Keterusan Suksesnya

Profil Pengusaha Jangkar Sri Kusumo Wibowo 



Kekuatan pengusaha muda satu ini adalah keberanian. Prinsip dipegangnya usaha dulu, tidak ada kata buat keraguan. Meskipun ada masalah, Jangkar Sri Kusumo Wibowo tetap usaha meskipun kegagalan pasti membayangi langkahnya. Dia tidak pernah takut berwirausaha.

"Bagi saya, yang penting action dulu. Saya tak mau ragu- ragu," paparnya.

Bisnis dicoba Jangkar adalah memproduksi sepatu kulit. Prospek bisnis ini nampak jelas. Kita tau bahwa sepatu sudah menjadi seperti kebutuhan pokok. Dilihar dari segi kegunaan, fashion, serta estetika maka sepatu tengah digilai anak muda.

Bahkan pria jaman sekarang rela. Mereka rela merogoh kocek untuk mengkoleksi sepatu. Sebuah hal yang tidak kita temui ketika dulu. Inilah coba diraih oleh industri sepatu lokal. Bagaimana caranya pengusaha muda seperti Jangkar mengambil celah kebutuhan anak muda -yang tergeneralis oleh perusahaan besar.

Perubahan trend tidak diikuti oleh perusahaan sepatu besar. Sementara mereka sibuk menebak pasar yang terlalu luas. Pasar lokal menjadi perhatian khusus Jangkar. Apalagi sebagai anak muda tentu dia lebih tau kesuksaan anak muda kita sendiri.

Pengusaha lokal jaya


Prospek cukup tinggi dilihat Jangkar. Pemuda 23 tahun ini ternyata mampu meraup untung jutaan rupiah. Ia mengaku tumbuh ide karena hobi. Dia memang hobi beli sepatu tipe leather footwear atau sepatu kulit. Ia tidak peduli mereknya. Sepatu lokal banyak dimiliki Jangkar tidak pilih- pilih merek.

Pembuatan sendiri mulai digeluti April 2012 silam. Awalan dia mensurvei pasar dulu, tidak langsung saja membuat produk. Dia mensurvei jenis apa yang cocok buat anak muda. Mencari tau sepatu macam apa yang dia sukai bukan cuma mengandalkan selera pribadi.

Dia kepikiran kesukaanya akan sepatu kulit. Lalu dia langsung aksi tidak pakai pikir lama. Mahasiswa dari Universitas Airlangga ini, langsung mencari siapa bisa bikin. Uang digelontorkan Jangkar ada Rp.8 jutaan dan jadi 32 pasang.

Per- pasangnya dia jual Rp.450 ribu sampai Rp.425 ribu. Dalam waktu dua bulan habis sudah barang dia buat. Omzetnya kemudian digunakan untuk membeli bahan baku kembali. Hasil produksi dan penjualnya mencapai untung Rp.15 juta. Dia sangat senang dan bangga karena merupakan bisnis pertamanya.

Kan jarang nih, apalagi mahasiswa, menghasilkan uang sendiri murni dari berbisnis bukan jadi karyawan tengah waktu. Sudah 10 bulan dilakui diakui masalah tetap ada. Meskipun langsung untung, Jangkar akui ada saja masalah berdatangan, berwirausaha memang tidak mudah teman.

Prinsip Jangkar pasti ada celah dibalik setiap kesulitan. Dia tinggal memikirkan dimana letak celah itu. Ia memastikan kita tidak boleh berhenti mencari jalan keluar. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Dia menyebutkan beberapa masalah dihadapi. Pokoknya tanamkan dibenak kita harus selalu semangat usaha.

Masalah seperti produksi yang molor, ngaret, dari deadline yang dia berikan ke pihak produksi. Atau yang ngaret pengiriman bahan baku ke tempatnya. "...itu saja yang bikin sebel," curhatnya.

Mengusung nama Zappier dia mencoba mereguk pasar anak muda. Modelnya mengusung modal kuno, ia menyebutkan model broques, modelnya Inggris kuno. Kan biasanya anak muda suka sporti dan kasual. Dia mencoba menawarkan gaya vintage yang berbeda.

Modelnya elegan jadi tidak keliatan jadul. Cocok buat anak muda menurutnya. Alhasil usaha yang dimulai sejak 2017 itu. Akhirnya meraup perhatian anak muda Indonesia. Pelanggan datang merupakan anak muda berbagai profesi.

Omzetnya mencapai Rp.15 Juta per- bulan dimana terjual rata- rata 32 pasang, terjual offline ataupun online. Produknya masuk toko- toko baik di Surabaya, Makassar, Bandung, Jakarta, dan Denpasar. Dia menggunakan kulit domba asli awet 4 tahun lebih. Hingga nama Zippier diminati para artis musik indie.

Para artis tersebut bahkan membawa brandnya ke luar negeri, sebut saja Endah n Rhesa, Sore Band, Rock n Roll Mafia. Memang berbisnis ini tidak bisa langsung dihargai seperti sekarang. Pasang surut sudah dia temui. Semua masalahnya menurut Jangkar merupakan proses pendewasaan berwirausaha teman.

Bisnis Jangkar juga mulai berkembang tidak cuma pada sepatu, ada produk dompet, belt, gantungan kunci, slingbag, dan beberapa aksesoris berbahan kulit lainnya.

Mencari Kemasan Rendang Terbaik Uni Farah

Profil Pengusaha Retno Andam Sari 


 
Namanya Retno Andam Sari, sedikit dari banyak pengusaha rendang kemasan sukses. Ceritanya berbeda dan wajib kita simak bagaimana dia menangani persaingan. Semua bermula ketika, di 2004 silam, dimana dia mulai mencari ide bisnis.

Dari ide bisnis apa bisa dijadikan hantaran. Makanan apa yang khas Padang, yang bisa dijadikan hantaran buat pernikahan. Maka dia berpikir tentang rendang dalam kemasan. Dia kemudian menamai usaha rendang itu Uni Farah. Naman yang berdasarkan nama putrinya sendiri dan memulai usahanya.

Berawal rendang dikemas dalam toples. Mungkin terdengar nyeleneh tetapi dia mencoba. Retno memang ingin menciptakan alternatif. Tujuannya agar berbedang dengan rendang lain. Lalu dia tawarkan sebagai hantaran Lebaran.

Sesuatu yang nyeleneh atau unik tidak langsung sukses. Ia bercerita bagaimana pandangan sinis orang ke dia. Beberapa melihat keunikan dan melihat rendang dalam toples masuk akal. Mereka inilah peminat rendang Uni Farah. Lambat laun orang banyak semakin meminati rendang tersebut karena memang enak.

Pengemasan produk


Sukses rendang dalam toples, Retno belum merasa nyaman dengan jualannya. Ia berpikir bagaimana agar jualannya lebih mantap. Bagaimana agar kemasan lebih aman terutama ketahanannya. Bagaimana agar juga nyaman dikirim dan dibawa ke mana- mana.

Maka dia berpikir tentang rendang divakum. Rendang kemasan vakum lebih aman, menjadi lebih bersih, jadi lebih praktis, lebih lama disimpan. Kalau kamu simpan di freezer bisa tahan sampai 6 bulan. Kalau disimpan di chiller rendang bisa tahan 3 bulan. Di suhu ruangan bertahan sampai 2- 3 minggu.

Ibu dua anak ini semakin mantap menjajakan rendang kemasannya. Seperti kata penulis sebelumnya ada saja yang nyinyir melihat rendang kemasan Retno. Mereka merasa gak penting dikemas seperti ini. Ya karena mereka bisa menemukan rendang dimana- mana.

Rendang kemasan belum dianggap penting. Butuh waktu buat mengenalkan produk rendang kemasan itu, ya kesabaran sebagai pengusaha diuji, banyaknya rumah makan padang dianggap masyarakat tidak perlu ada rendang dikemas.

Masyarakat lantas mulai menyadari keberadaan produk Retno. Mereka mulai memesan untuk keperluan traveling -seperti membeli buat dibawa oleh orang yang berangkat haji. Ia memang sengaja membidik kalangan menengah atas. Mereka dianggap lebih sadar akan kepraktisan rendang dikemas vakum miliknya.

Mereka yang suka kepraktisan buat dibawa dan disimpan. Pikiran Retno mengarah ke populernya nuget dan sosis dalam kemasan. Kenapa produk lokal seperti milik kita tidak bisa. Meski kemasan sudah sangat modern ternyata dia tetap tradisional.

Pembuatan rendang buatanya masih pakai tungku kayu bakar. Agar menjaga kualitas rasa masakan Sumatra Barat katanya. Uang 3 juta dibelikan mesin vakum cuma satu, dan bahan baku daging dan bumbu. Lalu dibuat menjadi rendang aneka rasa. Ia ciptakan rendang suwir, rendang paru, rendang ayam, dan udang.

Harganya variasi mulai Rp.28 ribu sampai Rp.450 ribu. Ukuran mulai 100 gram sampai 1 kilogram. Sarjana desain grafis Universitas Trisakti ini. Juga tidak tinggal diam melihat minyak rendang yang jatuh menetes. Ia terinspirasi akan minyak zaitun dan minyak cabai yang dikenal masyarakat.

Apa guna minyak rendang tersebut. Bisa digunakan menambah cita rasa rendang. Atau bisa kamu gunakan untuk memasak nasi goreng atau bahkan pasta. Biar rasa rendang tersebut mengalir menjadi penyedap rasa ke masakan kamu. Minyak tersebut didapat dari hasil tirisan rendang yang sudah jadi.

"Minyak rendang ini menjadi penambah aroma masakan," tuturnya. Per- botol 250cc dibandrol Rp.50 ribu. Ia mengatakan hasil untunga dari keseluruhan mencapai 15- 20 persen.

Sepatu Desle Sepatu Sekolah Hingga Trendi

Profil Pengusaha Sukses Haryamto 


 
Meskipun serbuan sepatu luar begitu kuat. Namun siapa sangka, diantara kita masih ada produk lokal yang sukses bertahan. Ternyata masyarakat sudah mulai sadar untuk menggunakan produk lokal. Ada sepatu buat anak sekolah, sepatu olahraga, dan kantoran, mereknya Desle merupakan produksi pengusaha asal Yogya.

Pengusaha asal Yogyakarta itu bernama Desle. Berdiri sejak lama sekitar tujuh tahun lalu. Pria bernama Haryamto mengaku dulu sukar. Bayangkan, waktu itu, dia bersaing dengan produk impor yang kata orang lebih baik. Pemikiran bahwa produk lokal jelek dan tidak tahan lama begitu menggema kala itu.

Padahal kalian tau, meskipun mereknya luar negeri, ternyata pembuatannya dilakukan oleh pabrik tetangga Haryamto sendiri. Alasan tahan lama, modis lah, seolah membenarkan gengsi orang waktu itu untuk beli produk asing.

Selama itu dia bersama pengusaha lokal lain gencar. Mengkampanye bahwa produk dalam negeri juga bisa sangat berkualitas. Perlahan tetapi pasti marketing Haryamto membuahkan hasil. Kampanye untuk cinta produk dalam negeri membantu bisnis Desle.

Strategi marketing


Dia menggunakan diskon besar- besaran. Sampai memberikan garansi uang kembali kepada masyarakat. Ia meyakinkan kualitas produknya. Menjadi produk lokal asli Yogyakarta, dia diberi kesempatan ikut acara khas seperti Yogya Night Run. Di kesempatan itulah dia membangun brand bisnisnya, lewat acara tersebut nanti.

Ia memberikan hadiah bagi siswa berprestasi. Dengan cara tersebut dia mencoba mendongkrak penjualan produk dan berhasil. Dengan marketing tersebut ternyata mampu menarik lebih banyak pembeli. Utama dari pelajar Indonesia mulai melirik produk lokal, yang lebih murah tetapi kualitasnya sama dengan asing.

"...kualitasnya tidak kalah dari sepatu impor," paparnya.

Sepatu impor lanjutnya, ternyata, kebanyakan dijual disini merupakan buatan orang kita sendiri. Kan sama saja yang membuat orang kita sendiri. Yang penting ada kecintaan akan produk dalam negeri. Sisanya kita sendiri ternyata yang membuat kualitas dengan brand milik orang asing.

Nama Desel berarti "Depok- Sleman" atau Desainya Orang Lodok imbuhnya. Dia mengatakan sudah bisa berproduksi lebih 20 ribu pasang sepatu. Ia mampu meningkatkan penjualan saban bulan. Target pasarnya adalah Indonesia Timur. Menurutnya di sana resiko bisnisnya cukup kecil karena bebas bencana.

Kalau di Jawa, nama Desle memiliki pasar kok, pangsa pasarnya terutama di kota- kota besar. Di Jawa kita bisa melihat outlet- outlet sepatu Desle, contohnya di Kebumen, Pati, dan Kabupaten lainnya di Jawa. Lewat sistem CSR ke sekolah- sekolah. Tujuannya mendongkrak penjualan di outlet mereka sendiri.

Ajang seperti Desle School Wefie, menjadi ujung marketing mereka di daerah- daerah. Efektif promosi ke outlet lokal mereka. Sejak dini Desle fokus mengajarkan anak buat mencintai produk dalam negeri. Salut buat perjuangan pengusaha kita yang satu ini.

Kisah Wanita Diphk Tetapi Tetap Bangkit Wirausaha

Profil Pengusaha Yanti Rusdianti 


 
PHK membawa berkah. Tidak jarang banyak orang mengalami hal tersebut. Pasalnya insting kita akan naik ketika terdesak. Kreatifitas kita akan tiba- tiba muncul. Kita akan memilih jalur kewirausahaan. Kenapa begitu karena menjadi wirausaha tidak terikat dengan aturan perusahaan.

Ini kisah Yanti Rusdianti seorang wanita pemilih wirausaha. Dia mengenang kembali tahun 1998, ketika itu pabrik garmen tempat kerjanya memecatnya, rasa gregetan masih berasa.

Berhenti bekerja, dia kembali dari Surabaya ke Bogor, di sana mencoba melamar pekerjaan. Tetapi dia merasa semangat mencari pekerjaan tidak seperti waktu muda. Yanti berpikir kalau jadi karyawati kan udah bisa dihitung. Gaji perbulan sudah pasti setiap bulannya sama.

Ibu dua anak tersebut maka memilih pengusaha. Ia ingin memberi lebih terutama kepada keluarga. Walau ia sudah bertekat membangun usaha. Tidak semudah tersebut. Masalah utama mau berbisnis apa. Semua bermula dari iseng- iseng membuat usaha. Pertama kali Yanti memilih membuka bisnis kredit.

"Saya sudah tidak punya gaji, tetapi keluarga ini tidak boleh berhenti," kisahnya.

Ia berlanjut ke bisnis kredit aneka perlengkapan dapur. Menawarkan perlengkapan dapur pintu ke pintu. Usahanya ternyata berkembang. Tetapi dia mendapatkan masalahs seketika. Dimana usahanya bangkrut karena semua uang ditipu orang.

Bisnis kembali


Begitu gagal, Yanti tidak patah semangat, malah berbisnis kembali dengan uang seadanya. Kali ini memilih membuka kantin. Bisnis kantin kecil di perumahannya Bumi Indraprasta, Bogor. Bisnis ini kecil, tetapi jadi besar, bahkan menjadi lima kantin dia kelola.

Begitu suksesnya bisnis kantin ini. Sang suami bahkan memutuskan keluar pekerjaan. Dia ingin fokus buat mengerjakan bisnis kantin. Diantara itu, Yanti mulai melirik aneka kue, iseng- iseng mulai membuat aneka kue cake, black forest, dan kue cokelat lainnya.

Memang memasak sudah hobi. Dia mengeluarkan uang Rp.500 ribu buat beli bahan. Awalnya dia malu- malu menunjukan hasil karyanya ke masyarakat. Apalagi mau dijual tidak terpikirkan. Suatu hari dia lantas membawa kue tersebut ke acara arisan ibu- ibu. Barulah Yanti berani menjual di tahun 2002 dengan brand sendiri.

Lewat ibu- ibu arisan pesanan terus mengalir. Dia mengolah 6 ton cokelat batangan setahun atau 500 kilo per- bulan. Ia lantas menamai Waroeng Cokelat. Tentu hasilnya puluhan juta rupiah. Ia semakin percaya diri untuk bisnis Waroeng Cokelat. Jika awalnya cuma menerima pesanan momen tertentu sekarang tidak.

Jika sebelumnya, seperti hari Valentine, dia mendapatkan pesanan. Sekarang kapan saja produk cokelat itu bisa dijual. Dengan kemasan menarik dan modern, maka pembelian juga meningkat di hari biasanya, jadi tidak cuma cokelat dikemas hati saja.

Produk harian


Dia memutuskan produksi tiap hari. Dari sekedar kue berkembang ke aneka cokelat. Ia menemukan aneka resep cokelat enak. Agar semakin kreatif,Yanti tidak segan mengikuti aneka seminar tentang cokelat ke luar kota. "Semua itu (seminar) saya lekukan demi bisnis," jelas Yanti.

Mungkin terdengar bisnis rumahan kecil. Namun siapa sangka dia mampu menembus pasar supermarket. Ia menyetok ke beberapa pasar swalayan di Jakarta. Dia sangat berani mempromosikan bisnis cokelat miliknya. Tidak pernah malu lagi untuk menunjukan ke masyrakat.

Menurutnya agar masuk ke pasar ritel, satu- satunya cara adalah meyakinkan masyarakat bahwa produk miliknya berkualitas. Dia punya hobi mengikuti aneka pameran. Pokoknya jika ada suatu badan yang tengah mengadakan ajang kewirausahaan; dia ikut.

Mengikuti pameran dia mendapatkan banyak pengetahuan. Meskipun sudah untung jutaan Yanti tidak mau berhenti belajar. Contohnya ketika ia belajar bahwa cokelat tidak bisa dijajakan di ruang terbuka. Ya nanti kan bisa meleleh pungkasnya. Walaupun sudah dimasuk ke kulkas setelahnya, kualitas cokelat akan rusak.

Dia mencontohkan pengalamannya sendiri. Setelah dijajakan di ruang terbuka dan dimasukan ke kulkas. Cokelat tidak sebagus kondisi awal. Mangkanya dia sekarang tidak sembarangan memajang produk yang dia buat.Sukses Yanti justru baru mulai membangun mimpinya bahkan ketika orang bilang dia sukses.

Dia pernah mengikuti pameran oleh Kementerian Pertanian. Dimana dia menemukan, di China, Chiang Mai membuat cokelat dengan wadah besar. Beruntung ketika berkunjung di Malaysia dia menemukan apa cetakan sesuai besar. Modal awal Rp.500 ribu sekarang setiap tahun bisnisnya naik 10% setiap tahunnya.

"Jangan pernah takut untuk memulai bisnis. Kalau ada kemauan, pasti ada jalannya," tutup Yanti.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba